Rabu, 13 Mei 2026

Cerpen karya Raudah Jambak

Cerpen Di Dalam Becak karya M. Raudah Jambaak

 


 

Lelaki itu terus mengayuh becaknya. Udara begitu terik. Peluh tak henti mengucur dari tubuhnya. Matanya tak lepas mengitari sepanjang pinggiran jalan. Berharap ada calon penumpang yang memanggilnya. Lelaki itu terus mengelilingi kota yang padat dengan kendaraan. Asap knalpot dan debu saling berebut hari. Ditingkahi dengan bunyi klakson tanpa henti. Polusi udara seolah tak terbendung lagi.           

Ayah, hari ini Ani harus bayar uang sekolah,Yah, terngiang kembali kata-kata Ani, anak satu-satunya, yang masih duduk dikelas tiga SMP.

Ayah,kalau tidak dibayar Ani tidak boleh ikut ujian,Yah.

Pikiranya mengembara. Pandangan matanya berkaca-kaca. Walaupun becak bukan satu-satunya matapencaharian Bokor, lelaki tua itu, tapi untuk biaya sekolah dan sehari-hari masih terasa berat bagi Bokor. Selain mengayuh becak Bokor juga seorang guru SD . Menjadi seorang guru masih belum mencukupi untuk biaya sekolah anaknya. Ani harus menjadi sarjana itu tekad Bokor.

“Becak...!”

Sebuah suara mengejutkannya. Bokor tergagap terlebih ketika sebuah mobil sedan menyalipnya. Stangnya tersenggol, Bokor segera menginjak pedal becaknya. Ia segera turun, memeriksa. Sedan itupun berhenti, tak jauh di depannya.

Seorang lelaki tegap berkacamata gelap turun, memeriksa sedannya. Ada garis-garis kemarahan di wajahnya.

“Kau punya mata nggak ha!” sembari tergesa mendekati Bokor.

”Maaf, Pak. Saya tidak sengaja....”

”Maaf, maaf. Maaf gampang. Aku tidak mau tahu sekarang kau harus ganti rugi. Sedanku lecet terkena becakmu.”

Bokor terdiam. Pikirannya kalut. Satu persatu wajah orang-orang tercintanya hadir begitu saja.

“Ayah, apa yang sedang Ayah pikirkan?  Ayah!” suara Siti, istrinya terdengar meninggi sembari mengguncang bahunya. Bokor tersenyum memandang Siti. Ia sangat beruntung punya istri yang baik dan sabar. Profesi guru yang ia jalani setiap pagi selalu ditekuni dengan baik. Walaupun masih kurang. Ia harus mengayuhkan kakinya yang mulai tua di atas pedal becaknya, itu tidak menjadi penghalang untuk tetap memberikan ilmunya pada anak didiknya.

“Ayah…” Ani membuka pembicaraan pada saat makan malam, “Ayah tidak perlu terlalu membanting tulang demi kami, Yah.”

         “Ani, ayah tidak pernah merasa lelah, ayah selalu merasa kuat dan bahagia. Iyakan, Bu?”

         Siti, istrinya tersenyum sambil mengelus punggungnya pertanda bahwa ia bangga bersuamikan Bokor. Suasana rumah yang sederhana itu menjelma menjadi surga berkat ketulusan dan keikhlasan penghuninya. Hari berganti hari, kehidupan keluarga Bokor semakin bahagia walaupun hidup sederhana tapi hati merasa tentram.

         Setiap pagi, dengan pakaian serba rapi ia selalu bertugas mencerdaskan anak bangsa. Langkah kaki yang pasti terus menuju tempat ia bertugas.

         “Assalamualaikum anak-anak.”

         “Waalaikumusalam, Pak…!” jawab anak-anak serentak.

         Pelajaranpun selalu dimulai tanpa ketegangan sampai akhirnya jam pelajaran usai. Tanpa lelah Bokor selalu menunjukan semangatnya.

         Di rumah, Siti, istrinya tercinta sudah menunggu dengan senyum dibibirnya yang sudah mulai tampak berkeriput.

         “Assalamualaikum…”

         “Waalaikumusalam…”

          “Oh ya, Bu, anak-anak belum pulang dari sekolah?”

          “Belum, Yah,” sahut Siti sambil berlalu menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang yang sederhana tapi sangat membangkitkan selera.

         “Assalamualaikum,” suara Ani selalu terdengar manja.

         “Waalaikumusssalam,” sahut Bokor  yang sedang sibuk mempersiapkan becak yang akan dikayuh selesai shalat zuhur nanti.

         Ani duduk disamping Parmin sembari membuka sepatu sekolahnya,”Ayah, boleh nggak Yah, kalau ayah tidak menarik becak sekali ini?”

         Bokor menatap wajah anaknya itu dalam-dalam tanpa berkata apapun. Bokor hanya tersenyum sambil mengelus lembut rambut hitam Ani.

         “Ayah…”  suara khas sibungsu Ani memanggil, “makan siang sudah tersedia.”

         Selesai shalat zuhur Bokor, mulai mengayuh kakinya yang tampak mulai kurus dan mengecil di atas pedal becaknya. Sampai menjalang azan magrib ia baru tiba di rumahnya yang sangat sederhana tapi tetap memancarkan pesona. Azan magrib sudah berkumandang semua berkemas untuk melaksanakan perintah Allah.

         Malam semakin larut peraduan empuk sudah menjadi tempat istirahat yang sangat menyenangkan. Bokor dan istrinya masih duduk berbincang-bincang.

         “ Bu apakah uang tabungan kita masih cukup, Bu,”Tanya Bokor dengan lembut.

         ” Masih, Yah,” jawab Siti sambil tersenyum.

         ” Syukurlah, aku ingin cepat-cepat lihat Ani memakai toga dan diwisuda.”

”Ayah, ada-ada saja Ani kan masih SMP...” derai tawapun mengalir begitu saja.

         Pembicaraan terus berlangsung, tanpa terasa malam semakin larut. Kantuk mulai menyarang kedua orangtua tersebut.

         Esok hari. Raja siang telah keluar dari peraduannya aktifitas sehari-hari mulai dilaksanakan. Ibu melepas ayah dan ketiga anaknya dengan pancaran wajah bahagia, serta doa yang selalu mengiringi langkah kaki keluarganya.

“Hei, jangan pura-pura. Ganti!”

Bokor tersentak. Begitu jelas perbedaan perlakukan yang ia rasakan. Baik sebagai guru. Juga perlakuan yang ia rasakan saat ini. Ia jadi merasa kebanggaannya kepada ayahnya membuncah. Berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini.

         Tanpa terasa bayangan itu kembali hadir ketika Bokor muda pulang membawa khabar gembira bahwa ia sudah menyelesaikan semua perkuliahannya dan akan segera diwisuda.

Kebahagiaan terpancar dari wajah kedua orangtuanya. Bahagia dan bangga terus menyelimuti hati Bokor muda.

        “Ibu!!!” teriak Bokor muda dengan keras memanggil ibunya, “Ayah, Bu. Ayah pucat sekali. Tidak bisa bergerak!”

         Bokor muda berlari mencari kedua abangnya yang sedang membantu H.Hafiz memperbaiki genting rumahnya yang bocor.

         “Bang Adi, Bang Budi!” teriak Bokor muda .

         H. Hafiz datang menghampiri, “Ada apa Bokor muda?”

         “Tolong, Pak. Ayah saya. Ayah saya sakit, Pak.”

        H. Hafiz memenggil Adi dan Budi dengan lembut agar tidak membuat mereka terkejut.

        “Ayah kita berobat ya, Yah,” ajak Bokor muda membujuk ayahnya.

        “Tidak usah ayah akan sembuh, iyakan, Bu?  Kita ingin menyaksikan Bokor muda diwisuda ya, Bu.”

       “Iya, Yah, makanya ayah cepat sembuh, ya?” ibu menghibur dengan senyum manisnya.

          Hari yang ditunggupun tiba. Bokor muda sudah lengkap dengan toganya dan bersiap-siap akan menghadiri ruangan yang luas nan megah yang dihadiri beribu-ribu lelaki tampan dan wanita cantik dengan nuansa hitam. Ayahnya yang sudah bersiap akan berangkat merasa sangat lemah.

         Anakku, sepertinya ayah tidak bisa ikut. Kalian pergi saja. Ayah masih menunggu seseorang.”

         Mereka terdiam sejenak kemudian mengangguk, mungkin H Hafiz ingin ikut menyaksikan kegembiraan ayah, pikir mereka.

           Barisan para wisudawanpun berjalan dengan wajah bahagia. Bokor muda masih terus mencari dimana sosok lelaki yang ia banggakan. Batinnya terus bertanya. Sampai ruangan sepi sosok ayah belum juga tampak. Ucapan selamat dari kedua adiknya membuat Bokor muda semakin sedih.

         “Bu kita pulang, yuk,” Bokor muda membuka pembicaraan, “mungkin ayah menyiapkan sesuatu  untuk kita.”

         Wajah bahagia masih menyelimuti ibu dan anak-anaknya sampai di rumah.

         “Assalamualaikum,  Assalamualaikum,  Assalamualaikum!” tiga kali salam tidak ada jawaban.

        “Ayah dimana , Bu? Ayah dimana?” Tanya Bokor muda. Bokor muda terus mencari sampai kebelakang, akhirnya mata Bokor muda tertuju pada sosok lelaki yang duduk membelakang menghadap jendela yang terbuka lebar menuju jalan raya.

          “Ayah ini Bokor , Anak Ayah. Bokor sudah jadi sarjana, ini impian Ayah, lihat Ayah, jawab Ayah,” Bokor muda menangis sambil bersimpuh di kaki ayah.

         Ibu memeluk tubuh Bokor muda sambil mengucapkan kata-kata yang sangat pahit di telinga Bokor muda . “Innalilahiwainailaihi rojiun.”

          “Ayah, Ayah, Ayah!”  Bokor muda berteriak histeris, “Ini impian Ayah. Lihat Ayah, anak Ayah sudah wujudkan, kenapa Ayah tidak mau menyaksikan impian Ayah, jawab Ayah...!” Tangis Bokor muda dan adiknya semakin menjadi.

         ”Anakku sudahlah, sudah terimalah dengan sabar…” meskipun pahit ibu menelan semua kenyataan bahwa ini sudah takdir yang maha kuasa. Tiada satupun yang dapat melawan takdir Allah Yang Maha Besar. AllahuAkbar.

 

***

 

“Sekarang, bagaimana?!”

Bokor masih bingung. Kebingungannya bertambah ketika sebuah suara ikut mencampuri. Seorang perempuan muda namun bersahaja, sudah berada di tengah-tengah mereka.

“Bapak mau ganti berapa?”

Lelaki tegap itu terdiam. Lama memerhatikan.

“Anda, siapa? Istri orangtua ini?”

“Bapak tidak usah banyak bertanya. Berapa?”

Anda siapa?”

”Saya Kepala sekolah SD Bunga Bangsa. Nah, sekarang berapa?”

”Ooo, maaf, Bu. Tidak usah, Bu. Sebenarnya saya hendak menjeput anak saya di SD Bunga Bangsa.” lelaki itu menarik nafas panjang kemudian pergi.

”Terimakasih, Bu...”

Perempuan itu tersenyum. Memerhatikan.

”Bapak Pak Bokor, kan?”

Bokor mengangguk.

”Kalau begitu tidak usah panggil Ibu sama saya.”

”Kenapa?”

”Nggak kok. O, ya, Pak. Bisa antar saya ke Bank Syariah?’

Tanpa banyak bertanya lagi, Bokor segera mengayuh becaknya. Sepanjang perjalanan mereka bercerita. Bokor mengatakan bahwa perempuan itu adalah penumpang pertamanya.

”Bapak sudah lama menarik becak?”

”Sudah tiga puluh tahun.”

”Becak dayung?”

”Ya.”

”Tidak ada niat mengganti? Becak mesin, misalnya?”

Bokor tersenyum. Pertanyaan itu seolah menghantamkan ribuan debu di wajahnya. Memang pernah ada niatnya untuk mengganti becaknya dengan becak mesin, tetapi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anaknya yang tinggi mengurungkan niatnya itu.

”Saya tidak punya biaya. Harus bayar pakai apa? Sewa rumah saja masih nunggak, hehehe.... ”

Perempuan itu ikut tersenyum. Dia teringat betul dengan tawa itu. Ciri khas yang tidak pernah berobah sampai sekarang. Dan kerendahhatian yang masih tetap tersimpan. Itu pulalah yang menjadi motivasinya menjadi seorang pendidik. Sampai nasib memilihnya menjadi seorang Kepala sekolah. Tapi, lain halnya dengan Bokor yang tetap bertahan dengan kesahajaannya. Hm...

”Bapak pasti bangga jika melihat muridnya berhasil.”

”Ooo, jelas, Bu. Keberhasilan seorang murid menjadi tolok ukur keberhasilan seorang guru sebagai pendidik.”

”Maaf, Pak. Jangan panggil saya dengan sebutan ibu, saya risih. Panggil saja saya dengan sebutan Nak, atau panggil nama saja, Melati.”

”Melati?”

”Ya, Pak. Mengapa? Bapak mengingat sesuatu?”

”Tentu. Saya teringat dengan bunga melati pemberian murid saya, ketika hari guru beberapa tahun yang lalu. Tetapi, lucunya bunga itu diberikan anak saya kepada gurunya ketika hari guru setahun yang lalu.”

Perempuan itu menatap ke jalanan. Bank Syariah semakin dekat. Ada rasa kecewa yang tersirat di sana.

“Selain penarik becak, Bapak gurukan?”

Bokor terkejut. Ia tidak menyangka masih ada yang mengenalnya. Padahal, ia berusaha untuk tidak dikenal siapapun. Tetapi, harus rela menerima situasi ini.

“Ya.”

“Bapak tidak malu ketahuan murid-murid Bapak?”

“Sebenarnya saya merasa malu, tetapi apa boleh buat. Selain mengajar, pekerjaan inilah yang bisa saya lakukan agar segera dapat uang.”

“Kalau ada murid Bapak yang menumpang, apakah Bapak terima?”

“Saya akan menghindar.”

“Bapak kenal dengan semua murid-murid Bapak?”

“Tidak semuanya. Biasanya saya mengenal yang ‘paling’ dibandingkan dengan yang ‘biasa-biasa’ saja.”

“Menurut Bapak, saya termasuk yang mana?”

”Kalau menurut saya Nak Melati pasti ’paling’. Jika tidak, mana mungkin bisa menjadi Kepala sekolah. Muda lagi.”

”Menurut Bapak, jika saya bertemu guru saya. Apakah guru saya mengenal saya?”

”Tentu. Tentu. Saya yakin.”

”Ooo. Bapak masih tinggal di tempat yang lama?”

”Masih. Saya belum pernah pindah rumah.”

”Yah, sudah sampai, Pak? Ini ongkosnya. Ini untuk Ani, anak Bapak.”

Perempuan itu kemudian turun dari becak setelah menyerahkan segepok duapuluhan uang ratusan ribu. Bokor menolak, sempat terjadi tolak menolak antar keduanya, sampai akhirnya ia menerima pemberian perempuan itu dengan rasa yang penuh penasaran.

”Ah, maaf. Anak ini siapa? Kenapa bisa tahu nama saya. Lalu, tahu tempat tinggal saya?”     

”Saya Melati, Pak?”

  Udara tak lagi terik. Peluh tak lagi mengucur dari tubuhnya. Asap knalpot dan debu tak lagi saling berebut hari. Bunyi klakson terdengar sesekali. Perlahan sunyi...

 

Medan, 2011

 

 

 

Cerpen Kolam di Belakang Rumah karya M. Raudah Jambaak


Entah kenapa aku jadi lebih suka berada di belakang rumah. Sejak direnovasinya daerah di bagian belakang rumah, nyamuk – nyamuk pun sudah mulai berkurang. Kadang – kadang aku pun tertidur di atas kursi plastik yang juga baru aku beli kemarin sambil memandang bulan.

Di bagian belakang itu dipasang tegel marmar berwarna hitam. Aku juga meminta kepada tukang bangunan untuk membuat sebuah kolam di sana. Dan setelah jadi, kolam itu banyak memberikan inspirasi – inspirasi padaku tentang bulan, matahari, atau tentang apa saja.

Aku jadi lebih produktif menulis. Ide – ide selalu saja muncul mengalir bagaikan air.

Di bagian atas kolam, aku sudah memasang atap, agar cahaya matahari tidak jatuh sepenuhnya menyentuh kolam dan lantainya. Atau hujan tidak membasahi seluruh areal kolam. Di pinggir dari kolam aku menanam mawar, aster, melati, kacapiring, anggrek, dan bunga jenis rerumputan yang sengaja kutanam.

Di kolam, beberapa ekor ikan sudah mulai berenamg kesana kemari seperti ikan nila, dan beberapa ekor ikan gurami. Mereka kadang sering terlihat berkejaran. Apalagi jika giliran makan tiba, ikan – ikan itu seakan tahu apa yang akan aku lakukan. Dan aku sangat senang.

Di sekitar kolam aku begitu banyak mendapatkan kepuasan batin. Kepuasan yang belum tentu semua orang mendapatkannya. Demi mendapatkan kekuasaan, banyak orang yang tidak segan – segan mengeluarkan banyak biaya untuk itu.

Sambil memberikan makan kepada dua ekor kelinci putih yang baru dibeli kemarin. Di sini kenangan demi kenangan muncul. Kenangan masa lalu yang tidak pernah terlupakan. Terutama masa petualangan ketika muda. Dengan seorang wanita yang sempat singgah di hatiku. Gadis manis berambut panjang yang senang memelihara kelinci.

Ketika itu aku tidak begitu tertarik dengan kelinci. Tapi karena dia penyayang kelinci, maka aku berpura – pura ikut senang. Dan nyatanya sekarang aku tidak hanya pura – pura. Aku jadi menyenangi kelinci. Pembicaraan lantas jadi begitu mengalir karena seekor kelinci.

Banyak hal yang dapat kurasakan setelah adanya kulam ini. Pengembaraan batinku dapat kulalui melalui kegiatan – kegiatan di sini. Anak – anakku dapat bermain karena areal di pinggir kolam renang agak lapang.

Pernah aku bercerita dengan salah seorang temanku. Bercerita tentang kolam di belakang rumah. Tapi akhirnya berubah ceritanya, temanku itu lebih senang menceritakan istrinya. Istrinya yang egois. Semua keputusan harus istrinya yang menetapkan. Aku jadi lebih banyak diam. Padahal aku yang ingin bercerita panjang lebar tentang apa saja yang berhubungan dengan kolam itu.

"Isteriku…" katanya memulai. "Istriku orangnya penuh perhatian. Semua urusanku dan anak – anak tidak pernah luput dari perhatiannya. Cuma masalahnya dia tidak pernah menerima pendapatku tentang apa saja."

