Omong-Omong Sastra Sumatera Utara adalah wadah tempat berdiskusinya para sastrawan Sumatera Utara Khususnya. Usiannya yang hampir mencapai 40 tahun menjadikannya sebagai wadah bersilaturahmi, berdiskusi dan berkarya para sastrawan dari berbagai usia, aliran, dan agama, menyebabkan Forum Omong-Omong Sastra ini sebagai Forum yang tertua di Sumatera Utara. Forum ini diprakarsai oleh Damiri Mahmud, dkk. Sekarang di koordinir oleh M. Raudah Jambak. Semoga tetap berjaya.
Jumat, 19 Maret 2021
Selasa, 04 April 2017
LOMBA BACA PUISI SMA/SEDERAJAT SE-SUMATERA UTARA 2017 DELI COMPANY
Setelah
sukses menyelenggarakan lomba baca puisi antar SD dan SMP se-Sumatera
Utara, Deli Company kembali membuka kegiatan yang sama. Kali ini Deli
Company melaksanakan lomba baca puisi antar SMA/sederajat se-Sumatera
Utara.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 29 April 2017 di Taman Budaya Sumatera Utara. Bekerjasama dengan Komunitas Home Poetry, Sanggar Kursi, Medan Art Theater, Sanggar Camsa, Sanggar Anak Yaspendhar dan berbagai elemen pendukung, kegiatan ini khusus mengangkat potensi para pelajar dalam bidang baca puisi.
Ririn Prabuati, selaku penggiat dan penggagas kegiatan mengatakan, bahwa kegiatan ini dilaksanakan selain dari mengangkat potensi pelajar di bidang puisi juga sebagai bagian dan andil dari peran sastra untuk meningkat karakter anak. Meminimalisir sifat-sifat radikal yang berpotensi ke arah hal-hal yang negatif.
“Anak adalah kertas putih yang polos. Dan kewajiban orang-orang dewasalah yang menjadikannya untuk lebih peka dan peduli terhadap sesama. Dengan lomba baca puisi adalah upaya untuk mengarahkan anak untuk mengikis sifat-sifat radikal yang berpotensi tertanam dalam diri mereka. Dengan sastra dan puisi diharapkan budi pekerti merekas lebih tajam dan terarah,” lanjutnya.
Lomba baca puisi ini di buka untuk para pelajar SMA/sederajat. Pendaftaran di seketariat Deli Company, d/a Taman Budaya Sumatera Utara, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan, dengan uang pendaftaran Rp. 20. 000,-
Puisi-puisi pilihan yang akan diperlombakan :
1. Gugur karya WS. Rendra
Selamat Pagi Indonesia karya Sapardi Djoko Damono
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perepuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
terasa benar : aku tak lain milikmu..
Sembahyang Rumputan karya Ahmadun Yosi Herfanda
SEMBAHYANG RUMPUTAN
(Ahmadun Yosi Herfanda)
walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
Indonesia Berkaca karya M. Raudah Jambak
INDONESIA BERKACA
KARYA : M. RAUDAH JAMBAK
telah lama indonesia terjebak dalam buramnya
kotak kaca, mulai dari wajah yang berdebu, sampai
tiga dimensi yang kaku, parabola tak lagi berguna
dikalahkan kecanggihan batok kelapa-
kejahatan, penipuan, kemunafikan-berlomba menjadi
pelaku utama-sementara kejujuran, keikhlasan,dan
kesabaran-cukup puas sebagai figuran biasa
telah lama indonesia terjebak dalam kumuhnya
media masa, mulai dari wajah yang penuh darah,
sampai bibir merah penuh gairah, headline kemanusiaan tak lagi berguna, politik haus kekuasaan di atas segalanya-korupsi, prostitusi, anti ideologi-menjadi berita terkini-sementara harkat, martabat, dan nurani-hanya penghias demi investasi
telah lama indonesia terjebak di atas panggung sandiwara, yang selalu kehilangan penonton setia
mulai dari fans tiba-tiba, sampai kelas utama
tiket pertunjukan tidak lagi berguna, sebab
undangan gagal membawa marwah cerita-pemain, penata, dan sutradara-saling curiga dengan honor
yang diterima-sementara proyek, eksebisi, dan
pertunjukan dalam rangka-menjadi penentu final
dalam berkarya
lihatlah aceh, ambon dan papua
lihatlah korupsi, prostitusi dan manipulasi negri
lihatlah segala amoral dan asusila
anak-anak bangsa
apa khabar munir yang menunggang garuda
apa khabar harry roesli dengan drs. arief-nya
apa khabar peter white dan sepakbola indonesia
apa khabar sby bersama seratus harinya
apa khabar hamid jabbar yang selalu menzikirkan puisinya, selalu tertawa gembira-walau dalam tangis indonesia
apa khabar tsunami yang selalu meneteskan
air mata
do’a takjim buat saudara-saudaraku,
yang mengawang di bukit lawang, menanam pusara badan di kuningan, menyerah di bandara adi sumarmo yang gelisah, ambruk mengurusi nyamuk-nyamuk, menggigil digetarnya gempa tsunami
dan yang tiba-tiba pergi ke negeri entah
(tuhan mengarahkan langkah kalian menuju taman
di dalamnya mengalir sungai susu, tumbuh bunga-bunga indah, dan ranumnya beragam buah)
telah lama indonesia terjebak dalam lusuhnya cermin kaca, tapi yakinlah kami masih mampu
membaca makna-membersihkan wajah indonesia
indonesia bercermin
indonesia berkaca
dalam derita
kami akan terus berjuang untukmu
dalam bahagia
kami akan senantiasa mengharumkan
namamu,
indonesia berkaca-anak-anak bangsa berusaha
terangkai do’a, senantiasa
Medan, 2001
Ayo dafatrkan segera. Gali Potensi, Raih Prestasi, Galang Silaturahmi, dan berkumpullah dengan orang-orang berpotensi serta kreatif.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 29 April 2017 di Taman Budaya Sumatera Utara. Bekerjasama dengan Komunitas Home Poetry, Sanggar Kursi, Medan Art Theater, Sanggar Camsa, Sanggar Anak Yaspendhar dan berbagai elemen pendukung, kegiatan ini khusus mengangkat potensi para pelajar dalam bidang baca puisi.
Ririn Prabuati, selaku penggiat dan penggagas kegiatan mengatakan, bahwa kegiatan ini dilaksanakan selain dari mengangkat potensi pelajar di bidang puisi juga sebagai bagian dan andil dari peran sastra untuk meningkat karakter anak. Meminimalisir sifat-sifat radikal yang berpotensi ke arah hal-hal yang negatif.
“Anak adalah kertas putih yang polos. Dan kewajiban orang-orang dewasalah yang menjadikannya untuk lebih peka dan peduli terhadap sesama. Dengan lomba baca puisi adalah upaya untuk mengarahkan anak untuk mengikis sifat-sifat radikal yang berpotensi tertanam dalam diri mereka. Dengan sastra dan puisi diharapkan budi pekerti merekas lebih tajam dan terarah,” lanjutnya.
Lomba baca puisi ini di buka untuk para pelajar SMA/sederajat. Pendaftaran di seketariat Deli Company, d/a Taman Budaya Sumatera Utara, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan, dengan uang pendaftaran Rp. 20. 000,-
Puisi-puisi pilihan yang akan diperlombakan :
1. Gugur karya WS. Rendra
GUGUR
karya W.S Rendra
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya.
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya.
Selamat Pagi Indonesia
Karya: Sapardi Djoko DamonoSelamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perepuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
Selamat pagi, Indonesia,
seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil terasa benar : aku tak lain milikmu..
Sembahyang Rumputan karya Ahmadun Yosi Herfanda
SEMBAHYANG RUMPUTAN
(Ahmadun Yosi Herfanda)
walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin
topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi
sembahyangku sembahyang rumputansembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan
walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
aku rumputankekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah
aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang
1992Indonesia Berkaca karya M. Raudah Jambak
INDONESIA BERKACA
KARYA : M. RAUDAH JAMBAK
telah lama indonesia terjebak dalam buramnya
kotak kaca, mulai dari wajah yang berdebu, sampai
tiga dimensi yang kaku, parabola tak lagi berguna
dikalahkan kecanggihan batok kelapa-
kejahatan, penipuan, kemunafikan-berlomba menjadi
pelaku utama-sementara kejujuran, keikhlasan,dan
kesabaran-cukup puas sebagai figuran biasa
telah lama indonesia terjebak dalam kumuhnya
media masa, mulai dari wajah yang penuh darah,
sampai bibir merah penuh gairah, headline kemanusiaan tak lagi berguna, politik haus kekuasaan di atas segalanya-korupsi, prostitusi, anti ideologi-menjadi berita terkini-sementara harkat, martabat, dan nurani-hanya penghias demi investasi
telah lama indonesia terjebak di atas panggung sandiwara, yang selalu kehilangan penonton setia
mulai dari fans tiba-tiba, sampai kelas utama
tiket pertunjukan tidak lagi berguna, sebab
undangan gagal membawa marwah cerita-pemain, penata, dan sutradara-saling curiga dengan honor
yang diterima-sementara proyek, eksebisi, dan
pertunjukan dalam rangka-menjadi penentu final
dalam berkarya
lihatlah aceh, ambon dan papua
lihatlah korupsi, prostitusi dan manipulasi negri
lihatlah segala amoral dan asusila
anak-anak bangsa
apa khabar munir yang menunggang garuda
apa khabar harry roesli dengan drs. arief-nya
apa khabar peter white dan sepakbola indonesia
apa khabar sby bersama seratus harinya
apa khabar hamid jabbar yang selalu menzikirkan puisinya, selalu tertawa gembira-walau dalam tangis indonesia
apa khabar tsunami yang selalu meneteskan
air mata
do’a takjim buat saudara-saudaraku,
yang mengawang di bukit lawang, menanam pusara badan di kuningan, menyerah di bandara adi sumarmo yang gelisah, ambruk mengurusi nyamuk-nyamuk, menggigil digetarnya gempa tsunami
dan yang tiba-tiba pergi ke negeri entah
(tuhan mengarahkan langkah kalian menuju taman
di dalamnya mengalir sungai susu, tumbuh bunga-bunga indah, dan ranumnya beragam buah)
telah lama indonesia terjebak dalam lusuhnya cermin kaca, tapi yakinlah kami masih mampu
membaca makna-membersihkan wajah indonesia
indonesia bercermin
indonesia berkaca
dalam derita
kami akan terus berjuang untukmu
dalam bahagia
kami akan senantiasa mengharumkan
namamu,
indonesia berkaca-anak-anak bangsa berusaha
terangkai do’a, senantiasa
Medan, 2001
Ayo dafatrkan segera. Gali Potensi, Raih Prestasi, Galang Silaturahmi, dan berkumpullah dengan orang-orang berpotensi serta kreatif.
