M. Yunus Rangkuti
Pada 27 – 29 April 2008,beberapa waktu lalu, penulis diundang panitia sebagai peninjau pada acara “Temu Penyair 5 Kota” di Payakumbuh, Sumatera Barat. Acara berlangsung sukses. Kesuksesan ini terlihat dari besarnya kepedulian Pemerintah Kota Payakumbuh, Pemerintah Daerah Sumatera Barat, Dewan Kesenian Daerah Kota Payakumbuh, Dewan Kesenian Sumatera Barat, Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Payakumbuh, Universitas Andalas, Komunitas Seni Intro, serta antusias masyarakat setempat. Terlebih di Nagari Taeh, kampungnya Penyair Khairil Anwar. Ratusan masyarakat antusias mengikuti acara mengenang penyair ternama tersebut.
Kita mungkin berbangga hati membaca biodata Khairil Anwar yang dilahirkan di Medan. Apakah daerah ini merasa memiliki sastrawan tersebut? Setiap kali bulan April tiba, kegiatan apa yang kita laksanakan untuk mengenangnya? Masyarakat Nagari Taeh beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, dan Pemerintah Sumbar telah menyatakan Khairil Anwar adalah penyair yang lahir dari daerahnya.
Besarnya kepedulian dan antusias pemerintah dan masyarakat daerah tersebut, merupakan hal yang hampir-hampir tak tampak di sini. Berkali even kesenian yang diselenggarakan di Medan khususnya, tampak sepi. Baik dari peserta, undangan, maupun masyarakat yang menyaksikan acara tersebut. Sementara pelaksanaan acara berlangsung seadanya, sebab kurang mendapat dukungan dari pemerintah dan instansi yang terkait. Terutama dalam pendanaan.
Beberapa kali kegiatan yang seharusnya dilaksanakan harus molor dari jadwal, diundur tanpa kepastian, atau terpaksa dibatalkan, karena kesulitan dalam pendanaan dan fasilitas. Contoh kasus, ketika Medan ditetapkan sebagai tuan rumah “Temu Penyair se-Sumatera 2004”. Bertahun acara tersebut tak terlaksana. Baru terselenggara pada Desember 2007 lalu, disatukan dalam kegiatan “Temu Sastrawan se -Sumatera/ Sumatera Utara”.
Sesungguhnya kekurangpedulian bukan hanya terlihat di setiap kegiatan kesenian, namun semua hal terkait di bidang kesenian. Termasuk pelaku seni atau seniman yang sesungguhnya adalah asset. Seperti halnya olahragawan, politikus, tekhnokrat, atau kalangan bisnis. Padahal, banyak seniman Sumatera Utara yang karyanya telah mengharumkan Sumatera Utara di tingkat nasional dan internasional.
Bisa dikata, hanya seniman di bidang musik dan tari yang berkali merasakan “manisnya” kucuran dana pemerintah. Sedangkan seniman di bidang sastra, teater, lukis, dan kriya hanya sesekali mencicipi. Itu pun harus pontang-panting untuk meminta dana. Tahun-tahun belakangan ini Dewan Kesenian Sumatera Utara, Dewan Kesenian Medan dan daerah tingkat dua lainnya nyaris tak mampu melaksanakan kegiatan. Termasuk juga Taman Budaya Sumatera Utara, dikarenakan tak memiliki anggaran. Beberapa seniman yang diundang menghadiri kegiatan di daerah lain urung berangkat, karena kesulitan dana.
Pahitnya suasana berkesenian di Sumatera Utara sangat dirasakan para seniman dalam hidup dan kehidupannya, hingga akhir hayatnya. Satu dua menjalani masa tuanya terlunta-lunta. Di mana nurani dan kepedulian kita?
Masih membayang di mata kita kondisi penyair N A. Hadian yang sakit-sakitan menjelang akhir hayatnya. Beliau bahkan beberapa hari “terdampar” di pelataran musholla TBSU. Hanya seniman yang peduli padanya. Tiada uluran tangan pemerintah daerah membantu biaya perobatannya. Setelah beliau meninggal, penghargaan apa yang telah diberikan padanya? Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkannya?
Kondisi-kondisi yang hampir sama juga dialami dialami seniman kita yang telah meninggal, ataupun saat ini sakit-sakitan. Dunia kesenian kita berkali berkabung, disaat senimannya meninggal dunia. Buoy Hardjo, Maruli Simbolon, Amiruddin AR, Danil Eneste, Rusli A. Malem, Lazuardi Anwar, Sirto Yono, Monos Ra, M. Yunus Matondang, Tantowi Yunus, Slamet Khairi, Usman Al Hudawy,dan Raswin Hasibuan. Mungkin hanya seniman, keluarga, kerabat dan tetangga yang peduli dan sangat merasa kehilangan.
Apakah kondisi seperti ini dirasakan juga di daerah lain? Mungkin saja sama, atau malah sebaliknya. Mereka para seniman justru sebegitu dipeduli oleh pemerintahnya. Seorang sastrawan Medan, pernah menulis tentang sastrawan ternama Propinsi Riau mendiang Idrus Tintin, ketika beliau menderita sakit. Dia menceritakan betapa tingginya kepedulian masyarakat Riau dari berbagai kalangan. Termasuk juga dari Sumatera Barat dan Sumut.
Mulai dari gubernur, walikota, wakapolda, Rektor Universitas Negeri Riau, pejabat pemerintah setara lainnya hadir membesuk Idrus Tintin di rumah sakit. Kepedulian dan simpati yang dalam juga diperlihatkan kalangan budayawan dan seniman Riau, Kepulauan Riau dan Sumatera Barat. Dari Medan, seorang pejabat mengirim bantuan alat perobatan. Bagi sebagian besar masyarakat Riau, Idrus Tintin adalah sosok seniman yang pantas dihormati.
Ah, kepedulian seperti itu sesuatu yang langka di sini.
Penulis: Pegiat di Komunitas Home Poetry
Maha Ada di Suka Duka Jiwa
Maha Ada di Suka Duka Jiwa
Cerpen: M. Yunus Rangkuti
Duka tak mengerti, mengapa Jiwa cenderung mengabaikannya. Jiwa ternyata lebih condong pada Suka. Di mana dan ke mana pun mereka berada, Jiwa selalu saja memperlihat dan memperkenalkan Suka. Jiwa sebegitu membanggakan Suka. Duka merasa Jiwa selalu menutupi keberadaannya. Tak memperlihatkan, membicarakan, bahkan berupaya melupakannya. Padahal, di saat Jiwa ditinggal Suka berlama-lama, Duka begitu setia menemani. Menanti kapan Suka akan kembali, atau turut mencari ke mana Suka pergi. Meski penantian dan pencarian memakan waktu, menguras apa saja, atau hanya sia-sia.
Duka merasa Jiwa terlalu memanjakan Suka. Merasa Suka adalah segalanya. Berkali. Duka menyaksikan Jiwa bagai lepas kendali saat bermanja dengan Suka. Sebenarnya Duka tak cemburu, Duka tak ingin Jiwa menjadi lalai. Namun, saban kali Duka mengingatkan, Jiwa justru menyalahkannya. Duka malah dianggap sebagai penyebab perginya Suka. Duka tak pernah membantah Jiwa. Duka menampung segalanya. Segala amarah dan keluh-kesah. Duka berusaha meyakinkan Jiwa, bahwa Suka pasti kembali, andai bersabar dan terus berupaya. Tapi entah mengapa, Jiwa justru melupa di saat Suka telah kembali berada. Jiwa kembali bermanja-manja dengan Suka. Berulang ini terjadi, namun Duka tetap setia menemani.
Apakah Jiwa telah melupakan perjanjian yang mereka ikrarkan di hadapan Maha? Atau Jiwa tak menyadari dan kembali mengulangi sebentuk kesalahan pernah terjadi? Di mana pada awal Jiwa ada dan berada, Duka pun dihadirkan. Maha menyatukan mereka. Sementara keberadaan Suka sepenuhnya ada pada Maha. Namun Jiwa menginginkan Suka. Jiwa merasa hampa, merasa tak sempurna tanpa memiliki Suka.
“Ya Maha, berikan daku Suka, agar sebagai Jiwa daku mempunyai rasa seutuhnya.” Berkali Jiwa mengulangi permintaan kepada Maha. Maha pun berkenan, dengan persyaratan Jiwa harus berupaya dan selalu menjaga.
“Sepenuhnya Suka milikku. Aku hanya memberi seperkian saja, karena kau tak akan sanggup menjaga.”
Lalu satu waktu, Jiwa sebegitu takjub melihat sebentuk mirip dengannya. Sebentuk yang seketika mengusik perasaan. Sebentuk yang tampak sedemikian mempesona.
“Apakah kamu Suka?” Sebentuk itu mengangguk. Seketika Jiwa pun melupa keberadaan Duka.
Satu waktu Suka merayu Jiwa. Jiwa tergoda. Maha murka, karena Jiwa telah melanggar pantangan.“Aku berikan Suka agar kau selalu mengingatku. Mengapa engkau melupa?”
“Ampuni daku Maha.”
“Aku mengampunimu, namun untuk itu engkau harus menjalani satu rentang waktu pada suatu tempat. Duka akan selalu menemanimu. Pada rentang waktu dan tempat tersebut Suka akan berada. Suka kuhadirkan dalam berbagai unsur dan bentuk. Suka adalah rahasiaku. Aku yang menentu dan mengatur kapan kuperlihat dan kuberikan. Aku yang berkuasa mengambilnya kembali. Ingatlah! Suka adalah bagianku, maka jangan sesekali melupakanku.”
Jiwa pun mengembara pada suatu tempat menjalani satu rentang waktu. Duka selalu mengisi hari-harinya. Jiwa terpana menyaksikan alam barunya. “Apakah ini seluruhnya adalah Suka? Lalu, di mana Suka yang pernah kurasa? Suka yang menemaniku bersenda-canda?” Benak Jiwa dipenuhi tanya.
“Duka, bantulah daku menemukan Suka.”
“Bukankah seluruh yang berada di sekitarmu adalah Suka?”
“Daku menginginkan Suka dalam sebentuk penuh pesona.”
“Berupayalah Jiwa.”
“Upaya bagaimana daku lakukan? Daku merasa sebegitu hampa.”
“Selalulah mengingat pada Maha.”
“Bagaimana caranya?”
“Bersamaku kau kan selalu mengingat.”
Jiwa pun berjalan bersama Duka. Melangkah menyusuri sungai, menempuh rimba belantara, mendaki perbukitan, dan menuruni lembah. Berhari, berbulan, bahkan bertahun. Lalu pada satu waktu di satu tempat datar meluas, Jiwa akhirnya bersua Suka yang pernah mempesonanya. Jiwa dan Suka kembali bersatu.
***
Waktu terus berlalu. Jiwa bertebaran di mana-mana. Saling berlomba memperebutkan Suka. Sesama Jiwa bertikai, berperang, dan saling bunuh untuk mendapatkan Suka Demi Suka Jiwa kembali melupa Maha. Berkali Maha menegur Jiwa melalui Duka, namun hanya sesaat Jiwa mengingat Maha.
Jiwa merasa telah memiliki Suka sepenuhnya. Jiwa justru menganggap telah mencipta Suka. Untuk itu Jiwa berhak sepenuhnya akan keberadaan Suka. Jiwa telah melupakan perjanjiannya di hadapan Maha.
Jiwa kecewa, ketika Maha mengambil sebagian atau sepenuh Suka darinya. Ketika Maha menebar Duka, Jiwa merasa teraniaya. Jiwa tak bias menerima. Bagi Jiwa Duka hanyalah fenomena biasa yang segera sirna. Ketika Duka berkepanjangan, Jiwa berkeluh resah. Jiwa tak bisa menerima. Jiwa protes, mempertanyakan Maha:
Maha,
Duka ini milikmu
Mengapa daku harus merasa?
Maha tak lagi langsung berkata mengingatkan Jiwa. Maha tak lagi menegur lewat kata-kata. Sejak awal Maha telah memperingatkan Jiwa. Bagi Maha segelintir Jiwa yang mengingat, adalah lebih utama. Merekalah Jiwa-Jiwa mulia. Jiwa-Jiwa yang kelak berhak menikmati Suka sepenuhnya.
Ingatlah Jiwa,
Ketika Duka engkau rasa
Sesungguhnya aku menyapa
Mengapa engkau melupa?
Maha tetap mempertahankan Duka pada Jiwa. Melalui Duka, Maha memperingatkan Jiwa yang berlomba memperebut Suka. Bermanja atau justru membanggakan Suka. Entah mengapa, berjuta Jiwa tak juga bisa menerima akan Duka. Di kala Suka Jiwa melupa Maha, di kala Duka Jiwa mempertanyakan Maha.
“Maha, Maha! Mengapa Duka selalu mendera?”
Jiwa selalu merasa Duka jadi penyebab terengutnya Suka. Di kala Duka kian terasa, Jiwa-Jiwa berlomba enyahkan Duka. Seakan Duka tiada dan tak perlu ada. Bukannya memakna, mengapa tercipta Duka. Mengapa Maha Hadirkan Duka?
Satu waktu jiwa kembali bertanya pada Maha:
Di mana engkau
Rupa tiada*
Jiwa sebenarnya tak merindu Maha. Jiwa tak bisa menerima kehilangan Suka. Entah kenapa, Jiwa sebegitu mudah melupa atau tak menerima bahwa Maha adalah segalanya. Maha berada di mana saja. Pada Suka maupun Duka. Maha ada di Suka Duka Jiwa.
Medan, 0508
* dari Padamu Jua, Amir Hamzah
MAHA BENCANA
inilah maha bencana sesungguhnya
ketika di mana-mana limbah meruah membuncah
mempolusi apa saja siapa saja
hari ke hari pabrik-pabrik industri
memuntah jutaan ton limbah organik dan non organik
parit, sungai, danau terkontaminasi
limbah kian melarut pekati laut
segala biota terancam binasa
dalam sampan nelayan diam muram
ikan-ikan menjauhi tepi pantai
mencari sarang, karena terumbu karang telah hilang
limbah bak arus terus menggerus
menggulung tak terbendung
air, tanah, udara diperkosa
apa yang kita rasakan, ketika
suhu bumi mulai meningkat saat lidah api menjilat
karena atmosfir nganga terkoyak
apa yang kita alami, ketika
badai radiasi matahari menggerogoti
kita bagai memabuk mimpi-mimpi buruk
melagu igau lalu kaku beku
ketika hutan ditebang dan dibakar
apa yang kita saksikan?
orang utan kehilangan dahan gegayutan
harimau menceracau tak tentu tuju
rusa dan beruang terus lintang-pukang
badak dan gajah melangkah lelah menuju punah
burung-burung bersenandung murung
kupu-kupu dan kumbang terbang gamang
ketika suhu bumi bertambah panas
hamparan salju beku pun mencair
meninggikan permukaan lautan
arus air deras mengalir membanjiri daratan
memporakporandakan tatanan kehidupan
apa lagi yang dapat kita lakukan
ketika virus penyakit terus mewabah
masihkah kita berpangku tangan
dan membiarkan peradaban musnah?
Medan, 2009
PARODI DIRI
sebegitu lesatkah matahari berlalu luluh? tanpa hangat menggeliat tubuh guyur hujan di dinihari menggerimis hingga pagi gigil dingin masih memilin kita hilang gegas dikemas malas
pada beranda senja kita merenda kata cerita purba menjelma di kepala menyisa tanya hampa , “apa, mengapa dan bagaimana” matahari melesap malampun mendekap apakah kita masih berharap mimpi membuai jadi berarti di esok hari
apa yang tersisa pada rentang siang? rutinitas tak pernah tuntas, resah tertumpah di jalan berbasah, pesona pelangi menari mimpi, atau kulik elang hilang peluang di ambang petang tapi mengapa pagi berkali kita khianati?
2008
M. Yunus Rangkuti lahir di Medan, 21 Maret 1966. Puisi-puisinya banyak menyebar di beberapa harian Medan. Selain itu beberapa karyanya sudah dibukukan dalam antologi bersama, seperti: ASA, DALAM KECAMUK HUJAN, TENGOK 4, AMUK GELOMBANG, JELAJAH, MEDAN PUISI, MEDAN SASTRA, MUARA TIGA, dll. Bergabung dalam komunitas FKS (forum kreasi sastra-Medan), LABSAS (laboratorium sastra), KSI (komunitas sastra indonesia-medan), GENERASI dan YA. Production. Bermukim di Desa Sampali, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara. No. Kontak: 081396936505 mengikuti kegiatan sastra Temu Sastrawan Nusantara 1996, Dialog Utara Indonesia-Malaysia 2001, Temu Penyair Lima Kota Payakumbuh 2008, Temu Sastrawan Indonesia Jambi 2008.Bersama M. Raudah Jambak, Afrion, Djamal, S. Ratman Suras, Saiful Amri, dll, mengusung Komunitas HP (Home Poetry), SEKARANG sedang sibuk membidani RUMAH KATA bersama Nasib TS, Idris Siregar, Ratman Suras, Rina Mahfuzah, dkk.
Omong-Omong Sastra Sumatera Utara adalah wadah tempat berdiskusinya para sastrawan Sumatera Utara Khususnya. Usiannya yang hampir mencapai 40 tahun menjadikannya sebagai wadah bersilaturahmi, berdiskusi dan berkarya para sastrawan dari berbagai usia, aliran, dan agama, menyebabkan Forum Omong-Omong Sastra ini sebagai Forum yang tertua di Sumatera Utara. Forum ini diprakarsai oleh Damiri Mahmud, dkk. Sekarang di koordinir oleh M. Raudah Jambak. Semoga tetap berjaya.
Jumat, 08 April 2011
Tumbuhkan Sastra Sejak Dini
Lelaki, Belati dan Tumini
SAMPAI beranjak malam setangkai melati baru didapatkan. Tapi hujan yang mencurah tak kunjung henti. Lelaki itu sempat menunggu beberapa saat, angin yang mendesau seolah tak memberi ruang untuk sekadar lewat. Hujan masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Lelaki itu membulatkan tekad menapakkan langkah. Lelaki itu menelusuri ruang-ruang basah. Lelaki itu sesekali menggigit bibirnya. Bersebab guyur hujan dan deru angin, demi mengabulkan ingin. Seputih hatinya.
HUJAN masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Lelaki itu melangkah berkendara engah. Lelaki itu berjalan mengikis pongah. Hujan seperti bersimpati padanya. Tak henti membasuh luka sekujur tubuh yang mulai ringkih itu. Lelaki itu sesekali menggigit bibirnya. Bukan. Bukan karena perih tubuhnya. Bukan lantaran guyur hujan dan deru angin. Tetapi, ada yang lebih pedih dari itu, hatinya.
Hatinya gulana. Semacam beliung yang tak henti-henti menderes batang nadi. Mengoyak bilah-bilah dada. Lelaki itu hanya tak menyangka. Mungkin karena lupa. Atau ruang pikirnya yang terlalu sesak menggudang segala makna. Sehingga ia tak lagi sanggup mengunyah definisi-definisi setia. Tak sanggup meneguk tuak-tuak nisbi, Tumini, istrinya.
Pagi-pagi sekali, setelah menyusun botol jamu, Tumini menitip pamit padanya. Setelah melabuhkan bakul jamu di punggungnya, Tumini segera menapak langkah. Lelaki itu pelan-pelan mengutip kembali jejak yang ditinggalkan.
Biasanya Tumini selalu mengusung pulang sebelum magrib menjelang. Pulang dengan senyum penuh bintang, meski jamu hanya sedikit yang berkurang.
“Hati-hati di jalan, ya...”
“Ya, Kang Mas...”
Selalu saja seperti pengantin baru. Kecupan sayang tak pernah dilupakan. Meski usia perkawinan beranjak dewasa dan momongan tak pernah singgah di gendongan, tak pernah ada kata luka dalam diksi puisi cinta mereka.
Kalau dihitung mungkin hanya sekali pertanyaan mengejutkan terlontar. Pertanyaan itu langsung terasa begitu mengganggu. Mencemari kisah hari-hari mereka.
“ Tadi siang aku melihatmu di terminal...”
“Ya, tadi aku sempat singgah...”
“Siapa laki-laki yang kerap memelukmu dari belakang itu?”
“Hanya pelanggan.”
“Pelanggan?”
“Ya, pelanggan.”
“Hanya demi segelas jamu kau biarkan laki-laki itu berbuat sesukanya?”
“Itu di luar kendaliku...”
“Kebetulan hanya satu itu yang sempat terlihat...”
“Maksudmu?”
“Mungkin yang tidak terlihat lebih dari itu...”
“Ooo, berarti kau sudah berpikiran, bahwa aku perempuan murahan, begitu!?”
“Aku tidak berpikiran seperti itu.”
“Tetapi kata-katamu menuduhku seolah-olah aku bukan perempuan baik-baik,” Tumini menarik napas, “Mas, dengar. Seburuk apapun aku di pikiranmu, aku tidak akan menodai perkawinan kita.”
“Aku percaya.”
“Kalau kau percaya mengapa kau menuduhku seburuk itu.”
“Aku hanya kuatir.”
“Percayalah, Mas. Kalau kau percaya itu lebih cukup bagiku untuk tetap setia.”
“Aku percaya.”
“Ya, aku juga percaya padamu. Aku percaya kau tidak akan pernah berkhianat padaku...”
Setelah pembicaraan itu memang tak ada lagi kata-kata. Kata-kata sepertinya hanya pengantar ke puncak gairah. Kata-kata berganti irama desah. Berganti lumatan, pagutan, dan rangsang gelinjang. Hujan pun seperti telah ditakdirkan mengambil perannya sendiri. Menghadirkan orkestra romantis yang begitu puitis.
***
SEBAGAI seorang pengangguran, lelaki itu selalu menimbun malu. Harga dirinya sebagai seorang lelaki sering terusik. Ia ingin mendapatkan pekerjaan tetap, tetapi hanya pekerjaan semrawutan yang bisa ia dapat.
Ada rasa sedih, marah, kecewa, bercampur aduk dalam benaknya. Ingin rasanya ia menjadi suami seutuhnya. Kepala keluarga yang sebenarnya. Suami yang mencari nafkah, istri yang menjadi ratu di rumah. Tetapi, hal itu belum mampu diwujudkannya. Istrinya yang mencari nafkah, ia sebagai suami hanya melukis sesal di rumah.
“Kita belum punya anak...,” lelaki itu mulai mengeja cerita, suatu kali di beranda.
“Mas, jangan mulai lagi...,” Tumini menyeka air mata.
“Maksudku, sebagai seorang lelaki, aku ingin kau menjadi istri seutuhnya,” lelaki itu menyalakan sebatang rokok di tangannya, “Aku hanya tidak sampai hati melihatmu yang harus luntang-lantung mencari nafkah. Sementara aku hanya penjaga rumah yang tidak memiliki daya.”
“Mas, aku ikhlas menjalani ini semua. Aku hanya ingin membantumu..”
“Dan aku tidak sampai hati melihat semua itu...”
“Mas, dengarkan aku. Tidak ada setitik pun dalam pikiranku merendahkanmu. Kau adalah pahlawanku. Aku ingin berbuat sesuatu untukmu. Dan aku hanya bisa melakukan itu. Aku hanya bisa sebagai penjual jamu. Aku tidak bisa lebih dari itu. Percayalah.”
Kembali lelaki itu tersengat tak berdaya. Di matanya Tumini adalah sosok perempuan yang betul-betul sempurna. Selalu saja siraman-siraman sejuk yang terlontar dari bibir mungil Tumini. Keyakinannya semakin cadas. Rasa percayanya kepada Tumini sepadat logam. Lelaki itu semakin pasti. Pasti akan kesetiaan Tumini.
***
PAGI-pagi sekali lelaki itu pergi, setelah merapikan botol jamu Tumini. Tumini berselubung sakit. Menitip maaf padanya. Setelah melabuhkan kecup di dahi Tumini, lelaki itu segera menapak langkah. Lelaki itu diam-diam merangkai kejutan, mencatat pada jejak yang ditinggalkan.
Kali ini lelaki itu seolah mendapatkan kesempatan mengusung pulang sebelum magrib menjelang. Pulang dengan senyum penuh bintang, menabalkan niat kejutan cinta yang lama terpendam walau hanya sekadar setangkai kembang.
“Hati-hati di rumah, ya...”
“Ya, Kang Mas...”
Selalu saja seperti pengantin baru. Kecupan sayang tak pernah dilupakan. Meski usia perkawinan beranjak dewasa, dan momongan tak pernah singgah di gendongan. Dan kesempatan ini tidak akan begitu saja dilupakan sebagai pengerat diksi puisi cinta mereka.
Sampai beranjak malam setangkai melati baru didapatkan. Tapi hujan yang mencurah tak kunjung henti. Lelaki itu sempat menunggu beberapa saat, angin yang mendesau seolah tak memberi ruang untuk sekadar lewat. Hujan masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Lelaki itu membulatkan tekad menapakkan langkah. Lelaki itu menelusuri ruang-ruang basah. Lelaki itu sesekali menggigit bibirnya. Bersebab guyur hujan dan deru angin, demi mengabulkan ingin. Seputih hatinya.
Hatinya membunga. Semacam taman yang tak henti-hentinya menebarkan semerbak aroma surga. Menyusup pada bilah-bilah dada. Sesampainya di rumah, lelaki itu menggelupurkan sesak dada. Mungkin karena lupa. Atau ruang pikirnya yang terlalu sesak menggudang segala bahagia. Sehingga ia tak paham lagi mengunyah definisi-definisi setia.
Entah apa yang merasuk di kepalanya. Ada amuk yang mengelora. Ranjangnya membanjir gairah. Ranjangnya ditenggelamkan irama desah. Bukan gairah miliknya. Bukan irama desah miliknya. Setangkai melati di tangannya ikut merasakan deru amarah. Seketika tenggelam bermandikan darah. Belati di tangannya memerah. (Cerpen M. Raudah Jambak)
Cerpen Muram Batu
Berhenti Bermain Luka
KAU tersenyum. Kau dapat peran baru. Kau pulang dengan ringan. Kau telah menerima kesempatan untuk mengubah karakter. Ya, sejak bergabung dengan kelompok sandiwara itu, kau selalu saja kebagian karakter yang sama; perempuan yang kehilangan kekasih. Peran yang cocok, sebenarnya. Setidaknya, penonton suka dengan peran yang kau mainkan. Namun, pergolakan dalam dirimu telah mengalahkan tepuk riuh penonton. Kau butuh yang lain. Kau butuh tantangan peran. Dan, kini semuanya telah di tangan.
LAYAR tutup. Panggung gelap kembali terang. Suara penonton perlahan menjauh, meninggalkan bangku-bangku yang sebelumnya penuh. Anggota pentas mulai mengangkati properti satu persatu. Pelan namun pasti, panggung kembali kosong. Kau duduk bersila di sudut panggung, menatap layar, tanpa gerak. Sama sekali tidak terpengaruh oleh suara ribut; ucapan selamat atau basa-basi penuh suka.
Ini ketiga kalinya kau duduk seperti itu sehabis pentas. Kali pertama memang sempat mencuri perhatian hingga sebagian besar orang berebut lempar kata untukmu. Kali kedua pun hampir sama, walau berkurang, tetap saja ada orang yang bertanya juga beri tanggapan.
“Nauli, ada apa?”
“Nauli, kau sakit?”
“Kau belum makan?”