"Bagaimana dengan anak – anakmu?"

"Hampir sama kalau sulit aku untuk mengatakan berbeda."

"Kenapa? Kau lebih terkesan putus asa dibandingkan dengan kebanggaanmu kepada keluargamu?"

Dia bercerita panjang lebar. Sampai akhirnya ber5akhir dengan kebingunganku menatap kepergiannya karena hari yang mulai senja.

* * *

Embun turun. Udara berkabut. Terlihat masih samar – samar. Masih seperti biasanya. Burung terdengar menceracau. Ayam ribut, berkotek. Kelinci dan ikan masih dalam kegelisahannya. Bukan karena dingin, tapi Nuri yang tak bisa diajak kompromi. Di balik dedaunan cecak mengintip di balik dedaunan yang tumbuh di dinding. Saling berkejaran, berpagutan.

Kotek suara ayam membuat suasana semakin gaduh saja. Suaranya terdengar saling bersahutan. Melompat kesana kemari. Liar. Seolah – olah sedang melaksanakan aksi demonstrasi. Ada diantaranya hanya diam terduduk saja. Menunggu makanan.

Hujan lebat turun semalam. Dan sisa – sisa mendung masih menggumpal di langit. Matahari seakan enggan bersinar. Bunga – bunga mawar merah bermekaran menitik embun. Gemericik air jatuh satu – satu. Cecak yang tadinya saling berkejaran dan berpagutan tak terlihat lagi, tubuhnya telah menghilang dalam asbes.

Di kolam ikan gurami dan ikan mas gantian bekejaran. Saling mematuk. Lele kecil, sepat dan nila hanya bisa bersembunyi di balik bebatuan. Nuri masih menceracau. Ayam masih berkotek.

Biasanya setiap pagi tidak seperti itu. Suasana yang berlangsung secara terus – menerus berhari – hari sampai berbulan – bulan lamanya. Mulanya nuru lalu lele, kelinci dan sekarang ayam dan beberapa ekor ikan menambah suasana kolam.

Suasana riuh kembali muncul dan kali ini lebih luar biasa menyambutku membawa makanan. Untuk hewan – hewan peliharaan itu. Nuru terlihat melompat kesana – kemari. Kelinci itu mengibaskan ekornya yang putih. Ikan – ikan pun seperti tahu kedatanganku. Mereka muncul ke permukaan. Kutebarkan pelet di permukaan kolam. Mereka saling berebutan. Nuri berebut menikmati jagung – jagung muda. Ayam berebut cepat mematuk jagung dan beras. Kelinci lebih menikmati kangkungnya. Beberapa bagian dinding masih terlihat basah. Sepintas lalu penampilan terkesan sebagai pedagang daripada penulis, atau guru.

Sudah cukup lama kunikmati kegiatan ini. Terutama di saat – saat liburan kumanfaatkan untuk bersenang – senang sedikit dengan peliharaanku. Mulanya semua berlangsung biasa saja dan tulisan – tulisanku mengalir begitu saja. Tapi demi mencium bau yang tak sedap semuanya menjadi lain.

Kucari – cari sumber bau yang tercium. Kuperhatikan nuri tetap pada keributannya. Ayam tak mau kalah terutama si jago selalu berkokok. Kelinci biasa saja dengan kangkungnya, sesekali yang jantan menggoda si betina.

Matahari mulai meninggi. Awan yang menggumpal yang sempat menutup langit perlahan terbuka. Sinar matahari sudah mulai menembus menyentuh kulit bumi. Satu – persatu anggota keluarga yang lain mulai menjalankan aktivitas rutinnya. Ada yang menyapu. Ada yang mencabut rerumputan. Ada yang membersihkan setiap ruang dan lantai. Ada yang mencuci piring dari sisa sehabis makan semalam.

Demi mendengar kesibukan yang terkesan ribut itu, dua anakku yang masih kecil – kecil terbangun. Dengan langkah lucunya mereka mendekatiku. Setelah mengucek – ngucek matanya. Tidak lama setelahnya mereka sudah terlibat dalam permainannya sendiri. Tidak ada yang terlihat duduk dengan tenang.

Aku masih sibuk mencium sumber bau. Aromanya sudah mulai mengganggu anggota keluarga yang lain.

"Bau apa ini, Bang…?"

"Iih… auk…!"

semua telah gelisah. Semua heboh.

"Bau bangkai…!"

Aku hanya bisa diam. Terus mencium sumber bau yang sudah membusuk. Aku tak mau banyak bicara memang begitu kepribadian yang selalu menjadi ciri dan sifatku.

Semula aku menduga bau kandang ayam. Tapi setelah kuperiksa tidak ada tanda – tanda kematian. Ayam – ayam itu masih tetap bercengkarama sambil menikmati makanannya berupa dedak jagung dan beras. Kandang kelinci juga kuperiksa, sangkar burung juga. Semua yang kuperiksa tidak menunjukkan tanda – tanda adanya hawa kematian. Hanya bau kotoran hewan – hewan itu yang tercium.

Kuperiksa arah kolam, masih juga tidak terlihat. Dan kejenuhan mencari yang tak jelas mulai menggerogoti. Lantas aku lebih memilih menghirup baunya saja daripada mencari tak kunjung ada.

Kami sarapan beramai – ramai. Mulanya selera kami hampir hilang mencium aroma itu. Tapi karena perut sudah sangat lapar, maka rasa bau itu tidak kami gubris sama sekali. Hanya anak – anakku yang sedikit gelisah.

"Auk, Pa… auk…" si kecil Aini mendekat.

"Papa bauk kali…!"

Aku hanya menenangkan mereka sambil menyuruh supaya tetap terus makan. Kutunjuk ke arah tv agar bisa sambil nonton. Di TV terlihat seorang anak kecil yang berbentuk matahari sedang tersenyum kepada keempat boneka yang menjadi idola pada saat ini. Tingky Wingky, Dipsy, Lala dan Po. Boneka Teletubies yang saat ini sangat digemari anak – anak.

"Siap ini Tweenes, Pa." Rahmat, anak sulungku berujar.

"Hi… i… i…" suara Aini meniru bayi matahari yang sedang tertawa itu.

Udah cepat makannya sudah itu mandi, ya… !

Kedua anakku itu sudah larut dengan tontonannya sehingga begitu mendengar kata – kata istriku.

Matahari sudah mulai meninggi. Jaraknya sudah tepat di atas kepala. Semuanya kembali tenggelam dengan dirinya masing – masing. Si kecil lebih sibuk dengan pekerjaan dapurnya.

Aku sendiri masih terus merasa ragu dengan penciumanku. Dengan jaring penangkap ikan yang besar, aku memeriksa dasar kolam. Anggapanku mengatakan bahwa mungkin beberapa ekor ikan mati, dan lupa diangkat sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap. Mulanya aku tidak menemukan apa – apa di dasar kolam itu, tetapi begitu melihat ada sesuatu di dalam jaring penangkap ikan, aku mau muntah.

Aromanya ternyata berasal dari kolam. Ternyata ada hewan yang sudah mati membusuk di situ. Seekor kucing, kucing berbelang tiga. Kucing yang sempat aku merasa kehilangan untuk satu minggu ini. Terlihat bangkai kucing itu sudah menegang dan mengembung. Ssyup – sayup dari dalam kudengar ada yang muntah setelah kudengar dengan seksama ternyata istriku, dia tidak kuat mencium bau busuk apalagi demi melihat dari balik kaca nako ada bangkai kucing di dalam kolam.

Setelah kuangkat, tanpa pikir panjang lagi bangkai itu segera kubuang ke tanah kosong di belakang rumah.

"Kuras airnya, Bang" istriku berteriak dari dalam. "Ikan – ikannya buang juga. Sudah haram kita memakannya dia sudah makan bangkai. Iiiih… amit – amit jabang bayi."

Lagi – lagi aku diam. Ternyata kolam ini selain memberikan inspirasi juga menimbulkan masalah. Kolam yang sumber inspirasi jadi kolam penuh caci maki. Dan bagiku, cukuplah untuk ini.

 

 

Cerpen Tamu di Hari Kurban karya M. Raudah Jambaak

 

 


Dua tahun sudah aku berada di kota ini. Dua tahun pula aku tidak pernah mendengar kabar berita tentang teman-teman maupun saudaraku. Dan hal itu sedikit agak menegangkan hatiku. Hidup dengan suami dan dua orang anak membuat hatiku sedikit tentram. Berhari-hari kujalani kegiatan rutinku seperti biasa.

Anak-anakku yang masih kecil-kecil memang sedikit agak merepotkan aku, sekaligus calon bayi dalam kandunganku, membuat kegiatanku agak terbabani. Sementara suamiku masih juga belum mendapat lowongan kerja sampai hari ini.

Sudah lama aku ingin bekerja, jika saja suamiku mengizinkan. Dengan berbekal sarjana pendidikan, aku yakin dapat diterima sebagai guru. Tapi suamiku selalu melarang dengan alasan bahwa laki-lakilah yang harus mencari nafkah, sedangkan perempuan berada di rumah mengurus rumah tangga. Sebagai istri yang baik, aku berusaha untuk selalu patuh, walau kadang hati ingin merontak untuk membantu suami mencari nafkah. Lagi-lagi aku ragu.

Sebenarnya aku tahu kalau suamiku tidak keberatan kalau aku bekerja,tapi ada perasaan malu, dan aku memahami itu. Ijazah SMA yang selalu jadi andalannya sulit untuk menjadi dewa penolong baginya, dan aku selalu menenangkan agar ia tidak pernah putus asa. Dan keadaannya itulah yang selalu dipertentangkan oleh orang tuaku ketika, Amran, suamiku datang untuk melamar. Kerja dimana? Tamatan universitas mana? Dan sebagainya.

Karena perasaan cinta yang menggebu-gebu, akhirnya orang tuaku tidak bisa berbuat apa-apa setelah kukatakan aku tengah mengandung. Pesta pernikahanpun diadakan sesederhana mungkin. Akhirnya aku menyandang titel sebagai Nyonya Amran. Seminggu setelah acara pernikahan itu aku diboyong suamiku pindah ke kota ini.

Perasaan hancur dari kedua orang tuaku dapat kurasakan. Paling tidak untuk beberapa lama perasaan malunya, kami coba untuk menghilangkannya dengan cara pindah kekota ini.

Awalnya memang terasa berat, tapi akhirnya semua dapat kuatasi. Paling tidak untuk saat ini, walau sebenarnya dalam hati aku rindu dikunjungi dan mengunjungi.

"Sunyi ya, bang?" ujarku ketika kami duduk sehabis makan diruang tamu.

Suamiku Cuma diam. Dia mengerti perasaanku. Dia Cuma mengelus-elus rambutnya, sambil memandang kedua anak kami yang kejar-kejaran di depan kami. Kuarahkan tangannya menuju perutku yang tinggal menunggu waktu kelahiran anak ketiga kami tiba.

Tidak terasa sebentar lagi hari raya kurbanpun tiba. Itu berarti sebentar lagi aku akan ikut kurban yang kukumpulkan sebelum kami menikah. Dan aku akan segera bersiap-siap untuk menghadapi kelahiran bayiku yang ketiga. Daging kurban itu akan kusumbangkan ka panti asuhan yang kebetulan tidak jauh dari rumah kami.

"Sunyi, ya bang." Ujarku kembali memecahkan kesunyian. Dia memang agak pendiam, ditambah beban yang ditanggungnya. Keterdiamannya begitu terasa, dan aku selalu berusaha mengajaknya untuk sejenak melupakan segala beban yang tengah menimpa.

"Abang merasa kesunyian, nggak?" kembali aku berujar. Dan kali ini sambil mendekatkan wajahyku ke wajahnya. Sementara anak kami satu persatu sudah terbuai dengan mimpinya, akibat kelelahan berlarian kesana-kemari. Untungnya walaupun mereka tidak punya teman sebaya, tapi mereka terlihat akur satu sama lain.

Suamiku kemudian pelan-pelan bergerak, mengangkat satu persatu anak kami ketempat tidur. Dua anak laki-laki yang lucu-lucu dan baik hati. Penerus keturunan suamiku yang kebetulan anak satu-satunya di keluarganya. Dan untuk anak ketiga ini dia ingin sekali mendapatkan anak perempuan.

Sehabis memindahkan anak-anak kami ketempat tidur, suamiku bergerak pelan ke arahku. Disentuhnya ujung rambutku dengan tangannya nyang kekar. Lalu diciumnya dengan lembut. Begitu pula dengan dahiku, pipi, bibir dan berakhir di permukaan perutku yang menggembung. Aku menggeliat. Bukan lantaran ciuman lembut suamiku, tetapi bayiku yang tiba-tiba bergerak merespon ciuman lembut ayahnya. Suamiku lantas duduk disisiku sambil menyentuh lembut telingaku dengan hidung mancungnya.

"Dian….," bisiknya pelan, "Kamu takut kesepian? Takut tidak mendapatkan tamu? Kamu rindu ayah-ibumu?"

Aku tercenung mendengar pertanyaannya yang beruntun. Tapi demi melihat wajahnya yang sungguh-sungguh, aku mengangguk.

"Kamu masih sabarkan?" ujarnya lagi.

Aku mengangguk kembali.

"Kamu mau mengizinkan abang pergi tiga hari pergi mencari uang? Paling tidak untuk ongkos kita berangkat ke sana. Paling lama sebelum shalat idul adha, abang sudah kembali."

Kembali aku yang terdiam. Aku membayangkan, suasana selama ini sudah sangat sunyi, apalagi tanpa suami untuk beberapa hari? Bayang ketakutan sepertinya mencekikku. Kupandang wajah suamiku dalam-dalam, ada semacam perasaan menyesal terpancar disana. Menyesal telah mengatakan sesuatu yang selama ini ditahan-tahannya. Tapi rasa cinta yang mendalam membuat kekuatanku berangsur hilang. Aku mengangguk.

"Kalau kamu keberatan, aku tidak menyesal membatalkan semuanya."

Segera kututup bibir suamiku dengan jari-jariku. Aku menggeleng. Kucium pipinya dengan lembut. Lalu kusandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang.

"Kamu jangan merasa terpaksa." Tangannya membelai lembut ujung rambutku.

"Aku tidak merasa keberatan, bang," ujarku pelan, "Mungkin setelah ini terjadi perubahan pada hidup kita."

"Mudah-mudahan."

Jangkrik malam amelantunkan lagu tembang kenangan. Angin malam telah pula merangkaikan nadanya. Bulan bertindak sebagai komposernya.

* * *

Malam ini perutku terasa nyeri. Bayi dalam kandunganku mulai meronta. Suamiku belum juga pulang. Mataku sempat memandang jam di dinding tepat pukul 01.30 WIB. Anak-anakku masih tertidur pulas.kucoba untuk menahan sampai pagi tiba, tapi ternyata tidak bisa. Mataku tak mau diajak tidur. Begitu duduk rasa sakit semakin tak terkira. Kusebu-sebut nama suamiku agar ia pulang segera. Tapi masih juga tak membantu. Ingin rasanya membangunkan kedua anakku tapi tak tega rasanya memandang wajah yang tentram itu. Pergi minta pertolongan tetangga, aku takut terjadi apa-apa ditengah jalan. Terbayang wajah ibu. Teringat ayah. Terkenang teman-teman dan saudara. Rasa sakit masih juga tidak mebantu, malah semakin menjadi-jadi

Tok…tok…tok.

Aku terkesiap. Takutku menjadi. Segera aku naik ketempat tidur dan memeluk anak sulungku yang menggeliat sebentar kemudian kembali kelihatan tenang.

Tok…tok…tok.

Kali ini kekuatannya agak keras. Aku berharap yang mengetuk pintu suamiku, tapi jika orang lain. Syukur-syukur gadis remaja tetangga yang sering datang membantu, tapi jika tidak?

Tok…tok…tok.

Peluhku mencucur deras. Tubuhku basah dipenuhi keringat. Rasa sakit tidak kunjung hilang. Kurasakan ada sesuatu yang keluar dari selangkanganku. Ketakutanku menjadi-jadi setelah darah ketubanku mulai membasah. Tubuhku tiba-tiba lemas. Pandanganku terasa gelap. Dan selebihnya aku tidak tahu sama-sekali.

Sekejap saja, aku merasa berada di sebuah pesta. Begitu banyak orang disekelilingku. Anehnya, semua memberi selamat dan menyalamiku. Aku Cuma berdiri terpaku menerima salam dan ucapan selamat dari mereka. Tamu-tamu hadir, mengalir tidak henti-hentinya. Dan dari semua tamu yang kuperhatikan, ada satu yang berpakaian agak lain dri yang lain. Dan tingkahnya tidak pula seperti yang lain-lain yang begitu menikmati suasana pesta. Dengan jubah putihnya, dia hanya melemparkan senyum ke arahku. Dalam pandanganku aku seperti mengenalnya. Pemuda dewasa yang bersahaja.

"Kak, bangun. Kak, bangun kak. Kak."

Aku segera membuka mata. Segera kutebarkan pandanganku ke segala penjuru.

"Dimana aku? Dimana suami dan anak-anakku, dan…" tiba-tiba mataku tertuju ke arah perutku, "Mana kandunganku?"

Aminah diam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Walau akhirnya dia buka suara. Pelan, namun pasti, dia bercerita bagaimana menemukan aku tergeletak diatas tempat tidur dengan iringan jerit tangis kedua anakkusementara darah sudah memenuhi tempat tidur. Bagaimana aku dibawa ke Rumah Sakit masih dalam keadaan tidak sadar. Bagaimana anakku menangis sepanjang perjalanan. Bagaimana bayi perempuanku, menghembuskan nafas satu jam setelah persalinan. Dengan lugunya ia bercerita pelan, namun panjang lebar.

"Dan juga….," Aminah berhenti bercerita.

Air mataku mengalir deras. Aku mencoba bertahan, bersikap tegar. Suara takbir mengalun syahdu. Air mataku tak terbendung.

"Ke..ke..kenapa kamu berhenti. Aminah? Teruslah bicara. Kakak akan tabah mendengarnya. Apakah kurban kakak dibatalkan?"

Aminah menggeleng. Dia terlanjur menangis. Air matanya mengalir. Dia mungkin tidak sanggup mendengarkan dan menceritakan penderitaanku yang beruntun.

"Lantas apa, Minah…" aku memeluknya menangis bersama. Takbir tetap mengumandang.

"Abang, kak…." Aminah menahan tangisannya.

"Kenapa, Minah? Kenapa Abang? Abang sudah pulang? Mana Abang Minah? Mana?"

