Kamis, 28 April 2011

DI MANAKAH RUMAH CHAIRIL ANWAR DI MEDAN

Mengenang Chairil Anwar
Oleh Damiri Mahmud

Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922. Demikian pula masa kecilnya sehingga dia dewasa dihabiskannya di Medan. Baru pada tahun 1941 atau menurut Keith Foulcher mal...ah tahun 1942, dia pindah ke Jakarta mengikuti ibunya, Saleha, karena berpisah dengan ayahnya, Toeloes, seorang pamongpraja Belanda. Ini berarti sebagian besar masa hidupnya dihabiskan Chairil di Medan. Chairil telah berusia 20 tahun ketika pindah ke Jakarta, padahal sebagaimana diakuinya dalam suratnya kepada HB Jassin, dia telah menyatakan sikap berkeseniaannya ketika berumur 15 tahun! “Aku berkesenian dengan sepenuh hati” katanya. Ini berarti pilihan hidupnya itu secara mantap telah dia pancangkan ketika masih di Medan. Ironisnya kita tidak tahu dengan pasti di mana sebenarnya rumah Chairil di Medan. (Alm.) Arief Husin Siregar pernah bilang kepada A. Rahim Qahhar bahwa rumah Cahiril berada di salah satu “rumah gedong” di Jalan Gajah Mada, Medan Baru. Hal ini tampaknya sejalan dengan sebuah sajak Chairil berjudul “Rumahku” Rumahku dari unggun timbun sajak Kaca jernih dai luar segala nampak Kulari dari gedong lebar halaman Aku tersesat tak dapat jalan (bait I & II) Kita perhatikanlah larik “Kulari dari gedong lebar halaman”. Sebuah rumah gedung dengan halamannya yang lebar pada masa Chairil hidup di Medan tahun dua-puluhan tentulah bukan sembarang rumah. Artinya, rumah itu tentulah rumah orang berada. Pada waktu itu hanya bangsawan dan pegawai tinggi Belanda saja yang memiliki rumah yang bagus. Dan istilah yang dipakai Chairil untuk rumahnya bukan “rumah batu” sebagaimana yang lazim dikatakan waktu itu. Tapi “gedong”! Dan bukan “gedung”. Pada masa itu hingga ke tahun lima-puluhan, orang Medan tahu “rumah gedong” menunjuk ke kompleks perumahan pamongpraja Belanda di Jalan Gajah Mada itu. Kemudian dalam sajaknya “Perhitungan” Chairil mendeskripsikan “rumah gedong”nya itu dan mengapa ia lari dari sana. Perhitungan Banyak gores belum terputus saja Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya Langit bersih-cerah dan purnama raya... Sudah itu tempatku tak tentu di mana. Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi...!? Kini aku meringkih dalam malam sunyi. 16 Maret 1943 “Satu rumah kecil putih” ini tentu menunjukkan kebagusannya. Apa lagi dengan “lampu merah muda caya”. Artinya rumah itu memakai penerangan dengan lampu listrik. Pada masa itu hal ini tentulah suatu kemewahan dan keistimewaan yang hanya terdapat pada rumah-rumah tertentu. Kebanyakan rumah orang Medan ketika itu hanyalah rumah papan atau tepas yang beratapkan nipah atau rumbia dengan penerangan lampu sentir atau paling banter lampu petromaks. Tapi, di sisi lain, fenomena rumah Chairil yang eksklusif itu tidak sesuai atau bertolak belakang dengan keterangan seorang kawan dekatnya sesama masih kecil, bernama Sjamsulridwan. Katanya: “Pantang dikalahkan itulah kira-kira kesimpulan yang saya dapatkan dari kehidupan masa kanak-kanak Chairil semenjak kecilnya hingga menginjak dewasa; baik pantang kalah dalam sesuatu persaingan, maupun dalam hal mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.” “Dan yang lebih menarik hati lagi, althans bagi kami yang mengenal kehidupan rumah tangga mereka, ialah cara hidup kedua suami isteri yang penuh percideraan rumah tangga itu. Kadang-kadang kita bertanya-tanya dalam hati: Bagaimanakah dua orang suami isteri dapat hidup demikian lamanya, bertahun-tahun dengan pertengkaran terus-menerus, boleh dikatakan tiada mengenal damai agak sejenakpun? Keduanya sama-sama galak, sama-sama keras hati, sama-sama tidak mau mengalah. Seolah-olah pertemuan besi dan api yang menimbulkannya. Ia merah percikan api melulu. Di tengah-tengah api percideraan dan pertengkaran begitulah Chairil Anwar hidup dan dibesarkan. Dapatlah kita rasakan, bagaimana pula pengaruh suasana kehidupan demikian terhadap jiwanya. Sedang di samping itu, dia sangat dimanjakan pula. Segala-galanya harus diadakan untuk Chairil, motor-motoran kanak-kanak, sepeda kanak-kanak dan apa lagi permainan atau kegemaran kanak-kanak, yang terbaik. Dan makanan,. Bukanlah hal yang aneh untuk sebagai anak-anak menghabiskan seekor ayam goreng seorang diri saja.” “Kalau Chairil berkelahi, maka bapaknya selalu membenarkan Chairil. Kalau perlu bapaknya juga ikut berkelahi. Memang, bapak Chairil juga punya sifat untuk bersikap “akulah yang benar”, bukan saja terhadap orang lain, tetapi juga terhadap isterinya sendiri. Karena itulah keadaan rumah tangga tidak harmonis.” (Arief Budiman, “Chairil Anwar Sebuah Pertemuan”, Pustaka Jaya, 1976, hal. 64-65). Suasana tempat tinggal yang dilukiskan oleh kawan dekatnya ini, tentulah jauh dari suasana “rumah gedongan” yang eksklusif dan teratur itu. Situasi dan kondisinya lebih mirip kepada kampung rakyat yang padat dan campur baur antara kebanyakan orang miskin dengan sedikit orang berada. Di “rumah gedong” tentulah fasilitas yang didapatkan Chairil berupa permainan mahal dan makanan enak adalah sesuatu yang lumrah dan sudah pada tempatnya, tidak harus mendapat perhatian atau kecemburuan sosial. Namun, tentulah sulit diterima kalau di kompleks “orang berpangkat” itu, kedua orang tuanya terus perang mulut, Chairil kerap membuat onar dan bapaknya pun ikut berkelahi membela anaknya. Fenomena seperti itu tentulah lebih cocok diperkampungan rakyat biasa. Ada pernyataan seorang penyair, Aldian Aripin, dalam sebuah percakapan dengan saya. Katanya, di awal-awal tahun enam-puluhan, selalu diadakan peringatan tentang Chairil. Kalau mereka mengadakan acara, misalnya di Gedung Kesenian di bawah Titi Gantung (sekarang sudah lenyap dan tergusur), panitia selalu menjemput ibu Chairil yang tinggal di Jalan Singamangaraja di sekitar Mesjid Raya. Dengan demikian, ketika itu ibu Chairil masih hidup dan sudah “balik kampung” kembali dari Jakarta. Kalau benar ibu Chairil ketika balik ke Medan kembali menempati rumahnya yang lama, pernyataan Aldian Aripin sesuai dengan suasana yang dilukiskan oleh kawan dekat Chairil, Syamsulridwan, di atas. Di sekitar Mesjid Raya itu, yang disebut dengan Kota Maksum, memang banyak tinggal orang Minang. Jadi, di situlah Chairil Anwar lahir, dibesarkan dan dewasa. Dan ketika membaca seluruh sajak Chairil yang hanya 70-an biji itu, kita merasa yakin Chairil sangat akrab dengan orang-orang Melayu yang campur-baur di perkampungan itu, mengingat suasana diksi dan idiom sajak-sajaknya sangat kental dengan budaya Melayu. Misalnya larik “Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung ke Sukabumi...!?”, benar-benar khas idiom Melayu Medan. Bahkan hingga sekarang para pengkaji Chairil, banyak yang tidak faham dengan kosakata “hambus”, sehingga dalam versi lain sajak “Perhitungan” itu diganti dengan “hembus”. Misalnya dalam buku “Derai-derai Cemara” terbitan Horison, disebutkan, “Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung ke Sukabumi...!?” Tapi Chairil tampaknya tak pernah menuliskan suasana rumah di lingkungan perkampungan ini. Dia hanya melukiskan rumah “gedong lebar halaman” dengan “lampu merah muda caya”, namun dia tidak betah di sana, karena Chairil tidak cocok dengan ayahnya. Kedua mereka dia lukiskan “serupa dua kelewang bergeseran”. Saya mencoba menarik “benang kusut” ini sebagai berikut. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan di perkampungan sekitar Mesjid Raya itu. Karena pasangan Toeloes dan Saleha itu tak harmonis, mereka bercerai. Dan ayahnya Toeloes menikah lagi. Ibunya Saleha pindah ke Jakarta. Chairil ikut ayahnya menempati rumah pamong di “gedong lebar halaman” itu. Karena Toeloes sangat mencintai Chairil, lagi pula dia adalah pegawai tinggi Belanda (di masa revolusi kemerdekaan dia menjadi bupati Indragiri), ayahnya memasukkan Chairil ke MULO di sekitar Jalan Abdullah Lubis. Belakangan Chairil tidak cocok dengan ayahnya, lalu minggat ke Jakarta, menyusul ibunya, sebelum menamatkan MULO. Ayahnya menjemputnya, tapi Chairil menolak. Sehingga ayahnya yang temperamental itu berang lalu berteriak, “Hambus kau aku tak perduli, ke Bandung ke Sukabumi...!?” Sekarang dengan penelusuran yang belum tuntas ini, menjadi tugas kitalah untuk menyelidiki dengan pasti di manakah sebenarnya rumah kelahiran dan kediaman Chairil. Ironis kalau penyair legendaris sekaliber dia yang telah ditokoh oleh majalah Tempo sejajar Soekarno dan Sjahrir tak diketahui sejarah hidup dan tempat tinggalnya secara pasti.

