Omong-Omong Sastra Sumatera Utara adalah wadah tempat berdiskusinya para sastrawan Sumatera Utara Khususnya. Usiannya yang hampir mencapai 40 tahun menjadikannya sebagai wadah bersilaturahmi, berdiskusi dan berkarya para sastrawan dari berbagai usia, aliran, dan agama, menyebabkan Forum Omong-Omong Sastra ini sebagai Forum yang tertua di Sumatera Utara. Forum ini diprakarsai oleh Damiri Mahmud, dkk. Sekarang di koordinir oleh M. Raudah Jambak. Semoga tetap berjaya.
Selasa, 28 Januari 2025
Raudah Jambak is a Notable Indonesian Poet and Writer
Sajak Raudah Jambak (Medan, Sumatera Utara)
Ruhut Marsuan*
Kitalah pemilik,
Pada tanah kita melebur
Pada tanah kita mengalur
Pada tanah kita menjalur
Mambatangi Aek lahan yang akan dipersunting padi
berdua kita jejak sepetak sawah, penuh gairah
Mangaliplip tanpa kedip, mengintip rakus tikus
Kitalah pemilik,
Pada tanah kita membaur
Pada tanah kita cebur
Pada tanah kita akur
Parsuan. lahan merangkul berkawan-kawan
Mengundur tubuh bukan luruh, tapi derai renyah
Memikul, mencangkul suka cita Pangula.
Kitalah pemilik,
Pada tanah, pada air, pada musim
Tercatat buhu tano, boltok, basbas, munduk, sampai bontar punsu
hempang buni bunian menepis segala penyesalan
hempang Margondang.menjeput segala nikmat godang
hempang parditoru berangus rakus para pemburu
sampai haru
sampai biru
Komunitas Home Poetry, Toba, 0724
*Tata Cara Menanam Padi Khas Toba
Sajak Raudah Jambak (Medan, Sumatera Utara)
Marrobu-robu*
Pada altar kita hantar paranggiran
Doa-doa digelar, purut diurut, menggenang dikunyit
Tujuh hari kita hadang manambari
Pada altar kita kibas air yang berhadir
Ritual dihantar, senandung silanjung, kembang sepatu
Tujuh hari kita hadang begu-begu
Pada altar kita enyah segala resah gundah
Harapan digebyar, gersangkan daun pisang pun keladi
Tujuh hari kita tegakkan dipundak
Maka,
Halau risau pada enau di horbangan
Dekap harap pada parari yang berdiri
Di tujuh hari
Menahan diri
Komunitas Home Poetry, Toba, 0724
*Ritual Menanam Padi di Simalungun
Raudah Jambak is a notable Indonesian poet and writer. He was born on January 5, 1972, in Medan, Indonesia1. Raudah has been actively involved in various literary and cultural activities both locally and internationally. He has participated in numerous events such as the PEKSIMINAS in Jakarta, MMAS Guru-guru se-Indonesia in Bogor, and the Festival Teater Alternatif in Jakarta1.
Raudah has also published several works, including poetry anthologies like "Muaratiga" and "Tengok," as well as essays in various anthologies. He currently works as a literature teacher and philosophy lecturer at Panca Budi Medan and is involved in the Home Poetry community1.
Would you like to know more about his works or any specific event he has participated in? Well, you may be at Raudah Jambak’s activity in literature, the arts, philosophy.
Raudah Jambak is a prominent Indonesian poet and writer, born on January 5, 1972, in Medan, Indonesia. He has been actively involved in various literary and cultural activities both locally and internationally1. Here's a more detailed look at his life and works:
Early Life and Education
Raudah Jambak was born and raised in Medan, Indonesia. From a young age, He showed a keen interest in literature and the arts1. He pursued his education in literature and philosophy, which laid the foundation for her future career as a writer and teacher.
Literary Career
Raudah has been an active participant in numerous literary events and festivals. Some of the notable events He has participated in include:
• PEKSIMINAS in Jakarta (1995): A national event for theater and literature.
• MMAS Guru-guru se-Indonesia in Bogor (2000): A national gathering for teachers.
• Festival Teater Alternatif in Jakarta (2003): An alternative theater festival.
• Monolog Indonesia Undercover (2005): A national monologue competition.