“Sudah, lupakan saja, ini hanya sandiwara. Besok masih ada peran lain untukmu. Jangan terbawa karakter itu terus. Sudah sana, bersihkan tata riasmu!”
Kali ini tak ada yang bertanya. Mungkin mereka malas. Sekian kata yang mereka lontarkan, dalam dua kali kesempatan, tak mendapat respon.
Dan, kali ini kau malah menangis. Menatap layar hitam dengan linangan air mata. Sendiri. Kau pun semakin tenggelam. Sebuah tangis bukan untuk diperhatikan atau mencari perhatian, tangis untuk dirasakan. Sesuatu yang pribadi.
Ketika suara-suara semakin hilang dan ketika raga pergi satu-satu, kau baru mulai melihat sekeliling. Air mata telah kering dan kau pun siap berdiri.
Sayang, kau tak perhatikan, lelaki yang sejak mula memperhatikanmu tetap di situ. Tepatnya di atas kepalamu. Ya, gara-gara tangismu, lampu yang harus ia lepaskan belum juga terlaksana. Mungkin ia terenyuh, mungkin pula terhibur. Tangis pada sosokmu adalah sesuatu yang langka. Karena itu, ia berpegangan kuat pada besi, takut tak kuat menahan keterkejutan itu.
“Tunggu!” katanya begitu melihat kau berdiri.
Kau pun terkejut hingga sampai tak sadar berteriak. Lalu, kau mulai mencari asal suara. Kau mendongak. Dan, kau tertawa. “Ngapain kau di sana, Binsar?” tanyamu.
“Kau kenapa menangis?”
“Mencopot lampu?”
“Kau lagi ada masalah? Ceritalah...” Binsar dengan segera turun.
“Kau melihatku menangis, Binsar?” sambutmu ketika Binsar tiba tepat di depan.
“Tadi aku mau mencopot lampu, kulihat kau di bawah, sudah tiga kali. Tapi, baru kali ini kau menangis.”
“Aku lagi senang, Binsar.”
“Tangis senang beramai-ramai, sedang kau sendirian.”
“Aku senang sendirian.”
“Bukan, bukan itu. Kau pasti ada masalah.”
“Ya, sudah kalau kau sudah tahu. Aku pulang dulu.” Kau bergerak cepat.
“Tunggu dulu, Nauli!”
“Kau copot saja lampu itu. Nanti kau juga tahu...”
Kau keluar gedung. Sendirian. Kau naiki kendaraan pun tanpa teman. Setiba di rumah, kau hadapi kesunyian rumah tanpa orang lain. Dan, kau tersadar, tata rias belum terhapus. Di hadapan cermin kau tertawa keras. “Jadi, sepanjang perjalanan tadi aku tetap begini. Tetap menggunakan tata rias dan busana pentas? Dasar Nauli gila!”
Selagi melepas tata rias dan busana, kembali kau kenang pementasan terakhir. Cerita klasik. Cinta kasih yang berujung pada kematian. Tragedi cinta yang masih tetap diagungkan. Kisah tua yang tetap saja laku.
Kau menjadi perempuan itu. Perempuan yang menunggu. Di dermaga. Menanti kapal datang dari seberang membawa lelakimu. Sekian lama penungguan tak juga kau temukan yang diharapkan. Kau pun nyaris gila. Keluargamu menyarankan, malah memaksa, kau menerima pinangan lelaki lain. Lelaki yang sesungguhnya jauh dari bayangamu untuk menjadi suami. Kau berencana bunuh diri, kau kejar kapal yang belayar menuju seberang. Kau ingin tenggelam. Membawa cintamu yang telah karam. Saat itulah, lelakimu datang. Kau terkejut gembira. Kau kejar dia. Sayang, lelakimu membawa dua orang di sisinya. Seorang perempuan hamil tua dan seorang anak dengan ingus berwarna hijau. Kau terdiam. Lelakimu itu terdiam. Anak dengan ingus hijau menangis. Perempuan hamil tua curiga. Dan, cerita berakhir di sana. Di sebuah pertikaian yang berakhir dengan darah. Kau bunuh mereka; lelaki dengan istri dan anaknya. Kau pun gila. Dan, kau mati dalam kegilaan.
“Kenapa Nauli, kenapa kau selalu mendapat peran seperti itu? Kau tidak memerankan apa-apa, Nauli, kau hanya memindahkan hidupmu ke atas panggung. Kau bukan aktris, Nauli. Kau tidak bisa berakting!” kau muntahkan kalimat itu ke pembaringan. Kau suntuki dirimu hingga tertidur.
Kau bangun dengan mata bengkak. Suasana sudah condong melewati angka tiga di jam dinding. Tergesa kau ke kamar mandi. Terlalu banyak tidur selalu saja membuat perutmu tak enak. Semacam ada yang berontak. Dan ketika semuanya telah keluar, kau baru sadar, sebuah naskah baru harus kau terima sore itu juga.
Kau tiba di gedung pertunjukan yang menjadi markas kelompokmu tepat pukul lima. Sebagian besar orang telah datang. Telah menerima setumpuk kertas yang berisikan cerita. Namun, belum sempat kau dekati mereka, Binsar menghadang. “Sudah sehat kau, Nauli?”
“Memangnya aku sakit?”
“Tadi malam kau menangis.”
“Sekarang?”
“Ya, tidak lagi.”
“Ya sudah.”
Kau biarkan Binsar yang mengeluarkan tatapan bingung. Kau pun bergegas ke kumpulan orang-orang. “Aku mau peran yang lain. Aku bosan peran perempuan cengeng. Bertindak keras hanya karena hatinya sakit. Aku butuh peran yang menantang,” teriakmu begitu tiba di sana.
“Seperti apa?” balas salah satu dari kumpulan orang.
Kau terdiam. Bingung.
“Seperti seorang ibu yang begitu setia menunggu anaknya pulang dari merantau. Sekian tahun menunggu dan terus saja memasakkan makanan kesukaan anaknya walau sang anak tak pernah pulang?” sambung orang itu.
Kau masih terdiam. Masih bingung.
“Atau, seorang anak perempuan yang tak pernah pulang ke rumah ibunya karena tidak suka masakan ibunya?”
“Ya, yang kedua itu,” balasmu.
“Ya, sudah. Ambil ini,” ucap orang itu sambil melemparkan naskah. Dalam pikirannya, mungkin dengan peran barumu, kelompok sandiwaranya akan semakin laku.
Kau terima naskah itu dengan suka cita. Lalu, kau duduk tenang sambil menunggu perintah.
“Pelajari naskah, satu minggu lagi kita mulai latihan,” ucap orang itu.
Kau tersenyum. Kau dapat peran baru. Kau pulang dengan ringan. Kau telah menerima kesempatan untuk mengubah karakter. Ya, sejak bergabung dengan kelompok sandiwara itu, kau selalu saja kebagian karakter yang sama; perempuan yang kehilangan kekasih. Peran yang cocok, sebenarnya. Setidaknya, penonton suka dengan peran yang kau mainkan. Namun, pergolakan dalam dirimu telah mengalahkan tepuk riuh penonton. Kau butuh yang lain. Kau butuh tantangan peran. Dan, kini semuanya telah di tangan.
Namun, sebelum kau sampai bibir gedung, Binsar kembali menghadang. “Memang sudah sehat tampaknya. Ceria kali kau...,” katanya sambil terseyum lega. “Jangan menangis lagi, ya, Nauli,” sambungnya.
“Kau mau menjadi sapu tanganku setiap kali aku menangis?”
“Ya, kenapa tidak?”
“Kalau begitu, simpan jauh-jauh harapan itu, Binsar.”
“Bagaimana kalau aku jadi cermin tempat kau melihat senyum?”
“Untuk itu aku tak harus berpikir, cermin sudah kupecahkan.”
Lintas waktu. Kau perankan terus karakter seperti itu. Perempuan muda yang tak pernah sesuai dengan pilihan dan pandangan orang tua. Kau perempuan pemberontak. Individualis dan kurang peka.
Layar tutup. Panggung gelap kembali terang. Suara penonton perlahan menjauh, meninggalkan bangku-bangku yang sebelumnya penuh. Anggota pentas mulai mengangkati properti satu persatu. Pelan namun pasti, panggung kembali kosong. Kau duduk bersila di sudut panggung, menatap layar, tanpa gerak. Sama sekali tidak terpengaruh oleh suara ribut; ucapan selamat atau basa-basi penuh suka.
Tak ada yang mendekat. Tak ada yang memperhatikan. Kau sendiri menatap layar hitam. Kau melihat ke atas, tepat ke atas kepalamu, tak ada Binsar di sana. Kau pun mulai menangis.
Sayang, kau tak melihat Binsar di belakangmu. Jauh, di balik tumpukan properti yang telah dipinggirkan, siap disimpan dalam lemari atau belakang panggung. Ia lihat kau menangis. Segera saja ia datangi, “Kenapa kau masih menangis, Nauli?”
Kau terkejut dan langsung berlari. Kau pulang tanpa sempat menghapus tata rias maupun mengganti kostum.
Setiba di rumah kau tak tertawa. Kau semakin menangis di depan cermin. Dan kau pun berteriak. “Bodoh! Kau bodoh, Nauli! Kau tidak bisa berakting. Kau bukan aktris. Kau hanya memindahkan hidupmu ke atas panggung.”
Kau suntuki dirimu hingga tertidur.
Besoknya, tepat jam lima kau datangi kumpulan orang di gedung pertunjukan markas kelompok sandiwara itu. Binsar tak ada. Tak ada kata sambutan seperti biasa. Sepi. Binsar entah di mana.
“Aku berhenti.” Kau katakan itu pada kumpulan orang tanpa menunggu balasan mereka. Kau langkahkan kaki berbalik. Dan, kau sampai rumah, menatap cermin. “Kenapa kau Nauli, kenapa kau berhenti bermain luka. Bukankah dengan luka sesuatu yang indah akan semakin indah terasa? Kalau begini, kau memang bukan aktris! Kenapa kau pindahkan cerita panggung ke dalam hidupmu. Aktris yang terlena dengan perannya adalah bodoh. Dan, itu adalah kau!”
Kau suntuki dirimu. Namun, kali ini kau tak tertidur. Kau pandangi lagi cermin. “Belum kupecahkan, tapi kenapa Binsar tak ada? Aku ingin tersenyum...”
Medan April 2008
Info Buku
Judul Buku: Sastra Anak-Anak| Penulis: Dra. Mursini, M.Pd.| Penata Letak: Muhammad Yunus Nasution| Sampul :Aulia Grafika| Penerbit: Cipta Pustaka Media Perintis Cetakan: Pebruari 2011| Tebal: x + 232 halaman
“INILAH buku yang sangat penting dibaca mahasiswa, guru, dosen, bahkan
orang tua sekalipun. Demi membentuk karakter anak agar tidak bertindak
semberono melalui apresiasi dan pembelajaran sastra anak-anak.”
Buku “Sastra Anak-Anak” ini ditulis Dra. Mursini, MPd yang berprofesi sebagai dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Unimed. Selain mengajar, ia juga menjadi instruktur TOT-CTL, BKB, KTSP, dan Pendidikan Berwawasan Multikultural tingkat nasional. Beliau juga pernah dilibatkan menjadi instruktur pada TOT pembelajaran kelas permulaan di daerah bencana yang bekerja sama dengan NGO wilayah Aceh dan Nias. Sampai saat ini ia masih diamanahi sebagai instruktur Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) wilayah Sumatera Utara.
Berbicara tentang buku sastra anak, sepuluh jari masih menganggur menghitungnya di deretan lemari buku . Padahal sastra untuk anak-anak dapat membentuk karakter positif pada anak. Dengan karya sastra, guru dan orang tua dapat menyuburkan kedekatan dengan anak, mendidik, juga menghibur. Anak akan terdidik dengan pesan-pesan yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Baik yang berupa puisi, cerita-cerita (prosa-fiksi), dan drama anak. Guru atau orang tua bisa menghibur anak-anak dengan tampilan sastra anak yang menarik dan pantas dikonsumsi anak-anak.
Sastra bagaimanakah yang bisa disuguhkan pada anak-anak?
Nah, biasanya anak-anak lebih menyukai sastra lisan. Sastra lisan anak dapat dicerna anak-anak saat mereka bermain, menjelang tidur, dan ketika mengikuti pelajaran di sekolah. Sastra lisan anak ini termasuk warisan pusaka, mereka bisa menelannya kapan saja mereka mau. Hanya saja yang menjadi pertanyaannya apakah semua guru atau orang tua memiliki warisan pusaka sastra tersebut? Bagi guru dan orang tua yang tidak kebagian warisan pusaka tersebut, jangan terlalu cemas. Sebab buku ini mengemas sebagian warisan tersebut yang bisa diberi pada anak. Semua akan menjadi perbendaharaan pada anak dan mereka bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga bisa menurunkannya pada anak-cucu mereka nantinya.
Mengapa Anak Meninggalkan Sastra?
Dewasa ini tak jarang kita lihat anak-anak bermain yang terkadang bernilai negatif, cabut sekolah dan mengendap di warnet. Bermain facebook, game online, dan permainan lain yang telah disediakan operator (pemilik) warnet. Bukan berarti kita menafikan teknologi dikenal anak-anak, tapi harus dengan pantauan dan bimbingan orang tua atau guru.
Kehadiran buku ini di tengah-tengah kita sangat membantu bagi mahasiswa yang ditugaskan menjaga adik atau keponakannya, guru mendidik muridnya, dan orang tua membimbing anaknya.
Bisa dikatakan anak zaman sekarang canggih-canggih, terkadang terlihat hanya bermain seperti biasa. Namun terkadang di balik itu semua ada hal yang juga harus kita perhatikan. Terkadang anak-anak jaman sekarang sudah berani taruhan (judi) saat mereka bermain. Miris memang jika kita menemukan anak yang mau seperti itu. Sebagai orang dewasa, setidaknya kita melarang anak tersebut jika kita temukan demikian, jangan hanya tinggal diam. Jika kita tinggal diam, lantas mau jadi apa si-anak tersebut jika telah dewasa nanti? Berjiwa bobrok. Haruskah yang demikian diwariskannya pada generasi berikutnya?
Dalam buku ini, tiap babnya mengupas sekelumit tentang sastra khususnya bagi anak-anak. Mulai dari karakteristik sastra anak, manfaat sastra anak, jenis cerita fiksi anak, sejarah komik, bahkan hal yang mendorong perkembangan bahasa dan sastra anak-anak di sekolah. Setidaknya buku ini berguna bagi para guru di sekolah dan orang tua di rumah tentunya.
Buku ini akan membantu bagi siapa saja yang siap mewariskan sastra dan mengabadikannya. Apakah Anda juga termasuk orang yang mampu membentuk karakter anak lewat sastra? Lihat saja efek dari buku ini setelah Anda membacanya dan mengajarkannya pada anak!
( M. Irsyad A Sungkunan Lubis )
Penulis adalah mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia Unimed, bergiat di Komunitas Mahasiswa Pecinta Sastra Indonesa
(Kompensasi). .
Puisi Kontemporer di Batin Penyair Muda Sumut
SECARA sederhana sastra kontemporer berarti sastra masa kini, sastra mutakhir, sastra yang hidup pada zaman sama. Sedangkan dalam arti luas, sastra kontemporer adalah sastra yang hidup pada masa kini atau dalam waktu yang sama, atau sastra yang bergerak mendahului zamannya.
Puisi kontemporer nyatanya lebih dipilih sebagian penyair muda karena stukturnya yang bebas dan tak mengikat sehingga akan mengalir begitu saja tanpa harus mempertimbangkan bunyi, irama dan sebagainya.
Keunikan karakteristik puisi kontemporer yang menarik, tantangan yang muncul ketika kita ingin memaknainya juga menjadi menu pilihan. Tidak jarang permainan bentuk dan tanda baca dipakai menggantikan kata-kata, seperti pada puisi-puisi Sutardji yang dianggap pelopor puisi kontemporer Indonesia.
Sementara bagi sebagian besar penyair muda lainnya, puisi konvensional yang memegang kesederhanaan bentuk dan mengutamakan isi dirasa lebih mengena dalam menyampaikan ide. Selain itu, menurut mereka puisi-puisi konvensional akan terasa lebih indah bahasanya.
Di dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak) anggota dan calon anggota diarahkan untuk menulis puisi-puisi yang tidak keluar dari jalurnya. Mereka tidak dibiasakan membuat puisi yang semena-mena terhadap makna kata dan bahasa. Namun pada intinya, penulis sangat menjunjung kebebasan dalam berekspresi, khususnya dalam berpuisi. Bagaimanapun bentuk dan isi puisi mereka, penulis tetap memberi apresiasi. Sebab, lebih baik berkarya daripada hanya mencerca. Yang terpenting dari seorang penyair; bersyair. Setelah bisa bersyair barulah diarahkan bagaimana mengelola syair.
Tetapi nantinya jika mereka merasa ingin membuat karya-karya di luar jalur yang umum, atau dengan “tidak sadar” tercipta suatu puisi kontemporer dari mereka, hal ini tidak akan menjadi persoalan. Karena, seorang penyair bebas menuangkan ide-idenya.
“Tidak Sadar” di sini maksudnya bahwa dalam menciptakan karya sastra (dalam hal ini puisi) seseorang cenderung tidak berniat menciptakan puisi kontemporer sebelumnya, namun karena dorongan imajinasi yang entah kenapa menuntun penanya menggoreskan karya sedemikian rupa, terciptalah karya yang ternyata berciri kontemporer.
Senada dengan istilah licentia poetica, berupa kebebasan memanipulasi kata oleh penyair demi menimbulkan efek tertentu dan terkadang menabrak kaidah-kaidah dasar berbahasa. Penyimpangan dari kaidah dasar biasanya terjadi pada arti kosakata (leksikal), bunyi-bunyi kebahasaan (fonologi), tata makna (semantis) maupun tata kalimat (sintaksis), karena pada dasarnya mengarang merupakan usaha menggunakan bahasa secara maksimal untuk membangun “suatu dunia” dalam sudut pandang yang dipilihnya dan dalam prinsip yang dianut untuk membangun keserasian antara isi dan ungkapan.
Berhubung masih tergolong baru berkecimpung di dunia sastra, puisi kontemporer masih menjadi perdebatan di benak penulis dan mungkin juga di benak para penyair muda.
Ternyata, perdebatan di benak penulis itu telah lama pula jadi perdebatan dalam dunia sastra. Perdebatan yang dimaksudkan di sini adalah pertanyaan apakah simbol-simbol atau kata yang seolah dipermainkan itu mampu menyampaikan makna? Apakah sebuah kata yang dibentuk sedemikian rupa itu bisa disebut puisi? Sementara merujuk definisi puisi yang menyatakan bahwa puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan larik dan bait (Sudjiman: 1984), maka puisi semacam itu belum mewakilinya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang kerap muncul di pikiran penulis, juga pikiran para penyair pemula.
Tetapi bagaimana pun itu, puisi kontemporer telah berhasil meramaikan khazanah perpuisian di dunia sastra dan menjadi salah satu genre sastra yang mendapat tempat di hati pembaca, pun penyairnya. Di dunia akademis pun sastra kontemporer telah mendapat tempat pembahasan.
Memang tidak bisa dipungkiri, keunikan puisi-puisi kontemporer “mini kata” ini menjadi daya tarik tersendiri, sehingga kadang mempengaruhi imajinasi untuk membuat pula karya-karya serupa.
Berdasarkan pengamatan singkat yang penulis lakukan, beberapa penulis muda Sumut mengaku membuat puisi kontemporer dan mengirimkannya ke media massa lokal, namun puisi-puisi seperti itu jarang lolos. Penyebabnya mungkin saja sesuai dengan yang penulis pikirkan atau karena pertimbangan lain, itu semua berpulang kepada redaktur dan pengasuh rubrik sastra yang tentunya punya alasan jelas.
Kekontemporeran puisi karya penyair muda tentu berbeda-beda sifatnya, misalnya jenis puisi naratif yang sedang digemari para penyair muda Sumut, bahkan nyaris menyerupai prosa singkat sehingga sulit membedakan apakah itu sebuah puisi atau prosa. Akhir-akhir ini mulai menjamur pula fiksi mini (flash fiction) yang jumlah katanya sangat minim. Ini jelas-jelas membuat pemikiran menjadi tumpang tindih, terlebih bagi pemula yang belum begitu mafhum genre sastra. Lantas, ketika puisi-puisi keluar dari jalurnya namun tak mencapai posisi kontemporer, dimunculkan istilah semi-kontemporer.
Letak kekontemporeran atau tidaknya puisi penyair pemula bisa kita lihat pada karya-karya mereka di media massa lokal. Akhirnya, segala pertanyaan dan perdebatan keberadaan sastra kontemporer khususnya di Sumut, lagi-lagi hanya menjadi perdebatan batin penyair muda dan akan terjawab seiring perkembangan kedewasaan proses kreatif mereka. (wahyu wiji astuti)
Indah Zuhairani Siregar
Secuil Cinta Setelah Tanah Masak
Maka dengan setangkai malam,
kuciptakan kau kekasih
Bahkan dari belukar yang semak di dadaku
Dan rimbun di rambutmu
Adalah engkau langit bagi hujanku
Dan adalah kau danau, bagi tumpahku
Dan inilah cintaku
Cinta musim senja di sekeping hutan
Kau bisa melirik satu pepohonan
Juga ini, yang lahir sebagai anak ketiga-Nya
Menyisir semak, bukan rambutmu
Menerjunkan jurang bukan cerukmu
Pun mengalirkan kali, bukan airmu
Dia pula menyerak bintang bukan jemarimu
Sebagian gerak, sebagian diam
Diam, sediam laut yang melayarkan gaduh di jantungmu
Tapi aku dari melata dan merangkak,
tiba dari ringkih dadamu
Dari Turab-Attin-dan Salsalmu,
Maka tanpa ummi bagiku
menumbuh nafsu di hadapmu
Aku yamna yang lahirkan kau dan kau dari many yumnamu sendiri
Mengibar nuhtfah menjadi alqalah
Maka berilah buah itu,
Biar kuldimu mengiba sedak
Dan dadaku laut yang tumpah
Pada sudut bibir mudghah–mu
Kasih….
Harum betul baunya, rasakanlah
Kecup basah yang cungkin arinya
Pertama tama, kuajari kau cara memilih tepi
Kedua kubiarkan kau menikmati pagi
Ketiga, kusimpan napasmu di beranda hati
Keempat ada kenyang yang merindang
Buncah di yumna
Dan bejana kian penuh
Tempias
Rekah
Gerimis tuntas
Ntahlah Apa Kau Kini!
semakin sempit sajak,
ketika tiada logam atau tembaga yang dicair menuju kali rasa.
dan peleburan bait-bait mulai tak lagi masak dan didih,
cuma tepukan pada panggangan bara.
dan menetaslah sajak panas,
yang kau kikir jadi belati.
untuk apa? (tanyaku).
untuk bunuh diri, karena sajak kian sunyi!
membacamu seperti menengok rumus matematika.
rumit memang.
tapi tetap ada sama dengan
bahkan rumus phitagoras kehilangan per akarnya,
aku mau menegukmu,
sehausku.
bahkan kukunyah kau,
selaparku.
lalu kumuntahkan semuak-muakku!
sini mendekatlah.
ada segumpal ludah yang ingin terludah...
Kharismatik Sastra Lokal
Menguak nilai-nilai budaya memang tidak luput dari bagaimana menyajikan aturan, norma-norma dan falsafah hidup yang terkandung di dalamnya. Kemauan seseorang untuk mengakui apalagi mendalami sebuah tatanan budaya yang dimilikinya terkadang menjadi hal yang paling fundamen dalam mengembangkan budaya ke arah yang lebih baik.
BANYAK cara dilakukan orang agar nilai-nilai budaya mengakar dalam sanubari kehidupan bermasyarakat, salah satunya dapat ditempuh dengan bersastra. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ragde F. Daye dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu. Pria asal Solok, Sumatera Barat ini berusaha masuk dalam intrik budaya di tengah polemik kehidupan modern saat sekarang ini.
Dalam 15 cerpen buatannya ini, Ragde menuturkan soal budaya Minangkabau yang mulai ditinggalkan. Identitas anak rantau yang biasa dilabelkan pada anak-anak muda suku Minang seolah menjadi kegelisahan tersendiri bagi si penulis. Hal itu dapat kita buktikan dalam cerpennya berjudul Rumah Lumut. Bagaimana pun jua, seorang ibu tetaplah perempuan biasa. Tak punya banyak kuasa yang dimiliki olehnya tatkala anak lajang yang dipunya hendak mengumpul rezeki di tanah orang.
“Mak, saya pergi!” Anak muda itu membawa tangan Mak Leha dalam genggaman tangannya ke kening. “Izinkan saya. Mak.”
Mak Leha mula-mula bertahan untuk tegak. Tapi tak kuat. Dia berjalan ke bangku di sisi jendela. Lantai papan berbunyi lirih mengiringi drama pagi kesembilan.
“Telah tetapkah hatimu?”
Pemuda itu, Rozehan, mengangguk.
Tabiat merantau memang sudah telanjur melekat di kalangan pemuda Minang. Terlebih kalau tanah di kampung tak lagi menghasilkan benih rezeki untuk menyambung sisa hidup yang ada. Tapi apa hendak dibilang, kehidupan kota lagi-lagi sering menggelincirkan para anak muda dari kampung, berniat datang mengisi lambung, konon pastilah limbung lantaran kehidupan tak seindah apa yang diimpikan.
Inilah resah gelisah yang hendak ditawarkan penulis dalam cerpen ini. Kebanyakan anak muda Minang pergi dengan niat yang mantap namun mereka sering lupa kemana alamat pulang hendak dituju.
“Karena aku bukan ibu Malin Kundang, maka aku tak akan pernah mengucapkan kutuk, meski barangkali kalian benar-benar telah melupakan jalan pulang ke rumah.”
Kisah-kisah realis memang kerap dibungkus Ragde dalam antologi ini. Cenderung nada cerita keibuan yang sering merangkap menjadi kisah cinta yang melankolis. Penulis berusaha menampilkan kehiruk-pikukan dan sesak napas masalah sosial serta orang-orang terasing. Mengutip pula dari apa yang disampaikan Bramantio pada esai di dalam antologi ini bahwa Ragde juga mengusung sejumlah cerpen yang bersifat lebih personal. Meskipun demikian, bukan berarti cerpen-cerpen tersebut menjadi kurang menyesakkan.
Bukti Lokalitas
Seperti cerpennya yang berjudul “Empat Meter dari Pangkal”. Ia hadir tidak lagi menyajikan cerita yang mengarah pada aspek sosial seperti kemiskinan, kesedihan atau kematian melainkan sebuah cerita yang lebih akrab dengan dunia nyata dan dunia impian. Bahkan penulis lebih saklek berada pada dunia di antaranya. Kebanyakan pembaca umum memang tidak gampang untuk bisa menafsirkan tipikal cerita ini. Penulis menyajikan cerita tersebut sarat dengan simbolik dan pernyataan-pernyataan yang tak bersudut. Namun demikian, dalam buku ini karya “Empat Meter dari Pangkal” memberi kekhasan tersendiri tatkala ia disejajarkan dengan cerita-cerita sebelumnya.
Menelaah judul pertama dalam kumpulan cerita ini memang akan membawa kita pada sebuah pengertian bahwa Ragde memang lebih memilih cerita-cerita yang dingin bernada keibuan seperti yang saya paparkan di atas. Perempuan Bawang adalah bukti bahwa penulis memang kerap menjadikan sosok ibu, istri dan perempuan lainnya dengan berbagai peran dan karakter sebagai tokoh utama yang penting untuk diangkat menjadi sebuah cerpen.
