Omong-Omong Sastra Sumatera Utara adalah wadah tempat berdiskusinya para sastrawan Sumatera Utara Khususnya. Usiannya yang hampir mencapai 40 tahun menjadikannya sebagai wadah bersilaturahmi, berdiskusi dan berkarya para sastrawan dari berbagai usia, aliran, dan agama, menyebabkan Forum Omong-Omong Sastra ini sebagai Forum yang tertua di Sumatera Utara. Forum ini diprakarsai oleh Damiri Mahmud, dkk. Sekarang di koordinir oleh M. Raudah Jambak. Semoga tetap berjaya.
Minggu, 03 Februari 2013
Usia Tua Buka Menjadi Rintangan untuk Menulis Sastra
Oleh: Syarbaini.
Pengarang terkemuka dalam usianya delapan puluh tahun ketegaran pikiran tak akan kendor dalam menulis sastra. Winston Churchil walaupun dia lumpuh tetap menulis kenangan-kenangan dalam hidupnya (memoar). Buku tersebut laris manis. Di Medan ada Ali Soekardi yang berusia 80 tahun sampai kini, juga masih tetap menulis.
Ada penulis yang mengatakan, usia merupakan sebuah hambatan bagi mereka untuk menulis. Orang yang bertugas untuk ketentaraan mengatakan, jika mereka akan dirintangi oleh pelbagi hambatan ketentaraan dia akan menghasilkan karya sastra yang di idam-idamkan. Orang yang menulis karyanya ketika menjalani latihan kemiliteran pada perang dunia kedua. Hasilnya juga memuaskan.
Penduduk yang tinggal di kota-kota besar, seperti Medan, akan mengatakan apabila mereka sudah mempunyai rumah yang cukup besar mereka pun akan menulis apa yang sedang dipikirkan. Mereka yang tinggal agak pedalaman mereka akan menulis sastra yang tengah dipikirkan.
Setiap orang yang profesinya menulis, membayangkan betapa nikmatnya dapat menulis yang berbobot, agar dinikmati masyarakat. Karyanya akan menjadi kebajikan kepada masyarakat. Di tengah-tengah masyarakat yang kalau begini dia berusaha menciptakan ketertiban. Ia selalu melihat keseluruh alam sejagad, dalam rangka pasang surutnya kehidupan itu dia menjadi tragik.
Penyair adalah penafsir masyarakat di dunia fana. Penyair seringkali dianggap sebagai filosofi dan juga sebagai pencipta. Penyair seperti halnya tukang kayu seharusnya menguasai umur panjang dan syarat-syarat penulisan sastra. Kalaulah mengabaikan syarat-syarat ini, maka yang akan dihasilkan ialah karya yang tidak bermakna. Kurang daya tariknya dan tidak menjernihkan pikiran.
Usia sekitar 60 tahun
Karena di usia tua, sudah barang tentu anda juga berusaha memahami dengan sebaik-baiknya sejarah dan perkembangan sastra terus diusahakan semampu mungkin. Tidak perlu meniru-niru masa penyair besar yang hidup pada masa lalu. Anda tahu bahwa kata-kata klise tak menarik. Larik-larik dan komplet puisi yang dibuat secara mekanis tidak mengena. Belakangan ini ada puisi modern dalam abad ke dua puluh satu ini bergeser ke arah bentuk puisi yang lebih berat dalam bentuknya. Itulah bentuk orang tua yang berjiwa seni yang patut di didengarkan kepada yang muda-muda.
Cobalah menekankan pada nilai seni, sebab jika Anda hanya mementingkan apa yang anda rasakan dalam diri sendiri semata, lebih baik anda menulis bentuk sastra prosa saja. Ide di dalam sebuah puisi amat penting, tetapi bentuknya itulah yang memberi wujud padanya, yang membuatnya puisi lebih menarik, bermakna dan memiliki arti. Serta membawa pembacanya berpikir jernih.
Untuk menambah bobot dan nada puisi anda harus rajin menulis dan belajar membaca karya-karya pengarang terkemuka dalam sastra dunia yang dikenal penyair kawakan pada usia tua. Jangan sekali-kali meniru mereka, tetapi jadikanlah karya-karya terbaik seperti karya mereka.
Pada hakikatnya sekarang hidup pada abad kedua puluh satu. Dunia sedang bergumul dengan berbagai masalah yang sangat penting. Perang dan damai, ilmu pengetahuan, tentang angkasa luar, kebebasan dan macam-macam lagi. Justru inilah yang menggerakkan hati kita untuk maju ke depan, terutama penyair-penyair tua yang banyak telah makan garam. Mana tahu bait-bait puisi yang anda goreskan akan mendatangkan ketentraman bagi setiap orang dan generasi berikutnya.
Mendidik Calon Penyair
Hampir semisal editor menginginkan naskah yang diterima, merupakan naskah yang baik dan bermutu. Barang kali para editor juga sependapat, bahwa dirinya juga tidak suka mengembalikan naskah penulis. Seringkali editor menahan naskah penulis, memang ia tidak punya pilihan lain, dia memerlukan artikel yang khusus untuk mempermasalah yang khusus pula. Disinilah bagaimana memeningkan mutu naskah kita?
Setiap bidang profesi mempunyai masalah khusus. Dia harus memberikan kritik berdasarkan pengetahuan, logika dan pandangan pribadi yang utuh. Pendapat orang lain tak boleh diremehkan, karena perbedaan pendapat sekalipun akan memperkaya perbendaraan bahasa dan pengetahuan. Karena orang lebih tahu dan banyak makan garam. Pengetahuan yang lebih luas.
Sikap apriari harus dihindarkan. Sastrawan tua harus selalu menaruh simpatik terhadap apa yang hendak di permasalahkan pengarang. Hasil karyanya sebelum dia menjatuhkan penilaian baik atau buruk. Ini menuntut seperangkat pengetahuan, metode, teori dan analisis.
Hasil Karya Cemerlang
Robert Prost beranggapan, seorang yang betul-betul tertarik dalam kesusastraan tak lebih dari seseorang yang dengan serius pula memperhatikan masalah-masalah dalam kehidupan. Sastra dan kehidupan, berada dalam satu wadah yang bermakna. Dari peleburan ini sering muncul visi yang berkilauan, sungguh bermakna bagi penulis.
Jika seorang telah menjadi penulis yang hendak membuktikan dari sebagai penyair, ingatlah kemampuan, merupakan kebajikan yang sangat mulia. Itu keahlian yang diakui sejak zaman dahulu.
Penulis-penulis kesusastraan, umum nya usia tua mengharapkan karya mereka untuk dibaca anak-anak muda. Kebanyakan penulis ini mengambil satu bentuk yang cacah dengan mereka. Karena itu mereka dapat penulisan dapat dimasukkan dalam bidang seni lain, umpamanya novelis, cerpen, esai, kritikan, penulis biografi, drama, naskah untuk film, TV, radio, penulis lirik untuk pertunjukkan.
Banyak sastrawan menggunakan lebih dari satu bentuk yang kita sebutkan. Misalnya Martina Kormin sekedar contoh berkata
"Saya mulai menulis puisi karena bentuknya yang singkat dan dapat dibawa kemana-mana dalam kepala setiap hari. Saya menulis cerita karena ingin masyarakat punya ide-ide yang tidak cocok dalam bentuk puisi. Martina Kormin juga menulis esai, novel dan yang lain-lain.
Mengajarkan sastra
Bagi sastrawan yang suka mengajar, jadi guru menulis sastra adalah berat. Disiplin waktu yang ketat dan usaha yang keras. Bahkan kadang-kadang melebihi jam yang dibutuhkan. Karena diperlukan kesabaran. Dan yang paling cocok adalah penyair berusia tua atau kurang lebih 60 tahun.
Di antara guru-guru di bidang karang-mengarang ini haruslah orang yang sudah banyak pengalaman. Selainnya harus punya buku hasil karangan yang diterbitkan. Karena banyak tamatan perguruan tinggi dengan gelar sarjana yang bercita-cita menjadi penulis atau penyair. Mengajar mengarang atau penulis bukanlah sekedar mengajarkan bahasa semata, tetapi harus bisa mejelaskan semua urusan kesusastraan.
Memang adalah suatu pengalaman yang mungkin mengharumkan dan membimbing penulis-penulis muda untuk menemukan jati diri mereka. Suatu perasaan abadi didalamnya, mengajar orang berkarya seni sastra. Karya itu dibaca orang, sehingga membawa efek dalam hati mereka yang membacanya haru, waktu mengajarinya terasa sedih, tetapi juga ada gembiranya. Karena diantara mereka ada yang merasa dibesarkan.
Karena kalangan pengajarnya bisanya telah menjadi penyair-penyair tua yang sudah banyak makan garam, artinya sudah tahu seluk beluk kesusastraan secara jelas. Memiliki buku-buku terbitan karangan sendiri.
Penulis sastrawan tinggal di Medan
Seniman dan Gedung Kesenian
Fatmin Prihatin Malau.
Tidak diduga sebelumnya seorang rekan penulis bertanya. Apakah Taman Budaya Sumatera Utara di Jalan Perintis Kemerdekaan itu bukan gedung kesenian? Penulis yang belum tahu maksud dan arah pertanyaan rekan itu balik bertanya mengapa tiba-tiba menanyakan tentang Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) apakah bukan gedung kesenian.
Untungnya, rekan penulis itu bukan seniman, jadi pertanyaannya bisa penulis balik bertanya mengapa tiba-tiba menanyakan tentang apakah TBSU itu bukan gedung kesenian.
Ternyata pertanyaan itu muncul karena rekan penulis itu membaca baliho di pagar TBSU itu bertuliskan Yang Terhormat Gubernur dan Walikota Medan Kami Butuh Gedung Kesenian Panitia Musyawarah Seniman Medan. Celakanya, penulis belum melihat dan membaca baliho yang dimaksud rekan penulis itu maka tidak mengetahui kemana arah pertanyaan rekan penulis itu, sehingga rekan penulis itu mengatakan, katanya Anda seniman? Mengapa tidak update perkembangan seniman yang sedang terjadi.
Akhirnya penulis mengkhususkan diri melihat dan membaca baliho yang dimaksud rekan penulis itu. Benar. Terpampang baliho bertuliskan seperti yang dikatakan rekan penulis itu. Kini bukan saja melihat dan membaca baliho itu, tetapi mengabadikannya dan mendorong penulis untuk menulis tulisan ini.
Ya TBSU, dulu ketika tahun 1984-1990 penulis sering berlama-lama di TBSU yang namanya waktu itu Taman Budaya Medan (TBM) bersama sejumlah teman, alm. Bouy Hardjo, Idris Pasaribu, Darwis Rifai Harahap, Burhan Polka, Kuntara DM, alm. Gunawan Tampubolon, AM Rizal Sutomo, Teddy Witarta dan banyak lagi yang kini jarang bertemu.
Sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan yang dahulu, bangunannya masih yang dahulu. Berbeda dengan bangunan di sekitarnya yang telah mengalami perubahan hari ini dari yang dahulu.
Tidak salah rekan penulis yang bertanya tentang apakah TBSU itu bukan gedung kesenian dengan adanya baliho yang dipasang di pagar TBSU itu sebab masyarakat ternyata mengenalnya sebagai gedung kesenian.
Ada rasa bangga ternyata masyarakat mengenal TBSU sebagai gedung kesenian. Penulis tahun 80-an menilai TBM waktu itu, sebagai tempat ngumpul dengan sesama seniman, tempat menyalurkan bakat bermain teater dan gedung Utama TBM/TBSU yang dimaksud rekan penulis itu sebagai gedung kesenian memang pernah beberapakali penulis mentas dan sangat familier dahulu dengan kondisi gedung pertunjukan itu dan juga dengan gedung lainnya di TBM.
Dulu memang sangat bangga bila sudah dapat mentas di gedung Utama TBM itu sebab gedung itu dikenal masyarakat secara luas karena berbagai acara organisasi kemasyakatan (Ormas) acapkali menyewa gedung itu untuk melaksanakan acara, sehingga menjadi dikenal masyarakat.
Waktu itu memang bisa dikatakan TBM gedung yang bagus, sebab belum banyak pilihan gedung yang lebih bagus lagi, sehingga peminat untuk melangsungkan acara di gedung TBM menjadi pilihan. Hotel bintang lima yang kini ada di depan TBM belum ada dan gedung-gedung lain yang kini ada di Medan waktu itu juga belum ada.
Tidak Sesuai Lagi
Bagus. Baliho yang dipasang di pagar TBSU itu, sebab mengundang tanya bagi masyarakat yang membacanya. Contohnya rekan penulis itu, bertanya apakah TBSU itu bukan gedung kesenian? Dari pertanyaan ini nanti akan menggiring rasa ingin tahu masyarakat tentang TBSU, seperti apa sekarang ini. Jelas, kondisi TBSU bila dikatakan sebagai gedung kesenian bagi Sumatera Utara sangat memprihatinkan, sudah ketinggalan zaman dan bahkan tidak layak lagi melihat perkembangan ibukota propinsi Sumatera Utara memiliki gedung kesenian seperti itu.
Jika penulis tidak salah Walikota Medan Rahudman Haharap pernah mengatakan dalam kata sambutannya pada acara peluncuran buku "Ini Medan, Bung" Sabtu, 13 November 2011 di Medan Club Jalan Kartini Medan, bahwa permintaan beberapa seniman Medan agar Pemko Medan menyediakan tempat untuk berkumpul para seniman bukanlah permintaan yang sulit. Sekarang juga permintaan itu dapat dipenuhi.
Rahudman waktu itu mengatakan gedung bekas Kantor Walikota Medan di Jalan Balai Kota yang telah direnovasi tetapi bentuknya masih asli dapat digunakan para seniman untuk tempat berkumpul.
Setelah itu penulis tidak tahu lagi kelanjutannya, akan tetapi tempat berkumpul dengan gedung kesenian tidak sama. TBSU yang ada sekarang ini mempunyai fungsi ganda, sebagai tempat berkumpul dan juga gedung pertunjukan kesenian.
Tempat berkumpul sangat sederhana, dimana saja bisa asalkan ada kesepakatan bersama dengan yang berkumpul. Kini, café menjadi tempat berkumpul, bertemu berbagai komunitas. Dahulu (menurut cerita alm. Bouy Hardjo kepada penulis) kaum seniman berkumpul di warung kopi seperti di Jalan Merbabu simpang Jalan Sutomo. Ada juga yang kumpul di kedai kopi Jalan Surabaya. Tempat itu bukan gedung kesenian.
Medan Belum Punya Gedung Kesenian?
Baliho di pagar TBSU itu bertuliskan Yang Terhormat Gubernur dan Walikota Medan Kami Butuh Gedung Kesenian Panitia Musyawarah Seniman Medan. Gedung kesenian di kota Medan, timbul tenggelam. Mengapa dikatakan begitu sebab dahulu ada Gedung Kesenian di jalan Veteran dekat Titi Gantung dan di gedung itu pernah dilaksanakan Kongres Bahasa Indonesia II yang dibuka Presiden Soekarno.
Kemudian gedung kesenian ini berubah wujud, dibongkar dan kini berdiri bangunan baru yang bukan gedung kesenian lagi. Lantas Gubernur Marah Halim bersama Walikota Medan waktu itu Sjoerkani mendirikan pusat kesenian bernama Taman Pusat Kesenian dan Kebudayaan (Tapian Daya) yang kondisinya bagus, lengkap dengan panggung pertunjukan, ruang pameran, panggung terbuka, bioskop dan lainnya.
Waktu itu para seniman Medan dan Sumatera Utara aktif beraktivitas dan berkreasi kesenian. Entah mengapa Tapian Daya kemudian para seniman meninggalkannya dan sekarang menjadi Pekan Raya Sumut (Medan Fair) yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.
Beda dengan TBSU yang dahulu TBM, dibangun di atas lahan bekas kuburan Tionghoa itu sejak diresmikan 17 Maret 1977 oleh Menteri P dan K Indonesia, Prof. Dr. Sjarif Thajib dapat dikatakan terus ramai dengan para seniman. Penulis masih ingat ketika bernama TBM baru ada Gedung Utama dan gedung Sanggar Tari masih sering dijumpai ular di bongkahan tanah yang belum rata.
Jalanan di depan TBM masih sepi akan tetapi tidak sepi dari pertunjukan kesenian dan juga berbagai acara dari organisasi kemasyarakatan sering dilaksanakan dan juga kegiatan keagamaan dari organisasi kemasyarakatan seperti peringatan Israk Mikraj, Maulid Nabi, Hari Natal dan lainnya. Boleh jadi karena TBM waktu itu gedung yang bagus untuk melaksanakan berbagai acara.
Lebih dari 35 tahun sudah sejak diresmikan, bangunan di TBSU tidak melakukan perubahan yang berarti sehingga kurang layak untuk gedung kesenian bagi kota Medan yang terus berkembang pesat. Selama lebih 35 tahun itu para seniman dari generasi ke generasi telah berada di TBSU itu dan masyarakat kota Medan, Sumatera Utara telah menilainya sebagai gedung kesenian seperti halnya dengan rekan penulis itu maka sudah selayaknya TBSU berubah bentuk sesuai dengan kondisi yang ada sekarang ini.
Seharusnya Gubsu bersama Walikota Medan telah memiliki konsep lengkap membangun TBSU menjadi Gedung Kesenian yang representatif, bagus dan modern, sesuai dengan perkembangan zaman. Tidak seperti yang ada sekarang ini, sudah tidak layak lagi bila dilihat dari perkembangan kota Medan. TBSU harus memiliki tempat pagelaran kesenian yang berkualitas baik yang menjadi kebanggaan Medan dan Sumatera Utara.
Pengungkapan Moral dan Korupsi
Mihar Harahap.
Menarik memang. Inilah yang selalu saya sebut, tema (apa yang diceritakan) dan bentuk (bagaimana menceritakan), sama pentingnya. Sebab, cerpen tanpa tema adalah sia-sia, percuma saja, sedangkan cerpen tanpa bentuk menjadi tak menarik, tak mengesankan. Hanya, saya lebih dahulu melihat bentuk ketimbang tema. Artinya, bila cerpen itu menarik bentuknya, maka cerpen akan habis dibaca untuk mendapatkan temanya. Kecuali untuk kepentingan penelitian/bahan apresiasi, niscaya cerpen malah dibaca berkali-kali.
Begitulah kesan saya usai menelisik cerpen "Penghuni Kepala"(PK) karya Eka Handayani Ginting dan "Kisah Koruptor Menunggu Izrail"(KKMI) karya T. Agus Khai dir, yang terbit di ruang Rebana harian Analisa, edisi 10/11-2012. Bukan berarti cerpen lain tidak menarik, baik tema maupun bentuknya. Akan tetapi di samping kedua cerpen ini agak unik -katakanlah berbeda dengan cerpen lain itu- juga kedua pecerpen mem perlihatkan keunggulan bakat dan minat. Karena itu, perlu mendapat perhatian.
Penghuni Kepala
"Aku akan bercerita tentang orang-orang yang pernah tinggal di kepalaku. Orang-orang yang datang ketika aku kesepian" (begitulah Handayani memulai cerpennya). Kata ‘kesepian’ menunjukkan kalau ‘aku’ sedang duduk sendiri di teras rumah, ruang tamu atau dalam kamar, lalu merenungkan sesuatu. Sesuatu itu, tentu berbagai ragam peristiwa pengalaman kehidupan, biasanya yang tak terlupakan. Bisa peristiwa sehari-hari atau peristiwa yang jarang terjadi, tetapi tetap saja melingkar-lingkar di ruang kepala.
Dalam ‘aku’termenung, kenangan yang muncul sambung-menyambung bertahun-tahun. Pertama, masa kanak-kanak, teringat Rudi. Kawan kecil ini lebih memahami keadaan’ku’ dibanding kawan lain. Kedua, masa remaja, ingat Fariz. Kawan remaja yang tampan, pintar dan baik. Karena itu, Rudi pernah mencemburui. Ketiga, masa dewasa, teringat Om Danu. Kawan ibu’ku’ ini, juga baik dan tampan mirip pesonil Boyband Korea. Ibu tak menyukainya, namun keberadaan Om Danu sempat singgah di hati’ku.
Kemudian, dalam prosesi kenangan ini, ternyata ‘aku’, ibu dan Lolita (anakku) memiliki kesamaan pengalaman hidup layaknya turunan. Ibu berselingkuh, lahirlah ‘aku’ dan ‘aku’ berselingkuh lahirlah Lolita. Suami ibu meninggal, sedangkan suami’ku’ tak jelas juntrungannya. Lolita persis ‘aku’ semasa kecil, berprilaku over, lincah, berani dan usil, sehingga dijauhi para tetangga dan anak-anaknya. Bahkan ‘aku’ dan Lolita disebut anak autis, setengah gila oleh para tetangganya.
Kekacauan pikiran dan perasaan ‘aku’ menuju puncak. "Pergi," teriak’ ku’, tetapi Rudi, Fariz dan Danu malah mengejeknya.
"Rudi, Fariz, mari bermain dengan ibu". Aneh, apakah Rudi dan Fariz sudah berpindah ke ibu?
"Om Danu," panggil’ku’. Ibu marah. "… Danu itu suamiku, panggil dia Ayah,"bentak ibu.
Apa? Sejak itu, isi ruang kepala’ku tak ada lagi. Begitupun ‘aku’ masih saja menunggu ada lelaki lain yang dapat mengisi ruang kepala’ku’, supaya ada tempat mengadu bila ‘aku’ dimarahi sang ibu.
Kisah Koruptor Menunggu Izrail
Bermula cerpen, muncul malaikat Izrail pada kehidupan Zainuddin, tokoh cerita. Dalam pikiran sang tokoh, 1)."ia pulak, sejak kapan kematian dikabarkan? Jikapun ada kabar, bukanlah seperti ini", 2)."lagi pulak, alahai, manalah ada malaikat bicara dalam bahasa Indonesia dialek Arab Betawi… (sebab) sepengtahuan Zainuddin bahasa malaikat adalah bahasa Al-Qur’an" dan karena itu 3). "Seharusnya malaikat ini bicara dalam dia-lek Melayu… (soalnya) Ini tanah Deli" (paragraf awal).
"Ente tunggu di sini yah. Ane, ada urusan dikit. Gampang, dah, ente minum ane traktir," kata Izrail pada Zainuddin seraya pergi, tetap dalam bahasa Indonesia bahkan dialek Arab Melayu. Akan tetapi setakat ini, persoalan nyawa belum ditakdirkan, sehingga Zainuddin masih bisa singgah di kafe, menghirup secangkir irish coffee serta sepotong cinnamomun burmani. Dalam kesendirian, ketermenungan, dia kenang 30 tahun lalu, saat sepetak tanah warisan dan honda CB milik ayah, harus berpindah tangan.
Dengan PNS harta orangtua harus pergi, dengan PNS itu pula harta orangtua harus pulang kembali. Itu tekad, meski dengan jalan korupsi. Begitu hendak dilaksanakan, begitu pula datang larangan orangtua. Seakan arwah ayah berbisik di telinga, 1)."ikhlasku setingginya ikhlas. Tak pernah kuharap tanah dan sepeda motorku kembali" dan 2)"dulu emakmu pernah bertengkar dengan tetangga kita. Kau ingat itu? Marah betul dia mendengar mereka menuduh kau mencuri mangga".
Rupanya, bisikan Awang, kawan kerja lebih menggoda. Dia korupsi, mula-mula penuh ketakutan, tetapi lama-lama menjadi kebiasaan. Hasilnya melimpah, beberapa mobil, rumah, tanah dan 8 rekening bank. Bukan main. Hanya, korupsi Awang ketahuan, ia di-adili dan dihukum 6 tahun penjara tambah denda 2 milyar. Sejak itu, Zainuddin berhenti korupsi. Bukan takut dihukum dan didenda, itu tak seberapa. Juga bukan karena bisikan ibu Maryati (guru SD), Tuk Ai, guru ngaji dan Sanusi, PNS rendahan yang jujur.
Melainkan karena malaikat Izrail sudah di hadapannya.
"Ente kelamaan nunggu, ya? Maaf, ane telat. Urusan ane rade ribut," kata Izrail enteng dan tetap bersahabat. Sementara Zainuddin mulai gelisah karena dalam pikirannya sang malaikat segera melaksanakan tugas mencabut nyawa.
"Tolonglah, Tuan. Bolehkah kematian saya ini ditunda barang setahun dua tahun lagi,?" tanya Zainuddin penuh harap."Ha… Bahlul ente. Bah luuulll," malaikat Izrail mentertawakan Zainuddin. Bagaimana takdir Zainuddin?
Persoalan Moral dan Korupsi
Ada kesamaan pengungkapan kedua cerpen ini. Pertama, kedua cerpen langsung bercerita dengan mengemukakan persoalannya. Cerpen PK persoalan moral dan diskriminasi, sedangkan cerpen KKMI persoalan korupsi. Kedua, kedua cerpen mengurai persoal-an melalui kesendirian, perenungan, kenangan, di rumah dan di kafe. Ketiga, kedua cerpen ini agak unik.Cerpen PK mengemukakan ‘perselingkuhan’, sedangkan cerpen KKMI menampilkan malaikat Izrail sebagai pencabut nyawa manusia.
Cerpen PK mengeksploitasi ‘perselingkuhan’ secara turun-temurun, dari ibu ke anak. Dalam kehidupan rumah tangga, jelas perbuatan ini disebut melanggar norma-norma (negara, agama, adat, sosial, budaya dan keluarga). Jangankan ‘perselingkuhan’ (biasanya sembunyi) persoalan ‘perawan’ saja (biasanya disembunyikan) dalam kehidupan rumah tangga, pun menjadi perbuatan tercela. Apalagi persoalan ‘perselingkuhan’ niscaya tingkat kecelaannya paling mendasar, bisa berakibat perceraian suami-istri.
Kalau hal ini merupakan deskripsi kehidupan rumah tangga dewasa ini, maka perlu diantisipasi oleh para suami-istri dengan menciptakan tatanan keluarga yang harmonis dan bahagia. Barangkali, di samping membuahi keluarga dengan kerukunan (saling percaya, pengertian, menghargai, mencintai) juga adalah keimanan dan implementasinya. Sebab, suami-istri yang penuh iman, biasanya akan terlindung dari perbuatan amoral seperti ‘perselingkuhan’ yang dapat merusak rumah tangga orang lain.
Selain itu, juga persoalan ‘anak autis’ atau boleh jadi rada setengah gila yang kerap didiskriminasi, pun dapat mengganggu keamanan lingkungan masyarakat. Apa lagi bila terjadi pada keluarga yang pas-pasan, perlu pemahaman (bukan salah paham) serta jalan keluar (bukan jalan ribut) yang netral dan dapat mengakomodasi semua kepentingan. Tidak ada intimidasi dan diskriminasi atas kaya-miskin. Pokoknya, kekurangan ‘anak au-tis’ atau rada setengah gila, pun dapat menciptakan kerukunan antar jiran tetangga.
Cerpen KKMI mengeksploitasi dampak negatif orang yang melakukan korupsi. Halnya Zainuddin, bukan takut menjadi ‘tersangka’ dan diadili. Karena di pengadilan dia bisa menangis, sakit, tidak tahu, sopan, koperatif agar dapat keringanan hukuman. Andai vonis 4 tahun denda 2 milyar, maka mungkin dijalani setengahnya sebab berbagai diskon kurungan. Kalau denda tak seberapa, dihitung-hitung masih jauh lebih untung. Lagian di penjara, bisa menulis buku, beribadah atau melancong ke luar negeri.
Pun tidak takut dipecat dari PNS sebab sudah menanti kerja yang lebih profeonal yakni pengusaha. Amat menjajikan untuk memulangkan kembali berjuta-juta sepetak ta-nah dan honda CB milik ayah. Juga sanksi moral, adat, sosial, budaya yang sekarang dapat dibeli, mudah, murah. Bentuk opini publik, hasil korupsi bukan hanya memperkaya diri, melainkan untuk kepentingan umum. Caranya, buat tim sukses pemberian dana ke berbagai tempat dan kegiatan masyarakat termasuk sponsor acara keagamaan.
Tak Cuma itu, bayar orang-orang untuk melakukan demo pembelaan, cuap-cuap di media, mengundang tamu-tamu penting masuk penjara hingga membuat penyambutan meriah bila keluar penjara. Semua itu dapat direkayasa sekaligus memulihkan nama baik agar nanti bisa menjadi calon DPRD atau walikota/bupati. Hanya, ada satu yang tak dapat dilakukan meski ada tim, rekayasa, pengacara dan apapun bentuknya yakni pengadilan Tuhan. Di pengadilan itu nanti, Zainuddin akan menerima azab atas korupsinya.