Minggu, 21 Februari 2016
PUISI M. RAUDAH JAMBAK
SAJAK SAYANG NA SIPUANG
tetabuh gonrang sipitu-pitu, pada mandiguri
tetabuh gonrang sidua-dua, pada mangililiki
kami gualkan
kami tarikan
untukmu kekasih hati
o, na sipuang, na sipuang
(onaha... i huda-hudai do namatei...)
engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan kasih
engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan sayang
melalui kibasan enggang doa-doa dilayangkan
melalui hembusan angin harapan diterbangkan
adakah lebih indah dari cinta seorang ibu
sejak kandungan harapan ditasbihkan
setelah lahir kasih mengalir seperti air
ketika dewasa menggudang segala cita
o, na sipuang, na sipuang
(sonaha...i toping-toping do namatei...)
ditalun-talun kisahmu tersiar
ditalun-talun kisahmu terkabar
di tanah ini kami mengobar mandillo tonduy
di tanah ini kami senandungkan urdo-urdo i
adakah yang lebih sedih dari tetes tangis ibu
tak sempat tasbihkan harapan
tak sempat mengalirkan kasih
tak sempat membaca cita-cita
o, na sipuang, na sipuang
kami tabuh gonrang
demi menjeput
segala riang
tetabuh gonrang sipitu-pitu, Pada mandiguri
tetabuh gonrang sidua-dua, Pada mangililiki
kami gualkan
kami tarikan
untukmu kekasih hati
2013
Negeri Kepompong
kali ini dia tidak melahirkan kupu-kupu,
tetapi ular bersayap kupu-kupu.
kali ini dia tidak menghisap madu,
tetapi darah semanis madu-madu
kali ini dia tidak menghadirkan warna-warna,
tetapi memuntahkan hitam sepenuh kelam
2013
LELAKI TUA DI SIMPANG RAYA
seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang sepi
tubuhnya mematung membeku detik-detik pagi
menyimpan dingin embun-embun tiang besi
lampu merah, kuning, hijau
terus berganti
orang-orang masih bergelut mimpi
di kamar-kamar yang menyelipkan lemari besi
pada sudut-sudut tersembunyi diawasi cctv
memerdekakan diri, memanjakan hati
lelaki tua itu pernah membingkai cita-cita
membangun tangga sejahtera untuk keluarga
berbahagia di dunia, sejati di surga
mencatat euphoria masa ke masa
receh itukah suara riangnya
menahan loncatan kosa kata-kata
berhamburan dari jendela mobil
tak jua terbuka
deru knalpot memekakkan
rasa merdeka entah di mana
seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang hati
do’anya seakan habis kehilangan cahaya matahari
mengarahkan sepanjang perjalanan menuju Tuhan
di sinilah ia bertahan
menghirup debu jalanan
hujan kehilangan pesan
2013
Langit Menangis
langit menangis, sigumbang meradang
rumah-rumah dan jiwa-jiwa berpeluk lumpur
langit menangis, sikodon-kodon, paropo, silalahi
hampir kehilangan segala tondi, kehilangan nyali
sejak kelam malam, hingga sunyi pagi
langit menangis, bukan menangisi para pengungsi
yang mengais ke dataran yang lebih tinggi
menyusuri rumah-rumah setelah air surut
menuju silalahi
menuju sikodon-kodon.
langit menangis, sederas tangis si bawang merah
segelisah mas dan nila
(ketika itu aku entah berumah dimana)
2013
tetabuh gonrang sipitu-pitu, pada mandiguri
tetabuh gonrang sidua-dua, pada mangililiki
kami gualkan
kami tarikan
untukmu kekasih hati
o, na sipuang, na sipuang
(onaha... i huda-hudai do namatei...)
engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan kasih
engkau adalah ibu yang tak pernah kehilangan sayang
melalui kibasan enggang doa-doa dilayangkan
melalui hembusan angin harapan diterbangkan
adakah lebih indah dari cinta seorang ibu
sejak kandungan harapan ditasbihkan
setelah lahir kasih mengalir seperti air
ketika dewasa menggudang segala cita
o, na sipuang, na sipuang
(sonaha...i toping-toping do namatei...)
ditalun-talun kisahmu tersiar
ditalun-talun kisahmu terkabar
di tanah ini kami mengobar mandillo tonduy
di tanah ini kami senandungkan urdo-urdo i
adakah yang lebih sedih dari tetes tangis ibu
tak sempat tasbihkan harapan
tak sempat mengalirkan kasih
tak sempat membaca cita-cita
o, na sipuang, na sipuang
kami tabuh gonrang
demi menjeput
segala riang
tetabuh gonrang sipitu-pitu, Pada mandiguri
tetabuh gonrang sidua-dua, Pada mangililiki
kami gualkan
kami tarikan
untukmu kekasih hati
2013
Negeri Kepompong
kali ini dia tidak melahirkan kupu-kupu,
tetapi ular bersayap kupu-kupu.
kali ini dia tidak menghisap madu,
tetapi darah semanis madu-madu
kali ini dia tidak menghadirkan warna-warna,
tetapi memuntahkan hitam sepenuh kelam
2013
LELAKI TUA DI SIMPANG RAYA
seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang sepi
tubuhnya mematung membeku detik-detik pagi
menyimpan dingin embun-embun tiang besi
lampu merah, kuning, hijau
terus berganti
orang-orang masih bergelut mimpi
di kamar-kamar yang menyelipkan lemari besi
pada sudut-sudut tersembunyi diawasi cctv
memerdekakan diri, memanjakan hati
lelaki tua itu pernah membingkai cita-cita
membangun tangga sejahtera untuk keluarga
berbahagia di dunia, sejati di surga
mencatat euphoria masa ke masa
receh itukah suara riangnya
menahan loncatan kosa kata-kata
berhamburan dari jendela mobil
tak jua terbuka
deru knalpot memekakkan
rasa merdeka entah di mana
seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang hati
do’anya seakan habis kehilangan cahaya matahari
mengarahkan sepanjang perjalanan menuju Tuhan
di sinilah ia bertahan
menghirup debu jalanan
hujan kehilangan pesan
2013
Langit Menangis
langit menangis, sigumbang meradang
rumah-rumah dan jiwa-jiwa berpeluk lumpur
langit menangis, sikodon-kodon, paropo, silalahi
hampir kehilangan segala tondi, kehilangan nyali
sejak kelam malam, hingga sunyi pagi
langit menangis, bukan menangisi para pengungsi
yang mengais ke dataran yang lebih tinggi
menyusuri rumah-rumah setelah air surut
menuju silalahi
menuju sikodon-kodon.
langit menangis, sederas tangis si bawang merah
segelisah mas dan nila
(ketika itu aku entah berumah dimana)
2013
Sajak-sajak M. Raudah Jambak
Sajak-sajak M. Raudah Jambak
Balada Si Boru Deak Parujar
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon rindang
bagi penghuni banua ginjang tidaklah sesunyi porlak
sisoding, taman tersembunyi yang menyimpan rahasia abadi.
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon membelai
seramai ranting dan daunnya. mendapat amanat sepanjang
hayat, laklak segala kitab mengungkap segala wasiat
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon berdaun
menyemai gugur, daun-daunnya yang menangkup
ke lapis langit pertama memanjatkan do�a mengharap
cinta di setiap lembarnya, melepas gairah bersama
ranting-ranting patah.
di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka
hobarna, bermula kisah manuk hulambujati, induk
tiga telur besar yang mengandung batara guru
mengandung debata sori dan mangalabulan.
di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka
torsa, berlanjut kisah manuk hulambujati mengeramkan
tiga telur lagi; mengandung siboru parmeme, siboru parorot,
dan siboru panuturi.
siboru deak parujar, putri bungsu batara guru dan siboru
parmeme, berkali-kali pergi ke bawah rindang tumburjati,
mendengar cerita manuk hulambujati yang bertengger
di puncak tertinggi. ia seperti cahaya bintang-bintang
yang berkejaran. moncongnya berpalang besi, kukunya
bergelang kuningan, dan sosoknya sebesar kupu-kupu raksasa
nan berkilau bersahabat dengan leang-leang mandi,
leang-leang nagurasta, dan untung-untung nabolon,
sebagai pelayan dan penyampai pesan
�Wahai, Manuk Hulambujati, untung-untung Nabolon.
Mengapa engkau tak mau turun untuk bersamaku di sini? �
siboru deak parujar tak lagi memaksa diri. setiap kali
kembali ke bawah rindang tumburjati, diam-diam
mengajak siboru sorbajati. tak lupa merapikan letak hulhulan,
penggulungan besar untuk benang tenunan.
�Kita semua di lapis kedua kahyangan ini keturunan dewa.
Siapapun yang menjadi pasanganku nanti, lebih baik
daripada tidak ada. Seandainya ayah kita berkenan juga
menjodohkan aku dengan Siraja Odap-odap, aku akan turut juga,�
ujar siboru sorbajati, si kakak tercinta memancing cerita.
keturunan laki-laki batara guru mendapat pasangan dari putri
debata sori. anak laki-laki debata sori dari putri mangalabulan.
anak mangalabulan mendapatkan pasangan dari putri batara guru,
memilih antara siboru deak parujar dan siboru sorbajati.
�Ah, berpapasan saja aku tidak akan mau dengan anak
Mangalabulan itu! Lebih baik melompat dari puncak rumah
dan ingin menjadi batang enau daripada melihat wajah Siraja Odap-odap.�
mereka pun meneruskan gulungan benang tenun sampai
memulai tenunan baru. berhari-hari, berbulan-bulan.
batara guru dari bagian biliknya nampak tidak sabar lagi
untuk mendesak salah satu putrinya dipersunting siraja odap-odap.
�Kemarilah kalian berdua,� panggil Batara Guru.
siboru sorbajati akhirnya melangkah sendiri memenuhi
panggilan ayah, mendengar suara-suara yang menanti
di halaman rumah. benar-benar melakukan niatnya dengan
melompat dari puncak rumah sambil menyumpahi diri
agar menjadi batang enau saja.
�Siboru Sorbajati lebih suka mengutuk dirinya daripada patuh kepada ajar. Satu lagi putri kakanda yang sangat turut pada ajar, pastilah itu Siboru Deak Parujar.�
�Tidak, ayahanda. Lagi pula tenunanku belum selesai.�
sampai menjelang pagi dia mengeluarkan bunyi
alat tenunnya itu sambil menikmati. dan terpikir
melemparkan hasoli, masih tergulung benang
yang dipindah dari hulhulan.
semalaman batara guru tetap berjaga agar putrinya
tidak melarikan diri. bunyi alat tenun siboru deak parujar
didengarnya mulai berhenti. �putriku, deak parujar!�
siboru deak parujar menyahut panggilan batara guru sekali,
selebihnya dia sudah bergayut pada benang yang menjulur
entah sampai ke mana. semakin turun, nampaknya dunia
bawah tidak jelas dan sangat gelap. angin kencang dan
lebih dahsyat kacaunya dari sebelum penciptaan kahyangan.
�Leang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon�!