Aminah dengan terbata-bata menceritakan bagaimana Abang ditemukan telah menjadi mayat. Diduga dibunuh dan dirampok. Aku tidak bisa lagi menahan duka, jeritku seketika membahana dan tidak berhenti sebelum mendengar seorang pemuda tampak mengucapkan salam. Pakaiannya mengingatkan aku dengan dengan mimpiku semalam di sebuah pesta. Dan aku seperti mengenalnya dan sangat mengenalnya. Dia Amran, suamiku, dengan jubah putihnya ia melambaikan tangan pada ku, memanggilku. Penderitaanku seketika lenyap. Aku merasa sangat tenang, sangat damai. Dipelukannya seorang bayi perempuan menjulurkan kedua tangannya padaku, minta kugendong. Aku merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Dua orang tamu tercintaku datang memenuhi janji dihari kurban ini. Seketika kurasakan tubuhku terasa sangat ringan. Entah kekuatan dari mana, kami sudah berpelukan di angkasa. Sempat aku melirik Aminah yang tengah memeluk seonggok tubuh kaku, berurai air mata. Sempat aku melirik dua orang bocah laki-laki yang tengah tertidur lelap, persis seperti anakku. Sempat aku memanggil Aminah, tetapi dia tetap diam saja. Dia masih memeluk erat tubuh kaku di hadapannya sementara takbir terus berkumandang, mengantar sepanjang perjalanan. Aku, suami, dan anakku.

Darul Amin, 2000

 

 

Cerpen Pesta Pernikahan karya M. Raudah Jambaak


BESOK acara pesta pernikahaan Andi, anak Pak Kusumo, tetangga sebelahku.Kulihat mereka telah sibuk dengan keseriusan masing-masing.Tak seorang pun kulihat bermalas-malasan.Teratak telah dipasangkan.Hiasan disana sini telah pula dipersiapkan.Karangan bunga sebagai ucapan"Selamat berbahagia telah pula memenuhi sepanjang jalan.Untung saja tidak sampai menyulitkan arus lalu-lintas jalan.Beberapa orang dari organisasi pemuda dan bergabung dengan pemuda setempat, ikut pula berjaga-jaga. Aku cuman mengintip di balik jendela.Waktu terus berlalu, aku kelelahan menunggu di ruang tamu.

"Wah,meriah sekali Pak.Selamat ya!"

"Oh,terima kasih bapak bersedia datang.

Maaf,kemarin undangannya datang terlambat!"

"Ya,tidak apa-apa Pak. Sebenarnya saya yang salah,saya pikir saya tidak diundang. Padahal saya sangat ingin sekali mendapatkan undangan dari Bapak."

‘Bapak ada-ada saja. Oh,kalau begitu langsung saja, Pak, dicicipi makanannya."

Aku mengangguk. Suara keyboard yang mengiringi seorang penyanyi terdengar asyik bagiku. Ditambah lagi selain suara penyanyi yang lembut juga joged pinggulnya yang dahsyat ‘menghipnotisku’ untuk duduk di posisi agak ke depan. Posisiku agak menguntungkan karena beberapa sisi dari tempatku duduk dapat terlihat. Posisi penyanyi keyboard sudah pasti. Posisi pengantin juga mudah terlihat. Aku menikmati sepotong rendang sambil mendengar lantunan penyanyi keyboard yang ada di atas penta kecil, tepat beberapa meter di depanku. Para pengangkat piring pun telah serius dengan tugasnya. ‘Sekuntum Mawar Merah’terdengar melenakan.Seorang bocah pengangkat piring dengan beban piring yang cukup banyak melintas di depanku terburu-buru.

"Braaak!"

Aku terkejut.

‘Sekuntum Mawar Merah’masih melantun.

"Bapak kok tidur di ruang tamu,sih?"

Ani,istriku hati-hati membersihkan pecahan kaca yang berserakan,"Lihat nih. Pot bunga yang baru dibeli kemarin tak panjang umurnya. Makanya jangan begadang!Jam segini baru bangun!". Aku telah terkejut.

‘Sekuntum Mawar Merah’telah berganti’Anggur Merah’mengetuk-ketuk gendang telingaku. Aku ternyata masih di ruang tamu.Istriku masih mengomel. Kulirik ke arah jam dinding, Ya,Tuhan. Sudah pukul sepuluh. Segera kutebar pandanganku keluar.

Lantunan Megi Z di loudspeaker terdengar mengerang. Acara pesta sepertinya segera di mulai. Karangan bunga sepertinya sudah penuh sesak, agak mengganggu pemandanganku. Beberapa orang telah memenuhi tempat pesta itu. Wah!cepat sekali hadirnya. Aneh!mereka semuanya berpakaian seragam. Bukan seragam tentara atau polisi. Baju,celana,topi dan sepatu berwarna putih. Beberapa orang yang Cuma berT-Shirt di punggungnya berlambang merpati bermahkota.Aneh!

"Kita dapat undangan mereka?"aku melirik istriku,"Undangan pesta pernikahan anak Pak Kusumo?Ada?"

Istriku memandang tajam ke arahku. Dia tersenyum mengejek.

"Makanya jangan sok cuek!"

"Ada apa?Kok aku yang sok cuek?Ada apa?"

"Eh, Bang. Jangankan kita yang punya rumah saja tidak mereka undang.Bang ,Bang…"

"Lho, kok gitu ?

"Bapak-bapak, Ibu-ibu." Suara protokol acara memecah keramain. Aku hanya memperhatikan dari jauh. Istriku lebih memilih tak peduli. Dia sibuk dengan dirinya sendiri.

"Bapak-bapak, ibu-ibu. Hari ini adalah waktu yang tepat untuk menyusun kepengurusan yang baru," Protokol acara bicara panjang lebar. Aku cuam tidak habis pikir, sebuah acara pesta yang megah bisa berubah jadi acara pemilihan pengurus. Setelah kuperhatikan dengan seksama seluruh karangan bunga yang berjejer tak beraturan, seluruhnya berlambang merpati bermahkota. Wah.

"Diharapkan kita akan mendapatkan banyak suara dari daerah ini. Untuk mendukung kita seluruh penduduk kampung sudah diundang kepesta ini. Dan nama-nama yang diundang sudah kami bacakan seluruhnya. Jika sukses, maka kita akan mendapat paling sedikit tiga kursi. Hidup Merapati Hidup Mahkota !"

Nama penduduk kampung yang diundang sudah diumumkan, berarti Pak Kusumo mengundangku, batinku.

" Bu, nama kita diumumkan tidak?"

Istriku cuma tertawa cengengesan.

Kepalanya digeleng-gelengkan kekiri dan kekanan.

"Nama anak tetangga yang baru lahir seminggu diumumkan kok, Pak. Apalagi nama kita. Tapi itu sekedar ngomong, undangannya seratus tahun lagi baru ada.

He… ha…ha…"

"Saudara-saudara. Sambil menikmati suasana pesta, silahkan duduk dikelompoknya masing-masing untuk menentukan kepengurusan kedepan."

Menjelang siang, pesta semakin ramai. Para tamu semakin banyak hadir. Protokol acara semakin bersemangat mempersilahkan orang-orang tertentu untuk berpidato. Pidato yang berapi-api.

Sepanjang penglihatan, rumah-rumah disekitar pesta tertutup rapat. Dari balik jendela-jendela, mereka cuma bisa mengintip.

"Saudara-saudara. Kita dukung UUD 45 dan Pancasila. Kita dukung negara persatuan dan kesatuan. Setuju!"

"Setuju!"

"Program kita kedepan adalah meningkatkan keamanan!"

"Setuju!"

"Program kita kedepan adalah menghancurkan segala bentuk ketidak adilan!"

"Setuju!"

Entah sudah latihan atau memang sudah kesepakatan, apapun yang disampaikan disela-sela pidato kata "setuju" selalu peragam serempak. Aku tak tahu, pakah mereka tahu. Bagiku suasana nya sedikit ada kesamaan ketika aku mengikuti shalat maghrib atau shalat berjamaah. Diakhir fatihah, selalu saja kata yang terlontar bersamaan. Serentak mengucap "Amin". Dan aku tidak tahu, apakah mereka tahu? Bagiku juga berdoa . Di sela-sela doa dan penutupnya secara bersamaan selalu kata "amin" selalu diucapkan bersamaan. Aku tidak tahu, apakah mereka tahu? Maknanya? Bagimana penerapannya? Entahlah!

Menjelang petang, keyboard habis-habisan di dendangkan. Para biduan dan undangan joged sampai karatana acara pesta pernikahan Andi, anak Pak Kusumo, seperti tak nabis-habisnya.

"Tumbangkan!"

"Rubuhkan!"

"Hancurkan!"

"Bakar!"

Sekelompok pemuda dan aparat berpakaian hitam-hitam, secara brutal merubuhkan ratusan karangan bunga yang berjejer tak beraturan. Kedaan berubah total. Suasana ramai dari setiap alunan dan goyangan, kini berubah menjadi ramai karena teriakan saling mempertahankan dan merubuhkan. Aku hanya melihat hati-hati dari balik jendela. Begitu juga beberapa orang tetanggaku. Istriku semakin tidak perduli, dia hanya menonton teve.

"Hei, ini acara pesta pernikahan. Tolong jangan buat keributan!" Seseorang yang berpakaian putih-putih berlambang merpati bermahkotra berteriak. Kumisnya y6ang melintang menyebabkan dia sedikit disegani orang-orang. Dan terbukti aksi merubuhkan seketika terhenti sejenak. Seseorang laki-laki botak berpakaian hitam-hitam berlambang kalajengking bertaring, maju.

"Kalau ini memang pesta pernikahan, kami tidak akan mengganggu. Dan hanya orang bodoh yang menganggap ini pesta pernikahan. Kalian curang, melanggar kesepakatan!"

"Apanya yang curang? Siapa yang melanggar kesepakatan? Anda jangan memfitnah , Jangan sampai kami menyelesaikannya dengan jalur hukum!"

"Oh, dipersilahkan dengan hormat, kami tidak memfitnah. Pesta apa namanya, jika semua undangan memakai seragam dan berlambang merpati bermahkota? Kalian curang! Kalian telah melanggar kesepakatan!"

"Lantas apa kalian tidak curang? Apa kalian tidak melanggar kesepakatan? Kalau begitu, kalian datang kemari sebagai apa? Ha? Kalian sudah merusak ketentraman orang lain?"

"Tentram? Ha…ha…ha… Kalian ini lucu. Kalian sendiri apakah sudah menjaga ketentraman lingkungan sekitar kalian. Tidak kan? Ayo, apa lagi?"

"Kalian perusuh!"

"Kalain yang perusuh!"

"Kalian curang!"

"Kalian yang curang, melanggar kesepakatan!"

Terjadi adu mulut yang cukup sengit, antar kecurangan dan akal-akalan. Keduanya mengagungkan sebagai penjahat benaran.

"Setuju!"

Malam sudah mengelus atap rumah. Pintu dan jendela telah terkunci rapat. Pesta pernikahan berubah perdebatan. Di rumah, aku ciptakan pesta pernikahan sendiri. Kali ini istriku tidak lagi tidak perduli.

 

Cerpen-cerpen karya Raudah Jambak

 Cerpen Sesal karya M. Raudah Jambak


 

     Suara azan magrib sudah berhenti. Rojali masih belum beranjak dari duduknya. Mata nya terus memandang kea rah pintu terali besi. Satu persatu polisi terlihat hilir mudik me ngawal tahanan yang diantar untuk menjumpai sanak saudaranya yang datang menje nguk, untuk kembali masuk ke dalam terali. Mulai dari pembunuh, pemerkosa, pengedar sekaligus pengguna narkoba, termasuk koruptor. Sisa rokok yang terbakar sudah penuh di sudut ruangan penjara. Tenggorokannya terasa semakin kering. Wajahnya yang lembam masih menyisakan duka dan penyesalan yang teramat dalam.

     Hari ini dadanya terasa sesak. Berkali-kali Rojali terlihat mendesah. Matanya terlihat semakin semakin kosong. Air matanya seakan mengering. Matanya kosong, hatinya kosong.

     Kepalanya tertunduk. Dalam ingatanya merasuk perempuan paruh baya. Janda kaya. Perempuan yang hobi menyisir rambutnya sambil bernyanyi-nyanyi sendiri. Perempuan yang sangat suka berdandan selama berjam-jam di depan meja rias. Waktu yang dipergunakan selalu habis berjam-jam demi hobi uniknya.

     Rojali mendongakkan kepalanya memandang langit-langit penjara. Bibirnya yang hi tam mengukir senyum. Beberapa orang pernah mengepungnya. Mengancamnya. Mere ka meminta agar Rojali menjauhi perempuan paruh baya itu. Mereka tidak terima kalau Roja li menikahi perempuan paruh baya itu. Mereka akan bertindak lebih jauh kalau Rojali ti dak mengindahkan ucapan-ucapan mereka.

     Rogayah, perempuan paruh baya itu untung saja datang. Kalau tidak, mungkin Rojali sudah babak belur. Jika satu atau dua orang mungkin saja masih di atasi, ini tidak, ada lima orang. Ditambah badannya yang besar-besar serta berisi. Rojali hanya diam menyaksikan adegan itu.

     Rojali mendengar bagaimana Rogayah memarahi orang-orang yang mencoba menye rang Rojali. Mereka mencoba membela diri. Mereka tidak mau Rogayah bersuamikan Rojali, seorang pemuda yang usianya hampir seusia dengan mereka. Mereka tidak ingin Rogayah membuat malu mereka. Mereka takut Rojali akan mempermainkan Rogayah, ibu mereka. Apapun alasannya mereka tetap tidak mau, tetapi Rogayah ternyata tetap pada pendiriannya.

     Rojali menghisap rokoknya dalam-dalam. Sifatnya yang pendiam tidak mampu memberi penjelasan kepada Rogayah. Rojali juga tidak bisa menyakiti perasaan Rogayah dengan mengatakan tidak ketika Rogayah mengatakan perasaan cintanya kepada Rojali.

     ”Iyalah, awak ini jelek. Jadi Rojali tidak mau sama awak.”

     ”Bukan begitu...” Rojali bingung. Tenggorokannya terkunci. Dia enggan menyebutkan kata yayang kepada Rogayah. Tetapi ketika Rojali menyapa dengan kata Mbak giliran Rogayah yang mengamuk.

     ”Anu, yang..”

     ”Kalau gitu bulan depan kita harus nikah!”

     Alah mak! Rogayah begtu cepat memutuskan. Rojali sekali lagi tidak bisa membantah. Mereka akhirnya menikah juga di KUA. Mereka hanya mengundang beberapa orang saja. Anak-anak Rogayah tidak bisa menentang keinginan ibu mereka. Begitu juga mantan suami Rogayah, hanya bisa geleng-geleng kepala.

     Perkawinan mereka akhirnya berlangsung juga. Begitu acara sudah selesai dan mereka sudah berada di rumah, mulailah acara perintah-perintah. Rogayah yang jauh lebih tua dari Rojali terlihat nampak dominan. Rogayah selalu memberi perintah kepada Rojali seperti memerintah anak-anaknya. Rojali yang pendiam hanya bisa menurut dan seperti sebelumnya tidak pernah bisa membantah.

     Untunglah Rojali bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta dengan gaji yang hanya pas-pasan. Kesempatan mengajar itulah yang dimanfaatkannya untuk menghindr dari sang ”nenek sihir.” Dan ketakutan Rojali kembali muncul apabila les terakhir berakhir. Rogayah sudah mengultimatum agar Rojali sehabis kerja jangan kemana-mana. Harus pulang terus ke rumah. Tidak ada alasan apapun.

     Begitu pulang, Rojali segera saja disuruh melakukan kerjaan ini dan itu sementara capeknya belum lagi hilang. Menyapu halaman depan. Menyiram bunga-bunga. Memberi makan ayam. Memberi makan ikan bahkan menanak nasi serta mencuci. Rogayah cukup memberi perintah sambil mengunyah sirih.Jika sudah selesai, maka Rojali segera diberi hadiah pelukan dan ciuman yang bukan hanya pada pipi tapi juga pada bibir.

     Rojali dengan kengeriannya sendiri hanya menerima pasrah serangan-serangan Rogayah yang begitu bernafsu. Dan kalau sudah begitu, genitnya Rogayahpun  muncul. Dia akan menjurus pada permintaan yang satu itu. Rogayah ingin ”berlayar”. Lalu Rojali dengan langkah terbungkuk-bungkuk melaksanakan tugas yang terpaksa. Ini pemerkosa-an! jerit batinnya.

     Kengerian Rojali bukan hanya sirih yang belum dibersihkan. Tetapi ketika melihat Rogayah yang seperti nenek sihir terlentang pasrah dengan senyum genit di bibirnya. Rojali mau muntah rasanya . Dalam pikiran Rojali hanya ingin menyelesaikan  tugas ’gawat darurat’ itu dengan segera . Dan setelah itu Rojali akan menjerit sekeras-kerasnya melihat  Rogayah tertidur pulas dengan dengkuran-dengkurannya.

     Nasib memang belum berpihak kepada Rojali . Belum lagi angan-angannya ingin mendapatkan anak dari Rogayah yang hampir renta . Dia pun mendapat bencana baru. Rojali dipecat sari sekolah. Kelas yang seharusnya empat kelas, tahun ini jadi dua kelas saja. Siswa baru yang masuk tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini siswa yang mendaftar hanya sedikit, sehingga terjadi pengurangan guru. Dan Rojali masuk dalam daftar  PHK dengan pesangon yang sangat kecil.

     Rogayah tidak lantas memarahi  Rojali. Rogayah justru sangat senang. Rojali tidak perlu kemana-mana lagi. Sialnya, Rojali, kontinuitas perintah semakin meningkat. Rogayah tidak perlu memanggil tukang untuk memperbaiki seng yang bocor. Tidak perlu memanggil tukang ledeng, atau tukang pemotong rumput. Cukup memberikan pe-rintah kepada Rojali. Hemat pulus.

***

       Malam ini Rojali menggali siasat. Malam ini malam ke seratus delapan puluh Rojali menjaring kesumat. Seperti biasa, tepat pada perhitungan semula, malam mengantuk di saat mata purnama tengah menyala-menyala di sela-sela bias cahaya yang menembus jendela kamar. Memberi sedikit ruang cahaya bagi kamar tidur yang temaram. Tepat di saat Rogayah menyelesaikan ritual sisir rambutnya. Lalu menuju ranjang yang sedang membekap Rojali dengan posisi telentang.

       Ruang kamar tak sesunyi biasanya. Ranjang sedang menyusun segala rahasia. Udara membentangkan lengang. Seperti menyampaikan isyarat kelam. Rogayah tidak membaca tanda-tanda kemayaan buram. Ia hanya terbiasa memerintah dengan segala kemanjaan purba. Memberi instruksi kepada Rojali. Hal yang harus dilakukan Rojali untuk mencapai puncak pendakian yang meyakinkan.