Rabu, 20 April 2011

Penyair Komunitas Home Poetry



alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5597568359094310658" />


Djamal
Kepala Atau Ekor

Akulah kepala, kepala yang berarti seribu kepala yang penuh kehendak
dengan takdir sebagai kepala, segala tuah kepala, segala kuasa kepala
kepala-kepala yang mengatur segala gerak, segala tingkah, segala kata
segala hal bagiku adalah aku yang tak lain adalah permainanku, sang kepala
maka mainkan saja segala permainan berdasarkan kehendakku, kepala

Lalu kamikah ekor, yang mengekor berekor-ekor, tanpa perlu disebut ekor
telah terlahir jadi ekor, takdir ekor yang hanya mengekor, segala gerak dan tingkah
hanya liuk yang tak arti selain mengikuti kehendakmu, wahai kepala, iakah begitu
kamikah yang memainkan segala kehendak tanpa daya selain kibasan-kibasan tanpa makna, begitu pongah engkau, meski begitu kami turut dalam permainan, dengan sedikit daya sebagai ekor

Dalam kepala kami berputar seribu rahasia, rahasia para kepala adalah
kehidupan segala atas kehendak kami, dalam rahasia para kepala ada segala kebutuhan kami dan kebutuhanmu yang kami atur seatur-aturnya, sesuka kami sajalah karena kami kepala yang dalam kepala kami tak lain adalah nyawamu, masa depanmu, keluargamu,harta bendamu dan mu-mu-mu semua mu, akuilah, kami raja yang memegang kendali atas segala halmu. Maka bersorak-sorailah buat kami Hidup Kepala!

O, begitu gilakah takdir sebagai ekor-ekor yang terseret-seret dalam permainanmu
yang sungguh berahasia jalang yang terus kami ekori sebagai ekor-ekor
yang telah ditakdir sebagai sesisa bagian yang paling sisa yang kau anggap
mainanmu, yang seenak kepalamu kau seok-seokkan ke kanan ke kiri, ke atas-ke bawah
kamilah itu ekor yang kau anggap ekor-ekor, yang selalu kau teriyaki Matilah ekor-ekor!

Bolehkah aku tidak peduli, kepala-kepala memang bertugas mengatur kemenangannya,
Kebutuhan paling butuh yang membuat kebutuhan terpenuhi, itulah tugas kami. Untuk itu tentu ada kebutuhan yang disisakan buat bagian sisa. Maka kamipun menjelma jadi beribu macam kepala sesuai kebutuhannya. Apabila kami di tempatkan di sebuah pulau kamilah kepala pulau, apabila ada sebuah urusan maka kamilah kepala urusan. Dan apabila ada sebuah permainan, kamilah kepala permainan. Atas nama kepala

Lalu kami, bolehkah jadi peduli. Ekor-ekor bukanlah sisa, tapi bagian nyata dari tubuh juga. Segala bagian yang telah merrasa jadi sisa ialah kami, yang tanpa daya ialah kami, yang tanpa kuasa ialah kami, yang tertindas ialah kami, yang terpaksa menurut ialah kami, di segala urusan di segala permainan di segala kepulauan. Kamilah sekumpul-kumpul ekor yang mengekorimu tanpa kau sadari. Atas nama ekor

Kepala ialah kepala, kami para kepala telah sepakat untuk tetap mengepalai, maka siapapun yang hendak bernama kepala kami bolehkan saling rebut, saling silang, saling hantam, saling tipu, saling khianat agar tetap jadi kepala. Agar kepala-kepala tetap berada dalam posisinya sebagai kepala. Maka siapapun yang hendak dengan kami akan kami beri tempat, mungkin jadi leher, tangan-tangan kami dan seterusnya. Tapi kalian, bagian-bagian yang menyusahkan, yang sisa yang tak berguna tetap akan jadi ekor-ekoran kami saja. Terimalah takdir dan kesialanmu, memilih jadi ekor!

Tapi bukanlah segampang itu, kami para ekor merasa sebagai sisa. Di atas kepala di bawah kepala. Memang adalah kesialan bagi kami. Memang nasib telah mempermainkan kami, memilih kami jadi ekor. Tapi ini adalah kami, ekor-ekor yang mengekor bukanlah posisi yang pantas kalian permainkan, kami para ekor akan bergerombol-gerombol berekor-ekoran, menyatu sebagai ekor yang akan melilitmu apabila menyiakan kami, yang menyialkan kami. Kau akan menanggung nasibmu sebagai kepala!

Kepala akan terus menindas para ekor!
Kepala akan berbuat sesuka hati demi kepalanya sendiri, demi keagungan kami para kepala! Agar kepala tetap kepala! Ekor tetaplah ekor!

Begitukah! Maka kami para ekor akan bersatu menghempang para kepala
dengan keekoran kami! Kau para kepala membutuhkan kami, para ekor!
Kami akan berontak, Agar para kepala juga memikirkan nasib para ekor!
Demi keberadaan ekor yang bukanlah sisa!