Kumohonkan agar engkau meminta sekepul tanah
untuk tempatku berpijak di bawah! Aku tak mau
kembali ke Banua Ginjang.�
sekepul tanah yang dikirimkan, ditekuk
siboru deak parujar, langsung menghampar
tempat berpijak menjadi awal banua tonga.
naga padoha menggoyang guncangan. dari bawah
tanah menyulam amarah. sebab frustrasi
dengan nai rudang ulubegu.
�Ompung Mulajadi Nabolon, mohon kirimkan
kembali sekepul tanah lewat pesuruhmu
Leang-leang Mandi, si burung layang-layang!�
permohonannya sampai untuk ditekuk kembali,
lengkap dengan sebilah pedang dan tutup kepala.
menghindari terik delapan matahari mengeringkan
banjir air di banua tonga. menghunus pedang
menaklukkan naga padoha yang berang.
naga padoha masih menyimpan dendam
mengguncang dari banua toru, tempat segala
kegelapan, kejahatan, dan kematian.
�Suhul! Suhul!�
mulajadi nabolon mengirimkan bibit-bibit tumbuhan
dan hewan, memasukkan ke dalam sebuah lodong poting,
potongan batang bambu, berisi benih bercampur jasad
siraja odap-odap, menghampiri siboru deak parujar
di sebuah pancuran yang dihalangi rimbun tetumbuhan.
�Boru Deak-Parujar, tenunlah sehelai ulos ragidup,
kemudian lilitkan ulos itu pada lodong itu lalu bukalah tutupnya.�
pertemuan siboru deak parujar dengan siraja odap-odap,
sebagai tuan mulana di banua tonga tak bisa lagi ditolak.
mulajadi nabolon memberkati mereka hingga melahirkan,
raja ihat manusia dan pasangannya bernama itam manusia,
manusia pertama.
siboru deak parujar dan siraja odap-odap kembali ke banua ginjang,
melalui seutas benang.
�Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan.
Di situlah aku kelihatan kembali bertenun dan menyulam.�
2013
Hobar Namora
Alunan sordam berlayar bersama kesiur angin
Menelusuri persawahan di antara padi-padi
Sepanjang hamparan sigalangan membakar dingin
Dan burung-burung yang sibuk memetiki hasapi
�oi, sahala na mar tondi
dan para penguasa huta ni humang
aku kawini si jelita dari lubu
yang menitiskan si langkitang
yang menitiskan si baitang�
beribu pustaha memerciki ceracau kemarau
meratapi pepohonan yang hibuk menghitung usia huta-huta
daun-daun berguguran di atas hamparan surat tulak-tulak
dan ruas-ruas bambu yang melantunkan andung-andung
�oi, tondi na marsahala
aku penuhi janjian di sopo sio rancang magodang
aku nikahi nan tuan layan bulan
yang melahirkan sutan borayun
yang melahirkan sutan bugis�
tetabuh gondang mengaduh bersama hentakan ogung
menggebuki langit yang menahan beribu jerit
�oi begu na mar sahala dohot mar tondi
akulah namora pande bosi
yang kehilangan makam sendiri �
2013
Pada Langit, Pada Bumi, dan Pada Segala
Pada langit. Pada bumi
Pada pucuk-pucuk daun hariara
Tenunan selesai digelar
sepanjang selendang Deak Parujar
merengkuh banua ginjang
menancap banua tonga
mengakar banua toru
Pada langit. Pada bumi
Pada sayap-sayap hulambujati
Kisah telah menjadi hobar
Tentang Odap-odap memburu Deak Parujar
menyesap dalam darah
menembus rongga-rongga
menyembul dari mulut dan mata
Bakkara, O, Bakkara
di timur aku tertancap
di segala penjuru aku disergap
mulut dibekap, suara disadap
Pada langit. Pada bumi
Pada titah Ompu Mulajadi
Deak Parujar menitipkan benihnya
Tuan Mulana mencapai orgasmaya
Naga Padoha menggaruk punggungnya
2013
M. Raudah Jambak
lahir di Medan, 5 Januari 1972. Beberapa karyanya masuk dalam beberapa antologi, seperti Tanah Pilih, Jalan Menikung ke Bukit Timah, Pulau Marwah, Akulah Musi. Selain berasatra, ia juga aktif berteater, dengan mengikuti berbagai ivent di berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, selain bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, seperti Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED, ia juga sebagai koordinator Omong-Omong Sastra Sumatera Utara dan Direktur di Komunitas Home Poetry.
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon rindang
bagi penghuni banua ginjang tidaklah sesunyi porlak
sisoding, taman tersembunyi yang menyimpan rahasia abadi.
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon membelai
seramai ranting dan daunnya. mendapat amanat sepanjang
hayat, laklak segala kitab mengungkap segala wasiat
pohon tumburjati, pohon kehidupan, pohon berdaun
menyemai gugur, daun-daunnya yang menangkup
ke lapis langit pertama memanjatkan do�a mengharap
cinta di setiap lembarnya, melepas gairah bersama
ranting-ranting patah.
di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka
hobarna, bermula kisah manuk hulambujati, induk
tiga telur besar yang mengandung batara guru
mengandung debata sori dan mangalabulan.
di puncak hariara sundung di langit, beringin membuka
torsa, berlanjut kisah manuk hulambujati mengeramkan
tiga telur lagi; mengandung siboru parmeme, siboru parorot,
dan siboru panuturi.
siboru deak parujar, putri bungsu batara guru dan siboru
parmeme, berkali-kali pergi ke bawah rindang tumburjati,
mendengar cerita manuk hulambujati yang bertengger
di puncak tertinggi. ia seperti cahaya bintang-bintang
yang berkejaran. moncongnya berpalang besi, kukunya
bergelang kuningan, dan sosoknya sebesar kupu-kupu raksasa
nan berkilau bersahabat dengan leang-leang mandi,
leang-leang nagurasta, dan untung-untung nabolon,
sebagai pelayan dan penyampai pesan
�Wahai, Manuk Hulambujati, untung-untung Nabolon.
Mengapa engkau tak mau turun untuk bersamaku di sini? �
siboru deak parujar tak lagi memaksa diri. setiap kali
kembali ke bawah rindang tumburjati, diam-diam
mengajak siboru sorbajati. tak lupa merapikan letak hulhulan,
penggulungan besar untuk benang tenunan.
�Kita semua di lapis kedua kahyangan ini keturunan dewa.
Siapapun yang menjadi pasanganku nanti, lebih baik
daripada tidak ada. Seandainya ayah kita berkenan juga
menjodohkan aku dengan Siraja Odap-odap, aku akan turut juga,�
ujar siboru sorbajati, si kakak tercinta memancing cerita.
keturunan laki-laki batara guru mendapat pasangan dari putri
debata sori. anak laki-laki debata sori dari putri mangalabulan.
anak mangalabulan mendapatkan pasangan dari putri batara guru,
memilih antara siboru deak parujar dan siboru sorbajati.
�Ah, berpapasan saja aku tidak akan mau dengan anak
Mangalabulan itu! Lebih baik melompat dari puncak rumah
dan ingin menjadi batang enau daripada melihat wajah Siraja Odap-odap.�
mereka pun meneruskan gulungan benang tenun sampai
memulai tenunan baru. berhari-hari, berbulan-bulan.
batara guru dari bagian biliknya nampak tidak sabar lagi
untuk mendesak salah satu putrinya dipersunting siraja odap-odap.
�Kemarilah kalian berdua,� panggil Batara Guru.
siboru sorbajati akhirnya melangkah sendiri memenuhi
panggilan ayah, mendengar suara-suara yang menanti
di halaman rumah. benar-benar melakukan niatnya dengan
melompat dari puncak rumah sambil menyumpahi diri
agar menjadi batang enau saja.
�Siboru Sorbajati lebih suka mengutuk dirinya daripada patuh kepada ajar. Satu lagi putri kakanda yang sangat turut pada ajar, pastilah itu Siboru Deak Parujar.�
�Tidak, ayahanda. Lagi pula tenunanku belum selesai.�
sampai menjelang pagi dia mengeluarkan bunyi
alat tenunnya itu sambil menikmati. dan terpikir
melemparkan hasoli, masih tergulung benang
yang dipindah dari hulhulan.
semalaman batara guru tetap berjaga agar putrinya
tidak melarikan diri. bunyi alat tenun siboru deak parujar
didengarnya mulai berhenti. �putriku, deak parujar!�
siboru deak parujar menyahut panggilan batara guru sekali,
selebihnya dia sudah bergayut pada benang yang menjulur
entah sampai ke mana. semakin turun, nampaknya dunia
bawah tidak jelas dan sangat gelap. angin kencang dan
lebih dahsyat kacaunya dari sebelum penciptaan kahyangan.
�Leang-leang Mandi, Untung-untung Nabolon�!
Kumohonkan agar engkau meminta sekepul tanah
untuk tempatku berpijak di bawah! Aku tak mau
kembali ke Banua Ginjang.�
sekepul tanah yang dikirimkan, ditekuk
siboru deak parujar, langsung menghampar
tempat berpijak menjadi awal banua tonga.
naga padoha menggoyang guncangan. dari bawah
tanah menyulam amarah. sebab frustrasi
dengan nai rudang ulubegu.
�Ompung Mulajadi Nabolon, mohon kirimkan
kembali sekepul tanah lewat pesuruhmu
Leang-leang Mandi, si burung layang-layang!�
permohonannya sampai untuk ditekuk kembali,
lengkap dengan sebilah pedang dan tutup kepala.
menghindari terik delapan matahari mengeringkan
banjir air di banua tonga. menghunus pedang
menaklukkan naga padoha yang berang.
naga padoha masih menyimpan dendam
mengguncang dari banua toru, tempat segala
kegelapan, kejahatan, dan kematian.
�Suhul! Suhul!�
mulajadi nabolon mengirimkan bibit-bibit tumbuhan
dan hewan, memasukkan ke dalam sebuah lodong poting,
potongan batang bambu, berisi benih bercampur jasad
siraja odap-odap, menghampiri siboru deak parujar
di sebuah pancuran yang dihalangi rimbun tetumbuhan.
�Boru Deak-Parujar, tenunlah sehelai ulos ragidup,
kemudian lilitkan ulos itu pada lodong itu lalu bukalah tutupnya.�
pertemuan siboru deak parujar dengan siraja odap-odap,
sebagai tuan mulana di banua tonga tak bisa lagi ditolak.
mulajadi nabolon memberkati mereka hingga melahirkan,
raja ihat manusia dan pasangannya bernama itam manusia,
manusia pertama.
siboru deak parujar dan siraja odap-odap kembali ke banua ginjang,
melalui seutas benang.
�Kalau kalian rindu kepadaku, terawanglah purnama bulan.