       Rojali tak lagi menunggu. Ia telah meramu segala cara, tak sekadar mendaki, tetapi cara sempurna mengangkasa. Rojali segera membumi setelah yakin Rogayah tengah disibuki segala suka cita di timbunan bunga semesta.

       Rojali merasa telah memperoleh segala kebebasannya yang tak berlangsung lama. Beberapa orang Polisi datang menciduknya. Rojali dituduh telah membunuh. Anak-anak Rogayah telah mengajukan pengaduan. Rojali tidak mengelak, ia mengaku. Pengakuan nya disertai dengan pukulan bertubi-tubi mendarat di seluruh wajah dan tubuhnya.

       ”Dari dulu kami tidak pernah setuju ibu kami menikah dengan bajingan tengik itu!” ujar anak-anak Rogayah,”Dasar pembunuh. Binantang itu hanya menginginkan harta ibu kami. Dasar orang yang tidak tahu diri. Puih!”

       Suara azan subuh sudah berhenti. Rojali masih mulai beranjak dari duduknya. Mata nya tak lagi memandang kea rah pintu terali besi. Satu persatu polisi mulai sunyi dari hilir mudik mengawal tahanan yang diantar untuk menjumpai sanak saudaranya yang datang menjenguk, untuk kembali masuk ke dalam terali. Mulai dari pembunuh, pemerkosa, pe ngedar sekaligus pengguna narkoba, termasuk koruptor. Sisa rokok yang terbakar sudah menggunung di sudut ruangan penjara. Tenggorokannya terasa semakin kering. Wajah nya yang lembam masih menyisakan duka dan penyesalan yang teramat dalam.

       Dia merasa rindu dengan Rogayah. Rojali ingin meminta maaf, dengan menemui Ro gayah. Seutas tali sudah ia siapkan sekadar untuk bertemu-muka. Rojali tak sabar ingin segera terbang. Tak lupa pula ia menuliskan rasa penyesalan dan permintaan maaf kepada semuanya termasuk anak-anak Rogayah di atas secarik kertas sebelum ia terbang.

       ”Rogayah, Sayang. Tunggu. Abang datang....”

Kutubul Amin, 2011

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerpen Peristiwa Makam karya M. Raudah Jambak

       Hari sepi sekali. Tetapi, siang ini cuaca terasa menyengat. Angin kering berhembus dari sela ranting-ranting pohon. Daun-daun yang gugur sejak pagi tadi sudah mulai menggunung. Sedangkan daerah sekitarnya lebih kepada kawasan semak tak berpenghuni. Ilalang ter lihat meninggi. Rumput-rumput membentuk permadani kusam, me nutupi sebentang nisan.

       Tempat itu menjadi semakin angker, sebab ujung nisan seolah ke pala-kepala  yang menyembul dari balik semaknya ilalang. Kesan ang ker bertambah dengan rimbunan pohon-pohpon sawit di kiri ka nan areal pemakaman yang agak tersembunyi itu. Hanya saja yang mem buat sedikit nyaman adalah keberadaan seorang penjaga makam, se kaligus si penggali kubur. Waktu-waktu luang tak jarang ia member sihkan rerumputan yang membelukar.

       Sengok, demikian nama si penjaga makam itu. Itu adalah nama panggilan penduduk sekitar kampung kepadanya. Nama aslinya sam pai saat ini masih belum juga diketahui. Dan orang-orang kampung pun tidak begitu peduli siapa nama aslinya. Dari mana asalnya, ter masuk siapa keluarganya. Orang-orang kampung hanya tahu Sengok adalah lelaki setengah baya, bertubuh kurus, yang selalu membantu orang lain. Menyenangkan bagi siapa saja. Kekurangan nya hanya pada saat bicara. Sengok persis seperti orang yang terkena ashma ketika bicara.

       Sebab kebaikannya itu pulalah yang membuat orang selalu perca ya padanya. Orang-orang juga sering mengantarkan makanan untuk nya. Sengok tidak pernah meminta apalagi berharap belas-kasihan dengan dirinya yang sebatang kara. Tetapi, ia selalu dengan sukarela membantu termasuk menguburkan sekaligus menjaga salah seorang keluarga dari warga kampung yang meninggal dunia.

       “Sengok, siapkan pemakaman ada warga yang meninggal dunia!”

       Selalu begitu, setiap pak Kepling memberitahu. Sengok lalu de ngan cekatan meng gali kubur dan menyelesaikannya, paling cepat dalam tempo satu jam. Sendiri saja. Tidak perduli apakah kubur un tuk orang dewasa atau anak-anak. Pada saat hujan atau panas terik. Orang-orangpun tidak segan-segan memberikan upah walau pun Se ngok tidak meminta. Sengokpun tidak kuasa menolak sebab orang-orang selalu memaksa.

       Upah yang diberikan pun bermacam-macam. Ada yang membe rikan pakaian, makanan, maupun  uang. Sengokpun menerimanya dengan senang hati. Pakaian dan makanan yang ia terima tak jarang diberikan kepada anak-anak pengamen yang sering melintas di areal pemakaman itu. Sedangkan uang selalu disimpannya, di bawah tikar pandan. Di dalam rumah pohon yang dibangunnya untuk tempat tinggal.

       Tetapi, hari ini sepi sekali. Cuaca yang menyengat semakin laknat. Angin kering semakin mengeringkan ranting-ranting pohon. Daun yang gugur adalah tubuh-tubuh tak bernyawa yang kehilangan kubur. Areal pemakanaman itu terkesan lebih tak terururs, sejak kepergian Sengok. Ilalang menjulang. Rumput-rumput masih semaput. Meneng gelamkan ratusan nisan.

       Sengok meninggalkan areal pemakaman itu diam-diam, setelah warga menuduhnya membongkar salahsatu kuburan secara paksa. Salah seorang warga mengaku telah melihatnya sendiri.

       “Ya, Pak. Saya berani sumpah,” ujar Ceromot yakin,”Saya melihat sendiri Sengok yang telah membongkar kuburan Marni.”

       “Saya juga, Pak,” Markodet menimpali,”Saya juga pernah melihat Sengok hampir membongkar kuburan Sartini. Untung saya cegah, kalau tidak…”

       “Kalau tidak? Kalau tidak apa?” Tanya pak Kepling penasaran.

       “Kalau tidak Sartini yang cantik itu. Sartini yang sudah jadi mayat itu sudah disetubuhinya.”

       “Kamu yang benar. Jangan sampai menebar fitnah yang bukan-bukan!”

       “Terserah, Bapak. Mau percaya atau tidak. Saya ragu, tetapi mung kin ini ada kaitannya dengan ilmu hitam. Kafan penutup mayat bisa menjadi media untuk melaksanakan niatnya untuk melakukan ritual ilmu hitam. Apalagi kalau tidak salah itu dilakukannya pada hari ka mis, menuju ke malam jum’at.”

       Orang-orang terhasut. Orang-orang mulai mengupat. Sengok tertunduk. Dia tidak tahu, bagaimana harus menjelaskannya. Penje lasannya tidak dipahami. Orang-orang lebih percaya kepada Ceromot dan Markodet, abang-adik, preman kampung yang pekerjaannya selalu bermain judi di areal pemakaman. Membawa beberapa teman mereka untuk minum-minuman keras. Lebih parahnya lagi, memba wa perempuan malam untuk melakukan perzinahan di antara dere tan nisan.

       Sengok tidak didengar, sebab dia bukan penduduk asli kampung itu. Sengok adalah orang lugu dan bodoh untuk berbuat macam-ma cam. Apalagi dalam hal melakukan kekerasan. Setiap ingin menjelas kan sebuah tamparan menghantam pipinya. Terutama tamparan yang berasal dari telapak tangan Ceromot dan Markodet. Akhirnya, Sengok hanya bisa diam. Diam terhadap kebinalan Ceromot dan Mar kodet yang kelakuan mereka pernah beberapakali pernah digagalkan nya dengan bermacam cara, termasuk menyamar jadi apa saja ter masuk jadi hantu.

       “Sudah, Pak Kepling. Jangan Tanya lagi. Usir saja…!

       “Ya, kami setuju!” Teriak warga serentak.

       “Diam. Saya yang memutuskan. Saya baru akan mengusir Sengok jika bukti-bukti yang memberatkan cukup kuat. Saya akan menyeli diki!”

       Kali ini warga diam. Terlebih Ceromot dan Markodet. Mereka ber dua hanya saling curi tatap. Sampai akhirnya warga bubar mening galkan pak Kepling dengan Sengok, berdua. Sementara dari  kejauh an Ceromot dan Markodet tetap mengawasi. Mereka tidak bisa ber buat banyak, apalagi pak Kepling yang notabene Paman mereka tidak mudah begitu saja percaya dengan penjelasan mereka berdua.

       Tetapi Sengok yang memutuskan sendiri. Seperti hari ini, dia pergi. Awal kepergiannya memang tidak begitu berpengaruh. Hanya saja setelah meningginya rumput dan ilalang, orang-orang mulai ke hilangan. Orang-orang mulai rindu pada Sengok yang ringan tangan dan suka membantu. Rindu Sengok yang tidak pernah meminta upah atas segala pekerjaannya.

       Ketidak-beradaan Sengok ternyata sangat berpengaruh bagi pen duduk kampung. Kampung jadi banyak sampah. Kampung jadi kotor. Lebih parahnya lagi, orang-orang kampung melihat areal pemakam an jadi tempat segala macam tindak kriminal. Perjudian, mabuk-ma bukkan, dan tempat transaksi tali air. Tidak cukup sampai di situ, ba nyak kuburan yang dibongkar, mayatnya dibiarkan begitu saja.

       Tumpukan mayat menyebabkan timbulnya bau yang tidak sedap. Orang-orang kampung tidak berani bertindak. Mereka takut. Mereka jijik. Mereka telah lupa bagaimana cara menguburkan jenazah. Terle bih ketika mereka menemukan Ceromot mati sangat tragis sekali. Markodet berteriak begitu sadar tubuh Ceromot ditemukan sudah tidak bernyawa, menempel di tubuh seorang perempuan yang juga tak bernyawa.

       Orang-orang kasak-kusuk. Kampung gempar. Pemberitaan di surat-surat kabarpun menebar. Sengok pun seketika dielu-elukan. Sengokpun seketika dirindukan, dikarenakan pengakuan Markodet yang mengejutkan.  

       “Sengok tidak bersalah. Sengok tidak bersalah!” berkali-kali Mar kodet berteriak. Terus berteriak. Berlari ke sana ke mari. Mengitari seluruh kampung.

       Hari semakin sepi sekali. Termasuk siang ini, cuaca terasa menye ngat. Angin kering berhembus dari sela ranting-ranting pohon. Daun-daun yang gugur sejak pagi tadi sudah mulai menggunung. Sedang kan daerah sekitarnya lebih kepada kawasan semak tak berpenghuni. Ilalang ter lihat meninggi. Rumput-rumput membentuk permadani kusam, menutupi sebentang nisan.

       Tempat itu menjadi semakin angker, sebab ujung nisan seolah ke pala-kepala  yang menyembul dari balik semaknya ilalang. Kesan ang ker bertambah dengan rimbunan pohon-pohpon sawit di kiri kanan areal pemakaman yang agak tersembunyi itu.

       “Sengok tidak bersalah!”   

 

                                                                                                        Medan, ramadhan           

 

 

 

 

 

 Cerpen Mbirokateya karya M. Raudah Jambak


 

       Mbirokateya memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari dahi dan sekujur tubuhnya. Ia masih teringat pesan Ma. Perasaan menyesal seperti tiada guna, pikirnya. Ketika itu Ma hendak mengajaknya ke bevak ditengah hutan. Sebenarnya Ma harus sendiri, sebab itu memang sudah ketentuan adat. Tetapi, Ma sengaja mengajaknya diam-diam agar ia cepat mengerti tentang keberadaan perempuan di kampungnya.

       Angin berhembus pelan. Ranting-ranting pepohonan saling bergesekan. Awan tipis menutupi matahari yang perlahan merangkak. Bias cahaya di langit membentuk sebuah pantulan berjuta kilau permata sejauh mata memandang.

       Waktu fajar mulai menyingsingkan auranya menyinari seluruh kebekuan alam se mesta. Mbirokateya ingat dengan apa yang dilakukan Ma, sebelum mengajaknya menuju bevak , memulai rutinitas sebagai perempuan, sebagai ibu.

       Setiap kali bangun pagi selalu saja ada makanan didapur. Makanan yang dibungkus rapi dilipat daun pisang yang dipetik Ma setiap sore dikebun belakang atau menikmati ulat manggia atau koo, yang sudah dipanen dari sisa tebangan pohon sagu yang telah dipangkur sekitar dua minggu sebelumnya. Koo itu dimasukkan dalam bekal sagu yang telah dibulatkan seperti bola lalu dibakar. Tubuh koo akan melumer. Rasanya sangat gurih dan legit! Bagian kepala koo yang renyah berasa popcorn. Kebun itu adalah tempat Ma selalu menumpahkan hari-harinya, sambil merasakan segarnya batang tebu atau buluh bambu dan melesapi gula-gula. Ma senang bercocok tanam. Ma senang melakukan tugas itu sebagai perempuan yang merdeka. Menanam benih dan menunggu hasilnya, sampai waktu panen tiba.

       Makanan tersebut dibagi menjadi dua. Satu buat bekal dan yang lainnya sekedar sarapan seadanya antara Mbirokateya dan Ma. Sehabis makan kami segera berangkat diam-diam, menyisir perjalanan sepanjang hutan.

       Hutan inilah rumah sebenarnya bagi mereka. Berdinding belantara. Tempat kelahiran dan kematian. Hitungan ratusan tahun mereka diami tempat ini. Menghirup segala. Hidup kan segala. Menyatu dengan segala. Bermain dengan angin, dengan akar pepohonan, dengan semak belukar. Anak-anak, kaum perempuan, dan para lelaki telah terbiasa melukis kelam. Berpeluk pengab raya.

       Lingkaran api biasa mereka sulam pada malam. Memetik kerdipan bintang. Menjaring bulan. Mengunyah pituah para tetua. Menebalkan tambalan sejarah pada jiwa-jiwa. Dan sesekali menyemai tawa. Sesekali menuai duka ketika memamah sihir kata bak pujangga. Pada akhir sulaman cerita, gederap sukacita menuntun mimpi-mimpi menyam but  pagi.

       Gubug-gubug mereka adalah pepohonan yang bernyanyi. Seolah laut yang berpantai  damai. Seperti dermaga sebagai tempat penumpah lelah sehabis memerah tubuh-tubuh basah. O, betapa hidup dari waktu-ke waktu selalu mengelus berkah.

       Kegelapan inilah selimut hangat yang gemerlap. Mata hati adalah sebilah pisau tajam yang selalu terasah. Kelam bukanlah jaring-jaring perangkap yang membekap, tapi ia tapak-tapak kaki yang selalu mengatur jarak. Menancapkan jejak. Mereka tahu arah me langkah kemana hendak berpijak. Pulang dan pergi tak selalu bergantung pada matahari. Tak pula menunggu tuntunan bulan. Bukan menafikkan ciptaan Tuhan. Tapi, justru dengan gelap dan kelam anugerah itu didapatkan.

       Berjalan dan berlari adalah seringan hembusan angin menembus belukar dan semak berduri. Segala telah tersedia dalam rentang waktu yang tak dapat dihitung dengan rumusan angka-angka. Segala telah terjaga dengan aturan adat yang paling beradab. Amboi, masa-masa gemilang itu perlahan di gebuk gelombang. Menusukkan amuk, remuk.

       Mbirokateya diam. Ia merasa tidak punya cerita menarik pengganti kekakuan perjalanan. Berbeda dengan Ma, Ma sosok perempuan yang gigih, pantang menyerah dan penyabar. Walau terkadang agak sedikit egois dan keras juga. Itu perlu dimaklumi jika dikaitkan dengan masa Ma di waktu muda. Aktif menyerukan kemanusiaan. Antara kecintaan orang tua, kampung dan kebebasan perempuan menjadi titik utama perjuang annya, bersama teman-teman seangkatan mereka yang berasal dari luar kampung bahkan ada berasal dari luar pulau, dan luar negara.

       “Engkau tahu? Bunga bakung berwarna merah, bentuknya indah? Begitulah perempuan. Parasnya bak kembang. Merahnya laksana hati. Dan kau tahu? Bunga keris papua? Itulah kita yang sebenarnya,” ujar Ma.

       Dia hanya diam. Pikirannya hanya diselimuti cemas. Cemas melihat kondisi Ma.  “Kau tahu, Sali yang masih menjaga kehormatan keperempuanan kita, menghadang segala kejahatan yang berasal dari balik koteka kaum lelaki, di antara bidang telanjang dada mereka. Ketelanjangan kita, ketelanjangan yang terhormat. Ruas tulang yang meninggalkan bentuk dari kulit yang tipis dan hitam, bergerigi, di dada perempuan kampung kita yang membusung. Kehitaman anak-anak di kampung kita adalah kehitaman yang bersahaja. Mulai dari kaki sampai wajah. Rambut gimbal bergulung adalah gelombang yang tertahan dan siap dilontarkan. Perut anak-anak kampung kita yang menyimpan dan menjaga kesejarahan, membusung. Tulang punggung yang menonjol, pertanda kekuatan yang mengagumkan. Mereka tidak mengenal bangku sekolah, tetapi tanah, lumpur, bukit, dan hutan. Kita berhasil menjaga kehormatan keperempuanan kita dari bengisnya hutan. Biarlah nira kelapa, alkohol, dan tembakau kecintaan bagi laki-laki, menghempang dari kebiasaan mereka berperang, mengayau, ini sesuatu yang patut disyukuri. Dan memang sejak itu ayahmu tak bisa menunjukan kepiawaiannya memanah jantung musuh, atau menebas leher dan menggantung kepalanya di tangan, tidak lagi, Mbirokateya! Kita harus terus menjaga kehormatan perempuan di kampung kita!?”

       Mbirokateya masih membisu.”Perempuan adalah beyor atau burung nuri dan ir atau kakatua putih. Ini tergambar pada ukiran motif paruh burung sebagai hiasan kepala. Para suami tidak tahu, kalau nenek moyang kita tidak sekedar menempatkan simbol untuk perempuan itu diatas kepala. Ia harus dihormati dan dijunjung tinggi, Mbirokateya! Tapi nyatanya? Perempuan kita tertindas, terisolasi dari emansipasi atas kesetaraan gender, terkekang adat masa lalu. Ketika para lelaki kehilangan pekerjaan untuk berperang dan mengayau lalu merampas hak tanah atas hutan sagu dan babi, para lelaki tidak lagi punya pekerjaan kecuali hanya mengukir patung saja. Dan perempuan masih punya peran domestik yang bukan menjadi tanggung jawab suami, dan wajah para ibu selalu tampak lebih tua dari bapak. Kita mesti merevolusi sistem budaya yang ada dengan sistem baru yang lebih bisa menempatkan perempuan sewajarnya, Mbirokateya! Harus!”