Medan, 2010

Lomba Baca Puisi Penyair Sumatera Utara Komunitas Home Poetry Ketika Puisi Penyair Sumatera Utara Dibacakan

Oleh ILHAM WAHYUDI

Puisi pada dasarnya merupakan sebuah hasil karya sastra yang mengungkapkan gagasan/pemikiran penulisnya (penyair) melalui kata-kata yang disusun sedemikian rupa, sehingga menghasilkan bunyi atau irama tertentu yang mampu membangkitkan perasaan serta merangsang imajinasi pancaindera penikmat puisi. Dengan kata lain, puisi sebenarnya merupakan hasil rekaman dan interpretasi pengalaman manusia (penyair) yang dimunculkan kembali dalam bentuk tulisan.
Banyak hal yang terkandung dalam puisi. Misalnya saja, imajinasi, luapan emosi, pemikiran, nada, irama, ide, kesan pancaindera, susunan kata, kiasan, kepadatan kata dan perasaan. Nah, oleh karena itu tentunya dibutuhkan kepekaan rasa untuk memahami sebuah puisi, selain juga terkadang memerlukan sebuah pergulatan (batin) yang panjang.
Untuk dapat memahami makna yang terkandung di dalam sebuah puisi diperlukan pembacaan teks puisi yang berulang-ulang serta memerlukan daya seni dan kepekaan rasa yang tinggi. Sebab tanpa hal tersebut, susunan kata-kata dalam teks puisi sebagai perwujudan sistem tanda takkan mampu ditelusuri kedalamannya. Di sinilah sebenarnya puncak kenikmatan puisi (seni) itu berada. Itulah mengapa teori sastra modern pun mengatakan bahwa nilai sastra (dalam hal ini puisi) seluruhnya ditentukan oleh pembaca. Tanpa pembaca, karya sastra (puisi) itu malah tidak bernilai apa pun juga.
Seperti cabang seni lainnya, sastra (dalam hal ini puisi) di Sumatera Utara juga mengalami perkembangan yang cukup mengembirakan. Ini dibuktikan dengan bermunculannya sastrawan-sastrawan mutakhir Sumatera Utara di kancah sastra nasional.
Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.
Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.
(1) Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.
(2) Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.
(3) Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.
(4) Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).
(5) Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Melihat pesatnya kelahiran puisi, di Indonesia pada umumnya dan Sumatera Utara khususnya, wajarlah jika puisi menjadi bagian dari media pembelajaran sastra di sekolah.
Sebagai media pembelajaran bagi siswa-siswa di sekolah, puisi dinilai mampu menjadi media pembelajaran sastra di kalangan pelajar dan remaja. Selain cerpen, novel, dan essai, puisi yang notabanenya adalah salah satu genre sastra, ternyata paling menarik minat pelajar dan remaja, khususnya pelajar dan remaja di kota Medan. Ini dibuktikan dengan antusias pelajar (remaja) kota Medan yang mengikuti lomba baca puisi penyair Sumatera Utara yang diselenggarakan oleh Komunitas Home Poetry, 27 Februari 2011 di Sanggar Tari, Taman Budaya Sumatera Utara.

Penulis adalah
pekerja teater, film, dan
bergabung di Lt2 Art Community.

Gebyar Muda Bersastra

Herni Fauziah S.Pd

Dengan membaca wawasanmu bertambah, dengan menulis kreativitas berpikirmu terasah, dengan bersastra hidupmu jadi semakin indah.

Itulah tema yang menjadi dasar pelaksanaan acara Gebyar Muda Bersastra. Semangat para guru Bahasa dan Sastra menyatu bersama semangat para siswa yang berkarya. Berbagai kegiatan berlangsung di SMA Negeri 2 Binjai. Musikalisasi puisi, majalah dinding yang bertema sastra, berbalas pantun dan yel-yel yang diikuti oleh 15 peserta untuk masing-masing jenis lomba. Kegiatan berlangsung seharian dari pagi yang di buka oleh kepala dinas pendidikan kota Binjai mewakili Walikota Binjai, juga dihadiri oleh kepala dinas Sumatera Utara, Kapusda Binjai, Muspida setempat dan lain-lain.

Kegiatan ini didukung oleh para juri yang tidak diragukan lagi kepiawaiannya seperti Jamal, Raudah Jambak, Ibnu, Andi, Hasan Al Bana dan lain-lain. Hasil dari penilaian para dewan juri sangat memuaskan para peserta. Ajang ini mampu menggerakkan semangat para siswa dan para guru bahasa dan sastra Indonesia untuk berkreativitas bersama karya sastra.

Kehadiran para guru Bahasa Indonesia sebagai pendamping peserta pada event ini, terkesan seperti sedang “reunian” dalam berkarya. Terpancar wajah-wajah kepuasan meski dalam keadaan kalah dan menang. Sorak sorai kegirangan para siswa menunjukkan aura positif jauh dari hingar-bingar tawuran. Harapan kita dapatlah terarahkan kreativitas siswa seperti kegiatan-kegiatan ini.

Karya puisi yang dibawakan para peserta berjudul “Bahasa Laut” dan “Sajak Untuk Anakku” karya Timbas Tarigan wakil walikota Binjai. Sayangnya pada saat kegiatan berlangsung Timbas tidak hadir, karena sedang tidak berada di Binjai. Karyanya ditafsirkan beragam oleh para peserta, sehingga muncul berbagai penafsiran yang sangat luar biasa.

Warna lokal atau ciri kedaerahan sangat terasa pada setiap penampilan. Seperti dari SMA Harapan yang menafsirkan dengan irama musik Karo, demikian pula dari SMK Negeri 8 Medan memunculkan warna Melayu meski belum terasa “lemak melayu” didalamnya. Ada pula yang menafsirkan musik rock seperti yang ditampilkan SMA Negeri 4 Medan dan lain-lain.

Penafsiran yang dilakukan sebenarnya sah-sah saja. Hanya saja ada beberapa kriteria penilaian yang dilakukaan untuk mendapatkan hasil yang terbagus. Menurut Yoyok, salah seorang kreator musikalisasi puisi, ada beberapa hal yang harus dipahami untuk menggubah nada irama puisi ke dalam musik. Salah satunya adalah melakukan penafsiran yang tepat terhadap makna puisi itu.

Selain mencari nada yang disesuaikan dengan suasana makna, lalu lengkapi penampilannya dengan memberi warna-warna lokal, sehingga menambah kuat pemahaman terhadap isi puisi yang dibawakan. Seperti yang terlihat pada penampilan sang juara dari SMA Harapan 2 Medan, penampilan musikalisasi puisi berwarna musik Karo yang dilengkapi pakaian yang bercirikan budaya Karo bahkan lebih indah lagi apabila alat musik yang digunakan ditambah dengan alat musik tradisional Karo.

Majalah dinding yang ditampilkan juga tak kalah menarik, seperti salah satu peserta dari sekolah Ahmad Yani, meski mereka belum berhasil dalam kejuaraan namun kreativitas mereka tak dapat diabaikan, dengan latar transparansi mereka terkesan pandai bermain imajinasi yang tinggi, demikian dari SMA 6 Binjai, mereka menggunakan tikar bekas sebagai latar, dengan komposisi yang menarik. Untuk kreatifitas para siswa, kita patut acungkan jempol.