Azab ini sudah dibayangkan, apalagi setelah dilihatnya Awang (guru korupsi) masuk kubur, diinjak-injak tiada harga. Ketakutan menyelubungi jiwa dan raga. Itulah sebab ia minta ‘tunda kematian’ (sebagai prosesi ke pengadilan Tuhan) kepada malaikat Izrail (pencabut nyawa) barang setahun-dua. Maksudnya untuk melakukan pertobatan selagi nyawa di kandung badan. Lagi pula, bukankah pintu ampun masih terbuka? Demikian apresiasi kita terhadap kedua cerpen ini, terlepas dari segala kelemahannya.
Penulis Kritikus Sastra dan Dekan FKIP-UISU Medan
Lima Tahun Jurnal Boemipoetra
Ris Pasha.
Lima Tahun, Jurnal Boemipoetra lahjir di Indonesia yang memberikan perlawanan terhadap sastra kapitalis. Demikian Boemipoetra mengatakan.
Seperti apa yang ditulis oleh redaksi dalam buku Boemipotra yang terbit akhir 2012, hampir semua orang menertawakannya bahkan mengejeknya. Apa bisa jurnal Boemipoetra meneruskan penerbitannya walau hanya sekali sebulan, dengan biaya patungan? siapa yang membacanya dan siapa yang mau mendukung dananya?
Nyatanya Boemipotra terus terbit walau hanya beberapa halaman dan dalam bentuk format yang sengat sederhana. Dia dicetak offset dan beredar di seluruh Indonesia. Nyatanya lagi, termasuk di Sumatera Utara, Boemipoetra, menjadi bahan kajian, bagi beberapa komunitas dan para mahasiswa di bebrapa perguruan tinggi.
Boemipoetra hanya dibidani oleh dua orang tokoh, Wowok Hesti Prabowo dan Saut Situmorang dan sekretariatnya berada di Jalan Perum sekneg No. 46 Bona Sarana Indah Kebon Nanas Tangerang.
Hadirnya Jurnal Sastra Boemipoetra untuk mitra diskusi. menjadi lorongh baru di antar sekian lorong yang terbangun, hanya saja caranya berbeda. Kenapa? Karena Boemipoetra mengutamakan diskusi, bukan sastra yang harus diwarnai estetika sastra.
Redaksi Boemipoetra sadar, kalau sebenarnya yang sering terjadi "kekerasana kebudayaan" dan sasarannya adalah kaum Boemipoetra dan mereka terlempar dari ruang-ruang di media, tersingkirkan dari festival-festival satu warna.
Djoernal Boemipoetra, memang tidak disentuh oleh dana asing, membuktikan djoernal ini benar-benar mandiri. Dia boekan milik antek imperialis. Tidak bisa didikte. Benar-benar memnbela kepentingan kaoem boemipoetra. Kau yang sering diolecehkan bangsanya sendiri.
Sampai sekarang orang Boemipoetra orang boemiputra, masih tetap ada, walau tidak banyak. Mereka yang buruk dan menindas bangsanya sendiri tak lebih dari 20 persen,. Sayangnya mereka cenderung mendapat kepercayaan, hingga 80% yang baik hilang ditelan awan.
Dengan kesadaran, kesusastraan adalah keberagaman, Boemipoetra mengelinding deras. Tak perduli umurnya diperkirakan cuma beberapa bulan. Di dalamnya ada yang nasionalis, ada yang marxis, Islam tradisional, Islam garis keras. Ada bakul gudeg, wartawan, teaterawan, buruh, fesbooker, pegawai negeri. Ada pula yang di Jakarta, Yogya, tangerang, Banten, Kudus, Ngawi, Medan dan sebagainya. sangat plural. Boemiupoetra tetap menjunjung semangat yang sama. tetap bisa berdiskusi untuk memutuskan kesepakatan yang dijadikan pedoman bersastra. Setelah Boemipoetra mencapai lima tahun, ada baiknya djoenar-djoernal itu dibukukan menjadi satu agar tidak bertebaran kemana-mana. Hadirnya pembukuan (bundel) itu sebagai pembelajaran bagi kesusastraan kita, bahwa dimana tumbuh rezim sastra, disitu akan lahir pejuang-pejuang yang menantangnya. Setiap pejuang tak pernah berpikir jadi pahlawan atau pecundang. Yang penting bendera diangkat tinggi-tinggi. Pena dilesatkan.
Teriak
Djoernal Boemipoetra, berteriak lantang menentang politikisasi sastra di Indonesia. Sahkah djoernal Boemipoetra dalam tradisi jurnalisme di Indonesia? Jurnalisme pamflet - yang berpihak, berteriak keras, bahkan tak jarang memaki-memiliki leluhur yang absah dalam sejarah jurnalistik di Indonesia. Ketika Tirto Adhi Soerjo disandera hingga tak berkutik pada tahun 1913, jurnalis dijadikannya dari Blora. Mas Marco Kartodikromo tampil dengan trengginas saat mendirikan organ pers Indiandsche Journalisten Bond (IJB) tahun 1914. bersamaan dengan itu muncul koran Doenia Bergerak yang jauh dengan Koran pergerakan Syarikat Islam (SI), semasa sepertio Oetoesan Hindia yang dipimpin oleh Hadji Oemar Said Tjokroaminoto di Surabaya.
Banyak yang mencibir bahasa yang digunakan Boemipoetra urakan, liar dan jalanan. Bahkan penuh fitnah. Kata-kata "sampah", "monyet" dan sederet kata-yang-menuding dengan mudah kita temukan. Banyak pula yang melihatnya sebagai cambuk api di tengah kelesuan dunia kesusastraan yang mengarah pada monolitisme.
Sikap Boemipoetra jelas, seperti jargon mereka: boekan milik antek imperialis. Ini djoernal yang dikelola orang-orang melarat, dengan enteng menyebut nama personal dan komunitas lawan yang mereka harus tinju karena menjadi dominator, manipulatif, agen liberalisme di lapangan kebudayaan.
Marco adalah pengurus Syarekat Islam Surakarta karena mandat dari Tirto Adhi Soerjo dan bersama Sosrokoernio berpayah-payah menghidupkan koran Saratomo yang limbung. Marco justru berseberangan dengan Tjokroaminoto. Apalagi, saat sikap Tjokroaminoto dianggap lembek, Marco dengan Doenia Bergerak masuk gelanggang dengan sikap yang keras kepada pemerintah. Apalagi ia bersekutu dengan salah satu dokter keras kepala bernama Tjipto Mangoenkoesoemo di mana keduanya membikin koran Goentoer Bergerak.
Goentoer Bergerak, kemudian Doenia Bergerak menggunakan bahasa Melayu pasar, meledak-ledak dan bahkan urakan. Kata "kowe", "pantat" meluncur begitu saja untuk memaki (priyayi) bangsa Jawa. "Ja bangsakoe! Perloe apa kowe bangoen? Kaloe kowe bangoen nanti kowe dapet taoe sebabnja kowe dipoedji lemah-lemboet boedi pekertimoe karena kowe tida poenja akal sama sama sekali. Kowe diisap darahmoe, dimakan dagingmoe sampe tinggal koelit dan toelang tida bersoeara ba! atawa boe! Tjuma kerbo sapi jang begitoe…" (DB No 1 Th 1, 28 Maret 1914)
Menghantam seorang priyayi yang menjabat Assisten Wedana, Doenia Bergerak enteng memakai frase "pantat": "Tjis, tra maloe! Siapakah kiranja itoe? Si Djilat pantat. Djilat pantat itoe doea perkataan djilat+pantat. Djilat=mengesoetkan lidah; pantat= je weet wel. Brrrr, afschuwelijk, he! Boeat bangsa Djawa (jilat pantat, red) paling banjak: prijaji. Lain bangsa ampir semoea taoe, jang Prijaji-Djawa, ada banjak jang soeka likken. Dari itoe maka njata sekali, jang sebagian besar dari bangsa kita beloem taoe adjinja (de waarde) bekerdja soenggoeh2 dan ta pertjaja pada pekerdjaan sendiri. Kalaoe mereka itoe harganja pekerdjaan diri sendiri moesti maloe mendjilat-djilat begitoe." (DB, No 2, 4 April 1914, h 3).
Doenia Bergerak lahir saat Regeering menoetoep semoea moeloetnja kaoem Journalist (DB, No 3, 11 April 1914, h 1). Bacalah pengantar kelahiran Doenia Bergerak di No 1 bertitel "Hidoep Doenia Bergerak": "Kita bisa mengeloearkan Doenia Bergerak itoe tiada lantaran mempoenjai oeang, tetapi lantaran oesahanja IJB kepada sekalian toean-toean Boemipoetra. Djadi terang sekali Doenia Bergerak memang tiada berdjoeang setjoekoepnja alias melarat."
Pernyataan itu sudah cukup bagi kita bagaimana "garis api" ditabalkan Mas Marco bahwa ini bukan koran untuk mencari uang. "Boekan milik antek imperialis," kata boemipoetra. Nyaris tak ada iklan di Doenia Bergerak. Koran ini diterbitkan dengan semangat tanpa batas untuk melawan kebebalan feodalisme priyayi dan penghisapan abadi pemerintah kolonial.
Marco bukan berasal dari kaum terpelajar akademik lulusan ELS, HBS, OSVIA atau STOVIA, di mana mereka mampu membaca, menulis, serta berbicara dalam bahasa Belanda. Marco cuma lulusan sekolah boemipoetra Ongko Loro. Penulis yang lahir di Cepu pada 1890 ini justru belajar tentang masyarakat kolonial dan jurnalisme secara otodidak dengan cara mengangsur dan mengakumulasi semua pengetahuan dari senior-seniornya di pergerakan.
Tirto Adhi Soerjo, dia belajar segalanya: mulai dari layout hingga manajemen organisasi koran. Dari Tirto -juga Tjipto- belajar tentang penulis cum redacteur yang punya keberanian bersikap sebagai manusia tertindas. Dari pengalaman sebagai orang bawah dia belajar bersikap keras.
Marco mengkritik kaum priyayi yang menjilat. Dia memaki pengusaha Tionghoa yang membunuh usaha kaum bumiputra di lapangan ekonomi. Juga menghajar pemerintah. Karena itu, dia langsung digelandang ke bui. Pasalnya, Marco memuat artikel, memaki Dr Rinkes, Penasehat Gubernur Jenderal untuk Urusan Boemipoetra. Marco tahu, Rinkes ini juga sosok utama yang menghancurkan karir guru jurnalistiknya, Tirto Adhi Soerjo, lewat gerakan arsip yang rapi.
Dari Desember 1914 itulah Marco mengecap "royalti" tulisan-tulisannya: karnaval dari penjara ke penjara. Tahun 1915 di penjara di Semarang. Gara-gara puisi "Sama Rata Sama Rasa" dia dijebloskan lagi di penjara pada 1917. Karena dituduh bersekongkol dengan "si Raja Mogok van Jogja" Soerjopranoto, SJ., membela kaum buruh, dia dihantam lagi persdelict tahun 1920 dan menginap beberapa bulan di penjara Yogyakarta. Tahun 1921 dia di penjara lagi di Weltervreden, Batavia. Selanjutnya pada 1927 ia ditangkapi, dibuang, dan mati di Boven Digul ketika perlawanan kaum kiri menghembalang di Jawa dan Sumatera.
Marco sejenis aktivis yang kesetanan menulis. Dia lahirkan begitu banyak karya pamflet yang dia persembahkan untuk kejatuhan kolonialisme dari tanah Hindia. Tak ayal lagi, tulisan-tulisannya pun langsung masuk kotak "Bacaan Liar" oleh Balai Poestaka. Kalau kita daftar, hingga 1920 paling tidak Marco sudah mengeluarkan 7 buku (esei-prosa-puisi, jurnalistik), yakni Sair rempah-rempah, Mata Gelap, Sairnya Sentot, Student Hidjo, Doenia Bergerak, Regent Bergerak dan Maanblad Soero-Tamtomo.
Doenia Bergerak yang usianya tak genap 2 tahun dan menjadi tonggak jurnalisme pamflet memang telah mengabadikan nama Marco. Segelintir anak muda yang menulis dengan sikap yang jelas, terus-terang dan berapi-api. Cara dan penulisan yang diperlihatkan Marco menjadi genre sendiri dalam penulisan jurnalistik dengan memindahkan seutuhnya mimbar pidato berapi di hadapan massa yang beringas ke atas kertas tercetak.
Marco melawan pola penulisan yang ragu, ambivalen, memoles kata-kata indah untuk menutupi kelembekan sikap. Marco dan Doenia Bergerak memberi garis tegas siapa kawan yang harus kena tinju dan siapa lawan yang diajak bersekutu.
Doenia Bergerak dan Boemipoetra, keduanya masih satu pohon keluarga di dua masa yang berpaut hampir seratus tahun. Pohon yang bernama jurnalisme pamflet.
(Dari berbagai sumber)
Tubuh yang tak Lagi berbudaya
Jones Gultom.
Akhir-akhir ini pelecehan terhadap (tubuh) perempuan, semakin marak terjadi. Belum lekang ingatan itu kita akan kasus Bupati Garut, Aceng Fikri, yang mengawini Fany Octora, hanya dalam hitungan hari. Hati publik, terutama Kaum Hawa, kembali tersakiti lagi. Di antaranya dengan diberlakukannya perda di NAD yang melarang perempuan "ngangkang" (bahkan) termasuk ketika sedang dibonceng di atas sepeda motor.
Tak sampai di situ, kejutan lainnya juga datang dari Calon Hakim Agung, Daming Sunusi. Ketika mengikuti fit and proper test beberapa waktu lalu, Daming mengungkap pernyataan yang menyakitkan. Dia menyebut bahwa; pelaku dan korban pemerkosaan sama-sama "menikmati". Fenomena-fenomena ini kian membuktikan betapa redahnya penghargaan terhadap (tubuh) perempuan. Dengan kata lain, tubuh sudah tak lagi dihormati sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Singkatnya tubuh telah kehilangan kebudayaannya.
Dalam tulisannya yang berjudul "Tubuh, Melankoli, Proyek" di Jurnal Kalam edisi 15 Tahun 2000, Goenawan Mohamad pernah menulis; kematian oleh sebagian besar orang masih ditempatkan sebagai anak tiri oleh kisah tubuhnya sendiri. Goenawan meminjam pemikiran Marxis yang menyebut, tubuh hanyalah benda yang diproyekkan dalam keseharian. Karenanya, sama seperti tubuh, kematian sama sekali tidak bernilai apa-apa selain kesudahan yang profan. Boleh jadi, Marxisme yang dipahami itu telah membentuk persepsi massif yang mengesankan kematian hanya sebatas cerita dari tubuh-tubuh manusia.
Tubuh yang kehilangan kebudayaannya dapat dibaca dengan terang benderang dari karya-karya sastrawan, Marquis De Sade. Dalam romannya yang berjudul Justine ou les Maheurs de la Vertu, Malah Sade pernah menulis; kematian oleh kejahatan adalah wajar dan merupakan bagian penting untuk bertahan hidup. Tubuh sekedar dimaknai sebagai media yang menopang kehidupan ruh. Seperti kita tahu, De Sade, termasuk yang paling sering membicarakan keteraniayaan tubuh dalam karya-karyanya.
Jauh sebelumnya, Heraclitus dari Ephesus (540- 480 SM) telah lebih dulu skpetis terhadap kelompok-kelompok humanis. Dia mencontohkan perang. Baginya, perang adalah sesuatu yang harus berlangsung demi tercapainya keadilan. Kematian tak lain puncak kompetisi dan sebuah kewajaran. Dengan kata lain, tak ada kematian yang tak sia-sia. Bukankah dalam kehidupannya, manusia justru mengejar-ngejar maut?
Buruknya penghargaan terhadap tubuh manusia sebenarnya telah terjadi sepanjang perjalanan kehidupan manusia itu sendiri. Bentuknya pun berbeda-beda sesuai dengan motif yang mendasarinya. Sejarah pernah mencatat, bagaimana kekejaman ras kulit putih di Eropa dan Amerika membantai kelompok masyarakat kulit hitam. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara sistem dan hak-hak mereka sebagai manusia. Di antaranya, Perang Salib di abad pertengahan serta Perang Dunia I, II yang dianggap paling populer di zaman modren. Di Indonesia sendiri, penistaan terhadap tubuh adalah kotak hitam sejarah yang tak seorang pun berani membukanya secara gamblang.
Ada Apa dengan Tubuh Kita
Pernyataan Daming patut dicurigai, terlepas kemudian dia menyela bahwa itu hanyalah candaan. Masyarakat terlanjur memaknainya sebagai bentuk "kejahatan verbal". Apalagi dalam kapasitasnya sebagai orang yang mencalonkan diri sebagai Hakim Agung, yang berperan sebagai penegak keadilan dengan hukum sebagai panglima.
Pada saat bangsa ini tengah berbenah mengatasi persoalan-persoalan menyangkut HAM, pernyataan Daming justru kontraproduktif. Daming tidak peka melihat sensitivitas masyarakat terkait hal itu. Apalagi Mahfud MD belakangan juga telah menyinggung soal gratifikasi seks, yang menurutnya semakin marak terjadi di negeri ini.
Demikian juga dengan perda pelarangan ngangkang di NAD. Bagi sebagaian orang, terutama aktivitas perempuan, pelarangan itu tak lain adalah bentuk penistaan terhadap perempuan itu sendiri. Jika sebelumnya Gubernur NAD, Zaini Abdullah, menganggap pemberlakuan pelarangan itu sebagai upaya perlindungan bagi perempuan, menurut saya, hal itu merupakan sesuatu yang keliru dan sekedar prasangka. Apalagi bertentangan dengan spirit undang-undang lalu lintas. Justru mereka yang berpikiran piciklah yang menganggap ngangkang (apalagi di atas sepeda motor) sesuatu yang amoral.
Sepertinya, sebagian besar penguasa bangsa ini, sedang mengidap krisis kemanusiaan akut. Hal itu ditandai dengan degrdasi moral dalam menilai arti tubuh. Apa yang pernah disingung Sade semakin terbukti. Tubuh tak lagi dinilai sebagai suatu wujud real abstraksi kosmos, melainkan hanya sebuah benda ekonomis yang boleh diperjualbelikan. Tak heran, jika tubuh-tubuh masyarakat modern cenderung kehilangan esensi; kehilangan nilai religiusitasnya.
Dalam pandangan berbagai agama, tubuh sama pentingnya dengan jiwa. Kristen mengajarkan, tubuh adalah manifestasi Bait Suci. "Tubuhmu adalah Bait Sucimu" Penafisiran kalimat ini setidaknya mengandung dua hal. Pertama, tubuh sebagai materi (Bait Suci). Kedua, tubuh sebagai jiwa. Tubuh sebagai materi diperlambangkan sebagai jiwa yang suci. Pengertian ini diperlihatkan dalam Perayaan Misa oleh umat Katolik. Tubuh dimetaforkan sebagai roti yang tak lain adalah Roh Allah itu sendiri.
Kesatuan tubuh dan jiwa juga terlihat jelas dalam ajaran Buddha. Hubungan ini ditunjukkan lewat pemahaman Karma serta Reinkarnasi. Jiwa buruk di masa lalu akan berpengaruh bagi tubuh fisik di masa datang. "Sikap yang diperlihatkan di masa lalu akan berpengaruh terhadap wujud ketika reinkarnasi." (Brahmajala Sutta, Digha, Nikaya). Tubuh adalah konsekuensi langsung dari pengembaraan jiwa di masa lalu. Ajaran ini menelanjangi sikap religius sekaligus menghukum dan memberi rahmat secara langsung.
Dalam ajaran Islam, "pensakralan" tubuh diperlihatkan secara tegas. Larangan mempertontonkan aurat kepada yang bukan muhrimnya, merupakan penghormatan nilai-nilai yang melekat dalam tubuh. Sikap yang ditonjolkan dalam ajaran Islam menunjukkan betapa sucinya tubuh itu. Karenanya saya sangat tak percaya, jika aksi-aksi teroris itu semata-mata didasarkan atas doktrin agama. Bagaimana mungkin seorang umat beragama diperkenankan membunuh, jika terhadap tubuhnya sendiri saja, dia mesti menjaga dan mempertahankan kedaulatannya.
Industrialisasi Tubuh
Bukti lain rendahnya penghargaan akan tubuh, terlihat dari bagaimana tubuh itu dikomersilkan. Tubuh-tubuh diproyekkan secara massif. Lihatlah iklan-iklan yang ditayangkan di media massa. Tubuh yang diperjualbelikan dalam iklan itu, semata-mata hanya bicara soal bentuk. Tubuh tak lagi memiliki simbol. Belakangan, pembicaraan tubuh pun hanya berkisar pada soal seks dan reproduksi.
Mestinya sebagai metafor, tubuh terikat pada nilai-nilai luhur. Nilai-nilai inilah yang memberinya esensi. Karenanya tubuh tanpa metafor adalah tubuh yang telanjang, tubuh yang terlalu gampang diartikan. Tubuh yang hanya bernilai fisik. Itulah yang terjadi dewasa ini, khususnya di Indonesia. Tubuh hanya dipandang sebagai tubuh. Tubuh tidak berbeda dengan benda-benda lainnya yang berkemungkinan digali sebagai proyek industri. Tubuh hanya sebatas tubuh. Tidak lebih!
Lihatlah betapa gampangnya negara mengirimkan para TKI-nya, tanpa kepastian perlindungan hukum yang jelas. Bahkan ke negara yang sudah berulangkali mengeksekusi tubuh-tubuh TKI. Pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan yang ditayangkan media massa merupakan gambaran degradasi tubuh itu.
Jangankan tubuh sesama, bahkan tubuh sendiri saja tidak lagi dihargai. Itu sebabnya pernyataan Daming maupun pelarangan ngangkang harus dilawan dengan cara mengembalikan kebudayaan atas tubuh itu sendiri.
Menelurusi Kecintaan Remaja pada Budaya Sendiri
Djamal.
Dimasa serba modern saat ini, apakah segala yang mengandung masa lalu (tradisi) masih diperlukan? Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan demikian. Di satu sisi, masyarakat yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi zaman yang senantiasa, bahkan begitu pesat pergerakannya. Di lain sisi, masyarakat tidak lahir dari budaya yang kosong.
Sulit rasanya dipungkiri, kenyataannya masyarakat (manusia) memang membutukan pijakan budaya. Mau tidak mau, budaya yang pernah tumbuh di belakang masyarakat, yakni masa lampau, harus di lihat oleh masyarakat itu sendiri. Ya, semacam cermin untuk menata diri dalam menyikapi masa depan (masa kini).
Hampir dipastikan, hakikat pelestarian kebudayaan demikian yang menjadi acuan Bupati Langkat Drs. H. Ngogesa Sitepu, SH. Dengan menggandeng Seluruh SKPD yang ada untuk menggelar Lomba Lagu Pop Melayu se-Kabupaten Langkat ditunaikan pada Rabu, 9 Januari 2013. Penyelenggaraan lomba di Gedung MABMI Langakat, agenda ini dilaksanakan dalam rangka menyambut hari jadi Kabupaten Langkat yang ke-263. kegiatan ini diikuti puluhan pelajar se tanah langkat. Dengan persiapan yang sangat singkat, sekitar sepuluh hari sampai menuju hari pelaksanaan lomba.
Dari dua puluh tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Langkat, hanya dua belas kecamatan yang mengirimkan peserta untuk diikut sertakan dalam lomba lagu pop melayu tingkat pelajar/umum dengan batasan usia maksimal 25 tahun.
Rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa di wujudkan dalam berbagai cara, salah satunya melalui seni tradisi. Dan Kabupaten langkat sangat terkenal dengan tradisi Melayunya. Dengan itu, untuk mewujudkan rasa syukur mendalam, Bupati Langkat, melalui SKPD yang ada, menggelar lomba lagu pop Melayu. Percayakan pelaksanaannya pada Drs. T. Auzai selaku ketua penyelenggara dan grup Jamal Ce Es selaku penyelenggara sekaligus pembawa acara.
Mamapukah melalaui Lomba lagu pop Melayu merupakan unsur untuk menanamkan kecintaan budaya di kalangan generasi muda? Grup Jamal Ce Es merasa tertantang untuk mewujudkan ini semua. Alunan indah dan lenggagak-lenggok peserta lakukan di atas panggung, bukan hanya sekedarnya saja. Semua memiliki penilain dan member makna pengajaran budaya kita sendiri. Di tangan Grup Jamal Ce Es merupakan kelompok lawak yang tak pernah meninggalkan budayanya ini telah bertaraf nasional. Selain itu, mereka juga menggandeng dewan juri dan pemusik yang setaraf dengan mereka. Siang itu Gedung MABMI Langkat semarak dengan lomba lagu pop Melayu.
Hajatan pun digelar, disambut hangat oleh seluruh kalangan, mulai dari kalangan pemerintahan, hingga masyarakat kelas menengah ke bawah, lomba ini memang telah memberi corak baru dari perayaan-perayaan HUT Langkat terdahulu.
Dibuka dengan khidmat oleh Sekda Kab. Langkat Drs. H. Surya Djahisa, Msi. Dalam sambutannya, dia menyambut hangat dan mendukung kegitan semacam ini, sebab nilai-nilai budaya melayu sudah saatnya ditanamkan sejak dini pada para pelajar. Dan untuk menghindari kepunahan dan menghempang masuknya budaya barat yang sangat drastis, serta menanamkan kebudayaan tanah kelahirannya sendiri sebagai sebuah kebanggaan pada tiap jati diri anak Langkat.
Langkah awal perlombaan memang telah dilaksanakan sehari sebelumya, yakni cakap-cakap tentang aturan main perlombaan hingga pengambilan nada dasar dari tiap-tiap peserta yang mengikuti perlombaan tersebut. Alhasil, setelah seremoni pembukaan pada 9 Januari 2013 pukul 10.00 Wib, acara pun dimulai.
Tak disangka, setelah membuka acara Sekda. Langkat tak beranjak dari tempat duduknya. Alunan lagu pop Melayu, rupanya mampu menawan hati H. Surya Djanisa, untuk lebih lama lagi menikmati alunan dari para penyanyi pemula (pelajar), bukan hanya Sekda Kab Langkat saja yang terpana, seluruh undangan dan penonton merasakan nikmatnya alunan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para pelajar berusia belia tersebut.
Ada banyak bakat, semangat dan benih-benih kecintaan terhadap budaya melayu di diri para peserta yang tampak dari cara mereka menghidangkan alunan lagu yang diiringi live music oleh grup yang berasal dari gabungan seniman asal langkat yang kabarnya telah menasional.
Dengan kata lain, Perlombaan tersebut berjalan hangat dan semarak. Pantas menjadi contoh untuk menghidupkan kembali budaya Langkat dalam menyelenggarakan lomba-lomba sejenisnya di waktu mendatang. Menyikapi keseriusan panitia, peserta hingga penikmat yang hadir, Sekda. Kabupaten Langkat Drs. H. Surya Djahisa. Msi; Memberikan angin segar bagi masyarakat Langkat. Khususnya para pelajar bahwa Lomba ini akan menjadi agenda tahunan Kabupaten Langkat. Angin segar ini disambut dengan sebuah aplaus yang hangat oleh seluruh peserta dan undangan yang hadir, sebab Pemkab Langkat telah ambil peduli dengan keberadaan kebudayaan langkat dan bakat serta kecintaan generasi mudanya terhadap budaya tanah kelahirannya sendiri.
Banyaknya suara dari kalangan pelajar yang sebenarnya ingin mengikuti acara-acara lomba semacam ini, bahkan dari kalangan umum juga banyak yang ingin mengikuti lomba lagu pop Melayu. Usia mereka telah melampaui dari batas usia yang ditetapkan panitia penyelenggara. Panitia penyelenggara hanya menerima peserta yang berusia pelajar dan mahasiswa dan maksimal umur 25 tahun.
Sebuah saran bolehlah di ungkapkan buat segenap kepanitian lomba semacam ini. Agar ke depan lomba semacam ini dipersiapkan lebih matang lagi dan tiap kecamatan mampu mempersiapkan utusannya yang lebih berkualitas lagi.
Akhirnya acara pun terselenggara dengan lancar dan meriah. Walapun dengan dana patungan para SKPD Kabupaten Langkat. Lomba ini tidak menggunakan Anggaran APBD Kab. Langkat. Even yang sama akan di gelar dalam waktu dekat, seperti lomba lagu Karo, lomba lagu Batak, lomba lagu Mandailing serta lomba lagu Jawa.
Untuk para pemenang lomba lagu pop Melayu, hadiah diserahkan pada 17 Januari 2013 bertepatan pada acara puncak Hari Ulang Tahun Kabupaten Langkat yang ke 263. Mereka akan diberikan kesempatan satu panggung dengan Victor Hutabarat. Kemungkinan di acara puncak, akan di pandu oleh Grup Jamal CeEs.
Karena citra kebudayaan tanahLangkat tercermin juga dari lomba-lomba semacam ini. Boleh jadi, ada penikmat-penikmat ataupun pengamat dari tanah lain datang dan menilik hidangan alunan lagu-lagu Melayu di tanah langkat, lalu timbul niatan baik bagi bakat dan semangat berkebudayaan anak-anak muda Langkat. Menyusul senior mereka ketingkat Nasional seperti Grup lawak Jamal CeEs. Semoga!