       Mbirokateya terkesiap. Terkejut. Perasaan bersalah itu selalu menghantui. Kata-kata Ma, yang sempat ikut orang luar, dalam kegiatan LSM, seperti membekas, berkarat. Apa yang sekarang ini dialaminya cukup tidak adil. Ia setuju dengan apa yang dikatakan Ma.

       Ma selalu memikirkan segalanya. Memikirkan keperluan rumah tangga, terutama untuk anak-anaknya. Dan Mbirokateya merasa seperti diperlakukan istimewa. Ma pun tidak malu mencari upahan sampai jauh ke kota. Bekerja apa saja. Dari upah sedemikian rupa ia tidak lupa untuk menyisihkan sebagian uangnya, di tempat yang paling rahasia, sebuah potongan bambu berlubang di tiang penyangga Honai.       

                                                                * * *

       Senja bersama sinarnya yang kemerah-merahan menyapa di bilik teras dan rumah ke labu. Ma duduk lagi dekat daun pintu sedang Mbirokateya bermain-main sebisa mungkin apa yang membuat hati riang.

       "Mbirokateya ke sini sebentar!” Ma berseru,” Jangan sering bermain, kapan kamu akan belajarnya? Lekas ambil buku yang diajari gurumu di sekolah lalu duduklah di sampingku!” Dengan rasa kesal Mbirokateya segera mengambil buku di dalam tas dan berpura-pura membacanya sambil sedikit berkomat-kamit namun hatinya tak dapat dibohongi bahwa seusianya selalu saja ingin bermain-main.

       "Belajarlah yang rajin agar kelak kamu jadi orang pintar tidak seperti perempuan-perempuan di kampung kita,” Ma menambahkan. Suaranya terlintas manja bertanya pada Mbirokateya. ”Jika sudah besar nanti apakah gerangan yang kamu cita-citakan?”

       ”Guru!”

       ”Kenapa?” Sambil mengerutkan jidatnya yang memang sudah keriput.

       ”Kan enak, bisa membagi ilmu buat siapa saja. Bapak mungkin akan senang.”

       ”Bapakmu tidak akan kembali lagi karena dia telah memelihara burung merpati di sangkar lain?” Hanya itu yang keluar dari mulut Ma. Mbirokateya tak pernah tahu. Ia benar-benar tidak mengerti bapak di manakah rimbanya.

       Sehabis bicara seperti itu, kian mulai terasa. Dengan sigap Ma langsung menyergap Mbirokateya membekapnya dalam dekapan, memeluk erat diketiaknya. Tanpa sengaja tiba-tiba airmatanya meleleh jatuh di halaman buku yang masih terpegang. Entah apa yang telah terucapkan tadi sehingga membuat Ma menangis terseok-seok dan membawa nya larut dengan suasana yang semakin membingungkan. Suasana Itu berlangsung agak lama sampai tak tahu waktu mulai mengguratkan kelam perlahan.

       Alunan suara alam bersenandung di gendang telinga menyadarkan ingatan. Senja sengaja ditutupi halimun yang beraroma dingin mencolek tubuh yang gagap bersama waktu. Secuil harapan dikemudian hari merengkuh bagai sembilu untuk mempertaruhkan hidup dimasa tua bertarung sendiri demi hidup yang semakin terhimpit. Tentunya dalam nadinya tersebar memuat getaran-getaram yang keluar dari batinnya ialah untuk anak dan keutuhan keluarga.

       Selama itukah Ma dan Mbirokateya harus berkisah. Tentang hidup yang harus selalu di perjuangkan tanpa beban bukan semata-mata dijalankan.

       "Bukan lantaran nasib, tidak lebih. Kesabaran dalam memilih dan keteguhan sebagai manusia yang tabah adalah tameng yang kuat. Mungkinkah hanya hidup begini atau karena ditinggalkan seseorang kita harus menyerah. Alangkah naif manusianya.”

       Begitulah Ma menggunakan sisa-sisa hidupnya yang sering ditunggui waktu. Kini aku berada sendiri di sini meniti ke-dewasa-an berbaur bersama suaranya dengan bayang nya pula.                                                    ***

      ”Mbirokateya, Anakku! Kita harus memanusiakan manusia? Tidak hanya Ma seorang yang seharusnya merambah hutan, mendayung perahu, memangur sagu, menjaring ikan, dan bila ada sisanya, dijual dipasar, uangnya hanya sekedar untuk membeli rokok untuk suami, minyak tanah untuk lampu petromak. Tidak! Ma tidak memilih berdiam diri, dengan tidak melakukan pekerjaan itu, karena bapak siap saja dengan tombak, panah, atau apa saja yang bisa menakuti mata Ma.

       Ma hanya bisa menangis pada akhirnya, sedang kau hanya bisa meringkuk, tangis pecah dari bibir adik-adikmu, melihat bapak pernah menghantamkan benda tumpul kekepala Ma. Kau tahu Ma meraung, lalu mendarat lagi kaki bapak pada perut Ma yang sedang membuncit. Ma sedang hamil, Ma tidak bisa mengangkat kaki untuk sekedar meminum air mentah di dapur, Ma pingsan, dan darah mengalir dari liang, orok keluar dari rahim Ma, dan terlihat tali placenta melingkar.

       Tetapi bapakmu malah menjerit ketakutan, lalu minggat dari Honai, bukan karena Ma pingsan dan keguguran, melainkan setetes darah yang keluar merupakan pantangan, katanya bisa menimbulkan penyakit, kematian apalagi membasahi lantai Honai. Dan perempuan selalu melahirkan anaknya didalam bevak ditengah hutan, sendiri. Menu-rutmu! Hal ini yang menjadikan perempuan kita tidak seperti manusia, Mbirokateya! Ma tidak bermain lumpur, tidak berenang disungai, tidak menikmati hujan, kadang memban tu nenekmu memangur sagu.

       Ma selalu  ingin sekolah pada sekolah yang sudah lapuk itu. Ma sekolah hanya untuk merubah nasib; Nasib Ma, kau, adik-adikmu dan kaum perempuan. Ternyata, perjuangan Ma tetap sampai pada nasib Ma sendiri, tidak pada nasib orang lain, tidak nenekmu, kau, adik-adikmu, dan perempuan kita karena mereka punya nasib sendiri. Ma tidak kuasa mencampuri urusan para istri, sesaat perlakuan suami mereka tak kalah sama dengan ba pak dan kakekmu. Mereka tidak melahirkan di puskemas, tetapi ditengah hutan. Ma tak dapat menolak atau pura-pura tidak tahu tetapi Ma dan juga mereka tak dapat mencegahnya?”

       Mbirokateya menggamit tangannya, tidak lapuk, tua atau kasar seperti tangan Ma ketika seumurnya. Malahan masa mudanya, disaat alat reproduksi perempuan telah ranum, dan vagina yang harum itu tidak dibaluti oleh sali atau yokal untuk wanita bersuami. Ia tidak mengikuti pesta dansa tiap hari minggu, mencari pasangan, calon suami, dan sekenanya membakarkan sagu untuknya di Honai seperti apa yang dilakukan masa muda perempuan di kampungnya. Ia belajar, ia sekolah. Ia merasa sedikit berun tung dari Ma.

       Ma selalu mengajak Mbirokateya kemana-mana kecuali ke kota. Jarang sekali Ia diajak Ma untuk ikut ke kota, paling cuma di hari Minggu itu pun hanya beberapa kali. Ma suka melihat Mbirokateya sekolah. Suka mengantarkannya ke sekolah, walau jaraknya luar biasa jauhnya

       Ma harus melewati perbukitan dan jalanan setapak untuk mengantarkannya ke sekolah dulu dengan menggunakan sepeda butut. Jarak rumah dan sekolahku cukup jauh tapi Ma tidak pernah mengeluh dengan hal sepele seperti itu. Jalanan menurun dan mendaki maupun zig-zag tidak membuatnya lupa.

       Ma sudah hafal betul letak lokasi sekolahan Mbirokateya yang  dipasung kayu berpalang yang menjulang tinggi mencakar langit sebab dari kejauhan sudah tampak di mana tanda-tandanya. Setelah cukup dekat di depan sekolah, ia melepaskan dengan isyarat dan ciuman.

       "Ingat! Dengarkan semua ajaran guru dan ikuti keterangannya serta jalankan perintah guru agar kelak kamu menjadi orang berguna bagi keluarga dan bangsamu. Sepulang sekolah kamu tunggu di sini, sambil menunjuk ke pohon kapas tempat berhenti. Begitu lah miripnya suaranya sebelum meluncur cepat dan hilang sebab dihalang-halangi kabut untuk selanjutnya pergi.

       Siang terasa berlalu begitu saja. Apa yang diperoleh selama belajar tadi belum semua nya masuk ke otaknya. Banyak yang terbersit di telinga. Bersamaan dengan bel sekolah terdengar riang diiringi teriakan teman-teman menyambutnya gembira.

       Jam menunjukkan angka satu. Mbirokateya keluar dari ruang kelas dengan langkah gontai menuju pohon kapas seperti janji sebelumnya. Tidak terlalu lama harus menunggu menunggu sesosok tubuh yang kekar mengiringi derap ayunan yang berlipat-lipat dari kaki yang mulai cadas. Mbirokateya mendekat naik diboncengannya! Selama perjalanan mata Mbirokateya tertuju pada sekujur badan Ma dan tertegun meratapnya. Sekecil itu, Mbirokateya semakin merasa iba dengan keadaannya yang terus menerus seperti ini mengarungi bahtera kehidupan dengan segala peluh, jerih payah yang ada. Tidak tampak sedikitpun rasa gusar yang melingkar di tubuh Ma. Begitu lamunan itu sudah terbuai Mbirokateya tak mampu berbisik walau di dalam hati. Terdengar agak kabur bahwa Ma memblokir lamunan Mbirokateya.

       ”Mbirokateya! Engkau salah. Perjuangan tidak sampai disini. Kita melakukan gerak perubahan perlahan secara menyeluruh, dengan membangun yayasan pengembangan masyarakat terutama perempuan, menghidupkan puskesmas, mengadakan penyuluhan, memperkenalkan KB. Ma kira, beberapa tahun akan terjadi pergeseran sistem budaya?”
       Ma menarik Mbirokateya duduk di dekatnya. ”Mbirokateya, Anakku. Ma kira, Ma lelah. Ma, kakak tertua dengan banyak adik lelaki dan adik perempuan. Jarak kelahiran kami rapat sekali, hanya terpaut 1 tahun saja. Karena nenekmu tidak tahu KB. Enam orang adik Ma telah meninggal karena penyakit ispa dan malaria. Karena asap tembakau dari bibir orang tua di honai, juga asap perapian yang mengepul di langit-langit, tembus hanya sedikit saja dari atap rumbia, tidak lewat jendela karena Honai tak punya jendela, tidak lewat dinding gaba-gaba, tetapi sebagian lagi masuk lewat napas, dan simpan dalam paru-paru. Adik Ma terkena radang. Sementara adik Ma yang perempuan terus bermain di lumpur, kadang membantu memangur sagu. Mereka masih kecil-kecil saat itu, sehingga tak terlalu peduli untuk mencari makan.

       Hanya Ma yang tidak kerasan melihat nenekmu mesti memanggul bernoken-noken sagu, sering ada goresan taring nyamuk dan lalat babi berdarah, lengket di tiap kulitnya. Belum sempat ia mengatur napasnya yang terengah-engah, menyeka keringatnya yang muntah disekujur tubuh, mendiamkan sejenak tulang sendinya yang ngilu, memejamkan matanya, ia sudah berlalu lagi dengan sekeranjang ikan untuk dijual kepasar di desa seberang. Dan sebagian uangnya ditabung untuk biaya rumahtangga. Seketika airmatanya tumpah begitu saja, saat Ma mengutarakan keinginan Ma untuk sekolah.

       Ma tahu dalam airmata itu ada harap yang begitu besar untuk menjadi kan Ma orang besar, mengubah nasib, pola pikir masyarakat yang cenderung ke sistem patriarkhis. Ma tanya kadang terpejam satu persatu dengan nafas mulai semraut mungkin sekarang ia mulai berasa kepayahan. Selebihnya, entahlah! Ma tak sanggup mesti menyaksikan nenek mu bersusah payah merambah hutan sendiri, sedang kakekmu asyik saja bergumul de ngan nira kelapa, alkohol, judi dan perempuan lain, lalu setibanya di honai, kakekmu hanya menadahkan tangan, meminta jatah.

       Ma tidak sanggup melihat nenekmu menyayat kulitnya yang memar-memar dengan silet atau pisau sebagai cara untuk mengurangi rasa sakit, sembab sambil terisak, mena han perih, lalu darahpun mengucur mengaliri goresan yang memanjang. Bapak! Ibu sedang sakit! Jerit Ma, tetapi kakekmu tak peduli, ia tidak segan memukul sampai membunuh bila tidak menyediakan sagu dan rokok.

       Mbirokateya, Anakku. Yang harus dirubah, pertama ialah pendidikan bagi satuan unit terkecil ke tatanan makro, tidak hanya dengan melakukan lokakarya, membuka puskesmas, penyuluhan KB, sedang masyarakat sendiri tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup untuk itu. Siapa yang tahu kalau masih ada beberapa Ma yang suka merambah hutan, memangur sagu, sedang suami tetap menakuti mereka dengan sebilah parang?”

       Mbirokateya ingin menjerit jika mengenangkan hal itu. Kecerdesan Ma ternyata tak sebanding dengan keberingasan bapak. Bapak poligami. Mungkin memang sudah mendarah daging bagi perempuan di kampung kami. Satu-satunya impian perempuan di sini; Hari ini atau besok dijadikan istri yang sekian kali dari seorang pria. Ma menjerit sekenanya, tetapi tak kuasa berontak. Terlihat api cemburu meradang, emosinya meluap dan siap lepas dari puncak kepala, tetapi ambisi Ma selalu surut melihat sebilah kapak atau dayung yang tergantung di dekat bapak.

       Mbirokateya menghela napas,”Aku masih sekolah, Ma yang memperjuangkannya. Aku ingin menghidupkan teser, bahwa perempuan tetap sebagai makhluk sakral, lewat perwujudan kedua mama tua, ucukamoraot (roh pohon beringin) dan paskamoraot (roh kayu besi) yang dilahirkan oleh ibu bumi. Aku masih sekolah sampai masa haid pertama dan alat reproduksiku telah matang. Aku turun lalu melangkahi sekat-sekat papan yang berlubang di atas jembatan yang makin lapuk.”

       Dengan bekal sekedar nya, dengan pakaian yang tak layak untuk ke pesta, dengan sepasang sandal yang sudah usang, dengan ijazah sekolah rakyat yang diletakkan dalam noken, digamitnya erat-erat. Airmata Ma hanya tertahan, ia tidak ingin menangis melihat Mbirokateya sekolah. Mabahagia, menyodorkan sejumlah uang, dan menyuruh pergi ke desa Bis Agats, kerumah saudara perempuan Ma. Mbiorkateya memanggilnya mamak. Ma tersenyum, lalu satu tangannya mengusap wajahnya. Mbirokateya melihat di antara ujung-ujung jari Ma, ada yang terpotong, dan sebagian jari yang terpotong itu pasti dibungkus kulit kayu, disatukan dalam kantong berisi abu jenazah kakek, dan digantung pada honai bapak. Mungkin Ma melakukan mutilasi tanpa setahu Mbirokateya.

       ”Mbirokateya, Anakku. Kita harus berjuang. Tanah ini, masyarakat ini adalah tempat kelahiran kita, tempat kita pertama hidup. Tidak ada yang akan merubah sistem adat, budaya atau nilai kecuali kita saja, cucu-cucu Asmat. Engkau belum gagal karena engkau sendiri sudah berhasil sekolah. Sedang anak-anak lain, lelaki atau perempuan juga adikmu tidak mengerti saat itu, mereka tidak mengikuti jejakmu untuk tetap sekolah, sehingga mereka tetap terikat pada budaya masa lalu. Keterbatasan ilmu merendahkan pikiran seorang lelaki, ibu dan anak untuk keluar dari sistem patriarkhis, dan tak mengerti hakekat Tuhan. Masyarakat kita berada pada sebuah lingkaran yang tak punya lubang untuk keluar. Kita yang mesti menembus dinding lingkaran itu?”

       Mamak tidak sering melakukan pokomber atau usi, ia mempelajari cara perempuan Muyu berladang, menanam pisang, ubi, tebu, kangkung, dan hasilnya dijual kepasar. Ia sering menjaring ikan, dan sering menukarkan dengan beberapa noken sagu pada tetang ganya. Mamak tidak bisa membiayai sekolah Mbirokateya, mereka miskin dan Ma tidak selalu mengirimi uang. Karena niat sekolah telah mengakar, Mbirokateya rela saja ketika mamak menawarkannya untuk menjadi pembantu rumah tangga.

       Mbirokateya meringkuk sepi dalam honai, airmatanya mengalir jatuh ke lantai, jatuh pula ke lumpur pekat. Ia tidak ingin menuruti mamaknya mandi lumpur selama 40 hari, mencukuri rambutnya karena Ma meninggal. Ia tidak berpikir untuk memotong telinga seperti yang sering dilakukan penduduk di kampungnya maupun di kampung mamaknya. Ia memilih bisu, menutup bola matanya rapat-rapat, mendekap telinganya, lalu terisak.

       ”Mbirokateya! Engkau tidak ingin pulang ke kampung Ewer?”

       ”Tidak, Mak. Aku tidak ingin melihat bapak tertawa saja di depan abu Ma.?”

       ”Adik-adikmu?”

       ”Ya, Mak. Mereka sudah punya teman bermain. Anak-anak istri bapak yang baru.”

       Mamak tidak melanjutkan pertanyaannya, ia berjalan ke bilik perempuan, agak terbungkuk dan tulang lehernya tampak karena tinggi honai sekitar 1,5 meter saja. Mbirokateya masuk ke ebey. Mbirokateya tak lagi bisa menahan getir, ia mengambil pisau dan diletakkan di antara jarinya. Dan roh Ma lewat di depan matanya, ia ingat Ma masih tersenyum, bibir hitamnya tersunging, sumringah. Lesung pipi dari wajah yang sudah keriput terbentuk walau tak kentara, Ma mengingatkan sekolah, Mbirokateya mengurungkan niatnya. Ia lalu melempar jauh-jauh pisau itu, menutup matanya rapat-rapat sehingga airmata yang sejak tadi berlinang menetes perlahan.

       ”Aku tak bisa melanjutkan sekolah!”