Menurut ibu Novi sebagai penggagas acara dan pembimbing “Komunitas Rumput Hijau”, selain latar majalah dinding ada beberapa penilaian khusus yang perlu diperhatikan para peserta seperti kolom, redaksi, isi ddan sebagainya. Demikian pula untuk berbalas pantun.

Bagaimana kecepatan membalas pantun yang dijual, juga ketepatan balasan serta kesesuaian persajakan. Meski kemampuan peserta pada umumnya rata-rata sama, namun besar harapan pada masa mendatang generasi muda kita masih mencintai budaya melayu. Terlebih lagi kegiatan ini akan menjadi agenda tahunan oleh SMA Negeri 2 Binjai, kata salah seorang penggagas komunitas Rumput Hijau ibu Dra. Susilawati.

Penampilan terakhir sudah menjelang gelap, yaitu “yel-yel”. Meski hari sudah sore, namun semangat para peserta dan para pendukung, serta guru-guru pembimbing tidak terlihat layu meski di sela waktu sempat terjadi kerusakan sound system. Kegairahan kawula muda sangat membanggakan , aura positif terpancar dari wajah-wajah mereka. Seandainya seluruh aktivitas kawula muda dapat diarahkan seperti ini, kita yakin tawuran, kebut-kebutan, atau korban narkoba dapat dikurangi.

Seperti yang disampaikan Drs. Syarifuddin Lubis, untuk terlaksananya kegiatan ini, dibutuhkan kerja keras, kesabaran dan waktu yang tidak singkat. Perjuangan sudah lama dilakukan, secara bertahap kegiatan dilaksanakan. Sampai hari ini sudah ada tiga sekolah yang mendirikan komunitas sastra di kota Binjai yang dipelopori SMA Negeri 1 dan diikuti oleh SMA Negeri 2, belum lama ini SMA Negeri 6 juga sudah membentuk komunitas yang sama. Mudah-mudahan tidak hanya di kota Binjai sekolah-sekolah lain di Medan, Stabat, Langkat atau daerah lainnya segera menyusul.

Meski hari sudah mulai gelap, namun peminat supporter, peserta, para pembimbing tak beranjak dari tempat duduk meski lesehan di rumput dan berserak dari tiap sudut atau menikmati sambil duduk di bawah pohon. Hari sudah mulai gelap, penerang dari sekolah belum kelihatan dipersiapkan namun peserta dan para guru masih setia menunggu hasil pengumuman. Terasa puas kiranya bagi para panitia beserta para peserta pada acara Gebyar Muda Bersastra. Sebelum pengumuman disampaikan oleh para juri, Kepala SMA Negeri 2, Dra. Senia, S.Sos menutup acara. Senia sangat merespon acara. Terlihat dari kesediaannya tetap berada di lokasi acara dan koordinasi yang baik di antara panitia.

Tidak biasanya, para juri menyampaikan pengumuman dalam suasana gelap. Anehnya semua berjalan dengan lancar. Terlihat ada keikhlasan dari peserta, panitia penyelenggara, sehingga tidak menjadi masalah.
Juara untuk kategori berbalas pantun, Sri Mersing (juara favorit). Tanjung Langkat (juara 1), Si Cantik Anak Dara (juara 2) dan Tanjung Katung (juara 3). Kategori Majalah Dinding untuk favorit dan juara 1.2 diraih oleh SMA Negeri 1 Binjai dan juara 3 MAN Binjai 2. Kategori Musikalisasi Puisi juara favorit SMA Negeri 2 Binjai, juara 1,2,3 diraih oleh SMA Harapan 2 Medan, SMK Putra Anda Binjai dan SMA Negeri 1 Binjai. Kategori yel-yel, SMA Ahmad Yani menjadi pavorit, SMK Putra Anda Binjai sebagai juara pertama diikuti SMA Negeri 1 Binjai dan MAN 2 Model Medan berhasil menjadi juara ketiga. Sebagaimana yang disampaikan juri, seluruh peserta berhasil mengapresiasi karya sastra, namun ketekunan, latihan, masih diperlukan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Tak ada gading yang tak retak, tak ada ada pekerjaan yang sempurna. Untuk kegiatan yang akan datang sebagai saran yang dapat diberikan;
Membeli parang di Kota Rokan
Beli belimbing di Simpang Empat
Penerang dan sound-system agaknya perlu diperhatikan
Juga disiplin waktu hendaklah tepat
Terlepas dari segala kekurangan, acungan jempol perlu disampaikan kepada penyelenggara. Upaya dan kerja keras mereka untuk mencerdaskan bangsa lewat karya sastra berbuah nyata dan tema yang diangkat tidak menjadi sia-sia.
Medan, 9 April 2011
Penulis; Guru SMK Negeri 8 Medan

