Selasa, 28 Januari 2025

Raudah Jambak is a Notable Indonesian Poet and Writer

Sajak Raudah Jambak (Medan, Sumatera Utara) Ruhut Marsuan* Kitalah pemilik, Pada tanah kita melebur Pada tanah kita mengalur Pada tanah kita menjalur Mambatangi Aek lahan yang akan dipersunting padi berdua kita jejak sepetak sawah, penuh gairah Mangaliplip tanpa kedip, mengintip rakus tikus Kitalah pemilik, Pada tanah kita membaur Pada tanah kita cebur Pada tanah kita akur Parsuan. lahan merangkul berkawan-kawan Mengundur tubuh bukan luruh, tapi derai renyah Memikul, mencangkul suka cita Pangula. Kitalah pemilik, Pada tanah, pada air, pada musim Tercatat buhu tano, boltok, basbas, munduk, sampai bontar punsu hempang buni bunian menepis segala penyesalan hempang Margondang.menjeput segala nikmat godang hempang parditoru berangus rakus para pemburu sampai haru sampai biru Komunitas Home Poetry, Toba, 0724 *Tata Cara Menanam Padi Khas Toba Sajak Raudah Jambak (Medan, Sumatera Utara) Marrobu-robu* Pada altar kita hantar paranggiran Doa-doa digelar, purut diurut, menggenang dikunyit Tujuh hari kita hadang manambari Pada altar kita kibas air yang berhadir Ritual dihantar, senandung silanjung, kembang sepatu Tujuh hari kita hadang begu-begu Pada altar kita enyah segala resah gundah Harapan digebyar, gersangkan daun pisang pun keladi Tujuh hari kita tegakkan dipundak Maka, Halau risau pada enau di horbangan Dekap harap pada parari yang berdiri Di tujuh hari Menahan diri Komunitas Home Poetry, Toba, 0724 *Ritual Menanam Padi di Simalungun Raudah Jambak is a notable Indonesian poet and writer. He was born on January 5, 1972, in Medan, Indonesia1. Raudah has been actively involved in various literary and cultural activities both locally and internationally. He has participated in numerous events such as the PEKSIMINAS in Jakarta, MMAS Guru-guru se-Indonesia in Bogor, and the Festival Teater Alternatif in Jakarta1. Raudah has also published several works, including poetry anthologies like "Muaratiga" and "Tengok," as well as essays in various anthologies. He currently works as a literature teacher and philosophy lecturer at Panca Budi Medan and is involved in the Home Poetry community1. Would you like to know more about his works or any specific event he has participated in? Well, you may be at Raudah Jambak’s activity in literature, the arts, philosophy. Raudah Jambak is a prominent Indonesian poet and writer, born on January 5, 1972, in Medan, Indonesia. He has been actively involved in various literary and cultural activities both locally and internationally1. Here's a more detailed look at his life and works: Early Life and Education Raudah Jambak was born and raised in Medan, Indonesia. From a young age, He showed a keen interest in literature and the arts1. He pursued his education in literature and philosophy, which laid the foundation for her future career as a writer and teacher. Literary Career Raudah has been an active participant in numerous literary events and festivals. Some of the notable events He has participated in include: • PEKSIMINAS in Jakarta (1995): A national event for theater and literature. • MMAS Guru-guru se-Indonesia in Bogor (2000): A national gathering for teachers. • Festival Teater Alternatif in Jakarta (2003): An alternative theater festival. • Monolog Indonesia Undercover (2005): A national monologue competition. • Cublis in Lampung (2009): A literary event in Lampung. • Etc... (Look at Rekam Jejak Raudah Jambak) Publications Raudah has published several works, including poetry anthologies and essays. Some of his notable publications are: • "Muaratiga": An anthology of short stories and poetry. • "Tengok": A poetry anthology featuring works by poets from Medan. • "Antologi Puisi MEDITASI": A religious poetry anthology (1999). • Etc (Look at Taman Sastra Raudah Jambak or Omong-Omong Sastra Sumut). • "Antologi Puisi Seratus Untai Biji Tasbih": Another religious poetry anthology (2000). • "Antologi Puisi Amuk Gelombang": A poetry anthology related to the tsunami (2005). Current Work Raudah currently works as a literature teacher and philosophy lecturer at Panca Budi Medan. He is also involved in the Home Poetry community, where he continues to contribute to the literary scene1. Personal Life Raudah is passionate about literature and continues to inspire others through his work and involvement in various literary activities. He is known for his dedication to promoting Indonesian literature and culture. Would you like to know more about any specific aspect of his life or works? You may be at Raudah Jambak’s activity in literature, the arts, philosophy since He was born and now. One for all, All for one.