Meski kemudian tokoh-tokoh perempuan itu dihidupkan Ragde berbalut kerisauan tentang Minangkabau sebagai identitas. Pada cerpen Perempuan Bawang tampak jelas bahwa Solok yang disetting menjadi pasar tradisional yang membantu Ragde untuk menceritakan bagaimana Sumatra Barat mengental di dalamnya. Menyajikan data-data terkait bagaimana Solok berkembang-biak lewat pasar tradisional. Keadaan carut-marut pasar tradisional hingga bagaimana konflik batin tokoh yang diciptakan penulis seolah memberikan kesan beginilah Solok dengan pasar tradisionalnya.
Bukan semata hendak menceritakan tokoh-tokoh dan konfliknya melainkan ada titipan yang hendak ia sampaikan sebagai bukti lokalitas yang mengental di dalamnya. Maka kalau hal ini dibahas, tentulah personalitas penulis akan muncul secara nyata. Tapi saya hanya akan menyetujui bahwa kharismatik Solok sebagai pasar tradisional mengendap perlahan dalam Perempuan Bawang yang Ragde ciptakan.
Cerita serupa hampir mirip dengan Lekuk Tekuk, Jarak, dan Di Solok Aku Akan Mati Perlahan. Pada cerpen Jarak, Solok adalah tanah kelahiran yang kelak disadari oleh Attar, tokoh sentral cerpen ini, tidak menjanjikan apa-apa. Bertahun-tahun berlalu tapi tidak sedikit pun terbersit di dalam pikirannya untuk kembali ke Solok untuk menjumpai masa lalunya.
Intinya, siapa pun yang hendak membaca buku ini pastilah akan menambah khasanah budaya yang dimilikinya. Terlebih bagaimana budaya Minang cukup jelas digambarkan di dalam buku ini. Meski Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu secara keseluruhan adalah sebuah kumpulan cerpen yang muram. Keresahan tumbuh subur di dalamnya, hantu-hantu menemukan taman bermain yang mengerikan dan penderitaan tak pernah kekurangan nutrisi di dalamnya.
Meskipun demikian, saya setuju dengan ungkapan Bramantio bahwa ada sesuatu di muara cerita yang nuansanya bisa dianggap berbeda dengan bagian hulu dan alirannya. Yakni muara yang cerah. Ada harapan yang hendak ditulis Ragde dalam sekumpulan cerita-cerita muram ini. Harapan itulah yang seharusnya diuraikan oleh khalayak pembaca secara umum. Selamat membaca!
Penulis adalah pencinta buku dan aktif menulis karya sastra, pernah menjabat. (sukma)
Menggugat Perempuan Melalui Kain Putih
CERPEN “Kain Putih Itu Tak Bernoda” karya Chairani, lulusan strata satu jurusan bahasa dan sastra Indonesia, yang mendedikasikan diri sebagai guru di SMA Dharmawangsa Medan, saya baca di Rubrik Rentak Harian MedanBisnis, Minggu 28 November 2010.
Membaca cerpen Chairani ini, seperti mendengar kembali petuah orang tua zaman dahulu yang kerap berpesan agar anak gadisnya selalu menjaga keperawanan dan mereka pun melakukan berbagai upaya untuk itu. Berbagai pantangan diwejangkan kepada anaknya demi keperawanan yang merupakan lambang kesucian dan budi pekerti.
Itu dulu, saat kehidupan berjalan di atas nilai-nilai budaya. Hidup begitu indah dengan berbagai pantangan dan larangan. Bahkan, ada pantangan yang menjadi misteri. Toh, hal itu tetap dipatuhi sampai akhirnya budaya pikir melebihi budaya etika dan nilai rasa.
Kini, masihkah keperawanan dipersoalkan? Itulah yang dipertanyakan secara tersirat oleh Chairani melalui “Kain Putih Itu Tak Bernoda.” Zaman kini, ketika godaan datang sangat terbuka, masih sanggupkah perempuan menjaga keperawanannya hingga melewati fase demi fase masa pranikah?
Sebagai perempuan, secara tersirat, Chairani tidak menyukai pertanyaan itu. Di sini terlihat Chairani berada pada posisi gendernya. Masih adanya pertanyaan itu, menandakan gender tak mungkin terhapus. Menghapuskan gender berarti juga menghapus beberapa nilai budaya. Menurut Chairani, salah satu etnis yang masih mempertahankan budaya menjaga keperawanan adalah masyarakat nelayan. Tapi, tak jelas etnis mana itu. Chairani hanya memaparkan latar tempatnya, tak mendeskripsikannya melalui penyebutan nama suku, karakter dialog, sapaan kekerabatan, atau hal lain yang bisa jadi petunjuk.
Untuk membuat kesan sastra pada cerpen, penyajiannya memang tidak harus berbelit ke sana-sini. Alurnya pun tidak harus berputar-putar hingga memusingkan kepala. Chairani telah melakukan itu. Dia menyajikan cerpen ini dengan alur mudah dipahami dan enak dibaca. Kisah yang dipaparkannya mulai berkiblat pada kondisi sesaat, yang disitilahkan dengan instan.
Chairani mengisahkan soal gejolak hati tokoh utama (Aku/Saodah) yang cemas dan batinnya tersiksa. Kecemasan itu ditimbulkan oleh kegagalannya memberikan darah perawan pada selembar kain putih. Kain putih itu sengaja disediakan oleh keluarga Topan.
Pada mulanya keluarga mertua beranggapan bahwa Topanlah yang belum mampu menjalani fungsinya sebagai suami. Setelah hari demi hari terlewati, kecurigaan mengarah kepada tokoh Aku. Tak bisa dipungkiri, Aku memang sudah tidak perawan. Sayangnya, tak jelas sebab-musababnya mengapa dia bisa tidak perawan. Memang kebanyakan perempuan selalu bertahan untuk tidak menceritakan sebab-musabab itu. Tapi, ini cerpen. Tentunya sebab-musabab bisa diceritakan melalui dialog batin atau yang lain.
Topan tak banyak bicara tentang keperawanan itu. Topan, sang suami, hanya sekali menanyakan tentang keperawanan tokoh Aku.
“Jawab yang jujur, apakah kau masih suci? Maafkan pertanyaanku, Saodah. Aku…, aku, maafkan aku.”
Pertanyaan Topan tak dijawab tokoh Aku. Pertanyaan itu dijawab dengan deskripsi sikap tokoh Aku. Tokoh aku menangis. Sebagai laki-laki, Topan pun luluh dengan tangisan itu.
Ternyata, pihak keluarga mertua telah merencanakan hari penyambutan untuk menantu yang benar-benar telah memberikan keperawanan kepada suaminya. Ibu mertua telah menyediakan air dalam tempayan. Air itu diberi bunga tujuh rupa. Air yang telah bercampur bunga itu akan digunakan untuk menepungtawari pengantin perempuan yang mampu memberikan noda pada kain putih. Tapi, apa hendak dikata, tokoh Aku secara tak sengaja telah memecahkan tempayan berisi air bunga itu. Ini merupakan pantangan dan menambah kekecewaan ibu mertua.
Upacara tepung tawar harus digagalkan. Tokoh Aku mengaku memang dia tidak perawan. Sebagai upaya menunjukkan kekecewannya, Topan pergi melaut dan tak pernah kembali. Tokoh Aku menunggu kepulangan Topan sambil memikirkan janin dalam rahimnya. Setelah itu cerita terhenti, menandakan plot terbuka.
Pilihan plot terbuka memberikan kesempatan kepada pembaca berpihak kepada yang mana pun. Ide yang dikandungkannya menyangkut masalah gender. Chairani tak memaksa keberpihakan itu. Bisa dimakluminya bahwa orang akan cenderung berpihak kepada gendernya.
Saya melihat masalah utama yang dimunculkan Chairani keperawanan sebagai lambang kesucian perempuan. Bagi Chairani, pernyataan ini sangat sulit diterimanya. Ini adalah hal yang berat bagi perempuan. Chairani juga menyampaikan pilihan, memang sangat mulia bila perempuan dapat menjaga keperawanan hingga menjalani malam pertama. Tapi, bukankah sejak dahulu kala pun keperawanan telah diragukan? Buktinya, ada etnis yang menyediakan kain putih untuk pembuktiannya. Ini menandakan bahwa sejak dahulu telah ada pra anggapan setiap gadis belum tentu perawan. Namun, jika ada perempuan saat ini yang sanggup mempertahankan ksuciannya hingga ke pintu rumah tangga, itu yang lebih baik.
Sebuah cerita tentu memiliki keterkaitan dengan kondisi kekinian. Ada kepekaan yang dimiliki Chairani terhadap hal itu. Saat ini, pada kuantitas gender yang lebih banyak jumlah perempuan daripada laki-laki, sudah biasa ada perempuan menyerahkan keperawanan kepada orang yang disukainya. Ada yang berpendapat, “Kalau tak nekat, kapan punya pacar?”
Meningkatnya jumlah perempuan ternyata sangat berpengaruh terhadap kondisi pergaulan antarlawan jenis yang disebut “pacaran” itu. Bukan lagi pandangan asing di pinggiran jalan agak sepi, jika mata kita mau menelisik, akan terlihat perempuan menempelkan tubuh kepada laki-laki yang dianggap pacarnya. Ini sangat berbeda dengan kondisi tahun delapan puluhan. Tahun delapan puluhan, gadis melangkah malu-malu, menunggu dirayu jejaka. Kini, gadis agresif merayu pilihannya. Mungkin Chairani jengah terhadap hal ini hingga dia menciptakan cerpen “Kain Putih Itu Tak Bernoda.”
Deskripsi cuaca yang dipaparkan di cerpen ini cocok sebagai pendukung suasana kesedihan, kegusaran, atau kekecewaan. Chairani mendeskripsikan gerimis, cuaca dingin, suara halilintar untuk menghanyutkan pembaca pada suasana yang dibuatnya.
Cerpen bukan berita. Masalah yang diangkat tidak harus menghebohkan. Tidak ada kasus penyiksaan, pemotongan alat kelamin, mertua memerkosa menantu, bunuh diri karna beribu masalah yang melanda, anak membunuh ibunya kemudian memerkosa neneknya, suami membakar istri, atau masalah berat seperti pada pemberitaan. Memang bukan beratnya persoalan yang jadi inti keindahan pada cerpen. Tapi kedalamannya menyentuh hati pembaca merupakan unsur penting. Masalah keseharian dapat diangkat hingga menggugah hati pembaca untuk memilih keberpihakan.
Ada keraguan Chairani untuk memberikan keberpihakan itu. Tersirat, ia berpihak pada gender wanita dengan mengalaskan janin di rahim tokoh Aku. Hanya itu alasannya. Tak dideskripsikannya hal-hal lain yang memperkuat alasan itu. Mungkin karena Chairani menyadari bahwa keberpihakannya itu takkan banyak diterima orang.
Untuk memokuskan cerita pada idenya, dia tidak mengawali cerpen-nya dengan kehidupan berpacaran atau prosesi pernikahan. Namanya cerpen, ia memulai penyajian langsung ke permasalahan, yaitu malam pertama yang tak menyenangkan. Memang tidak mengulur-ulur, tapi seperti ada yang tertinggal. Tidak diceritakannya latar perkawinan tokoh Aku dengan Topan pada cerpen itu. Bukankah sebuah perkawian harus ada landasan? Dasar perkawinan paling kelasik adalah cinta. Tapi boleh saja Chairani membuat hal lain sebagai dasar atau latar perkawinan itu. Sayangnya, tak sedikit pun disinggungnya persoalan cinta. Apakah cinta masa kini sudah ditelantarkan? Atau Chairani takut terkesan cengeng? (saiful amri )
Remaja Menulis Sastra
“Menulis mudah, menulis indah, menulis dan menulis. Dalam menulis tidak ada kata sulit untuk melakukannya. Apa yang terlintas dalam pikiran tulis, apa yang terlintas di hadapan diri tulis, jadi kejadian apapun, di mana pun yang sering akrab dengan kita, tulis. Didorong juga dengan semangat yang keras dan tanpa ada kata menyerah, tanpa ada kata malas. Tanpa kreativitas semua ruangan tidak akan berpenghuni, tanpa kreativitas dunia hampa, maka tuanglah seisi duniamu dengan menulis, berkarya dan membaca. Itulah yang dituturkan Hasan Al Banna salah seorang pembicara dalam acara workshop sastra dan sekaligus launching buku Antologi Puisi, Cahaya dan Cerpen, Ma Hyang.
Dunia sastra berkaitan dengan dunia berbahasa, meramu kata dan melukis kehidupan. Dengan sastra hidup lebih indah, dengan sastra hidup lebih bermakna. Sastra bisa dikatakan sangat berperan penting dalam kehidupan. Sastra dapat membuat perubahan yang lebih baik, sastra juga dapat membuat orang lain menjadi jatuh cinta dengan makna – makna kata yang semilir mengalir.
Bagi orang yang kritis dalam berbahasa mereka menggambarkan suatu makna dengan hal yang sulit dibayangkan oleh kebanyakan orang lain. Tetapi, bila diperhatikan dengan teliti gambaran yang dibuat oleh orang – orang yang kritis berbahasa sangat mempunyai makna yang cukup mendalam. Bisa terbawa alur cerita. Tidak terlalu rumit untuk berkenalan dengan sastra yang sejatinya membantu dalam hal rutinitas sehari – hari. Namun yang disayangkan, masih banyak orang yang berpikir menulis dan membaca itu tidak penting hanya membuang waktu dengan percuma, padahal begitu banyak manfaat yang bisa dirasakan dengan menggeluti kegiatan di setiap harinya.
Sejatinya menulis dan membaca sejalan dan tidak terpisahkan satu sama lain. Menulis adalah hal yang paling menyenangkan dan mengasyikkan, dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dalam situasi apa saja. Begitu banyak seni serta budaya yang tidak terlepas dari kehidupan kita.
Dalam hal ini, sastra dapat terbentuk dengan wawasan dan pengetahuan yang luas. Semua objek yang ada di sekitar kita dapat kita prioritaskan dan kita ungkapkan. Salah satu contoh ialah puisi. Puisi adalah bentuk ekspresi pengalaman empirik atau batin seseorang yang diwujudkan dengan bahasa-bahasa indah, perumpamaan dan kiasan. Puisi juga merupakan cara penyampaian tak langsung dari seseorang terhadap sesuatu hal yang dirasa menggelitik naluri estetika, emosi dan perasaan jiwa yang dialami seseorang serta mempunyai nilai tinggi dan bermakna.
Cara tak langsung itu dilakukan melalui aneka bentuk perumpamaan yang terangkai dalam sajian kata-kata yang indah, singkat, multitafsir dan cerdas. Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra memiliki dua fungsi yakni sebagai karya sastra itu sendiri dan juga sebagai cara atau alat bagi siapa yang memegang puisi tersebut. Tak jarang kita temui seorang yang merayu orang lain menggunakan kata-kata indah sebuah puisi. Pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta biasanya merupakan orang-orang yang sangat sensitif dengan nilai-nilai keindahan sebuah puisi.
Jadi sangat jelas bahwa disamping memiliki fungsi sebagai karya sastra itu sendiri, puisi adalah juga sebuah cara atau alat yang diciptakan seseorang dalam meraih sebuah tujuan yang ia inginkan. Contoh lainnya ialah cerpen. Cerpen ialah, anak kedua setelah puisidari karya sastra.
Hanya saja cerpen merupakan sebuah cerita pendek yang diungkapkan dalam bentuk kisah kehidupan seseorang yang digoreskan di helaian kertas atau diary. Cerpen biasanya juga diangkat dari cerita – cerita khayalan, nyata, dan curahan hati seseorang. Bahasa dan isinya mudah dipahami. Dengan demikian, cerpen tersebut dapat di baca kurang dari satu jam dan isinya tidak terlupakan oleh pembacanya sepanjang waktu. Semua berharap, bakat menulis sastra dan budaya tidak terkubur dalam pusara waktu. Juga kreativitas terus tumbuh dan berkembang dari akar yang kuat serta tanah yang subur. Artinya teruslah menulis dan berkarya untuk menumbuhkembangkan budaya bangsa. Sehingga budaya tersebut dapat tumbuh dan kokoh walau harus berganti musim sekalipun.
Workshop Sastra
“Dalam menanggapi penulisan sastra diperlukan keseimbangan bahasa demi terjalinnya suatu kata yang teramu dengan baik. Dengan mencoba membangkitkan semangat karya, dan supaya lebih aktif, diperlukan juga proses yang cukup panjang. Menulis indah, mengenali tulisan fiksi tidak terlalu rumit, bahwa dalam menembus media massa harus memiliki potensi, agar tulisan yang diperlihatkan layak dimuat dan layak untuk dibaca. Intinya apapun yang berada di sekelilingmu tulis!”, ujar Afrion sebagai pembicara dalam workshop sastra, teknik penulisan fiksi menembus media massa, Sabtu, 26 Februari 2011.
Dalam workshop tersebut sesi pertama dibuka oleh Hasan Al Banna, dengan memperlihatkan beberapa gambar. Peserta harus mampu menjelaskan gambar-gambar ke dalam bentuk puisi. Sesi kedua, peserta diajarkan mengenai cara jitu menembus media massa oleh Afrion, dengan mengenali karakter dan visi misi media massa, membaca dan mengetahui standar tulisan, mengenali redaktur, mengemas karya serapi dan seteliti mungkin dan kirim karya sebanyak – banyaknya serta jangan pernah menyerah.
Selanjutnya, dengan pengenalan alamat email dari masing – masing media yang ada di kota Medan, khususnya untuk media yang berubrik budaya atau seni. Peserta harus memahami etika mengirim karya ke media. Peserta workshop yang terdiri dari pelajar SMU Negeri 3 Medan, MAN, SMU Sinar Husni, dan lainnya juga dihadiri kalangan mahasiswa yakni dari Unimed, UMN, UMSU USU, dan sejumlah mahasiswa dari universitas lainnya.
Dalam workshop juga digelar launching antologi buku puisi Cahaya, dan cerpen Ma Hyang. Serta pengumuman pemenang lomba baca puisi. Workshop ditutup dengan penampilan drama dari Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak) hingga selesai.
(liandi prassetiyadi, rudiansyah, angga pratama, sofyan ibrahim)
SAMPAI beranjak malam setangkai melati baru didapatkan. Tapi hujan yang mencurah tak kunjung henti. Lelaki itu sempat menunggu beberapa saat, angin yang mendesau seolah tak memberi ruang untuk sekadar lewat. Hujan masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Lelaki itu membulatkan tekad menapakkan langkah. Lelaki itu menelusuri ruang-ruang basah. Lelaki itu sesekali menggigit bibirnya. Bersebab guyur hujan dan deru angin, demi mengabulkan ingin. Seputih hatinya.
HUJAN masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Lelaki itu melangkah berkendara engah. Lelaki itu berjalan mengikis pongah. Hujan seperti bersimpati padanya. Tak henti membasuh luka sekujur tubuh yang mulai ringkih itu. Lelaki itu sesekali menggigit bibirnya. Bukan. Bukan karena perih tubuhnya. Bukan lantaran guyur hujan dan deru angin. Tetapi, ada yang lebih pedih dari itu, hatinya.
Hatinya gulana. Semacam beliung yang tak henti-henti menderes batang nadi. Mengoyak bilah-bilah dada. Lelaki itu hanya tak menyangka. Mungkin karena lupa. Atau ruang pikirnya yang terlalu sesak menggudang segala makna. Sehingga ia tak lagi sanggup mengunyah definisi-definisi setia. Tak sanggup meneguk tuak-tuak nisbi, Tumini, istrinya.
Pagi-pagi sekali, setelah menyusun botol jamu, Tumini menitip pamit padanya. Setelah melabuhkan bakul jamu di punggungnya, Tumini segera menapak langkah. Lelaki itu pelan-pelan mengutip kembali jejak yang ditinggalkan.
Biasanya Tumini selalu mengusung pulang sebelum magrib menjelang. Pulang dengan senyum penuh bintang, meski jamu hanya sedikit yang berkurang.
“Hati-hati di jalan, ya...”
“Ya, Kang Mas...”
Selalu saja seperti pengantin baru. Kecupan sayang tak pernah dilupakan. Meski usia perkawinan beranjak dewasa dan momongan tak pernah singgah di gendongan, tak pernah ada kata luka dalam diksi puisi cinta mereka.
Kalau dihitung mungkin hanya sekali pertanyaan mengejutkan terlontar. Pertanyaan itu langsung terasa begitu mengganggu. Mencemari kisah hari-hari mereka.
“ Tadi siang aku melihatmu di terminal...”
“Ya, tadi aku sempat singgah...”
“Siapa laki-laki yang kerap memelukmu dari belakang itu?”
“Hanya pelanggan.”
“Pelanggan?”
“Ya, pelanggan.”
“Hanya demi segelas jamu kau biarkan laki-laki itu berbuat sesukanya?”
“Itu di luar kendaliku...”
“Kebetulan hanya satu itu yang sempat terlihat...”
“Maksudmu?”
“Mungkin yang tidak terlihat lebih dari itu...”
“Ooo, berarti kau sudah berpikiran, bahwa aku perempuan murahan, begitu!?”
“Aku tidak berpikiran seperti itu.”
“Tetapi kata-katamu menuduhku seolah-olah aku bukan perempuan baik-baik,” Tumini menarik napas, “Mas, dengar. Seburuk apapun aku di pikiranmu, aku tidak akan menodai perkawinan kita.”
“Aku percaya.”
“Kalau kau percaya mengapa kau menuduhku seburuk itu.”
“Aku hanya kuatir.”
“Percayalah, Mas. Kalau kau percaya itu lebih cukup bagiku untuk tetap setia.”
“Aku percaya.”
“Ya, aku juga percaya padamu. Aku percaya kau tidak akan pernah berkhianat padaku...”
Setelah pembicaraan itu memang tak ada lagi kata-kata. Kata-kata sepertinya hanya pengantar ke puncak gairah. Kata-kata berganti irama desah. Berganti lumatan, pagutan, dan rangsang gelinjang. Hujan pun seperti telah ditakdirkan mengambil perannya sendiri. Menghadirkan orkestra romantis yang begitu puitis.
***
SEBAGAI seorang pengangguran, lelaki itu selalu menimbun malu. Harga dirinya sebagai seorang lelaki sering terusik. Ia ingin mendapatkan pekerjaan tetap, tetapi hanya pekerjaan semrawutan yang bisa ia dapat.
Ada rasa sedih, marah, kecewa, bercampur aduk dalam benaknya. Ingin rasanya ia menjadi suami seutuhnya. Kepala keluarga yang sebenarnya. Suami yang mencari nafkah, istri yang menjadi ratu di rumah. Tetapi, hal itu belum mampu diwujudkannya. Istrinya yang mencari nafkah, ia sebagai suami hanya melukis sesal di rumah.
“Kita belum punya anak...,” lelaki itu mulai mengeja cerita, suatu kali di beranda.
“Mas, jangan mulai lagi...,” Tumini menyeka air mata.
“Maksudku, sebagai seorang lelaki, aku ingin kau menjadi istri seutuhnya,” lelaki itu menyalakan sebatang rokok di tangannya, “Aku hanya tidak sampai hati melihatmu yang harus luntang-lantung mencari nafkah. Sementara aku hanya penjaga rumah yang tidak memiliki daya.”
“Mas, aku ikhlas menjalani ini semua. Aku hanya ingin membantumu..”
“Dan aku tidak sampai hati melihat semua itu...”
“Mas, dengarkan aku. Tidak ada setitik pun dalam pikiranku merendahkanmu. Kau adalah pahlawanku. Aku ingin berbuat sesuatu untukmu. Dan aku hanya bisa melakukan itu. Aku hanya bisa sebagai penjual jamu. Aku tidak bisa lebih dari itu. Percayalah.”
Kembali lelaki itu tersengat tak berdaya. Di matanya Tumini adalah sosok perempuan yang betul-betul sempurna. Selalu saja siraman-siraman sejuk yang terlontar dari bibir mungil Tumini. Keyakinannya semakin cadas. Rasa percayanya kepada Tumini sepadat logam. Lelaki itu semakin pasti. Pasti akan kesetiaan Tumini.
***
PAGI-pagi sekali lelaki itu pergi, setelah merapikan botol jamu Tumini. Tumini berselubung sakit. Menitip maaf padanya. Setelah melabuhkan kecup di dahi Tumini, lelaki itu segera menapak langkah. Lelaki itu diam-diam merangkai kejutan, mencatat pada jejak yang ditinggalkan.
Kali ini lelaki itu seolah mendapatkan kesempatan mengusung pulang sebelum magrib menjelang. Pulang dengan senyum penuh bintang, menabalkan niat kejutan cinta yang lama terpendam walau hanya sekadar setangkai kembang.
“Hati-hati di rumah, ya...”
“Ya, Kang Mas...”
Selalu saja seperti pengantin baru. Kecupan sayang tak pernah dilupakan. Meski usia perkawinan beranjak dewasa, dan momongan tak pernah singgah di gendongan. Dan kesempatan ini tidak akan begitu saja dilupakan sebagai pengerat diksi puisi cinta mereka.
Sampai beranjak malam setangkai melati baru didapatkan. Tapi hujan yang mencurah tak kunjung henti. Lelaki itu sempat menunggu beberapa saat, angin yang mendesau seolah tak memberi ruang untuk sekadar lewat. Hujan masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Lelaki itu membulatkan tekad menapakkan langkah. Lelaki itu menelusuri ruang-ruang basah. Lelaki itu sesekali menggigit bibirnya. Bersebab guyur hujan dan deru angin, demi mengabulkan ingin. Seputih hatinya.
Hatinya membunga. Semacam taman yang tak henti-hentinya menebarkan semerbak aroma surga. Menyusup pada bilah-bilah dada. Sesampainya di rumah, lelaki itu menggelupurkan sesak dada. Mungkin karena lupa. Atau ruang pikirnya yang terlalu sesak menggudang segala bahagia. Sehingga ia tak paham lagi mengunyah definisi-definisi setia.
Entah apa yang merasuk di kepalanya. Ada amuk yang mengelora. Ranjangnya membanjir gairah. Ranjangnya ditenggelamkan irama desah. Bukan gairah miliknya. Bukan irama desah miliknya. Setangkai melati di tangannya ikut merasakan deru amarah. Seketika tenggelam bermandikan darah. Belati di tangannya memerah. (Cerpen M. Raudah Jambak)
Cerpen Muram Batu
Berhenti Bermain Luka
KAU tersenyum. Kau dapat peran baru. Kau pulang dengan ringan. Kau telah menerima kesempatan untuk mengubah karakter. Ya, sejak bergabung dengan kelompok sandiwara itu, kau selalu saja kebagian karakter yang sama; perempuan yang kehilangan kekasih. Peran yang cocok, sebenarnya. Setidaknya, penonton suka dengan peran yang kau mainkan. Namun, pergolakan dalam dirimu telah mengalahkan tepuk riuh penonton. Kau butuh yang lain. Kau butuh tantangan peran. Dan, kini semuanya telah di tangan.
LAYAR tutup. Panggung gelap kembali terang. Suara penonton perlahan menjauh, meninggalkan bangku-bangku yang sebelumnya penuh. Anggota pentas mulai mengangkati properti satu persatu. Pelan namun pasti, panggung kembali kosong. Kau duduk bersila di sudut panggung, menatap layar, tanpa gerak. Sama sekali tidak terpengaruh oleh suara ribut; ucapan selamat atau basa-basi penuh suka.