• Cublis in Lampung (2009): A literary event in Lampung.
• Etc... (Look at Rekam Jejak Raudah Jambak)
Publications
Raudah has published several works, including poetry anthologies and essays. Some of his notable publications are:
• "Muaratiga": An anthology of short stories and poetry.
• "Tengok": A poetry anthology featuring works by poets from Medan.
• "Antologi Puisi MEDITASI": A religious poetry anthology (1999).
• Etc (Look at Taman Sastra Raudah Jambak or Omong-Omong Sastra Sumut).
• "Antologi Puisi Seratus Untai Biji Tasbih": Another religious poetry anthology (2000).
• "Antologi Puisi Amuk Gelombang": A poetry anthology related to the tsunami (2005).
Current Work
Raudah currently works as a literature teacher and philosophy lecturer at Panca Budi Medan. He is also involved in the Home Poetry community, where he continues to contribute to the literary scene1.
Personal Life
Raudah is passionate about literature and continues to inspire others through his work and involvement in various literary activities. He is known for his dedication to promoting Indonesian literature and culture.
Would you like to know more about any specific aspect of his life or works?
You may be at Raudah Jambak’s activity in literature, the arts, philosophy since He was born and now. One for all, All for one.
Jumat, 22 November 2024
TEATRIKAL PUISI MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA KARYA RAUDAH JAMBAK TAMPIL DI AMMAN, YORDANIA
Keseruan Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-79 di Amman Yordania
Kegubernuran Amman Divisi Seni, Budaya dan Olahraga kembali menyelenggarakan berbagai perlombaan dan pagelaran seni. Persiapan acara dilakukan dengan matang oleh tim panitia, mulai dari susunan acara, perlombaan, hingga dekorasi lapangan. Hal ini bertujuan untuk memeriahkan HUT RI ke 79 pada Sabtu, 17 Agustus 2024 yang dihadiri para mahasiswa Indonesia di Amman. Seluruh kegiatan diadakan di lapangan 17 dari pukul 8.30-14.00 waktu setempat. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai bentuk nasionalisme terhadap bangsa.
Setelah proses pembukaan acara selesai, seluruh mahasiswa langsung bersiap untuk mengikuti serangkaian perlombaan. Di antara lombanya adalah futsal, voli, estafet sarung, joget tomat, dan sebagainya. Kemeriahan acara serta antusiasme mahasiswa terlihat dari hiruk pikuk mereka dalam mengikuti perlombaan. Melengkapi perayaan 17-an ini di tengah proses perlombaan, mahasiswa dapat membeli berbagai makanan yang dijual oleh peserta bazar. Pengumuman kejuaraan pun langsung diumumkan selepas perlombaan. Untuk kategori kejuaraan dibagi menjadi kategori putra dan juga putri.
Hal menarik dari perayaan HUT RI tahun ini ialah penutupan acara yang diisi dengan penampilan teatrikal puisi dengan judul “Masih Merdekakah Kau Indonesia?” karya Raudah Jambak, yang diperankan oleh 8 orang mahasiswa dari grup teater karsa HPMI Yordania. Penggambaran Ibu pertiwi diperankan Alivya, pejabat oleh Agha, Investor oleh Zufar, dan pemeran rakyat oleh Arzu, Lalu Noural, Fida, Alidzky, dan Eka. “Judul teatrikal puisi yang diambil merupakan gambaran mengenai kondisi Indonesia saat ini” ucap Agha, sebagai salah satu pemeran.
Ia juga menambahkan bahwa menampilkan teater ini tidak hanya dalam rangka melestarikan sejarah, tetapi juga bertujuan untuk menginspirasi anak generasi muda agar terus menghargai dan menjaga semangat kemerdekaan. Di akhir penampilan, tepuk tangan para penonton menggelegar diikuti dengan sorakan yang menggema. Penampilan ini mengingatkan kita akan sebuah pesan penting bahwa makna memerdekakan sebuah bangsa bukanlah sekedar membebaskannya dari tangan penjajah, melainkan bagaimana menyejahterakan rakyat dalam keadilan.