Lomba Lagu Pop Melayu ataupun kegiatan sejenis lainnya tidak sepenuhnya hadir sebagai peristiwa "perayaan" budaya (lomba lagu pop melayu) semata, tetapi sedang mengingatkan khalayak bahwa setiap budaya memiliki filosofi yang sarat makna. Paling tidak, generasi penerus bangsa ini menjadi sadar dan yakin; betapa pintarnya para leluhur bangsa ini. Kepintaran yang pantas di asah dan dimiliki penerus bangsanya.
Komunitas dan Entitas Sastra
Sakinah Annisa Mariz.
Sering kali karya sastra dipandang sebagai kerja mandiri yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan kreatifitas dan keahlian individualis. Hal ini benar adanya, namun perjalanan karir seorang sastrawan juga tidak bisa dilepaskan dengan interaksinya kepada sastrawan lain.
Antara satu penulis dengan penulis lain, misalnya. Baik secara ikatan emosional, maupun melalui aktivitas kepenulisan, seorang penulis membutuhkan penulis lain untuk membaca dan dibaca karyanya. Penulis membutuhkan kritik dan masukan, demi menemukan ide-ide dan teori baru. Inovasi akan berlanjut apabila ada sesuatu yang terbarukan, sedangkan "baru" akan muncul, kalau ada yang kita sebut dengan "lama". Dalam konteks ini, saya maksudkan ada semacam proses berkesinambungan antara karya yang lahir dan yang akan lahir.
Ada Apa Dengan Komunitas?
Memaknai kehidupan seorang penulis, tentu akan melihat seluk-beluk antropologi manusia, kehidupan masyarakat sosial, hingga merambat ke dalam psikologi pribadi pengarangnya. Kemudian daripada itu, penulis tidak hanya sekedar memproduksi, namun juga mengonsumsi sebanyak-banyaknya ide dari sumber di luar dirinya sendiri.
Reseptif-Produktif menjadi bagian dari diri penulis sebelum menerjemahkannya pada karya. Gejala ini menunjukkan keterikatan penulis dengan nilai-nilai humanis serta mengakhirinya pada harapan dan tujuan tertentu.
Komunitas sastra selaku pelindung yang saling memberikan kekuatan bagi penulis-penulis untuk aktif berkarya juga memperhatikan perkembangan karya sastra bersama-sama. Fungsi komunitas ini akan nampak bila ikatan emosional, empati dan kebersamaan terjalin di antara personel komunitas. Sesederhananya komunitas sastra, tak selalu berbentuk organisasi yang mengatur dengan jelas fungsi-fungsi personelnya secara formal.
Ada kelonggaran yang membuat komunitas sastra berbeda dengan komunitas lainnya, sebab kehadirannya bersumber dari inisiatif, kepekaan masing-masing orang akan sastra melalui minat, misi dan tujuan tertentu. Tidak ada batasan maksimal dan minimal dalam menetapkan anggota komunitas. Kebebasan juga berlaku pada status, usia dan hal-hal lain, sesuai kesepakatan komunitas dan prinsip bersama.
Bersatunya penulis dan komunitas, bukanlah hal baru. Catatan perjalanan sejarah sastra Indonesia telah menunjukkannya. Hakikat komunitas seumpama muara bagi aliran ide dan tujuan-tujuan sejenis yang dimiliki oleh pengayom-penikmat-penggiat sastra.
Kemunculannya secara sadar, terjadi perlahan pada kesamaan asa dan lokus konsentrasi penulis, embrio awalnya di tahun 1920-an dengan sebutan Angkatan Balai Pustaka. Keseriusan kajian topik-topik lokal dengan pemikiran universal, usaha pembebasan, hingga kritik terhadap budaya, adat istiadat dan pemerintah oleh Marah Rusli, Muhammad Yamin serta Sanusi Pane, yang di’komunitas’kan menjadi Angkatan Balai Pustaka.
Tidak hanya sampai disana. Pada tahun 1940-an muncul lagi komunitas dengan julukan Angkatan Pujangga Baru yang dipelopori oleh Chairil Anwar, dan kawan-kawan. Pada tahun 1960-an yang disebut dengan Angkatan ’66 dengan banyak tokoh sentral seperti Taufik Ismail, WS. Rendra, Toto Sudarto Bachtiar dan lain-lainnya.
Memasuki era 90-an, pelabelan "komunitas" semakin spesifik digunakan. Keseriusan komunitas tak cuma penanda angkatan tertentu, namun hampir menyerupa kesatuan organisatoris yang disusun secara tersistem, mempunyai tendens dan visi bersama ataupun untuk kepentingan umum. Pada akhirnya di konteks ini komunitas menjadi sarana penulis dalam menggerilyawankan karya dan misi-misi kepenulisannya.
Banyaknya pemikiran yang terus bersinggungan dalam suatu komunitas, menimbulkan gairah dan semangat untuk selalu berbuat selangkah lebih maju pada diri penulis. Dibukanya forum diskusi untuk saling belajar dan berbagi wawasan, membangun komunikasi asertif, penyebaran arus informasi dan berpartisipasi aktif melaksanakan seminar, workshop serta apresiasi dalam rangka menambah perhatian masyarakat sastra, adalah manfaat berkomunitas. Manfaat ini akan terus terasa bila aktifitas berkomunitas berjalan dengan maksimal oleh seluruh personel.
Yang menjadi kendala yakni jika komunitas sudah tidak sanggup lagi membendung gesekan pemikiran yang terus terjadi di dalamnya. Komunitas sastra bukan lagi sebagai ladang penyemai benih-benih ide pembaruan, namun bisa menjadi medan pertempuran bagi para penulis ataupun merebak menjadi konflik antar komunitas. Kecenderungan mematikan karir penulis dari pihak tertentu dengan kritik-kritik tajam oleh oknum atau media tertentu, misalnya, kerap menjadi masalah. Ini tentu membawa iklim yang tidak baik bagi perkembangan sastra.
Komunitas Ikut Mewarnai
Pendapat kolektif menjadi ciri sebuah komunitas. Setiap komunitas, pasti memiliki landasan, arah dan maksud-maksud demi mewujudkan tekadnya. Kendatipun dalam komunitas, masing-masing penulis tetap memiliki keleluasaan melahirkan karya, namun pola dan pandangan tersebut akan mempengaruhi mind-set karya yang terlahir.
Memang agak tergesa-gesa bila kita lantas menuding komunitas sastra sebagai agen pengatur kiblat sastra, genre sastra, kajian sastra dan sebagainya, karena tidak semua penulis pada kenyataannya bergiat ataupun bergabung dalam suatu komunitas. Ada juga penulis yang berkarya secara indie (independent) dan tidak bergabung dengan komunitas manapun, toh tetap punya banyak ide untuk mewarnai khazanah sastra. Namun demikian, bukankah perlu dicermati bahwa perbandingan penulis-penulis yang terhimpun dalam komunitas akan lebih besar kuantitasnya bila disejajarkan dengan penulis-penulis yang memilih "sendiri".
Perbandingan dalam jumlah kuantitas ini dirasa membutuhkan data yang lebih relevan, untuk itu perlu penelitian lebih mendalam mengenai hal tersebut. Akan tetapi, saya akan membatasi penalaran ini dengan analogi sebagai berikut :
Bila dalam sebuah komunitas, terdiri dari (sekurang-kurangnya) tiga orang. Ketiga orang tersebut melahirkan satu karya setiap minggunya, maka akan ada duabelas karya yang terlahir dalam waktu satu bulan. Mari kita bandingkan dengan seorang penulis yang berkarya independen, (mandiri) dan padanya dapat terlahir satu karya per minggunya, maka dalam sebulan dia akan dapat menghasilkan empat karya. Dari segi intensitas kelahiran karya yang bermuatan tendens tertentu, jumlah ini pasti tidak seimbang.
Perubahan dan perkembangan kiblat sastra bergantung pada aktifitas mayarakat sastra itu sendiri, bisa dari golongan akademisi, kritikus, sastrawan, hingga ke ranah pembaca yang senantiasa mengapresiasi karya sastra. Begitupun, pasti ada peran tertentu yang membentuk dan mewarnai lebih kuat, dalam hal ini kita sebut saja mereka dengan istilah komunitas.
Medan, 2013
Penulis mahasiswi Semester VIII, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan.
Membaca Gerakan Sastra Sumatera Merdeka: Hegemoni dan Dominasi
Hesti Sartika.
Hegemoni dalam Bahasa Yunani diartikan sebagai bentuk kekuasaan terpusat dengan cara mengendalikan daerah-daerah di bawah kekuasaannya suatu negara. Secara politik dimaksudkan untuk mencapai maksud-maksud tertentu dengan persepsi memaksakan kehendak, hingga tercapainya tujuan.
Dalam hubungan ketatanegaraan, hegemoni bisa berarti suatu sistim kekuasaan yang terpusat atau kepemimpinan terpusat yang memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan bawahannya.
Secara umum, hegemoni merupakan suatu dominasi kekuasaan terhadap kehidupan sosial masyarakat kelas bawah. Melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan penindasan atau kekerasan. Bisa juga didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok tertentu terhadap kelompok yang lain, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominasi terhadap kelompok yang didominasi atau dikuasai, diterima sebagai sesuatu yang wajar dan tidak mengekang pikiran.
Seiring dengan perkembangan teknologi, dominan budaya, politik dan ekonomi bisa menguasai dari satuan yang besar hingga satuan yang kecil. Satuan besar yaitu negara, satuan kecil hingga perorangan. Perlu disadari hegemoni sekarang bisa dipahami sebagai dominansi dari budaya negara maju terhadap negara berkembang. Jadi hegemoni tidak semata-mata dalam bentuk penindasan/penguasaan secara fisik, tetapi bisa penguasaan secara wacana. Hegemoni wacana inilah yang berbahaya, karena manusia tidak sadar bahwa dia telah dihegemoni.
Sebaliknya, dalam Black’s Law Dictionary, dominasi (dominate) diartikan sebagai to master (someone or something) or to control (someone or something), Bryan A Garner: 502. Suatu keadaan tertentu yang dikuasai oleh orang tertentu. Seseorang menguasai seseorang atau suatu, faham politik yang menguasai suatu daerah dengan melakukan penaklukan. Dalam hal ini bisa terjadi melalui eksploitasi terhadap ideologi dan kebudayaan dengan maksud agar mendapatkan keuntungan,
Mengkritisi sistem pemerintahan dalam strata kehidupan sosial masyarakat, baik dalam dunia kesusasteraan dan pengembangan seni budaya lainnya di Sumatera Utara, hegemoni dan dominasi pusat (baca; Jakarta) telah sampai pada sisi yang cukup mengkuatirkan. Sebagaimana disebut Yulhasni dan Afrion dalam tulisan-tulisannya di Rebana Analisa.
Mengamati fenomena yang terjadi di Sumatera Utara (Medan), ada hal-hal yang menarik untuk perbincangkan. Salah satunya muncul gerakan Sastra Sumatera Merdeka yang sedang rame-ramenya dibicarakan para sastrawan, baik dalam diskusi di Taman Budaya secara face to face, personal dan kelompok, maupun di media-media massa.
Sebagai mahasiswa pembelajar sastra, saya merasa gerakan Sastra Sumatera Merdeka perlu disikapi dengan pemikiran yang jernih, hati-hati dan kesadaran untuk tidak terjebak kepada keretakan hubungan dengan sesama sastrawan, baik yang ada didaerah maupun di pusat (Jakarta) yang secara politik sebagai ibukota Negara dan pemerintahan. Dalam hal ini diharapkan juga bersikap toleran dengan memperhatikan suatu keadaan dan kemampuan masyarakat di daerah.
Sebagaimana yang dikemukan Yulhasni pada tulisannya di Rebana Analisa Minggu, 9 Desember 2012, perihal memerdekakan diri dari rasa curiga. Menurut saya apakah diperlukan rasa curiga dalam menyikapi munculnya gerakan memerdekakan diri dari hegemoni Jakarta? Hegemoni estetika karya dalam pengembangan kesusasteraan dengan cara mengontrol atau mempengaruhi pemikiran estetika karya sastrawan daerah, tentu sangatlah tidak diharapkan.
Gerakan Sastra Sumatera Merdeka sebagai satu bentuk kesadaran kolektif maupun individu tentunya diletakkan sebagai keinginan untuk keluar dari gejala ‘penindasan’ sistematis atas nama apapun. Berfikir untuk memerdeka diri pada akhirnya memang tidak perlu dicuragai, demi mewujudkan pencapaian estetika karya sastra Sumatera Utara dihargai oleh penerbit Jakarta.
Dominasi pusat (baca; Jakarta) sebagaimana disebut Afrion telah mempengaruhi estetika karya sastra di Sumatera Utara. Gugatan terhadap sisitim dominasi ini misalnya disebut Afrion dengan memonopoli pemasaran buku-buku pelajaran sejarah sastra di sekolah maupun perguruan tinggi dengan mengabaikan perkembangan sejarah kesusasteraan yang mucul di daerah.
Dengan demikian sudah semestinya kehadiran Sastra Sumatera Merdeka yang mengkritisi hegemoni dan dominasi sejarah kesusatraan Indonesia oleh Jakarta dengan mengabaikan apa yang terjadi di daerah, perlu didukung oleh semua pihak.
Dalam bidang penerbitan buku-buku disebut Idris Pasaribu, penerbit Jakarta telah mematikan penerbit di daerah. Pertjetakan Tapanoeli di Jalan Mesjid Medan salah satu percetakan yang melahirkan banyak karya sastra kini tutup. Ada penerbit dan percetakan Bin Harun di Jalan Perdana, Firma Hasmar di Jalan Serdang dan CV Madju di jalan Amaliun yang kini telah bangkrut dan tutup karena buku-bukunya tidak menjadi rujukan oleh pemerintah pusat karena telah digantikan oleh buku-buku terbitan Jakarta.
Dengan demikian dapat dimaklumi bahwa maksud dan tujuan gerakan Sastra Sumatera Merdeka agar terbentuk kesadaran kolektif masyarakat terhadap sistem monopoli pemasaran dan penerbitan buku di Jakarta yang menghancurkan penerbit buku di daerah. Khususnya di dunia pendidikan dan perguruan tinggi yang sekarang menggunakan buku terbitan Jakarta.
Seperti yang diungkapkan Afrion dalam tulisannya di Rebana Analisa Minggu, 9 Desember 2012. Gerakan Sastra Sumatera Merdeka mestinya diartikan sebagai spirit menumbuhkan kebersamaan sebagai suatu gerakan membendung monopoli penerbit buku Jakarta memasuki wilayah pangsa pasar daerah. Apalagi cenderung menguasai pemakaian buku pelajaran di sekolah dan perguruan tinggi.
Usaha membendung monopoli penerbitan buku Jakarta memasuki wilayah pasar daerah agar tak semakin meluas. Sehingga penerbit-penerbit buku daerah dapat hidup kembali sesuai alur dan porsi yang telah ditetapkan oleh masing-masing daerah. Sehingga tidak ada lagi dominasi penerbit Jakarta menguasai pemasaran buku di daerah.
Akibat lain yang muncul dari beredarnya buku-buku terbitan Jakarta, nyatanya dampak pula dengan penggunaan bahasa oleh masyarakat di daerah. Kita menemukan banyak penggunaan bahasa Jakarta (Betawi) dikalangan anak-anak muda seperti "banget, sih, dong, gue, lo," dan lain sebagainya.
Sastrawan, Pembaharu Sastra Keilmuan
Fatmin Prihatin Malau.
SASTRA Indonesia perlu dianalisa ulang, untuk apa? Dianalisa ulang untuk eksistensi (keberadaan) sastra keilmuan atau sastra yang menjadi pelajaran di bangku sekolah dan perguruan tinggi. Sastra keilmuan ada dari jenjang pendidikan sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas dan pendidikan tinggi. Buktinya ada Fakultas Sastra dan selain Fakultas Sastra, seperti Fakultas Ilmu Sosial, Ekonomi, Hukum, Kedokteran, Pertanian dan lainnya ada Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yakni Ilmu Budaya Dasar.
Artinya, sastra sebagai keilmuan terintregrasi dengan semua disiplin ilmu yang ada maka sastrawan memiliki tanggungjawab moral dalam pembaharu dari sastra keilmuan. Bagus bila ada sekelompok sastrawan berteriak merdeka dalam makna luas dan menginginkan adanya pembaharuan secara alami serta menempatkan sastra itu sebagai keilmuan.
Tuntutan dari keilmuan adalah merdeka, tidak terbelenggu, berkembang secara terus menerus, tidak statis (stagnasi) apa lagi berhenti. Semua keilmuam terus berkembang sesuai dengan pemikiran dan tuntutan zaman. Keilmuan itu dalam perkembangannya ada yang cepat dan ada yang lambat akan tetapi terus berkembang.
Keilmuan kedokteran, fisika, kimia kini mengalami perkembangan yang cepat sesuai dengan tuntutan zaman. Sastra sebagai keilmuan juga harus berkembang selaras dengan eksistensi para sastrawan yang merdeka, berdaulat dan sejahtera lahir bathin.
Bila dibandingkan dengan keilmuan lain sastra sebagai keilmuan seperti berjalan ditempat, terbelenggu dan dibelenggu sehingga hampir tidak berkembang. Dari masa ke masa hanya itu saja materi yang menjadi keilmuan. Buktinya, dua puluh lima tahun lalu, penulis ketika di sekolah menengah atas mempelajari sastra dan kesusastraan tentang Mara Rusli dengan Siti Nurbaya, Chairil Anwar dengan "aku ingin hidup seribu tahun lagi." Buya Hamka dengan Merantau ke Deli dan sastrawan lainnya dengan karyanya.
Kini para siswa sekolah menengah atas juga mempelajari apa yang dua puluh lima tahun lalu penulis pelajari. Teman penulis satu sekolah kini menjadi guru pelajaran Bahasa Indonesia dan ketika bertemu mengatakan hal yang sama dan menilai penulis yang pantas menjadi guru pelajaran Bahasa Indonesia karena penulis banyak menulis tentang sastra yakni cerita pendek (cerpen), cerita bersambung (cerbung), puisi dan esai sastra.
Apa maksud teman penulis yang guru Bahasa Indonesia itu? Maksudnya sastra sebagai keilmuan belum seperti disiplin ilmu yang lain. Mengapa karya-karya sastrawan sekarang ini belum menjadi materi keilmuan pelajaran sastra.
Sastawan Menjadi Pelopor
Sastra sebagai keilmuan setara dengan disiplin keilmuan lainnya. Mengapa disiplin keilmuan lainnya terus berkembang dari waktu ke waktu, mengapa sastra sebagai keilmuan sangat sulit berkembang, tetap itu saja dari masa ke masa.
Fenomena ini perlu dianalisa tentang keberadaan (eksistensi) sastra itu sendiri. Pertanyaannya, apakah dari dahulu, dari zaman Siti Nurbaya sampai zaman sekarang ini karya Sastra Indonesia memang hanya itu saja? Jika benar sastra sebagai keilmuan sudah pasti tidak mungkin karya Sastra Indonesia hanya itu saja.
Teman penulis satu alumni SMA yang kini menjadi guru pelajaran Bahasa Indonesia mengakui karya Sastra Indonesia bukan itu saja dan menyebutkan sederetan nama sastrawan di Sumatera Utara yang karya sastra para sastrawan itu dibaca dan diikutinya pada berbagai suratkabar meskipun tidak mengenal orangnya secara langsung dan dengan penulis juga karena dahulu teman satu kelas di bangku SMA. Seandainya tidak satu kelas, maka tidak juga mengenal orangnya, hanya nama dan karyanya saja.
Menarik pengakuan teman satu kelas penulis ini yang kini menjadi guru Bahasa Indonesia untuk mencermati Sastra Indonesia sebagai keilmuan. Semakin menarik lagi ketika hampir semua Perguruan Tinggi (Universitas) memiliki Fakultas Sastra dan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Kesusastraan terus dipelajari mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
Bukan itu saja akan tetapi Indonesia juga memiliki lembaga Pusat Bahasa yang Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) bertanggungjawab untuk pengembangan bahasa dan kesusastraan sebagai keilmuan.
Perlu dianalisa ulang Sastra Indonesia sebagai keilmuan karena karya sastra dan sastrawan yang ada dalam sastra keilmuan belum ada perkembangan, masih tetap seperti lima puluh tahun yang lalu. Pada hal beberapa nama seperti Taufiq Ismail, Putu Wijaya, NH Dini dan lainnya melahirkan karya sastra.
Begitu banyak sastrawan Indonesia yang memiliki karya sastra yang bagus dan mewakili perkembangan zaman tetapi mengapa tidak menjadi materi sastra sebagai keilmuan dan mengapa tidak masuk dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia dan Kesusastraan.
Sastrawan harus menjadi pembaharu sastra sebagai keilmuan dengan berinteraksi dengan lingkungan daerahnya, sehingga karya karya sastra lokal menjadi kajian dan penelitian pada Fakultas Sastra.
Sama dengan disiplin keilmuan lain, sastra sebagai keilmuan juga harus menjadi materi penelitian di Fakultas Sastra seiring dengan berkembangnya manusia di Indonesia. Sastra Indonesia sebagai keilmuan harus dianalisa ulang, sehingga sastra sebagai sebuah disiplin ilmu tidak stagnasi atau berhenti dalam pemikiran, akan tetapi berkembang dalam peradapan.
Pelopor utama harus datang dari para sastrawan Indonesia yang ada sekarang ini pada semua daerah di Indonesia. Bila ini dilakukan para sastrawan pada daerahnya masing-masing maka budaya, sastra Indonesia bukan saja merupakan jati diri Bangsa Indonesia juga berkembang menjadi satu disiplin keilmuan yang merdeka, berdaulat dalam berkarya.
Penulis pemerhati masalah kesusastraan, pernah menjadi dosen matakuliah Ilmu Budaya Dasar di Medan
Ketika Kebudayaan Menjadi Komoditi Politik
Fadmin Prihatin Malau.
Ketika kebudayaan menjadi komoditi (barang) politik maka nilai-nilai kebudayaan itu menjadi tidak sakral karena telah terjadi transaksi (jual beli) untuk kepentingan sesaat. Acapkali penulis diminta atas nama kesenian, kebudayaan dari para politikus yang berebut kekuasaan mengelus-ngelus kebudayaan sebagai orang yang peduli terhadap kebudayaan. Sesungguhnya bukan perduli kepada kebudayaan itu sendiri akan tetapi ingin menjadikan kebudayaan itu sebagai jembatan, perahu untuk menuju pulau kekuasaan yang diinginkannya.
Bila bertemu dengan sosok politisi seperti ini memang memusingkan, serba salah. Sulit untuk memosisikan diri, sebab ketika diminta menjadi serba sulit. Alasannya yang meminta itu adalah teman, tetapi mengapa teman itu tiba-tiba menjadi sosok yang begitu perduli dengan kebudayaan. Anehkan? Padahal perduli dengan kebudayaan tidak bisa tiba-tiba. Ada proses panjang yang terus-menerus, menyatu dalam jiwa dan raga.
Kebudayaan memang milik semua orang. Ada pada jiwa dan raga semua orang, tetapi tidak harus muncul tiba-tiba, peduli dengan kebudayaan itu. Kebudayaan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Kebudayaan yang kata dasarnya budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya pikiran; akal budi. Sedangkan kebudayaan artinya hasil kegiatan dan penciptaan bathin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, adat istiadat, kesenian atau antara keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
Politik yang Berbudaya
Budaya milik semua orang, berarti ada komunitas di dalamnya dan inilah yang ingin dijadikan oleh para calon gubernur. Kondisi ini bukan barang baru, sebab tahun 1990-1995 ketika R. Lubis Zamakhsyari menjadi Ketua Majelis Kebudayaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara dan penulis menjadi sekretaris pendekatan para politisi kepada kelompok budayawan sudah sering dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan simpatik para budayawan.
Pendekatan kepada para budayawan tidak salah, sah-sah saja akan tetapi bukan berarti akan memperbaiki kebudayaan itu sendiri. Sesungguhnya kebudayaan itu ada di dalam setiap diri manusia dan kepemimpinan yang diinginkan adalah kepemimpinan yang berbudaya, politik yang berbudaya bukan kebudayawan yang menjadi komuniti politik.
Dari sisi antropologis dijelaskan yang termasuk dalam kebudayaan adalah norma, pandangan hidup atau sistem nilai, apa yang dihasilkan dari manusia, dari para pemimpin untuk menegakkan satu keadilan dan berkeadilan juga ada dalam budaya. Pemahaman ini perlu sebab politik yang berbudaya sudah mewakili para budayawan bukan harus budayawan yang mendukung para politikus untuk mendapatkan tempat sebagai pemimpin.
Contoh kongkrit bila calon gubernur, melakukan politik yang berbudaya tidak akan berani berjanji sebab janji itu adalah hutang dan hutang harus dibayar. Para calon gubernur tidak berani menabur janji kemana-mana, termasuk kepada para budayawan bahwa akan peduli dengan kebudayaan. Kepedulian kepada kebudayaan tidak perlu diucapkan akan tetapi diwujudkan sebab setiap manusia sesungguhnya harus berbudaya apa lagi bagi pemimpin.
Harkat dan martabat seseorang itu akan memiliki nilai tinggi bila pribadi yang berbudaya, memiliki akal budi yang luhur, budiman dalam berkelakuan, luhur dengan hati nurani dalam bertindak, sopan santun dalam berbuat, rendah hati, tulus ikhlas dalam berinteraksi dengan semua manusia dan semua makhluk Tuhan. Bila ini sosok yang dimiliki calom pemimpin, gubernur agaknya tidak perlu susah-susah mendekati para budayawan untuk mendukungnya menjadi calon gubernur.
Nilai-nilai budaya yang luhur dalam diri calon gubernur itu akan membuat semua orang akan mendukungnya tanpa diminta, tanpa pendekatan dengan janji-janji angin surga. Semua akan mendukungnya, semua akan mencalonkannya tanpa reserve, termasuk para budayawan sebab nilai-nilai budaya luhur sudah ada dalam jiwa dan raga calon gubernur itu. Tidak perlu berjanji dengan bermacam janji termasuk janji akan memajukan kebudayaan dan macam-macam janji lainnya yang tidak masuk akal.
Perlu diingat, sesungguhnya kebudayaan itu tidak bisa menjadi komuniti apa pun juga, termasuk komuniti politik. Kebudayaan itu harus berada pada garda terdepan sebagai penuntun arah berpikir (akal) yang sehat dan jiwa yang tulus (budi) dalam bertindak sebagai (calon) pemimpin apa pun itu, termasuk sebagai (calon) pemimpin daerah atau gubernur.
Penulis pemerhati masalah kebudayaan dan mantan sekretaris Majelis Kebudayaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara
Kotak Hitam Sejarah vs Sastra
Jones Gultom.
PASCA digelarnya Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2012 akhir Oktober 2012 di Yogyakarta lalu, muncul diskursus menarik di kalangan sastrawan, sejarawan dan juga budayawan. Temanya memang bukan sesuatu yang baru, tetapi masih tetap menarik untuk didiskusikan. Bagaimana sejarah yang kemudian disebut Binhad Nurrohmat dan maupun Ahda Imran (Kompas 11 dan 18 November 2012) sebagai "kotak hitam", dijadikan modal karya sastra.
BWCF berhasil memancing perbincangan menarik, karena menganggap sastrawan Indonesia belum melirik sejarah sebagai amunisi kreativitasnya. Kelompok sastrawan memiliki argumentasi sendiri yang patut dipertimbangkan.
Sastra jenis ini, bukanlah sesuatu yang baru di Tanah Air. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sastra berlatarbelakang sejarah. Kehadiran genre ini sejak awal-awal perkembangan sastra di Tanah Air, ikut meramaikan perkembangan sastra. Malah sebagian di antaranya memelopori gagasan sastra pada fase berikutnya. Melongok ke belakang, sastra yang berlatarbelakang sejarah sudah diawali dengan bentuk kitab maupun babad. Contohnya Kitab Negarakertagama oleh Mpu Prapanca dan Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit awal abad ke-14. Juga ada pula karya sastra Pujangga Ronggowasito dan Jayabaya.
Selain itu ada juga Babad Serat Chentini dan Babad Tanah Jawa. Begitupula dengan catatan sejarah berbagai kerajaan Nusantara yang biasanya menuliskan dinamika kerajaan, titah raja maupun hal-hal yang berkaitan dengan dunia spiritual. Sumber-sumber tertulis ini, dianggap sebagai karya sastra, karena corak penulisannya. Di sisi lain, berdasarkan substansinya, dia adalah dokumen sejarah.