Ini ketiga kalinya kau duduk seperti itu sehabis pentas. Kali pertama memang sempat mencuri perhatian hingga sebagian besar orang berebut lempar kata untukmu. Kali kedua pun hampir sama, walau berkurang, tetap saja ada orang yang bertanya juga beri tanggapan.
“Nauli, ada apa?”
“Nauli, kau sakit?”
“Kau belum makan?”
“Sudah, lupakan saja, ini hanya sandiwara. Besok masih ada peran lain untukmu. Jangan terbawa karakter itu terus. Sudah sana, bersihkan tata riasmu!”
Kali ini tak ada yang bertanya. Mungkin mereka malas. Sekian kata yang mereka lontarkan, dalam dua kali kesempatan, tak mendapat respon.
Dan, kali ini kau malah menangis. Menatap layar hitam dengan linangan air mata. Sendiri. Kau pun semakin tenggelam. Sebuah tangis bukan untuk diperhatikan atau mencari perhatian, tangis untuk dirasakan. Sesuatu yang pribadi.
Ketika suara-suara semakin hilang dan ketika raga pergi satu-satu, kau baru mulai melihat sekeliling. Air mata telah kering dan kau pun siap berdiri.
Sayang, kau tak perhatikan, lelaki yang sejak mula memperhatikanmu tetap di situ. Tepatnya di atas kepalamu. Ya, gara-gara tangismu, lampu yang harus ia lepaskan belum juga terlaksana. Mungkin ia terenyuh, mungkin pula terhibur. Tangis pada sosokmu adalah sesuatu yang langka. Karena itu, ia berpegangan kuat pada besi, takut tak kuat menahan keterkejutan itu.
“Tunggu!” katanya begitu melihat kau berdiri.
Kau pun terkejut hingga sampai tak sadar berteriak. Lalu, kau mulai mencari asal suara. Kau mendongak. Dan, kau tertawa. “Ngapain kau di sana, Binsar?” tanyamu.
“Kau kenapa menangis?”
“Mencopot lampu?”
“Kau lagi ada masalah? Ceritalah...” Binsar dengan segera turun.
“Kau melihatku menangis, Binsar?” sambutmu ketika Binsar tiba tepat di depan.
“Tadi aku mau mencopot lampu, kulihat kau di bawah, sudah tiga kali. Tapi, baru kali ini kau menangis.”
“Aku lagi senang, Binsar.”
“Tangis senang beramai-ramai, sedang kau sendirian.”
“Aku senang sendirian.”
“Bukan, bukan itu. Kau pasti ada masalah.”
“Ya, sudah kalau kau sudah tahu. Aku pulang dulu.” Kau bergerak cepat.
“Tunggu dulu, Nauli!”
“Kau copot saja lampu itu. Nanti kau juga tahu...”
Kau keluar gedung. Sendirian. Kau naiki kendaraan pun tanpa teman. Setiba di rumah, kau hadapi kesunyian rumah tanpa orang lain. Dan, kau tersadar, tata rias belum terhapus. Di hadapan cermin kau tertawa keras. “Jadi, sepanjang perjalanan tadi aku tetap begini. Tetap menggunakan tata rias dan busana pentas? Dasar Nauli gila!”
Selagi melepas tata rias dan busana, kembali kau kenang pementasan terakhir. Cerita klasik. Cinta kasih yang berujung pada kematian. Tragedi cinta yang masih tetap diagungkan. Kisah tua yang tetap saja laku.
Kau menjadi perempuan itu. Perempuan yang menunggu. Di dermaga. Menanti kapal datang dari seberang membawa lelakimu. Sekian lama penungguan tak juga kau temukan yang diharapkan. Kau pun nyaris gila. Keluargamu menyarankan, malah memaksa, kau menerima pinangan lelaki lain. Lelaki yang sesungguhnya jauh dari bayangamu untuk menjadi suami. Kau berencana bunuh diri, kau kejar kapal yang belayar menuju seberang. Kau ingin tenggelam. Membawa cintamu yang telah karam. Saat itulah, lelakimu datang. Kau terkejut gembira. Kau kejar dia. Sayang, lelakimu membawa dua orang di sisinya. Seorang perempuan hamil tua dan seorang anak dengan ingus berwarna hijau. Kau terdiam. Lelakimu itu terdiam. Anak dengan ingus hijau menangis. Perempuan hamil tua curiga. Dan, cerita berakhir di sana. Di sebuah pertikaian yang berakhir dengan darah. Kau bunuh mereka; lelaki dengan istri dan anaknya. Kau pun gila. Dan, kau mati dalam kegilaan.
“Kenapa Nauli, kenapa kau selalu mendapat peran seperti itu? Kau tidak memerankan apa-apa, Nauli, kau hanya memindahkan hidupmu ke atas panggung. Kau bukan aktris, Nauli. Kau tidak bisa berakting!” kau muntahkan kalimat itu ke pembaringan. Kau suntuki dirimu hingga tertidur.
Kau bangun dengan mata bengkak. Suasana sudah condong melewati angka tiga di jam dinding. Tergesa kau ke kamar mandi. Terlalu banyak tidur selalu saja membuat perutmu tak enak. Semacam ada yang berontak. Dan ketika semuanya telah keluar, kau baru sadar, sebuah naskah baru harus kau terima sore itu juga.
Kau tiba di gedung pertunjukan yang menjadi markas kelompokmu tepat pukul lima. Sebagian besar orang telah datang. Telah menerima setumpuk kertas yang berisikan cerita. Namun, belum sempat kau dekati mereka, Binsar menghadang. “Sudah sehat kau, Nauli?”
“Memangnya aku sakit?”
“Tadi malam kau menangis.”
“Sekarang?”
“Ya, tidak lagi.”
“Ya sudah.”
Kau biarkan Binsar yang mengeluarkan tatapan bingung. Kau pun bergegas ke kumpulan orang-orang. “Aku mau peran yang lain. Aku bosan peran perempuan cengeng. Bertindak keras hanya karena hatinya sakit. Aku butuh peran yang menantang,” teriakmu begitu tiba di sana.
“Seperti apa?” balas salah satu dari kumpulan orang.
Kau terdiam. Bingung.
“Seperti seorang ibu yang begitu setia menunggu anaknya pulang dari merantau. Sekian tahun menunggu dan terus saja memasakkan makanan kesukaan anaknya walau sang anak tak pernah pulang?” sambung orang itu.
Kau masih terdiam. Masih bingung.
“Atau, seorang anak perempuan yang tak pernah pulang ke rumah ibunya karena tidak suka masakan ibunya?”
“Ya, yang kedua itu,” balasmu.
“Ya, sudah. Ambil ini,” ucap orang itu sambil melemparkan naskah. Dalam pikirannya, mungkin dengan peran barumu, kelompok sandiwaranya akan semakin laku.
Kau terima naskah itu dengan suka cita. Lalu, kau duduk tenang sambil menunggu perintah.
“Pelajari naskah, satu minggu lagi kita mulai latihan,” ucap orang itu.
Kau tersenyum. Kau dapat peran baru. Kau pulang dengan ringan. Kau telah menerima kesempatan untuk mengubah karakter. Ya, sejak bergabung dengan kelompok sandiwara itu, kau selalu saja kebagian karakter yang sama; perempuan yang kehilangan kekasih. Peran yang cocok, sebenarnya. Setidaknya, penonton suka dengan peran yang kau mainkan. Namun, pergolakan dalam dirimu telah mengalahkan tepuk riuh penonton. Kau butuh yang lain. Kau butuh tantangan peran. Dan, kini semuanya telah di tangan.
Namun, sebelum kau sampai bibir gedung, Binsar kembali menghadang. “Memang sudah sehat tampaknya. Ceria kali kau...,” katanya sambil terseyum lega. “Jangan menangis lagi, ya, Nauli,” sambungnya.
“Kau mau menjadi sapu tanganku setiap kali aku menangis?”
“Ya, kenapa tidak?”
“Kalau begitu, simpan jauh-jauh harapan itu, Binsar.”
“Bagaimana kalau aku jadi cermin tempat kau melihat senyum?”
“Untuk itu aku tak harus berpikir, cermin sudah kupecahkan.”
Lintas waktu. Kau perankan terus karakter seperti itu. Perempuan muda yang tak pernah sesuai dengan pilihan dan pandangan orang tua. Kau perempuan pemberontak. Individualis dan kurang peka.
Layar tutup. Panggung gelap kembali terang. Suara penonton perlahan menjauh, meninggalkan bangku-bangku yang sebelumnya penuh. Anggota pentas mulai mengangkati properti satu persatu. Pelan namun pasti, panggung kembali kosong. Kau duduk bersila di sudut panggung, menatap layar, tanpa gerak. Sama sekali tidak terpengaruh oleh suara ribut; ucapan selamat atau basa-basi penuh suka.
Tak ada yang mendekat. Tak ada yang memperhatikan. Kau sendiri menatap layar hitam. Kau melihat ke atas, tepat ke atas kepalamu, tak ada Binsar di sana. Kau pun mulai menangis.
Sayang, kau tak melihat Binsar di belakangmu. Jauh, di balik tumpukan properti yang telah dipinggirkan, siap disimpan dalam lemari atau belakang panggung. Ia lihat kau menangis. Segera saja ia datangi, “Kenapa kau masih menangis, Nauli?”
Kau terkejut dan langsung berlari. Kau pulang tanpa sempat menghapus tata rias maupun mengganti kostum.
Setiba di rumah kau tak tertawa. Kau semakin menangis di depan cermin. Dan kau pun berteriak. “Bodoh! Kau bodoh, Nauli! Kau tidak bisa berakting. Kau bukan aktris. Kau hanya memindahkan hidupmu ke atas panggung.”
Kau suntuki dirimu hingga tertidur.
Besoknya, tepat jam lima kau datangi kumpulan orang di gedung pertunjukan markas kelompok sandiwara itu. Binsar tak ada. Tak ada kata sambutan seperti biasa. Sepi. Binsar entah di mana.
“Aku berhenti.” Kau katakan itu pada kumpulan orang tanpa menunggu balasan mereka. Kau langkahkan kaki berbalik. Dan, kau sampai rumah, menatap cermin. “Kenapa kau Nauli, kenapa kau berhenti bermain luka. Bukankah dengan luka sesuatu yang indah akan semakin indah terasa? Kalau begini, kau memang bukan aktris! Kenapa kau pindahkan cerita panggung ke dalam hidupmu. Aktris yang terlena dengan perannya adalah bodoh. Dan, itu adalah kau!”
Kau suntuki dirimu. Namun, kali ini kau tak tertidur. Kau pandangi lagi cermin. “Belum kupecahkan, tapi kenapa Binsar tak ada? Aku ingin tersenyum...”
Medan April 2008
Info Buku
Judul Buku: Sastra Anak-Anak| Penulis: Dra. Mursini, M.Pd.| Penata Letak: Muhammad Yunus Nasution| Sampul :Aulia Grafika| Penerbit: Cipta Pustaka Media Perintis Cetakan: Pebruari 2011| Tebal: x + 232 halaman
“INILAH buku yang sangat penting dibaca mahasiswa, guru, dosen, bahkan
orang tua sekalipun. Demi membentuk karakter anak agar tidak bertindak
semberono melalui apresiasi dan pembelajaran sastra anak-anak.”
Buku “Sastra Anak-Anak” ini ditulis Dra. Mursini, MPd yang berprofesi sebagai dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Unimed. Selain mengajar, ia juga menjadi instruktur TOT-CTL, BKB, KTSP, dan Pendidikan Berwawasan Multikultural tingkat nasional. Beliau juga pernah dilibatkan menjadi instruktur pada TOT pembelajaran kelas permulaan di daerah bencana yang bekerja sama dengan NGO wilayah Aceh dan Nias. Sampai saat ini ia masih diamanahi sebagai instruktur Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) wilayah Sumatera Utara.
Berbicara tentang buku sastra anak, sepuluh jari masih menganggur menghitungnya di deretan lemari buku . Padahal sastra untuk anak-anak dapat membentuk karakter positif pada anak. Dengan karya sastra, guru dan orang tua dapat menyuburkan kedekatan dengan anak, mendidik, juga menghibur. Anak akan terdidik dengan pesan-pesan yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Baik yang berupa puisi, cerita-cerita (prosa-fiksi), dan drama anak. Guru atau orang tua bisa menghibur anak-anak dengan tampilan sastra anak yang menarik dan pantas dikonsumsi anak-anak.
Sastra bagaimanakah yang bisa disuguhkan pada anak-anak?
Nah, biasanya anak-anak lebih menyukai sastra lisan. Sastra lisan anak dapat dicerna anak-anak saat mereka bermain, menjelang tidur, dan ketika mengikuti pelajaran di sekolah. Sastra lisan anak ini termasuk warisan pusaka, mereka bisa menelannya kapan saja mereka mau. Hanya saja yang menjadi pertanyaannya apakah semua guru atau orang tua memiliki warisan pusaka sastra tersebut? Bagi guru dan orang tua yang tidak kebagian warisan pusaka tersebut, jangan terlalu cemas. Sebab buku ini mengemas sebagian warisan tersebut yang bisa diberi pada anak. Semua akan menjadi perbendaharaan pada anak dan mereka bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga bisa menurunkannya pada anak-cucu mereka nantinya.
Mengapa Anak Meninggalkan Sastra?
Dewasa ini tak jarang kita lihat anak-anak bermain yang terkadang bernilai negatif, cabut sekolah dan mengendap di warnet. Bermain facebook, game online, dan permainan lain yang telah disediakan operator (pemilik) warnet. Bukan berarti kita menafikan teknologi dikenal anak-anak, tapi harus dengan pantauan dan bimbingan orang tua atau guru.
Kehadiran buku ini di tengah-tengah kita sangat membantu bagi mahasiswa yang ditugaskan menjaga adik atau keponakannya, guru mendidik muridnya, dan orang tua membimbing anaknya.
Bisa dikatakan anak zaman sekarang canggih-canggih, terkadang terlihat hanya bermain seperti biasa. Namun terkadang di balik itu semua ada hal yang juga harus kita perhatikan. Terkadang anak-anak jaman sekarang sudah berani taruhan (judi) saat mereka bermain. Miris memang jika kita menemukan anak yang mau seperti itu. Sebagai orang dewasa, setidaknya kita melarang anak tersebut jika kita temukan demikian, jangan hanya tinggal diam. Jika kita tinggal diam, lantas mau jadi apa si-anak tersebut jika telah dewasa nanti? Berjiwa bobrok. Haruskah yang demikian diwariskannya pada generasi berikutnya?
Dalam buku ini, tiap babnya mengupas sekelumit tentang sastra khususnya bagi anak-anak. Mulai dari karakteristik sastra anak, manfaat sastra anak, jenis cerita fiksi anak, sejarah komik, bahkan hal yang mendorong perkembangan bahasa dan sastra anak-anak di sekolah. Setidaknya buku ini berguna bagi para guru di sekolah dan orang tua di rumah tentunya.
Buku ini akan membantu bagi siapa saja yang siap mewariskan sastra dan mengabadikannya. Apakah Anda juga termasuk orang yang mampu membentuk karakter anak lewat sastra? Lihat saja efek dari buku ini setelah Anda membacanya dan mengajarkannya pada anak!
( M. Irsyad A Sungkunan Lubis )
Penulis adalah mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia Unimed, bergiat di Komunitas Mahasiswa Pecinta Sastra Indonesa
(Kompensasi). .
Puisi Kontemporer di Batin Penyair Muda Sumut
SECARA sederhana sastra kontemporer berarti sastra masa kini, sastra mutakhir, sastra yang hidup pada zaman sama. Sedangkan dalam arti luas, sastra kontemporer adalah sastra yang hidup pada masa kini atau dalam waktu yang sama, atau sastra yang bergerak mendahului zamannya.
Puisi kontemporer nyatanya lebih dipilih sebagian penyair muda karena stukturnya yang bebas dan tak mengikat sehingga akan mengalir begitu saja tanpa harus mempertimbangkan bunyi, irama dan sebagainya.
Keunikan karakteristik puisi kontemporer yang menarik, tantangan yang muncul ketika kita ingin memaknainya juga menjadi menu pilihan. Tidak jarang permainan bentuk dan tanda baca dipakai menggantikan kata-kata, seperti pada puisi-puisi Sutardji yang dianggap pelopor puisi kontemporer Indonesia.
Sementara bagi sebagian besar penyair muda lainnya, puisi konvensional yang memegang kesederhanaan bentuk dan mengutamakan isi dirasa lebih mengena dalam menyampaikan ide. Selain itu, menurut mereka puisi-puisi konvensional akan terasa lebih indah bahasanya.
Di dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak) anggota dan calon anggota diarahkan untuk menulis puisi-puisi yang tidak keluar dari jalurnya. Mereka tidak dibiasakan membuat puisi yang semena-mena terhadap makna kata dan bahasa. Namun pada intinya, penulis sangat menjunjung kebebasan dalam berekspresi, khususnya dalam berpuisi. Bagaimanapun bentuk dan isi puisi mereka, penulis tetap memberi apresiasi. Sebab, lebih baik berkarya daripada hanya mencerca. Yang terpenting dari seorang penyair; bersyair. Setelah bisa bersyair barulah diarahkan bagaimana mengelola syair.
Tetapi nantinya jika mereka merasa ingin membuat karya-karya di luar jalur yang umum, atau dengan “tidak sadar” tercipta suatu puisi kontemporer dari mereka, hal ini tidak akan menjadi persoalan. Karena, seorang penyair bebas menuangkan ide-idenya.
“Tidak Sadar” di sini maksudnya bahwa dalam menciptakan karya sastra (dalam hal ini puisi) seseorang cenderung tidak berniat menciptakan puisi kontemporer sebelumnya, namun karena dorongan imajinasi yang entah kenapa menuntun penanya menggoreskan karya sedemikian rupa, terciptalah karya yang ternyata berciri kontemporer.
Senada dengan istilah licentia poetica, berupa kebebasan memanipulasi kata oleh penyair demi menimbulkan efek tertentu dan terkadang menabrak kaidah-kaidah dasar berbahasa. Penyimpangan dari kaidah dasar biasanya terjadi pada arti kosakata (leksikal), bunyi-bunyi kebahasaan (fonologi), tata makna (semantis) maupun tata kalimat (sintaksis), karena pada dasarnya mengarang merupakan usaha menggunakan bahasa secara maksimal untuk membangun “suatu dunia” dalam sudut pandang yang dipilihnya dan dalam prinsip yang dianut untuk membangun keserasian antara isi dan ungkapan.
Berhubung masih tergolong baru berkecimpung di dunia sastra, puisi kontemporer masih menjadi perdebatan di benak penulis dan mungkin juga di benak para penyair muda.
Ternyata, perdebatan di benak penulis itu telah lama pula jadi perdebatan dalam dunia sastra. Perdebatan yang dimaksudkan di sini adalah pertanyaan apakah simbol-simbol atau kata yang seolah dipermainkan itu mampu menyampaikan makna? Apakah sebuah kata yang dibentuk sedemikian rupa itu bisa disebut puisi? Sementara merujuk definisi puisi yang menyatakan bahwa puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan larik dan bait (Sudjiman: 1984), maka puisi semacam itu belum mewakilinya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang kerap muncul di pikiran penulis, juga pikiran para penyair pemula.
Tetapi bagaimana pun itu, puisi kontemporer telah berhasil meramaikan khazanah perpuisian di dunia sastra dan menjadi salah satu genre sastra yang mendapat tempat di hati pembaca, pun penyairnya. Di dunia akademis pun sastra kontemporer telah mendapat tempat pembahasan.
Memang tidak bisa dipungkiri, keunikan puisi-puisi kontemporer “mini kata” ini menjadi daya tarik tersendiri, sehingga kadang mempengaruhi imajinasi untuk membuat pula karya-karya serupa.
Berdasarkan pengamatan singkat yang penulis lakukan, beberapa penulis muda Sumut mengaku membuat puisi kontemporer dan mengirimkannya ke media massa lokal, namun puisi-puisi seperti itu jarang lolos. Penyebabnya mungkin saja sesuai dengan yang penulis pikirkan atau karena pertimbangan lain, itu semua berpulang kepada redaktur dan pengasuh rubrik sastra yang tentunya punya alasan jelas.
Kekontemporeran puisi karya penyair muda tentu berbeda-beda sifatnya, misalnya jenis puisi naratif yang sedang digemari para penyair muda Sumut, bahkan nyaris menyerupai prosa singkat sehingga sulit membedakan apakah itu sebuah puisi atau prosa. Akhir-akhir ini mulai menjamur pula fiksi mini (flash fiction) yang jumlah katanya sangat minim. Ini jelas-jelas membuat pemikiran menjadi tumpang tindih, terlebih bagi pemula yang belum begitu mafhum genre sastra. Lantas, ketika puisi-puisi keluar dari jalurnya namun tak mencapai posisi kontemporer, dimunculkan istilah semi-kontemporer.
Letak kekontemporeran atau tidaknya puisi penyair pemula bisa kita lihat pada karya-karya mereka di media massa lokal. Akhirnya, segala pertanyaan dan perdebatan keberadaan sastra kontemporer khususnya di Sumut, lagi-lagi hanya menjadi perdebatan batin penyair muda dan akan terjawab seiring perkembangan kedewasaan proses kreatif mereka. (wahyu wiji astuti)
Indah Zuhairani Siregar
Secuil Cinta Setelah Tanah Masak
Maka dengan setangkai malam,
kuciptakan kau kekasih
Bahkan dari belukar yang semak di dadaku
Dan rimbun di rambutmu
Adalah engkau langit bagi hujanku
Dan adalah kau danau, bagi tumpahku
Dan inilah cintaku
Cinta musim senja di sekeping hutan
Kau bisa melirik satu pepohonan
Juga ini, yang lahir sebagai anak ketiga-Nya
Menyisir semak, bukan rambutmu
Menerjunkan jurang bukan cerukmu
Pun mengalirkan kali, bukan airmu
Dia pula menyerak bintang bukan jemarimu
Sebagian gerak, sebagian diam
Diam, sediam laut yang melayarkan gaduh di jantungmu
Tapi aku dari melata dan merangkak,
tiba dari ringkih dadamu
Dari Turab-Attin-dan Salsalmu,
Maka tanpa ummi bagiku
menumbuh nafsu di hadapmu
Aku yamna yang lahirkan kau dan kau dari many yumnamu sendiri
Mengibar nuhtfah menjadi alqalah
Maka berilah buah itu,
Biar kuldimu mengiba sedak
Dan dadaku laut yang tumpah
Pada sudut bibir mudghah–mu
Kasih….
Harum betul baunya, rasakanlah
Kecup basah yang cungkin arinya
Pertama tama, kuajari kau cara memilih tepi
Kedua kubiarkan kau menikmati pagi
Ketiga, kusimpan napasmu di beranda hati
Keempat ada kenyang yang merindang
Buncah di yumna
Dan bejana kian penuh
Tempias
Rekah
Gerimis tuntas
Ntahlah Apa Kau Kini!
semakin sempit sajak,
ketika tiada logam atau tembaga yang dicair menuju kali rasa.
dan peleburan bait-bait mulai tak lagi masak dan didih,
cuma tepukan pada panggangan bara.
dan menetaslah sajak panas,
yang kau kikir jadi belati.
untuk apa? (tanyaku).
untuk bunuh diri, karena sajak kian sunyi!
membacamu seperti menengok rumus matematika.
rumit memang.
tapi tetap ada sama dengan
bahkan rumus phitagoras kehilangan per akarnya,
aku mau menegukmu,
sehausku.
bahkan kukunyah kau,
selaparku.
lalu kumuntahkan semuak-muakku!
sini mendekatlah.
ada segumpal ludah yang ingin terludah...
Kharismatik Sastra Lokal
Menguak nilai-nilai budaya memang tidak luput dari bagaimana menyajikan aturan, norma-norma dan falsafah hidup yang terkandung di dalamnya. Kemauan seseorang untuk mengakui apalagi mendalami sebuah tatanan budaya yang dimilikinya terkadang menjadi hal yang paling fundamen dalam mengembangkan budaya ke arah yang lebih baik.
BANYAK cara dilakukan orang agar nilai-nilai budaya mengakar dalam sanubari kehidupan bermasyarakat, salah satunya dapat ditempuh dengan bersastra. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ragde F. Daye dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu. Pria asal Solok, Sumatera Barat ini berusaha masuk dalam intrik budaya di tengah polemik kehidupan modern saat sekarang ini.
Dalam 15 cerpen buatannya ini, Ragde menuturkan soal budaya Minangkabau yang mulai ditinggalkan. Identitas anak rantau yang biasa dilabelkan pada anak-anak muda suku Minang seolah menjadi kegelisahan tersendiri bagi si penulis. Hal itu dapat kita buktikan dalam cerpennya berjudul Rumah Lumut. Bagaimana pun jua, seorang ibu tetaplah perempuan biasa. Tak punya banyak kuasa yang dimiliki olehnya tatkala anak lajang yang dipunya hendak mengumpul rezeki di tanah orang.
“Mak, saya pergi!” Anak muda itu membawa tangan Mak Leha dalam genggaman tangannya ke kening. “Izinkan saya. Mak.”
Mak Leha mula-mula bertahan untuk tegak. Tapi tak kuat. Dia berjalan ke bangku di sisi jendela. Lantai papan berbunyi lirih mengiringi drama pagi kesembilan.
“Telah tetapkah hatimu?”
Pemuda itu, Rozehan, mengangguk.
Tabiat merantau memang sudah telanjur melekat di kalangan pemuda Minang. Terlebih kalau tanah di kampung tak lagi menghasilkan benih rezeki untuk menyambung sisa hidup yang ada. Tapi apa hendak dibilang, kehidupan kota lagi-lagi sering menggelincirkan para anak muda dari kampung, berniat datang mengisi lambung, konon pastilah limbung lantaran kehidupan tak seindah apa yang diimpikan.
Inilah resah gelisah yang hendak ditawarkan penulis dalam cerpen ini. Kebanyakan anak muda Minang pergi dengan niat yang mantap namun mereka sering lupa kemana alamat pulang hendak dituju.
“Karena aku bukan ibu Malin Kundang, maka aku tak akan pernah mengucapkan kutuk, meski barangkali kalian benar-benar telah melupakan jalan pulang ke rumah.”
Kisah-kisah realis memang kerap dibungkus Ragde dalam antologi ini. Cenderung nada cerita keibuan yang sering merangkap menjadi kisah cinta yang melankolis. Penulis berusaha menampilkan kehiruk-pikukan dan sesak napas masalah sosial serta orang-orang terasing. Mengutip pula dari apa yang disampaikan Bramantio pada esai di dalam antologi ini bahwa Ragde juga mengusung sejumlah cerpen yang bersifat lebih personal. Meskipun demikian, bukan berarti cerpen-cerpen tersebut menjadi kurang menyesakkan.
Bukti Lokalitas
Seperti cerpennya yang berjudul “Empat Meter dari Pangkal”. Ia hadir tidak lagi menyajikan cerita yang mengarah pada aspek sosial seperti kemiskinan, kesedihan atau kematian melainkan sebuah cerita yang lebih akrab dengan dunia nyata dan dunia impian. Bahkan penulis lebih saklek berada pada dunia di antaranya. Kebanyakan pembaca umum memang tidak gampang untuk bisa menafsirkan tipikal cerita ini. Penulis menyajikan cerita tersebut sarat dengan simbolik dan pernyataan-pernyataan yang tak bersudut. Namun demikian, dalam buku ini karya “Empat Meter dari Pangkal” memberi kekhasan tersendiri tatkala ia disejajarkan dengan cerita-cerita sebelumnya.