       Mbirokateya melipat tangan keatas dadanya, dipandangnya lekat-lekat cahaya petromak yang begitu lemah, lalu beralih ke kaso-kaso. Matanya kosong, tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang berada di alam nyata. Ia bermimpi uang melingkar di mimpinya, dan uang itu hilang sampai ia tertidur pulas.
       ”Aku Mbirokateya! Aku bisa masuk SMA di Merauke berkat majikanku. Ia mengantarku dengan menumpang kapal perintis dan singgah di dermaga Merauke. Aku punya ijazah sekolah rakyat dan SMP, tetapi aku tak punya cukup uang untuk menye lesaikan SMA. Umurku hampir 18 tahun. Lelaki mana yang tidak tergiur pada tubuh indahku, dan naluri seorang gadis remaja yang juga menyukai seorang lelaki. Ah.. antara ingin sekolah atau tidak. Apakah sekolah pasti menjadikanku orang besar? Uang hasil jerih payahku mengalir begitu saja hanya untuk sebongkah ilmu. Aku pernah kelaparan lantaran uang makan untuk biaya sekolah. Karena aku masih hidup, Aku harus rela bekerja walau dalam keadaan sakit. Mengapa aku masih sekolah? Sederhana saja. Aku sudah terlanjur sekolah, aku sudah merangkak sampai tengah dan harus sampai ujungnya, tidak mungkin berhenti ditengah karena aku bakal turun kembali. Kedua, karena aku ingat Ma?”
       ”Bagaimana mungkin engkau masih bisa hidup tanpa uang dan menyelesaikan SMA?”

       ”Apa yang tidak mungkin? Aku masih punya tubuh yang sintal dan kuat, punya tenaga, tetapi jangan kira aku menjadi PSK bagi penebang kayu gaharu. Aku bisa tidur seperti pengemis, bisa menjadi pembantu, mencuci, memasak. Aku masih punya jiwa, dan jiwa itu mesti dihidupkan, bukan tanpa arti. Tidak, manusia tidak hanya sekedar hidup. Aku baru tahu kalau manusia tidak hanya sekedar hidup seperti apa yang dilakukan Ma. Ya, Perempuan tidak mesti berada antara hutan, sungai dan pasar.”
       “Sekarang engkau mengakui, bahwa hidup adalah perjuangan. Bukan perjuangan untuk diri sendiri karena kita lahir, kita hidup, kita mati diantara masyarakat!”
       “Ya, karena perjuangan, aku sempat menghunus ayah yang mencoba memperkosaku! Aku tidak menjadi PSK!! Aku bisa menyelesaikan SMA dan menjadi guru, lalu punya ambisi untuk membangun, memberdayakan masyarakat terutama kaum perempuannya. Karena para lelaki tidak tahu, kalau ukiran patung mereka bernilai seni yang tinggi dan dikagumi oleh pecinta seni dunia.”
       Mbirokateya membayangkan, ia akhirnya menginjakkan tanah setapak yang agak berlumpur, diantara ilalang, dan langit masih biru, mentari baru sepenggalan naik. Mem bayangkan menempuh perkampungan Ewer, disini hanya ada satu sekolah saja, tidak ada gereja, tidak ada puskesmas. Mbirokateya bisa melihat sekolah yang sudah berumur itu, dinding kayunya tetap kokoh, struktur bangunannya kuat, dan mereka tidak tertegun ketika melihat seorang guru mengajar di atas lantai tanah. Ia tersenyum dan 10 pasang bola mata bulat, hitam, pekat, tajam diruang itu, tersungging lebar.
                                                                  ***

       Mbirokateya memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari dahi dan sekujur tubuhnya. Ia masih teringat pesan Ma. Perasaan menyesal seperti tiada guna, pikirnya. Ketika itu Ma mengajaknya ke   bevak ditengah hutan. Kini ia yang harus berada di dalam bevak sendirian. Sebab, suami mamak telah berhasil membobol pintu kamarnya diam-diam, setelah ia kelelahan pulang dari sekolah di perkampungan Ewer, dan membo bol pintu kegadisannya dengan ancaman. Dengan penuh beban dan rasa malu berbulan-bulan, ia akhirnya kembali ke kampung. Segera menuju bevak.

       ” Ma, mungkin tubuhku telah kotor. Tetapi pesanmu tetaplah suci. Aku akan tetap memperjuangkannya. Bukankah perjuangan memang butuh pengorbanan? Jadi, Ma tolong jaga cucu perempuanmu juga aku.”

Medan,2008   

 

 

Catatan Kaki
1 Bangunan di tengah hutan.
2 Rok dari serat kayu, kulit kayu, rumput yang dirangkai menjadi jumbi-jumbi yang dililitkan pada pinggul dan diikat, pada anak perempuan/ kaum wanita Asmat (Maulana, 1996 : 57).
3 Terbuat dari labu yang dikeringkan, menyerupai tabung silinder untuk menutupi penis (Maulana, 1996 : 57).
4 Bangunan berbentuk silindris yang dipergunakan sebagai tempat tinggal (Maulana, 1996 : 62)

5. Pemerintahan oleh para pria..
6. Tas anyaman dari serat melinjo (Sekarningsih, 2000. xv).
7.  Adat kebiasaan untuk mengungkapkan duka cita dengan mutilasi, misal mencukur rambut, memotong telinga, atau memotong ujung jari tangannya dengan parang atau pisau (Linggasari, 2004 : 31).
8.  Mencari makan di hutan dari pagi sampai sore (Linggasari, 2004 : 28).
9. Memangur sagu selama dua minggu sampai tiga bulan (Linggasari, 2004 : 28).
10. Struktur atap yang terdiri dari kaso-kaso dari kayu bulat yang menghubungkan pusat honai ke dinding (Agusto. W. M, 1996 : 193).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Cerpen M. Raudah Jambak

SESAL

 

     Suara azan magrib sudah berhenti. Rojali masih belum beranjak dari duduknya. Mata nya terus memandang kea rah pintu terali besi. Satu persatu polisi terlihat hilir mudik me ngawal tahanan yang diantar untuk menjumpai sanak saudaranya yang datang menje nguk, untuk kembali masuk ke dalam terali. Mulai dari pembunuh, pemerkosa, pengedar sekaligus pengguna narkoba, termasuk koruptor. Sisa rokok yang terbakar sudah penuh di sudut ruangan penjara. Tenggorokannya terasa semakin kering. Wajahnya yang lembam masih menyisakan duka dan penyesalan yang teramat dalam.

     Hari ini dadanya terasa sesak. Berkali-kali Rojali terlihat mendesah. Matanya terlihat semakin semakin kosong. Air matanya seakan mengering. Matanya kosong, hatinya kosong.

     Kepalanya tertunduk. Dalam ingatanya merasuk perempuan paruh baya. Janda kaya. Perempuan yang hobi menyisir rambutnya sambil bernyanyi-nyanyi sendiri. Perempuan yang sangat suka berdandan selama berjam-jam di depan meja rias. Waktu yang dipergunakan selalu habis berjam-jam demi hobi uniknya.

     Rojali mendongakkan kepalanya memandang langit-langit penjara. Bibirnya yang hi tam mengukir senyum. Beberapa orang pernah mengepungnya. Mengancamnya. Mere ka meminta agar Rojali menjauhi perempuan paruh baya itu. Mereka tidak terima kalau Roja li menikahi perempuan paruh baya itu. Mereka akan bertindak lebih jauh kalau Rojali ti dak mengindahkan ucapan-ucapan mereka.

     Rogayah, perempuan paruh baya itu untung saja datang. Kalau tidak, mungkin Rojali sudah babak belur. Jika satu atau dua orang mungkin saja masih di atasi, ini tidak, ada lima orang. Ditambah badannya yang besar-besar serta berisi. Rojali hanya diam menyaksikan adegan itu.

     Rojali mendengar bagaimana Rogayah memarahi orang-orang yang mencoba menye rang Rojali. Mereka mencoba membela diri. Mereka tidak mau Rogayah bersuamikan Rojali, seorang pemuda yang usianya hampir seusia dengan mereka. Mereka tidak ingin Rogayah membuat malu mereka. Mereka takut Rojali akan mempermainkan Rogayah, ibu mereka. Apapun alasannya mereka tetap tidak mau, tetapi Rogayah ternyata tetap pada pendiriannya.

     Rojali menghisap rokoknya dalam-dalam. Sifatnya yang pendiam tidak mampu memberi penjelasan kepada Rogayah. Rojali juga tidak bisa menyakiti perasaan Rogayah dengan mengatakan tidak ketika Rogayah mengatakan perasaan cintanya kepada Rojali.

     ”Iyalah, awak ini jelek. Jadi Rojali tidak mau sama awak.”

     ”Bukan begitu...” Rojali bingung. Tenggorokannya terkunci. Dia enggan menyebutkan kata yayang kepada Rogayah. Tetapi ketika Rojali menyapa dengan kata Mbak giliran Rogayah yang mengamuk.

     ”Anu, yang..”

     ”Kalau gitu bulan depan kita harus nikah!”

     Alah mak! Rogayah begtu cepat memutuskan. Rojali sekali lagi tidak bisa membantah. Mereka akhirnya menikah juga di KUA. Mereka hanya mengundang beberapa orang saja. Anak-anak Rogayah tidak bisa menentang keinginan ibu mereka. Begitu juga mantan suami Rogayah, hanya bisa geleng-geleng kepala.

     Perkawinan mereka akhirnya berlangsung juga. Begitu acara sudah selesai dan mereka sudah berada di rumah, mulailah acara perintah-perintah. Rogayah yang jauh lebih tua dari Rojali terlihat nampak dominan. Rogayah selalu memberi perintah kepada Rojali seperti memerintah anak-anaknya. Rojali yang pendiam hanya bisa menurut dan seperti sebelumnya tidak pernah bisa membantah.

     Untunglah Rojali bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta dengan gaji yang hanya pas-pasan. Kesempatan mengajar itulah yang dimanfaatkannya untuk menghindr dari sang ”nenek sihir.” Dan ketakutan Rojali kembali muncul apabila les terakhir berakhir. Rogayah sudah mengultimatum agar Rojali sehabis kerja jangan kemana-mana. Harus pulang terus ke rumah. Tidak ada alasan apapun.

     Begitu pulang, Rojali segera saja disuruh melakukan kerjaan ini dan itu sementara capeknya belum lagi hilang. Menyapu halaman depan. Menyiram bunga-bunga. Memberi makan ayam. Memberi makan ikan bahkan menanak nasi serta mencuci. Rogayah cukup memberi perintah sambil mengunyah sirih.Jika sudah selesai, maka Rojali segera diberi hadiah pelukan dan ciuman yang bukan hanya pada pipi tapi juga pada bibir.

     Rojali dengan kengeriannya sendiri hanya menerima pasrah serangan-serangan Rogayah yang begitu bernafsu. Dan kalau sudah begitu, genitnya Rogayahpun  muncul. Dia akan menjurus pada permintaan yang satu itu. Rogayah ingin ”berlayar”. Lalu Rojali dengan langkah terbungkuk-bungkuk melaksanakan tugas yang terpaksa. Ini pemerkosa-an! jerit batinnya.

     Kengerian Rojali bukan hanya sirih yang belum dibersihkan. Tetapi ketika melihat Rogayah yang seperti nenek sihir terlentang pasrah dengan senyum genit di bibirnya. Rojali mau muntah rasanya . Dalam pikiran Rojali hanya ingin menyelesaikan  tugas ’gawat darurat’ itu dengan segera . Dan setelah itu Rojali akan menjerit sekeras-kerasnya melihat  Rogayah tertidur pulas dengan dengkuran-dengkurannya.

     Nasib memang belum berpihak kepada Rojali . Belum lagi angan-angannya ingin mendapatkan anak dari Rogayah yang hampir renta . Dia pun mendapat bencana baru. Rojali dipecat sari sekolah. Kelas yang seharusnya empat kelas, tahun ini jadi dua kelas saja. Siswa baru yang masuk tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini siswa yang mendaftar hanya sedikit, sehingga terjadi pengurangan guru. Dan Rojali masuk dalam daftar  PHK dengan pesangon yang sangat kecil.

     Rogayah tidak lantas memarahi  Rojali. Rogayah justru sangat senang. Rojali tidak perlu kemana-mana lagi. Sialnya, Rojali, kontinuitas perintah semakin meningkat. Rogayah tidak perlu memanggil tukang untuk memperbaiki seng yang bocor. Tidak perlu memanggil tukang ledeng, atau tukang pemotong rumput. Cukup memberikan pe-rintah kepada Rojali. Hemat pulus.

***

       Malam ini Rojali menggali siasat. Malam ini malam ke seratus delapan puluh Rojali menjaring kesumat. Seperti biasa, tepat pada perhitungan semula, malam mengantuk di saat mata purnama tengah menyala-menyala di sela-sela bias cahaya yang menembus jendela kamar. Memberi sedikit ruang cahaya bagi kamar tidur yang temaram. Tepat di saat Rogayah menyelesaikan ritual sisir rambutnya. Lalu menuju ranjang yang sedang membekap Rojali dengan posisi telentang.

       Ruang kamar tak sesunyi biasanya. Ranjang sedang menyusun segala rahasia. Udara membentangkan lengang. Seperti menyampaikan isyarat kelam. Rogayah tidak membaca tanda-tanda kemayaan buram. Ia hanya terbiasa memerintah dengan segala kemanjaan purba. Memberi instruksi kepada Rojali. Hal yang harus dilakukan Rojali untuk mencapai puncak pendakian yang meyakinkan.

       Rojali tak lagi menunggu. Ia telah meramu segala cara, tak sekadar mendaki, tetapi cara sempurna mengangkasa. Rojali segera membumi setelah yakin Rogayah tengah disibuki segala suka cita di timbunan bunga semesta.

       Rojali merasa telah memperoleh segala kebebasannya yang tak berlangsung lama. Beberapa orang Polisi datang menciduknya. Rojali dituduh telah membunuh. Anak-anak Rogayah telah mengajukan pengaduan. Rojali tidak mengelak, ia mengaku. Pengakuan nya disertai dengan pukulan bertubi-tubi mendarat di seluruh wajah dan tubuhnya.

       ”Dari dulu kami tidak pernah setuju ibu kami menikah dengan bajingan tengik itu!” ujar anak-anak Rogayah,”Dasar pembunuh. Binantang itu hanya menginginkan harta ibu kami. Dasar orang yang tidak tahu diri. Puih!”

       Suara azan subuh sudah berhenti. Rojali masih mulai beranjak dari duduknya. Mata nya tak lagi memandang kea rah pintu terali besi. Satu persatu polisi mulai sunyi dari hilir mudik mengawal tahanan yang diantar untuk menjumpai sanak saudaranya yang datang menjenguk, untuk kembali masuk ke dalam terali. Mulai dari pembunuh, pemerkosa, pe ngedar sekaligus pengguna narkoba, termasuk koruptor. Sisa rokok yang terbakar sudah menggunung di sudut ruangan penjara. Tenggorokannya terasa semakin kering. Wajah nya yang lembam masih menyisakan duka dan penyesalan yang teramat dalam.

       Dia merasa rindu dengan Rogayah. Rojali ingin meminta maaf, dengan menemui Ro gayah. Seutas tali sudah ia siapkan sekadar untuk bertemu-muka. Rojali tak sabar ingin segera terbang. Tak lupa pula ia menuliskan rasa penyesalan dan permintaan maaf kepada semuanya termasuk anak-anak Rogayah di atas secarik kertas sebelum ia terbang.

       ”Rogayah, Sayang. Tunggu. Abang datang....”

Kutubul Amin, 2011

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerpen M. Raudah Jambak

PERISTIWA MAKAM

       Hari sepi sekali. Tetapi, siang ini cuaca terasa menyengat. Angin kering berhembus dari sela ranting-ranting pohon. Daun-daun yang gugur sejak pagi tadi sudah mulai menggunung. Sedangkan daerah sekitarnya lebih kepada kawasan semak tak berpenghuni. Ilalang ter lihat meninggi. Rumput-rumput membentuk permadani kusam, me nutupi sebentang nisan.

       Tempat itu menjadi semakin angker, sebab ujung nisan seolah ke pala-kepala  yang menyembul dari balik semaknya ilalang. Kesan ang ker bertambah dengan rimbunan pohon-pohpon sawit di kiri ka nan areal pemakaman yang agak tersembunyi itu. Hanya saja yang mem buat sedikit nyaman adalah keberadaan seorang penjaga makam, se kaligus si penggali kubur. Waktu-waktu luang tak jarang ia member sihkan rerumputan yang membelukar.

       Sengok, demikian nama si penjaga makam itu. Itu adalah nama panggilan penduduk sekitar kampung kepadanya. Nama aslinya sam pai saat ini masih belum juga diketahui. Dan orang-orang kampung pun tidak begitu peduli siapa nama aslinya. Dari mana asalnya, ter masuk siapa keluarganya. Orang-orang kampung hanya tahu Sengok adalah lelaki setengah baya, bertubuh kurus, yang selalu membantu orang lain. Menyenangkan bagi siapa saja. Kekurangan nya hanya pada saat bicara. Sengok persis seperti orang yang terkena ashma ketika bicara.

       Sebab kebaikannya itu pulalah yang membuat orang selalu perca ya padanya. Orang-orang juga sering mengantarkan makanan untuk nya. Sengok tidak pernah meminta apalagi berharap belas-kasihan dengan dirinya yang sebatang kara. Tetapi, ia selalu dengan sukarela membantu termasuk menguburkan sekaligus menjaga salah seorang keluarga dari warga kampung yang meninggal dunia.

       “Sengok, siapkan pemakaman ada warga yang meninggal dunia!”

       Selalu begitu, setiap pak Kepling memberitahu. Sengok lalu de ngan cekatan meng gali kubur dan menyelesaikannya, paling cepat dalam tempo satu jam. Sendiri saja. Tidak perduli apakah kubur un tuk orang dewasa atau anak-anak. Pada saat hujan atau panas terik. Orang-orangpun tidak segan-segan memberikan upah walau pun Se ngok tidak meminta. Sengokpun tidak kuasa menolak sebab orang-orang selalu memaksa.

       Upah yang diberikan pun bermacam-macam. Ada yang membe rikan pakaian, makanan, maupun  uang. Sengokpun menerimanya dengan senang hati. Pakaian dan makanan yang ia terima tak jarang diberikan kepada anak-anak pengamen yang sering melintas di areal pemakaman itu. Sedangkan uang selalu disimpannya, di bawah tikar pandan. Di dalam rumah pohon yang dibangunnya untuk tempat tinggal.

       Tetapi, hari ini sepi sekali. Cuaca yang menyengat semakin laknat. Angin kering semakin mengeringkan ranting-ranting pohon. Daun yang gugur adalah tubuh-tubuh tak bernyawa yang kehilangan kubur. Areal pemakanaman itu terkesan lebih tak terururs, sejak kepergian Sengok. Ilalang menjulang. Rumput-rumput masih semaput. Meneng gelamkan ratusan nisan.