Di situlah aku kelihatan kembali bertenun dan menyulam.�
2013
Hobar Namora
Alunan sordam berlayar bersama kesiur angin
Menelusuri persawahan di antara padi-padi
Sepanjang hamparan sigalangan membakar dingin
Dan burung-burung yang sibuk memetiki hasapi
�oi, sahala na mar tondi
dan para penguasa huta ni humang
aku kawini si jelita dari lubu
yang menitiskan si langkitang
yang menitiskan si baitang�
beribu pustaha memerciki ceracau kemarau
meratapi pepohonan yang hibuk menghitung usia huta-huta
daun-daun berguguran di atas hamparan surat tulak-tulak
dan ruas-ruas bambu yang melantunkan andung-andung
�oi, tondi na marsahala
aku penuhi janjian di sopo sio rancang magodang
aku nikahi nan tuan layan bulan
yang melahirkan sutan borayun
yang melahirkan sutan bugis�
tetabuh gondang mengaduh bersama hentakan ogung
menggebuki langit yang menahan beribu jerit
�oi begu na mar sahala dohot mar tondi
akulah namora pande bosi
yang kehilangan makam sendiri �
2013
Pada Langit, Pada Bumi, dan Pada Segala
Pada langit. Pada bumi
Pada pucuk-pucuk daun hariara
Tenunan selesai digelar
sepanjang selendang Deak Parujar
merengkuh banua ginjang
menancap banua tonga
mengakar banua toru
Pada langit. Pada bumi
Pada sayap-sayap hulambujati
Kisah telah menjadi hobar
Tentang Odap-odap memburu Deak Parujar
menyesap dalam darah
menembus rongga-rongga
menyembul dari mulut dan mata
Bakkara, O, Bakkara
di timur aku tertancap
di segala penjuru aku disergap
mulut dibekap, suara disadap
Pada langit. Pada bumi
Pada titah Ompu Mulajadi
Deak Parujar menitipkan benihnya
Tuan Mulana mencapai orgasmaya
Naga Padoha menggaruk punggungnya
2013
M. Raudah Jambak
lahir di Medan, 5 Januari 1972. Beberapa karyanya masuk dalam beberapa antologi, seperti Tanah Pilih, Jalan Menikung ke Bukit Timah, Pulau Marwah, Akulah Musi. Selain berasatra, ia juga aktif berteater, dengan mengikuti berbagai ivent di berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, selain bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, seperti Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED, ia juga sebagai koordinator Omong-Omong Sastra Sumatera Utara dan Direktur di Komunitas Home Poetry.
Minggu, 12 April 2015
APA KABAR KOMUNITAS SASTRA SUMATERA?
PENGARANG-PENGARANG ASAL SUMATERA UTARA (1).....
1.A.A. BUNGGAA.A. Bungga dikenal sebagai penulis drama dan wartawan. Ia lahir di Medan, tanggal 17 Juni 1938. Pendidikan yang pernah ditempuhnya adalah SD Tebing Tinggi (1953), Sekolah Agama Al Jamiatul Wasliyah, SMEP Medan (1956). Selanjutnya ia belajar sendiri (otodikdak). Dalam dunia kewartawanan, ia pernah menjadi redaktur majalah Suluh Keadilan, Medan dan redaktur harian Mimbar Umum di Medan. Sejak tahun 1964, ia aktif dalam Lesbumi Medan. Pada tahun 1966, ia ikut mendirikan Teater Muslim Medan. Karya dramanya yang telah terbit adalah Sepanjang Sungai Jordan (1966) dan Tawanan Sinai. Karyanya yang berjudul Mawar merupakan kumpulan sajak yang terbit tahun 1983.
2.A.A. LOEBIS
A.A. Loebis dikenal sebagai penulis sajak dan naskah drama. Ia juga aktif dalam kegiatan kebudayaan, drama/teater. Penulis ini dilahirkan di Balige, Sumatera Utara,tanggal 8 Agustus 1930. Pendidikan yang pernah dijalaninya adalah HIS. Ia aktif organisasi kebudayaan I.P.Budaya Tifa (1956), menjadi pembimbing Sanggar Deru Tanjung Pura (1968), dan ikut mendirikan BKPB Kabupaten Langkat (1969). Ia juga pernah bekerja pada Bidang Kesenian Kanwil Departemen P & K, Provinsi Sumatera Utara. Karyanya dalam bentuk drama antara lain: Tangan-Tangan Berdarah di Bulan Oktober (1972). Ia juga menulis kumpulan sajak yang diterbitkan tahun 1974 dengan judul Selamat Pagi.
3.A.N. ZAIFAH
Penulis ini dilahirkan di Medan, tanggal 16 Maret 1940. Ia adalah redaktur harian Bukit Barisan di Medan. Pendidikan terakhirnya adalah sarjana muda sosial politik Universitas Sumatera Utara. Sajak dan cerpennya dimuat dalam harian Waspada, Analisa, Bukit Barisan (Medan), Majalah Sastra dan Horison, juga dimuat dalam antologi Kuala (Kumpulan Sajak, 1976), Temu Sastrawan Sumatera Utara (1977), dan 25 Cerpen (1978)
4.A. RAHIM QAHHAR
Penulis ini lahir di Medan, tanggal 29 Juni 1943. Ia adalah wartawan Bukit Barisan, Medan (sejak 1966). Karyanya: Terminal (kumpulan cerpen dan sajak bersama Aldian Arifin, Djohan A. Nasution, dan Zakaria M.Passe,1977), Blong (kumpulan sajak, 1979), Dinamika Seni Budaya Sumut (Kumpulan Esai, 1981), Mabukku pada Bali (Kumpulan Sajak, 1983), dan Abraham Ya Abraham (Kumpulan Cerpen, 1985). Beberapa bukunya terbit di Malaysia, yaitu: Titian Laut II(Drama, 1986), Langit Kirmizi (Novel, 1987), dan Melati Merah (Novel, 1989).
5.ABDUL JALIL SIDIN
Penulis ini dilahirkan di Binjai, Sumatera Utara, tanggal 20 Juni 1929. Ia menempuh pendidikan HIS, SMP, SMA, Sarjana Muda Hukum Universitas Sumatera Utara dan Sarjana Muda Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Sumatera Utara. Abdul Jalil Sidin pernah menerima Hadiah Seni dari Kanwil Departemen P & K Sumatera Utara. Kumpulan sajaknya: Pesta Api (1981), dan Daun-Daun Mahoni (1981).
6.ABDUL SITUMEANG
Penulis ini lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 22 Juni 1936. Setelah tamat SMEA, bekerja di Departemen Kesehatan (1957-1958) dan kemudian di Departemen Perdagangan. Sajak-sajaknya dimuat di Mimbar Indonesia dan Sastra. Kumpulan sajaknya: Pembebasan (stensilan, 1966).
7.ACHMAD RIVAI NASUTION
Nama pena dari penulis ini adalah Dev Vareyra. Ia dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatera Utara, tanggal 9 Pebruari 1935. Pernah menjadi Pengawas Sekolah Menengah Teknologi Atas. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi Kande (1982), Dua Kumpulan Puisi (1982, bersama Bachtiar Adamy), Antologi Penyair Aceh (1986), Tiatian Laut III (Kuala Lumpur, 1991), Nafas Tanah Rencong (1992), Banda Aceh (1993), Sosok (1993), dan Seulawah: Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Kumpulan sajak dan cerpennya yang telah diterbitkan adalah Melalui Api (1992)
8.AGAM WISPI (1930-2003)
Penulis ini di lahirkan di Pangkalan Susu, Sumatera Utara, tanggal 31 Desember 1930 dan meninggal di Amesterdam di sebuah verpleghuis (rumah jompo), Belanda tanggal 1 Januari 2003.
Agam Wispi pernah menjadi wartawan harian Pendorong (1952) di Medan. Tahun 1957, Agam pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai redaktur budaya Harian Rakyat. Pada bulan Mei 1965, Agam ke Vietnam untuk meliput perang. Ia sempat mewawancarai Ho Chi Minh. Selanjutnya ia berkelana ke Cina. Pada saat peristiwa G-30 S/PKI, ia sedang di Cina. Ia sempat lima tahun di karantina (penjara)di Tiongkok Selatan. Dari Cina, ia ke Moskwa, Jerman Timur, dan sejak tahun 1988 menetap di Amesterdam sampai akhir hayatnya. Ia tidak pernah lagi menetap di tanah airnya. Ia memang pernah pulang, tahun 1999 dan 2000 ia berkunjung ke tanah airnya lagi, setelah sekian tahun berkelana di luar negeri.
Kumpulan sajaknya yang pernah terbit adalah Matinya Seorang Petani (1955), Di Negeri Orang, Puisi Penyair Indonesia Eksil (Antologi Puisi, 2002). Beberapa penyair seperti Asahan Alham, Nurdiana, Chalik Hamid, dan Sobron Aidit memuat puisinya dalam antologi ini.
9.ALDIAN ARIPIN
Penulis ini lahir di Kota Pinang, Labuhan Batu, Sumatera Utara, tanggal 1 Agustus 1938. Pendidikan terakhirnya adalah Akademi Imigrasi Jakarta (Tamat 1965). Ia pernah menjadi pegawai Kantor Imigrasi di Medan dan Pekanbaru, Kepala Kantor Imigrasi di Bagansiapiapi, dan sejak 1981 menjadi Kepala Kantor Imigrasi di Palembang. Ia pun aktif dalam Teater Nasional di Medan, Teater Bayangan di Pekanbaru, dan Teater KNPI di Bagansiapiapi. Selain itu, ia pun pernah anggota Dewan Kesenian Medan (1972-1974).
Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi Ribeli (bersama Djohan A. Nasution dan Z. Pangaduan Lubis, 1966), Oh Nostalgia (1968), Terminal (1971), Puisi ASEAN 1978 (Buku I), dan Khatulistiwa (1981).
10.AMAL HAMZAH (1922-1987)
Penulis ini di lahirkan di Binjai, Sumatera Utara, tanggal 31 Agustus 1922, meninggal di Duisdorf, Jerman Barat, 30 Juli 1987. Ia adalah adik Amir Hamzah. Pendidikannya dimulai dari HIS, MULO, MHS, dan Fakultas Hukum dan Kesusastraan. Ia pernah bekerja di Kedutaan Besar RI di Bonn, Jerman Barat (1953-1985). Karyanya yang pernah terbit adalah Pembebasan Pertama (Kumpulan Cerpen + Kumpulan Sajak + Drama, 1949), dan Buku dan Penulis (Studi/Kajian, 1950). Amal Hamzah menerjemahkan beberapa karya asing: Gitanyali (Kumpulan Sajak R. Tagore, 1946), Ankara (Karya Y.K. Karaosmanoglu, 1949) dan Bunga Seroja dari Gangga (Karya Robinradand Tagore, 1949).
11.AMIR HAMZAH (1911-1946)
Amir Hamzah dianggap sebagai Raja Penyair Pujangga Baru dan Pahlawan Nasional (S.K. Presiden RI No. 106/TK/ Tahun 1975, tertanggal 3 Nopember 1975). Dalam khazanah Sastra Indonesia ia dianggap sebagai sastrawan angkatan pujangga Baru (1920-AN). Pada tahun 1933, ia bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane menerbitkan Majalah Pujangga Baru. Karyanya yang terkenal adalah kumpulan sajak Nyanyian Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941).