Menelaah judul pertama dalam kumpulan cerita ini memang akan membawa kita pada sebuah pengertian bahwa Ragde memang lebih memilih cerita-cerita yang dingin bernada keibuan seperti yang saya paparkan di atas. Perempuan Bawang adalah bukti bahwa penulis memang kerap menjadikan sosok ibu, istri dan perempuan lainnya dengan berbagai peran dan karakter sebagai tokoh utama yang penting untuk diangkat menjadi sebuah cerpen.
Meski kemudian tokoh-tokoh perempuan itu dihidupkan Ragde berbalut kerisauan tentang Minangkabau sebagai identitas. Pada cerpen Perempuan Bawang tampak jelas bahwa Solok yang disetting menjadi pasar tradisional yang membantu Ragde untuk menceritakan bagaimana Sumatra Barat mengental di dalamnya. Menyajikan data-data terkait bagaimana Solok berkembang-biak lewat pasar tradisional. Keadaan carut-marut pasar tradisional hingga bagaimana konflik batin tokoh yang diciptakan penulis seolah memberikan kesan beginilah Solok dengan pasar tradisionalnya.
Bukan semata hendak menceritakan tokoh-tokoh dan konfliknya melainkan ada titipan yang hendak ia sampaikan sebagai bukti lokalitas yang mengental di dalamnya. Maka kalau hal ini dibahas, tentulah personalitas penulis akan muncul secara nyata. Tapi saya hanya akan menyetujui bahwa kharismatik Solok sebagai pasar tradisional mengendap perlahan dalam Perempuan Bawang yang Ragde ciptakan.
Cerita serupa hampir mirip dengan Lekuk Tekuk, Jarak, dan Di Solok Aku Akan Mati Perlahan. Pada cerpen Jarak, Solok adalah tanah kelahiran yang kelak disadari oleh Attar, tokoh sentral cerpen ini, tidak menjanjikan apa-apa. Bertahun-tahun berlalu tapi tidak sedikit pun terbersit di dalam pikirannya untuk kembali ke Solok untuk menjumpai masa lalunya.
Intinya, siapa pun yang hendak membaca buku ini pastilah akan menambah khasanah budaya yang dimilikinya. Terlebih bagaimana budaya Minang cukup jelas digambarkan di dalam buku ini. Meski Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu secara keseluruhan adalah sebuah kumpulan cerpen yang muram. Keresahan tumbuh subur di dalamnya, hantu-hantu menemukan taman bermain yang mengerikan dan penderitaan tak pernah kekurangan nutrisi di dalamnya.
Meskipun demikian, saya setuju dengan ungkapan Bramantio bahwa ada sesuatu di muara cerita yang nuansanya bisa dianggap berbeda dengan bagian hulu dan alirannya. Yakni muara yang cerah. Ada harapan yang hendak ditulis Ragde dalam sekumpulan cerita-cerita muram ini. Harapan itulah yang seharusnya diuraikan oleh khalayak pembaca secara umum. Selamat membaca!
Penulis adalah pencinta buku dan aktif menulis karya sastra, pernah menjabat. (sukma)
Menggugat Perempuan Melalui Kain Putih
CERPEN “Kain Putih Itu Tak Bernoda” karya Chairani, lulusan strata satu jurusan bahasa dan sastra Indonesia, yang mendedikasikan diri sebagai guru di SMA Dharmawangsa Medan, saya baca di Rubrik Rentak Harian MedanBisnis, Minggu 28 November 2010.
Membaca cerpen Chairani ini, seperti mendengar kembali petuah orang tua zaman dahulu yang kerap berpesan agar anak gadisnya selalu menjaga keperawanan dan mereka pun melakukan berbagai upaya untuk itu. Berbagai pantangan diwejangkan kepada anaknya demi keperawanan yang merupakan lambang kesucian dan budi pekerti.
Itu dulu, saat kehidupan berjalan di atas nilai-nilai budaya. Hidup begitu indah dengan berbagai pantangan dan larangan. Bahkan, ada pantangan yang menjadi misteri. Toh, hal itu tetap dipatuhi sampai akhirnya budaya pikir melebihi budaya etika dan nilai rasa.
Kini, masihkah keperawanan dipersoalkan? Itulah yang dipertanyakan secara tersirat oleh Chairani melalui “Kain Putih Itu Tak Bernoda.” Zaman kini, ketika godaan datang sangat terbuka, masih sanggupkah perempuan menjaga keperawanannya hingga melewati fase demi fase masa pranikah?
Sebagai perempuan, secara tersirat, Chairani tidak menyukai pertanyaan itu. Di sini terlihat Chairani berada pada posisi gendernya. Masih adanya pertanyaan itu, menandakan gender tak mungkin terhapus. Menghapuskan gender berarti juga menghapus beberapa nilai budaya. Menurut Chairani, salah satu etnis yang masih mempertahankan budaya menjaga keperawanan adalah masyarakat nelayan. Tapi, tak jelas etnis mana itu. Chairani hanya memaparkan latar tempatnya, tak mendeskripsikannya melalui penyebutan nama suku, karakter dialog, sapaan kekerabatan, atau hal lain yang bisa jadi petunjuk.
Untuk membuat kesan sastra pada cerpen, penyajiannya memang tidak harus berbelit ke sana-sini. Alurnya pun tidak harus berputar-putar hingga memusingkan kepala. Chairani telah melakukan itu. Dia menyajikan cerpen ini dengan alur mudah dipahami dan enak dibaca. Kisah yang dipaparkannya mulai berkiblat pada kondisi sesaat, yang disitilahkan dengan instan.
Chairani mengisahkan soal gejolak hati tokoh utama (Aku/Saodah) yang cemas dan batinnya tersiksa. Kecemasan itu ditimbulkan oleh kegagalannya memberikan darah perawan pada selembar kain putih. Kain putih itu sengaja disediakan oleh keluarga Topan.
Pada mulanya keluarga mertua beranggapan bahwa Topanlah yang belum mampu menjalani fungsinya sebagai suami. Setelah hari demi hari terlewati, kecurigaan mengarah kepada tokoh Aku. Tak bisa dipungkiri, Aku memang sudah tidak perawan. Sayangnya, tak jelas sebab-musababnya mengapa dia bisa tidak perawan. Memang kebanyakan perempuan selalu bertahan untuk tidak menceritakan sebab-musabab itu. Tapi, ini cerpen. Tentunya sebab-musabab bisa diceritakan melalui dialog batin atau yang lain.
Topan tak banyak bicara tentang keperawanan itu. Topan, sang suami, hanya sekali menanyakan tentang keperawanan tokoh Aku.
“Jawab yang jujur, apakah kau masih suci? Maafkan pertanyaanku, Saodah. Aku…, aku, maafkan aku.”
Pertanyaan Topan tak dijawab tokoh Aku. Pertanyaan itu dijawab dengan deskripsi sikap tokoh Aku. Tokoh aku menangis. Sebagai laki-laki, Topan pun luluh dengan tangisan itu.
Ternyata, pihak keluarga mertua telah merencanakan hari penyambutan untuk menantu yang benar-benar telah memberikan keperawanan kepada suaminya. Ibu mertua telah menyediakan air dalam tempayan. Air itu diberi bunga tujuh rupa. Air yang telah bercampur bunga itu akan digunakan untuk menepungtawari pengantin perempuan yang mampu memberikan noda pada kain putih. Tapi, apa hendak dikata, tokoh Aku secara tak sengaja telah memecahkan tempayan berisi air bunga itu. Ini merupakan pantangan dan menambah kekecewaan ibu mertua.
Upacara tepung tawar harus digagalkan. Tokoh Aku mengaku memang dia tidak perawan. Sebagai upaya menunjukkan kekecewannya, Topan pergi melaut dan tak pernah kembali. Tokoh Aku menunggu kepulangan Topan sambil memikirkan janin dalam rahimnya. Setelah itu cerita terhenti, menandakan plot terbuka.
Pilihan plot terbuka memberikan kesempatan kepada pembaca berpihak kepada yang mana pun. Ide yang dikandungkannya menyangkut masalah gender. Chairani tak memaksa keberpihakan itu. Bisa dimakluminya bahwa orang akan cenderung berpihak kepada gendernya.
Saya melihat masalah utama yang dimunculkan Chairani keperawanan sebagai lambang kesucian perempuan. Bagi Chairani, pernyataan ini sangat sulit diterimanya. Ini adalah hal yang berat bagi perempuan. Chairani juga menyampaikan pilihan, memang sangat mulia bila perempuan dapat menjaga keperawanan hingga menjalani malam pertama. Tapi, bukankah sejak dahulu kala pun keperawanan telah diragukan? Buktinya, ada etnis yang menyediakan kain putih untuk pembuktiannya. Ini menandakan bahwa sejak dahulu telah ada pra anggapan setiap gadis belum tentu perawan. Namun, jika ada perempuan saat ini yang sanggup mempertahankan ksuciannya hingga ke pintu rumah tangga, itu yang lebih baik.
Sebuah cerita tentu memiliki keterkaitan dengan kondisi kekinian. Ada kepekaan yang dimiliki Chairani terhadap hal itu. Saat ini, pada kuantitas gender yang lebih banyak jumlah perempuan daripada laki-laki, sudah biasa ada perempuan menyerahkan keperawanan kepada orang yang disukainya. Ada yang berpendapat, “Kalau tak nekat, kapan punya pacar?”
Meningkatnya jumlah perempuan ternyata sangat berpengaruh terhadap kondisi pergaulan antarlawan jenis yang disebut “pacaran” itu. Bukan lagi pandangan asing di pinggiran jalan agak sepi, jika mata kita mau menelisik, akan terlihat perempuan menempelkan tubuh kepada laki-laki yang dianggap pacarnya. Ini sangat berbeda dengan kondisi tahun delapan puluhan. Tahun delapan puluhan, gadis melangkah malu-malu, menunggu dirayu jejaka. Kini, gadis agresif merayu pilihannya. Mungkin Chairani jengah terhadap hal ini hingga dia menciptakan cerpen “Kain Putih Itu Tak Bernoda.”
Deskripsi cuaca yang dipaparkan di cerpen ini cocok sebagai pendukung suasana kesedihan, kegusaran, atau kekecewaan. Chairani mendeskripsikan gerimis, cuaca dingin, suara halilintar untuk menghanyutkan pembaca pada suasana yang dibuatnya.
Cerpen bukan berita. Masalah yang diangkat tidak harus menghebohkan. Tidak ada kasus penyiksaan, pemotongan alat kelamin, mertua memerkosa menantu, bunuh diri karna beribu masalah yang melanda, anak membunuh ibunya kemudian memerkosa neneknya, suami membakar istri, atau masalah berat seperti pada pemberitaan. Memang bukan beratnya persoalan yang jadi inti keindahan pada cerpen. Tapi kedalamannya menyentuh hati pembaca merupakan unsur penting. Masalah keseharian dapat diangkat hingga menggugah hati pembaca untuk memilih keberpihakan.
Ada keraguan Chairani untuk memberikan keberpihakan itu. Tersirat, ia berpihak pada gender wanita dengan mengalaskan janin di rahim tokoh Aku. Hanya itu alasannya. Tak dideskripsikannya hal-hal lain yang memperkuat alasan itu. Mungkin karena Chairani menyadari bahwa keberpihakannya itu takkan banyak diterima orang.
Untuk memokuskan cerita pada idenya, dia tidak mengawali cerpen-nya dengan kehidupan berpacaran atau prosesi pernikahan. Namanya cerpen, ia memulai penyajian langsung ke permasalahan, yaitu malam pertama yang tak menyenangkan. Memang tidak mengulur-ulur, tapi seperti ada yang tertinggal. Tidak diceritakannya latar perkawinan tokoh Aku dengan Topan pada cerpen itu. Bukankah sebuah perkawian harus ada landasan? Dasar perkawinan paling kelasik adalah cinta. Tapi boleh saja Chairani membuat hal lain sebagai dasar atau latar perkawinan itu. Sayangnya, tak sedikit pun disinggungnya persoalan cinta. Apakah cinta masa kini sudah ditelantarkan? Atau Chairani takut terkesan cengeng? (saiful amri )
Remaja Menulis Sastra
“Menulis mudah, menulis indah, menulis dan menulis. Dalam menulis tidak ada kata sulit untuk melakukannya. Apa yang terlintas dalam pikiran tulis, apa yang terlintas di hadapan diri tulis, jadi kejadian apapun, di mana pun yang sering akrab dengan kita, tulis. Didorong juga dengan semangat yang keras dan tanpa ada kata menyerah, tanpa ada kata malas. Tanpa kreativitas semua ruangan tidak akan berpenghuni, tanpa kreativitas dunia hampa, maka tuanglah seisi duniamu dengan menulis, berkarya dan membaca. Itulah yang dituturkan Hasan Al Banna salah seorang pembicara dalam acara workshop sastra dan sekaligus launching buku Antologi Puisi, Cahaya dan Cerpen, Ma Hyang.
Dunia sastra berkaitan dengan dunia berbahasa, meramu kata dan melukis kehidupan. Dengan sastra hidup lebih indah, dengan sastra hidup lebih bermakna. Sastra bisa dikatakan sangat berperan penting dalam kehidupan. Sastra dapat membuat perubahan yang lebih baik, sastra juga dapat membuat orang lain menjadi jatuh cinta dengan makna – makna kata yang semilir mengalir.
Bagi orang yang kritis dalam berbahasa mereka menggambarkan suatu makna dengan hal yang sulit dibayangkan oleh kebanyakan orang lain. Tetapi, bila diperhatikan dengan teliti gambaran yang dibuat oleh orang – orang yang kritis berbahasa sangat mempunyai makna yang cukup mendalam. Bisa terbawa alur cerita. Tidak terlalu rumit untuk berkenalan dengan sastra yang sejatinya membantu dalam hal rutinitas sehari – hari. Namun yang disayangkan, masih banyak orang yang berpikir menulis dan membaca itu tidak penting hanya membuang waktu dengan percuma, padahal begitu banyak manfaat yang bisa dirasakan dengan menggeluti kegiatan di setiap harinya.
Sejatinya menulis dan membaca sejalan dan tidak terpisahkan satu sama lain. Menulis adalah hal yang paling menyenangkan dan mengasyikkan, dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dalam situasi apa saja. Begitu banyak seni serta budaya yang tidak terlepas dari kehidupan kita.
Dalam hal ini, sastra dapat terbentuk dengan wawasan dan pengetahuan yang luas. Semua objek yang ada di sekitar kita dapat kita prioritaskan dan kita ungkapkan. Salah satu contoh ialah puisi. Puisi adalah bentuk ekspresi pengalaman empirik atau batin seseorang yang diwujudkan dengan bahasa-bahasa indah, perumpamaan dan kiasan. Puisi juga merupakan cara penyampaian tak langsung dari seseorang terhadap sesuatu hal yang dirasa menggelitik naluri estetika, emosi dan perasaan jiwa yang dialami seseorang serta mempunyai nilai tinggi dan bermakna.
Cara tak langsung itu dilakukan melalui aneka bentuk perumpamaan yang terangkai dalam sajian kata-kata yang indah, singkat, multitafsir dan cerdas. Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra memiliki dua fungsi yakni sebagai karya sastra itu sendiri dan juga sebagai cara atau alat bagi siapa yang memegang puisi tersebut. Tak jarang kita temui seorang yang merayu orang lain menggunakan kata-kata indah sebuah puisi. Pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta biasanya merupakan orang-orang yang sangat sensitif dengan nilai-nilai keindahan sebuah puisi.
Jadi sangat jelas bahwa disamping memiliki fungsi sebagai karya sastra itu sendiri, puisi adalah juga sebuah cara atau alat yang diciptakan seseorang dalam meraih sebuah tujuan yang ia inginkan. Contoh lainnya ialah cerpen. Cerpen ialah, anak kedua setelah puisidari karya sastra.
Hanya saja cerpen merupakan sebuah cerita pendek yang diungkapkan dalam bentuk kisah kehidupan seseorang yang digoreskan di helaian kertas atau diary. Cerpen biasanya juga diangkat dari cerita – cerita khayalan, nyata, dan curahan hati seseorang. Bahasa dan isinya mudah dipahami. Dengan demikian, cerpen tersebut dapat di baca kurang dari satu jam dan isinya tidak terlupakan oleh pembacanya sepanjang waktu. Semua berharap, bakat menulis sastra dan budaya tidak terkubur dalam pusara waktu. Juga kreativitas terus tumbuh dan berkembang dari akar yang kuat serta tanah yang subur. Artinya teruslah menulis dan berkarya untuk menumbuhkembangkan budaya bangsa. Sehingga budaya tersebut dapat tumbuh dan kokoh walau harus berganti musim sekalipun.
Workshop Sastra
“Dalam menanggapi penulisan sastra diperlukan keseimbangan bahasa demi terjalinnya suatu kata yang teramu dengan baik. Dengan mencoba membangkitkan semangat karya, dan supaya lebih aktif, diperlukan juga proses yang cukup panjang. Menulis indah, mengenali tulisan fiksi tidak terlalu rumit, bahwa dalam menembus media massa harus memiliki potensi, agar tulisan yang diperlihatkan layak dimuat dan layak untuk dibaca. Intinya apapun yang berada di sekelilingmu tulis!”, ujar Afrion sebagai pembicara dalam workshop sastra, teknik penulisan fiksi menembus media massa, Sabtu, 26 Februari 2011.
Dalam workshop tersebut sesi pertama dibuka oleh Hasan Al Banna, dengan memperlihatkan beberapa gambar. Peserta harus mampu menjelaskan gambar-gambar ke dalam bentuk puisi. Sesi kedua, peserta diajarkan mengenai cara jitu menembus media massa oleh Afrion, dengan mengenali karakter dan visi misi media massa, membaca dan mengetahui standar tulisan, mengenali redaktur, mengemas karya serapi dan seteliti mungkin dan kirim karya sebanyak – banyaknya serta jangan pernah menyerah.
Selanjutnya, dengan pengenalan alamat email dari masing – masing media yang ada di kota Medan, khususnya untuk media yang berubrik budaya atau seni. Peserta harus memahami etika mengirim karya ke media. Peserta workshop yang terdiri dari pelajar SMU Negeri 3 Medan, MAN, SMU Sinar Husni, dan lainnya juga dihadiri kalangan mahasiswa yakni dari Unimed, UMN, UMSU USU, dan sejumlah mahasiswa dari universitas lainnya.
Dalam workshop juga digelar launching antologi buku puisi Cahaya, dan cerpen Ma Hyang. Serta pengumuman pemenang lomba baca puisi. Workshop ditutup dengan penampilan drama dari Komunitas Penulis Anak Kampus (Kompak) hingga selesai.
(liandi prassetiyadi, rudiansyah, angga pratama, sofyan ibrahim)
Dari Makammu Aku Bercermin Antilan Purba
Omong-omong Sastra Berlanjut, Oned Luncurkan Sang Penanti
Darwis Rifai Harahap
Wadah silaturahmi omong-omong sastra dari sastrawan untuk sastrawan itu, ternyata masih berlanjut. Peserta yang hadir dari kalangan mahasiswa cukup banyak. Di kediaman Saripuddin Lubis yang asri, jauh dari kebisingan, siang itu kami disambut ramah oleh Saripuddin dan isterinya.
Sayup-sayup dari dalam rumah terdengar alunan musik yang lembut. Sastrawan Sulaiman Sambas dan Damiri Mahmud ternyata telah hadir lebih awal bersama Hasan Albana yang tampak sibuk memandu peserta yang kebingungan mencari alamat rumah Saripuddin Lubis yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Binjai.
Omong-omong tentang sastra pada 6 Maret 2011 lalu menampilkan pembicara Yulhasni dan Wahyu Wiji Astuti, Mahasiswa jurusan Sastra dan Bahasa Unimed Medan. Dalam paparannya Yulhasni yang mantan wartawan dan kini dosen di UMSU Medan itu menyorot keberadaan komunitas Sastra di Sumatera Utara yang memobilisasi massa dan karya tanpa ide baru. Wahyu Wiji Astuti coba menguak jejak puisi kontemporer di batin penulis muda Sumatera Utara.
Permasalahan ide baru dan karya sastra kontemporer memang tak pernah habis-habisnya untuk dibicarakan. Sejak munculnya Sutardji Calzoun Bachri dengan puisi-puisi kontemporernya, demam kontemporerpun merasuki batin penyair-penyair muda dalam bekarya.
Abad dua puluh ditandai berbagai krisis sosial politik, ekonomi, enerji, ledakan penduduk, perang dan sebagainya. Krisis melahirkan anarkisme, pesimisme, skeptisisme, individualisme, ketidaktentuan nilai-nilai dan sistem. Jiwa abad dua puluh inilah yang mendasari gerakan sastra kontemporer.
Suatu gerakan sastra yang coba menanyakan kembali nilai-nilai, sistem dan estitika, serta merangsang kelahiran berbagai aliran baru. Yang disebut dengan sesuatu yang baru itu apakah ada? Sutadji Calsoun Bachri menuliskan puisi-puisinya dengan bahasa yang dia mengerti dan pahami benar maksud tujuannya.
Apakah bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang baru? Waktu berkarya barangkali hampir semua penyair tak berfikir dia hendak menulis apa. Yang penting adalah bekarya. Tulis dan tulis apa saja yang dapat dimuntahkan pikiran bawah sadar. Oleh Sutadji lahirlah puisi yang berjudul Asal yang terdiri dari satu bait dua baris.
Sebelum Tardji, Raja Ali Haji juga sudah menuliskan sajak dua baris yang kita kenal dengan sebutan gurindam. Pada Tardji sajak dua barisnya itu tidak lagi disebutkan sebagai gurindam. Tapi para pengamat sastra menempatkan Tardji sebagai tokoh pembaharu sastra Indonesia.
Puisi adalah seni bahasa. Beberpa penyair sepertinya bosan memakai bahasa sebagi media ekspresinya Kesempatan untuk tidak lagi mempegunakan bahasa ternyata juga dimanfaatkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam puisi kontemporernya yang berjudul ‘Q’. Puisi Tardji ini tidak lagi mempergunakan kata. Dia mamakai hurup dan tanda seru. Baris pertama dua tanda seru.
Baris ke dua tiga, pada baris ke tiga enam tanda seru , dan dibaris ke empat satu tanda seru. Di bait ke dua Tardji menuliskan satu tanda seru disusul huruf a. Baris ke dua baru ada suku kata ‘lif’ diikuti dua tanda seru. Lalu di bait ke tiga huruf ‘l’, dan di baris kedua dengan spasi ada ‘la’, diikuti baris ketiga juga dengan sepasi ‘ l a m ‘, dan baris ke empat kembali tanda seru disisi kanan. Lalu pada baris ke enam huruf ‘ m ‘ sebanyak dua puluh empat dengan diikuti baris ke anam huruf ‘i’ yang letaknya ditengah huruf ‘m‘ yang jumlahnya sama pada baris ke tiga belas.
Pengamat sastra pun menempatkan penyairnya sebagai pembaharu sastra, karena pada puisi Tardji telah terjadi penjungkir balikkan simbol menjadi sebuah puisi dalam bentuk yang sangat baru dikarenakan penyairnya tidak lagi memakai kata sebagai ungkapan ekspresinya dalam berkarya. Bagaimana sekarang ini setelah Tardji Calzoum Bachri yang telah sepuh itu, di beberapa karyanya tidak mempergunakan kata, tapi mempergunakan tipografi secara cermat sebagai daya untuk berekspresi.
Dalam makalahnya Wahyu Wiji Astuti mengatakan sebagian penulis muda lebih memilih struktur yang bebas dan tak mengikat. Benarkah puisi-puisi yang ditulis oleh penulis-penulis muda telah terbebas dari ikatan kebiasaan yang ada? Kalau Yulhasni bicara tentang komunitas sastra di Sumut yang jumlahnya demikian banyak, tapi tanpa adanya ide baru, yang ada hanya kelompok-kelompok yang saling mencurigai.
Ilham Wahyudi menyikapi kecurigaan itu karena adanya komunitas yang didirikan oleh satu orang. Untuk apa? Banyak komunitas tapi anggotanya itu ke itu juga. Hanya nama yang beda, tapi pendiri sama begitu juga pengurusnya. Buat Ilham hal ini adalah kerjaan yang mubazir saja. Bila ada dana yang dapat diperoleh dari intitusi terkait buat komunitas yang ada kan lumayan juga hasilnya? Barangkali ini yang tidak sempat terfikirkan oleh Ilham Wahyudi.
Kembali ke ide baru dan puisi kontemporer yang menjejak batin penulis muda Sumatera Utara. Bila saja puisi adalah baju, tentu saja ide baru dan mode yang kontemporer mudah terlihat. Puisi bukan pakaian. Seni bahasa yang dituliskan penulis muda Sumatera Utara masih tetap pada pilihan menulis puisi yang konvensional. Hal serupa merambah ke dunia penulisan prosa. Acara itu diselingi penampilan musikalisasi karya Yulhasni (MENDROFA), M. Raudah Jambak (SEBAB PAHLAWAN NAMAKU), dan Sarifuddin Lubis yang dibawakan oleh Sanggar Rumput Hijau (SMA Neg-2 Binjai)
Oned Adithia Rislan
Walau Rizlan Effendi belum berkesempata hadir dalam acara omong-omong sastra, sehari sebelum acara OOS di rumah Saripuddin Lubis di Binjai, Rizlan telah meluncurkan buku yang berjudul “Sang Penanti” karyanya. Buku mungil berkulit hitam berisi kumpulan cerita-cerita pendek yang sebenarnya juga bukan sesuatu yang baru, walau istilah krennya disebut dengan nama “ Flash Fiction”.
Laura Ingarls Wilder yang terkenal lewat cerita-cerita pionirnya yang berjudul “Litle House On The Praire“ yang terbit tahun 50-an adalah cerita-cerita singkat tentang keluarga Laura yang hijrah ke Amerika dari Inggeris di abad ke 19. Cerita-cerita singkat serupa juga pernah dipublikasikan penulis asal Jepang Yukio Mishima sekitar tahun 40-an.
Sang Penanti
Oned Adhtia Rizlan telah meluncurkan dua buku. Rintisan penulis Sumatera Utara ini lewat bukunya “Sang Penanti” memang tidak tanggung-tanggung. Di salah satu sudut cafe es krim di pusat perbelanjaan Medan Fair. Dia menghadirkan YS. Rat dan Hasan Albana sebagai pembicara. Sayang ruang petemuan terlalu sempit, dan hingar-bingar suara-suara pengunjung membuat kehadiran undangan terasa agak tidak nyaman. Peluncuran buku mungil Oned, tujuan utamanya agar buku sastra karya Oned dapat diminati banyak pembaca.
Jelas ini tidak mudah. Mempromosikan buku karya sastra tidak segampang kita melihat produk makanan ringan yang terpampang di setiap sudut jalan yang kita lewati. Promosi memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apa lagi bila promosi mempergunakan media televisi.
Berhasilkah Rizlan meluncurkan karyanya yang menurut pengamatan penulis, karya Oned berjudul “ Sang Penanti” ini layak untuk dibaca. Bahasanya lugas. Mengalir. Mudah dicerna, dan bila ditelaah secara mendalam, karya Oned ini di samping konvensional, ceritanya ada beberapa yang penulis rasakan agak sedikit absurd.