       Sengok meninggalkan areal pemakaman itu diam-diam, setelah warga menuduhnya membongkar salahsatu kuburan secara paksa. Salah seorang warga mengaku telah melihatnya sendiri.

       “Ya, Pak. Saya berani sumpah,” ujar Ceromot yakin,”Saya melihat sendiri Sengok yang telah membongkar kuburan Marni.”

       “Saya juga, Pak,” Markodet menimpali,”Saya juga pernah melihat Sengok hampir membongkar kuburan Sartini. Untung saya cegah, kalau tidak…”

       “Kalau tidak? Kalau tidak apa?” Tanya pak Kepling penasaran.

       “Kalau tidak Sartini yang cantik itu. Sartini yang sudah jadi mayat itu sudah disetubuhinya.”

       “Kamu yang benar. Jangan sampai menebar fitnah yang bukan-bukan!”

       “Terserah, Bapak. Mau percaya atau tidak. Saya ragu, tetapi mung kin ini ada kaitannya dengan ilmu hitam. Kafan penutup mayat bisa menjadi media untuk melaksanakan niatnya untuk melakukan ritual ilmu hitam. Apalagi kalau tidak salah itu dilakukannya pada hari ka mis, menuju ke malam jum’at.”

       Orang-orang terhasut. Orang-orang mulai mengupat. Sengok tertunduk. Dia tidak tahu, bagaimana harus menjelaskannya. Penje lasannya tidak dipahami. Orang-orang lebih percaya kepada Ceromot dan Markodet, abang-adik, preman kampung yang pekerjaannya selalu bermain judi di areal pemakaman. Membawa beberapa teman mereka untuk minum-minuman keras. Lebih parahnya lagi, memba wa perempuan malam untuk melakukan perzinahan di antara dere tan nisan.

       Sengok tidak didengar, sebab dia bukan penduduk asli kampung itu. Sengok adalah orang lugu dan bodoh untuk berbuat macam-ma cam. Apalagi dalam hal melakukan kekerasan. Setiap ingin menjelas kan sebuah tamparan menghantam pipinya. Terutama tamparan yang berasal dari telapak tangan Ceromot dan Markodet. Akhirnya, Sengok hanya bisa diam. Diam terhadap kebinalan Ceromot dan Mar kodet yang kelakuan mereka pernah beberapakali pernah digagalkan nya dengan bermacam cara, termasuk menyamar jadi apa saja ter masuk jadi hantu.

       “Sudah, Pak Kepling. Jangan Tanya lagi. Usir saja…!

       “Ya, kami setuju!” Teriak warga serentak.

       “Diam. Saya yang memutuskan. Saya baru akan mengusir Sengok jika bukti-bukti yang memberatkan cukup kuat. Saya akan menyeli diki!”

       Kali ini warga diam. Terlebih Ceromot dan Markodet. Mereka ber dua hanya saling curi tatap. Sampai akhirnya warga bubar mening galkan pak Kepling dengan Sengok, berdua. Sementara dari  kejauh an Ceromot dan Markodet tetap mengawasi. Mereka tidak bisa ber buat banyak, apalagi pak Kepling yang notabene Paman mereka tidak mudah begitu saja percaya dengan penjelasan mereka berdua.

       Tetapi Sengok yang memutuskan sendiri. Seperti hari ini, dia pergi. Awal kepergiannya memang tidak begitu berpengaruh. Hanya saja setelah meningginya rumput dan ilalang, orang-orang mulai ke hilangan. Orang-orang mulai rindu pada Sengok yang ringan tangan dan suka membantu. Rindu Sengok yang tidak pernah meminta upah atas segala pekerjaannya.

       Ketidak-beradaan Sengok ternyata sangat berpengaruh bagi pen duduk kampung. Kampung jadi banyak sampah. Kampung jadi kotor. Lebih parahnya lagi, orang-orang kampung melihat areal pemakam an jadi tempat segala macam tindak kriminal. Perjudian, mabuk-ma bukkan, dan tempat transaksi tali air. Tidak cukup sampai di situ, ba nyak kuburan yang dibongkar, mayatnya dibiarkan begitu saja.

       Tumpukan mayat menyebabkan timbulnya bau yang tidak sedap. Orang-orang kampung tidak berani bertindak. Mereka takut. Mereka jijik. Mereka telah lupa bagaimana cara menguburkan jenazah. Terle bih ketika mereka menemukan Ceromot mati sangat tragis sekali. Markodet berteriak begitu sadar tubuh Ceromot ditemukan sudah tidak bernyawa, menempel di tubuh seorang perempuan yang juga tak bernyawa.

       Orang-orang kasak-kusuk. Kampung gempar. Pemberitaan di surat-surat kabarpun menebar. Sengok pun seketika dielu-elukan. Sengokpun seketika dirindukan, dikarenakan pengakuan Markodet yang mengejutkan.  

       “Sengok tidak bersalah. Sengok tidak bersalah!” berkali-kali Mar kodet berteriak. Terus berteriak. Berlari ke sana ke mari. Mengitari seluruh kampung.

       Hari semakin sepi sekali. Termasuk siang ini, cuaca terasa menye ngat. Angin kering berhembus dari sela ranting-ranting pohon. Daun-daun yang gugur sejak pagi tadi sudah mulai menggunung. Sedang kan daerah sekitarnya lebih kepada kawasan semak tak berpenghuni. Ilalang ter lihat meninggi. Rumput-rumput membentuk permadani kusam, menutupi sebentang nisan.

       Tempat itu menjadi semakin angker, sebab ujung nisan seolah ke pala-kepala  yang menyembul dari balik semaknya ilalang. Kesan ang ker bertambah dengan rimbunan pohon-pohpon sawit di kiri kanan areal pemakaman yang agak tersembunyi itu.

       “Sengok tidak bersalah!”   

 

                                                                                                        Medan, ramadhan           

 

 

 

 

 

 

Mbirokateya

 

       Mbirokateya memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari dahi dan sekujur tubuhnya. Ia masih teringat pesan Ma. Perasaan menyesal seperti tiada guna, pikirnya. Ketika itu Ma hendak mengajaknya ke bevak ditengah hutan. Sebenarnya Ma harus sendiri, sebab itu memang sudah ketentuan adat. Tetapi, Ma sengaja mengajaknya diam-diam agar ia cepat mengerti tentang keberadaan perempuan di kampungnya.

       Angin berhembus pelan. Ranting-ranting pepohonan saling bergesekan. Awan tipis menutupi matahari yang perlahan merangkak. Bias cahaya di langit membentuk sebuah pantulan berjuta kilau permata sejauh mata memandang.

       Waktu fajar mulai menyingsingkan auranya menyinari seluruh kebekuan alam se mesta. Mbirokateya ingat dengan apa yang dilakukan Ma, sebelum mengajaknya menuju bevak , memulai rutinitas sebagai perempuan, sebagai ibu.

       Setiap kali bangun pagi selalu saja ada makanan didapur. Makanan yang dibungkus rapi dilipat daun pisang yang dipetik Ma setiap sore dikebun belakang atau menikmati ulat manggia atau koo, yang sudah dipanen dari sisa tebangan pohon sagu yang telah dipangkur sekitar dua minggu sebelumnya. Koo itu dimasukkan dalam bekal sagu yang telah dibulatkan seperti bola lalu dibakar. Tubuh koo akan melumer. Rasanya sangat gurih dan legit! Bagian kepala koo yang renyah berasa popcorn. Kebun itu adalah tempat Ma selalu menumpahkan hari-harinya, sambil merasakan segarnya batang tebu atau buluh bambu dan melesapi gula-gula. Ma senang bercocok tanam. Ma senang melakukan tugas itu sebagai perempuan yang merdeka. Menanam benih dan menunggu hasilnya, sampai waktu panen tiba.

       Makanan tersebut dibagi menjadi dua. Satu buat bekal dan yang lainnya sekedar sarapan seadanya antara Mbirokateya dan Ma. Sehabis makan kami segera berangkat diam-diam, menyisir perjalanan sepanjang hutan.

       Hutan inilah rumah sebenarnya bagi mereka. Berdinding belantara. Tempat kelahiran dan kematian. Hitungan ratusan tahun mereka diami tempat ini. Menghirup segala. Hidup kan segala. Menyatu dengan segala. Bermain dengan angin, dengan akar pepohonan, dengan semak belukar. Anak-anak, kaum perempuan, dan para lelaki telah terbiasa melukis kelam. Berpeluk pengab raya.

       Lingkaran api biasa mereka sulam pada malam. Memetik kerdipan bintang. Menjaring bulan. Mengunyah pituah para tetua. Menebalkan tambalan sejarah pada jiwa-jiwa. Dan sesekali menyemai tawa. Sesekali menuai duka ketika memamah sihir kata bak pujangga. Pada akhir sulaman cerita, gederap sukacita menuntun mimpi-mimpi menyam but  pagi.

       Gubug-gubug mereka adalah pepohonan yang bernyanyi. Seolah laut yang berpantai  damai. Seperti dermaga sebagai tempat penumpah lelah sehabis memerah tubuh-tubuh basah. O, betapa hidup dari waktu-ke waktu selalu mengelus berkah.

       Kegelapan inilah selimut hangat yang gemerlap. Mata hati adalah sebilah pisau tajam yang selalu terasah. Kelam bukanlah jaring-jaring perangkap yang membekap, tapi ia tapak-tapak kaki yang selalu mengatur jarak. Menancapkan jejak. Mereka tahu arah me langkah kemana hendak berpijak. Pulang dan pergi tak selalu bergantung pada matahari. Tak pula menunggu tuntunan bulan. Bukan menafikkan ciptaan Tuhan. Tapi, justru dengan gelap dan kelam anugerah itu didapatkan.

       Berjalan dan berlari adalah seringan hembusan angin menembus belukar dan semak berduri. Segala telah tersedia dalam rentang waktu yang tak dapat dihitung dengan rumusan angka-angka. Segala telah terjaga dengan aturan adat yang paling beradab. Amboi, masa-masa gemilang itu perlahan di gebuk gelombang. Menusukkan amuk, remuk.

       Mbirokateya diam. Ia merasa tidak punya cerita menarik pengganti kekakuan perjalanan. Berbeda dengan Ma, Ma sosok perempuan yang gigih, pantang menyerah dan penyabar. Walau terkadang agak sedikit egois dan keras juga. Itu perlu dimaklumi jika dikaitkan dengan masa Ma di waktu muda. Aktif menyerukan kemanusiaan. Antara kecintaan orang tua, kampung dan kebebasan perempuan menjadi titik utama perjuang annya, bersama teman-teman seangkatan mereka yang berasal dari luar kampung bahkan ada berasal dari luar pulau, dan luar negara.

       “Engkau tahu? Bunga bakung berwarna merah, bentuknya indah? Begitulah perempuan. Parasnya bak kembang. Merahnya laksana hati. Dan kau tahu? Bunga keris papua? Itulah kita yang sebenarnya,” ujar Ma.

       Dia hanya diam. Pikirannya hanya diselimuti cemas. Cemas melihat kondisi Ma.  “Kau tahu, Sali yang masih menjaga kehormatan keperempuanan kita, menghadang segala kejahatan yang berasal dari balik koteka kaum lelaki, di antara bidang telanjang dada mereka. Ketelanjangan kita, ketelanjangan yang terhormat. Ruas tulang yang meninggalkan bentuk dari kulit yang tipis dan hitam, bergerigi, di dada perempuan kampung kita yang membusung. Kehitaman anak-anak di kampung kita adalah kehitaman yang bersahaja. Mulai dari kaki sampai wajah. Rambut gimbal bergulung adalah gelombang yang tertahan dan siap dilontarkan. Perut anak-anak kampung kita yang menyimpan dan menjaga kesejarahan, membusung. Tulang punggung yang menonjol, pertanda kekuatan yang mengagumkan. Mereka tidak mengenal bangku sekolah, tetapi tanah, lumpur, bukit, dan hutan. Kita berhasil menjaga kehormatan keperempuanan kita dari bengisnya hutan. Biarlah nira kelapa, alkohol, dan tembakau kecintaan bagi laki-laki, menghempang dari kebiasaan mereka berperang, mengayau, ini sesuatu yang patut disyukuri. Dan memang sejak itu ayahmu tak bisa menunjukan kepiawaiannya memanah jantung musuh, atau menebas leher dan menggantung kepalanya di tangan, tidak lagi, Mbirokateya! Kita harus terus menjaga kehormatan perempuan di kampung kita!?”

       Mbirokateya masih membisu.”Perempuan adalah beyor atau burung nuri dan ir atau kakatua putih. Ini tergambar pada ukiran motif paruh burung sebagai hiasan kepala. Para suami tidak tahu, kalau nenek moyang kita tidak sekedar menempatkan simbol untuk perempuan itu diatas kepala. Ia harus dihormati dan dijunjung tinggi, Mbirokateya! Tapi nyatanya? Perempuan kita tertindas, terisolasi dari emansipasi atas kesetaraan gender, terkekang adat masa lalu. Ketika para lelaki kehilangan pekerjaan untuk berperang dan mengayau lalu merampas hak tanah atas hutan sagu dan babi, para lelaki tidak lagi punya pekerjaan kecuali hanya mengukir patung saja. Dan perempuan masih punya peran domestik yang bukan menjadi tanggung jawab suami, dan wajah para ibu selalu tampak lebih tua dari bapak. Kita mesti merevolusi sistem budaya yang ada dengan sistem baru yang lebih bisa menempatkan perempuan sewajarnya, Mbirokateya! Harus!”

       Mbirokateya terkesiap. Terkejut. Perasaan bersalah itu selalu menghantui. Kata-kata Ma, yang sempat ikut orang luar, dalam kegiatan LSM, seperti membekas, berkarat. Apa yang sekarang ini dialaminya cukup tidak adil. Ia setuju dengan apa yang dikatakan Ma.

       Ma selalu memikirkan segalanya. Memikirkan keperluan rumah tangga, terutama untuk anak-anaknya. Dan Mbirokateya merasa seperti diperlakukan istimewa. Ma pun tidak malu mencari upahan sampai jauh ke kota. Bekerja apa saja. Dari upah sedemikian rupa ia tidak lupa untuk menyisihkan sebagian uangnya, di tempat yang paling rahasia, sebuah potongan bambu berlubang di tiang penyangga Honai.       

                                                                * * *

       Senja bersama sinarnya yang kemerah-merahan menyapa di bilik teras dan rumah ke labu. Ma duduk lagi dekat daun pintu sedang Mbirokateya bermain-main sebisa mungkin apa yang membuat hati riang.

       "Mbirokateya ke sini sebentar!” Ma berseru,” Jangan sering bermain, kapan kamu akan belajarnya? Lekas ambil buku yang diajari gurumu di sekolah lalu duduklah di sampingku!” Dengan rasa kesal Mbirokateya segera mengambil buku di dalam tas dan berpura-pura membacanya sambil sedikit berkomat-kamit namun hatinya tak dapat dibohongi bahwa seusianya selalu saja ingin bermain-main.

       "Belajarlah yang rajin agar kelak kamu jadi orang pintar tidak seperti perempuan-perempuan di kampung kita,” Ma menambahkan. Suaranya terlintas manja bertanya pada Mbirokateya. ”Jika sudah besar nanti apakah gerangan yang kamu cita-citakan?”

       ”Guru!”

       ”Kenapa?” Sambil mengerutkan jidatnya yang memang sudah keriput.

       ”Kan enak, bisa membagi ilmu buat siapa saja. Bapak mungkin akan senang.”

       ”Bapakmu tidak akan kembali lagi karena dia telah memelihara burung merpati di sangkar lain?” Hanya itu yang keluar dari mulut Ma. Mbirokateya tak pernah tahu. Ia benar-benar tidak mengerti bapak di manakah rimbanya.

       Sehabis bicara seperti itu, kian mulai terasa. Dengan sigap Ma langsung menyergap Mbirokateya membekapnya dalam dekapan, memeluk erat diketiaknya. Tanpa sengaja tiba-tiba airmatanya meleleh jatuh di halaman buku yang masih terpegang. Entah apa yang telah terucapkan tadi sehingga membuat Ma menangis terseok-seok dan membawa nya larut dengan suasana yang semakin membingungkan. Suasana Itu berlangsung agak lama sampai tak tahu waktu mulai mengguratkan kelam perlahan.

       Alunan suara alam bersenandung di gendang telinga menyadarkan ingatan. Senja sengaja ditutupi halimun yang beraroma dingin mencolek tubuh yang gagap bersama waktu. Secuil harapan dikemudian hari merengkuh bagai sembilu untuk mempertaruhkan hidup dimasa tua bertarung sendiri demi hidup yang semakin terhimpit. Tentunya dalam nadinya tersebar memuat getaran-getaram yang keluar dari batinnya ialah untuk anak dan keutuhan keluarga.

       Selama itukah Ma dan Mbirokateya harus berkisah. Tentang hidup yang harus selalu di perjuangkan tanpa beban bukan semata-mata dijalankan.

       "Bukan lantaran nasib, tidak lebih. Kesabaran dalam memilih dan keteguhan sebagai manusia yang tabah adalah tameng yang kuat. Mungkinkah hanya hidup begini atau karena ditinggalkan seseorang kita harus menyerah. Alangkah naif manusianya.”

       Begitulah Ma menggunakan sisa-sisa hidupnya yang sering ditunggui waktu. Kini aku berada sendiri di sini meniti ke-dewasa-an berbaur bersama suaranya dengan bayang nya pula.                                                    ***

      ”Mbirokateya, Anakku! Kita harus memanusiakan manusia? Tidak hanya Ma seorang yang seharusnya merambah hutan, mendayung perahu, memangur sagu, menjaring ikan, dan bila ada sisanya, dijual dipasar, uangnya hanya sekedar untuk membeli rokok untuk suami, minyak tanah untuk lampu petromak. Tidak! Ma tidak memilih berdiam diri, dengan tidak melakukan pekerjaan itu, karena bapak siap saja dengan tombak, panah, atau apa saja yang bisa menakuti mata Ma.

       Ma hanya bisa menangis pada akhirnya, sedang kau hanya bisa meringkuk, tangis pecah dari bibir adik-adikmu, melihat bapak pernah menghantamkan benda tumpul kekepala Ma. Kau tahu Ma meraung, lalu mendarat lagi kaki bapak pada perut Ma yang sedang membuncit. Ma sedang hamil, Ma tidak bisa mengangkat kaki untuk sekedar meminum air mentah di dapur, Ma pingsan, dan darah mengalir dari liang, orok keluar dari rahim Ma, dan terlihat tali placenta melingkar.