Nama aslinya adalah Tengku Amir Hamzah, ia dilahirkan di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara tanggal 28 Pebruari 1911. Ia berasal dari keluarga bangsawan dan ada hubungan darah dengan Sultan Langkat. Ia terbunuh dalam huru-hara yang meletus pada 20 Maret 1946 di Sumatera Utara, dan ia bukan terbunuh oleh sajak-sajaknya.
Pendidikannya dimulai dari HIS, selanjutnya melanjutkan ke MULO di Medan dan kemudian pindah ke Jakarta bersekolah AMS-A atau sastra di Solo. Dari AMS ia melanjutkan pendidikan pada Rechts Hoge School (Sekolah Hukum Tinggi) di Jakarta sampai Sarjana Muda. Salah seorang temannya di AMS Solo adalah Achdiat Kartamihardja.
Perhatiannya pada pergerakan nasional telah terlihat sewaktu ia belia. Waktu masih belajar di AMS Solo, ia memasuki Indonesia Muda dan diangkat sebagai ketua. Pernah pula menjadi Ketua Panitia Kongres Indonesia muda di Solo pada Tahun 1930.
Pada 29 Oktober 1945, ia diangkat menjadi Wakil Pemerintah RI untuk Langkat dan berkedudukan di Binjai. Ketika itu ia adalah Pangeran Langkat Hulu di Binjai. Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para Sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak agar Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu revolusi sosial pun pecah pada tanggal 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepada rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung. Pada bulan Nopember 1946 kuburannya dipindahkan ke samping Masjid Azizi, Tanjung Pura. Amir Hamzah memperoleh pengakuan sebagai pahlawan nasional pada tahun 1975.
Karyanya yang lain adalah Sastra Melayu dan Raja-Rajanya (1942), Esai dan Prosa (kumpulan esai dan prosa, 1982), dan Padamu Jua (kumpulan sajak, 2000). Karya terjemahannya Setanggi Timur (kumpulan sajak penyair Jepang, India, Persia dan lain-lain,1939), Baghawat Gita (1933), dan Syair Asyar.
Amir Hamzah merupakan salah seorang sastrawan yang mendapatkan perhatian besar. Studi mengenai Amir Hamzah dilakukan oleh H.B.Jassin, Amir Hamzah: Raja Pujangga Baru (1962), S. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah Sebagai Penyair dan Uraian Sajak Nyanyian Sunyi (1981) dan Siti Utari Nababan A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar (Disertasi pada Universitas Cornell, 1966). Nh.Dini menulis kisah hidup Amir Hamzah dalam bentuk novel biografi yang berjudul Amir Hamzah, Pangeran Dari Seberang.
12.ANWAR BAYU PUTRA
Anwar bayu Putra dilahirkan di Medan, tanggal 14 Juni 1960. Ia pernah menjadi pimpinan redaksi buletin budaya Dinamika, Palembang. Kini ia ikut mengelola Yayasan Orde Indonesia, dan aktif dalam Teater Potlot Palembang, serta menjadi redaktur majalah Diksi. Sajak-sajaknya dimuat dalam kumpulan sajak bersama 10 Penyair Palembang (1989), Orbit Penyair Selatan (1992), Rendezvous Penyair Bagian Selatan (1993) dan Mimbar Penyair Abad 21 (1996). Kumpulan sajaknya: Catatan Bagi Orang-Orang Berziarah (1994)
13.ARMIJN PANE (1908-1970)
Sastrawan Indonesia Angkatan Pujangga Baru (1920-an) ini juga aktif dalam bidang pers dengan mendirikan majalah. Salah satu majalah yang didirikannya adalah Pujangga Baru. Dalam bidang kesusastraan ia menulis esai sastra, puisi, cerpen, drama, novel/roman. Ia juga pernah menjadi redaktur Balai Pustaka di tahun 1926.
Ia lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908 dan meninggal di Jakarta tanggal 16 Pebruari 1970. Ia adalah adik dari Sanusi Pane yang juga sastrawan Angkatan Pujangga Baru (1920-an). Pendidikan yang di tempuhnya adalah HIS dan ELS (Tanjung Balai, Sibolga, dan Bukittinggi), STOVIA Jakarta (1923), NIAS Surabaya (1927), dan AMS-A Solo (1931). Ia pernah menjadi wartawan di Surabaya, guru Taman Siswa di Kediri, Malang dan Jakarta, Sekretaris dan redaktur Pujangga Baru (1933-1938), redaktur Balai Pustaka (1936), Ketua Bagian Kesusastraan Pusat Kebudayaan (1942-1945), sekretaris BKMN (1950-1955), dan redaktur majalah Indonesia (1948-1955).
Novelnya Belenggu (1940), banyak mengundang perdebatan di kalangan pengamat dan penelaah sastra Indonesia. Karyanya yang lain Jiwa Berjiwa (kumpulan sajak, 1939), Kort Overzicht va de Moderne Indonesische Literatuur (1949), Mencari Sendi Baru Tata Bahasa Indonesia (1950), Jalan Sejarah Dunia (1952), Kisah Antara Manusia (kumpulan cerpen, 1953), Jinak-Jinak Merpati (kumpulan drama, 1953), Sanjak-Sanjak Muda Mr. Muhammad Yamin (1954), dan Gamelan Jiwa ( kumpulan cerpen, 1960). Terjemahannya Tiongkok Zaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 – Sekarang (1953), Membangun Hari Kedua (novel, Ilya Ehrenburg, 1956), dan Habis Gelap Terbitlah Terang (karya R.A.Kartini, 1968). Sadurannya Ratna (drama Hendrik Ibsen, Nora, 1943).
Karena aktivitasnya dalam bidang sastra dan seni, tahun 1969, Armijn Pane menerima hadiah tahunan dari Pemerintah Republik Indonesia.
14.B. YASS
Penulis ini dilahirkan di Huta Padang, Kisaran, Sumatera Utara, tahun 1929. Pendidikan terakhir: Nitti Go Gakko (SMP, 1944) Tanjung Balai. Pernah menjadi Sersan II TNI dengan jabatan Wakil Kepala Siasat Perang Komando Sumatera (1945-1950), wartawan harian Batanghari Sembilan (1957), pemimpin redaksi mingguan Ris (1956-1958), pemimpin redaksi harian Lampung Pos (1959), dan sekarang koresponden Kantor Berita Antara (sebelumnya KB PIA). Pemegang Satya Lencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I & II dan Pemegang Tanda Jasa Pahlawan Gerilya ini pernah pula menjadi anggota DPRD Palembang. Karyanya: Halimah Srikandi (Novel, 1962), dan Minah, Gadis Peladang (Novel, 1964).
15.B.Y. TAND (1942-2000)
Penulis ini dilahirkan di Indrapura, Asahan, Sumatera Utara, tanggal 10 Agustus 1942, meninggal 22 Oktober 2000 di Indrapura (Sumatera Utara). Pendidikan terakhirFKSS IKIP Medan dan FKSS UISU Medan (keduanya tidak tamat). Pernah bekerja sebagai penilik kebudayaan di Kantor Departemen P & K Kecamatan Air Putih, Asahan (1976)
Kumpulan sajaknya, Sketsa, mendapat Hadiah Utama Puisi Putra II Malaysia Tahun 1983. Kumpulan sajaknya yang lain: Ketika Matahari Tertidur (1979), Sajak-Sajak Diam (1983), dan Alif Ba Ta (akan terbit). Sajak-sajaknya yang lain dimuat dalam antologi: Bunga Laut (1977), Temu Sastrawan Sumatera Utara (1977), Tangkahan (1978), Khatulistiwa (1981), Rantau (1984), dan Titian (Kuala Lumpur, 1984).
16.BARUS SIREGAR
Penulis ini dilahirkan di Sipirok, Sumatera Utara, tanggal 14 Juli 1923. Berpendidikan SMT di Jakarta dan Fakultas ekonomidi Amesterdam. Pernah menjadi redaktur majalah Gema dan redaktur Yayasan Pembangunan. Karyanya: Busa di laut Hidup (1951). Terjemahannya: Pemuda di Angkasa (karya Dots Dresselhuys, 1949), Tekanan Darah (karya Damon Runyon, 1950), Dua Puluh Bacaan 25 Dollar (karya James T. Farrel, 1950), Delapan Kisah dari Rusia (kumpulan esai pengarang Rusia, 1951), Tahun 1984 (Novel George Orwell, 1953), Gadis Pejuang Iman (Karya Eris Gosden, 1965), dan Cerita Nyanyian Hari Natal (Karya Charles Dickens)
17.BOKOR HUTASUHUT
Penulis ini dilahirkan di Balige, Sumatera Utara, tanggal 2 Juni 1934. Pendidikan yang terakhir ditempuhnya adalah SMA-A Medan (hingga kelas dua, 1956). Penanda tangan “Manifes Kebudayaan” ini pernah menjadi redaktur kebudayaan majalah Waktu dan Pelangi di Medan (1955-1962), sekretaris Yayasan Sastra (penerbit majalah sastra, 1936-1966), dan Sekretaris KPPI (1964). Cerita bersambungnya, Pantai Barat, mendapat Hadiah Kedua Majalah Sastra tahun 1963, tahun 1988, cerita ini terbit sebagai novel. Karyanya yang lain: Datang Malam (Kumpulan Cerpen, 1963), Penakluk Ujung Dunia (Novel, 1964), Tanah Kesayangan (Novel, 1965), dan “Menyilang ke Utara” (Kumpulan cerpen, manuskrip).
18. DAMIRI MAHMUD
Penulis ini lahir di Kampung Klambir, Sumatera Utara, tahun 1945. Pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Medan 91979-1982), kini mengajar di salah satu Madrasah Tsanawiyah, Medan. Kumpulan sajaknya: Tiga Muka (1980), Aku Senantiasa Mencari (1982), Sajak-Sajak Kamar (1983), dan Damai di Bumi (2000). Sajak-sajaknya yang lain dimuat dalam antologi Kuala (1975), Puisi (1977), Rantau (1984), dan Linus Suryadi AG (ed.), Tonggak 3 (1987).
19. DARIUS MARPAUNG (1928-1980)
Penulis ini dilahirkan di Sitiotio, Porsea, Sumatera Utara, tanggal 18 Oktober 1928, meninggal tahun 1980 di Jakarta. Ia berpendidikan: SMP, SMA, Akademi Nasional (1950) dan kemudian otodikdak. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Pimpinan Kongres Pemuda Republik Indonesia di Bukittinggi, Wakil Komandan tentara Pelajar Sumatera (1948), pemimpin majalah Kader (1950-1951), Direktur SMP “Kader” (1950-1951), Direktur SMA “Kader” (1951-1952), Ketua Ikatan Perguruan Menengah Partikelir Indonesia (1952-), dan anggota BMKN (1952-). Karyanya dimuat dalam Mimbar Indonesia dan dalam Gema Tanah Air oleh H.B. Jassin (ed.)
20. DJAMALUL ABIDIN ASS
Penulis ini dilahirkan di Medan, tanggal 12 desember 1935. Berpendidikan SD, SMP, SMA (semuanya di Medan), dan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKSS IKIP Jakrta (hingga tingkat doktoral). Pernah mengikuti kursus jurnalistik Radio di Jerman (1969-1970), kursus Broadcasting Management di Malaysia (1975), dan kursus Public Relation di Inggris (1983). Pernah bekerja di Direktorat Radio Departemen Penerangan Jakarta.