Pada era modern, novel sejarah terus bermunculan. Di antaranya; Rara Mandut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri karya Mangunwijaya. Juga karya-karya Pram, seperti Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, Jejak Langkah. Adapula karya-karya Suparto Brata yang menulis novel November Merah, Gadis Tangsi dan Surabaya Tumpah Darahku. Selain itu sejarah Bali juga dituliskan dalam Trilogi sastra, Puputan Badung, masing-masing Biyar-Biyur ring Pesisi Sanur, Kulkul Bulus dan Tyaga Wani Mati karya Nyoman Manda, menceritakan perang antara rakyat yang dipimpin rajanya melawan penjajah Belanda.
Termasuk pula novel yang berlatarbelakang sejarah Sumatera Utara. Sebagian besar novel ini mengulas tentang kehidupan di perkebunan Deli, Sumatera Timur pada masa kolonial. Di antaranya, Rubber (1931) dan Koeli (1932) karya Madelon Hermina Szekely-Lulofs. Novel ini menjadi penting, karena Lulofs tak hanya menggunakan teknik bersastra. Lebih dari itu, dia memanfaatkan data-data sejarah dalam novelnya. Tercatat novel Koelie (Kuli) menggunakan sejumlah refrensi di antaranya, Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria, karangan Karl J. Pelzer (1985), Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera buah pena Anthony Reid (1987). Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera karangan Ann Laura Stoler (1870-1979). Data-data ini kemudian dikembangkan lagi oleh Emil W Aulia dalam novelnya yang berjudul, Berjuta-juta dari Deli (2006).
Terlepas dari kebenaran data-faktanya, penulis asal Sumatera Utara turut menyumbangkan novel sejarah daerahnya, antara lain; Penakluk Ujung Dunia (1964) karya Bokor Hutasuhut. Tuanku Rao (1964 dan terbit kembali 2006) karya Onggang Parlindungan Siregar. Acek Botak (2009) dan Pincalang (2012) karya Idris Pasaribu. Minimnya novel sejarah di daerah ini, boleh jadi dikarenakan penulis di Sumatera Utara masih lebih tertarik menulis buku sejarah atau sekedar medokumentasikan peristiwa-peristiwa sejarah lokal. Nama-nama seperti Z Pangaduan Lubis, Muhammad TWHM, As Atmadi, S. Satya Dharma, WB Sijabat, Bungaran Simanjuntak termasuk cukup populer di bidang itu.
Sastrawan Sejarah
Hal klasik yang sering muncul ketika seorang sastrawan mengambil peristiwa sejarah sebagai bahan kreasinya, adalah soal keakuratan data-fakta serta peran imajinatif sastrawannya. Apalagi sumber-sumber tertulis, semisal buku-buku sejarah pada bangsa ini, masih banyak yang dipertanyakan kebenarannya. Contoh klasik adalah buku Tuanku Rao karya Onggang Parlindungan Siregar. Buku ini sempat menuai konflik, karena isinya dianggap sekedar imajinasi penulisnya yang diduga sarat kepentingan-kepentingan tertentu. Oleh sebagian besar, buku ini kemudian dikategorikan sebagai novel yang berlatarbelakang sejarah Batak pada abad 18.
Boleh jadi, karena buku ini dinilai kontradiksi dengan buku-buku sejarah Batak yang terlanjur dianggap mapan, misalnya, Ahu Sisingamangaraja karya WB Sijabat. Siapa yang paling tepat memberi penilaian akan hal itu? Menurut saya, secara akademis hal itu merupakan tanggungjawab sejarawan. Pertanggungjawaban moral ada pada sastrawannya.
Dalam sejarah, data-fakta merupakan bukti konkrit yang tak boleh dimain-mainkan. Sebagaimana sastra adalah media, seorang sastrawan boleh saja memanfaatkan data-fakta itu, tetapi untuk tujuan penulisan buku sejarah, bukan karya sastra. Selama ini latah sastrawan yang menyamakan diri sebagai pengarang, menjadikan pemakluman, bahwa ruang sastra memiliki batas yang tak terbatas. Padahal sastra itu hanyalah salah satu media komunikasi yang mestinya mengakui otoritas disiplin ilmu lainnya.
Dalam hubungannya dengan sejarah, Hans Robert Jauss menyebut, karya sastra membawa semangat zamannya. Semangat zaman ini sering memengaruhi faktualitas sejarah ketika dituangkan dalam bentuk karya sastra (novel). Inilah yang sering terjadi kemudian. Ketika sastra memasuki wilayah sejarah, seringkali menjadi bias dan tak terkendali. Pada peristiwa tertentu, dimana data-data sejarah itu masih kabur, seorang sastrawan boleh saja mengambil peran itu.
Untuk sejarah yang telah terbukti data-faktanya, karya itu menjadi semacam karya sejarah yang disastrakan, layaknya sebuah bibliografi. Celakanya, seperti disinggung di atas, banyak peristiwa sejarah yang masih diragukan termasuk oleh sejarawan sendiri yang kemudian semakin rancu manakala coba digarap seorang sastrawan.
Seperti dicontohnya Ahda Imran di Kompas 18 November 2012 lalu. Dia menukik Namun serial Gajah Mada (Langit Kresna Hariadi) dan Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit (Hermawan Aksan) yang sumber datanya masih sangat kabur. Sebagian sejarawan sendiri masih mempertanyakan kebenaran sosok Gajah Mada. Demikian juga Dyah Pitaloka yang disebut-sebut putri Kerajaan Padjajaran yang terzalimi. Dalam kasus ini, kotak hitam yang coba diterjemahkan sastrawan yang oleh Wolfgang Iser disebut "realitas ekstratekstual" (dengan tanda petik), justru merupakan tantangan tersendiri bagi sastrawan. Dalam konteks ini, dia bukan lagi menjadi pengarang, namun sejarawan.
Pengkultusan
Masyarakat Indonesia seringkali menjadi korban dari sejarah. Hal ini seringkali disebabkan karena campur tangan penguasa yang tak mau menerima takdir sejarahnya di masa lalu. Lebih dari itu, kelompok ini secara barbar biasa merubah masa lalu dengan harapan akan memperoleh keuntungan dari intervensi itu. Sebut saja sejarah 30 September 1965.
Dapat kita bayangkan bagaimana stigma buruk itu membudaya terhadap keluarga-keluarga yang diduga terlibat. Ada ketidakrelaan untuk mengakui sejarah masa lalu, karena dianggap sebagai ancaman. Segala akses dibumihanguskan. Sejarah sekedar hanya bersumber dari pengkultusan. Semakin parah, manakala masyarakat kita memang tidak bergairah membuktikan suatu fenomena. Alhasil masyarakat tidak terbiasa menggugat. Kemapanan pola pikir terjadi dimana-mana. Daya kritik tidak tumbuh. Sejarah pun menjadi kotam hitam yang tak pernah dibuka. Dia layaknya mirip harta karun dalam mimpi masyarakat.
Dalam konteks ini, terlepas dari pesanan pasar seperti yang ditengarai Ahda Imran, apa yang dilakukan Langit Kresna Hariadi dan Hermawan Aksan, merupakan pukulan bagi sejarawan sekaligus tantangan bagi sastrawan untuk memasuki wilayah lain dalam proses kreativitasnya, dengan tidak terjebak sekedar eforia semata.
Penulis penyair dan esais
Rabu, 06 Juni 2012
Kritik Kemauan dan Aksi
Lea Willsen
Bantu mengeritik karya? Hmm... Tidak, tidak..., saya tak pernah menyenangi peran sebagai seorang kritikus. Beberapa penulis pemula pernah meng-inbox untuk menanyakan kesediaan tersebut. Sesuai etika kepenulisan, tak perlulah menyebut siapa-siapa saja nama mereka.
Jelasnya, biasanya penulis tidak menyanggupi mereka. Tentu ini bukan masalah pelit ilmu, egois, atau sombong. Justru karena menyadari kita sama-sama pelajar, rasanya tak perlulah kritik mengeritik. Apa lagi, saya juga bukan seorang redaktur/editor. Tentunya terhadap media mana pun yang nantinya akan dituju, telah ada redaktur/editor profesional yang mengambil peran itu.
Bagi saya secara pribadi, kritik juga tidak selamanya mutlak. Ada kritik yang memang berdasarkan logika, ada lagi kritik yang ternyata hanya opini dari si pemberi kritik -namun kurang disadarinya-kemudian dilontarkan sebagai ‘kritik’. Contoh, terhadap gaya tulisan, tentu beda penulis beda juga cara penyampaiannya. Bahkan hingga seorang motivator handal pun, tetap ada segelintir orang yang tak dapat menerima apa yang disampaikannya. Kalau sudah begitu, lantas kita menyalahkan sang motivator? Tentu tidak.
Beda cerita bila ada yang tanya; Bagaimana mencari ide? Masuk akalkah anak usia 6 tahun jatuh cinta? Tanda baca yang benar seperti apa? Sebisa mungkin saya akan memberi jawaban terbaik, berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Ini berbeda dengan kritik, tetapi lebih pada memberi solusi, masukan atau katakanlah diskusi. Penulis memaklumi hal ini, mengingat penulis dulunya juga sering bertanya-tanya dengan seorang penulis lain.
Ketika kita belum pernah mendatangi sebuah negara, tentu kita tak tahu banyak tentang negara itu dan kadang kita berharap akan ada sedikit bocoran dari orang lain. Seorang penulis tentunya harus mandiri. Setelah mendapat sedikit bocoran, untuk berikutnya ‘berjalanlah’ sendiri, tanpa harus melibatkan orang lain. Perkembangan seorang penulis utamanya ditentukan oleh diri sendiri dalam menciptakan sebuah karya.
Pentingkah Kritik?
Bila bertanya pentingkah sebuah kritik? Sebagian dari kita pasti akan menjawab kritik itu penting, tak perduli jawaban itu sebenarnya melawan hati atau tidak. Kalau berkata terlalu jujur, oh, takutnya dicap sebagai orang berhati kecil yang tak bisa menerima kritik. Sebenarnya tak perlu memusingkan kritik itu penting atau tidak. Lebih penting adalah kamauan memperdalam ilmu serta aksi nyata untuk menciptakan karya.
Cobalah bayangkan, ketika seseorang terus-menerus menerima kritik, sementara fondasi kemauannya kurang kuat, bukannya maju, tapi justru putus asa dan aksi pun turut dihentikan! Tanpa kemauan dan aksi, seberapa bermanfaat pun sebuah kritik tetap saja bohong.
Selain kritik kalah penting dari kemauan dan aksi, tak jarang kritik justru menyebabkan terjadinya adu argumentasi. Seperti yang pernah diceritakan oleh editor Majalah Story pada suatu kesempatan, dia pernah diminta seseorang untuk menjadi pengeritik. Setelah dikritik, bukannya menghargai kritik itu, justru mereka menjadi terlibat adu argumentasi. Melelahkan tentunya.
Ketika seseorang meminta karyanya dikritik, kita tak menjamin orang tersebut dapat menerimanya atau tidak. Daripada salah-salah, terjadi adu argumentasi lagi, lebih baik tidak menyanggupi permintaan itu. Pada dasarnya semua kritikan ada efek buruknya, sekalipun dengan tujuan baik dan mungkin bermanfaat.
Tahun pertama menulis, sering juga terbersit di pikiran; Kira-kira bagaimana kualitas karya saya di mata pembaca? Penulis pernah memberanikan diri untuk meminta batuan seorang penulis untuk menilai karya-karya itu. Itulah sebuah tindakan konyol. Karena terlalu ramah, saya mungkin segan menolak. Beberapa karya yang telah pernah dimuat pun dikirim via email untuk kemudian dinilai.
Satu minggu berlalu, satu bulan, dua bulan, hingga berbulan-bulan, kok belum ada jawaban? Saya bukan melupakan karya itu, tetapi setiap sempat ngobrol, dia seolah menjadi serba salah. Berulang kali dia mengatakan maaf, karena dia belum sempat membacanya. Dia akan mencari waktu membacanya.
Setelah dipikir-pikir, saya mengambil satu kesimpulan, kita tak perlu meminta seseorang untuk menilai karya kita. Kalaupun karya kita buruk, tak semua orang dapat menjadi ‘orang jahat’ untuk ‘membantai’ karya itu. Bisa jadi orang itu menghargai kita, sehingga hal tersebut menjadi sebuah tekanan tersendiri untuknya.
Kalau benar-benar ingin berkembang, fokus saja dengan kemauan dan aksi. Seiring waktu akan semakin baik pastinya, dengan catatan harus bersungguh-sungguh. Sama halnya juga dengan jam terbang para pilot. Tak perlu terlalu memusingkan penilaian orang lain yang kemungkinan berbeda-beda satu sama lain.
Menanggapi Kritik
Tak masalah ketika kita siap dikritik, tetapi tak ada yang bersedia mengeritik. Bagaimana ketika kita tak siap dikritik tetapi justru dikritik? Jangan gentar! Berkecimpung di dunia sastra, tak pernah luput dari hal demikian. Kritik adalah obat, kalimat yang pernah digunakan oleh Presiden. Perlu diingat, kita harus memfilter segala kritik yang datang kepada kita secara cermat, karena beberapa kritik sebenarnya adalah kedok dari aksi menjatuhkan atau mengangkat derajat si pemberi kritik itu. Kita hanya perlu menggunakan dua opsi; menerima bila benar, dan mengabaikan bila tidak benar. Kita tak perlu membantah, jika tak ingin dianggap -seperti yang dikatan sebelumnya- orang berhati kecil yang tak bisa menerima kritik.
dinihari, akhir Mei 2012
Perempuan Sumbi Lelaki Keith
Sumardi di Petumbak Keith di Samosir
Mihar Harahap.
REBANA edisi April 2012 siaran minggu Analisa, menyuguhkan empat cerpen. Lelaki yang Dulu Kupanggil Paman karya Eka Handayani Ginting, Romlan karya Ester Pandiangan, Sumbi pada Suatu Hari, karya M. Raudah Jambak dan Amok karya S. Satya Darma.
Dengan kejelian memilih persoalan dan gaya menceritakan, maka masing-masing pecerpen berhasil menggugah rasa pembaca untuk turut merenungkan permasalahan. Bila mungkin dapat menarik jalan keluar dan manfaat dari permasalahan yang ada.
Janji Lelaki itu Isapan Jempol
Memang bukan Eka Handayani Ginting namanya, kalau tidak memilih persoalan cerpen yang sensitif dengan gaya bercerita yang atraktif, walau terkadang agak emotif dan menjadi kurang tertib.Begitupun, cerpen kali ini menjadi menarik, karena janji oknum setelah menjabat (apakah sebagai Kepala Daerah Kabupaten/Kota ataukah Wakil Rakyat) sering dikeluhkan masyarakat bagai isapan jempol belaka. Entah apa dalam pikiran para pejabat, sehingga dia tak sanggup memenuhi janjinya ketika sebagai kandidat.
Contohnya, Lelaki yang Dulu Kupanggil Paman, sebut Eka. Ada 2 persoalan yang dikemukakannya. Pertama, dulu, sekitar lima tahun lalu, ayahku merupakan tim sukses.
"Bersama ayahku kalian mulai menyusun buah program yang akan mengantarkanmu menuju sebuah kursi yang kalian sebut ‘masa depan’. Siang-malam kau dan ayah mengumpulkan rupiah, mencari kolega, mengadakan pertemuan untuk menyatukan pendukungmu, kerja keras itu benar-benar menjadikanmu tokoh sentral…" (kutipan cerpen). Sekarang, ayahku kau campakkan.
"Kau sedang jaya-jayanya ketika ayahku jatuh kelelahan di kantormu. Kau menyuruh pengawal-pengawal bodoh itu menyingkirkannya. Satu kalipun kau belum pernah menjenguknya sampai dia sadar dari koma dan sekarang terbujur seperti mayat hidup". "Ibuku, yang dulu kau panggil kakak, mendatangimu berkali-kali dan kau usir berkali-kali. Dia menangis berhari-hari, hingga suatu pagi dia menabrak dinding rumah karena kehilangan cahaya mata." (kutipan cerpen).
Lebih khusus, sayangnya pecerpen tidak menjelaskan perjanjian secara konkrit, semacam surat berisikan poin balas jasa misalnya. Tidak juga menjelaskan, mengapa sang ayah terusir dari kantor (walau karena sakit) tanpa ada perhitungannya secara normatif. Bahkan secara kekeluargaan, bagaimana bisa terjadi hubungan menjadi bertolakbelakang setelah ayah jatuh sakit. Bila hal-hal semacam ini diungkap dalam cerpen dan ternyata dipungkiri, maka setidaknya dapat digugat haknya secara hukum dan kemanusiaan.
Persoalan kedua, pembohongan publik, terutama kepada masyarakat pemilih dan simpatisan yang justru memenangkannya. Kini, terdengar suara publik: "… kami kira janji janji itu benar, kami bisa bersekolah dengan murah, makan tiga kali sehari, menjadi pesakitan tanpa takut mati…" (kutipan cerpen). Barangkali saja ada perubahan, tetapi karena tidak terpublikasi atau malah tidak kentara dirasakan masyarakat, maka ungkapan rakyat tidak lapar, sekolah murah dan jaminan kesehatan menjadi isapan jempol.
Terbukti, berita di koran atau televisi, menunjukkan pembohongan di mana para pejabat telah menukar mobil mewahnya dengan hak-hak orang lain."…hak anak-anak yang menggelandang. Hak para guru honorer yang air ludahnya hampir mengering serta uang yang seharusnya menjadi jatah bayi-bayi kurang asam flot…" (kutipan cerpen). Duh, betapa memilukan andai benar mobil mewah para pejabat dibeli dengan uang yang semestinya menjadi hak anak gelandangan, guru honor dan bayi kepala besar.
Barangkali cerpen monolog Eka Handayani Ginting ini memerlukan data akurat dan ilustrasi yang lebih spesifik, sehingga dapat memperkuat isi cerita bahkan siap untuk dipertanggungjawabkan bila diperlukan.Sebab, meskipun cerpen sekedar cerita, bukan berarti tempat mempropagandai pembaca sesuka hati, apalagi meledak-ledak tanpa bukti, melainkan wahana untuk melahirkan gagasan yang didukung fakta, agar dapat diterima oleh akal dan rasa. Justru disinilah manfaat membaca cerpen itu.
Sumardi Tewaskan Preman Kebon
Sebagaimana cerpen-cerpen sebelumnya, ibarat memikat burung, pecerpen amat lihai menabur umpan. Meskipun umpan biasa-biasa saja, malah hasil olahan sendiri, tapi lantaran disajikan dengan hangat bahkan tahu menempatkan, maka burung-burung pun dapat terpikat. Seperti cerpen kali ini, Amok, pecerpen hanya ceritakan perkelahian yang berujung kematian. Perkelahian itu sendiri terjadi karena ketidakjelasan per-soalan yang berakibat rakyat kecil menjadi korban dari ketidakadilan.
Harus diakui, sejak reformasi atau setelah PTP IX dilikuidasi ke PTP II, lahan tidurnya banyak digarap masyarakat setempat, bahkan ada pula yang dibeli orang berduit. Anehnya, bila digarap masyarakat pasti digusur PTP (lengkap pakai alat, aparat dan centeng), sedangkan bila dibeli orang berduit pasti aman karena dipagar dan dijaga. Adapun masyarakat yang tinggal di lokasi itu dipindahkan setelah ganti rugi. Contohnya, kata S. Satya Darma di perkebunan Sampali dan Helvetia.
Di perkebunan Patumbak tanaman palawija masyarakat, termasuk ladang jagung Sumardi, telah rata dengan tanah. Padahal lahan dekat rumah yang digarap tahunan dengan keringat dan modal itu, hanya sekedar mencukupi kebutuhan hidup anak-istri. Paling menyakitkan, di lokasi itu akan dibangun fasilitas umum. Itu artinya, orang berduit telah membeli lahan jagung Sumardi, sementara itu tak ada kompromi atau ganti rugi atas jasanya dan bapaknya sebagai kuli dan centeng perkebunan. Pantaslah amarahnya memuncak.
"Maafkan aku, Bapak. Dulu golok ini kau guna-kan untuk menebas leher PKI di Pagar Merbau. Kini ijinkan aku menggunakannya untuk menebas batang leher preman kebon biadab itu" (kutipan cerpen). Golok pusaka zaman Belanda (warisan bapaknya, Kasandikrimo) bila digunakan, bak singa terluka, garang dan buas. Benar saja, Sumardi tanpa pikir panjang lagi, tak menghirau anak istri lagi. Dia maju, membabat plang pengumuman dan berseteru dengan preman yang memegang senapan.
"...Dengan hanya satu lompatan dia menerkam sipembawa senapan dan menghantamkam goloknya tepat ke leher sipembawa senapan. Lelaki pembawa senapan itu untuk sekejap kejang-kejang lalu diam tak bergerak Mati" (kutipan cerpen). Itu nyawa kedua. Tak cuma itu, dia bakar pondok persinggahan preman bahkan buldozer yang meratakan ladang jagungnya. Orang-orang hilir-mudik, kaget. Lek Mardi begaduh! Pakde mem-bunuh! Gempar. Sumardi merasa lega, amat lega. Ah, entahlah.
Rupanya, rasa kelegaan itulah yang mengantarkan langkah tegapnya ke kantor polisi tanpa gentar, siap mengaku perbuatan dan tentu rela menanggung resikonya. Apakah anak, istri dan keluarga juga siap menerima keadaan itu? Barangkali orang-orang menga-takan dia pahlawan, karena berani membantai preman seorang diri. Bagi anak, istri dan keluarga, mungkin dialah pengecut yang ciut menghadapi kenyataan hidup. Dia terbawa rendong ankara murka yang membuat pikirannya gelap gulita.
Semestinya, pemerintah segera menangani persoalan ini secara adil (antara atasan dan bawahan) pada perusahaan besar ini. Sebab, masalah lahan tidur di masayarakat kelas bawah (dalam/luar perusahaan) sangat rentan dengan penipuan, tindak kekerasan bahkan kematian. Hindarkan kesan, gara-gara reformasi atau likuidasi (PTP IX ke PTP II) justru merugikan karyawan PTP IX itu sendiri. PTP II pun harus dapat memanfaatkan lahan tidur PTP IX untuk kepentingan karyawan dan bukan konglomerat.
Perempuan Sumbi Lelaki Keith
Perempuan litak itu bernama Sumbi. Kasihan, dia korban budak nafsu lelaki liar. Sebenarnya, Sumbi dan lelaki liar itu adalah orang-orang yang terjebak dalam hingar-bingar keindividualan dan kekerasan kehidupan sosial masyarakat kota. Atas nama cinta, dia tinggalkan mewah ayah-ibu untuk kumpul kebo dengan kekasih. Begitu anak lahir, kekasih pun mungkir. Tanpa merasa salah, lelaki liar itu pindah ke wanita sebelah. Tinggallah Sumbi dengan bayi mungilnya yang sakit-sakitan. Tak ada kerja lain, selain menjadi mama (manusia malam).
"Malam pekat... Perempuan itu masih bersandar di tiang traffic light. Suara orang mengaji dari menara mesjid, masih terdengar samar ditingkahi laju kenderaan satu-satu" (kutipan cerpen). Tatkala itu, sekelompok lelaki liar, brutal, malah memperkosanya. Tak ada pembelaan, kecuali lelaki liar berikut membawanya ke satu kamar hotel untuk menjadi santapan lelaki liar lain lagi. Ternyata, lelaki liar lain separuh baya itu adalah ayahnya sendiri.
Tragis memang.Gara-gara cinta berbulu domba lelaki liar (tak sepadan, usil, merugikan) hidup perempuan litak dan anak haram itu menjadi terlunta-lunta. Menurut kita, kefanaan hidup Sumbi, selain akibat permainan cinta dan fakta sosial masyarakat kota, juga karena kekeliruan menafsirkan makna hidup. Dia melupakan Tuhannya. Sayangnya, M. Raudah Jambak hanya menceritakan tokohnya saja dan hanya sedikit memberi ruang pada tokoh itu untuk mengekpresikan dirinya secara lebih mendalam.
Teknik ungkap mimpi (kenangan atau khayalan) dalam penceritaan sudah biasa dilakukan penulis, namun bukan berarti sudah kuno atau ketinggalan zaman. Jauh lebih penting, apa dan bagaimana cerita itu bisa masuk ke dalam teknik tersebut. Sampai sejauhmana kekuatan atau kelemahan hubungan antar bagian cerita bila menggunakan teknik ini. Hanya secara kebetulan saja, hubungan bagian itu dalam cerpen Ester Pandingan kali ini, sedikit menunjukkan kelemahan.
Begitupun, kita dapat menangkap apa sebenarya yang ingin dicapai. Menyindir diri dan orang-orang yang memang acuh dengan potensi alam daerah sendiri, baik latar belakang, nilai-nilai budaya, maupun menjadi rujukan pariwisata. Misalnya Maria, meski katanya: "Jangan salahkan aku Keith… aku hanya tahu Tuk-Tuk" Rupanya disindir Keith, Maria (orang Batak) hanya tinggal di Medan tak tahu seluk-beluk Samosir, sementara dia (orang Australia) menetap di Australia sangat mengenal detilnya Samosir.
Ada pelajaran yang menarik dari Keith, kontroversi, membuat kita telak. Cinta dan kekaguman pada keunikan alam merupakan harga tak ternilai. Dia susuri liku ujung dunia, meski tanpa saudara. Sebaliknya kita, menganggap semua itu tak bermakna, lalu ramai-ramai meninggalkan dan melupakannya. Kitapun bangga menjadi masyarakat kota, sibuk dan bahagia. Padahal di kota kitapun tak berarti apa-apa. Sayangnya, pecerpen kurang menggali nilai keunikan pasir putih, air terjun dan desa tinggi sebagai dasar cerita.
Penulis; Kritikus Sastra dan Dekan FKIP-UISU Medan)
Selasa, 17 April 2012
Kemameleda, Karya Wahyu Wiji Astuti
Mihar Harahap.
Terus terang, saya mengenal karya Wahyu Wiji Astuti (disingkat WWA) baru ini. Tatkala, komunitas Omong-Omong Sastra membuat Buku Puisi (antologi bersama) dan Buku Cerpen (antologi bersama). Kebetulan saya dipercaya menjadi editor khusus menulis Kata Pengantar kedua buku itu. Dari puluhan penyair, pecerpen dan karyanya, terbacalah nama WWA yang mengirimkan puisi dan cerpennya. Dalam Kata Pengantar itu, saya katakan, WWA adalah penyair dan cerpenis masa depan Indonesia.