Kamis, 14 April 2011

Tarung Penyair Panggung Tanjung Pinang Pertarungan Gagasan

M. Raudah Jambak

Mungkin akan muncul di benak kita untuk apa penyair ditarungkan? Kalau seandainya pertanyaan ini muncul dari orang-orang awan tentunya wajar, tetapi kalau penyair atau seniman yang berbicara tentu ini akan menjadi satu tanya besar. Penyair yang selalu bergulat dikubangan simbol kata dan penafsiran lalai menafsirkan kata tentu aneh.
Sulit-sulit mudah memang jika harus diberi penjelasan lebih lanjut tentang persoalan ini. Pada dasarnya adalah penyair tentu selalu masuk dalam kawasan kegelisahan kreatifitas. Kegelisahan itu tentunya tidak hanya puas dengan menuangkannya di atas kertas tetapi juga di atas panggung. Penyair kertas tentu beda dengan penyair panggung, atau kombinasi keduanya. Dan penulis menangkap bagaimana kegelisahan itu dapat di apresiasikan di kertas dan panggung sekaligus. Termasuk ketika ide ini justru dituangkan dalam Tarung Penyair Panggung se-Kota Tanjung Pinang dan se-Asia Tenggara sekaligus.
Setelah sukses menyelenggarakan Tarung Penyair Panggung pertama 2008, Pemerintah Kota Tanjungpinang bekerja sama dengan Yayasan Panggung Melayu kembali melaksanakan Tarung Penyair Panggung, kali ini terbuka se-Asia Tenggara. Dilaksanakan 14-17 April 2011 di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman dan Anjung Cahaya Kota Tanjungpinang.
Tarung Penyair Panggung dilaksanakan awalnya untuk Hari Ulang Tahun Suryatati A Manan, Wali Kota Tanjungpinang dengan tujuan memberikan penghargaan atas dedikasinya terhadap kesastraan, khususnya puisi. Ini agar dapat memberikan inspirasi kepada kepala daerah lainnya supaya peduli sastra Indonesia sebagai usaha mengangkat martabat bangsa melalui kegiatan budaya yang bernilai. Selain itu, menggairahkan tradisi pemanggungan puisi yang unggul, inovatif dan kreatif serta wahana silaturahmi penyair se-Asia Tenggara.
“Bukan sarung sembarang sarung, sarung penyair ter¬singkap angin kencang. Bukan tarung sembarang tarung, tarung penyair mantap di Tanjung Pinang,” ujar Suryatati di momen peresmian dan pembukaan acara itu. Perhelatan akbar yang para pemenangnya diumumkan Sabtu (16/4) itu, diselenggarakan oleh Peme¬rintah Kota Tanjung Pinang dan merupakan lanjutan acara Tarung Penyair Panggung di tahun 2009.
“Acara ini adalah salah satu upaya memberikan apresiasi kepada para seniman yang ada, khususnya di Tanjung Pinang, untuk unjuk kebolehan,” ujar Suryatati.
Suryatati merespons baik kegiatan tempat bertarung dan bersilaturahminya para penyair dengan berbagai karya dan bermacam gaya. Dia juga berharap kegiatan ini dapat berlanjut, untuk dua atau tiga tahun sekali. Baginya, momen ini adalah kesempatan untuk masyarakat, khususnya di Tanjung Pinang, termasuk seniman dan penyair, untuk mencurahkan isi hatinya lewat karya sastra.
Menurut Ketua Pelaksana Kegiatan Tusiran Suseno, ba¬nyaknya permintaan dari penyair di daerah lain membuat acara ini diluaskan dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu Tarung Penyair se-Tanjung Pinang dan se-Asia Tenggara. “Kami menyertakan penyair dari daerah lain se-Indonesia, termasuk dari negara lain,” ujar Tusiran yang dikenal sebagai pengamat pantun ini.
Peserta yang mendaftar di ajang Tarung Penyair Panggung se-Tanjung Pinang mencapai 74 penyair dengan juri antara lain Yurnaldi dan Lawen Newal. Sementara itu, peserta ajang Tarung Penyair Panggung se-Asia Tenggara mencapai 52 penyair, yang pesertanya berasal dari daerah lain di Indonesia dan dari Asia Tenggara
‘’Kami berharap kawan-kawan penyair untuk ikut ambil bagian dalam pertarungan ini. Selain untuk mengadu kemampuan dalam membaca puisi, juga mempererat silaturahmi antar sesama pelaku seni. Selain itu kita harapkan acara ini dapat memberikan apresiasi pada kalangan muda untuk mendorong kemampuan menulis puisi serta berekspresi di pemanggungan puisi. Puisi dapat disenangi dan menjadi kreativitas yang digemari generasi muda’’ ulas Konseptor dan Pengarah Kegiatan Tarung Penyair Panggung Asrizal Nur.
Acara ini, menurut Asrizal yang dikenal juga sebagai penyair itu, bertujuan menggairah kan tradisi pemanggungan puisi yang unggul, inovatif, dan kreatif. Acara ini juga dapat dijadikan sebagai momen silaturahmi antarpenyair se-Asia Tenggara.
Peserta Tarung Penyair Panggung se-Asia Tenggara, memperebutkan Piala Suryatati A Manan (Wali Kota Tanjungpinang), Uang Total Rp40 juta, gelar Johan Penyair Panggung, piagam penghargaan dan cenderamata.
Semua peserta mendapatkan kesempatan dibawa ziarah budaya ke makam Raja Ali Haji, satrawan terkemuka pencipta Gurindam 12 (dua belas).
Sumatera Utara, Medan, menindaklanjuti kegiatan positif ini. Walau hanya mendapat bantuan moral dan Doa, dari Sumatera Utara M. Raudah Jambak, Djamal, Indah Zuhairani, dan Reza Adrian hadir dalam kegiatan ini. Terlepas dari pikiran dan sisi yang lain, yang jelas kegiatan ini sangat positif selain menambah rasa kekeluargaan juga sekaligus sebagai ajang berbagi gagasan. Semoga daerah lain ikut tergugah dengan kegiatan seperti ini.
Acara ini dimulai dengan babak penyisihan dengan menetapkan 15 finalis (dari Medan Indah Zuhairani Siregar masuk sebagai finalis), dan menentukan 6 Johan Penyair Panggung di babak final. Pada penutupan diisi sejumlah penyair seperti Karmila asal Brunei Darussalam, Yoserizal Manua dari Jakarta, Asrizal Nur, Sutardji Calzoum Bachri, serta penampilan unik puisi kalosal para pelajar SLTA yang membawakan “Melayukah Aku” karya Walikota Tanjungpinang Suryatati A Manan. Malam itu, Suryatati tampil membawakan “Tinggal Kenangan”.
Tusiran Suseno selaku Ketua Pelaksana Tarung Penyair menjelaskan, ajang itu dibagi 2 kategori yaitu tingkat Kota Tanjungpinang yang diikuti 50 peserta dan tingkat Asia Tenggara yang diikuti 70 peserta. Ajang yang berlangsung sejak 14-15 April itu merupakan kegiatan perdana di Indonesia dimana para penulis puisi sekaligus membacakan hasil puisinya secara langsung.
Presiden Penyair Indonesia Sutarji yang menjadi juri tunggal dalam ajang itu menyebutkan, bahwa puisi yang ditulis baru setengah jadi, dan puisi dibawakan oleh pembaca baru, memberikan warna dan sempurnanya sebuah puisi. Sedangkan proses editing memiliki peran penting untuk dapat memberikan penafsiran dari sebuah hasil karya serta dalam kehidupan.
Sementara, Walikota Tanjungpinang, Suryatati berharap melalui ajang itu, nama Tanjungpinang bisa bergaung ke seluruh Indonesia bahkan ke seluruh Asia, demi lebih meningkatkan jalinan silaturahmi serta lebih menggairahkan dunia sastra.
Dari hasil penilaian juri untuk tarung penyair tingkat Kota Tanjungpinang pemenang unggulan 3 diraih Dian Saputra, unggulan 2 M.Febriyadi, unggulan 1 Muhardim, Juara III Mila Aminiyati, Juara II Asih, Juar I, Zainal dengan judul puisi “Segenggam”. Kemudian, untuk kategori Asia Tenggara pemenang unggulan 3 Yoan Sutrisna Nugraha asal Tanjungpinang, unggulan 2 Khrisna Pabichara asal Bogor, unggulan 1 M.Raudah Jambak asal Medan (Sisingamangaraja, Hobar Namora). Juara Juara III Barozi asal Tanjungpinang, Juara II Nana Riskhi Susanti asal Semarang dan juara I, Jefri Al Malay asal Bengkalis dengan puisi “Anjung-Anjung”

Selasa, 12 April 2011

Mengenang Cornel Simanjuntak Seniman yang Pahlawan

Hidayat Banjar

Senin 21 Maret 2011 malam, di Auditorium RRI Medan Jalan Gatot Subroto tertata artistik. Panggung dilatarbelakangi karikatur Cornel Simanjuntak (1921-1946) yang ditembak pahanya oleh tentara Gurkha.

Di sebelah kanan panggung dari sisi penonton, para pemain musik, duduk manis sembari memegang alat musik masing-masing.

Di bawah panggung, di bangku sebelah kiri dari arah penonton, presenter Yusrianto membacakan acara demi acara. Semula dia duduk, kemudian berdiri. Setelah Dr. Mauli Purba, musisi dari USU menduduki kursi sebelah kanan, Yusrianto duduk lagi.

Menjawab pertanyaan Yusrianto, Purba mengtakan, Cornel memiliki pribadi yang kuat dan tergambar dari kematangan karyanya, sangat musikal.

"Komposisi lagunya sangat berkarakter, melodi yang kuat, komposisi musik barat yang mengindonesia. Cornel begitu pas meramu antara melodi dan teks. Sangat berkarakter Cornel," jelas Purba. Jenis musiknya vokal seriosa. Teks tak sulit, ritmanya sangat kuat (mars).

H Karseno S Wakil Ketua Lembaga Veteran Sumut mengemukakan, lagu-lagu Cornel Simanjuntak "Par Siantar" ini membangkitkan semangat perjuangan.

"Dulu, kita gunakan lagu-lagu Cornel untuk membangkitkan semangat prajurit," tegasnya.