Karyanya: Kiriman Ayahku (1962), Gadis di Jendela (1962), Nyala Suci di Pantai Bedagai (1963), Tata Bahasa Indonesia (1963), Sastra Indonesia Modern (1964), dan lain-lain. Sejumlah sajaknya dimuat dalam Linus Suryadi AG (ed.), Tonggak 2 (bunga rampai, 1987).
21. DJAWASTIN HASUGIAN
Penulis ini dilahirkan di Pakkat, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, tahun 1943. Pendidikan terakhir Sarjana Muda Fakultas Sastra UI (1965). Pernah menjadi guru SMP, guru SMA, wartawan, dan kini berwiraswasta. Sajak-sajaknya dimuat dalam H.B. Jassin (ed.) , Angkatan 66: Prosa dan Puisi (bunga rampai, 1968), dan dalam Linus suryadi AG (ed.), Tonggak 3 (bunga rampai, 1987). Karyanya yang lain: Epos (Kumpulan Sajak), Ciliwung Bugil (Kumpulan Sajak), Menentang Matahari (novel), dan Pesta Maut Lobang Buaya (novel).
22. DJOHAN A. NASUTION
Penulis ini dilahirkan di Medan tahun 1937. Ia pernah menjadi Kepala Bidang Kesenian Kanwil Departemen P & K Provinsi Sumatera Utara, di Medan. Ia juga pernah mengikuti Konferensi PEN Club Asia di Taipei, Taiwan tahun 1970, dan Kongres PEN Club Internasional di Seoul, Korea Selatan tahun 1970. Sajak-sajaknya dimuat dalam Ribeli (bersama Aldian arifin dan Z. Pangaduan Lubis, 1977), Terminal (kumpulan cerpen + kumpulan sajak bersama Aldian Arifin, Zakaria M. Passe, dan lain-lain, 1971), Puisi ASEAN (Buku I, 1978), dan Khatulistiwa (1981).
23. FOEZA ME HUTABARAT
Penulis ini dilahirkan di Medan, tanggal 21 Maret 1958. Pernah menjadi redaktur mingguan Dobrak dan buletin sastra Selokan, Medan (1978-1981). Cerpennya dimuat di majalah Horison. Kumpulan sajaknya: Langkah-Langkah Pendek (1981).
24.GAYUS SIAGIAN (1920-1981)
Penulis cerpen, novel, drama dan skenario ini juga aktif pada bidang pers. Ia dilahirkan di Balige, Sumatera Utara, tanggal 5 Oktober 1920 dan meninggal di Jakarta tanggal 10 Pebruari 1981. Ia memberi julukan “Paus Sastra Indonesia” untuk H.B.Jassin. julukan ini masih digunakan masyarakat sampai sekarang. Ia berpendidikan AMS-A Yogyakarta (1941), kemudian memperdalam pengetahuan mengenai film dan kebudayaan barat di Belanda (1952-1953). Pernah menjadi Kepala Bagian Skenario Perfini (1950-1956), dosen Universitas Gamaliel, Jakarta (1956-1957), dan dosen Akademi Sinematografi institut Kesenian jakarta. Pernah pula menjadi Ketua Harian BMKN, Sekjen LKN (1959), Ketua Umum Pengurus Pusat PKPI (1964), anggota DPR-GR/MPRS mewakili seniman, Wakil Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1970), dan anggota Badan Sensor Film. Pernah pula menjadi redaktur Warta Indonesia, Patriot, Aneka, Warta Dunia, Sari Pers, Lembaga Minggu, Suluh Indonesia, di samping membantu Fart Eastern Film News (Tokyo).
Cerpennya “Perpisahan”, mendapathadiah majalah Kisah tahun 1953; bersama cerpen-cerpennya yang lain, cerpen-cerpen ini kemudian dihimpun dalam buku Perpisahan (1971). Karyanya yang lain dalam bentuk drama adalah Di Taman Air Mata (1958) dan Lukisan dan Wanita Buta (1967). Karya terjemahannya: Ratapan Tanah Air (Novel karya Alan Paton, 1954), Kembali ke Bataan (novel karya Carlos Romulo, 1954), Sehari dalam Kehidupan Iwan Denissowitsch (novel karya Alexander Solzhenitsyn, 1976), dan Gerhana (novel karya Arthur Koestler, 1982).
Gayus Siagian juga banyak menulis skenario film , di antaranya: Enam jam di Yogya, Krisis, Embun, Terimalah Laguku, dan Een Indonesische Student in Holland.
25. HAMSAD RANGKUTI
Sastrawan ini lahir di Titikuning, Medan tanggal 7 Mei 1943. Ia adalah mantan pemimpin redaksi Horison. Berpendidikan Sd Kisaran (1956), SMP Tanjung Balai (1959), SMA Medan (1964). Pernah menjadi redaktur harian Patriot, Medan (1963-1965), Redaktur Sinar Masyarakat, Medan (1965), kemudian bekerja di Persatuan Produser Film Indonesia (1966-1968), dan sejak 1969 di majalah Horison, ia pernah menjadi pimpinan redaksi sampai tahun 2002.
Cerita pendeknya dimuat di berbagai surat kabar dan majalah di dalam dan di luar negeri. Bahkan beberapa cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Selain itu cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi cerpen: Derabat (cerpen pilihan Kompas 1999), Antologi Cerpen Indonesia jilid 2 (ed. Satyagraha Hoerip). Kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Sampah Bulan Desember (2000), Bibir dalam Pispot (2003). Novelnya yang telah terbit adalah: Ketika Lampu Berwarna Merah. Novel ini mendapat Hadiah Harapan Sayembara Penulisan Roman DKJ 1981. Sebelum terbit dalam bentuk buku, novel ini terbit secara bersambung di Kompas (1981). Selanjutnya novel ini terbit dalam bentuk buku tahun 2001. Hamsad Rangkuti pernah memperoleh penghargaan dari Harian Kompas dan Pusat Bahasa. Kumpulan cerpen Bibir dalam Pispot memperoleh penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2003.
26. HARTA PINEM
Penulis ini dilahirkan di Juhar, Tanah Karo, Sumatera Utara, tanggal 25 Juni 1958. Pendidikan terakhirnya adalah IKIP Medan (1987). Ia aktif dalam Forum Kreasi Sastra Medan. Sajak-sajaknya dimuat dalam kumpulan sajak bersama Serayu (1995) dan Mimbar Penyair Abad 21 (1996).
27. HAZIL TANZIL
Penulis ini dilahirkan di Medan, tanggal 26 Nopember 1918. Berpendidikan HBS Jakarta, Fakultas Hukum UI, dan Rechthogeschool di Jakarta (1939-1942), dan Juridische Fakulteit Universitet van Amesterdam (1950-1953; dengan titel Drs.). Hazil pernah mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran (1959-1962) dan Fakultas Sastra UI (1969-1973). Pernah menjadi pembantu Instituut Voor Taalen Cultuur Penerbit Djambatan di Amesterdam, redaktur majalah Konfrontasi (1954-1962), Direktur Penerbit Pembangunan (1960-1968), Ketua IKAPI (1959-1963; kemudian Wakil Ketua II, 1968-1973), Direktur Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (1973-1982), dan Sekretaris Himpunan Penerjemah Indonesia (1974-). HT banyak menerjemahkan karya sastra asing, di antaranya: Kisah Jerman Sepanjang Masa I & II (1973), Kisah Belanda Sepanjang Zaman (1979), Humor Sekolom Senyum Dikulum (karya Simon Carmiggelt, 1980), Saat Untuk Bicara: Anekdot-Anekdot Syaikh Sa’di Shirazy (1985), dan Pedoman Pengendalian Mutu (karya Kauru Ishikawa, 1986)
28. HELVY TIANA ROSA
Penulis ini dilahirkan di Medan tanggal 2 April 1970. Menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra UI, Depok (1995). Tahun 1990 ia mempelopori berdirinya Teater Bening – sebuah teater perempuan – di FSUI. Kini menjadi pemimpin redaksi majalah Annida. Bukunya yang telah terbit antara lain Ketika Mas Gagah Pergi (1997), Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah (1999), Hingga Batu Bicara (1999), Manusia-Manusia Langit (2000), Akira (2000), Lelaki Kabut, Boneka, dan lain-lain. Namun bukunya yang pertama Mc Aliester justru diterbitkan Moslem Press, London (1966). Ia pernah mendapat berbagai penghargaan di bidang penulisan, terakhir Jaring-Jaring Merah terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horison selama sepuluh tahun terakhir (1990-2000). Ia juga salah satu pendiri Forum Lingkar Pena (FLP), yaitu suatu wadah untuk menyalurkan dan menggerakkan semangat menulis bagi remaja.
29. HERMAN KS
Penulis ini dilahirkan di Medan , tanggal 9 Oktober 1937. Ia pernah menjadi redaktur harian Patriot (1962-1964) dan Waspada (1976-1981); keduanya di Medan. Sajak-sajaknya dimuat dalam Konfrontasi, Mimbar Indonesia, Sastra, Horison, dan Puisi ASEAN (buku III, 1978). Kumpulan esainya : Potret Penyair: Pengembangan Batin Penyair Indonesia Mutakhir (1985).
30. H.R. BANDARO
Penulis ini dilahirkan di Medan, tanggal 1 Mei 1917. H.R. Bandaro pernah menjadi redaktur Harian Rakyat dan Harian Pendorong serta pernah aktif dalam Lekra. Kumpulan sajaknya, Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih (1958), mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958. Karyanya yang lain: Sarinah dan Aku (1941), dan Dari Bumi Merah (Kumpulan Sajak , 1963). Terjemahannya : Hilangnya Kehormatan Katharina Blum (novel Hendrich Boll, 1983).
31. IDA NASUTION (1924-1948)
Penulis ini dilahirkan tahun 1924, meninggal tahun 1948 (dalam perjalanan Jakarta-Bogor). Berpendidikan SMA dan Fakultas Sastra UI (tidak tamat). Pernah menjadi redaktur “Gelanggang” /Siasat dan Het Inzicht. Ia menerjemahkan “Pemenang” (Les Conquerants) karya Andre Gide dalam majalah Pembangunan.
32. IDRIS SIREGAR
Penulis ini dilahirkan di Medan tanggal 2 Juni 1968. Menyelesaikan pendidikan di Universitas Sumatera Utara, Medan, (1991). Kini menjadi Pegawai Dinas Pendapatan Dati II Deli Serdang, Tanjung Morawa. Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi Puisi-Puisi Koran Sabtu Pagi (1993), Cerita dari Hutan Bakau (1994), Rentang (1995), Kebangkitan Nusantara II (1995), Bumi (1996), dan Antologi Puisi Indonesia 1997 (1997).