Tak lama berselang-dari saya menyelesaikan Kata Pengantar kedua buku Omong-Omong Sastra itu-bahkan tak ada selang, tiba-tiba WWA menghubungi saya, meminta dan lalu menyerahkan bukunya untuk dibicarakan. Sebuah buku antologi cerpen berjudul "Ketika Malam Merayap Lebih Dalam" (disingkat Kemameleda). Cetak perdana tahun 2012 oleh penerbit Tiga Maha Subang Jawa barat. Sayang, tak ada kata pengantar dari penerbit apalagi editor, kecuali Sekapur Sirih dari penulis sendiri. Menurut penulis (dalam sekapur sirih), Kemameleda ini, berfungsi 1). sebagai 'saksi sejarah' perjalanan hidup pribadi dan 2). merupakan 'saksi perjuangan' dalam meniti karir kepenulisan. Sungguh, saya merasa bangga karena penyair sekaligus cerpenis masa depan Indonesia ini, telah berani bersaksi. Saya sedikit kecewa karena sekapur sirih kurang merahnya atau tak menjelaskan proses kreatif, konsep kepengarangan dan unsur lain yang mendudukkan eksistensinya. Cinta Dalam Bayang Kematian Kemameleda, mengambil 23 cerpen yang ditulis dalam 3 tahun (2009-2011). Tahun 2009 ada 8 cerpen, Ketika Malam Merayap Lebih Dalam, Cinta dan persabatan, Lara, Pesan Tengah Malam, Rindu, ruwet, Sehelai Saputangan Hitam dan Untaian Mutiara Yang Lepas. Tahun 2010 ada 8 cerpen, Membaca Buku Kemameleda Karya Wahyu Wiji Astuti, Jejak sahabat yang Berkarat, Ketika Fajar beringsut Malu, Ketukan Ujung Malam, Malam di Penghujung Senja, Qiyamul-lail, Rahasia Hujan, Rumah Awan dan Sepeda Motor vs Teddy Bear. Tahun 2011 termassuk tahun 2010-2011 ada 7 cerpen, Difined, Helena, Humai rah, Merakit Seperangkat Cinta, Kado Untuk lelakiku, Karya Kematian dan Pesan Diantara Gerbong Kereta. Melihat fakta ini saya menduga, kalau WWA telah memiliki disiplin menulis / mengarang antara 1-2 bulan sekali menghasilkan 1 cerpen. Hemat saya, cepat atau lambat menghasilkan cerpen tak masalah, yang penting disiplin menulis telah dimiliki dan itu merupakan awal yang baik dalam mempertahankan eksistensi. Dari 23 cerpen, terhimpun 11 cerpen yang bertema, subtema atau curahan perasaan tentang cinta; Cinta dan Persahabatan, Lara, pesan Tengah Malam, Rindu, Sehelai SaputanganHitam, Untaian Mutiara yang Lepas, Defined, Merakit Seperangkat Cinta, Helena, Kado Untuk lelakiku dan Pesan Di Antara Gerbong Kereta. Sebelas cerpen ditulis tahun 2009 dan 2011, tidak termasuk tahun 2010. Mengapa? Hanya pengaranglah yang tahu. Begitupun terkadang inspirasi, intuisi dan sensitivitas datangnya tak terduga. Dapatkah kita menulis cinta? Masihkah disebut karya sastra? Kenapa tidak! Sebab cinta antar manusia pun adalah wilayah kepengarangan, malah justru paling sensitif. Lagi pula keberhasilan cerpen, bukan tergantung berat-ringan atau apakah tema / subtema itu, melainkan sangat tergantung pada ada dan bagaimana cinta itu diungkapkan. Jadi, meski 50 persen buku ini berisi cinta dengan segala persoalan dan akibatnya, akan tetapi tetap merupakan karya sastra. Apakah karya sastra pop (umum, mudah dan ringan)? Memang, cinta yang ditampilkan melulu keluhan jiwa. Betapa tidak, hanya cerpen Cinta dan Persahabatan, Cinta, Helena dan Kado Untuk lelakiku, tokohnya masih terlihat stabil. Setelah itu, cinta (kontra dijodohkan bahkan lebih dominan diputuskan) membuat tokoh tidak stabil lagi. Jiwanya terguncang, lalu jatuh sakit, lalu mati. Pasrah. Atau tokohnya menjadi sakit hati, lalu marah, lalu dendam, lalu terbunuh, lalu mati. Bukan pasrah, melainkan perlawanan pasif, tetapi itupun juga tak berarti. Contoh cerpen cinta yang dianggap berhasil (dan menunjukkan ketakberdayaan bahkan kematian) adalah Lara (berangka tahun 2009). Kekuatan cerpen ini terletak pada plot, narasi pelukisan karakter pelaku dan bahasa yang digunakan. Perasaan memilukan terekspresi di hadapan pembaca. Kelemahannya, terletak pada detil cerita (alasan putus cinta, jenis penyakit dan akibat yang ditimbulkan), terlebih-lebih pemasungan karakter pelaku serta pemakaian akhiran 'nya' yang berlebihan. Menurut catatan, ada 7 cerpen yang mengekploitir ketakberdayaan dan 6 cerpen yang mengundang kematian. Ada apa dengan ketakberdayaan dan kematian dalam cerpen WWA? Apakah karena konsekuensi logis dari kualitas cinta yang mendasar di luluk hati? Ataukah karena ingin menampilkan sosok manusia, terutama perempuan, yang pesimistis dalam kehidupan bercinta? Atau karena penulis secara pribadi pernah gagal sampai merasa sakit hati pada setiap laki-laki? Pasti WWA yang bisa menjawab ini. Kemanusiaan Dalam Desing Peluru Selain menguak cinta, 12 cerpen lagi bertema, subtema atau curahan pikiran campur sari, persoalan keluarga dan kehidupan sosial. Meminati kerumahtanggaan, ada 9 cerpen yang disajikan penulis, antara lain terkait kemiskinan; Ketika Malam Merayap Lebih Dalam, Ketika Fajar beringsut Malu, Rumah Awan. Lagi-lagi tentang kematian; Jejak sabahat yang Berkarat, Karya Kematian dan hal kesabaran, anak, hutang dan penipuan ruwet, Qiyamullail, Rahasia Hujan dan Sepeda Motor vs Teddy Bear. Menyoroti kehidupan sosial, disajikan penulis 3 cerpen yakni Ketukan Ujung Malam, Malam di Penghujung Senja dan Humairah. Berbicara kemiskinan, ada 'aku', seorang 'mama' (manusia malam) yang mampu menghidupi diri dan 5 bintang kejora walau bukan anaknya. Untuk-'ku' 'mama' bukan pekerjaan haram, apalagi bak sampah, melainkan pahlawan karena berjuang menghidupi bintang. Jadilah, bintang kejora sebagai alasan pembenaran untuk menghalalkan yang haram bahkan disebut pahlawan. Tampaknya, tidak hanya cerita Ketika Malam Merayap Lebih Dalam pada saja penulis menafikan logika dan etika dalam menyelesaikan persoalan cinta, kemiskinan, juga persoalan lain seperti kematian yang banyak diceritakan. Bahkan dalam cerpen Karya Kematian, tiba-tiba pelakunya mengalami kehilangan dan kematian. Satu hal, meski cerita mengalir terus dan mungkin tak dapat dibendung, namun keseimbangan logika dan etika dibutuhkan agar efek cerpen lebih realistis dan moralistik. Meskipun begitu, cerpen Ketika Fajar beringsut Malu, (berangka tahun 2010) dianggap berhasil, walau tak menjadi judul antologi ini . Kekuatannya (untuk unsur plot, pelukisan karakter pelaku dan bahasa) menunjukkan peningkatan, bila dibandingkan dengan cerpen Lara. Begitu pula dengan kelemahannya (untuk unsur detil cerita, pemasungan karakter dan pemakaian akhiran 'nya') mulai diperhalus / hilang. Karakter tiap pelaku (Suci, ibu Ali, Ali) mulai terlihat berdiri sendiri tanpa harus dipicu penulis. Dalam penelitian saya, aspek penokohan ini mengalami perkembangan. Kalau pada cerpen Lara (dan kebanyakan cerpen lainnya) tokoh cerita masih seputar diri dan jajaran, maka pada cerpen Ketika Fajar beringsut Malu, tokoh cerita berkembang ke orang di luar diri dan jajaran. Karena itu, aspek penceritaan pun makin meluas. Tidak lagi soal percintaan dan kematian, tetapi sudah meluas ke soal kemiskinan dan sentuhan kemanusiaan, meskipun masih dalam lingkungan sosial kehidupan penulis. Bagaimana pertanyaan logika dan etika? Pada cerpen Ketika Fajar beringsut Malu terasa mulai tertib. Kegigihan penulis memperjuangkan sub estetika demi kepentingan cerita, rupanya mendapat perimbangan juga dengan masuknya persoalan logika dan etika. Tuntutan realistis dan moralistik dalam cerpen tetap menjadi perhatian. Jelaslah kehadiran Suci, ibu Ali dan Ali dalam cerpen itu tidak dipaksakan, melainkan utuh sebagai tokoh (antara mengasihi dan dikasihi) dalam lingkungan sosialnya. Pada cerpen Humairah (berangka tahun 2011) unsur kemanusiaan justru mengalahkan ancaman keamanan diri. Memang, terkadang profesi menantang sikap dan keberanian seseorang. Tokoh 'aku'dalam cerpen itu telah membuktikannya. Dia berani ada di tengah-tengah konflik senjata (Israel-Palestina), beri perlindungan sekaligus membawa pulang Ummu Hanie ke Indonesia, menikahinya, lahirlah Humairah (kini berusia 4 tahun) dan dia berani kembali ke pergolakan Palestina-Israel dalan tugas yang sama. Harus diakui, terlihat dalam cerpen Humairah ini, kekuatan itu semakin lama semakin meningkat. Termasuk ide penceritaan pun semakin meluas dan bahkan amat spesifik.Bayangkan, di tengah-tengah gejolak perang, antara hidup (membunuh) dan mati (dibunuh), tokoh aku sebagai reporter tidak hanya melakukan tugas meliput berita, tapi dapat menyempatkan diri untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Pengarang menghendaki, kemanusiaan itu merupakan panggilan hati nurani. Terlepas dari relung kemanusiaan, ada hal yang menjadi perhatian saya. Pertama, ketika Humairah tertidur, ayahnya masuk ke kamar. Setelah bangun, terjadi dialog. Kata Humairah: "Ayah, Ira sudah pandai menulis ..." Seakan Ira baru saja bertemu ayahnya dan memberitahukan kepandaiannya. Padahal mereka bertemu sejak 4 tahun lalu. Kedua, pada dialog-dialog berikutnya, terlihat Ira (Humairah) seperti orang dewasa kecil. Dialog orang dewasa yang cerdas dan komitmen. Padahal Ira baru berusia 4 tahun. Kesimpulan saya, satu, buku Kemameleda, merupakan saksi sejarah / saksi perjuangan WWA sebagai cerpenis masa depan Indonesia. Dua, banyak cerpen tentang cinta manusia, di samping masalah keluarga dan lingkungan sosial. Semuanya menjurus pada kegagalan cinta, kematian, kemiskinan dan kemanusiaan. Tiga, tiap cerpen memiliki kekuatan (plot, narasi pelaku, bahasa) dan kelemahan (detil, pemasungan tokoh, pemakaian kata). Kekuatan estetika harus diimbangi unsur logika, etika, hukum, agama, dan sebagainya. Empat, saya bangga kalau WWA punya antologi. Apalagi kalau isinya bermutu. Saya suka baca cerpen Lara, Ketika Fajar beringsut Malu dan Humairah.
Penulis; Kritikus Sastra dan Dekan FKIP-UISU Medan.
MEMBACA SEKILAS JEJAK PETA KEPENYAIRAN WANITA SUMATERA UTARA
S. RATMAN Suras
Dibanding dengan pria, wanita lebih sedikit yang terjun kedunia sastra, apalagi puisi. Selama satu setengah dasawarsa ini saya melihat perkembangan sastra Sumatera-Utara banyak didominasi kaum pria. Memang satu dua muncul kepermukaan, tapi mungkin karena sesuatu mereka berguguran di tengah jalan. Sesuatu itu bisa
jadi, karena keluarga, cita-cita, karir, dan pekerjaan.
Dalam wacana ini saya tidak akan menyeret kita untuk berdebat tentang puisi atau penyair wanita / pria. Saya hanya mengingatkan kita bersama tentang semangat emansipasi wanita kita lewat sastra. Apalagi kini bulan april sudah mencapai pertengahan.
Perkembangan sastra Indonesia pun sudah mengabarkan kepada kita tentang miskinya penyair wanita. Hanya berapa yang bisa kita catat. Sebut saja, Isma Safitri, Rayani Sriwidodo, Toeti Heraty Noerhadi, Popy Hutagalung, Rita Oetoro, Diah Hadaning, Omi Intan Naomi, Dorothea Rosa Herliany, Azwina Aziz Miraza, Medy Lukito, Ulfathin Ch., Abidah el Khalieqy, dan Helvi Tiana Rosa. Dari nama-nama tersebut di atas hanya beberapa saja yang masih aktif sampai sekarang puisi-puisinya bisa kita nikmati.
Untuk peta kepenyairan wanita Sumatera-Utara sendiri sepertinya nyaris sama, sedikit sekali wanita yang menghiasi blantika sastra khususnya puisi. Dulu kita kenal nama-nama seperti, Murni Aryanti Pakpahan, Laswiayati Pisca, Susi Aga Putra, lalu ada Rosliani, Jerni Martina erita Napitupulu, Rosmaeli Siregar. Ada Aishah Basar, Nur Hilmi Daulay dan Sumiati. Sekilas nama-nama itu mungkin sudah menemukan dunia lain yang dianggap lebih menjanjikan dari dunia kepenyairan.
Memang ada kabar yang menyegarkan bahwa ada regenerasi di kancah perpuisian wanita di sini. Fenomena ini muncul pasca reformasi, banyak bermunculan kelompok-kelompok sastra dari sunia kampus. Nyaris setiap minggu kita bisa membaca puisi-puisi karya wanita kita di media massa cetak. Buku antologi puisi baik tunggal maupun bersama diterbitkan.
Dari hitungan tahun 1995 sampai kini ada beberapa antologi yang bisa dicatat. Antologi puisi Rentang (1995) penerbit Studio Seni Indonesia mengambil 10 puisi terbaik Sumatera Utara, dua diantaranya adalah wanita yaitu, Jerni Martina erita Napitupulu dan Rosmaeli Siregar. Antologi Bumi (1996) penerbit Studio Seni Indonesia bekerja sama dengan Forum Kreasi Sastra Medan mengambil puisi-puisi 18 penyair Sumatera Utara. Hanya ada dua penyair wanita yang mewakili di dalamnya, yaitu Rosliani dan Jerni Martina erita Napitupulu. Lalu antologi serial Tengok (2000) Arisan Sastra Medan (Arsas) yang konon hanya sampai 4 dari 5 rencana terbit. Hanya satu penyair wanita yaitu Aishah Basar. Untuk antologi puisi tunggal hanya dua buku yang sempat saya punya, yaitu Kemuruh Nur Hilmi Daulay Penerbit Laboratorium Medan (2007) dan Benih Rindu karya Sri Yuliani diterbitkan oleh Pustaka Pemuda Medan (2011).
Walau nampak samar-samar namun perjuangan penyair wanita Sumatera Utara masih bisa kita baca. Mereka berjuang tidak hanya berjuang untuk menyuarakan kaumnya, tapi juga secara umum berusaha memotret dan mengkritisi kondisi sosial di sekitarnya.
Aku Tetap Menunggumu
.................................
walau entah berapa kali sudah
bulan purnama hadir
dikala padi kembali berkali-kali di panen
kapalpun sudah berlayar entah beberapa negeri
dan rambut hitamku jadi kelabu
tapi harapku padamu tak pernah luluh dan beku
...............................
Penjelasan wanita setia dan patuh terhadap kekasihnya dituangkan oleh Rosmaeli Siregar dalam puisinya Aku Tetap Menunggumu (Rentang , 1995). Sedang Aishas Basar dalam 12 puisinya yang dimuat dalam tenggok 3 banyak mengangkat tema-tema "Pemberontak" yang disampaikan dengan sangat halus namun nyelekit. Kita baca puisi pendeknya
Yang Tak Sampai
Selembar amarah
tersobek sia-sia
tak siapa membaca
Puisi ini mengandung majas personifikasi berusaha melukiskan kondisi rasa ngilu hati melihat situasi yang sering terjadi di masyarakat kita. Contoh paling baru adalah demo besar-besaran mahasiswa dan rakyat umum tentang harga BBM, toh tetap naik juga walau ditunda. Jadi terasa sia-sia saja apa yang dilakukan para pendemo. Disamping melukiskan pemberontakan kaumnya yang tertindas, Aishah juga menulis puisi balada yang memelas kepada Sri. Rasa putus asa dan nasib yang menimpa kaum wanita hanya bisa dilakoni dengan kata pasrah. Puisi-puisi pendek Aishah terasa padat dengan pilihan diksi yang kuat menciptakan renungan kehidupan yang dalam.
Pencarian jati diri sebagai manusia juga banyak diangkat ke puisi Nur Hilmi Daulay dalam antologi tunggalnya Gemuruh: Pada Pemilik Teduh. Ia sadar bahwa manusia Cuma bisa berencana, Allah SWT yang menentukan segalanya.
........................
padahal sudah membaur lafal namamu menyatu riuhku
sudah kujeritkan cintaku hatiku penuh suara hanya padamu
dan kornea ini tak kenal wajah, tak kenal arah
tangis telah jelma lentera
............................
Nur Hilmi Daulay, dalam antologi ini menulis 68 puisi dengan beragam tema. Lain lagi Benih Rindunya Sri Yuliani, penyair wanita yang satu ini banyak mengangkat tema cinta, rindu, mimpi, dan benci. Cinta tidak hanya percintaan kaum remaja namun cinta yang lebih luas jangkauannya. Kita terasa dihanyutkan alam fitrah manusia.
Ada rindu, sunyi, sepi dan kehampaan. Namun ada juga harapan dan impian karena arus global pada era yang canggih ini alam dieksploitasi sedemikian kejam oleh manusia. Sri merasa miris saat melihat kondisi yang demikian. Cinta kepada ibundanya juga berkali-kali diangkat dalam puisi-puisinya. Salah satunya adalah Bunda.
...............................
menjadi tak sempurna aku
ketika bercermin
kesabaranmu
tak mampu
Kukalahkan dalam
wujud apa pun
saat ini!
aku mencoba belajar sepertimu
sebelum kutempuh kodratmu
menjadi pendamping ksatria
..................... ............
Seiring dengan dinamika kehidupan, penyair-penyair wanita Sumatera Utara pasti akan tetap bermunculan. Kita masih menunggu karya-karya dari Intan HS, Budiah Sari Siregar, Sartika Sari, Sakinah Anissa Maris, Wahyu Wiji Astuti, Ria Ristiana Dewi, Ayu Harahap, Adlya Eka Putri, Winda Sriana, Ulfa Zaini, Febri Mirah Rizky, Zuliana Ibrahim, Dara syahadah, Erni Wirdianingsih, Nur Wida Sari Lubis serta nama-nama lain yang masih terus bekerja keras melahirkan karya-karyanya dalam puisi.
Hal mereka mandek setelah menuju pelaminan itu soal pribadi mereka masing-masing. Kata orang tua kita dulu, wanita apapun profesinya ia tetap berkutat dengan segitiga sama sisi; dapur kasur dan sumur.
Disampaikan Pada Diskusi Omong-Omong Sastra di Uisu 15 April 2012
S. RATMAN Suras lahir di desa Wringin Harjo Kec. Gandrung Mangu Cilacap Jawa Tengah tanggal 8 oktober 1965. Belajar sastra secara otodidak. Buku kumpulan puisinya Gugur Gunung (1996) diterbitkan oleh sanggar Toko Sastra Kecil (ksk) Deliserdang.
Menggugat Kembali Peran Sosial - Politik Sastrawan
Jones Gultom.
BAGIAN klasik dari diskursus sastra adalah menyangkut perannya di tengah gejolak sosial. Bukan soal kontekstual atau tidak, tetapi apakah sebuah karya sastra masih cukup mampu memberi harapan di saat kehidupan sosial-politik sebuah bangsa berantakan, seperti yang terjadi pada negeri ini? Dimanakah sastra kita tempatkan, ketika mendapati masyarakat yang sudah putus asa dengan hidupnya? Saya kira, pertanyaan dan keprihatinan inilah yang mendasari perdebatan tentang politik sastra di Rebana, beberapa waktu lalu. Kini, patut direnungkan lagi, sambil kita menghadapi kenaikan harga BBM, April 2012 ini.
Sayang, tak ada penelitian menjelaskan, seperti apa sebenarnya pengaruh sastra terhadap pembacanya. Tak seperti survey politik yang lazim dilakukan, terutama menjelang pemilu. Mungkin ini yang membuat banyak sastrawan kita gamang, tak percaya diri, lantas tak berani bicara sosial-politik. Lantas berapologi, sastra harus tak berpihak. Dengan sikap seperti ini, wajarlah jika kemudian sebagian besar akhirnya beralih profesi, walau tetap mengaku sebagai sastrawan.
Sejarah perkembangan sastra di Indonesia, setidaknya diklasifikasikan atas beberapa bagian, antara lain; Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 2000 dan Angkatan Reformasi. Pengelompokan ini lebih didasari fokus garapan dan kurun waktu yang berlangsung. Ada juga versi yang memilah berdasarkan ketokohan sastrawannya. Sebut saja Angkatan 45 dan 66 yang populer karena kehadiran Chairil Anwar dan Taufik Ismail. Masing-masing angkatan menyuguhkan ciri khasnya sendiri. Angkatan Pujangga Lama misalnya, lahir untuk memberontaki mitos-mitos yang berlaku dalam sistem masyarakat tradisi. Seperti yang diangkat dalam novel Siti Nurbaya, oleh Marah Rusli. Fungsinya kemudian berkembang di masa Angkatan Balai Pustaka. Seiring mulai terbentuknya konsep negara kesatuan, rasa nasionalisme pun mulai tumbuh di kalangan cendikiawan.
Di fase itu sastra mengambil peran ganda, karena juga dijadikan sebagai alat perlawanan terhadap kolonialisme. Meski ada berpendapat sebaliknya; angkatan ini merupakan underbow Belanda, sehingga memunculkan Angkatan Pujangga Baru sebagai tandingan, yang kemunculannya sekurun waktu dengan Angkatan Balai Pustaka.
Selanjutnya, seiring masuknya peradaban millennium yang dirayakan di segala penjuru dunia, menandai kelahiran Angkatan 2000 dengan cirinya yang postmo, walau sebagian sastrawannya adalah Angkatan Pujangga Baru. Di masa ini, karya-karya sastra bermunculan dengan ragam warna dan corak. Babakan masing-masing angkatan ini bukanlah rentang waktu proses kreatif sastrawannya, namun setidaknya boleh dianggap sebagai fase "puncak" kemunculan mereka.
Dari perjalanan sejarah ini, setidaknya kita menemukan beberapa hal. Pertama, bersastra juga merupakan cara untuk melibatkan diri dalam situasi sosial perpolitikan. Dengan begitu sastrawan juga adalah seorang sosiolog bahkan politikus. Kedua, karena memadukan realita dengan kedalaman insight yang dimiliki, sastrawan bahkan setingkat lebih tinggi dari seorang ilmuwan. Ketiga, karena kebiasaannya yang reflektif, sastrawan pun dianggap sebagai "ahli nujum" yang tahu membaca masa depan. Syarat-syarat inilah yang menjadikan karya seorang sastrawan menjadi penting untuk dibaca. Sejarah Indonesia juga membuktikan, para sastrawanlah yang membangun bangsa ini. Atau setidaknya dia juga melakukan kerja-kerja politis.
Sejak Ronggowarsito sampai M. Yamin. Dari AA. Navis sampai Mukhtar Lubis. Pramoedia, Goenawan Muhammad, Rendra, Arief Budiman, Fuad Hassan, bahkan Gusdur. Tokoh-tokoh ini didengar bukan semata-mata karena karya sastranya, tapi juga kerja politiknya yang didasari atas karakter kesastrawanannya. Tak heran jika Soekarno pernah menyitir; "jika fakultas kedokteran ditutup, maka 3-5 tahun ke depan kita akan kekurangan dokter. Begitu juga jika fakultas hukum ditutup, maka 3-5 tahun lagi kita akan kekuranagn hakim dan pengacara. Jika fakultas sastra ditutup, bahkan di seluruh universitas dunia, sastrawan tetap akan muncul dengan sendirinya." Karena seorang sastrawan bisa saja lahir dari gejolak sosial, ekonomi, budaya, terutama politik.
Angkatan Reformasi (?)
Sama dengan angkatan-angkatan sebelumnya, Angkatan Reformasi lahir juga mengusung semangatnya sendiri. Terbukanya kran berkreativitas sebebas-bebasnya, disambut para sastrawan di penjuru nusantara. Tidak jelas siapa yang pertama kali memunculkan istilah ini. Angkatan ini digawangi oleh sejumlah sastrawan yang mencuat serta didasari oleh semangat reformasi. Sayangnya Angkatan Reformasi ini tidak setangguh angkatan-angkatan sebelumnya, terutama jika dikaitkan dengan moment yang melahirkan mereka. Bahkan angkatan ini nyaris tak memunculkan satupun sastrawannya, kecuali Wiji Thukul. Momentum reformasi gagal membesarkan angkatan ini. Dia kalah progresif dengan dunia sosial dan politik yang sukses besar melahirkan tokoh-tokoh politik yang kini menjadi icon. Tak heran, hampir tak ada karya sastra yang terbilang penting, bagi keindonesiaan, lahir di fase ini. Sampai kemudian tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata pun berkibar.
Dalam kaitannya dengan sosial-politik, dunia sastra di masa sekarang ini, boleh dibilang gagal, karena tak memberi sumbangan yang cukup berarti. Ketika korupsi dimana-mana, harga-harga melambung tinggi, konspirasi yang merajalela, masyarakat yang berubah anarkis, kemiskinan, pembohongan publik, seperti yang berlangsung sekarang, dimanakah suara sastrawan?
Saya termasuk rajin mengamati opini-opini yang dimuat di media massa lokal dan nasional. Hanya ada 1-2 sastrawan yang rajin memberikan pemikirannya, termasuk sekedar menunjukkan simpati. Padahal ketika kongres sastrawan diadakan, pesertanya bisa sampai membludak.
Menurut saya, banyak hal yang menyebabkan ketimpangan ini. Pertama, para sastrawan kita tak mampu dan tak terbiasa mengangkat isu-isu sosial-politik dalam karyanya. Ketika reformasi meletus, para sastrawan gagal menangkap momentum itu. Dinamika sosial-politik bergerak ibarat bola salju, dunia sastra kita masih terjebak dengan indetitas angkatan sebelum-sebelumnya. Akhirnya sastrawan kita tak mampu mengejar isu dengan perwujudannya yang kontekstual. Wajar jika kemudian masyarakat yang sempat betah membaca karya sastra, pergi menjauh. Ditambah lagi dengan bergesernya perhatian industri penerbitan dari karya sastra.
Saya kira, inilah efek dari kebiasaan para sastrawan yang terdogma dengan sentralisme media. Para sastrawan "mati-matian" bermanuver, membahas bahkan menduga-duga seperti apa ciri yang diminati media yang dinilai prestius itu. Alhasil, proses kreatifitasnya hanya sekedar ambisi-publikasi. "Semangat" itupula yang membuatnya lupa dengan dunia di luar sastra yang semakin "panas" itu.
Kedua, eforia Angkatan 2000 yang belum selesai. Seperti disinggung sebelumnya, keanekaragaman karya sastra kita memuncak di Angkatan 2000. Afrizal Malna muncul dengan puisi instalasi urbannya. Joko Pinurbo menyuguhkan puisi filsafat eksitensi yang mengkontruksi benda-benda keseharian. Pada cerpen ada Seno Gumira Aji Darma, yang gemar mendramatisir sesuatu yang realita maupun fiksi dengan penekanan pskilogis. Begitu juga Hudan Hidayat yang sukses mendekonstruksi teori-teori psikologi, termasuk pewayangan. Di novel yang cenderung didasari semangat feminis, berhasil melahirkan novelis-novelis bermutu semisal Ayu Utami, Djenar, Dewi Lestari yang menghadirkan "keharuman" karyanya masing-masing.
Pengaruh para sastrawan ini masih cukup kuat sekaligus menghipnotis para sastrawan Angkatan Reformasi. Alhasil Angkatan Reformasi sampai ini belum menemukan jati diri di zamannya sendiri.
Kalah Langkah
Tulisan ini tidak hendak mendiskreditkan para sastrawan Angkatan Reformasi maupun karya-karyanya. Kenyataannya, sastra kita sekarang ini tak mampu berbuat apa-apa bagi masyarakat, khususnya pembaca, adalah hal penting yang harus dijawab.
Sebagai perbandingan, ketika gejolak sosial-politik melanda Bangsa Indonesia, setidaknya satu dekade ini, hampir tak didapati karya-karya sastra yang mengangkat situasi ini. Justru kiblat sastra semakin liar, bahkan, mengutip istilah Yulhasni- konteks-teksnya makin semu. Bilapun kearifan lokal yang coba digagas kembali sebagai alternatif postmodrenisme, justru terperangkap pada kedangkalan tafsirnya sendiri.
Kemampuan dialektis sastrawan yang dangkal menjerumuskan sastrawan ke dalam mahzab yang sempit; sekedar penanda identitas kelompok-kelompok masyarakat. Sebaliknya, agresivitas sosial-politik yang makin tak terbendung itu, kini makin merangsek ke seluruh sendi kehidupan masyarakat. Saya khawatir, adakah situasi ini menjadi kekhawatiran para sastrawan?
Kritikus Sastra di Sumut Ketinggalan Zaman
Yulhasni.
Akhirnya, posisi dan kebutuhan mengkritisi karya tidaklah seburam gumaman Yulhasni. Biarkan dia mengalir seirama zaman. Mengapresiasi atau mengkritisi kembali apakah dengan atau tanpa teori, selama kita memahami, kritik dimaksudkan untuk menemukan solusi bukan menambah konflik, silahkan saja. Toh, tanpa kritikus sastrawan tetap lahir. Lantas bagaimana sebaliknya? Terserah kita menafsirkannya. Salam.
Sengaja saya mengutip tulisan M Raudah Jambak berjudul ‘’Tanpa Kritikus Sastrawan tetap Lahir’’ di rubrik Rebana harian ini (1/4) untuk membuka sebuah tahapan pemahaman kita tentang kritik dan cara pendekatannya, terutama jika dikaitkan dengan sastra di Sumatera Utara. Tulisan itu muncul sebagai respon atas tulisan saya berjudul ‘’Minimnya Teori Kritis terhadap Karya Sastra Sumut’’ yang dimuat harian ini pada 18 Maret 2012.
Sejarah panjang kritik sastra Indonesia tentu melahirkan bermacam pendekatan. Pada level tertentu di beberapa perguruan tinggi, pendekatan karya sastra masih melekat dalam satu konsep ‘’sastra yang otonom’’. Cara pandang ini sebenarnya telah lama ditinggalkan oleh kaum akademisi di beberapa daerah, terutama Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Cara pandang seperti itu, meminjam Faruk HT, erat kaitannya dengan bagian integral dari kritik sastra Indonesia modern yang bermetamorfosis dari cara pandang sastra modern yang berkisar pada soal oposisi hierarkis antara kebenaran dengan kesemuan; kenyataan dengan representasi; dan kedalaman dengan permukaan.