Dari 64 judul ‘flash fiction’ yang dihadirkan Oned dalam buku ‘Sang Penanti’, di halaman 37 memang ada cerita yang judulnya ‘absurd’. Setelah dibaca, ternyata ceritanya belum menunjukkan tanda-tanda cerita singkat Oned itu absurd. Beda dengan cerita yang berjudul ‘ Pada Sebuah Cafe’ tokoh lelaki itu dan peristiwa kehidupan yang dia alami sebagai manusia agak lebih terasa ‘absurd’ bila dibandingkan dengan ceita yang berjudul ‘absurd'.
Begitu juga dengan cerita Oned yang dia beri judul ‘De Javu‘. Walau tidak sekental ‘Menunggunya Godot‘ Sang Penanti yang banyak bermain dengan air, angin, hujan dan kegilaan manusia yang ada dalam tiap cerita Oned. Apa yang dikatakan Idris Pasaribu dalam kata pembukaannya pada peluncuran buku ‘Sang Penanti‘, flash fiction sudah cukup lama dikenal di Hongkong. Bentuknya yang sederhana, tidak membuat kening berkerut, buku Oned ini memang perlu dibaca.
Dalam bercerita Oned mengalir bagaikan riak air yang mencari muara. Sesekali air menggenang lalu kembali mengalir dan mengalir bagai perjalanan waktu yang tak pernah berhenti, kata Idris Pasaribu.
Antara Omong-omong Sastra di rumah Saripuddin Lubis di Binjai tetap saling berkaitan dengan acara yang dibuat Oned Adhitya Rizlan dalam acara bedah naskah flash fiction di salah satu sudut cafe Medan Fair tanggal 5 lalu. Bedanya, dalam omong-omong sastra di Binjai tanggal 6 Maret 2011 lalu, belum ada buku sastra yang diterbitkan sebagai bahan untuk di omongkan. Kapan? 2011maret.
Januari Sihotang
Untuk Sang Guru
:Alm. Antilan Purba
hanya mampu merunut denyut jantung
saat waktu berjudi, takdir menghindar
dari keolakan darah
pada tubuh demam petuah
usiamu bernanah, meski dalam kelambu jiwa
tersimpan kosakata, diksi dan irama
masih terngiang bisikmu
menjual rahasia setiap senja
di bawah pohon asam
seperti perempuan muncul dari cermin
kata-katamu bersolek merias percakapan kita
kutemukan sejarah lain dalam tubuhmu
tak ada yang mesti ditunggu, katamu
lalu pelan menutup mata
tubuhku kelak menjadi malam, bisikmu
Yogyakarta, 2011
Seseorang Terbaring
di Tepi Sajakku
seseorang terbaring di tepi sajakku
wajah sepi, matanya menyalakan rindu
berusaha membakar malam-malam suntuk
ini bukan tentang ingatan buruk
hanya berusaha mencabut selongsong waktu
yang bersarang di dadamu
percakapan kita masih membasahi mimpiku
saat menggali kedalaman di setiap sajakku
hingga kening seluruh semesta
lamat-lamat menemukan jelaga
sajak tentang sepi dan engkau
masih berbaring di tepi, sajak penghujung mimpi
Yogyakarta, 2011
Malam Panjang
rel waktu membentang sejak petang
menunggu perempuanku di ranjang
malam telanjang, malam panjang
malam penuh hujan riang
kinni ikan-ikan tua mengatupkan insang
Yogyakarta, 2011
Ilham Wahyudi
JANGAN KUTUK KAMI
jangan kutuk kami jadi batu , apalagi anjing pincang, Bu
kami sedang belajar menanam buah;
menangkap ikan dan menanak nasi
kami tak lagi menyembah apapun yang
bapak-bapak kami sembah
setiap hari kami susun kembali
remah-remah yang masih tersisa
sepanjang malam kami bongkar
kepala kami yang rusak tercemar limbah pabrik
mata kami tak pernah lagi memancarkan bunga-bunga api, Bu
mulut dan hati kami juga telah kami install ulang. Kami berdenyut;
kami bukan robot, Bu. Bukan!
Jangan kutuk kami jadi batu apalagi anjing pincang, Bu
jangan!
Medan. 2009
Wajah Merahmu
di langit tak kutemukan wajah merahmu di bilik-bilik awan
yang menyembunyikan butir-butir air hujan.
hanya halilintar kedinginan dan titik-titik pelangi yang berserakan tanpa warna, kesepian di sana. pelan-pelan aku turun ke hutan-hutanmu,
meraba setiap jengkal sudut-sudutnya yang lembab tertimbun
embun pagi.
tak jua kutemukan wajahmu. hanya binatang-binatang buas yang kelaparan dan pohon-pohon tua yang lelah berdiri gemetar menyimak aku berkisah tentang kau yang mencuri sebagian nasibku—aku berhenti sesaat: mengeja bayang-bayang wajah merahmu yang tersapu kabut senja.
hujan jatuh tak beraturan.
halilintar meraung-raung kegirangan;
hutan ini semakin lembab menggendong tubuhku yang digenangi
rindu.
aku semaput.
di langit pelangi tak jadi muncul, besebab malu
warnanya sepucat wajahku.
Medan, 2009
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
-kepada Ayahanda Antilan Purba
Bukan kau letih menulis
tapi telah saatnya kau dituliskan
Dari Makammu Aku Bercermin /I/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
-kepada Ayahanda Antilan Purba
Tulismu mengguncang apa segala
katamu menggetarkan tafsir di dada
sajakmu memberontak sempat yang ada
walau jemariku tak utuh melambai
mata tak tetap menatap
izinkan kuramu sajak
sebagai pengiringmu menemu
Tuhan di sana
Dari Makammu Aku Bercermin /II/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
Kau kan tetap kusemayamkan
di dataran hatiku yang hampa
di atas singgasana segala
agar dapat kutatap giatmu
dan meramu segelas syair
pelepas dahagamu sejak dulu
biarkan kuasah sebilah sajak
penebas rumput gambut
penghalang jejakmu
menata kata di zaman tua
Dari Makammu Aku Bercermin /III/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
Nikmat letih yang kau ajarkan
masih tak sempat kusembahyangkan
fi sela-sela sempat yang padat
tapi tiada kotornya kata
telah menjadi dogma searah
dan menggugus serupa cinta
sekarang dan selamanya
Dari Makammu Aku Bercermin /IV/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
Nelangsa menganga
saat tiba di rumah tua
disambut tugu dua
di situ ada namamu
tunduk tertekuk
tangis meringis
getar menelantar di sekujur tubuh
dalam dekap gigil
kutulis sebentuk cinta
agar mengubah sajak mutakhir
di zaman sekarang dan nanti mendatang
sebab
dari makammu aku bercermin
Dari Makammu Aku Bercermin /V/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
Tuliskan aku sajak
dan lontar lewat mimpi
jika tiba saatnya nanti
kan kubasuh hati
menjadi teka-teki
agar orang tak mengerti
arti suci sajak ini
MENGENANGMU 1
Abd. Rahman M
(Antilan)
Baru saja kumulai syair-syairku
kau sudah pergi selamanya
belum sempat kutunjukkan padamu
kau telah tiada
mungkin kau tak tahu siapa aku
karena aku jarang berbicara
diam selalu diam
untukmu aku ucapkan selamat jalan
kau panutanku walau kau tak tahu
aku mengagumimu semangatmu
MENGENANGMU 1
Abd. Rahman M
(Antilan)
Kesederhanaan menyelimuti
harimu
duniamu
jalanmu
semoga kau tenang di sana
Amin
Antara Harapan dan Kegairahan
Hasan Al Banna
APA yang diungkapkan Idris Pasaribu tentang Antilan Purba di halaman ini pada edisi lalu, hampir pasti tidak terbantahkan. Antilan memang gilak buku! Baginya, boleh jadi, tinggi-rendah ‘kasta’ seseorang ditentukan oleh berapa banyak koleksi buku yang berderet di rak lemari.
Benar, itu memang bukan alat pengukur satu-satunya. paling tidak, Antilan sudah memutuskan pilihannya dan lantas khatam membuktikannya: mengoleksi banyak buku (barang tentu juga melahap saripati isinya)! Kecintaan dan loyalitasnya dalam dunia baca-tulis merupakan hal yang tak bisa dilekangkan dari banyak orang selepas kepergiannya menghadap Ilahi Kamis menjelang tengah malam, 24 Februari 2011 lalu.
Tidak pula dapat dipungkiri, Antilan layak menjadi tempat bertanya menyangkut referensi, khususnya perkembangan sastra, baik dari segi teori maupun karya kreatif. Lebih daripada itu, sesungguhnya, khalayak penggiat maupun penikmat sastra menaruh harapan yang besar kepada Antilan. Sebagai akademisi (dosen sastra di Unimed dan beberapa perguruan tinggi di Medan), Antilan digadang-gadang menjadi kritikus sastra yang mendorong karya sastra sekaligus penulisnya ke puncak pencapain terbaik.
Antilan pun menunaikan harapan itu, meskipun tanpa disadari, harapan yang entah terlampau berat itu menyebabkan Antilan terkesan kewalahan. Tidak mengherankan, beberapa kalangan bahkan menuding beliau tidak konsisten sebagai kritikus. Pasalnya, Antilan tidak mampu menampik hasrat untuk ikut cebur ke ranah kreatif penciptaan karya. Dia kerap pula menulis dan menyiarkan beberapa puisinya ke ruang publik. Terlebih pula, teman-teman sastrawan memonten karya kreatif Antilan tidak secemerlang tulisan-tulisan kritisnya, meskipun pendapat ini masih leluasa untuk dimasukkan ke mesin perdebatan.
Mungkin jadi, Antilan melakukan hal yang demikian (turut meleburkan diri ke ranah penciptaan karya sastra) untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa beliau tidak cuma mahir menyayat-nyayat karya orang lain, tetapi lihai pula menciptakan karya sastra. Sayang, ketika karya-karyanya dipindai, tidak sedikit pihak yang menyatakan karya-karya kreatif Antilan tidak seampuh karya-karya kritisnya atas produk sastra kreatif yang dihasilkan para sastrawan. Tidak jarang Antilan mendapat nasihat: jadilah pengamat sejati, tak usah ‘menyusup’ ke gerbong para pencipta karya kreatif.
Memang, anjuran itu kedengaran tidak adil bagi Antilan. Mengapa para sastrawan yang berkutat di dunia penciptaan boleh menjelma pengamat sekaligus kritikus, sedangkan seorang pengamat seolah-olah tidak diperkenankan? Toh, umpan balik dari pertanyaan tersebut tetap meluncur: untuk menjadi kritikus handal tidak serta-merta ditunjukkan dengan karya sastra dari sang kritikus, cukup dengan tulisan kritik yang elegan dan bertanggung jawab.
Sebenarnya, polemik ini muncul dari besarnya harapan dan kebutuhan para sastrawan terhadap seorang kritikus yang independen. Ya, independen dalam makna suntuk dan tekun mengamati, mengulas, memilah, menelusuri ‘sesuatu’ yang terpendam pada hiruk-pikuk karya.
Keilmuan Antilan dengan segenap pengetahuan teori atau referensinya tentang sastra sangat diharapkan untuk dapat menggali, menemukan dan selanjutnya mengerek kualitas karya sastra secara utuh ke tingkat yang lebih baik. Oleh karena itu, harapan tersebut juga tidak berlebihan untuk diletakkan di atas pundak Antilan. Di sisi lain, ada kemungkinan jika Antilan tidak sedang ugal-ugalan menunjukkan diri bahwa dia juga bisa menciptakan karya sastra. Bisa jadi Antilan tak sudi (atau tidak sanggup?) mematahkan kegairahannya dalam bersastra.
Dengan kata lain, Antilan memiliki energi yang sangat besar terhadap dunia sastra. Energi yang digunakan untuk memburaikan isi perut setiap karya sastra yang masih berlebih dimanfaatkannya pula untuk menciptakan karya sastra. Meskipun akhirnya, penilaian umum berbagai kalangan terhadap karya kreatifnya tersebut cenderung dingin, tetapi tetap tidak mampu memadamkan api gairahnya untuk menulis karya sastra.
Lebih penting dari ‘cekcok’ di atas adalah kenyataan, Antilan tidak pernah mengkhianati jagat sastra. Beliau telah memilih dunia sastra menjadi peristiwa yang maha penting bagi sebagian besar perjalanan hidupnya. Tentu dia juga sudah memikirkan segala konsekuensi atas pilihan tersebut. Termasuk ketika dia, sadar atau tidak sadar, menjadi abai terhadap kesehatannya sendiri. Aktivitasnya yang ganas di dunia akademis dan praktis kesusastraan dibiarkan menyandera tubuhnya melewati batas kemampuannya. Setuju atau tidak setuju, fakta ini sekali lagi menunjukkan betapa Antilan tidak bisa dihadang, bahkan oleh penyakitnya sendiri.
Kebengalan’ beliau menantang sengat sakit menuntunnya untuk tetap aktif mendonorkan pengetahuan kepada maha siswa-mahasiswanya, juga bersengketa ilmu dengan para koleganya di taman budaya atau di berbagai sesi diskusi. Antilan sama sekali tidak ingin menunjukkan kepada orang banyak bahwa dia sedang ditodong penyakit buas, walaupun kondisi fisiknya tidak mampu berkelit selincah semangatnya. Ketika akhirnya dia ‘terkunci’ berhari-hari di salah satu ruangan rumah sakit, Antilan tetap kukuh menunjukkan dia dalam keadaan sehat.
Dia tetap mengedar tanda-tanda kebangkitan, mengacungkan kepal tangan, menyambut para pembesuknya dengan aneka canda. Lantas, hanya hembus napas penghabisan yang mampu mendamaikan Antilan agar beristirahat selamanya. Hal yang juga kelak juga dialami oleh setiap kita, manusia yang harus kembali ke haribaan-Nya. Salam takzim untuk Antilan Purba!
Penulis; sastrawan, staf Balai Bahasa Medan, dan dosen luar biasa di FBS Unimed.
Kritikus Sastra itupun Pergi
Jones Goeltom
Belum genap sebulan kepergian tokoh teater Sumatera Utara, Barani Nasution, kini giliran pentolan sastra asal kota ini yang menyusul. Drs. Antilan Purba, M.Pd, sosok yang dikenal serius menekuni dunia sastra, ikut menyusul, setelah sempat dirawat di ruang ICU, Rumah Sakit Pirngadi Medan, Kamis malam, 24 Februari 2011.
Lengkaplah sudah. Keduanya menyusul tokoh musik, Ben M. Pasaribu yang lebih dulu berpulang Desember tahun lalu. Antilan Purba memang bukan sastrawan tulen. Antilan Purba lebih dikenal sebagai kritikus, yang nyaris selama hidupnya mengabdi pada dunia sastra. Dia tak hanya rajin mendokumentasikan karya-karya sastrawan Medan, juga mengkiritisinya. Dia tekun pula memantau perkembangan para sastrawan, berikut karyanya yang tersebar di surat kabar lokal dan nasional. Tidak heran jika pelaku sastra di kota ini, sering menganggapnya sebagai HB. Jassin Medan.
Di samping itu, Antilan Purba sering dianggap motivator terutama oleh para mahasiswanya. Dia tak pernah letih mendorong mereka untuk berkarya. Ditambah kapasitasnya sebagai dosen sastra di Unimed dan UISU, memberinya ruang pengkaderan yang lebih luas. Dia sering mengajak mahasiswa-mahasiswinya berdiskusi di luar kampus.
Melalui Laboratorium Sastra (Labsas) yang dia dirikan bersama Thompson Hs, Yondik Tanto dan Afrion, dia kerap menggelar acara-acara sastra; mulai dari seminar, festival, perlombaan sampai menerbitkan buku. Lewat campur tangannya pula sejumlah komunitas sastra di Medan terus bermunculan seperti komunitas KOMPAK, KOMPENSASI dan KOMA.
Antilan Purba juga produktif menerbitkan buku, baik yang diterbitkan sendiri maupun oleh penerbitan. Buku-bukunya antara lain; Kompetensi Komunikatif Bahasa Indonesia: Ancangan Sosiolinguistik (1996), Bahasa, Sastra, dan Wacana (1997), Kompetensi Komunikatif: Teori dan Terapan dalam Pembelajaran dan Penelitian Bahasa (1998), Sastra Indonesia Kontemporer (2001), Pragmatik (2002), Kompleksitas Sastra Indonesia (2007).
Kecintaannya terhadap buku, terutama sastra, terlihat dari kebiasaannya mengoleksi buku-buku itu. Tahun 2009 saja, dia sudah mengoleksi 4000 –an judul buku, belum termasuk majalah. Di rumahnya, buku-buku menjadi dekorasi utama, di Jalan Serdang, Gang Manggis. “Kegilaannya” mengoleksi buku itu, sering tak masuk akal. “Tiap bulan kuhabiskan budget Rp. 2 juta per bulan,” akunya suatu kali.
Karena mengutamakan buku pula, dia masuk dalam golongan dosen “miskin”. Rutinitas sehari-hari dia jalani dari angkot ke angkot. Kadang pula dia lebih mementingkan buku daripada makan. Tidak heran jika kesehatannya pun kerap terganggu. Puncaknya sejak 2 tahun terakhir, Antilan mulai diserang penyakit yang terbilang serius. Sejenis virus tertentu menyerang telinga, hidung dan mulutnya. Setiap kali kambuh, ketiga organ penting itu, sering mengeluarkan darah. Kondisi itu dia jalani kurang lebih 2 tahun.
Begitu, dia tetap menjalani kegiatannya sehari-hari, termasuk sekedar berdiskusi di Taman Budaya. Terakhir kali, kira-kira 5 bulan lalu, penulis sempat berbincang-bincang dengannya. Saat itu kondisinya semakin parah. Kemana-mana dia menenteng beratus jenis obat plus sebungkus besar kapas. Setiap 5 menit sekali, dia mengganti kapas-kapas yang dia sempalkan di hidung dan telinganya itu.
Kondisi itu tak menyurutkan semangatnya. Ada saja yang ingin dia diskusikan. Tidak semata-mata sastra, tapi meluas sampai budaya tradisi, sosial, filsafat, agama dan politik. Yang paling menarik, setiap kali diskusi, tak lupa dia menunjukkan buku terkait tema yang dibahas. Antilan selalu menyertakan refrensi-refrensi di setiap argumennya dengan penuh semangat.
Sayang Antilan bukanlah penulis yang baik. Dia termasuk yang gagap menuliskan pikiran-pikirannya. Dia lebih fasih melontarkan pemikiran dan gagasannya secara langsung. Tak heran, karya tulisnya (puisi dan cerpen) jarang terpampang di media massa.
Bertolak dari Kesederhanaan
Kesederhanaan adalah ciri dari seorang Antilan Purba. Meski berprofesi sebagai dosen, dia tak pernah menunjukkan sikap otoriter pada mahasiswanya. Dia tak sungkan duduk satu meja dengan siapa saja, tidak terkecuali orang-orang muda yang ingin belajar padanya. Dengan segelas kopi dan rokok, dia mampu berdiskusi sampai larut malam. Kesederhanaan hidup itu, terungkap pula dari motto hidupnya; “Kerjakan yang engkau pikirkan, pikirkan yang engkau kerjakan.”
Di sastra dia cenderung menyukai karya-karya yang mengusung kearifan lokal serta nilai-nilai agama. Dari sedikit puisi yang dia hasilkan, penulis ingat pernah satu waktu, dengan bersemangat, dia menujukkan salah satu puisinya yang masih dengan coretan tangan. nasiku tak kau makan lagi. sillahturahmi kita mati.
Puisi singkat itu termasuk yang dibanggakannya. Menurutnya, sikap individualisme disebabkan karena orang sudah enggan memakan nasi sesamanya. Wabah itu bahkan sudah terjadi di kampung-kampung.
“Jika orang masih mau makan nasi sesamanya, pasti silahturahmi itu tetap terjalin,” tegas sastrawan kelahiran Pematang Siantar, 8 Maret 1958 ini. Lain waktu, dia pernah membahas polemik komplotan seniman Utan Kayu, Saut Situmorang dan kelompok Taufik Ismail tentang erotisme sastra. Bagi Antilan, seorang sastrawan memiliki tanggungjawab moral termasuk ketika berkarya.
Antilan bersepakat, mestinya karya sastra ikut memberikan pencerahan bagi pembacanya. Dia menolak liberalisme buta seperti yang diperlihatkan kelompok Utan Kayu selama ini. “Harusnya sastrawan menjadi benteng masyarakat melalui karya-karyanya, sembari tetap menjaga kebebasannya,” kata lulusan pasca sarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini.
Mengenang Empat Penyair yang Telah Berpulang
Darwis Rifai Harahap
Seniman Sumatera Utara berduka. Dalam rentang waktu yang tidak begitu lama, setelah berpulangnya Aldian Aripin, selang beberapa minggu kemudian menyusul Z.Pangaduan Lubis. Derita penyakit yang dialami kedua penyair Sumatera Utara ini sama, yaitu strok ringan.
Sewaktu melayat Z. Pangaduan Lubis di rumah duka di Jalan Gurila Gang Belimbing, penulis membonceng Barani Nasution ke kuburan. Selesai sholat jenazah, Barani Nasution pamit pulang karena esoknya dia akan berangkat ke Jakarta menemui anak-anak dan cucunya. Tidak ada tanda-tanda Barani Nasution begitu sampai di Jakarta dan tak pernah lagi kembali ke Medan, karena tanggal 16 Februari 2011, Barani Nasution, harus mematuhi janjinya. Barani dipanggil Penciptanya di Cikeas Bogor dalam usia 69 tahun.
Innalillah... Rekan Barani Nasution tidak sekedar teman dalam berkesenian, juga seorang guru, aktor, sutradara dan penulis naskah yang handal. Dia juga seorang penyair. Bila dia bicara, lidahnya masih kental dengan aksen Mandailingnya, walau dia cukup lama bermukim di Jogya. Dia juga dapat berbahasa Jawa walau tidak fasih benar. Bahasa Inggeris sangat dia kuasai. Bersama beberapa teman seniman, Barani sempat membuka semacam club diskusi berbahasa Inggeris di Taman Budaya Sumatera Utara sekitar tahun 1990-an.
Kini dia telah tiada. Yang terbayang di benak penulis, wajahnya yang di tumbuhi berewok tebal, telah pula memutih. Tubuhnya yang kecil, nada suaranya yang berat, kulitnya yang sawo mateng, sekilas dia tampak seperti saudara kita asal dari Kampung Keling. Barangkali karena kemiripannya itu jugalah, sutradara Muchtar memberinya peran sebagai sais kereta lembu keturunan keling dalam film Buaya Deli yang di produksi sekitar tahun 1970-an.
Barani Nasution penulis kenal di pertengahan tahun 1969 saat usai pementasan naskah “Yang Di Dalam“ karya dan Sutradara Burhan Piling di Gedung Kesenian Jalan Bali Medan. Sosok laki-laki berewok yang tak pernah terlihat hadir di Gedung Kesenian Medan, dengan bicaranya yang lantang, sistematis, tampil dengan bahasa yang lugas membahas pertunjukan.
Tampilnya sosok asing yang didampingi Surya Darma Lubis (alm) itu, membuat hampir semua mata peserta diskusi tertuju kepadanya. Laki-laki berewok yang bertubuh kecil itu adalah Barani Nasution, salah seorang anggota teater Bengkel Jogya Pimpinan W.S. Rendra. Pantas saja bicaranya begitu lantang dan sangat berkesan.
Usai diskusi perkenalan semakin akrab dan omong-omong non formal dilanjutkan sambil santap malam di warung Siang-Malam di simpang Jalan Bali dan Jalan Thamrin. Bincang-bincang dengan Barani Nasution yang wajahnya ditebali dengan jambang yang subur itu, terkesan dia memang sarat dengan ilmu tentang seni. Tidak heran di awal perkenalan kami di Gedung Kesenian usai pementasan, keakraban berlanjut dengan perencanaan untuk mementaskan “Kasidah Barzanzi” yang telah digelar Bengkel Teater Rendra di Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Sayangnya, izin untuk mementaskan, tak didapat dari W.S. Rendra. Bersama Teater Nasional Medan, akhirnya Barani Nasution dengan keseluruhan pemain mengangkat Marhaban Ya Muhammad yang dirujuk dari kitab Barsanji dan pemain direkrut dari Teater Nasional Medan secara profesional.
Pementasan “ MYM” di gelar di Gedung Olah Raga Jalan Veteran Medan selama dua malam berturut-turut dengan menurunkan pemain sekitar lima puluh orang. Sejak itu, nama Barani Nasution yang lahir di Siabu Tapsel 27 Juli 1941 mulai berkibar sebagai seniman teater Sumatera Utara.
Pengalaman berteaternya sejak di bangku sekolah menengah atas di tahun 1959 sebagai pemain di kota kelahirannya. Tahun 1963 dia mulai memberanikan diri bertindak sebagai Sutradara dalam naskah Mutinggo Busye berjudul “Barabah” bersama grup teater Nauli yang dia dirikan tahun 1963.
Selepas mementaskan MYM di Gedung Olah Raga Medan, Barani Nasution mendirikan grup Teater Dionysus tahun 1970. Entah mengapa, dua tahun kemudian Barani Nasution kembali membentuk grup teater yang dia beri nama “Teater Nuansa Medan“ dan banyak mementaskan naskah-naskah kaliber dunia dan naskahnya sendiri di pentas arena Tapian daya Medan dan Gedung Utama Taman Budaya Medan di sekitar tahun 70-an dan 80-an.
Dia juga menerjemahkan drama-drama asing ke dalam Bahasa Indonesia, beberapa diantaranya Medea, Aluetis, Theree Sisters, Orang-orang Resah, Dua Belas Pemberang dan juga menerjemahkan buku-buku pelajaran Teater karya Stanis Lavsky dan Oscar J.Brockett. Pensiun dari Pegawai Bidang Kesenian Sumatera Utara, Barani Nasution hijrah ke Jakarta. Di beberapa senetron arahan Khairul Umam yang pernah tayang di beberapa stasiun televisi, Barani Nasution berkesempatan tampil sebagai pemain pembantu.
Kini Barani Nasution telah tiada. Belum lagi bunga-bunga yang ditaburkan di atas makam mengering, Sumatera Utara kembali kehilangan senimannya. Drs. Antilan Purba, M.Pd., seniman yang dosen ini, ternyata harus kalah dengan takdir yang menyapa. Pengarang buku “Sastra Dan Manusia” ini dipanggil Tuhannya tanggal 24 Februari 2011 lalu.
Derita sakit yang dialami Antilan Purba memang cukup lama. Lebih empat tahun. Walau dalam keadaan sakit, dia tetap mengajar, dan setiap petang hadir di kantin Taman Budaya Suamatera Utara untuk bertukar pikiran dengan teman-teman sesama seniman disana. Biasanya, setiap kali penulis bertemu di kantin Taman Budaya, Antilan Purba tetap sedang mencatat sesuatu di buku hariannya. Selintas, sosok Antilan Purba terkesan adalah orang yang tak hendak menyia-nyiakan waktu.