       Tetapi bapakmu malah menjerit ketakutan, lalu minggat dari Honai, bukan karena Ma pingsan dan keguguran, melainkan setetes darah yang keluar merupakan pantangan, katanya bisa menimbulkan penyakit, kematian apalagi membasahi lantai Honai. Dan perempuan selalu melahirkan anaknya didalam bevak ditengah hutan, sendiri. Menu-rutmu! Hal ini yang menjadikan perempuan kita tidak seperti manusia, Mbirokateya! Ma tidak bermain lumpur, tidak berenang disungai, tidak menikmati hujan, kadang memban tu nenekmu memangur sagu.

       Ma selalu  ingin sekolah pada sekolah yang sudah lapuk itu. Ma sekolah hanya untuk merubah nasib; Nasib Ma, kau, adik-adikmu dan kaum perempuan. Ternyata, perjuangan Ma tetap sampai pada nasib Ma sendiri, tidak pada nasib orang lain, tidak nenekmu, kau, adik-adikmu, dan perempuan kita karena mereka punya nasib sendiri. Ma tidak kuasa mencampuri urusan para istri, sesaat perlakuan suami mereka tak kalah sama dengan ba pak dan kakekmu. Mereka tidak melahirkan di puskemas, tetapi ditengah hutan. Ma tak dapat menolak atau pura-pura tidak tahu tetapi Ma dan juga mereka tak dapat mencegahnya?”

       Mbirokateya menggamit tangannya, tidak lapuk, tua atau kasar seperti tangan Ma ketika seumurnya. Malahan masa mudanya, disaat alat reproduksi perempuan telah ranum, dan vagina yang harum itu tidak dibaluti oleh sali atau yokal untuk wanita bersuami. Ia tidak mengikuti pesta dansa tiap hari minggu, mencari pasangan, calon suami, dan sekenanya membakarkan sagu untuknya di Honai seperti apa yang dilakukan masa muda perempuan di kampungnya. Ia belajar, ia sekolah. Ia merasa sedikit berun tung dari Ma.

       Ma selalu mengajak Mbirokateya kemana-mana kecuali ke kota. Jarang sekali Ia diajak Ma untuk ikut ke kota, paling cuma di hari Minggu itu pun hanya beberapa kali. Ma suka melihat Mbirokateya sekolah. Suka mengantarkannya ke sekolah, walau jaraknya luar biasa jauhnya

       Ma harus melewati perbukitan dan jalanan setapak untuk mengantarkannya ke sekolah dulu dengan menggunakan sepeda butut. Jarak rumah dan sekolahku cukup jauh tapi Ma tidak pernah mengeluh dengan hal sepele seperti itu. Jalanan menurun dan mendaki maupun zig-zag tidak membuatnya lupa.

       Ma sudah hafal betul letak lokasi sekolahan Mbirokateya yang  dipasung kayu berpalang yang menjulang tinggi mencakar langit sebab dari kejauhan sudah tampak di mana tanda-tandanya. Setelah cukup dekat di depan sekolah, ia melepaskan dengan isyarat dan ciuman.

       "Ingat! Dengarkan semua ajaran guru dan ikuti keterangannya serta jalankan perintah guru agar kelak kamu menjadi orang berguna bagi keluarga dan bangsamu. Sepulang sekolah kamu tunggu di sini, sambil menunjuk ke pohon kapas tempat berhenti. Begitu lah miripnya suaranya sebelum meluncur cepat dan hilang sebab dihalang-halangi kabut untuk selanjutnya pergi.

       Siang terasa berlalu begitu saja. Apa yang diperoleh selama belajar tadi belum semua nya masuk ke otaknya. Banyak yang terbersit di telinga. Bersamaan dengan bel sekolah terdengar riang diiringi teriakan teman-teman menyambutnya gembira.

       Jam menunjukkan angka satu. Mbirokateya keluar dari ruang kelas dengan langkah gontai menuju pohon kapas seperti janji sebelumnya. Tidak terlalu lama harus menunggu menunggu sesosok tubuh yang kekar mengiringi derap ayunan yang berlipat-lipat dari kaki yang mulai cadas. Mbirokateya mendekat naik diboncengannya! Selama perjalanan mata Mbirokateya tertuju pada sekujur badan Ma dan tertegun meratapnya. Sekecil itu, Mbirokateya semakin merasa iba dengan keadaannya yang terus menerus seperti ini mengarungi bahtera kehidupan dengan segala peluh, jerih payah yang ada. Tidak tampak sedikitpun rasa gusar yang melingkar di tubuh Ma. Begitu lamunan itu sudah terbuai Mbirokateya tak mampu berbisik walau di dalam hati. Terdengar agak kabur bahwa Ma memblokir lamunan Mbirokateya.

       ”Mbirokateya! Engkau salah. Perjuangan tidak sampai disini. Kita melakukan gerak perubahan perlahan secara menyeluruh, dengan membangun yayasan pengembangan masyarakat terutama perempuan, menghidupkan puskesmas, mengadakan penyuluhan, memperkenalkan KB. Ma kira, beberapa tahun akan terjadi pergeseran sistem budaya?”
       Ma menarik Mbirokateya duduk di dekatnya. ”Mbirokateya, Anakku. Ma kira, Ma lelah. Ma, kakak tertua dengan banyak adik lelaki dan adik perempuan. Jarak kelahiran kami rapat sekali, hanya terpaut 1 tahun saja. Karena nenekmu tidak tahu KB. Enam orang adik Ma telah meninggal karena penyakit ispa dan malaria. Karena asap tembakau dari bibir orang tua di honai, juga asap perapian yang mengepul di langit-langit, tembus hanya sedikit saja dari atap rumbia, tidak lewat jendela karena Honai tak punya jendela, tidak lewat dinding gaba-gaba, tetapi sebagian lagi masuk lewat napas, dan simpan dalam paru-paru. Adik Ma terkena radang. Sementara adik Ma yang perempuan terus bermain di lumpur, kadang membantu memangur sagu. Mereka masih kecil-kecil saat itu, sehingga tak terlalu peduli untuk mencari makan.

       Hanya Ma yang tidak kerasan melihat nenekmu mesti memanggul bernoken-noken sagu, sering ada goresan taring nyamuk dan lalat babi berdarah, lengket di tiap kulitnya. Belum sempat ia mengatur napasnya yang terengah-engah, menyeka keringatnya yang muntah disekujur tubuh, mendiamkan sejenak tulang sendinya yang ngilu, memejamkan matanya, ia sudah berlalu lagi dengan sekeranjang ikan untuk dijual kepasar di desa seberang. Dan sebagian uangnya ditabung untuk biaya rumahtangga. Seketika airmatanya tumpah begitu saja, saat Ma mengutarakan keinginan Ma untuk sekolah.

       Ma tahu dalam airmata itu ada harap yang begitu besar untuk menjadi kan Ma orang besar, mengubah nasib, pola pikir masyarakat yang cenderung ke sistem patriarkhis. Ma tanya kadang terpejam satu persatu dengan nafas mulai semraut mungkin sekarang ia mulai berasa kepayahan. Selebihnya, entahlah! Ma tak sanggup mesti menyaksikan nenek mu bersusah payah merambah hutan sendiri, sedang kakekmu asyik saja bergumul de ngan nira kelapa, alkohol, judi dan perempuan lain, lalu setibanya di honai, kakekmu hanya menadahkan tangan, meminta jatah.

       Ma tidak sanggup melihat nenekmu menyayat kulitnya yang memar-memar dengan silet atau pisau sebagai cara untuk mengurangi rasa sakit, sembab sambil terisak, mena han perih, lalu darahpun mengucur mengaliri goresan yang memanjang. Bapak! Ibu sedang sakit! Jerit Ma, tetapi kakekmu tak peduli, ia tidak segan memukul sampai membunuh bila tidak menyediakan sagu dan rokok.

       Mbirokateya, Anakku. Yang harus dirubah, pertama ialah pendidikan bagi satuan unit terkecil ke tatanan makro, tidak hanya dengan melakukan lokakarya, membuka puskesmas, penyuluhan KB, sedang masyarakat sendiri tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup untuk itu. Siapa yang tahu kalau masih ada beberapa Ma yang suka merambah hutan, memangur sagu, sedang suami tetap menakuti mereka dengan sebilah parang?”

       Mbirokateya ingin menjerit jika mengenangkan hal itu. Kecerdesan Ma ternyata tak sebanding dengan keberingasan bapak. Bapak poligami. Mungkin memang sudah mendarah daging bagi perempuan di kampung kami. Satu-satunya impian perempuan di sini; Hari ini atau besok dijadikan istri yang sekian kali dari seorang pria. Ma menjerit sekenanya, tetapi tak kuasa berontak. Terlihat api cemburu meradang, emosinya meluap dan siap lepas dari puncak kepala, tetapi ambisi Ma selalu surut melihat sebilah kapak atau dayung yang tergantung di dekat bapak.

       Mbirokateya menghela napas,”Aku masih sekolah, Ma yang memperjuangkannya. Aku ingin menghidupkan teser, bahwa perempuan tetap sebagai makhluk sakral, lewat perwujudan kedua mama tua, ucukamoraot (roh pohon beringin) dan paskamoraot (roh kayu besi) yang dilahirkan oleh ibu bumi. Aku masih sekolah sampai masa haid pertama dan alat reproduksiku telah matang. Aku turun lalu melangkahi sekat-sekat papan yang berlubang di atas jembatan yang makin lapuk.”

       Dengan bekal sekedar nya, dengan pakaian yang tak layak untuk ke pesta, dengan sepasang sandal yang sudah usang, dengan ijazah sekolah rakyat yang diletakkan dalam noken, digamitnya erat-erat. Airmata Ma hanya tertahan, ia tidak ingin menangis melihat Mbirokateya sekolah. Mabahagia, menyodorkan sejumlah uang, dan menyuruh pergi ke desa Bis Agats, kerumah saudara perempuan Ma. Mbiorkateya memanggilnya mamak. Ma tersenyum, lalu satu tangannya mengusap wajahnya. Mbirokateya melihat di antara ujung-ujung jari Ma, ada yang terpotong, dan sebagian jari yang terpotong itu pasti dibungkus kulit kayu, disatukan dalam kantong berisi abu jenazah kakek, dan digantung pada honai bapak. Mungkin Ma melakukan mutilasi tanpa setahu Mbirokateya.

       ”Mbirokateya, Anakku. Kita harus berjuang. Tanah ini, masyarakat ini adalah tempat kelahiran kita, tempat kita pertama hidup. Tidak ada yang akan merubah sistem adat, budaya atau nilai kecuali kita saja, cucu-cucu Asmat. Engkau belum gagal karena engkau sendiri sudah berhasil sekolah. Sedang anak-anak lain, lelaki atau perempuan juga adikmu tidak mengerti saat itu, mereka tidak mengikuti jejakmu untuk tetap sekolah, sehingga mereka tetap terikat pada budaya masa lalu. Keterbatasan ilmu merendahkan pikiran seorang lelaki, ibu dan anak untuk keluar dari sistem patriarkhis, dan tak mengerti hakekat Tuhan. Masyarakat kita berada pada sebuah lingkaran yang tak punya lubang untuk keluar. Kita yang mesti menembus dinding lingkaran itu?”

       Mamak tidak sering melakukan pokomber atau usi, ia mempelajari cara perempuan Muyu berladang, menanam pisang, ubi, tebu, kangkung, dan hasilnya dijual kepasar. Ia sering menjaring ikan, dan sering menukarkan dengan beberapa noken sagu pada tetang ganya. Mamak tidak bisa membiayai sekolah Mbirokateya, mereka miskin dan Ma tidak selalu mengirimi uang. Karena niat sekolah telah mengakar, Mbirokateya rela saja ketika mamak menawarkannya untuk menjadi pembantu rumah tangga.

       Mbirokateya meringkuk sepi dalam honai, airmatanya mengalir jatuh ke lantai, jatuh pula ke lumpur pekat. Ia tidak ingin menuruti mamaknya mandi lumpur selama 40 hari, mencukuri rambutnya karena Ma meninggal. Ia tidak berpikir untuk memotong telinga seperti yang sering dilakukan penduduk di kampungnya maupun di kampung mamaknya. Ia memilih bisu, menutup bola matanya rapat-rapat, mendekap telinganya, lalu terisak.

       ”Mbirokateya! Engkau tidak ingin pulang ke kampung Ewer?”

       ”Tidak, Mak. Aku tidak ingin melihat bapak tertawa saja di depan abu Ma.?”

       ”Adik-adikmu?”

       ”Ya, Mak. Mereka sudah punya teman bermain. Anak-anak istri bapak yang baru.”

       Mamak tidak melanjutkan pertanyaannya, ia berjalan ke bilik perempuan, agak terbungkuk dan tulang lehernya tampak karena tinggi honai sekitar 1,5 meter saja. Mbirokateya masuk ke ebey. Mbirokateya tak lagi bisa menahan getir, ia mengambil pisau dan diletakkan di antara jarinya. Dan roh Ma lewat di depan matanya, ia ingat Ma masih tersenyum, bibir hitamnya tersunging, sumringah. Lesung pipi dari wajah yang sudah keriput terbentuk walau tak kentara, Ma mengingatkan sekolah, Mbirokateya mengurungkan niatnya. Ia lalu melempar jauh-jauh pisau itu, menutup matanya rapat-rapat sehingga airmata yang sejak tadi berlinang menetes perlahan.

       ”Aku tak bisa melanjutkan sekolah!”

       Mbirokateya melipat tangan keatas dadanya, dipandangnya lekat-lekat cahaya petromak yang begitu lemah, lalu beralih ke kaso-kaso. Matanya kosong, tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang berada di alam nyata. Ia bermimpi uang melingkar di mimpinya, dan uang itu hilang sampai ia tertidur pulas.
       ”Aku Mbirokateya! Aku bisa masuk SMA di Merauke berkat majikanku. Ia mengantarku dengan menumpang kapal perintis dan singgah di dermaga Merauke. Aku punya ijazah sekolah rakyat dan SMP, tetapi aku tak punya cukup uang untuk menye lesaikan SMA. Umurku hampir 18 tahun. Lelaki mana yang tidak tergiur pada tubuh indahku, dan naluri seorang gadis remaja yang juga menyukai seorang lelaki. Ah.. antara ingin sekolah atau tidak. Apakah sekolah pasti menjadikanku orang besar? Uang hasil jerih payahku mengalir begitu saja hanya untuk sebongkah ilmu. Aku pernah kelaparan lantaran uang makan untuk biaya sekolah. Karena aku masih hidup, Aku harus rela bekerja walau dalam keadaan sakit. Mengapa aku masih sekolah? Sederhana saja. Aku sudah terlanjur sekolah, aku sudah merangkak sampai tengah dan harus sampai ujungnya, tidak mungkin berhenti ditengah karena aku bakal turun kembali. Kedua, karena aku ingat Ma?”
       ”Bagaimana mungkin engkau masih bisa hidup tanpa uang dan menyelesaikan SMA?”

       ”Apa yang tidak mungkin? Aku masih punya tubuh yang sintal dan kuat, punya tenaga, tetapi jangan kira aku menjadi PSK bagi penebang kayu gaharu. Aku bisa tidur seperti pengemis, bisa menjadi pembantu, mencuci, memasak. Aku masih punya jiwa, dan jiwa itu mesti dihidupkan, bukan tanpa arti. Tidak, manusia tidak hanya sekedar hidup. Aku baru tahu kalau manusia tidak hanya sekedar hidup seperti apa yang dilakukan Ma. Ya, Perempuan tidak mesti berada antara hutan, sungai dan pasar.”
       “Sekarang engkau mengakui, bahwa hidup adalah perjuangan. Bukan perjuangan untuk diri sendiri karena kita lahir, kita hidup, kita mati diantara masyarakat!”
       “Ya, karena perjuangan, aku sempat menghunus ayah yang mencoba memperkosaku! Aku tidak menjadi PSK!! Aku bisa menyelesaikan SMA dan menjadi guru, lalu punya ambisi untuk membangun, memberdayakan masyarakat terutama kaum perempuannya. Karena para lelaki tidak tahu, kalau ukiran patung mereka bernilai seni yang tinggi dan dikagumi oleh pecinta seni dunia.”
       Mbirokateya membayangkan, ia akhirnya menginjakkan tanah setapak yang agak berlumpur, diantara ilalang, dan langit masih biru, mentari baru sepenggalan naik. Mem bayangkan menempuh perkampungan Ewer, disini hanya ada satu sekolah saja, tidak ada gereja, tidak ada puskesmas. Mbirokateya bisa melihat sekolah yang sudah berumur itu, dinding kayunya tetap kokoh, struktur bangunannya kuat, dan mereka tidak tertegun ketika melihat seorang guru mengajar di atas lantai tanah. Ia tersenyum dan 10 pasang bola mata bulat, hitam, pekat, tajam diruang itu, tersungging lebar.
                                                                  ***

       Mbirokateya memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari dahi dan sekujur tubuhnya. Ia masih teringat pesan Ma. Perasaan menyesal seperti tiada guna, pikirnya. Ketika itu Ma mengajaknya ke   bevak ditengah hutan. Kini ia yang harus berada di dalam bevak sendirian. Sebab, suami mamak telah berhasil membobol pintu kamarnya diam-diam, setelah ia kelelahan pulang dari sekolah di perkampungan Ewer, dan membo bol pintu kegadisannya dengan ancaman. Dengan penuh beban dan rasa malu berbulan-bulan, ia akhirnya kembali ke kampung. Segera menuju bevak.

       ” Ma, mungkin tubuhku telah kotor. Tetapi pesanmu tetaplah suci. Aku akan tetap memperjuangkannya. Bukankah perjuangan memang butuh pengorbanan? Jadi, Ma tolong jaga cucu perempuanmu juga aku.”

Medan,2008   

 

 

Catatan Kaki
1 Bangunan di tengah hutan.
2 Rok dari serat kayu, kulit kayu, rumput yang dirangkai menjadi jumbi-jumbi yang dililitkan pada pinggul dan diikat, pada anak perempuan/ kaum wanita Asmat (Maulana, 1996 : 57).
3 Terbuat dari labu yang dikeringkan, menyerupai tabung silinder untuk menutupi penis (Maulana, 1996 : 57).
4 Bangunan berbentuk silindris yang dipergunakan sebagai tempat tinggal (Maulana, 1996 : 62)

5. Pemerintahan oleh para pria..
6. Tas anyaman dari serat melinjo (Sekarningsih, 2000. xv).
7.  Adat kebiasaan untuk mengungkapkan duka cita dengan mutilasi, misal mencukur rambut, memotong telinga, atau memotong ujung jari tangannya dengan parang atau pisau (Linggasari, 2004 : 31).
8.  Mencari makan di hutan dari pagi sampai sore (Linggasari, 2004 : 28).
9. Memangur sagu selama dua minggu sampai tiga bulan (Linggasari, 2004 : 28).
10. Struktur atap yang terdiri dari kaso-kaso dari kayu bulat yang menghubungkan pusat honai ke dinding (Agusto. W. M, 1996 : 193).