Jumat, 22 November 2024

TEATRIKAL PUISI MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA KARYA RAUDAH JAMBAK TAMPIL DI AMMAN, YORDANIA

Keseruan Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-79 di Amman Yordania
Kegubernuran Amman Divisi Seni, Budaya dan Olahraga kembali menyelenggarakan berbagai perlombaan dan pagelaran seni. Persiapan acara dilakukan dengan matang oleh tim panitia, mulai dari susunan acara, perlombaan, hingga dekorasi lapangan. Hal ini bertujuan untuk memeriahkan HUT RI ke 79 pada Sabtu, 17 Agustus 2024 yang dihadiri para mahasiswa Indonesia di Amman. Seluruh kegiatan diadakan di lapangan 17 dari pukul 8.30-14.00 waktu setempat. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk nasionalisme terhadap bangsa. Setelah proses pembukaan acara selesai, seluruh mahasiswa langsung bersiap untuk mengikuti serangkaian perlombaan. Di antara lombanya adalah futsal, voli, estafet sarung, joget tomat, dan sebagainya. Kemeriahan acara serta antusiasme mahasiswa terlihat dari hiruk pikuk mereka dalam mengikuti perlombaan. Melengkapi perayaan 17-an ini di tengah proses perlombaan, mahasiswa dapat membeli berbagai makanan yang dijual oleh peserta bazar. Pengumuman kejuaraan pun langsung diumumkan selepas perlombaan. Untuk kategori kejuaraan dibagi menjadi kategori putra dan juga putri. Hal menarik dari perayaan HUT RI tahun ini ialah penutupan acara yang diisi dengan penampilan teatrikal puisi dengan judul “Masih Merdekakah Kau Indonesia?” karya Raudah Jambak, yang diperankan oleh 8 orang mahasiswa dari grup teater karsa HPMI Yordania. Penggambaran Ibu pertiwi diperankan Alivya, pejabat oleh Agha, Investor oleh Zufar, dan pemeran rakyat oleh Arzu, Lalu Noural, Fida, Alidzky, dan Eka. “Judul teatrikal puisi yang diambil merupakan gambaran mengenai kondisi Indonesia saat ini” ucap Agha, sebagai salah satu pemeran.
Ia juga menambahkan bahwa menampilkan teater ini tidak hanya dalam rangka melestarikan sejarah, tetapi juga bertujuan untuk menginspirasi anak generasi muda agar terus menghargai dan menjaga semangat kemerdekaan. Di akhir penampilan, tepuk tangan para penonton menggelegar diikuti dengan sorakan yang menggema. Penampilan ini mengingatkan kita akan sebuah pesan penting bahwa makna memerdekakan sebuah bangsa bukanlah sekedar membebaskannya dari tangan penjajah, melainkan bagaimana menyejahterakan rakyat dalam keadilan.
Kontributor: Mayada Ainuzzahroh Editor: Khaerul Umam