Cornel Serasa Hadir

Kemudian tampillah Raudah Jambak membacakan puisi karya Djohan A Nasition (alm) yang berjudul "Memori untuk Cornel". Tidak, Musikmu tetap mengalun/Lestari dalam hati kami/dan jejakmu kukuh membumi (bait terakhir). Sungguh betapa Cornel serasa hadir di RRI malam itu, di sisi kita: pemuda yang gagah berani dan berhati lembut.

Kehadiran Cornel tambah intens ketika "Maju Tak Gentar" dilantunkan Sofeggio Choir Unimed dalam orkestra. Maju tak gentar membela yang benar/Maju tak gentar hak kita diserang.

Demikianlah Cornel memanfaatkan musik untuk perjuangan kemerdekaan. Hal ini diperkuat dari penuturan Joni Simanjuntak (anak dari adik Cornel).

"Bapak tua saya itu menggunakan musik untuk perjuangan." Ketika ditanya mengenai pembentukan yayasan, Joni menuturkan idenya sudah ada, tapi belum terwujud.

Dr Ikhwan Ashari sejarawan mengemukakan, Cornel menggunakan musik untuk perjuangan.

"Ya, itulah fungsi sejarah, mempelajari masa lalu untuk jadi inspirasi masa kini. Seniman adalah anak zamannya, misal jika ada pembicaraan tentang tsunami, maka tampillah Ebit atau lagunya. Bicara korupsi akan hadir Iwan Fals atau lagunya," paparnya.

Ada realitas sejarah dan ada konstruksi sejarah, bagaimana kita mengkonstruksi realitas itu?

"Lagu-lagu Cornel merupakan transformer power yang memiliki kekuatan mengajak orang lain untuk melakukan sebagaimana yang diinginkan penciptanya. Lagu-lagu Cornel memiliki daya magis yang luar biasa. Pengaruh musiknya justru lebih kuat setelah dia meninggal," tambah Ikhwan.

Usai penjelasan Ikhwan, tampil Lamhot Sihombing dengan lagu O Ale Alogo. Kemudian Tyas Anggoro Anggota Dewan LPP RRI. Acara ditutup dengan pemberian cindera mata dari dr Robert Valentino Tarigan SPd Pimpinan BT/BS BIMA Indonesia yang berpusat di Jalan Bantam Medan dan Baldwin Silitonga Msi Kepala RRI Medan.

Menanggapi acara Mengenang Komponis Cornel Simanjuntak ini, Valentino mengemukakan, meski dirinya awam dalam bidang musik (seni) tetapi dia suka musik.

"Musik dan bentuk-bentuk kebudayaan lainnya berguna terhadap kehidupan spritualitas anak bangsa dan negara. Wajar kalau kita ikut berperan -meski kecil- di dalamnya," tegasnya.

Pejuang Kemerdekaan

Seperti yang disuarakan back sound RRI dan di buku "Kumpulan Lagu-lagu Komponis Nasional Cornel Simanjuntak" yang disusun oleh Willy Simanjuntak SH, disebutkan Cornel Simanjuntak lahir di Pematang Siantar (Kampung Tambunan Simpang II) tahun 1921. Anak dari Tolpus Simanjuntak gelar Ompu Mangara pensiunan Polisi di Medan, Ibunda Rumina boru Siahaan, sembilan bersaudara, 7 laki-kaki dan 2 perempuan.

Pendidikan HIS St Fransiscus di Medan tamat tahun 1937, kemudian melanjutkan pendidikan ke HIK Xaverius College Muntilan Yogyakarta. Sebenarnya Cornel sudah diterima pada sekolah HBS di Medan, tetapi orangtuanya sengaja mengirimkan ke sekolah guru di pulau Jawa karena pada saat itu suatu kebanggaan, kalau anak dapat belajar di sana. Kemudian predikat sebagai guru mempunyai status terhormat di kalangan masyarakat. Berkat bantuan dan dorongan Zuster Rodolfin Kepala Sekolah HIS St Fransiscus di Medan, Cornel berangkat ke HIK Muntilan.

Murid yang Cerdas

Menurut teman-temannya satu sekolah di Muntilan pada masa itu, Binsar Sitompul dan JFP Hutauruk, Cornel Simanjuntak termasuk murid yang cerdas, pemberani, jujur dan tidak pernah enggan membela pendiriannya.

Alat-alat musik yang digemarinya, piano, biola, fluit/clarinet, orgel, faktor inilah yang menjadi dasar untuk dapat menjadi dirigen dan sempat menggerakkan Orkes Paulus Seminari Yogyakarta.

Gurunya pada masa itu Peter J Schouter dan RAJ Suyasmin, sangat menarik perhatian dan mengagumi Cornel. Oleh gurunya di luar jam pelajaran sekolah, Cornel diberikan pelajaran musik secara khusus mengenai teori dan praktik.

Di dalam Orkes Simponi Sekolah, Cornel memegang peranan sebagai Conser Master, juga beberapa kali tampil sebagsi Solis pada biola.

Suatu kali, dia kedapatan oleh guru tidak memperhatikan pelajaran yang sedang diberikan karena ternyata di bangkunya, dia sedang sibuk menulis balok-balok not untuk menyusun suatu harmoni musik yang sedang berkecamuk di benaknya.

Seorang Prajurit

Pada awalnya, Cornel lebih merasakan sebagai seorang prajurit daripada seorang seniman. Sebagai seorang idealis sejati, dia menganjurkan kepada teman-teman pemuda lainnya, supaya memanggul senapan karena pada hematnya hanya itulah satu-satunya jalan untuk berbakti kepada Tanah Air Indonesia.

Cornel dengan pemuda lain aktif memberi penerangan kepada masyarakat di sekitar kampung-kampung di kawasan kota Jakarta dan Krawang tentang arti kemerdekaan. Kemudian mengimbau rakyat supaya bersiap-siap untuk membela yang benar, serentak mengusir penyerang dan siapa saja yang mau menjamah Tanah Air Indonesia maupun yang akan menentang Kemerdekaan Indonesia.

Pada satu pertempuran antara pasukan kita dengan pasukan sekutu (tentara Inggris/Gurkha) di daerah Senen, di Tangsi Penggorengan, Cornel Simanjutak tertembak pahanya, kemudian dirawat di RSU Pusat Jakarta. Belum sempat sembuh oleh teman-temannya, Cornel diselundupkan ke luar kota Jakarta dan diungsikan ke Krawang, sehubungan ada info, pasukan Inggris/Gurkha bakalan mengadakan penggerebekan maupun pebersihan di sekotar kota Jakarta.

Dari Krawang supaya dapat memperoleh perawataan yang lebih baik, Cornel dipindahkan ke Yogyakarta dan diopname di Sanatorium Pakem. Pada kesempatan ini, dia banyak meniciptakan lagu-lagu perjuangan. Sembari opname di rumah sakit, dia terus berkarya. Saat itu masyarakat Indonesia memang benar-benar membutuhkan lagu-lagu mars perjuangnan, lalu Cornel pun menciptakan lagu yang sangat populer seperti Maju Tak Gentar.

Sejarah telah membuktikan, lagu Maju Tak Gentar benar-benar membangkitkan semangat perjuangan para pemuda Indonesia pada tempo dulu. Banyak lagu-lagu perjuangan yang telah diciptakannya antara lain: Indonesia Tetap Merdeka, Maju Indonesia, Pada Pahlawan, Tanah Tumpah Darahku, Teguh Kukuh Berlapis Baja (diciptakan pada masa kemerdekaan).