33. ISMAIL MARAHIMIN
Penulis ini dilahirkan di Medan, tanggal 25 April 1934. Berpendidikan SD di Medan, Pekanbaru, dan Binjai) SMP, SGA, PGSLP di Medan, tamat Jurusan Bahasa Inggris IKIP Medan (1964), kemudian memperdalam pengetahuan di Universitas Hawaii, Honolulu, AS (1969-1971). Pernah menjadi guru SMP di Medan, dosen IKIP Medan, dan hingga sekarang mengajar di Fakultas Sastra UI. Novelnya Dan Perang pun Usai (1979; semula berjudul Tiga Lagu Dolanan), meraih Hadiah II Sayembara Mengarang Roman DKJ 1977; tahun 1984 novel ini mendapat Hadiah Sastra Pegasus Literary Prize dari perusahaan Amerika Mobil Oil Indonesia, dan tahun 1987 novel ini terbit dalam bahasa Inggris dengan judul And the War is Over (terjemahan John H. McGlynn). Selain itu ia juga menjadi editor kumpulan cerpen Jejak Langkah Anak Kampus (1989).
34. IWAN SIMATUPANG (1928-1970)
Nama aslinya adalah Iwan Maratua Dongan Simatupang. Novelis dan sastrawan Indonesia terkenal ini dianggap sebagai tokoh Angkatan 70-an di bidang prosa. Karya-karya prosa dan dramanya dianggap membawa corak filsafat Barat, khususnya eksistensialisme. Sampai sekarang, karya-karyanya itu masih menjadi bahan kajian yang menarik untuk dikaji oleh masyarakat peminat sastra.
Beberapa kritikus menyebut karya-karya Iwan Simatupang sebagai karya avant garde. Namun, Iwan menyebut dirinya manusia marginal, manusia perbatasan. Tokoh-tokoh ceritanya memang cenderung menampilkan manusia yang terpisah, kesepian, terasing dan murung. Tokoh-tokoh dalam karyanya, menurutnya adalah manusia perbatasan atau manusia eksistensialis.
Iwan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatera Utara, tanggal 18 Januari 1928, meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Berpendidikan HBS Medan, Fakultas Kedokteran di Surabaya (1953, tidak tamat). Iwan kemudian memperdalam antropologi di Fakulteit der Letteren Rijkouniversteit, Leiden, atas beasiswa dari Sticusa (Stichting vor Culture Samenwerking). Selain itu ia belajar di Full Course International Institute for Social Studies di Den Haag dan Ecole de l’Europe tahun 1957. Ia juga mempelajari drama di Amesterdam, dan filsafat di Universitas Sorbonne, Paris antara tahun 1954-1958.
Iwan Simatupang pernah menjadi tentara, guru, dan wartawan. Ia menjadi Komandan Pasukan TRIP di Sumatera Utara (1949), guru SMA Jalan Wijayakusumah di Surabaya (1950-1953), redaktur Siasat (1954-), dan terakhir menjadi redaktur Wartawan Harian (1966-1970).
Iwan mwnulis novel, drama dan esai. Beberapa karya novelnya antara lain Merahnya Merah (1968, mendapat Hadiah Nasional tahun 1970), Ziarah (1969, mendapat Hadiah Harapan Sayembara UNESCO yang diselenggarakan IKAPI. Pada tahun 1977, meraih Hadiah Sastra ASEAN sebagai novel terbaik Indonesia dalam Periode 10 tahun masa itu. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dengan judul The Pilgrim, tahun 1975 ), Kering (1972, diterjemahkan oleh Hary Aveling ke dalam bahasa Inggris dengan judul Drought, 1978), dan Koong (1975, mendapat Hadiah dari Yayasan Buku Utama Departemen P & K
pada tahun 1975). Karya dramanya antara lain Buah Delima dan Bulan Bujur Sangkar (1957), RT 00/RW 00 (1957), Petang di Taman (drama, 1966), dan Kaktus dan Kemerdekaan (1969). Cerpen-cerpennya tersebar diberbagai media massa. Dami N. Toda menerbitkan lima belas cerpen-cerpennya itu dengan judul Tegak Lurus dengan Langit (1982). Iwan juga menulis puisi yang antara lain dimuat di Siasat, Konfrontasi, Zanith, Kompas, dan Sinar Harapan.
Esainya Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air memperoleh Hadiah Kedua Majalah Sastra tahun 1963. Surat-Surat Politik Iwan Simatupang 1964-1966 (1986, diedit oleh Frans M. Parera), Ziarah Malam (kumpulan sajak, 1994). Selain itu tiga buah esainya dimuat dalam Satyagraha Hoerip (ed.), Sejumlah Masalah Sastra (1982).
35. J.E. SIAHAAN
Penulis ini dilahirkan di Balige, Sumatera Utara, tanggal 20 Maret 1934. Berpendidikan SMP APPI, Jakarta (1952), SGA Semarang (1955), Jurusan Biologi IKIP Universitas Airlangga, Malang (tidak tamat) dan menyelesaikan pendidikan di Akademi Film Nasional Universitas Jaya Baya, Jakarta (1964). Ia pernah menjadi guru SD di Karanganyar, Gombong, 1956),dan SMP di Jambi dan Malang, 1959-1961), kemudian bekerja di DKJ/TIM (1973-1975), Bagian Sinematek Indonesia, Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta (1976-1980), dan penerbit Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta (1981-1988).
Cerpennya Jika Hujan Turun mendapat Hadiah Kedua Majalah Kisah (1956); cerpen ini kemudian dimuat dalam H.B.Jassin (ed.), Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968). Sajak-sajak dan cerpen-cerpennya banyak dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia, kisah, Sastra, dan lain-lain. JES juga banyak menulis tentang film. Selain itu juga menjadi editor buku Usmar Ismail, Usmar Ismail Mengupas Film (1983).
36. J.U. NASUTION (1930-1983)
Penulis ini lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, tanggal 17 Maret 1930 dan meninggal di Jakarta 21 September 1983. Berpendidikan SMA-A Medan, kemudian menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UI (1961) dan mengajar di almamaternya. Tahun 1971-1975 mengajar di Universitas Kebangsaan , Kuala Lumpur. Kembalai dari Malaysia, ia mengajar di Fakultas Sastra UI. Karyanya berupa hasil studi/kajian adalah Sitor Situmorang sebagai Penyair dan Pengarang Cerita Pendek (1963), Pujangga Sanusi Pane (1963), dan Asmara Hadi Penyair Api Nasionalisme (1965).
37. LAZUARDI ADI SAGE
Penulis ini lahir di Medan, tanggal 28 Nopember 1957. Pendidikan terakhirnya adalah Sekolah Tinggi Publisistik, Jakarta (hingga Sarjana Muda, 1981). Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi Byaar (1977), Antologi Puisi Sembilan (1979), dan Linus Suryadi AG (ed.) Tonggak 4 (bunga rampai, 1987). Kumpulan sajaknya Bola Yang Dilambungkan (1980), Tembang Kota Tanah Tercinta (bersama Adek Alwi, 1980), dan Catatan Kesaksian (1986).
38. M. BIYA SOFYAN
Penulis ini dikenal juga dengan nama Sofyan Ambia, ia lahir di Pasar Senen, Kampung Baru, Medan, tanggal 15 April 1936. Berpendidikan Tsanawiyah (1956), kini menjadi Pegawai Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Utara. Cerpen-cerpennya dimuat dalam Mimbar Umum, Tanah Air, Cerpen, Sastra, dan lain-lain.
39. M. HUSSYEN UMAR
Penulis ini lahir di Medan, tanggal 21 Januari 1931. Berpendidikan MULO-B Pangkal Pinang (1949), SMA-B Jakarta (1952), dan tamat Fakultas Hukum UI (1957). Ia ikut mendirikan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (1955), pernah duduk dalam Dewan Mahasiswa UI, dan pencipta lagu mars mahasiswa UI. Pernah bekerja di Kementerian Pelayaran, Atase Perhubungan RI di Belanda (1969-1974), Direktur Utama PT PANN, Direktur PT PELNI (1979-1982), dan penasihat UNCTAD di Jenewa, Swiss (1986-1988). Karyanya Selendang Merah (Kumpulan Cerpen, 2000), Lereng, Perjalanan dan Refleksi (Kumpulan Sajak, 2001), dan Semangat Bushido (Novel).
40. M.A. DJUHANA
Penulis ini dikenal dengan nama Aki Djuhana, dilahirkan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, tahun 1925. Ia pernah menjadi pemimpin majalah Pembaharuan (1946), Pegawai Departemen Penerangan RI (-1974), Sekretaris Sutan Sjahrir, editor majalah Opbouw (1948), dan terakhir bekerja di UNESCO, Paris. Tahun 1949 berangkat ke Belanda, kemudian studi di Universitas Sarbonne, Paris. Sajak-sajaknya dimuat dalam Vrij Nederland dan Criterium.
41. M.R. JAMBAK
M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Kegiatan terakhir mengikuti Temu Sastrawan III di Tanjung Pinang. Cukup banyak kegiatan yang digeluti sejak SD yang berkaitan dengan seni, sastra dan budaya. Lokal, nasional, maupun Asia Tenggara. Secara nasional dimulai pada event PEKSIMINAS di Jakarta (Teater, 1995), LMCP_LMKS di Bogor (sampai 2008), MMAS Guru-guru se-Indonesia di Bogor (200&), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta 2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. Ikut membidani Cublis di Lampung (2009). Membacakan Puisi di Gedung Idrus Tintin Riau (2010),dll. Karyanya dimuat di berbagai surat kabar/maja lah Indonesia-malaysia. Saat ini bertugas sebagai guru sastra dan dosen filsafat Panca Budi Medan. Asyik membidani Komunitas Home Poetry. Alamat kontak-Taman Budaya Sumatera Utara, Jl.Perintis Kemerdekaan No.33Medan.HP.085830805157.E-Mail: mraudahjambak@yahoo.com. Selain itu beberapa buku yang memuat karyanya juga sudahterbit,misalanya:MUARATIGA (antologi cerpen-puisi/Indonesia-Malay sia), KECAMUK (antologi pusi bersama SyahrilOK), TENGOK (antologi pui si penyair Medan), Antologi Puisi MEDITASI (Sastra religius, 1999), Antologi Puisi Seratus Untai Biji Tasbih (Sastra religius, 2000), Antologi esay PARADE TEATER SEKOLAH (Aster, 2003), Antolgi Esay 25 Tahun Omong-Omong Sastra (2004), Antologi Puisi 50 Botol Infus (Teater LKK UNIMED:2002) , Antologi Puisi Amuk Gelombang (Star Indonesia Production :2005), Antologi Puisi Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Balai Bahasa Medan:2005), Antologi Puisi Jogja 5,9 Skala Richter (Ben tang:2006), Antologi Puisi Medan Puisi (2007), Antologi Puisi TSI 1 Tanah Pilih (Disbudpar Jambi:2008), Antologi Pusi Penyair Muda Malaysia-Indonesia (PENA Malaysia:2009), Antologi Puisi, Cerpen, dan Naskah Drama Medan Sastra (TSS-TSSU:2007), Antologi Puisi Medan Internatio nal Poetry Gathering (2008), Antologi Puisi dan Cerpen Merantau ke Atap Langit (Teater LKK UNIMED:2008), Antologi Cerpen 30 Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Fes tival Kreativitas Pemuda 2007: LOKTONG (CWI:2007), Antologi Cer pen Tembang Bukit Kapur (ESCAEVA Jakarta:2007), Antologi Puisi FLP Indone sia (2008), Penyair Urban Antologi Puisi Laboratarium Sastra (2008), Antologi Cerpen RANESI – RADIO NEDERLAND SIARAN IN DONESIA (GRASINDO: 2009), Antologi Cerpen Denting (DKM:2006), Antologi Cerpen Jalan Menikung ke Bukit Timah (Disbudpar Pangkalpinang:2009), Antologi Cerpen Dari Pemburu Sam pai Ke Teraupetik Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Pusat Bahasa: 2003), Novel Putri Run duk (Pusat Bahasa Jakarta, 2008), Antologi Cerpen LMCP Guru (2007-2008-2010), Antologi Cerpen TSI 2 Jalan Menikung ke Bukit Timah (Disbudpar Pangkal Pinang-BABEL,2009), Antologi Cerpen TSI 3 UJUNG LAUT PULAU MARWAH (Disbud par Tanjung Pinang : 2010), dll. Alamat Rumah : Jl. Murai Batu Kompleks Rajawali Indah E. 10 – sei Sikambing B – Sunggal – Medan – SUMUT – Indonesia 20122.