Sabtu, 09 November 2024

RAUDAH JAMBAK CULTURE AND ART ACTIVITY

MESIN WAKTU RAUDAH JAMBAK

Puisi Lelaki Tua Di Simpang Raya

Lelaki Tua Di Simpang Raya Karya : Raudah Jambak Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang sepi Tubuhnya mematung membeku detik-detik pagi Menyimpan dingin embun-embun tiang besi Sementara lampu merah, kuning, hijau Terus berganti Orang-orang masih bergelut mimpi Di kamar-kamar yang menyelipkan lemari besi Pada sudut-sudut tersembunyi diawasi CCTV Memerdekakan diri, memanjakan hati Lelaki tua itu pernah membingkai cita-cita Membangun tangga sejahtera untuk keluarga Berbahagia di dunia, sejati di surga Mencatat euphoria masa ke masa Receh itukah suara riangnya Menahan loncatan kosa kata-kata Berhamburan dari jendela mobil Yang tak jua terbuka Atau deru knalpot memekakkan Rasa merdeka entah di mana Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang hati Do’anya seakan habis kehilangan cahaya matahari Mengarahkan sepanjang perjalanan menuju Tuhan Di sinilah ia bertahan Menghirup debu jalanan Dan hujan kehilangan pesan 20-13

Puisi Lelaki Tua Di Tengah Danau

SAJAK M. RAUDAH JAMBAK Lelaki Tua Di Tengah Danau O, Batara Guru…. Telah kubuat tuah ni gondang Dengan tujuh kali putaran Dari gondang mula-mula Somba-somba maupun liat-liat Angin mengelus, air mengalir Pada danau segala desau Adakah rahasia pada segala Atau hati sembunyikan misteri Padamu, padaku, atau pada kita O, Batara Guru…. Telah kulakukan mangase homban Agar senang si Boru Saniang Naga Agar senang si Boru Deak Parujar Agar terjaga tanah negeri kami Riak-riak menciptakan irama Para bocah yang berebut mencapai dasar Ah, adakah rindu masih terpaut Atau dendam masih tersudut Padamu, padaku, atau pada kita O, Batara Guru…. Sampaikan kepada Ompu Mulajadi Nabolon Jagalah Bona Ni Pasa segala suka Jagalah Bona Pasogit segala cita Jagalah hati kami dari segala angkara Menarilah dengan penuh sukacita Bernyanyilah dengan segala keindahan nada Angin akan membawa kabar berita Air akan menyatukan segala cinta Padamu, padaku, atau pada kita 13-20

Puisi Setangkai Melati Untukmu, Guruku

Setangkai Melati Untukmu, Guruku Karya : Muhammad Raudah Jambak Setangkai melati untukmu guruku Kuambil dari perjalanan dekat Tapi sulit kudapat Semua begitu gelap Walau lentera tertancap huruf dan angka-angka Penunjuk arah Merobah sejarah Setangkai melati untukmu, guruku Sebagai buah tangan dari tugas Tanpa pamrih yang kau berikan Batu hitam kini kau rubah jadi buku Begitu kelam alat tulis masa lalu Namun semangatmu tak pernah beku Buah ilmu dari pohon semangat Yang kau tanam telah membuahkan Kesuksesan muridmu menghias zaman Membangun peninggalan Meninggalkan penjara kebodohan Dari perjuangan telah membebaskan muridmu Dari batu-batu, bisu dan kaku Tak ada kelebihan dari hidup Yang kau jalankan Kau tetap melangkah tegas ke medan tugas Dengan hati nyaman, tentram Demi mendidik muridmu Yang menganggapmu kolot dan ketinggalan zaman Tapi itu tak kau perdulikan Setangkai melati untukmu, guruku yang putih bersih seputih salju Dan seputih hatimu yang suci Dipersembahkan tunas-tunas generasi Yang bersemayam di bumi pertiwi Setangkai melati untukmu guruku Kami persembahkan, kami berikan Sebagai tanda terima kasih kami Terima kasih dari kami untukmu guruku komunitas home poetry, 1993