Begitu juga dengan sosok penyair Aldian Aripin, Z. Pangaduan Lubis dan Barani Nasution. Ke empat Allahyarham yang telah tiada ini, adalah seniman-seniman yang haus akan ‘ilmu’. Setiap kalimat yang meluncur dari mulut mereka, baik kepada seniman-seniman usia muda, tak ada kata yang tak bermanfaat untuk disimak. Aldian Aripin dan Z. Pangaduan Lubis adalah orang yang tak mau kompromi pada hal-hal yang tak sejalan dengan pikiran mereka. Dalam puisinya yang berjudul Revolusi, Aldian Aripin berkata;
Revolusi kita adalah revolusi manusia
Yang bergerak kesegala arah
Siapa yang alpa
Tersisih dari sejarah
Aldian Aripin terasa begitu lantang pada bait pertama dari sajak yang berjudul Revolusi itu. Puisi ini dia muat di halaman 14 dari kumpulan puisi tiga penyair Sumatera Utara yang berjudul Ribeli 1966. Ketiga penyair itu, Dojahan A Nasution, Aldian Aripin dan Z. Pangaduan Lubis yang telah tiada.
Dalam puisi pendeknya yang berjudul Akan Tiba Waktu, kelantangan Aldian Aripin semakin kentara. Lihatlah, jutaan mata menatap - dengan satu dakwa: - Engkaulah sumber bencana! Pada bait ke dua dia meneruskan, Lihatlah, jutaan tangan teracung – dengan satu tuntutan : - Turun tahta ! Sekilas Aldian Aripin seolah sulit untuk tidak meledak-ledak. Dia memang sedikit beda dengan sahabatnya Z. Pangaduan Lubis yang sempat meneteskan air mata begitu mendapat kabar tentang berpulangnya Aldian Aripin.
Dia menangis karena tak dapat melayat kepergian seorang sahabat dikarenakan kesehatannya yang semakin memburuk. Dari atas kurasi rodanya dia menyitir beberapa bait puisinya yang juga dimuat dalam Ribelli 1966. Puisi itu berjudul Lemari Kaca. Dalam lemari kaca – pada sudut ruangan sejarah – tersimpan duka cita.
Pada bait kedua dia meneruskan Dalam lemari kaca – berbaris boneka mainan, mereka – para pahlawan yang dilupakan. Di bait ke tiga dia menutup sajaknya dengan Dalam lemari kaca – segala kezaliman dipendam – sejak lama – kita telah melihatnya.
Kini keduanya telah tiada. Kalau Barani Nasution meninggalkan beberapa jilid buku yang dia terjemahkan, Antilan Purba yang puisi-puisinya dimuat di beberapa antoloji. Penulis lebih tetarik dengan beberapa esai yang telah dia terbitkan dalam bentuk buku, dan dia beri judul Sastra Dan Manusia.
Bagi Antilan Purba karya sastra hanya permainan kata. Ketika beberapa mahasiswanya menanyakan tentang keterkaitan karya sastra dengan agama, Antilan Purba semakin bersemangat. Agama ya agama. Sastra dan agama berhubungan erat. Tidak dapat dipisahkan. Jika dipisah, merugi dan membahayakan kehidupan manusia.
Sastrawan yang dilahirkan atas nurani bertuhan, karya-karyanya disinonimkan dengan “Sastra Relegius”. Cerminan itu memang ada pada diri Antilan Purba yang kini telah menghadap Khaliknya. Usai sholat Ashar atau magrib di mushola Taman Budaya, dia akan kembali duduk ke kantin, memesan kopi susu, dan kembali menelaah buku dan mencatat. Orang-orang baik yang sarat dengan ilmu itu telah meninggalkan kita. Karya-karya mereka masih dapat kita baca dan telaah.
Mdn 2 Maret 2011 drh.
Antilan Purba dan Bukunya
Seorang dosen kelahiran Bandar Simalungun, Drs. Antilan Purba, M.Pd., yang akrab dengan semua mahasiswanya, Jumat siang 25 Pebruari 2011, dikebumikan setelah disembahyangkan di mesjid tak jauh dari rumahnya. Tujuh tahun lamanya dia menahankan sebuah derita penyakit kanker di bagian lehernya.
Hasil foto terakhir di Rumah Sakit Pirngadi Medan, penyakit yang tak mau kompromi itu sudah menyerang sampai ke otak bagian kanan, setelah terlebih dahulu menyerang bagian kiri. Isterinya yang setia beserta anak-anaknya, siang malam menjagainya. Antilan sangat mereka manjakan, karena Antilan juga masih sempat-sempatnya bercanda dengan istri dan anak-anaknya bahkan dengan penulis, saat berkali-kali menjenguknya ke rumah sakit. "Bagaimana kabarmu?" sapa penulis.
"Biasa saja," katanya sembari memberikan jempol tangan kanannya sebagai ganti salaman. Bukan dengan penulis saja yang pada sebuah malam ikut membawanya ke Rumah Sakit Pirngadi. Ketika mahasiswanya datang membesuknya, dari tempat tidurnya, dia sempat memberikan ceramah (kuliah). Di rumah saat mahasiswanya datang, dia juga sempat ikut membacakan puisi di depan para mahasiswa di teras rumahnya. "Ingat kuliah ini tiga SKS," katanya kepada para mahasiswa yang datang membesuknya, dengan artikulasi yang sedikit agak terganggu.
Selain mengajar di Universitas Negeri Medan (Unimed), Antilan juga mengajar Sastra dan Bahasa di berbagai perguruan tinggi swasta lainnya. Di bahunya selalu tersandang tas hitam yang penuh dengan buku-buku dan makalah, tak kurang beratnya minimal 10 Kg. Lalu duduk di kantin Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), memesan segelas kopi dan menghirup rokok kreteknya, sembari membaca buku atau bercengkerama. Jika tak ada temannya bercengkrama, Antilan pun mengirimkan SMS kepada penulis yang bunyinya selalu; aku sdh di tbm. dtnglah, agr kt mulai pertengkaran.
Jika SMs itu sudah berbunyi demikian, berarti ada buku baru yang sangat menarik untuk dipamerkannya, lalu kami "pertengkar"kan. Kami selalu mengatakan, kami adalah teman bertengkar, bukan lawan bertengkar. Kami tak pernah berdiskusi, tapi bertengkar.
Kata diskusi kami ganti dengan bertengkar. Untuk apa berdiskusi, kalau hasilnya pertengkaran, kan lebih baik bertengkar tapi sebenarnya kami sedang diskusi serius, itulah kesepakatan kami. Penulis dan Antilan sudah 20 tahun lebih berteman, tapi 10 tahun terakhir menjadi teman bertengkar yang serius. Penulis dan Antilan memang selalu menjadi sparing partner dimana saja ketemu.
Jika ketemu buku baru dan menarik, dia selalu menganjurkan agar penulis membelinya. Jika penulis tak punya uang, seusai dia membaca buku itu, penulis boleh meminjamnya tiga hari, kemudian "dipertengkarkan". Bisa bertengkar di bawah pohon asam, bisa di kantin TBM atau dimana saja. Bahkan kami pernah beberapa kali bertengkar di toko buku Gramedia, hingga pembeli buku membelalakkan matanya kepada kami dan satpam pun datang mengingatkan, agar suara kami tidak mengganggu orang lain.
Saat banjir melanda rumah penulis, buku-buku yang terendam air selama dua hari dua malam pun menjadi bubur. Ada beberapa buku yang mau difotocopykan, Antilan membuat ultimatum, tak boleh lebih dari lima hari. Untuk buku, Antilan memang sangat ketat bahkan super ketat.
Dari buku-bukunya yang buuuanyak itu, Antilan pun memiliki referensi yang lebih dari cukup, untuk menulis buku. Setiap bukunya terbit, Antilan "memaksa" penulis untuk menjadi orang pertama yang membeli bukunya. Tak boleh ditawar. Begitu mendengar novel penulis di luncurkan, dia pun mengancam:"Bang akulah orang pertama yang akan membeli novel abang. Ingat itu!"
Antilan pun menyerahkan uang Rp. 55.000,- Entah dari mana dia tau, harga novel yang belum diluncurkan, sementara penulis sendiri belum mengetahui berapa harga novel akan dijual oleh penerbit. Saat peluncuran buku di Gelora Bung Karno Jakarta di Ruang Anggrek, penulis terkejut. Benar harga novel penulis yang berjudul Acek Botak itu, Rp. 55.000,-
Antilan sudah menerbitkan 14 buah buku yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dan terakhir diterbitkan oleh sebuah penerbit dari Jogjakarta. Dua buah buku lagi sudah siap dan menurutnya akan dikirimkan ke penerbit (maaf tak disebutkan apa penerbitnya).
"Nanti pada 10 Pebruari 2011, kedua buku ini akan kukirimkan ke penerbit. Mereka sudah menunggu," katanya pada penulis. Selain dua buku yang sebenarnya sudah siap terbit, ada empat buku lagi sedang dikerjakan dan hampir rampung. Antilan sudah menunjukkannya kepada penulis di rumahnya saat penulis mengunjunginya. Penulis tak tahu, apakah buku itu jadi dikirimkan ke penerbit atau tidak, karena suatu malam, penulis ikut membawanya ke Rumah Sakit Pirngadi Medan.
Kini Antilan telah tiada. TBM terasa agak sepi juga, tanpa dirinya, apalagi kantin yang selalu "dihuninya" untuk melepas lelah, tak terdengar lagi hentakan suaranya. Antilan, pertengkaran kita belum selesai. Entah kapan, tapi pasti, kita kelak akan bertemu dan akan kita lanjutkan pertengkaran kita yang belum selesai itu, sampai tuntas. Multikultural? Ya. Multikultural. Sastra kontemporer? Okey, sastra kontemporer. Selamat jalan sahabatku, temanku bertengkar.
Idris Pasaribu
Darwis Rifai Harahap
Wadah silaturahmi omong-omong sastra dari sastrawan untuk sastrawan itu, ternyata masih berlanjut. Peserta yang hadir dari kalangan mahasiswa cukup banyak. Di kediaman Saripuddin Lubis yang asri, jauh dari kebisingan, siang itu kami disambut ramah oleh Saripuddin dan isterinya.
Sayup-sayup dari dalam rumah terdengar alunan musik yang lembut. Sastrawan Sulaiman Sambas dan Damiri Mahmud ternyata telah hadir lebih awal bersama Hasan Albana yang tampak sibuk memandu peserta yang kebingungan mencari alamat rumah Saripuddin Lubis yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Binjai.
Omong-omong tentang sastra pada 6 Maret 2011 lalu menampilkan pembicara Yulhasni dan Wahyu Wiji Astuti, Mahasiswa jurusan Sastra dan Bahasa Unimed Medan. Dalam paparannya Yulhasni yang mantan wartawan dan kini dosen di UMSU Medan itu menyorot keberadaan komunitas Sastra di Sumatera Utara yang memobilisasi massa dan karya tanpa ide baru. Wahyu Wiji Astuti coba menguak jejak puisi kontemporer di batin penulis muda Sumatera Utara.
Permasalahan ide baru dan karya sastra kontemporer memang tak pernah habis-habisnya untuk dibicarakan. Sejak munculnya Sutardji Calzoun Bachri dengan puisi-puisi kontemporernya, demam kontemporerpun merasuki batin penyair-penyair muda dalam bekarya.
Abad dua puluh ditandai berbagai krisis sosial politik, ekonomi, enerji, ledakan penduduk, perang dan sebagainya. Krisis melahirkan anarkisme, pesimisme, skeptisisme, individualisme, ketidaktentuan nilai-nilai dan sistem. Jiwa abad dua puluh inilah yang mendasari gerakan sastra kontemporer.
Suatu gerakan sastra yang coba menanyakan kembali nilai-nilai, sistem dan estitika, serta merangsang kelahiran berbagai aliran baru. Yang disebut dengan sesuatu yang baru itu apakah ada? Sutadji Calsoun Bachri menuliskan puisi-puisinya dengan bahasa yang dia mengerti dan pahami benar maksud tujuannya.
Apakah bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang baru? Waktu berkarya barangkali hampir semua penyair tak berfikir dia hendak menulis apa. Yang penting adalah bekarya. Tulis dan tulis apa saja yang dapat dimuntahkan pikiran bawah sadar. Oleh Sutadji lahirlah puisi yang berjudul Asal yang terdiri dari satu bait dua baris.
Sebelum Tardji, Raja Ali Haji juga sudah menuliskan sajak dua baris yang kita kenal dengan sebutan gurindam. Pada Tardji sajak dua barisnya itu tidak lagi disebutkan sebagai gurindam. Tapi para pengamat sastra menempatkan Tardji sebagai tokoh pembaharu sastra Indonesia.
Puisi adalah seni bahasa. Beberpa penyair sepertinya bosan memakai bahasa sebagi media ekspresinya Kesempatan untuk tidak lagi mempegunakan bahasa ternyata juga dimanfaatkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam puisi kontemporernya yang berjudul ‘Q’. Puisi Tardji ini tidak lagi mempergunakan kata. Dia mamakai hurup dan tanda seru. Baris pertama dua tanda seru.
Baris ke dua tiga, pada baris ke tiga enam tanda seru , dan dibaris ke empat satu tanda seru. Di bait ke dua Tardji menuliskan satu tanda seru disusul huruf a. Baris ke dua baru ada suku kata ‘lif’ diikuti dua tanda seru. Lalu di bait ke tiga huruf ‘l’, dan di baris kedua dengan spasi ada ‘la’, diikuti baris ketiga juga dengan sepasi ‘ l a m ‘, dan baris ke empat kembali tanda seru disisi kanan. Lalu pada baris ke enam huruf ‘ m ‘ sebanyak dua puluh empat dengan diikuti baris ke anam huruf ‘i’ yang letaknya ditengah huruf ‘m‘ yang jumlahnya sama pada baris ke tiga belas.
Pengamat sastra pun menempatkan penyairnya sebagai pembaharu sastra, karena pada puisi Tardji telah terjadi penjungkir balikkan simbol menjadi sebuah puisi dalam bentuk yang sangat baru dikarenakan penyairnya tidak lagi memakai kata sebagai ungkapan ekspresinya dalam berkarya. Bagaimana sekarang ini setelah Tardji Calzoum Bachri yang telah sepuh itu, di beberapa karyanya tidak mempergunakan kata, tapi mempergunakan tipografi secara cermat sebagai daya untuk berekspresi.
Dalam makalahnya Wahyu Wiji Astuti mengatakan sebagian penulis muda lebih memilih struktur yang bebas dan tak mengikat. Benarkah puisi-puisi yang ditulis oleh penulis-penulis muda telah terbebas dari ikatan kebiasaan yang ada? Kalau Yulhasni bicara tentang komunitas sastra di Sumut yang jumlahnya demikian banyak, tapi tanpa adanya ide baru, yang ada hanya kelompok-kelompok yang saling mencurigai.
Ilham Wahyudi menyikapi kecurigaan itu karena adanya komunitas yang didirikan oleh satu orang. Untuk apa? Banyak komunitas tapi anggotanya itu ke itu juga. Hanya nama yang beda, tapi pendiri sama begitu juga pengurusnya. Buat Ilham hal ini adalah kerjaan yang mubazir saja. Bila ada dana yang dapat diperoleh dari intitusi terkait buat komunitas yang ada kan lumayan juga hasilnya? Barangkali ini yang tidak sempat terfikirkan oleh Ilham Wahyudi.
Kembali ke ide baru dan puisi kontemporer yang menjejak batin penulis muda Sumatera Utara. Bila saja puisi adalah baju, tentu saja ide baru dan mode yang kontemporer mudah terlihat. Puisi bukan pakaian. Seni bahasa yang dituliskan penulis muda Sumatera Utara masih tetap pada pilihan menulis puisi yang konvensional. Hal serupa merambah ke dunia penulisan prosa. Acara itu diselingi penampilan musikalisasi karya Yulhasni (MENDROFA), M. Raudah Jambak (SEBAB PAHLAWAN NAMAKU), dan Sarifuddin Lubis yang dibawakan oleh Sanggar Rumput Hijau (SMA Neg-2 Binjai)
Oned Adithia Rislan
Walau Rizlan Effendi belum berkesempata hadir dalam acara omong-omong sastra, sehari sebelum acara OOS di rumah Saripuddin Lubis di Binjai, Rizlan telah meluncurkan buku yang berjudul “Sang Penanti” karyanya. Buku mungil berkulit hitam berisi kumpulan cerita-cerita pendek yang sebenarnya juga bukan sesuatu yang baru, walau istilah krennya disebut dengan nama “ Flash Fiction”.
Laura Ingarls Wilder yang terkenal lewat cerita-cerita pionirnya yang berjudul “Litle House On The Praire“ yang terbit tahun 50-an adalah cerita-cerita singkat tentang keluarga Laura yang hijrah ke Amerika dari Inggeris di abad ke 19. Cerita-cerita singkat serupa juga pernah dipublikasikan penulis asal Jepang Yukio Mishima sekitar tahun 40-an.
Sang Penanti
Oned Adhtia Rizlan telah meluncurkan dua buku. Rintisan penulis Sumatera Utara ini lewat bukunya “Sang Penanti” memang tidak tanggung-tanggung. Di salah satu sudut cafe es krim di pusat perbelanjaan Medan Fair. Dia menghadirkan YS. Rat dan Hasan Albana sebagai pembicara. Sayang ruang petemuan terlalu sempit, dan hingar-bingar suara-suara pengunjung membuat kehadiran undangan terasa agak tidak nyaman. Peluncuran buku mungil Oned, tujuan utamanya agar buku sastra karya Oned dapat diminati banyak pembaca.
Jelas ini tidak mudah. Mempromosikan buku karya sastra tidak segampang kita melihat produk makanan ringan yang terpampang di setiap sudut jalan yang kita lewati. Promosi memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apa lagi bila promosi mempergunakan media televisi.
Berhasilkah Rizlan meluncurkan karyanya yang menurut pengamatan penulis, karya Oned berjudul “ Sang Penanti” ini layak untuk dibaca. Bahasanya lugas. Mengalir. Mudah dicerna, dan bila ditelaah secara mendalam, karya Oned ini di samping konvensional, ceritanya ada beberapa yang penulis rasakan agak sedikit absurd.
Dari 64 judul ‘flash fiction’ yang dihadirkan Oned dalam buku ‘Sang Penanti’, di halaman 37 memang ada cerita yang judulnya ‘absurd’. Setelah dibaca, ternyata ceritanya belum menunjukkan tanda-tanda cerita singkat Oned itu absurd. Beda dengan cerita yang berjudul ‘ Pada Sebuah Cafe’ tokoh lelaki itu dan peristiwa kehidupan yang dia alami sebagai manusia agak lebih terasa ‘absurd’ bila dibandingkan dengan ceita yang berjudul ‘absurd'.
Begitu juga dengan cerita Oned yang dia beri judul ‘De Javu‘. Walau tidak sekental ‘Menunggunya Godot‘ Sang Penanti yang banyak bermain dengan air, angin, hujan dan kegilaan manusia yang ada dalam tiap cerita Oned. Apa yang dikatakan Idris Pasaribu dalam kata pembukaannya pada peluncuran buku ‘Sang Penanti‘, flash fiction sudah cukup lama dikenal di Hongkong. Bentuknya yang sederhana, tidak membuat kening berkerut, buku Oned ini memang perlu dibaca.
Dalam bercerita Oned mengalir bagaikan riak air yang mencari muara. Sesekali air menggenang lalu kembali mengalir dan mengalir bagai perjalanan waktu yang tak pernah berhenti, kata Idris Pasaribu.
Antara Omong-omong Sastra di rumah Saripuddin Lubis di Binjai tetap saling berkaitan dengan acara yang dibuat Oned Adhitya Rizlan dalam acara bedah naskah flash fiction di salah satu sudut cafe Medan Fair tanggal 5 lalu. Bedanya, dalam omong-omong sastra di Binjai tanggal 6 Maret 2011 lalu, belum ada buku sastra yang diterbitkan sebagai bahan untuk di omongkan. Kapan? 2011maret.
Januari Sihotang
Untuk Sang Guru
:Alm. Antilan Purba
hanya mampu merunut denyut jantung
saat waktu berjudi, takdir menghindar
dari keolakan darah
pada tubuh demam petuah
usiamu bernanah, meski dalam kelambu jiwa
tersimpan kosakata, diksi dan irama
masih terngiang bisikmu
menjual rahasia setiap senja
di bawah pohon asam
seperti perempuan muncul dari cermin
kata-katamu bersolek merias percakapan kita
kutemukan sejarah lain dalam tubuhmu
tak ada yang mesti ditunggu, katamu
lalu pelan menutup mata
tubuhku kelak menjadi malam, bisikmu
Yogyakarta, 2011
Seseorang Terbaring
di Tepi Sajakku
seseorang terbaring di tepi sajakku
wajah sepi, matanya menyalakan rindu
berusaha membakar malam-malam suntuk
ini bukan tentang ingatan buruk
hanya berusaha mencabut selongsong waktu
yang bersarang di dadamu
percakapan kita masih membasahi mimpiku
saat menggali kedalaman di setiap sajakku
hingga kening seluruh semesta
lamat-lamat menemukan jelaga
sajak tentang sepi dan engkau
masih berbaring di tepi, sajak penghujung mimpi
Yogyakarta, 2011
Malam Panjang
rel waktu membentang sejak petang
menunggu perempuanku di ranjang
malam telanjang, malam panjang
malam penuh hujan riang
kinni ikan-ikan tua mengatupkan insang
Yogyakarta, 2011
Ilham Wahyudi
JANGAN KUTUK KAMI
jangan kutuk kami jadi batu , apalagi anjing pincang, Bu
kami sedang belajar menanam buah;
menangkap ikan dan menanak nasi
kami tak lagi menyembah apapun yang
bapak-bapak kami sembah
setiap hari kami susun kembali
remah-remah yang masih tersisa
sepanjang malam kami bongkar
kepala kami yang rusak tercemar limbah pabrik
mata kami tak pernah lagi memancarkan bunga-bunga api, Bu
mulut dan hati kami juga telah kami install ulang. Kami berdenyut;
kami bukan robot, Bu. Bukan!
Jangan kutuk kami jadi batu apalagi anjing pincang, Bu
jangan!
Medan. 2009
Wajah Merahmu
di langit tak kutemukan wajah merahmu di bilik-bilik awan
yang menyembunyikan butir-butir air hujan.
hanya halilintar kedinginan dan titik-titik pelangi yang berserakan tanpa warna, kesepian di sana. pelan-pelan aku turun ke hutan-hutanmu,
meraba setiap jengkal sudut-sudutnya yang lembab tertimbun
embun pagi.
tak jua kutemukan wajahmu. hanya binatang-binatang buas yang kelaparan dan pohon-pohon tua yang lelah berdiri gemetar menyimak aku berkisah tentang kau yang mencuri sebagian nasibku—aku berhenti sesaat: mengeja bayang-bayang wajah merahmu yang tersapu kabut senja.
hujan jatuh tak beraturan.
halilintar meraung-raung kegirangan;
hutan ini semakin lembab menggendong tubuhku yang digenangi
rindu.
aku semaput.
di langit pelangi tak jadi muncul, besebab malu
warnanya sepucat wajahku.
Medan, 2009
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
-kepada Ayahanda Antilan Purba
Bukan kau letih menulis
tapi telah saatnya kau dituliskan
Dari Makammu Aku Bercermin /I/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
-kepada Ayahanda Antilan Purba
Tulismu mengguncang apa segala
katamu menggetarkan tafsir di dada
sajakmu memberontak sempat yang ada
walau jemariku tak utuh melambai
mata tak tetap menatap
izinkan kuramu sajak
sebagai pengiringmu menemu
Tuhan di sana
Dari Makammu Aku Bercermin /II/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
Kau kan tetap kusemayamkan
di dataran hatiku yang hampa
di atas singgasana segala
agar dapat kutatap giatmu
dan meramu segelas syair
pelepas dahagamu sejak dulu
biarkan kuasah sebilah sajak
penebas rumput gambut
penghalang jejakmu
menata kata di zaman tua
Dari Makammu Aku Bercermin /III/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
Nikmat letih yang kau ajarkan
masih tak sempat kusembahyangkan
fi sela-sela sempat yang padat
tapi tiada kotornya kata
telah menjadi dogma searah
dan menggugus serupa cinta
sekarang dan selamanya
Dari Makammu Aku Bercermin /IV/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
Nelangsa menganga
saat tiba di rumah tua
disambut tugu dua
di situ ada namamu
tunduk tertekuk
tangis meringis
getar menelantar di sekujur tubuh
dalam dekap gigil
kutulis sebentuk cinta
agar mengubah sajak mutakhir
di zaman sekarang dan nanti mendatang
sebab
dari makammu aku bercermin
Dari Makammu Aku Bercermin /V/
M.Irsyad A. Sungkunan Lubis
Tuliskan aku sajak
dan lontar lewat mimpi
jika tiba saatnya nanti
kan kubasuh hati
menjadi teka-teki
agar orang tak mengerti
arti suci sajak ini
MENGENANGMU 1
Abd. Rahman M
(Antilan)
Baru saja kumulai syair-syairku
kau sudah pergi selamanya
belum sempat kutunjukkan padamu
kau telah tiada
mungkin kau tak tahu siapa aku
karena aku jarang berbicara
diam selalu diam
untukmu aku ucapkan selamat jalan
kau panutanku walau kau tak tahu
aku mengagumimu semangatmu
MENGENANGMU 1
Abd. Rahman M
(Antilan)
Kesederhanaan menyelimuti
harimu
duniamu
jalanmu
semoga kau tenang di sana
Amin
Antara Harapan dan Kegairahan
Hasan Al Banna
APA yang diungkapkan Idris Pasaribu tentang Antilan Purba di halaman ini pada edisi lalu, hampir pasti tidak terbantahkan. Antilan memang gilak buku! Baginya, boleh jadi, tinggi-rendah ‘kasta’ seseorang ditentukan oleh berapa banyak koleksi buku yang berderet di rak lemari.
Benar, itu memang bukan alat pengukur satu-satunya. paling tidak, Antilan sudah memutuskan pilihannya dan lantas khatam membuktikannya: mengoleksi banyak buku (barang tentu juga melahap saripati isinya)! Kecintaan dan loyalitasnya dalam dunia baca-tulis merupakan hal yang tak bisa dilekangkan dari banyak orang selepas kepergiannya menghadap Ilahi Kamis menjelang tengah malam, 24 Februari 2011 lalu.
Tidak pula dapat dipungkiri, Antilan layak menjadi tempat bertanya menyangkut referensi, khususnya perkembangan sastra, baik dari segi teori maupun karya kreatif. Lebih daripada itu, sesungguhnya, khalayak penggiat maupun penikmat sastra menaruh harapan yang besar kepada Antilan. Sebagai akademisi (dosen sastra di Unimed dan beberapa perguruan tinggi di Medan), Antilan digadang-gadang menjadi kritikus sastra yang mendorong karya sastra sekaligus penulisnya ke puncak pencapain terbaik.
Antilan pun menunaikan harapan itu, meskipun tanpa disadari, harapan yang entah terlampau berat itu menyebabkan Antilan terkesan kewalahan. Tidak mengherankan, beberapa kalangan bahkan menuding beliau tidak konsisten sebagai kritikus. Pasalnya, Antilan tidak mampu menampik hasrat untuk ikut cebur ke ranah kreatif penciptaan karya. Dia kerap pula menulis dan menyiarkan beberapa puisinya ke ruang publik. Terlebih pula, teman-teman sastrawan memonten karya kreatif Antilan tidak secemerlang tulisan-tulisan kritisnya, meskipun pendapat ini masih leluasa untuk dimasukkan ke mesin perdebatan.