Sedangkan yang diciptakan pada masa pendudukan Jepang: Asia Sudah Bangun, Hancurkan Musuh Kita, Menanam Kapas, Bikin Kapal, Menabung, Bekerja, Di Pabrik, Poelang dan Jawa Hokokai.

Hampir enam bulan lamanya onpname di Sanatorium Pakem kesehatannya semakin memburuk. Kadangkala dia sampai larut malam mecipta lagu, lupa untuk mengurus kesehatannya dan akhirnya diserang penyakit paru-paru. Pada tanggal 15 September 1946 ia meninggal dunia.



Generasi Muda Harus Berada di Garda Terdepan Menangkal Pengaruh Budaya Luar

Bendungan terhadap adanya suatu peralihan budaya yang terjadi dewasa ini, cenderung bermuara pada ‘sikap bermuatan barat’ yang dapat menghilangkan budaya lokal.

"Hal ini sangat tergantung pada generasi muda. Sebagai generasi penerus bangsa yang nantinya sangat kita harapkan dapat tegak di garda terdepan sebagai penyaring peralihan tersebut," ujar H. Abdulllah Nasution dalam sambutannya mewakili Ketua Tanfidziyah Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama (PW-NU) Sumut pada Workshop Teater, Sinetron dan Film (WTSF) yang berlangsung Minggu (6/3) di Gedung PW NU Sumut Jalan Sei Batang Hari Medan.

Menurut salah seorang Wakil Ketua Tanfidziyah PW-NU Sumut itu, modernisasi dalam pengembangan seni budaya saat ini terus berlangsung. Bila terjadi penyimpangan dalam proses kreativitasnya, harus segera diluruskan.

"Bila tercium aroma tak sedap yang keluar dari mulut pengembangannya, kita beri nafas segar dan wangi senada dengan garis ideology Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja), yang menjadi landasan sosial-keagamaan NU," paparnya.

Di sisi lain, menyambut gembira dengan tingginya antusias puluhan pelajar dan mahasiswa dari berbagai SMA dan Perguruan Tinggi yang terdapat di Medan dan Binjai mengikuti workshop tersebut.

"Antusiasme peserta ini membuktikan bahwa seni dan budaya (produk lokal) merupakan ha! yang sangat dibutuhkan oleh kaum muda, yang kita harapkan ke depannya mampu menangkal pengaruh budaya luar," tambahnya.

Workshop itu melibatkan berbagai nara sumber diantaranya H. Usman Lubis, salah seorang tokoh dan sesepuh NU yang mengetengahkan materi Apa itu Lesbumi?

Sementara untuk film diundang H.Amsyal. Sedangkan untuk teater dan sinetron mengundang M.Raudah Jambak, SPd dan Adhek Hermansyah Nasution dari Sanggar Seni Petrokimia Gresik lawa Timur.

Program Lesbumi NU

Sementara itu, Workshop Teater, Sinetron dan Film (WTSF) yang diselenggarakan Seniman Budayawan Muslim Indonesia Nahdatul Ulama Sumatera Utara (Lesbumi-NU Sumut) itu merupakan program awal Lesbumi NU-Sumut paska diputuskan kehadirannya kembali di tubuh PW-NU Sumut.

Ketua Lesbumi-NU Sumut H. Dahri Uhum Nasution (Tok Ai) menyebutkan, pihaknya telah menyusun susunan pengurus. Terdapat nama-nama seniman yang sudah tak asing lagi seperti Yan Amarni Lubis yang dipercaya sebagai wakil ketua.

Kemudian di Biro Teater ada M.Raudah Jambak SPd. Di Biro Sastra ada Hasan Al Banna SPd dan Andy Mukly SHi. Di Biro Film ada H. Amsyal, Munir Nasution SH dan masih banyak lagi nama-nama lain seperti di Biro Musik ada Hafiz Lawak serta di Biro Tari ada Rina Lubis SS dan Sri Patria.

"Setelah penyelenggaraan workshop itu, Lesbumi NU-Sumut telah mencanangkan untuk menindaklanjuti program-program baik yang bersifat pementasan maupun lomba," kata Tok Ai.

Lesbumi NU-Sumut sangat berkepentingan menyikapi semangat dan talenta anak muda, dikarenakan generasi muda sebagai asset bangsa dan agama yang membutuhkan atensi dan wadah pengembangan kreativitas talentanya dalam seni budaya.

"Dalam hal ini Lesbumi-NU Sumut siap bersinergis dengan seniman dan budayawan muslim dari lembaga sejenis lainnya," tambah Yan Amarni Lubis selaku Ketua Panitia Pelaksana Workshop.

Jumat, 08 April 2011

SMA dari Delitua di depan FKSS IKIP Negeri Medan hadiri kegiatan di halaman kampus

PARA sastrawan Sumatera Utara sudah tidak masuk lagi ke sekolah-sekolah. Juga jarang adakan acara di kampus-kampus. Kalaupun ada hanya kampus tertentu saja. Acara sastrawan masuk sekolah, sudah lebih 25 tahun tidak bangkit lagi di Medan.

Tahun 1979, sebuah organisasi penulis yang dimotori oleh Yudhi Harsoyo dan teman-teman. Ketika itu, Penulis dan Shafwan Hadi Umri (saat itu penulis dan Shahwan) masih sama-sama mahasiswa di tingkat akhir. Saya di Fakultas Hukum USU, Shafwan di IKIP Negeri Medan. Himpunan Penulis Muda (HPM) yang bermarkas di Jalan Ahmad Yani, kantor Harian Berita Yudha Perwakilan Medan.


HPM begitu aktif menggalang para penulis remaja untuk menjadi cerpenis dan pemuisi. Selain aktif dalam berbagai kegiatan omong-omong sastra dari rumah ke rumah, HPM juga mengadakan berbagai kegiatan lainnya. Tersebutlah Rustam Lubis Djamaksyari aktif di dalamnya.

Tak lama berdirinya HPM, Shafwan menjadi pegawai negeri dan ditugaskan di Tapanuli Selatan sebagai guru Bahasa Indoensia. Bersama Yudhi Harsoyo dan Rustam Lubis Djamaksyari, kami terus menggalakkan sastra masuk sekolah-sekolah. Pada tahun itu juga HPM mengadakan kegiatan di IKIP Negeri Medan Jalan Merba. Ketika itu HPM bekerja sama dengan Dewan Mahasiswa IKIP egeri Medan, menampilkan Damiri Mahmud sebagai pembicara dari HPM dan BP Situmorang dari IKIP Negeri Medan.

Mulanya rektor IKIP Negeri Medan menolak. Drs. B. P. Situmorang yang pernah sebagai pembicara pada Pertemuan sasttrawan Sumut tahun 1977 di Taman Budaya Medan "berduet" dengan Sabarudin Ahmad, BA. Ketika itu, Sabaruddin Agmad masih belum mengambil doktorandusnya.

Perdebatan yang sangat hangat di Taman Budaya Medan yang sebelumnya bernama Taman Bina Budaya Medan (TBBM) bergaung bukan hanya sampai ke Jakarta, bahkan sampai ke negara tetangga di Malaysia. Dengan tegas, ketika itu, B. P. Situmorang mengatakan, sastra kita baru sampai lampu satu, belum berlayar mengharungi lautan bebas ke mancanegara. Di sisi lain BP. Situmorang mengatakan, kalau sastra Malaysia tertinggal 20 tahun dari Indonesia.