Konsep bahwa sastra adalah dunia yang otonom mengakibatkan tidak terjadinya proses dialektika dalam kritik sastra di daerah ini. Saya kemudian harus memberi catatan penting soal betapa tertinggalnya daerah ini dalam hal kritik sastra itu sendiri.
Cara pandang kita terhadap sastra, terutama yang dimuat di media cetak di daerah ini, seringkali alergi dengan perkembangan teori sosial yang berkembang di dunia. Bahkan lebih ironisnya, di perguruan tinggi pun, teori-teori sosial baru yang kemudian bermuara kepada pendekatan karya sastra, ternyata tidak mendapat tempat. Alhasil, studi mahasiswa pun akhirnya terpola kepada model teori struktural yang sebenarnya telah jadi fosil tersebut.
Model pendekatan karya sastra di daerah ini sudah semestinya diarahkan kepada bentuk-bentuk baru dalam teori ilmu sosial. Sastra tidak lagi harus berdiri di menara gading yang dengan sendirinya harus dipahami dalam teks tertulis saja. Memahami beberapa novel sejarah seperti Berjuta-juta dari Deli karangan Emil W Aulia atau Acek Botak karya Idris Pasaribu, semestinya harus didekati dengan model teori postkolonial. Jika teks dalam kedua karya ini didekati dengan model struktural, maka esensi utama dari keduanya tidak akan tercapai. Teori postkolonial memungkinkan teks dalam kedua novel, dipahami sebagai pesan penting tentang penindasan model Barat atas Timur. Satu konsep yang sejak lama sudah diperkenalkan oleh Edward Said.
Beberapa puisi, cerpen, naskah drama dan novel telah lahir di daerah ini. Selalu saja penilaian atas karya tersebut berhenti pada struktur karya, tanpa mampu memberi ruang pemikiran yang lebih luas tentang apa di balik teks karya tersebut.
Bangku perkuliahan semestinya cepat keluar dari kungkungan teori-teori klasik yang telah usang. Dalam sejarah pendekatan karya sastra, perkembangannya begitu cepat. Kita mengenal urutan teori sastra, yakni teori moral, teori ekspresif, biographical criticism, new criticism, psikoanalisis, marxisme, reader response (resepsi), strukturalisme, postrukturalisme dan dekonstruksi, posmodernisme, feminisme, new historicism, poskolonialisme dan cultural studies.
Pada saat sekarang, ketika berbagai ilmu sosial berkembang, teori pun mengikutinya lewat seperangkat metode yang digunakan. Makanya, konsep Critical Analysis Discourse (CDA) atau Analisis Wacana Kritis menjadi relevan dikembangkan untuk melihat kesejatian karya sastra di daerah ini. Widyastuti Purbani dalam tulisan berjudul ‘’Metode Penelitian Sastra’’ menulis kata kritis (critical) dalam CDA membawa konsekuensi yang tidak ringan.
Pengertian kritis di sini bukan untuk diartikan secara negatif sebagai menentang atau memperlihatkan keburukan-keburukan dari subjek yang diperiksa semata. Kata kritis menurut Ruth Wodak -seorang pemikir neo-marxis yang banyak dipengaruhi Mazhab Frankfurt model Jurgen Habermas- hendaknya dimaknai sebagai sikap tidak menggeneralisir persoalan melainkan memperlihatkan kompleksitasnya; menentang penciutan, penyempitan atau penyederhanaan, dogmatisme dan dikotomi. Kata kritis juga mengandung makna refleksi diri melalui proses dan membuat struktur relasi kekuasaan dan ideologi yang pada mulanya tampak keruh, kabur dan tak jelas menjadi terang. Kritis juga bermakna skeptis dan terbuka pada pikiran-pikiran alternatif.
Dengan menggunakan metodologi seperti ini, kita mampu menangkap pesan-pesan penting adanya relasi kekuasaan pada novel Berjuta-juta dari Deli dan Acek Botak. Kungkungan struktur yang membangun kedua novel tersebut tidak lagi sebagai hal yang harus diributkan, ataupun kemudian ditarik berbagai cara untuk mengkaji dalam konsep sastra yang otonom tersebut.
Karya-karya sastra di daerah ini mungkin terlalu banyak yang berbicara tentang protes sosial atas ketidakadilan majikan (tuan) terhadap buruh, terutama jika mencermati praktik dehumanisasi di perkebunan. Sayangnya, dalam studi-studi sastra kontemporer di daerah ini, terlalu sedikit yang mencoba melirik karya tersebut lewat pendekatan baru dalam ilmu sosial. Selain itu karya-karya sejenis ini telah lama dikubur oleh rezim Orde Baru karena dinilai bagian dari sebuah model gerakan politik, seperti apa yang terjadi pada karya-karya pengarang pengikut Lekra. Hal yang sama juga terjadi terhadap karya sastra etnis Tionghoa yang hilang tak berbekas sebagai akibat praktik ‘kasar’ Orde Baru.
Sastra Melayu-Tionghoa atau Sastra Indonesia-Tionghoa, seperti ditulis Irwansyah, adalah sastra kaum minoritas. Nasibnya tampak lebih jelek dari roman picisan dan novel pop. Kedua yang disebut terakhir, hanya dipandang dengan sebelah mata, sedangkan sastra Indonesia Tionghoa hanya dilirik sekilas. Ketiganya seakan-akan tidak punya andil dalam dunia sastra Indonesia.
Patut disayangkan, karena model pendekatan dalam kritik sastra di daerah ini masih percaya kepada struktur karya yang mengakibatkan banyak karya sastra yang tidak mendapatkan apresiasi dari pembaca. Kritikus sastra -entah ada atau tidak di daerah ini- terperangkap kepada satu model yang keliru, yakni melihat karya hanya dalam batasan karya sebagai bentuk yang otonom. Kekeliruan ini akibat studi sastra yang juga keliru dalam menerjemahkan perkembangan teori sastra di Indonesia.
Penilaian karya sastra tidak berhenti hanya pada persoalan layak atau tidaknya seorang redaktur media cetak menilai sebuah karya. Sayangnya tulisan Raudah Jambak keliru menafsirkan pemikiran saya tentang apa itu ‘teori kritis’ dan ‘kritik teoritis’. Teori kritis memandang sastra dengan konsep antiotonom, sedangkan kritik teoritis merupakan model kritik terhadap karya sastra dengan menggunakan metode-metode tertentu. Tidak ada hal yang krusial ketika seorang redaktur media cetak menjadi penilai karya sastra, akan tetapi konsep yang saya maksud adalah peranan ‘orang luar’ terutama mereka yang selalu mengaku sebagai kritikus sastra di daerah ini untuk tidak terkungkung dengan metode pendekatan yang sudah kadaluarsa alias ketinggalan zaman.
Penulis; Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU dan Mahasiswa Pascasarjana Linguistik USU
Tanpa Kritikus Sastrawan akan Tetap Lahir
M. Raudah Jambak.
Terlalu banyak persoalan yang berhubungan dengan sastra atau kritik sastra yang menarik untuk dibicarakan. Lebih menariknya lagi, persoalan yang mengemuka selalu itu ke itu saja. Tak pernah selesai. Tak jelas ujung-pangkalnya. Setiap kali diulang masih selalu saja mencuri perhatian kita. Masih tetap menarik untuk disimak.
Setiap tahun persoalannya selalu sama. Bahkan tawaran penyelesaiannya juga tak jauh beda. Terhitung tahun, bulan, minggu, hari, maupun detik. Tak ada yang berbeda. Decak kagum selalu mencuat ke permukaan. Persoalannya, apakah kita sudah terbiasa mengulang-ulang yang sudah ada? Justru kita memang tumpul untuk menciptakan sesuatu yang baru. Apakah kita sudah imun dengan yang namanya kemajuan, sehingga tidak mampu lagi menjadi seorang penemu, pemikir atau penggali yang jenius terhadap karya-karya yang hadir.
Kita maklum, produktivitas (kreativitas) karya jauh melesat kuantitasnya. Ratusan bahkan ribuan karya tak terbendung lagi kehadirannya. Untuk hal itu kita mau tidak mau harus angkat jempol sekaligus angkat topi.
Pun, termasuk berbagai ulasan yang hadir. Baik itu sebatas apresiasi, bahkan kritik. Apresiasi karya atau apresiasi hasil apresiasi. Kritik karya atau kritik hasil kritik. Kita pernah membaca tulisan Sitor Situmorang tentang, Krisis HB Jasin dalam Mimbar Indonesia Th. IX No. 2-3; sastra di Indonesia sedang mengalami krisis ukuran.
Pengukuran pencapaian estetika karya menentukan seberapa pentingnya (berpengaruhnya) seorang sastrawan. Baginya, setiap sastrawan dan karyanya harus dikaji dengan ide-ide yang melingkupinya. Dalam hal ini, lantas tentu tidak meletakkan karya sastra di atas timbangan atau dipeluk penggaris. Kita tidak terjebak dengan pemerkosaan ide dalam sebuah karya sastra. Memang batasan antara struktural, estetika dan ide sangat tipis. Ruskin melihat hal ini mengatakan, keindahan karya ditentukan oleh keluhuran perasaan yang diungkapkannya.
Kemampuan merasakan atau kepekaan tidak lepas dari selera. Seperti halnya Hazlitt, seorang kritikus, menilai tidak lebih dari selera (taste)-nya, tapi dengan sejumlah alasan dan data dari karya sastra. Selera baginya, "kepekaan rasa terhadap berbagai macam tingkatan dan jenis kejeniusan dalam karya-karya seni…" Penilaian, tambahnya, seperti halnya memberi penghormatan pada karya sastra.
Seperti apa yang telah digumamkan oleh Yulhasni, studi sastra dalam perkembangannya di tanah air selalu melahirkan berbagai wacana dan polemik yang menarik untuk dicermati. Pada dekade 80-an dan 90-an, studi sastra dalam pendekatannya pernah dihebohkan dengan munculnya gerakan postmodernisme atau sering disebut sebagai pascastrukturalisme. Pada masa itu kemudian teori dekonstruksi Derrida jadi wacana yang menghangatkan diskursus sastra di Indonesia. Sebelumnya A. Teeuw menyentakkan dunia akademisi di Indonesia dengan esainya ‘’Tentang Paham dan Salah Paham dalam Membaca Puisi’’. Dalam esainya, profesor Belanda ini menyatakan ketidakpuasannya atas hasil analisis dosen sastra terhadap dua sajak modern Indonesia.
Begitulah, dunia akademisi dengan seperangkat teori yang dikunyah lewat rak-rak buku, jadi bentangan kesia-sian belaka. Barangkali memang ada kesalahan pemahaman ketika berhadapan dengan teks sastra.
Di Sumatera Utara, nyaris tidak dapat ditemukan studi kritis yang lebih menukik saat berhadapan dengan karya sastra di daerah ini. Bahkan saat membaca beberapa tulisan di rubrik Rebana ini, baik berupa ulasan terhadap cerpen, puisi, maupu novel, hampir semuanya terperangkap pada pendekatan yang mengabaikan proses pembacaan yang kritis.
Mungkin telah terjadi kekeliruan yang menahun di bangku perkuliahan ketika mahasiswa disodorkan seperangkat teori sastra. Lebih memprihatinkan teori yang disodorkan, sama sekali keluar dari realita teks itu sendiri. Alhasil, dalam model pendekatan struktural, teks hanya dimaknai sebagai satu yang otonom tanpa ada faktor luar yang mempengaruhinya. Inilah faktor penyebab mengapa kemudian sastra menjadi kering saat dibedah oleh kaum akademisi. Di lain pihak, tema dan gagasan tentang karya sastra di Sumut masih bicara tentang kelamin, sesuatu yang sebenarnya adalah cerita lama dalam khazanah sastra Indonesia.
Beberapa karya sastra yang lahir di Sumatera Utara, terutama yang terbit di media cetak, diyakini tidak pernah mampu dikritisi secara cermat. Bahkan dalam praktik pendekatannya, tiga bentuk pertanyaan yakni (1) bagaimana cara menafsirkan isi karya sastra, (2) bagaimana dan kenapa suatu karya sastra diciptakan, dan (3) apa implikasi sosial budaya dari karya itu, pada kenyataannya tidak mampu terjamah kaum akademisi sastra. Pada bagian inilah kemudian muncul pendekatan Teori Kritis untuk menjawab tiga pertanyaandi atas.
Gumaman itu, tetap menarik dicermati, apalagi beberapa waktu lalu, juga acap kita membaca apresiasi plus kritik yang mengemuka. Misalnya persoalan politik dan kritik, jenis kelamin sastrawan dan sebagainya.
Saya pernah menulis dalam bentuk kertas kerja Omong-Omong Sastra beberapa waktu lalu tentang "Kritikus dan Sastrawan saling kehilangan" dan "Dimana keberadaan Kritikus ketika Sastrawan tidak lagi berkarya", serta "Masih perlukah kritik?".
Ketika kita berbicara persoalan zaman, mungkin kritikus masih layak mendapatkan posisi terhormat, jika kita bicara masa lalu. Zaman sekarang dengan media yang cukup menjanjikan misalnya, selain surat kabar dan majalah, kita bisa mengirimkan ke media-media online.
Masuk ke persoalan gumaman Yulhasni, apakah masih perlu kritik ketika redaktur sudah bertindak sebagai kritikus terhadap karya yang masuk. Ketika kita bicara tentang kritik teoritis terhadap karya, maka dimanakah posisi skripsi atau thesis yang lahir selama ini? Berharap kritik teoritis masuk dalam surat kabar atau majalah, yang perlu kita pertanyakan, apakah kualitasnya tercapai? Bagaimana dengan buku?
Minimnya teori kritis terhadap karya sastra Sumut disinyalir oleh Yulhasni tentang, beberapa ulasan terhadap karya sastra di rubrik ini, misalnya, tidak menyentuh kepada substansi teks yang hendak dikritik. Tulisan Jones Gultom berjudul Sastra Medan Krisis Estetika, (Analisa, 26 Februari 2012) menarik dicermati, karena sebenarnya ada ruang untuk mengatakan, proses kreativitas anak Medan hanya berhenti pada katarsis. Lebih jelas jika teks-teks puisi dipaparkan dan dilihat pada bagian mana sebuah puisi dikatakan berhenti pada katarsis. Sejumlah tulisan Mihar Harahap dalam kaitan bedah cerpen Rebana, mestinya harus meletakkan teks secara mandiri. Dalam dekonstruksi, pemahaman terhadap sebuah teks lebih mandiri, tanpa didominasi pemikiran yang sudah tertanam dalam masyarakat.
Pada tulisan Mihar Harahap berjudul Membaca Cerpen Rebana April 2011 (Analisa, 8 Mei 2011), misalnya, sejumlah cerpen yang dikritisi tidak memiliki kekuatan konflik dan perwatakan yang jelas. Dalam dogma strukturalis, kajian seperti ini memang diarahkan ke pembangunan struktur karya. Sejatinya dalam kajian Teori Kritis, tidak perlu sekali dilihat strukturnya melainkan apa di balik teks-teks yang tertulis.
Kelemahan mendasar dalam pendekatan terhadap karya sastra di Sumut, tidak karena faktor pembacaan yang tidak intensif. Ada bangunan besar dalam studi sastra di daerah ini yang salah, karena terlalu lama menuhankan strukturalisme sebagai nabi teori sastra.
Literatur terkait Teori Kritis sama sekali jarang diajarkan di perguruan tinggi karena faktor ketiadaan bahan, tenaga pengajar yang tidak memahami dan tentu saja karena ketidakbutuhan kita pada hal-hal yang baru.
Akhirnya, posisi dan kebutuhan mengkritisi karya tidaklah seburam gumaman Yulhasni. Biarkan dia mengalir seirama zaman. Mengapresiasi atau mengkritisi kembali apakah dengan atau tanpa teori, selama kita memahami, kritik dimaksudkan untuk menemukan solusi bukan menambah konflik, silahkan saja. Toh, tanpa kritikus sastrawan tetap lahir. Lantas bagaimana sebaliknya? Terserah kita menafsirkannya. Salam.
Penulis; Direktur Komuntias Home Poetry dan Dosen Ilmu Komunikasi Filsafat Panca Budi Medan.
MEMILIH TIDAK MEMILIH ADALAH PILIHAN
M. Raudah Jambak.
Kita adalah makhluk cerdas yang porsi fisik dan psikisnya, berbeda dengan makhluk yang lain. Kecerdasan itulah membuat manusia mampu menjadi seorang kreator. Sebagai seorang kreator, manusia mampu menjadikan peristiwa di sekitarnya menjadi kata, menjadi makna, menjadi sesuatu. Termasuk menjadi ruh karya seni maupun KARAYA budaya. Kita bisa menafsirkan 'seuatu' itu menjadi apa dan siapa saja. Tentu masing-masing punya dasar pemikiran berbeda.
Dasar pemikiran yang kita maksudkan adalah kejujuran berkarya. Dengan kata lain, motivasi apa yang melatarbelakangi seseorang itu berkarya. Bisa karena uang, bisa karena ingin terus mengasah ketajamannya berkarya dan lain sebagainya. Apapun dia, kreator itulah yang tahu. Kita tidak berhak langsung memvonisnya harus begini dan begitu. Seperti yang pernah disinggung oleh Hang Kafrawi. Peristiwa yang terhampar di alam ini, merupakan ruh karya seni. Bukankah seniman 'pembajak' yang handal menjadikan hamparan peristiwa 'taman bunga' tempat pikiran manusia lainnya bermain? Di taman bunga itulah manusia diharapkan menafsirkan peristiwa yang terjadi dengan hati nurani, sehingga bermunculan bunga kesadaran untuk mengenal diri lebih dekat lagi. Inilah hakikat karya seni; dapat menjadi penyuluh bagi manusia. Pada hari ini, seniman seakan kehilangan ruh untuk menukangi karya seni dengan realitas yang terjadi di sekitarnya. Bermunculanlah karya seni yang 'menjauh' dari kondisi masyarakat. Dalam karya seni, seniman hanya bercerita tentang keluh-kesah pribadi; tersebab putus cinta (sebagai salah satu contoh). Karya seni bukan menjadi keluh-kesah universal, tapi lebih banyak kegelisahan individu sang seniman. Karya seni tak menyentuh hati orang banyak, dia berjalan sendiri dengan 'kelukaan' yang maha sunyi. Mungkinkah peristiwa yang terjadi di negeri kita pada hari ini melebihi perasaan sensitif para seniman? Kita setiap hari disuguhi peristiwa yang mengiris hati nurani; seorang nenek mencuri kakau diganjar hukuman lima tahun penjara. Seorang anak mengambil sandal jepit 'dipelasah' dengan hukum penjara. Penegak hukum dengan perkasanya menghabisi nyawa tahanan yang tergolong muda. Pihak keamanan yang tidak berpihak kepada rakyat dengan leluasa melepaskan tembakan ke rakyat kecil. Seorang ibu dituduh mencuri enam buah piring majikannya dan dihukum penjara selama 140 hari. Peristiwa perih ini, nyata adanya dan orang banyak tidak membutuhkan interpretasi seperti menafsirkan karya seni. Hati nurani manusia mendiami negeri ini senantiasa diusik dengan kejadian perih yang terus menikam keibaan. Gelombang kelukaan semakin besar menghempas ke tepi hati, namun kita tetap berdiri dengan kesedihan yang datang sesaat saja. Semakin jauh peristiwa perih itu berlalu, semakin lupa kita dengan peristiwa itu. Kita pun dihadapkan dengan peristiwa nyata yang lain pula. Sebagai seniman, yang katanya diberi perasaan lebih dibandingkan dengan manusia lainnya, seharusnya peristiwa nyata itu diabadikan dalam karya seni. Karya seni yang mampu terus menggoyang hati nurani manusia negeri ini untuk selalu ingat dengan peristiwa nyata itu. Dengan demikian, rasa kasih sayang sesama manusia negeri ini terus menyala, sehingga sedikit banyak karya seni dapat membakar perasaan manusia untuk mengenal akan dirinya. Penyebab dari segala peristiwa di muka bumi ini, berawal dari diri manusia itu sendiri. Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, Pasal 1, bait 4 mengatakan,'' Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal Tuhan yang bahari.'' Begitupun Budi P. Hatees ada menyinggung, jika seseorang memperbaiki kemampuannya mengolah karakter, lalu menghasilkan bukan saja sajak, juga cerpen, novel, esai atau naskah drama, tentu saja bukan hal mustahil dilakukan. Orang itu pada dasarnya bekerja dengan ide juga pengalaman, maka ide dan pengalaman tinggal diolah agar menjadi bagian yang organis dengan karya sastra. Sangat mungkin jika hasil olahan itu justru memunculkan hal-hal baru, seperti strategi-strategi baru teks sastra. Tidak heran bila akhir-akhir ini dunia kreativitas cerpen mengalami perubahan dengan masuknya strategi teks puisi ke dalam pola penulisan cerpen. Artinya, kepiawaian seseorang dalam menulis sajak, cerpen, esai dan naskah drama akan saling mendukung hingga tercipta karya-karya sastra yang lebih andal. Seniman melalui karya seninya, membawa kebenaran-kebenaran untuk kepentingan orang banyak. Karya seni tidak berpihak kepada siapapun, tetapi karya seni berpihak kepada kesadaran akan pentingnya kemaslahatan manusia. Dengan kesadaran, manusia saling mengerti satu dengan lainnya, maka terciptalah keharmonisan, keseimbangan hidup manusia. Nilai keindahan dalam karya seni adalah ketika karya seni itu memiliki manfaat atau keuntungan bagi setiap manusia. Dengan demikian, karya seni mengambil posisi sebagai penetral kondisi. Karya seni tidak berpihak pada kaum tertindas dan tidak juga menyebelah kepada yang menindas. Untuk kaum tertindas, karya seni menjadi pembangkit semangat untuk tetap berusaha lepas dari penindasan. Menyadarkan diri bahwa ketertindasan harus tetap dilawan; hidup adalah perjuangan yang tak pernah usai. Karya seni memberikan cahaya ke hati tertindas sementara untuk kaum penindas karya seni dapat dijadikan indikator jalan untuk tidak melakukan penindasan. Bukankah manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta sama di mata-Nya? Karya sastra membongkar kesadaran kebersamaan itu. Senada juga dengan apa yang disampaikan oleh Hasan Al Banna, sesungguhnya, masing-masing aliran dalam sastra, khususnya puisi dan cerpen menyimpan perangainya sendiri-sendiri. Keduanya berada dalam posisi 'berdiri sama rendah berdiri sama tinggi'! Lantas, sangat terbuka kemungkinan untuk seorang kreator fiksi untuk menunaikan salah satu atau keduanya sekaligus. Tidak mudah menyodorkan bukti, seorang kreator fiksi yang di masa awal kepenulisannya memilih "berkelamin tunggal" akan lebih baik ketimbang kreator fiksi yang membiarkan dirinya "berkelamin ganda". Pun sebaliknya. Intinya, proses kreatif penulis mustahil serupa. Memang, mengacu pada berbagai proses kreatif sejumlah sastrawan, banyak yang melalui peristiwa berkarya secara berjenjang, satu demi satu. Bukan tidak ada sastrawan yang sukses menjalani status "kelamin ganda" sejak masa awal kepenulisannya. Paling tidak, pilihan "berkelamin ganda" sejak masa awal kepenulisan malah memberinya jalan untuk pada akhirnya menentukan "kelamin" mana yang paling dibanggakan dan seterusnya dipelihara setekun-tekunnya. Inilah permasalahan yang dihadapi dunia seni di negeri ini. Selalu menganggap kehidupan nyata yang berhubungan dengan orang banyak tidak penting lagi dirangkai menjadi karya seni yang berkualitas. Padahal seniman selalu ditunggu untuk menghasilkan karya yang mampu 'membaca' peristiwa yang terjadi dengan mengedepankan kejernihan. Dari kejernihan inilah, manusia meneguk kesegaran untuk berbuat lebih baik lagi. Kalaulah dapat diibaratkan, karya seni itu seperti baut, penting di sebuah mesin, tanpa baut itu, mesin tidak bisa dihidupkan. Mungkin saja disebabkan faktor globalisasi membuat seniman 'membanting setir'; seniman harus menghasilkan karya seni yang instan dan berbau pop. Dari penyair menjadi cerpenis dan sebagainya. Mereka tak mampu bertahan dari godaan kaum kapitalisme yang hanya mengedepankan keuntungan. Seniman juga dipaksa untuk memproduksi karya seni hanya untuk hiburan, tanpa memikirkan makna yang lebih dalam. Karya seni diukur seberapa banyak orang senang dan berapa duit yang diperoleh dari karya seni itu. Masalah sosial dikesampingkan karena tidak menarik untuk dijual. Bukan 'mengharamkan' budaya populer, tetapi kemaslahatan orang banyak harus dikedepankan. Apalah arti sebuah karya seni ketika hanya sesaat karya seni itu berarti. Seharusnya karya seni itu bertahan dari segala waktu, berbuah di sembarang musim, bermanfaat kapan saja. Inilah karya seni seharusnya. Kembali pada peristiwa yang terjadi di negeri ini, memang terasa berat rasanya seniman mengokah realitas tersebut menjadi karya seni yang mampu melantas ke hati setiap orang. Demikian, bukan berarti seniman harus menyerah dan menyelewengkan hati nurani dengan membiarkan realitas itu terkapar tak berdaya. Akhirnya, Ys. Rat memberi garis lurus permasalahan yang dikemukakan, pada dua tulisan sebelumnya, Kapan Sastrawan Pemula Menentukan Kelamin? oleh Hasan Al Banna dan Sastrawan tak Ditentukan Usia oleh Budi P Hatees, di bersamaan di Rubrik Rebana (Analisa, Minggu, 26 Februari 2012). Sebagai pemicu jelas, tulisan saya berjudul, Menjadikan Jelas "Kelamin" Sastrawan Pemula di rubrik dan surat kabar sama (Minggu, 12 Februari 2012). Bermula dari niat sekadar mengabarkan sejumlah perbedaan kondisi yang mempengaruhi dan kebiasaan antara para pemilik bakat sastrawan dekade 1980-an , sampai menjelang akhir 1990-an. Demikian pula mereka yang mulai bergiat pada tahun 2000-an dan sekedar saran yang sebaiknya dilakukan, dugaan akan munculnya reaksi tak pernah melintas di benak penulis. Terutama yang diarahkan terhadap sepenggal saran, para pemilik bakat sastrawan hendaknya juga merasa perlu memiliki "kelamin" yang jelas, dalam artian pada masa-masa awal berkarya tak sekaligus merangkap menciptakan puisi dan cerpen misalnya. Baik terhadap tulisan Kapan Sastrawan Pemula Menentukan Kelamin? oleh Hasan Al Banna, maupun Sastrawan tak Ditentukan Usia oleh Budi P Hatees. Berkenaan dengan tanggapan dan pendapat mereka tentang saran penulis hendaknya para pemilik bakat sastrawan merasa perlu memiliki "kelamin" yang jelas, sama sekali tak sepatutnya penulis tak membenarkannya. Salam.
Terus terang, saya mengenal karya Wahyu Wiji Astuti (disingkat WWA) baru ini. Tatkala, komunitas Omong-Omong Sastra membuat Buku Puisi (antologi bersama) dan Buku Cerpen (antologi bersama). Kebetulan saya dipercaya menjadi editor khusus menulis Kata Pengantar kedua buku itu. Dari puluhan penyair, pecerpen dan karyanya, terbacalah nama WWA yang mengirimkan puisi dan cerpennya. Dalam Kata Pengantar itu, saya katakan, WWA adalah penyair dan cerpenis masa depan Indonesia.