Kontributor: Mayada Ainuzzahroh
Editor: Khaerul Umam
Sabtu, 09 November 2024
Puisi Lelaki Tua Di Simpang Raya
Lelaki Tua Di Simpang Raya
Karya : Raudah Jambak
Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang sepi
Tubuhnya mematung membeku detik-detik pagi
Menyimpan dingin embun-embun tiang besi
Sementara lampu merah, kuning, hijau
Terus berganti
Orang-orang masih bergelut mimpi
Di kamar-kamar yang menyelipkan lemari besi
Pada sudut-sudut tersembunyi diawasi CCTV
Memerdekakan diri, memanjakan hati
Lelaki tua itu pernah membingkai cita-cita
Membangun tangga sejahtera untuk keluarga
Berbahagia di dunia, sejati di surga
Mencatat euphoria masa ke masa
Receh itukah suara riangnya
Menahan loncatan kosa kata-kata
Berhamburan dari jendela mobil
Yang tak jua terbuka
Atau deru knalpot memekakkan
Rasa merdeka entah di mana
Seorang lelaki tua terduduk sendiri di simpang hati
Do’anya seakan habis kehilangan cahaya matahari
Mengarahkan sepanjang perjalanan menuju Tuhan
Di sinilah ia bertahan
Menghirup debu jalanan
Dan hujan kehilangan pesan
20-13
Puisi Lelaki Tua Di Tengah Danau
SAJAK M. RAUDAH JAMBAK
Lelaki Tua Di Tengah Danau
O, Batara Guru….
Telah kubuat tuah ni gondang
Dengan tujuh kali putaran
Dari gondang mula-mula
Somba-somba maupun liat-liat
Angin mengelus, air mengalir
Pada danau segala desau
Adakah rahasia pada segala
Atau hati sembunyikan misteri
Padamu, padaku, atau pada kita
O, Batara Guru….
Telah kulakukan mangase homban
Agar senang si Boru Saniang Naga
Agar senang si Boru Deak Parujar
Agar terjaga tanah negeri kami
Riak-riak menciptakan irama
Para bocah yang berebut mencapai dasar
Ah, adakah rindu masih terpaut
Atau dendam masih tersudut
Padamu, padaku, atau pada kita
O, Batara Guru….
Sampaikan kepada Ompu Mulajadi Nabolon
Jagalah Bona Ni Pasa segala suka
Jagalah Bona Pasogit segala cita
Jagalah hati kami dari segala angkara
Menarilah dengan penuh sukacita
Bernyanyilah dengan segala keindahan nada
Angin akan membawa kabar berita
Air akan menyatukan segala cinta
Padamu, padaku, atau pada kita
13-20
Puisi Setangkai Melati Untukmu, Guruku
Setangkai Melati Untukmu, Guruku
Karya : Muhammad Raudah Jambak
Setangkai melati untukmu guruku
Kuambil dari perjalanan dekat
Tapi sulit kudapat
Semua begitu gelap
Walau lentera tertancap huruf dan angka-angka
Penunjuk arah
Merobah sejarah
Setangkai melati untukmu, guruku
Sebagai buah tangan dari tugas
Tanpa pamrih yang kau berikan
Batu hitam kini kau rubah jadi buku
Begitu kelam alat tulis masa lalu
Namun semangatmu tak pernah beku
Buah ilmu dari pohon semangat
Yang kau tanam telah membuahkan
Kesuksesan muridmu menghias zaman
Membangun peninggalan
Meninggalkan penjara kebodohan
Dari perjuangan telah membebaskan muridmu
Dari batu-batu, bisu dan kaku
Tak ada kelebihan dari hidup
Yang kau jalankan
Kau tetap melangkah tegas ke medan tugas
Dengan hati nyaman, tentram
Demi mendidik muridmu
Yang menganggapmu kolot dan ketinggalan zaman
Tapi itu tak kau perdulikan
Setangkai melati untukmu, guruku
yang putih bersih seputih salju
Dan seputih hatimu yang suci
Dipersembahkan tunas-tunas generasi
Yang bersemayam di bumi pertiwi
Setangkai melati untukmu guruku
Kami persembahkan, kami berikan
Sebagai tanda terima kasih kami
Terima kasih dari kami untukmu guruku
komunitas home poetry, 1993
Langganan:
Postingan (Atom)





