Mungkin jadi, Antilan melakukan hal yang demikian (turut meleburkan diri ke ranah penciptaan karya sastra) untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa beliau tidak cuma mahir menyayat-nyayat karya orang lain, tetapi lihai pula menciptakan karya sastra. Sayang, ketika karya-karyanya dipindai, tidak sedikit pihak yang menyatakan karya-karya kreatif Antilan tidak seampuh karya-karya kritisnya atas produk sastra kreatif yang dihasilkan para sastrawan. Tidak jarang Antilan mendapat nasihat: jadilah pengamat sejati, tak usah ‘menyusup’ ke gerbong para pencipta karya kreatif.
Memang, anjuran itu kedengaran tidak adil bagi Antilan. Mengapa para sastrawan yang berkutat di dunia penciptaan boleh menjelma pengamat sekaligus kritikus, sedangkan seorang pengamat seolah-olah tidak diperkenankan? Toh, umpan balik dari pertanyaan tersebut tetap meluncur: untuk menjadi kritikus handal tidak serta-merta ditunjukkan dengan karya sastra dari sang kritikus, cukup dengan tulisan kritik yang elegan dan bertanggung jawab.
Sebenarnya, polemik ini muncul dari besarnya harapan dan kebutuhan para sastrawan terhadap seorang kritikus yang independen. Ya, independen dalam makna suntuk dan tekun mengamati, mengulas, memilah, menelusuri ‘sesuatu’ yang terpendam pada hiruk-pikuk karya.
Keilmuan Antilan dengan segenap pengetahuan teori atau referensinya tentang sastra sangat diharapkan untuk dapat menggali, menemukan dan selanjutnya mengerek kualitas karya sastra secara utuh ke tingkat yang lebih baik. Oleh karena itu, harapan tersebut juga tidak berlebihan untuk diletakkan di atas pundak Antilan. Di sisi lain, ada kemungkinan jika Antilan tidak sedang ugal-ugalan menunjukkan diri bahwa dia juga bisa menciptakan karya sastra. Bisa jadi Antilan tak sudi (atau tidak sanggup?) mematahkan kegairahannya dalam bersastra.
Dengan kata lain, Antilan memiliki energi yang sangat besar terhadap dunia sastra. Energi yang digunakan untuk memburaikan isi perut setiap karya sastra yang masih berlebih dimanfaatkannya pula untuk menciptakan karya sastra. Meskipun akhirnya, penilaian umum berbagai kalangan terhadap karya kreatifnya tersebut cenderung dingin, tetapi tetap tidak mampu memadamkan api gairahnya untuk menulis karya sastra.
Lebih penting dari ‘cekcok’ di atas adalah kenyataan, Antilan tidak pernah mengkhianati jagat sastra. Beliau telah memilih dunia sastra menjadi peristiwa yang maha penting bagi sebagian besar perjalanan hidupnya. Tentu dia juga sudah memikirkan segala konsekuensi atas pilihan tersebut. Termasuk ketika dia, sadar atau tidak sadar, menjadi abai terhadap kesehatannya sendiri. Aktivitasnya yang ganas di dunia akademis dan praktis kesusastraan dibiarkan menyandera tubuhnya melewati batas kemampuannya. Setuju atau tidak setuju, fakta ini sekali lagi menunjukkan betapa Antilan tidak bisa dihadang, bahkan oleh penyakitnya sendiri.
Kebengalan’ beliau menantang sengat sakit menuntunnya untuk tetap aktif mendonorkan pengetahuan kepada maha siswa-mahasiswanya, juga bersengketa ilmu dengan para koleganya di taman budaya atau di berbagai sesi diskusi. Antilan sama sekali tidak ingin menunjukkan kepada orang banyak bahwa dia sedang ditodong penyakit buas, walaupun kondisi fisiknya tidak mampu berkelit selincah semangatnya. Ketika akhirnya dia ‘terkunci’ berhari-hari di salah satu ruangan rumah sakit, Antilan tetap kukuh menunjukkan dia dalam keadaan sehat.
Dia tetap mengedar tanda-tanda kebangkitan, mengacungkan kepal tangan, menyambut para pembesuknya dengan aneka canda. Lantas, hanya hembus napas penghabisan yang mampu mendamaikan Antilan agar beristirahat selamanya. Hal yang juga kelak juga dialami oleh setiap kita, manusia yang harus kembali ke haribaan-Nya. Salam takzim untuk Antilan Purba!
Penulis; sastrawan, staf Balai Bahasa Medan, dan dosen luar biasa di FBS Unimed.
Kritikus Sastra itupun Pergi
Jones Goeltom
Belum genap sebulan kepergian tokoh teater Sumatera Utara, Barani Nasution, kini giliran pentolan sastra asal kota ini yang menyusul. Drs. Antilan Purba, M.Pd, sosok yang dikenal serius menekuni dunia sastra, ikut menyusul, setelah sempat dirawat di ruang ICU, Rumah Sakit Pirngadi Medan, Kamis malam, 24 Februari 2011.
Lengkaplah sudah. Keduanya menyusul tokoh musik, Ben M. Pasaribu yang lebih dulu berpulang Desember tahun lalu. Antilan Purba memang bukan sastrawan tulen. Antilan Purba lebih dikenal sebagai kritikus, yang nyaris selama hidupnya mengabdi pada dunia sastra. Dia tak hanya rajin mendokumentasikan karya-karya sastrawan Medan, juga mengkiritisinya. Dia tekun pula memantau perkembangan para sastrawan, berikut karyanya yang tersebar di surat kabar lokal dan nasional. Tidak heran jika pelaku sastra di kota ini, sering menganggapnya sebagai HB. Jassin Medan.
Di samping itu, Antilan Purba sering dianggap motivator terutama oleh para mahasiswanya. Dia tak pernah letih mendorong mereka untuk berkarya. Ditambah kapasitasnya sebagai dosen sastra di Unimed dan UISU, memberinya ruang pengkaderan yang lebih luas. Dia sering mengajak mahasiswa-mahasiswinya berdiskusi di luar kampus.
Melalui Laboratorium Sastra (Labsas) yang dia dirikan bersama Thompson Hs, Yondik Tanto dan Afrion, dia kerap menggelar acara-acara sastra; mulai dari seminar, festival, perlombaan sampai menerbitkan buku. Lewat campur tangannya pula sejumlah komunitas sastra di Medan terus bermunculan seperti komunitas KOMPAK, KOMPENSASI dan KOMA.
Antilan Purba juga produktif menerbitkan buku, baik yang diterbitkan sendiri maupun oleh penerbitan. Buku-bukunya antara lain; Kompetensi Komunikatif Bahasa Indonesia: Ancangan Sosiolinguistik (1996), Bahasa, Sastra, dan Wacana (1997), Kompetensi Komunikatif: Teori dan Terapan dalam Pembelajaran dan Penelitian Bahasa (1998), Sastra Indonesia Kontemporer (2001), Pragmatik (2002), Kompleksitas Sastra Indonesia (2007).
Kecintaannya terhadap buku, terutama sastra, terlihat dari kebiasaannya mengoleksi buku-buku itu. Tahun 2009 saja, dia sudah mengoleksi 4000 –an judul buku, belum termasuk majalah. Di rumahnya, buku-buku menjadi dekorasi utama, di Jalan Serdang, Gang Manggis. “Kegilaannya” mengoleksi buku itu, sering tak masuk akal. “Tiap bulan kuhabiskan budget Rp. 2 juta per bulan,” akunya suatu kali.
Karena mengutamakan buku pula, dia masuk dalam golongan dosen “miskin”. Rutinitas sehari-hari dia jalani dari angkot ke angkot. Kadang pula dia lebih mementingkan buku daripada makan. Tidak heran jika kesehatannya pun kerap terganggu. Puncaknya sejak 2 tahun terakhir, Antilan mulai diserang penyakit yang terbilang serius. Sejenis virus tertentu menyerang telinga, hidung dan mulutnya. Setiap kali kambuh, ketiga organ penting itu, sering mengeluarkan darah. Kondisi itu dia jalani kurang lebih 2 tahun.
Begitu, dia tetap menjalani kegiatannya sehari-hari, termasuk sekedar berdiskusi di Taman Budaya. Terakhir kali, kira-kira 5 bulan lalu, penulis sempat berbincang-bincang dengannya. Saat itu kondisinya semakin parah. Kemana-mana dia menenteng beratus jenis obat plus sebungkus besar kapas. Setiap 5 menit sekali, dia mengganti kapas-kapas yang dia sempalkan di hidung dan telinganya itu.
Kondisi itu tak menyurutkan semangatnya. Ada saja yang ingin dia diskusikan. Tidak semata-mata sastra, tapi meluas sampai budaya tradisi, sosial, filsafat, agama dan politik. Yang paling menarik, setiap kali diskusi, tak lupa dia menunjukkan buku terkait tema yang dibahas. Antilan selalu menyertakan refrensi-refrensi di setiap argumennya dengan penuh semangat.
Sayang Antilan bukanlah penulis yang baik. Dia termasuk yang gagap menuliskan pikiran-pikirannya. Dia lebih fasih melontarkan pemikiran dan gagasannya secara langsung. Tak heran, karya tulisnya (puisi dan cerpen) jarang terpampang di media massa.
Bertolak dari Kesederhanaan
Kesederhanaan adalah ciri dari seorang Antilan Purba. Meski berprofesi sebagai dosen, dia tak pernah menunjukkan sikap otoriter pada mahasiswanya. Dia tak sungkan duduk satu meja dengan siapa saja, tidak terkecuali orang-orang muda yang ingin belajar padanya. Dengan segelas kopi dan rokok, dia mampu berdiskusi sampai larut malam. Kesederhanaan hidup itu, terungkap pula dari motto hidupnya; “Kerjakan yang engkau pikirkan, pikirkan yang engkau kerjakan.”
Di sastra dia cenderung menyukai karya-karya yang mengusung kearifan lokal serta nilai-nilai agama. Dari sedikit puisi yang dia hasilkan, penulis ingat pernah satu waktu, dengan bersemangat, dia menujukkan salah satu puisinya yang masih dengan coretan tangan. nasiku tak kau makan lagi. sillahturahmi kita mati.
Puisi singkat itu termasuk yang dibanggakannya. Menurutnya, sikap individualisme disebabkan karena orang sudah enggan memakan nasi sesamanya. Wabah itu bahkan sudah terjadi di kampung-kampung.
“Jika orang masih mau makan nasi sesamanya, pasti silahturahmi itu tetap terjalin,” tegas sastrawan kelahiran Pematang Siantar, 8 Maret 1958 ini. Lain waktu, dia pernah membahas polemik komplotan seniman Utan Kayu, Saut Situmorang dan kelompok Taufik Ismail tentang erotisme sastra. Bagi Antilan, seorang sastrawan memiliki tanggungjawab moral termasuk ketika berkarya.
Antilan bersepakat, mestinya karya sastra ikut memberikan pencerahan bagi pembacanya. Dia menolak liberalisme buta seperti yang diperlihatkan kelompok Utan Kayu selama ini. “Harusnya sastrawan menjadi benteng masyarakat melalui karya-karyanya, sembari tetap menjaga kebebasannya,” kata lulusan pasca sarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini.
Mengenang Empat Penyair yang Telah Berpulang
Darwis Rifai Harahap
Seniman Sumatera Utara berduka. Dalam rentang waktu yang tidak begitu lama, setelah berpulangnya Aldian Aripin, selang beberapa minggu kemudian menyusul Z.Pangaduan Lubis. Derita penyakit yang dialami kedua penyair Sumatera Utara ini sama, yaitu strok ringan.
Sewaktu melayat Z. Pangaduan Lubis di rumah duka di Jalan Gurila Gang Belimbing, penulis membonceng Barani Nasution ke kuburan. Selesai sholat jenazah, Barani Nasution pamit pulang karena esoknya dia akan berangkat ke Jakarta menemui anak-anak dan cucunya. Tidak ada tanda-tanda Barani Nasution begitu sampai di Jakarta dan tak pernah lagi kembali ke Medan, karena tanggal 16 Februari 2011, Barani Nasution, harus mematuhi janjinya. Barani dipanggil Penciptanya di Cikeas Bogor dalam usia 69 tahun.
Innalillah... Rekan Barani Nasution tidak sekedar teman dalam berkesenian, juga seorang guru, aktor, sutradara dan penulis naskah yang handal. Dia juga seorang penyair. Bila dia bicara, lidahnya masih kental dengan aksen Mandailingnya, walau dia cukup lama bermukim di Jogya. Dia juga dapat berbahasa Jawa walau tidak fasih benar. Bahasa Inggeris sangat dia kuasai. Bersama beberapa teman seniman, Barani sempat membuka semacam club diskusi berbahasa Inggeris di Taman Budaya Sumatera Utara sekitar tahun 1990-an.
Kini dia telah tiada. Yang terbayang di benak penulis, wajahnya yang di tumbuhi berewok tebal, telah pula memutih. Tubuhnya yang kecil, nada suaranya yang berat, kulitnya yang sawo mateng, sekilas dia tampak seperti saudara kita asal dari Kampung Keling. Barangkali karena kemiripannya itu jugalah, sutradara Muchtar memberinya peran sebagai sais kereta lembu keturunan keling dalam film Buaya Deli yang di produksi sekitar tahun 1970-an.
Barani Nasution penulis kenal di pertengahan tahun 1969 saat usai pementasan naskah “Yang Di Dalam“ karya dan Sutradara Burhan Piling di Gedung Kesenian Jalan Bali Medan. Sosok laki-laki berewok yang tak pernah terlihat hadir di Gedung Kesenian Medan, dengan bicaranya yang lantang, sistematis, tampil dengan bahasa yang lugas membahas pertunjukan.
Tampilnya sosok asing yang didampingi Surya Darma Lubis (alm) itu, membuat hampir semua mata peserta diskusi tertuju kepadanya. Laki-laki berewok yang bertubuh kecil itu adalah Barani Nasution, salah seorang anggota teater Bengkel Jogya Pimpinan W.S. Rendra. Pantas saja bicaranya begitu lantang dan sangat berkesan.
Usai diskusi perkenalan semakin akrab dan omong-omong non formal dilanjutkan sambil santap malam di warung Siang-Malam di simpang Jalan Bali dan Jalan Thamrin. Bincang-bincang dengan Barani Nasution yang wajahnya ditebali dengan jambang yang subur itu, terkesan dia memang sarat dengan ilmu tentang seni. Tidak heran di awal perkenalan kami di Gedung Kesenian usai pementasan, keakraban berlanjut dengan perencanaan untuk mementaskan “Kasidah Barzanzi” yang telah digelar Bengkel Teater Rendra di Taman Ismail Marzuki Jakarta.
Sayangnya, izin untuk mementaskan, tak didapat dari W.S. Rendra. Bersama Teater Nasional Medan, akhirnya Barani Nasution dengan keseluruhan pemain mengangkat Marhaban Ya Muhammad yang dirujuk dari kitab Barsanji dan pemain direkrut dari Teater Nasional Medan secara profesional.
Pementasan “ MYM” di gelar di Gedung Olah Raga Jalan Veteran Medan selama dua malam berturut-turut dengan menurunkan pemain sekitar lima puluh orang. Sejak itu, nama Barani Nasution yang lahir di Siabu Tapsel 27 Juli 1941 mulai berkibar sebagai seniman teater Sumatera Utara.
Pengalaman berteaternya sejak di bangku sekolah menengah atas di tahun 1959 sebagai pemain di kota kelahirannya. Tahun 1963 dia mulai memberanikan diri bertindak sebagai Sutradara dalam naskah Mutinggo Busye berjudul “Barabah” bersama grup teater Nauli yang dia dirikan tahun 1963.
Selepas mementaskan MYM di Gedung Olah Raga Medan, Barani Nasution mendirikan grup Teater Dionysus tahun 1970. Entah mengapa, dua tahun kemudian Barani Nasution kembali membentuk grup teater yang dia beri nama “Teater Nuansa Medan“ dan banyak mementaskan naskah-naskah kaliber dunia dan naskahnya sendiri di pentas arena Tapian daya Medan dan Gedung Utama Taman Budaya Medan di sekitar tahun 70-an dan 80-an.
Dia juga menerjemahkan drama-drama asing ke dalam Bahasa Indonesia, beberapa diantaranya Medea, Aluetis, Theree Sisters, Orang-orang Resah, Dua Belas Pemberang dan juga menerjemahkan buku-buku pelajaran Teater karya Stanis Lavsky dan Oscar J.Brockett. Pensiun dari Pegawai Bidang Kesenian Sumatera Utara, Barani Nasution hijrah ke Jakarta. Di beberapa senetron arahan Khairul Umam yang pernah tayang di beberapa stasiun televisi, Barani Nasution berkesempatan tampil sebagai pemain pembantu.
Kini Barani Nasution telah tiada. Belum lagi bunga-bunga yang ditaburkan di atas makam mengering, Sumatera Utara kembali kehilangan senimannya. Drs. Antilan Purba, M.Pd., seniman yang dosen ini, ternyata harus kalah dengan takdir yang menyapa. Pengarang buku “Sastra Dan Manusia” ini dipanggil Tuhannya tanggal 24 Februari 2011 lalu.
Derita sakit yang dialami Antilan Purba memang cukup lama. Lebih empat tahun. Walau dalam keadaan sakit, dia tetap mengajar, dan setiap petang hadir di kantin Taman Budaya Suamatera Utara untuk bertukar pikiran dengan teman-teman sesama seniman disana. Biasanya, setiap kali penulis bertemu di kantin Taman Budaya, Antilan Purba tetap sedang mencatat sesuatu di buku hariannya. Selintas, sosok Antilan Purba terkesan adalah orang yang tak hendak menyia-nyiakan waktu.
Begitu juga dengan sosok penyair Aldian Aripin, Z. Pangaduan Lubis dan Barani Nasution. Ke empat Allahyarham yang telah tiada ini, adalah seniman-seniman yang haus akan ‘ilmu’. Setiap kalimat yang meluncur dari mulut mereka, baik kepada seniman-seniman usia muda, tak ada kata yang tak bermanfaat untuk disimak. Aldian Aripin dan Z. Pangaduan Lubis adalah orang yang tak mau kompromi pada hal-hal yang tak sejalan dengan pikiran mereka. Dalam puisinya yang berjudul Revolusi, Aldian Aripin berkata;
Revolusi kita adalah revolusi manusia
Yang bergerak kesegala arah
Siapa yang alpa
Tersisih dari sejarah
Aldian Aripin terasa begitu lantang pada bait pertama dari sajak yang berjudul Revolusi itu. Puisi ini dia muat di halaman 14 dari kumpulan puisi tiga penyair Sumatera Utara yang berjudul Ribeli 1966. Ketiga penyair itu, Dojahan A Nasution, Aldian Aripin dan Z. Pangaduan Lubis yang telah tiada.
Dalam puisi pendeknya yang berjudul Akan Tiba Waktu, kelantangan Aldian Aripin semakin kentara. Lihatlah, jutaan mata menatap - dengan satu dakwa: - Engkaulah sumber bencana! Pada bait ke dua dia meneruskan, Lihatlah, jutaan tangan teracung – dengan satu tuntutan : - Turun tahta ! Sekilas Aldian Aripin seolah sulit untuk tidak meledak-ledak. Dia memang sedikit beda dengan sahabatnya Z. Pangaduan Lubis yang sempat meneteskan air mata begitu mendapat kabar tentang berpulangnya Aldian Aripin.
Dia menangis karena tak dapat melayat kepergian seorang sahabat dikarenakan kesehatannya yang semakin memburuk. Dari atas kurasi rodanya dia menyitir beberapa bait puisinya yang juga dimuat dalam Ribelli 1966. Puisi itu berjudul Lemari Kaca. Dalam lemari kaca – pada sudut ruangan sejarah – tersimpan duka cita.
Pada bait kedua dia meneruskan Dalam lemari kaca – berbaris boneka mainan, mereka – para pahlawan yang dilupakan. Di bait ke tiga dia menutup sajaknya dengan Dalam lemari kaca – segala kezaliman dipendam – sejak lama – kita telah melihatnya.
Kini keduanya telah tiada. Kalau Barani Nasution meninggalkan beberapa jilid buku yang dia terjemahkan, Antilan Purba yang puisi-puisinya dimuat di beberapa antoloji. Penulis lebih tetarik dengan beberapa esai yang telah dia terbitkan dalam bentuk buku, dan dia beri judul Sastra Dan Manusia.
Bagi Antilan Purba karya sastra hanya permainan kata. Ketika beberapa mahasiswanya menanyakan tentang keterkaitan karya sastra dengan agama, Antilan Purba semakin bersemangat. Agama ya agama. Sastra dan agama berhubungan erat. Tidak dapat dipisahkan. Jika dipisah, merugi dan membahayakan kehidupan manusia.
Sastrawan yang dilahirkan atas nurani bertuhan, karya-karyanya disinonimkan dengan “Sastra Relegius”. Cerminan itu memang ada pada diri Antilan Purba yang kini telah menghadap Khaliknya. Usai sholat Ashar atau magrib di mushola Taman Budaya, dia akan kembali duduk ke kantin, memesan kopi susu, dan kembali menelaah buku dan mencatat. Orang-orang baik yang sarat dengan ilmu itu telah meninggalkan kita. Karya-karya mereka masih dapat kita baca dan telaah.
Mdn 2 Maret 2011 drh.
Antilan Purba dan Bukunya
Seorang dosen kelahiran Bandar Simalungun, Drs. Antilan Purba, M.Pd., yang akrab dengan semua mahasiswanya, Jumat siang 25 Pebruari 2011, dikebumikan setelah disembahyangkan di mesjid tak jauh dari rumahnya. Tujuh tahun lamanya dia menahankan sebuah derita penyakit kanker di bagian lehernya.
Hasil foto terakhir di Rumah Sakit Pirngadi Medan, penyakit yang tak mau kompromi itu sudah menyerang sampai ke otak bagian kanan, setelah terlebih dahulu menyerang bagian kiri. Isterinya yang setia beserta anak-anaknya, siang malam menjagainya. Antilan sangat mereka manjakan, karena Antilan juga masih sempat-sempatnya bercanda dengan istri dan anak-anaknya bahkan dengan penulis, saat berkali-kali menjenguknya ke rumah sakit. "Bagaimana kabarmu?" sapa penulis.
"Biasa saja," katanya sembari memberikan jempol tangan kanannya sebagai ganti salaman. Bukan dengan penulis saja yang pada sebuah malam ikut membawanya ke Rumah Sakit Pirngadi. Ketika mahasiswanya datang membesuknya, dari tempat tidurnya, dia sempat memberikan ceramah (kuliah). Di rumah saat mahasiswanya datang, dia juga sempat ikut membacakan puisi di depan para mahasiswa di teras rumahnya. "Ingat kuliah ini tiga SKS," katanya kepada para mahasiswa yang datang membesuknya, dengan artikulasi yang sedikit agak terganggu.
Selain mengajar di Universitas Negeri Medan (Unimed), Antilan juga mengajar Sastra dan Bahasa di berbagai perguruan tinggi swasta lainnya. Di bahunya selalu tersandang tas hitam yang penuh dengan buku-buku dan makalah, tak kurang beratnya minimal 10 Kg. Lalu duduk di kantin Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), memesan segelas kopi dan menghirup rokok kreteknya, sembari membaca buku atau bercengkerama. Jika tak ada temannya bercengkrama, Antilan pun mengirimkan SMS kepada penulis yang bunyinya selalu; aku sdh di tbm. dtnglah, agr kt mulai pertengkaran.
Jika SMs itu sudah berbunyi demikian, berarti ada buku baru yang sangat menarik untuk dipamerkannya, lalu kami "pertengkar"kan. Kami selalu mengatakan, kami adalah teman bertengkar, bukan lawan bertengkar. Kami tak pernah berdiskusi, tapi bertengkar.
Kata diskusi kami ganti dengan bertengkar. Untuk apa berdiskusi, kalau hasilnya pertengkaran, kan lebih baik bertengkar tapi sebenarnya kami sedang diskusi serius, itulah kesepakatan kami. Penulis dan Antilan sudah 20 tahun lebih berteman, tapi 10 tahun terakhir menjadi teman bertengkar yang serius. Penulis dan Antilan memang selalu menjadi sparing partner dimana saja ketemu.
Jika ketemu buku baru dan menarik, dia selalu menganjurkan agar penulis membelinya. Jika penulis tak punya uang, seusai dia membaca buku itu, penulis boleh meminjamnya tiga hari, kemudian "dipertengkarkan". Bisa bertengkar di bawah pohon asam, bisa di kantin TBM atau dimana saja. Bahkan kami pernah beberapa kali bertengkar di toko buku Gramedia, hingga pembeli buku membelalakkan matanya kepada kami dan satpam pun datang mengingatkan, agar suara kami tidak mengganggu orang lain.
Saat banjir melanda rumah penulis, buku-buku yang terendam air selama dua hari dua malam pun menjadi bubur. Ada beberapa buku yang mau difotocopykan, Antilan membuat ultimatum, tak boleh lebih dari lima hari. Untuk buku, Antilan memang sangat ketat bahkan super ketat.
Dari buku-bukunya yang buuuanyak itu, Antilan pun memiliki referensi yang lebih dari cukup, untuk menulis buku. Setiap bukunya terbit, Antilan "memaksa" penulis untuk menjadi orang pertama yang membeli bukunya. Tak boleh ditawar. Begitu mendengar novel penulis di luncurkan, dia pun mengancam:"Bang akulah orang pertama yang akan membeli novel abang. Ingat itu!"
Antilan pun menyerahkan uang Rp. 55.000,- Entah dari mana dia tau, harga novel yang belum diluncurkan, sementara penulis sendiri belum mengetahui berapa harga novel akan dijual oleh penerbit. Saat peluncuran buku di Gelora Bung Karno Jakarta di Ruang Anggrek, penulis terkejut. Benar harga novel penulis yang berjudul Acek Botak itu, Rp. 55.000,-
Antilan sudah menerbitkan 14 buah buku yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dan terakhir diterbitkan oleh sebuah penerbit dari Jogjakarta. Dua buah buku lagi sudah siap dan menurutnya akan dikirimkan ke penerbit (maaf tak disebutkan apa penerbitnya).
"Nanti pada 10 Pebruari 2011, kedua buku ini akan kukirimkan ke penerbit. Mereka sudah menunggu," katanya pada penulis. Selain dua buku yang sebenarnya sudah siap terbit, ada empat buku lagi sedang dikerjakan dan hampir rampung. Antilan sudah menunjukkannya kepada penulis di rumahnya saat penulis mengunjunginya. Penulis tak tahu, apakah buku itu jadi dikirimkan ke penerbit atau tidak, karena suatu malam, penulis ikut membawanya ke Rumah Sakit Pirngadi Medan.
Kini Antilan telah tiada. TBM terasa agak sepi juga, tanpa dirinya, apalagi kantin yang selalu "dihuninya" untuk melepas lelah, tak terdengar lagi hentakan suaranya. Antilan, pertengkaran kita belum selesai. Entah kapan, tapi pasti, kita kelak akan bertemu dan akan kita lanjutkan pertengkaran kita yang belum selesai itu, sampai tuntas. Multikultural? Ya. Multikultural. Sastra kontemporer? Okey, sastra kontemporer. Selamat jalan sahabatku, temanku bertengkar.
Idris Pasaribu
Langganan:
Postingan (Atom)