Tak lama berselang-dari saya menyelesaikan Kata Pengantar kedua buku Omong-Omong Sastra itu-bahkan tak ada selang, tiba-tiba WWA menghubungi saya, meminta dan lalu menyerahkan bukunya untuk dibicarakan. Sebuah buku antologi cerpen berjudul "Ketika Malam Merayap Lebih Dalam" (disingkat Kemameleda). Cetak perdana tahun 2012 oleh penerbit Tiga Maha Subang Jawa barat. Sayang, tak ada kata pengantar dari penerbit apalagi editor, kecuali Sekapur Sirih dari penulis sendiri. Menurut penulis (dalam sekapur sirih), Kemameleda ini, berfungsi 1). sebagai 'saksi sejarah' perjalanan hidup pribadi dan 2). merupakan 'saksi perjuangan' dalam meniti karir kepenulisan. Sungguh, saya merasa bangga karena penyair sekaligus cerpenis masa depan Indonesia ini, telah berani bersaksi. Saya sedikit kecewa karena sekapur sirih kurang merahnya atau tak menjelaskan proses kreatif, konsep kepengarangan dan unsur lain yang mendudukkan eksistensinya. Cinta Dalam Bayang Kematian Kemameleda, mengambil 23 cerpen yang ditulis dalam 3 tahun (2009-2011). Tahun 2009 ada 8 cerpen, Ketika Malam Merayap Lebih Dalam, Cinta dan persabatan, Lara, Pesan Tengah Malam, Rindu, ruwet, Sehelai Saputangan Hitam dan Untaian Mutiara Yang Lepas. Tahun 2010 ada 8 cerpen, Membaca Buku Kemameleda Karya Wahyu Wiji Astuti, Jejak sahabat yang Berkarat, Ketika Fajar beringsut Malu, Ketukan Ujung Malam, Malam di Penghujung Senja, Qiyamul-lail, Rahasia Hujan, Rumah Awan dan Sepeda Motor vs Teddy Bear. Tahun 2011 termassuk tahun 2010-2011 ada 7 cerpen, Difined, Helena, Humai rah, Merakit Seperangkat Cinta, Kado Untuk lelakiku, Karya Kematian dan Pesan Diantara Gerbong Kereta. Melihat fakta ini saya menduga, kalau WWA telah memiliki disiplin menulis / mengarang antara 1-2 bulan sekali menghasilkan 1 cerpen. Hemat saya, cepat atau lambat menghasilkan cerpen tak masalah, yang penting disiplin menulis telah dimiliki dan itu merupakan awal yang baik dalam mempertahankan eksistensi. Dari 23 cerpen, terhimpun 11 cerpen yang bertema, subtema atau curahan perasaan tentang cinta; Cinta dan Persahabatan, Lara, pesan Tengah Malam, Rindu, Sehelai SaputanganHitam, Untaian Mutiara yang Lepas, Defined, Merakit Seperangkat Cinta, Helena, Kado Untuk lelakiku dan Pesan Di Antara Gerbong Kereta. Sebelas cerpen ditulis tahun 2009 dan 2011, tidak termasuk tahun 2010. Mengapa? Hanya pengaranglah yang tahu. Begitupun terkadang inspirasi, intuisi dan sensitivitas datangnya tak terduga. Dapatkah kita menulis cinta? Masihkah disebut karya sastra? Kenapa tidak! Sebab cinta antar manusia pun adalah wilayah kepengarangan, malah justru paling sensitif. Lagi pula keberhasilan cerpen, bukan tergantung berat-ringan atau apakah tema / subtema itu, melainkan sangat tergantung pada ada dan bagaimana cinta itu diungkapkan. Jadi, meski 50 persen buku ini berisi cinta dengan segala persoalan dan akibatnya, akan tetapi tetap merupakan karya sastra. Apakah karya sastra pop (umum, mudah dan ringan)? Memang, cinta yang ditampilkan melulu keluhan jiwa. Betapa tidak, hanya cerpen Cinta dan Persahabatan, Cinta, Helena dan Kado Untuk lelakiku, tokohnya masih terlihat stabil. Setelah itu, cinta (kontra dijodohkan bahkan lebih dominan diputuskan) membuat tokoh tidak stabil lagi. Jiwanya terguncang, lalu jatuh sakit, lalu mati. Pasrah. Atau tokohnya menjadi sakit hati, lalu marah, lalu dendam, lalu terbunuh, lalu mati. Bukan pasrah, melainkan perlawanan pasif, tetapi itupun juga tak berarti. Contoh cerpen cinta yang dianggap berhasil (dan menunjukkan ketakberdayaan bahkan kematian) adalah Lara (berangka tahun 2009). Kekuatan cerpen ini terletak pada plot, narasi pelukisan karakter pelaku dan bahasa yang digunakan. Perasaan memilukan terekspresi di hadapan pembaca. Kelemahannya, terletak pada detil cerita (alasan putus cinta, jenis penyakit dan akibat yang ditimbulkan), terlebih-lebih pemasungan karakter pelaku serta pemakaian akhiran 'nya' yang berlebihan. Menurut catatan, ada 7 cerpen yang mengekploitir ketakberdayaan dan 6 cerpen yang mengundang kematian. Ada apa dengan ketakberdayaan dan kematian dalam cerpen WWA? Apakah karena konsekuensi logis dari kualitas cinta yang mendasar di luluk hati? Ataukah karena ingin menampilkan sosok manusia, terutama perempuan, yang pesimistis dalam kehidupan bercinta? Atau karena penulis secara pribadi pernah gagal sampai merasa sakit hati pada setiap laki-laki? Pasti WWA yang bisa menjawab ini. Kemanusiaan Dalam Desing Peluru Selain menguak cinta, 12 cerpen lagi bertema, subtema atau curahan pikiran campur sari, persoalan keluarga dan kehidupan sosial. Meminati kerumahtanggaan, ada 9 cerpen yang disajikan penulis, antara lain terkait kemiskinan; Ketika Malam Merayap Lebih Dalam, Ketika Fajar beringsut Malu, Rumah Awan. Lagi-lagi tentang kematian; Jejak sabahat yang Berkarat, Karya Kematian dan hal kesabaran, anak, hutang dan penipuan ruwet, Qiyamullail, Rahasia Hujan dan Sepeda Motor vs Teddy Bear. Menyoroti kehidupan sosial, disajikan penulis 3 cerpen yakni Ketukan Ujung Malam, Malam di Penghujung Senja dan Humairah. Berbicara kemiskinan, ada 'aku', seorang 'mama' (manusia malam) yang mampu menghidupi diri dan 5 bintang kejora walau bukan anaknya. Untuk-'ku' 'mama' bukan pekerjaan haram, apalagi bak sampah, melainkan pahlawan karena berjuang menghidupi bintang. Jadilah, bintang kejora sebagai alasan pembenaran untuk menghalalkan yang haram bahkan disebut pahlawan. Tampaknya, tidak hanya cerita Ketika Malam Merayap Lebih Dalam pada saja penulis menafikan logika dan etika dalam menyelesaikan persoalan cinta, kemiskinan, juga persoalan lain seperti kematian yang banyak diceritakan. Bahkan dalam cerpen Karya Kematian, tiba-tiba pelakunya mengalami kehilangan dan kematian. Satu hal, meski cerita mengalir terus dan mungkin tak dapat dibendung, namun keseimbangan logika dan etika dibutuhkan agar efek cerpen lebih realistis dan moralistik. Meskipun begitu, cerpen Ketika Fajar beringsut Malu, (berangka tahun 2010) dianggap berhasil, walau tak menjadi judul antologi ini . Kekuatannya (untuk unsur plot, pelukisan karakter pelaku dan bahasa) menunjukkan peningkatan, bila dibandingkan dengan cerpen Lara. Begitu pula dengan kelemahannya (untuk unsur detil cerita, pemasungan karakter dan pemakaian akhiran 'nya') mulai diperhalus / hilang. Karakter tiap pelaku (Suci, ibu Ali, Ali) mulai terlihat berdiri sendiri tanpa harus dipicu penulis. Dalam penelitian saya, aspek penokohan ini mengalami perkembangan. Kalau pada cerpen Lara (dan kebanyakan cerpen lainnya) tokoh cerita masih seputar diri dan jajaran, maka pada cerpen Ketika Fajar beringsut Malu, tokoh cerita berkembang ke orang di luar diri dan jajaran. Karena itu, aspek penceritaan pun makin meluas. Tidak lagi soal percintaan dan kematian, tetapi sudah meluas ke soal kemiskinan dan sentuhan kemanusiaan, meskipun masih dalam lingkungan sosial kehidupan penulis. Bagaimana pertanyaan logika dan etika? Pada cerpen Ketika Fajar beringsut Malu terasa mulai tertib. Kegigihan penulis memperjuangkan sub estetika demi kepentingan cerita, rupanya mendapat perimbangan juga dengan masuknya persoalan logika dan etika. Tuntutan realistis dan moralistik dalam cerpen tetap menjadi perhatian. Jelaslah kehadiran Suci, ibu Ali dan Ali dalam cerpen itu tidak dipaksakan, melainkan utuh sebagai tokoh (antara mengasihi dan dikasihi) dalam lingkungan sosialnya. Pada cerpen Humairah (berangka tahun 2011) unsur kemanusiaan justru mengalahkan ancaman keamanan diri. Memang, terkadang profesi menantang sikap dan keberanian seseorang. Tokoh 'aku'dalam cerpen itu telah membuktikannya. Dia berani ada di tengah-tengah konflik senjata (Israel-Palestina), beri perlindungan sekaligus membawa pulang Ummu Hanie ke Indonesia, menikahinya, lahirlah Humairah (kini berusia 4 tahun) dan dia berani kembali ke pergolakan Palestina-Israel dalan tugas yang sama. Harus diakui, terlihat dalam cerpen Humairah ini, kekuatan itu semakin lama semakin meningkat. Termasuk ide penceritaan pun semakin meluas dan bahkan amat spesifik.Bayangkan, di tengah-tengah gejolak perang, antara hidup (membunuh) dan mati (dibunuh), tokoh aku sebagai reporter tidak hanya melakukan tugas meliput berita, tapi dapat menyempatkan diri untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Pengarang menghendaki, kemanusiaan itu merupakan panggilan hati nurani. Terlepas dari relung kemanusiaan, ada hal yang menjadi perhatian saya. Pertama, ketika Humairah tertidur, ayahnya masuk ke kamar. Setelah bangun, terjadi dialog. Kata Humairah: "Ayah, Ira sudah pandai menulis ..." Seakan Ira baru saja bertemu ayahnya dan memberitahukan kepandaiannya. Padahal mereka bertemu sejak 4 tahun lalu. Kedua, pada dialog-dialog berikutnya, terlihat Ira (Humairah) seperti orang dewasa kecil. Dialog orang dewasa yang cerdas dan komitmen. Padahal Ira baru berusia 4 tahun. Kesimpulan saya, satu, buku Kemameleda, merupakan saksi sejarah / saksi perjuangan WWA sebagai cerpenis masa depan Indonesia. Dua, banyak cerpen tentang cinta manusia, di samping masalah keluarga dan lingkungan sosial. Semuanya menjurus pada kegagalan cinta, kematian, kemiskinan dan kemanusiaan. Tiga, tiap cerpen memiliki kekuatan (plot, narasi pelaku, bahasa) dan kelemahan (detil, pemasungan tokoh, pemakaian kata). Kekuatan estetika harus diimbangi unsur logika, etika, hukum, agama, dan sebagainya. Empat, saya bangga kalau WWA punya antologi. Apalagi kalau isinya bermutu. Saya suka baca cerpen Lara, Ketika Fajar beringsut Malu dan Humairah.
Penulis; Kritikus Sastra dan Dekan FKIP-UISU Medan.
MEMBACA SEKILAS JEJAK PETA KEPENYAIRAN WANITA SUMATERA UTARA
S. RATMAN Suras
Dibanding dengan pria, wanita lebih sedikit yang terjun kedunia sastra, apalagi puisi. Selama satu setengah dasawarsa ini saya melihat perkembangan sastra Sumatera-Utara banyak didominasi kaum pria. Memang satu dua muncul kepermukaan, tapi mungkin karena sesuatu mereka berguguran di tengah jalan. Sesuatu itu bisa
jadi, karena keluarga, cita-cita, karir, dan pekerjaan.
Dalam wacana ini saya tidak akan menyeret kita untuk berdebat tentang puisi atau penyair wanita / pria. Saya hanya mengingatkan kita bersama tentang semangat emansipasi wanita kita lewat sastra. Apalagi kini bulan april sudah mencapai pertengahan.
Perkembangan sastra Indonesia pun sudah mengabarkan kepada kita tentang miskinya penyair wanita. Hanya berapa yang bisa kita catat. Sebut saja, Isma Safitri, Rayani Sriwidodo, Toeti Heraty Noerhadi, Popy Hutagalung, Rita Oetoro, Diah Hadaning, Omi Intan Naomi, Dorothea Rosa Herliany, Azwina Aziz Miraza, Medy Lukito, Ulfathin Ch., Abidah el Khalieqy, dan Helvi Tiana Rosa. Dari nama-nama tersebut di atas hanya beberapa saja yang masih aktif sampai sekarang puisi-puisinya bisa kita nikmati.
Untuk peta kepenyairan wanita Sumatera-Utara sendiri sepertinya nyaris sama, sedikit sekali wanita yang menghiasi blantika sastra khususnya puisi. Dulu kita kenal nama-nama seperti, Murni Aryanti Pakpahan, Laswiayati Pisca, Susi Aga Putra, lalu ada Rosliani, Jerni Martina erita Napitupulu, Rosmaeli Siregar. Ada Aishah Basar, Nur Hilmi Daulay dan Sumiati. Sekilas nama-nama itu mungkin sudah menemukan dunia lain yang dianggap lebih menjanjikan dari dunia kepenyairan.
Memang ada kabar yang menyegarkan bahwa ada regenerasi di kancah perpuisian wanita di sini. Fenomena ini muncul pasca reformasi, banyak bermunculan kelompok-kelompok sastra dari sunia kampus. Nyaris setiap minggu kita bisa membaca puisi-puisi karya wanita kita di media massa cetak. Buku antologi puisi baik tunggal maupun bersama diterbitkan.
Dari hitungan tahun 1995 sampai kini ada beberapa antologi yang bisa dicatat. Antologi puisi Rentang (1995) penerbit Studio Seni Indonesia mengambil 10 puisi terbaik Sumatera Utara, dua diantaranya adalah wanita yaitu, Jerni Martina erita Napitupulu dan Rosmaeli Siregar. Antologi Bumi (1996) penerbit Studio Seni Indonesia bekerja sama dengan Forum Kreasi Sastra Medan mengambil puisi-puisi 18 penyair Sumatera Utara. Hanya ada dua penyair wanita yang mewakili di dalamnya, yaitu Rosliani dan Jerni Martina erita Napitupulu. Lalu antologi serial Tengok (2000) Arisan Sastra Medan (Arsas) yang konon hanya sampai 4 dari 5 rencana terbit. Hanya satu penyair wanita yaitu Aishah Basar. Untuk antologi puisi tunggal hanya dua buku yang sempat saya punya, yaitu Kemuruh Nur Hilmi Daulay Penerbit Laboratorium Medan (2007) dan Benih Rindu karya Sri Yuliani diterbitkan oleh Pustaka Pemuda Medan (2011).
Walau nampak samar-samar namun perjuangan penyair wanita Sumatera Utara masih bisa kita baca. Mereka berjuang tidak hanya berjuang untuk menyuarakan kaumnya, tapi juga secara umum berusaha memotret dan mengkritisi kondisi sosial di sekitarnya.
Aku Tetap Menunggumu
.................................
walau entah berapa kali sudah
bulan purnama hadir
dikala padi kembali berkali-kali di panen
kapalpun sudah berlayar entah beberapa negeri
dan rambut hitamku jadi kelabu
tapi harapku padamu tak pernah luluh dan beku
...............................
Penjelasan wanita setia dan patuh terhadap kekasihnya dituangkan oleh Rosmaeli Siregar dalam puisinya Aku Tetap Menunggumu (Rentang , 1995). Sedang Aishas Basar dalam 12 puisinya yang dimuat dalam tenggok 3 banyak mengangkat tema-tema "Pemberontak" yang disampaikan dengan sangat halus namun nyelekit. Kita baca puisi pendeknya
Yang Tak Sampai
Selembar amarah
tersobek sia-sia
tak siapa membaca
Puisi ini mengandung majas personifikasi berusaha melukiskan kondisi rasa ngilu hati melihat situasi yang sering terjadi di masyarakat kita. Contoh paling baru adalah demo besar-besaran mahasiswa dan rakyat umum tentang harga BBM, toh tetap naik juga walau ditunda. Jadi terasa sia-sia saja apa yang dilakukan para pendemo. Disamping melukiskan pemberontakan kaumnya yang tertindas, Aishah juga menulis puisi balada yang memelas kepada Sri. Rasa putus asa dan nasib yang menimpa kaum wanita hanya bisa dilakoni dengan kata pasrah. Puisi-puisi pendek Aishah terasa padat dengan pilihan diksi yang kuat menciptakan renungan kehidupan yang dalam.
Pencarian jati diri sebagai manusia juga banyak diangkat ke puisi Nur Hilmi Daulay dalam antologi tunggalnya Gemuruh: Pada Pemilik Teduh. Ia sadar bahwa manusia Cuma bisa berencana, Allah SWT yang menentukan segalanya.
........................
padahal sudah membaur lafal namamu menyatu riuhku
sudah kujeritkan cintaku hatiku penuh suara hanya padamu
dan kornea ini tak kenal wajah, tak kenal arah
tangis telah jelma lentera
............................
Nur Hilmi Daulay, dalam antologi ini menulis 68 puisi dengan beragam tema. Lain lagi Benih Rindunya Sri Yuliani, penyair wanita yang satu ini banyak mengangkat tema cinta, rindu, mimpi, dan benci. Cinta tidak hanya percintaan kaum remaja namun cinta yang lebih luas jangkauannya. Kita terasa dihanyutkan alam fitrah manusia.
Ada rindu, sunyi, sepi dan kehampaan. Namun ada juga harapan dan impian karena arus global pada era yang canggih ini alam dieksploitasi sedemikian kejam oleh manusia. Sri merasa miris saat melihat kondisi yang demikian. Cinta kepada ibundanya juga berkali-kali diangkat dalam puisi-puisinya. Salah satunya adalah Bunda.
...............................
menjadi tak sempurna aku
ketika bercermin
kesabaranmu
tak mampu
Kukalahkan dalam
wujud apa pun
saat ini!
aku mencoba belajar sepertimu
sebelum kutempuh kodratmu
menjadi pendamping ksatria
..................... ............
Seiring dengan dinamika kehidupan, penyair-penyair wanita Sumatera Utara pasti akan tetap bermunculan. Kita masih menunggu karya-karya dari Intan HS, Budiah Sari Siregar, Sartika Sari, Sakinah Anissa Maris, Wahyu Wiji Astuti, Ria Ristiana Dewi, Ayu Harahap, Adlya Eka Putri, Winda Sriana, Ulfa Zaini, Febri Mirah Rizky, Zuliana Ibrahim, Dara syahadah, Erni Wirdianingsih, Nur Wida Sari Lubis serta nama-nama lain yang masih terus bekerja keras melahirkan karya-karyanya dalam puisi.
Hal mereka mandek setelah menuju pelaminan itu soal pribadi mereka masing-masing. Kata orang tua kita dulu, wanita apapun profesinya ia tetap berkutat dengan segitiga sama sisi; dapur kasur dan sumur.
Disampaikan Pada Diskusi Omong-Omong Sastra di Uisu 15 April 2012
S. RATMAN Suras lahir di desa Wringin Harjo Kec. Gandrung Mangu Cilacap Jawa Tengah tanggal 8 oktober 1965. Belajar sastra secara otodidak. Buku kumpulan puisinya Gugur Gunung (1996) diterbitkan oleh sanggar Toko Sastra Kecil (ksk) Deliserdang.
Menggugat Kembali Peran Sosial - Politik Sastrawan
Jones Gultom.
BAGIAN klasik dari diskursus sastra adalah menyangkut perannya di tengah gejolak sosial. Bukan soal kontekstual atau tidak, tetapi apakah sebuah karya sastra masih cukup mampu memberi harapan di saat kehidupan sosial-politik sebuah bangsa berantakan, seperti yang terjadi pada negeri ini? Dimanakah sastra kita tempatkan, ketika mendapati masyarakat yang sudah putus asa dengan hidupnya? Saya kira, pertanyaan dan keprihatinan inilah yang mendasari perdebatan tentang politik sastra di Rebana, beberapa waktu lalu. Kini, patut direnungkan lagi, sambil kita menghadapi kenaikan harga BBM, April 2012 ini.
Sayang, tak ada penelitian menjelaskan, seperti apa sebenarnya pengaruh sastra terhadap pembacanya. Tak seperti survey politik yang lazim dilakukan, terutama menjelang pemilu. Mungkin ini yang membuat banyak sastrawan kita gamang, tak percaya diri, lantas tak berani bicara sosial-politik. Lantas berapologi, sastra harus tak berpihak. Dengan sikap seperti ini, wajarlah jika kemudian sebagian besar akhirnya beralih profesi, walau tetap mengaku sebagai sastrawan.
Sejarah perkembangan sastra di Indonesia, setidaknya diklasifikasikan atas beberapa bagian, antara lain; Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 2000 dan Angkatan Reformasi. Pengelompokan ini lebih didasari fokus garapan dan kurun waktu yang berlangsung. Ada juga versi yang memilah berdasarkan ketokohan sastrawannya. Sebut saja Angkatan 45 dan 66 yang populer karena kehadiran Chairil Anwar dan Taufik Ismail. Masing-masing angkatan menyuguhkan ciri khasnya sendiri. Angkatan Pujangga Lama misalnya, lahir untuk memberontaki mitos-mitos yang berlaku dalam sistem masyarakat tradisi. Seperti yang diangkat dalam novel Siti Nurbaya, oleh Marah Rusli. Fungsinya kemudian berkembang di masa Angkatan Balai Pustaka. Seiring mulai terbentuknya konsep negara kesatuan, rasa nasionalisme pun mulai tumbuh di kalangan cendikiawan.
Di fase itu sastra mengambil peran ganda, karena juga dijadikan sebagai alat perlawanan terhadap kolonialisme. Meski ada berpendapat sebaliknya; angkatan ini merupakan underbow Belanda, sehingga memunculkan Angkatan Pujangga Baru sebagai tandingan, yang kemunculannya sekurun waktu dengan Angkatan Balai Pustaka.
Selanjutnya, seiring masuknya peradaban millennium yang dirayakan di segala penjuru dunia, menandai kelahiran Angkatan 2000 dengan cirinya yang postmo, walau sebagian sastrawannya adalah Angkatan Pujangga Baru. Di masa ini, karya-karya sastra bermunculan dengan ragam warna dan corak. Babakan masing-masing angkatan ini bukanlah rentang waktu proses kreatif sastrawannya, namun setidaknya boleh dianggap sebagai fase "puncak" kemunculan mereka.
Dari perjalanan sejarah ini, setidaknya kita menemukan beberapa hal. Pertama, bersastra juga merupakan cara untuk melibatkan diri dalam situasi sosial perpolitikan. Dengan begitu sastrawan juga adalah seorang sosiolog bahkan politikus. Kedua, karena memadukan realita dengan kedalaman insight yang dimiliki, sastrawan bahkan setingkat lebih tinggi dari seorang ilmuwan. Ketiga, karena kebiasaannya yang reflektif, sastrawan pun dianggap sebagai "ahli nujum" yang tahu membaca masa depan. Syarat-syarat inilah yang menjadikan karya seorang sastrawan menjadi penting untuk dibaca. Sejarah Indonesia juga membuktikan, para sastrawanlah yang membangun bangsa ini. Atau setidaknya dia juga melakukan kerja-kerja politis.
Sejak Ronggowarsito sampai M. Yamin. Dari AA. Navis sampai Mukhtar Lubis. Pramoedia, Goenawan Muhammad, Rendra, Arief Budiman, Fuad Hassan, bahkan Gusdur. Tokoh-tokoh ini didengar bukan semata-mata karena karya sastranya, tapi juga kerja politiknya yang didasari atas karakter kesastrawanannya. Tak heran jika Soekarno pernah menyitir; "jika fakultas kedokteran ditutup, maka 3-5 tahun ke depan kita akan kekurangan dokter. Begitu juga jika fakultas hukum ditutup, maka 3-5 tahun lagi kita akan kekuranagn hakim dan pengacara. Jika fakultas sastra ditutup, bahkan di seluruh universitas dunia, sastrawan tetap akan muncul dengan sendirinya." Karena seorang sastrawan bisa saja lahir dari gejolak sosial, ekonomi, budaya, terutama politik.
Angkatan Reformasi (?)
Sama dengan angkatan-angkatan sebelumnya, Angkatan Reformasi lahir juga mengusung semangatnya sendiri. Terbukanya kran berkreativitas sebebas-bebasnya, disambut para sastrawan di penjuru nusantara. Tidak jelas siapa yang pertama kali memunculkan istilah ini. Angkatan ini digawangi oleh sejumlah sastrawan yang mencuat serta didasari oleh semangat reformasi. Sayangnya Angkatan Reformasi ini tidak setangguh angkatan-angkatan sebelumnya, terutama jika dikaitkan dengan moment yang melahirkan mereka. Bahkan angkatan ini nyaris tak memunculkan satupun sastrawannya, kecuali Wiji Thukul. Momentum reformasi gagal membesarkan angkatan ini. Dia kalah progresif dengan dunia sosial dan politik yang sukses besar melahirkan tokoh-tokoh politik yang kini menjadi icon. Tak heran, hampir tak ada karya sastra yang terbilang penting, bagi keindonesiaan, lahir di fase ini. Sampai kemudian tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata pun berkibar.
Dalam kaitannya dengan sosial-politik, dunia sastra di masa sekarang ini, boleh dibilang gagal, karena tak memberi sumbangan yang cukup berarti. Ketika korupsi dimana-mana, harga-harga melambung tinggi, konspirasi yang merajalela, masyarakat yang berubah anarkis, kemiskinan, pembohongan publik, seperti yang berlangsung sekarang, dimanakah suara sastrawan?
Saya termasuk rajin mengamati opini-opini yang dimuat di media massa lokal dan nasional. Hanya ada 1-2 sastrawan yang rajin memberikan pemikirannya, termasuk sekedar menunjukkan simpati. Padahal ketika kongres sastrawan diadakan, pesertanya bisa sampai membludak.
Menurut saya, banyak hal yang menyebabkan ketimpangan ini. Pertama, para sastrawan kita tak mampu dan tak terbiasa mengangkat isu-isu sosial-politik dalam karyanya. Ketika reformasi meletus, para sastrawan gagal menangkap momentum itu. Dinamika sosial-politik bergerak ibarat bola salju, dunia sastra kita masih terjebak dengan indetitas angkatan sebelum-sebelumnya. Akhirnya sastrawan kita tak mampu mengejar isu dengan perwujudannya yang kontekstual. Wajar jika kemudian masyarakat yang sempat betah membaca karya sastra, pergi menjauh. Ditambah lagi dengan bergesernya perhatian industri penerbitan dari karya sastra.
Saya kira, inilah efek dari kebiasaan para sastrawan yang terdogma dengan sentralisme media. Para sastrawan "mati-matian" bermanuver, membahas bahkan menduga-duga seperti apa ciri yang diminati media yang dinilai prestius itu. Alhasil, proses kreatifitasnya hanya sekedar ambisi-publikasi. "Semangat" itupula yang membuatnya lupa dengan dunia di luar sastra yang semakin "panas" itu.
Kedua, eforia Angkatan 2000 yang belum selesai. Seperti disinggung sebelumnya, keanekaragaman karya sastra kita memuncak di Angkatan 2000. Afrizal Malna muncul dengan puisi instalasi urbannya. Joko Pinurbo menyuguhkan puisi filsafat eksitensi yang mengkontruksi benda-benda keseharian. Pada cerpen ada Seno Gumira Aji Darma, yang gemar mendramatisir sesuatu yang realita maupun fiksi dengan penekanan pskilogis. Begitu juga Hudan Hidayat yang sukses mendekonstruksi teori-teori psikologi, termasuk pewayangan. Di novel yang cenderung didasari semangat feminis, berhasil melahirkan novelis-novelis bermutu semisal Ayu Utami, Djenar, Dewi Lestari yang menghadirkan "keharuman" karyanya masing-masing.
Pengaruh para sastrawan ini masih cukup kuat sekaligus menghipnotis para sastrawan Angkatan Reformasi. Alhasil Angkatan Reformasi sampai ini belum menemukan jati diri di zamannya sendiri.
Kalah Langkah
Tulisan ini tidak hendak mendiskreditkan para sastrawan Angkatan Reformasi maupun karya-karyanya. Kenyataannya, sastra kita sekarang ini tak mampu berbuat apa-apa bagi masyarakat, khususnya pembaca, adalah hal penting yang harus dijawab.
Sebagai perbandingan, ketika gejolak sosial-politik melanda Bangsa Indonesia, setidaknya satu dekade ini, hampir tak didapati karya-karya sastra yang mengangkat situasi ini. Justru kiblat sastra semakin liar, bahkan, mengutip istilah Yulhasni- konteks-teksnya makin semu. Bilapun kearifan lokal yang coba digagas kembali sebagai alternatif postmodrenisme, justru terperangkap pada kedangkalan tafsirnya sendiri.
Kemampuan dialektis sastrawan yang dangkal menjerumuskan sastrawan ke dalam mahzab yang sempit; sekedar penanda identitas kelompok-kelompok masyarakat. Sebaliknya, agresivitas sosial-politik yang makin tak terbendung itu, kini makin merangsek ke seluruh sendi kehidupan masyarakat. Saya khawatir, adakah situasi ini menjadi kekhawatiran para sastrawan?