42. M.S. HUTAGALUNG
Penulis ini lahir di Tarutung, Sumatera Utara, tanggal 8 Desember 1937. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia fakultas Sastra UI (1964) dan memperdalam pengetahuan di Universitas Leiden Belanda (1971-1973). M.S.Hutagalung pernah mengajar di Institut Kesenian Jakarta (1970-1971), School of Humanites, University Sains, Penang, Malaysia (1977-1983), kini mengajar di Fakultas Sastra UI dan Fakultas Sastra Universitas Nasional Jakarta. Karyanya Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (studi, 1963), Tanggapan Dunia Asrul Sani (study, 1967), Hari Penentuan (novel, 1967), Memahami dan Menikmati Puisi (studi, 1971), Telaah Puisi (kumpulan essai, 1973), Kritik Atas Kritik Atas Kritik (kumpulan esai, 1975), Membina Sastra Indonesia Modern (kumpulan esai, 1987), dan Telaah Puisi Penyair Angkatan Baru (1990).
M.S. Hutagalung dianggap sebagai tokoh utama “Aliran Rawamangun” bersama M.Saleh Saat, S.Effendi, dan Lukman Ali. Disebut sebagai aliran Rawamangun karena mereka memusatkan kegiatannya di Rawamangun sejak awal tahun 1970-an. Pada waktu itu, kampus Fakultas Sastra UI masih bertempat di kampus UI Rawamangun. Menurut mereka, pusat perhatian peneliti sastra hendaknya karya sastra itu sendiri. Maslah latar, sosio-budaya, dan lain-lain jangan sampai menggeser karya tersebut. Sebenarnya aliran ini tanpa disadari mereka ternyata memiliki prinsip yang bersamaan dengan aliran struktural dalam bidang linguistik, folklore, dan lain-lain. Beberapa pikiran tokoh aliran Rawamangun dapat dibaca antara lain pada buku Kritik Atas Kritik Atas Kritik (1975) M.S. Hutagalung.
43. MANSUR SAMIN
Penulis ini lahir di Batangtoru, Sumatera Utara, tanggal 29 April 1930. Pendidikan terakhir SMA Solo. Pernah menjadi guru, redaktur Siaran Sastra RRI Solo, redaktur mingguan Adil (Solo), wartawan Harian Merdeka (Jakarta), dan redaktur majalah Cerpen. Sajaknya Raja Simangaraja mendapat Hadiah Kedua majalah Sastra tahun 1963. Karyanya yang lain Perlawanan (Kumpulan Sajak, 1966), Kebinasaan Negeri Senja (drama, 1968), Tanah Air (Kumpulan Sajak, 1969), Dendang Kabut Senja (Kumpulan Sajak, 1969), Sajak-Sajak Putih (1996), dan Santanglelo: Sajak-Sajak Cerita Rakyat (1996). Ia juga banyak menulis cerita anak-anak.
44. MARTIN ALEIDA
Penulis ini dilahirkan di Tanjung Balai, Sumatera Utara, tanggal 31 Desember 1943. Berpendidikan SD (1956), SMP (1959), SMA (1962), dan Fakultas Sastra USU (tidak tamat). Ia pernah menjadi reporter majalah Ekspres (1970), wartawan majalah Tempo (1971-1983), dan wartawan mingguan Olahraga Bola di Jakarta (1984).
Cerpen-cerpennya dimuat dalam harian Indonesia Baru, Harian Harapan, Harian Rakyat, Zaman Baru, Penca dan Horison. Salah satu cerpenny a dimuat dalam Waktu Nayla: Kumpulan Cerpen Kompas 2003 (2003). Kumpulan cerpennya Malam Kelabu, Ilyana dan Aku (1980) dan Perempuan Depan Kaca (2000). Novelnya Layang-Layang Itu Tak Lagi Mengepak Tinggi-Tinggi (1999).
45. MASKIRBI
Penulis ini dikenal juga dengan nama Mazhar, dilahirkan di Tarutung, Tapanuli utara, Sumatera Utara, tanggal 9 Oktober 1952. Kini mengajar di fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, banda Aceh, di samping menjadi Sekretaris Umum Dewan Kesenian Aceh.
Sajak-sajak dimuat dalam antologi Riak (1972), Kami Koma Kamu (1977), Kande (1982), Ranub (1982), Antologi Penyair Aceh (1986), Puisi Indonesia (1987), Sosok I (1993), Sosok II (1994), dan L.K. Ara dkk. (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995). Kumpulan sajaknya Matahariku Matanya (1990).
46. MATU MONA (1910-1987)
Nama aslinya adalah Hasbullah Parinduri. Penulis ini lahir di Medan, tanggal 21 Juni 1910, meninggal di Jakarta, tanggal 8 Juli 1987. Berpendidikan St. Anthony’s Boys School Medan dan 1930 menjadi guru bantu sekolah tersebut. Ia pernah menjadi wartawan Pewarta Deli (1931-1938), pemimpian mingguan Penyebar (1941), pembantu Panji Pustaka (1943), pendiri koran Perjuangan Rakyat di Garut (1946), pemimpin harian Tegas di Banda Aceh (1950-1953), pemimpin mingguan Penyebar di Medan (1954-1959), dan Wakil Pemimpin Redaksi majalah Selcta di Jakarta (1960-1987). Ia pun pernah menjadi pemimpin sandiwara amatir Ratu Timur (1932-1938), kemudian aktif dalam rombongan sandiwara Cahaya Timur dan Dewi Mada (1943-1944). Di samping itu ia pernah masuk badan Penerangan Divisi XII Surakarta (1946) dan bergerilya di Jawa Timur (1948). Tahun 1941-1944 ia dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung.
Karyanya Harta Terpendam (1931), M. Yussyah Journalist (1932), Panggilan Tanah Air (1934), Rol Pacar Merah Indonesia (1934), Spionnage Dients (1935), Zaman Gemilang (1936), Dja Umenek Jadi-Jadian (1937), M.Husni Thamrin (b, 1940), Akibat Perang (1950), dan Putera Dja Umenek (1961).
47. MERARI SIREGAR (1896-1940)
Penulis ini lahir di Sipirok, Sumatera Utara, tanggal 13 Juni 1896, meninggal di Kalianger, Madura, tanggal 23 April 1940. Pendidikan terakhirnya adalah Handelscorrespondent Bond A di Jakarta (1923). Pernah bekerja di Medan (sebagai guru), RSU Jakarta, dan Opium & Zourregie Kalianget. Tahun terbit novelnya yang pertama Azab dan Sengsara, yakni tahun 1920, lazim dianggap sebagai tahun mulainya/lahirnya kesusastraan Indonesia Modern. Karyanya yang lain Cerita si Jamin dan si Johan (1918) saduran dari karya Justus van Maurik (Uit het Volk).
48. MH. AGAM FAWIRSA
Penulis ini lahir di Pangkalan Brandan , Sumatera Utara, tanggal 12 Juli 1962. Sajaknya dimuat dalam antologi L.K. Ara dkk.(ed.), Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
49. MOZASA (1914-1988)
Nama asli penulis ini adala Mohammad Zain Saidi, dilahirkan di Bogak, Asahan, Sumatera Utara, tanggal 10 Oktober 1914 dan meninggal di Medan tanggal 7 Pebruari 1988. Berpendidikan Sekolah Melayu Tanjung Balai (1928), Normaal School Pematangsiantar, dan Opleiding voor Landboutwonderwijzer, Pacasan (Bogor). Ia pernah menjadi guru sekolah rakyat di Kisaran (1934-1935), guru pertanian di Vervolgschool Arnhemia (1935-), dan Ketua dewan Kesenian Medan. Sajak-sajaknya dimuat dalam harian Sinar Deli (Medan) dan Majalah Pujangga Baru. Sejumlah sajaknya dimuat dalam S. Takdir Alisjahbana (ed.), Puisi Baru (Bunga rampai, 1946), dalam H.B.Jassin (ed.), Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (bunga rampai, 1963), dan dalam Linus Suryadi AG (ed.), Tonggak I (bunga rampai, 1987).
50. MUHAMMAD KASIM
Penulis ini dikenal juga dengan nama M. Kasim, lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, tahun 1886. Berpendidikan sekolah guru dan sampai tahun 1935 menjadi guru SD. Bukunya Si Jamin mendapat Hadiah Sayembara Buku Anak-Anak Balai Pustaka tahun 1924; buku ini kemudian terbit tahun 1928 dengan judul Pemandangan dalam Dunia Kanak-Kanak. Kumpulan cerpennya, Teman Duduk (1936) adalah kumpulan cerpen yang pertama dalam sastra Indonesia. Karyanya yang lain Muda Teruna (novel, 1922), Bertengkar Berbisik (kumpulan cerita), Buah di Kedai Kopi (kumpulan cerpen), dan Dja Binuang Pergi Berburu. Terjemahannya Niki Bahtera (karya C.J Kieviet, 1920), dan Pangeran Hindi (karya Lewis Wallace, 1931). M. Kasim dianggap sebagai salah seorang pemula cerpen di Indonesia
51. N.A. HADIAN
Penulis ini lahir di Medan, tanggal 21 September 1932. Setamat SMA melanjutkan ke Fakultas Hukum dan filsafat Panca Budi Medan. Ia pernah menjadi wakil penanggung jawab majalah Masa di Medan . Sajak-sajaknya dimuat dalam antologi Terminal (1971), Kuala (1975), dan Temu Sastrawan Sumatera Utara (1977). Kumpulan sajaknya Hutan Kelam (1978), Badai (1981), dan Dialog Pisau (1982).
Langganan:
Postingan (Atom)