Kritikus Sastra di Sumut Ketinggalan Zaman
Yulhasni.
Akhirnya, posisi dan kebutuhan mengkritisi karya tidaklah seburam gumaman Yulhasni. Biarkan dia mengalir seirama zaman. Mengapresiasi atau mengkritisi kembali apakah dengan atau tanpa teori, selama kita memahami, kritik dimaksudkan untuk menemukan solusi bukan menambah konflik, silahkan saja. Toh, tanpa kritikus sastrawan tetap lahir. Lantas bagaimana sebaliknya? Terserah kita menafsirkannya. Salam.
Sengaja saya mengutip tulisan M Raudah Jambak berjudul ‘’Tanpa Kritikus Sastrawan tetap Lahir’’ di rubrik Rebana harian ini (1/4) untuk membuka sebuah tahapan pemahaman kita tentang kritik dan cara pendekatannya, terutama jika dikaitkan dengan sastra di Sumatera Utara. Tulisan itu muncul sebagai respon atas tulisan saya berjudul ‘’Minimnya Teori Kritis terhadap Karya Sastra Sumut’’ yang dimuat harian ini pada 18 Maret 2012.
Sejarah panjang kritik sastra Indonesia tentu melahirkan bermacam pendekatan. Pada level tertentu di beberapa perguruan tinggi, pendekatan karya sastra masih melekat dalam satu konsep ‘’sastra yang otonom’’. Cara pandang ini sebenarnya telah lama ditinggalkan oleh kaum akademisi di beberapa daerah, terutama Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Cara pandang seperti itu, meminjam Faruk HT, erat kaitannya dengan bagian integral dari kritik sastra Indonesia modern yang bermetamorfosis dari cara pandang sastra modern yang berkisar pada soal oposisi hierarkis antara kebenaran dengan kesemuan; kenyataan dengan representasi; dan kedalaman dengan permukaan.
Konsep bahwa sastra adalah dunia yang otonom mengakibatkan tidak terjadinya proses dialektika dalam kritik sastra di daerah ini. Saya kemudian harus memberi catatan penting soal betapa tertinggalnya daerah ini dalam hal kritik sastra itu sendiri.
Cara pandang kita terhadap sastra, terutama yang dimuat di media cetak di daerah ini, seringkali alergi dengan perkembangan teori sosial yang berkembang di dunia. Bahkan lebih ironisnya, di perguruan tinggi pun, teori-teori sosial baru yang kemudian bermuara kepada pendekatan karya sastra, ternyata tidak mendapat tempat. Alhasil, studi mahasiswa pun akhirnya terpola kepada model teori struktural yang sebenarnya telah jadi fosil tersebut.
Model pendekatan karya sastra di daerah ini sudah semestinya diarahkan kepada bentuk-bentuk baru dalam teori ilmu sosial. Sastra tidak lagi harus berdiri di menara gading yang dengan sendirinya harus dipahami dalam teks tertulis saja. Memahami beberapa novel sejarah seperti Berjuta-juta dari Deli karangan Emil W Aulia atau Acek Botak karya Idris Pasaribu, semestinya harus didekati dengan model teori postkolonial. Jika teks dalam kedua karya ini didekati dengan model struktural, maka esensi utama dari keduanya tidak akan tercapai. Teori postkolonial memungkinkan teks dalam kedua novel, dipahami sebagai pesan penting tentang penindasan model Barat atas Timur. Satu konsep yang sejak lama sudah diperkenalkan oleh Edward Said.
Beberapa puisi, cerpen, naskah drama dan novel telah lahir di daerah ini. Selalu saja penilaian atas karya tersebut berhenti pada struktur karya, tanpa mampu memberi ruang pemikiran yang lebih luas tentang apa di balik teks karya tersebut.
Bangku perkuliahan semestinya cepat keluar dari kungkungan teori-teori klasik yang telah usang. Dalam sejarah pendekatan karya sastra, perkembangannya begitu cepat. Kita mengenal urutan teori sastra, yakni teori moral, teori ekspresif, biographical criticism, new criticism, psikoanalisis, marxisme, reader response (resepsi), strukturalisme, postrukturalisme dan dekonstruksi, posmodernisme, feminisme, new historicism, poskolonialisme dan cultural studies.
Pada saat sekarang, ketika berbagai ilmu sosial berkembang, teori pun mengikutinya lewat seperangkat metode yang digunakan. Makanya, konsep Critical Analysis Discourse (CDA) atau Analisis Wacana Kritis menjadi relevan dikembangkan untuk melihat kesejatian karya sastra di daerah ini. Widyastuti Purbani dalam tulisan berjudul ‘’Metode Penelitian Sastra’’ menulis kata kritis (critical) dalam CDA membawa konsekuensi yang tidak ringan.
Pengertian kritis di sini bukan untuk diartikan secara negatif sebagai menentang atau memperlihatkan keburukan-keburukan dari subjek yang diperiksa semata. Kata kritis menurut Ruth Wodak -seorang pemikir neo-marxis yang banyak dipengaruhi Mazhab Frankfurt model Jurgen Habermas- hendaknya dimaknai sebagai sikap tidak menggeneralisir persoalan melainkan memperlihatkan kompleksitasnya; menentang penciutan, penyempitan atau penyederhanaan, dogmatisme dan dikotomi. Kata kritis juga mengandung makna refleksi diri melalui proses dan membuat struktur relasi kekuasaan dan ideologi yang pada mulanya tampak keruh, kabur dan tak jelas menjadi terang. Kritis juga bermakna skeptis dan terbuka pada pikiran-pikiran alternatif.
Dengan menggunakan metodologi seperti ini, kita mampu menangkap pesan-pesan penting adanya relasi kekuasaan pada novel Berjuta-juta dari Deli dan Acek Botak. Kungkungan struktur yang membangun kedua novel tersebut tidak lagi sebagai hal yang harus diributkan, ataupun kemudian ditarik berbagai cara untuk mengkaji dalam konsep sastra yang otonom tersebut.
Karya-karya sastra di daerah ini mungkin terlalu banyak yang berbicara tentang protes sosial atas ketidakadilan majikan (tuan) terhadap buruh, terutama jika mencermati praktik dehumanisasi di perkebunan. Sayangnya, dalam studi-studi sastra kontemporer di daerah ini, terlalu sedikit yang mencoba melirik karya tersebut lewat pendekatan baru dalam ilmu sosial. Selain itu karya-karya sejenis ini telah lama dikubur oleh rezim Orde Baru karena dinilai bagian dari sebuah model gerakan politik, seperti apa yang terjadi pada karya-karya pengarang pengikut Lekra. Hal yang sama juga terjadi terhadap karya sastra etnis Tionghoa yang hilang tak berbekas sebagai akibat praktik ‘kasar’ Orde Baru.
Sastra Melayu-Tionghoa atau Sastra Indonesia-Tionghoa, seperti ditulis Irwansyah, adalah sastra kaum minoritas. Nasibnya tampak lebih jelek dari roman picisan dan novel pop. Kedua yang disebut terakhir, hanya dipandang dengan sebelah mata, sedangkan sastra Indonesia Tionghoa hanya dilirik sekilas. Ketiganya seakan-akan tidak punya andil dalam dunia sastra Indonesia.
Patut disayangkan, karena model pendekatan dalam kritik sastra di daerah ini masih percaya kepada struktur karya yang mengakibatkan banyak karya sastra yang tidak mendapatkan apresiasi dari pembaca. Kritikus sastra -entah ada atau tidak di daerah ini- terperangkap kepada satu model yang keliru, yakni melihat karya hanya dalam batasan karya sebagai bentuk yang otonom. Kekeliruan ini akibat studi sastra yang juga keliru dalam menerjemahkan perkembangan teori sastra di Indonesia.
Penilaian karya sastra tidak berhenti hanya pada persoalan layak atau tidaknya seorang redaktur media cetak menilai sebuah karya. Sayangnya tulisan Raudah Jambak keliru menafsirkan pemikiran saya tentang apa itu ‘teori kritis’ dan ‘kritik teoritis’. Teori kritis memandang sastra dengan konsep antiotonom, sedangkan kritik teoritis merupakan model kritik terhadap karya sastra dengan menggunakan metode-metode tertentu. Tidak ada hal yang krusial ketika seorang redaktur media cetak menjadi penilai karya sastra, akan tetapi konsep yang saya maksud adalah peranan ‘orang luar’ terutama mereka yang selalu mengaku sebagai kritikus sastra di daerah ini untuk tidak terkungkung dengan metode pendekatan yang sudah kadaluarsa alias ketinggalan zaman.
Penulis; Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMSU dan Mahasiswa Pascasarjana Linguistik USU
Tanpa Kritikus Sastrawan akan Tetap Lahir
M. Raudah Jambak.
Terlalu banyak persoalan yang berhubungan dengan sastra atau kritik sastra yang menarik untuk dibicarakan. Lebih menariknya lagi, persoalan yang mengemuka selalu itu ke itu saja. Tak pernah selesai. Tak jelas ujung-pangkalnya. Setiap kali diulang masih selalu saja mencuri perhatian kita. Masih tetap menarik untuk disimak.
Setiap tahun persoalannya selalu sama. Bahkan tawaran penyelesaiannya juga tak jauh beda. Terhitung tahun, bulan, minggu, hari, maupun detik. Tak ada yang berbeda. Decak kagum selalu mencuat ke permukaan. Persoalannya, apakah kita sudah terbiasa mengulang-ulang yang sudah ada? Justru kita memang tumpul untuk menciptakan sesuatu yang baru. Apakah kita sudah imun dengan yang namanya kemajuan, sehingga tidak mampu lagi menjadi seorang penemu, pemikir atau penggali yang jenius terhadap karya-karya yang hadir.
Kita maklum, produktivitas (kreativitas) karya jauh melesat kuantitasnya. Ratusan bahkan ribuan karya tak terbendung lagi kehadirannya. Untuk hal itu kita mau tidak mau harus angkat jempol sekaligus angkat topi.
Pun, termasuk berbagai ulasan yang hadir. Baik itu sebatas apresiasi, bahkan kritik. Apresiasi karya atau apresiasi hasil apresiasi. Kritik karya atau kritik hasil kritik. Kita pernah membaca tulisan Sitor Situmorang tentang, Krisis HB Jasin dalam Mimbar Indonesia Th. IX No. 2-3; sastra di Indonesia sedang mengalami krisis ukuran.
Pengukuran pencapaian estetika karya menentukan seberapa pentingnya (berpengaruhnya) seorang sastrawan. Baginya, setiap sastrawan dan karyanya harus dikaji dengan ide-ide yang melingkupinya. Dalam hal ini, lantas tentu tidak meletakkan karya sastra di atas timbangan atau dipeluk penggaris. Kita tidak terjebak dengan pemerkosaan ide dalam sebuah karya sastra. Memang batasan antara struktural, estetika dan ide sangat tipis. Ruskin melihat hal ini mengatakan, keindahan karya ditentukan oleh keluhuran perasaan yang diungkapkannya.
Kemampuan merasakan atau kepekaan tidak lepas dari selera. Seperti halnya Hazlitt, seorang kritikus, menilai tidak lebih dari selera (taste)-nya, tapi dengan sejumlah alasan dan data dari karya sastra. Selera baginya, "kepekaan rasa terhadap berbagai macam tingkatan dan jenis kejeniusan dalam karya-karya seni…" Penilaian, tambahnya, seperti halnya memberi penghormatan pada karya sastra.
Seperti apa yang telah digumamkan oleh Yulhasni, studi sastra dalam perkembangannya di tanah air selalu melahirkan berbagai wacana dan polemik yang menarik untuk dicermati. Pada dekade 80-an dan 90-an, studi sastra dalam pendekatannya pernah dihebohkan dengan munculnya gerakan postmodernisme atau sering disebut sebagai pascastrukturalisme. Pada masa itu kemudian teori dekonstruksi Derrida jadi wacana yang menghangatkan diskursus sastra di Indonesia. Sebelumnya A. Teeuw menyentakkan dunia akademisi di Indonesia dengan esainya ‘’Tentang Paham dan Salah Paham dalam Membaca Puisi’’. Dalam esainya, profesor Belanda ini menyatakan ketidakpuasannya atas hasil analisis dosen sastra terhadap dua sajak modern Indonesia.
Begitulah, dunia akademisi dengan seperangkat teori yang dikunyah lewat rak-rak buku, jadi bentangan kesia-sian belaka. Barangkali memang ada kesalahan pemahaman ketika berhadapan dengan teks sastra.
Di Sumatera Utara, nyaris tidak dapat ditemukan studi kritis yang lebih menukik saat berhadapan dengan karya sastra di daerah ini. Bahkan saat membaca beberapa tulisan di rubrik Rebana ini, baik berupa ulasan terhadap cerpen, puisi, maupu novel, hampir semuanya terperangkap pada pendekatan yang mengabaikan proses pembacaan yang kritis.
Mungkin telah terjadi kekeliruan yang menahun di bangku perkuliahan ketika mahasiswa disodorkan seperangkat teori sastra. Lebih memprihatinkan teori yang disodorkan, sama sekali keluar dari realita teks itu sendiri. Alhasil, dalam model pendekatan struktural, teks hanya dimaknai sebagai satu yang otonom tanpa ada faktor luar yang mempengaruhinya. Inilah faktor penyebab mengapa kemudian sastra menjadi kering saat dibedah oleh kaum akademisi. Di lain pihak, tema dan gagasan tentang karya sastra di Sumut masih bicara tentang kelamin, sesuatu yang sebenarnya adalah cerita lama dalam khazanah sastra Indonesia.
Beberapa karya sastra yang lahir di Sumatera Utara, terutama yang terbit di media cetak, diyakini tidak pernah mampu dikritisi secara cermat. Bahkan dalam praktik pendekatannya, tiga bentuk pertanyaan yakni (1) bagaimana cara menafsirkan isi karya sastra, (2) bagaimana dan kenapa suatu karya sastra diciptakan, dan (3) apa implikasi sosial budaya dari karya itu, pada kenyataannya tidak mampu terjamah kaum akademisi sastra. Pada bagian inilah kemudian muncul pendekatan Teori Kritis untuk menjawab tiga pertanyaandi atas.
Gumaman itu, tetap menarik dicermati, apalagi beberapa waktu lalu, juga acap kita membaca apresiasi plus kritik yang mengemuka. Misalnya persoalan politik dan kritik, jenis kelamin sastrawan dan sebagainya.
Saya pernah menulis dalam bentuk kertas kerja Omong-Omong Sastra beberapa waktu lalu tentang "Kritikus dan Sastrawan saling kehilangan" dan "Dimana keberadaan Kritikus ketika Sastrawan tidak lagi berkarya", serta "Masih perlukah kritik?".
Ketika kita berbicara persoalan zaman, mungkin kritikus masih layak mendapatkan posisi terhormat, jika kita bicara masa lalu. Zaman sekarang dengan media yang cukup menjanjikan misalnya, selain surat kabar dan majalah, kita bisa mengirimkan ke media-media online.
Masuk ke persoalan gumaman Yulhasni, apakah masih perlu kritik ketika redaktur sudah bertindak sebagai kritikus terhadap karya yang masuk. Ketika kita bicara tentang kritik teoritis terhadap karya, maka dimanakah posisi skripsi atau thesis yang lahir selama ini? Berharap kritik teoritis masuk dalam surat kabar atau majalah, yang perlu kita pertanyakan, apakah kualitasnya tercapai? Bagaimana dengan buku?
Minimnya teori kritis terhadap karya sastra Sumut disinyalir oleh Yulhasni tentang, beberapa ulasan terhadap karya sastra di rubrik ini, misalnya, tidak menyentuh kepada substansi teks yang hendak dikritik. Tulisan Jones Gultom berjudul Sastra Medan Krisis Estetika, (Analisa, 26 Februari 2012) menarik dicermati, karena sebenarnya ada ruang untuk mengatakan, proses kreativitas anak Medan hanya berhenti pada katarsis. Lebih jelas jika teks-teks puisi dipaparkan dan dilihat pada bagian mana sebuah puisi dikatakan berhenti pada katarsis. Sejumlah tulisan Mihar Harahap dalam kaitan bedah cerpen Rebana, mestinya harus meletakkan teks secara mandiri. Dalam dekonstruksi, pemahaman terhadap sebuah teks lebih mandiri, tanpa didominasi pemikiran yang sudah tertanam dalam masyarakat.
Pada tulisan Mihar Harahap berjudul Membaca Cerpen Rebana April 2011 (Analisa, 8 Mei 2011), misalnya, sejumlah cerpen yang dikritisi tidak memiliki kekuatan konflik dan perwatakan yang jelas. Dalam dogma strukturalis, kajian seperti ini memang diarahkan ke pembangunan struktur karya. Sejatinya dalam kajian Teori Kritis, tidak perlu sekali dilihat strukturnya melainkan apa di balik teks-teks yang tertulis.
Kelemahan mendasar dalam pendekatan terhadap karya sastra di Sumut, tidak karena faktor pembacaan yang tidak intensif. Ada bangunan besar dalam studi sastra di daerah ini yang salah, karena terlalu lama menuhankan strukturalisme sebagai nabi teori sastra.
Literatur terkait Teori Kritis sama sekali jarang diajarkan di perguruan tinggi karena faktor ketiadaan bahan, tenaga pengajar yang tidak memahami dan tentu saja karena ketidakbutuhan kita pada hal-hal yang baru.
Akhirnya, posisi dan kebutuhan mengkritisi karya tidaklah seburam gumaman Yulhasni. Biarkan dia mengalir seirama zaman. Mengapresiasi atau mengkritisi kembali apakah dengan atau tanpa teori, selama kita memahami, kritik dimaksudkan untuk menemukan solusi bukan menambah konflik, silahkan saja. Toh, tanpa kritikus sastrawan tetap lahir. Lantas bagaimana sebaliknya? Terserah kita menafsirkannya. Salam.
Penulis; Direktur Komuntias Home Poetry dan Dosen Ilmu Komunikasi Filsafat Panca Budi Medan.
MEMILIH TIDAK MEMILIH ADALAH PILIHAN
M. Raudah Jambak.
Kita adalah makhluk cerdas yang porsi fisik dan psikisnya, berbeda dengan makhluk yang lain. Kecerdasan itulah membuat manusia mampu menjadi seorang kreator. Sebagai seorang kreator, manusia mampu menjadikan peristiwa di sekitarnya menjadi kata, menjadi makna, menjadi sesuatu. Termasuk menjadi ruh karya seni maupun KARAYA budaya. Kita bisa menafsirkan 'seuatu' itu menjadi apa dan siapa saja. Tentu masing-masing punya dasar pemikiran berbeda.
Dasar pemikiran yang kita maksudkan adalah kejujuran berkarya. Dengan kata lain, motivasi apa yang melatarbelakangi seseorang itu berkarya. Bisa karena uang, bisa karena ingin terus mengasah ketajamannya berkarya dan lain sebagainya. Apapun dia, kreator itulah yang tahu. Kita tidak berhak langsung memvonisnya harus begini dan begitu. Seperti yang pernah disinggung oleh Hang Kafrawi. Peristiwa yang terhampar di alam ini, merupakan ruh karya seni. Bukankah seniman 'pembajak' yang handal menjadikan hamparan peristiwa 'taman bunga' tempat pikiran manusia lainnya bermain? Di taman bunga itulah manusia diharapkan menafsirkan peristiwa yang terjadi dengan hati nurani, sehingga bermunculan bunga kesadaran untuk mengenal diri lebih dekat lagi. Inilah hakikat karya seni; dapat menjadi penyuluh bagi manusia. Pada hari ini, seniman seakan kehilangan ruh untuk menukangi karya seni dengan realitas yang terjadi di sekitarnya. Bermunculanlah karya seni yang 'menjauh' dari kondisi masyarakat. Dalam karya seni, seniman hanya bercerita tentang keluh-kesah pribadi; tersebab putus cinta (sebagai salah satu contoh). Karya seni bukan menjadi keluh-kesah universal, tapi lebih banyak kegelisahan individu sang seniman. Karya seni tak menyentuh hati orang banyak, dia berjalan sendiri dengan 'kelukaan' yang maha sunyi. Mungkinkah peristiwa yang terjadi di negeri kita pada hari ini melebihi perasaan sensitif para seniman? Kita setiap hari disuguhi peristiwa yang mengiris hati nurani; seorang nenek mencuri kakau diganjar hukuman lima tahun penjara. Seorang anak mengambil sandal jepit 'dipelasah' dengan hukum penjara. Penegak hukum dengan perkasanya menghabisi nyawa tahanan yang tergolong muda. Pihak keamanan yang tidak berpihak kepada rakyat dengan leluasa melepaskan tembakan ke rakyat kecil. Seorang ibu dituduh mencuri enam buah piring majikannya dan dihukum penjara selama 140 hari. Peristiwa perih ini, nyata adanya dan orang banyak tidak membutuhkan interpretasi seperti menafsirkan karya seni. Hati nurani manusia mendiami negeri ini senantiasa diusik dengan kejadian perih yang terus menikam keibaan. Gelombang kelukaan semakin besar menghempas ke tepi hati, namun kita tetap berdiri dengan kesedihan yang datang sesaat saja. Semakin jauh peristiwa perih itu berlalu, semakin lupa kita dengan peristiwa itu. Kita pun dihadapkan dengan peristiwa nyata yang lain pula. Sebagai seniman, yang katanya diberi perasaan lebih dibandingkan dengan manusia lainnya, seharusnya peristiwa nyata itu diabadikan dalam karya seni. Karya seni yang mampu terus menggoyang hati nurani manusia negeri ini untuk selalu ingat dengan peristiwa nyata itu. Dengan demikian, rasa kasih sayang sesama manusia negeri ini terus menyala, sehingga sedikit banyak karya seni dapat membakar perasaan manusia untuk mengenal akan dirinya. Penyebab dari segala peristiwa di muka bumi ini, berawal dari diri manusia itu sendiri. Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, Pasal 1, bait 4 mengatakan,'' Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal Tuhan yang bahari.'' Begitupun Budi P. Hatees ada menyinggung, jika seseorang memperbaiki kemampuannya mengolah karakter, lalu menghasilkan bukan saja sajak, juga cerpen, novel, esai atau naskah drama, tentu saja bukan hal mustahil dilakukan. Orang itu pada dasarnya bekerja dengan ide juga pengalaman, maka ide dan pengalaman tinggal diolah agar menjadi bagian yang organis dengan karya sastra. Sangat mungkin jika hasil olahan itu justru memunculkan hal-hal baru, seperti strategi-strategi baru teks sastra. Tidak heran bila akhir-akhir ini dunia kreativitas cerpen mengalami perubahan dengan masuknya strategi teks puisi ke dalam pola penulisan cerpen. Artinya, kepiawaian seseorang dalam menulis sajak, cerpen, esai dan naskah drama akan saling mendukung hingga tercipta karya-karya sastra yang lebih andal. Seniman melalui karya seninya, membawa kebenaran-kebenaran untuk kepentingan orang banyak. Karya seni tidak berpihak kepada siapapun, tetapi karya seni berpihak kepada kesadaran akan pentingnya kemaslahatan manusia. Dengan kesadaran, manusia saling mengerti satu dengan lainnya, maka terciptalah keharmonisan, keseimbangan hidup manusia. Nilai keindahan dalam karya seni adalah ketika karya seni itu memiliki manfaat atau keuntungan bagi setiap manusia. Dengan demikian, karya seni mengambil posisi sebagai penetral kondisi. Karya seni tidak berpihak pada kaum tertindas dan tidak juga menyebelah kepada yang menindas. Untuk kaum tertindas, karya seni menjadi pembangkit semangat untuk tetap berusaha lepas dari penindasan. Menyadarkan diri bahwa ketertindasan harus tetap dilawan; hidup adalah perjuangan yang tak pernah usai. Karya seni memberikan cahaya ke hati tertindas sementara untuk kaum penindas karya seni dapat dijadikan indikator jalan untuk tidak melakukan penindasan. Bukankah manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta sama di mata-Nya? Karya sastra membongkar kesadaran kebersamaan itu. Senada juga dengan apa yang disampaikan oleh Hasan Al Banna, sesungguhnya, masing-masing aliran dalam sastra, khususnya puisi dan cerpen menyimpan perangainya sendiri-sendiri. Keduanya berada dalam posisi 'berdiri sama rendah berdiri sama tinggi'! Lantas, sangat terbuka kemungkinan untuk seorang kreator fiksi untuk menunaikan salah satu atau keduanya sekaligus. Tidak mudah menyodorkan bukti, seorang kreator fiksi yang di masa awal kepenulisannya memilih "berkelamin tunggal" akan lebih baik ketimbang kreator fiksi yang membiarkan dirinya "berkelamin ganda". Pun sebaliknya. Intinya, proses kreatif penulis mustahil serupa. Memang, mengacu pada berbagai proses kreatif sejumlah sastrawan, banyak yang melalui peristiwa berkarya secara berjenjang, satu demi satu. Bukan tidak ada sastrawan yang sukses menjalani status "kelamin ganda" sejak masa awal kepenulisannya. Paling tidak, pilihan "berkelamin ganda" sejak masa awal kepenulisan malah memberinya jalan untuk pada akhirnya menentukan "kelamin" mana yang paling dibanggakan dan seterusnya dipelihara setekun-tekunnya. Inilah permasalahan yang dihadapi dunia seni di negeri ini. Selalu menganggap kehidupan nyata yang berhubungan dengan orang banyak tidak penting lagi dirangkai menjadi karya seni yang berkualitas. Padahal seniman selalu ditunggu untuk menghasilkan karya yang mampu 'membaca' peristiwa yang terjadi dengan mengedepankan kejernihan. Dari kejernihan inilah, manusia meneguk kesegaran untuk berbuat lebih baik lagi. Kalaulah dapat diibaratkan, karya seni itu seperti baut, penting di sebuah mesin, tanpa baut itu, mesin tidak bisa dihidupkan. Mungkin saja disebabkan faktor globalisasi membuat seniman 'membanting setir'; seniman harus menghasilkan karya seni yang instan dan berbau pop. Dari penyair menjadi cerpenis dan sebagainya. Mereka tak mampu bertahan dari godaan kaum kapitalisme yang hanya mengedepankan keuntungan. Seniman juga dipaksa untuk memproduksi karya seni hanya untuk hiburan, tanpa memikirkan makna yang lebih dalam. Karya seni diukur seberapa banyak orang senang dan berapa duit yang diperoleh dari karya seni itu. Masalah sosial dikesampingkan karena tidak menarik untuk dijual. Bukan 'mengharamkan' budaya populer, tetapi kemaslahatan orang banyak harus dikedepankan. Apalah arti sebuah karya seni ketika hanya sesaat karya seni itu berarti. Seharusnya karya seni itu bertahan dari segala waktu, berbuah di sembarang musim, bermanfaat kapan saja. Inilah karya seni seharusnya. Kembali pada peristiwa yang terjadi di negeri ini, memang terasa berat rasanya seniman mengokah realitas tersebut menjadi karya seni yang mampu melantas ke hati setiap orang. Demikian, bukan berarti seniman harus menyerah dan menyelewengkan hati nurani dengan membiarkan realitas itu terkapar tak berdaya. Akhirnya, Ys. Rat memberi garis lurus permasalahan yang dikemukakan, pada dua tulisan sebelumnya, Kapan Sastrawan Pemula Menentukan Kelamin? oleh Hasan Al Banna dan Sastrawan tak Ditentukan Usia oleh Budi P Hatees, di bersamaan di Rubrik Rebana (Analisa, Minggu, 26 Februari 2012). Sebagai pemicu jelas, tulisan saya berjudul, Menjadikan Jelas "Kelamin" Sastrawan Pemula di rubrik dan surat kabar sama (Minggu, 12 Februari 2012). Bermula dari niat sekadar mengabarkan sejumlah perbedaan kondisi yang mempengaruhi dan kebiasaan antara para pemilik bakat sastrawan dekade 1980-an , sampai menjelang akhir 1990-an. Demikian pula mereka yang mulai bergiat pada tahun 2000-an dan sekedar saran yang sebaiknya dilakukan, dugaan akan munculnya reaksi tak pernah melintas di benak penulis. Terutama yang diarahkan terhadap sepenggal saran, para pemilik bakat sastrawan hendaknya juga merasa perlu memiliki "kelamin" yang jelas, dalam artian pada masa-masa awal berkarya tak sekaligus merangkap menciptakan puisi dan cerpen misalnya. Baik terhadap tulisan Kapan Sastrawan Pemula Menentukan Kelamin? oleh Hasan Al Banna, maupun Sastrawan tak Ditentukan Usia oleh Budi P Hatees. Berkenaan dengan tanggapan dan pendapat mereka tentang saran penulis hendaknya para pemilik bakat sastrawan merasa perlu memiliki "kelamin" yang jelas, sama sekali tak sepatutnya penulis tak membenarkannya. Salam.
Langganan:
Postingan (Atom)