Pro-kontra ketika itu sangat tajam. Saat itu, mata Jakarta terbuka karena tajamnya pro-kontra pertemuan itu menghiasi berbagai halaman koran Jakarta, seperti Sinar Harapan (Belum dibreidel dan berganti Suara Pembaruan), Kompas, Berita Yudha, bahkan MBM Tempo yang ditulis oleh Zakaria M Passe.

Mengingat itu, B. P. Situmorang mengajak saya menemui rektor ke ruangannya. Saat itu kebetulan di ruangan rektior ada Dekan FKSS (Fakultas Kejuruan Sastra dan Seni di Unimed sekrang bernama FBS). Drs. B. P. Situmorang meyakinkan rektor, kalau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh HPM adalah kegiatan positif.

Perlu digarisbawahi, ketika itu kampus-kampus yang baru saja tenang dalam berbagai demo, sangat "tertutup" pada komunitas luar kampus. "Kalau Pak Situmorang berani bertanggungjawab, silahkan," ancam rektor ketika itu. Dengan lantang Drsw. B. P. Situmorang mengatakan:" Saya yang akan bertanggung jawab."

Dalam kegiatan di halaman kampus di depan FKSS IKIP Negeri Medan, hadir juga undangan para siswa SMA, termasuk SMA dari Delitua yang dibawa gurunya Angkup Lubis, SH dan kini menjadi hakim tinggi di Jambi. Kegiatan itu pun berlangsung dengan baik dan penuh antusias dari kalangan mahasiswa. Sebelumnya, mereka hanya membaca tulisan yang hadir seperti Damiri Mahmud, A.N. Zaifa, Rahim Qahhar, R. Lubis Djamaksyari dan sebagainay dari kioran saja.

Seperti Koran SIB, Analisa, Waspada, Bukit Barisan dan Bintang Sport & Film (BSF) saja. Kotran-koran tertera di atas saja ketika itu yang aktif terus-menerus mengadakan kolom sastra dan budaya. Walaupun ketika itu BSF dicetak dalam bentuk Letter Press dan bermarkas di Jalan Hindu namun setiap minggunya memuat cerpen dan puisi serta artikel sastra.

Para peminat olahraga yang berlangganan BSF tetap aktif membaca hal-hal sastra. Tak geran jika para pemain tua PSMS, mengenal siapa-siapa sastrawan Sumatera Utara. Pemain tua PSMS bahkan lebih mengenal sastrawan Sumatera Utara ketimbang para guru Bahasa Indonesia ketika itu, karena para pemain PSMS selalu berlangganan BSF.

Kini, sastrawan masuk ke sekolah-sekolah sudah sangat langa terdengar. Guru-guru Bahasa Indonesia di SLTA, sepertinya tidak memikirkan hal itu. Atau mungkin njuga kepala sekolah yang tak terpikir ke arah itu, hingga saat guru Bahasa Indoensia menyampaikan hal itu, kurang mendapat tanggapan.

Sarifuddin Lubis di Binjai, kelihatannya masih terus aktif mengembangkan sastra sekolah. Itu juga nampaknya masih terbatas kepada para siswanya saja. Selaian itu, untung masih banyak juga media yang memiliki kolom remaja dan ada ruang sastranya.

Kalau majalah sastra Horison kita menggalakkan sastrawan masuk sekolah, sebenarnya Sumatera Utara sudah terlebih dahulu melakukannya. Bedanya, mereka mendapat dana dan biaya yang cukup, sementara di Sumatera Utara tidak. Sudah selayaknya para Kepala Dinas Pendikan di Kabupaten/Kota memikirkan hal ini, karena kegiatan inisangat positif kepada para siswa. Idris Pasaribu


Bertemu Penyair Medan

Budhi Setyawan

http://budhisetyawan.wordpress.com/

Tanggal 24 – 26 November 2008 saya ada acara dinas di Medan. Sebelum berangkat, saya telah memberitahukan kepada 2 penyair Medan yang sebelumnya pernah bertemu di TIM Jakarta yaitu Hasan Al Bana dan Suyadi San. Saya tiba di Medan hari Senin sore sehingga tidak ada agenda dinas dan langsung ke hotel. Saya dan rombongan menginap di Hotel Inna Dharma Deli. Hotel lama dan kamar sederhana.
Malam itu saya bersama tim dinas hanya makan rujak di Medan Plaza dan sea food di belakang Hotel Best Western. Di sela sela makan sea food, ada telepon masuk dari teman di komunitas Pasar Malam yaitu Nina. Karena di tempat makan suasana sangat gaduh, saya tidak mengangkat telepon itu. Lewat pesan singkat, dia bilang bahwa juga sedang ada di Medan berkaitan dengan pekerjaan kantornya. Akhirnya saya menemuinya sebentar di tempatnya menginap di Hotel Tiara. Kami hanya mengobrol singkat di lobi karena waktu telah malam, sekitar pukul 21 lebih. Saya juga tak tahu mengapa kalau di daerah atau kota kecil (pokoknya bukan Jakarta), waktu seperti cepat malam.

Hari Selasa setelah urusan kantor selesai dan beli oleh-oleh berupa bika ambon dan bolu, pukul 16.30-an saya ke Taman Budaya Sumatera Utara untuk bertemu penyair-penyair Medan. Dan akhirnya saya bertemu dengan banyak penyair Medan antara lain: Suyadi San, Hasan Al Bana, M Raudah Jambak. Djamal, S Ratman Suras, Afrion, Antilan Purba, Ardani. Beberapa saya lupa namanya, juga beberapa aktivis FLP Sumut dan pemain teater di TBSU. Rupanya Suyadi San telah menyiapkan semacam acara diskusi dengan adanya kedatangan saya di Medan. Itu terasa sangat mengakrabkan. Dan saya merasa terharu. Meskipun saya agak sedikit kikuk, karena saya mesti menyampaikan semacam riwayat perjalanan selama ini, mengapa memilih sastra dan proses kreatifnya. Mengapa saya kikuk? Karena saya merasa kurang bisa menyampaikan dengan bahasa sastra. Saya merasa hanya mengikuti kata hati yang mencintai dunia seni, seperti seni lukis, musik dan termasuk sastra. saya juga bilang bahwa buku puisi yang saya terbitkan berisi puisi puisi yang sederhana atau malah bisa dibilang draft/bakal puisi. Itu semua saya terbitkan secara spontan, tanpa editor dan pada masa saya belum berkenalan dengan banyak penulis/penyair serta kurang mengetahui seluk beluk dunia penerbitan. Komunitas diskusi sastra juga saya tak punya.
Saya ingat dan katakan waktu itu, bahwa saat acara peluncuran buku puisi saya Sukma Silam di PDS HB Jassin bulan Desember 2007, banyak penyair atau penulis yang mengkritik buku saya banyak kekurangannya. Dan ada seorang penyair yang mengatakan bahwa puisi-puisi dalam kumpulan itu tidak memuat apa-apa, tidak menyampaikan apa-apa. Pada saat itu saya juga dalam hati bertanya-tanya: apakah benar semua puisi saya tidak menyampaikan apa-apa? Namun semua masukan menjadi bahan instropeksi bagi saya. Dan setelah itu saya banyak membaca puisi penyair-penyair tua dan juga penyair muda. Dalam hati saya bilang, saya harus belajar! Dengan adanya dinas luar kota, saya manfaatkan untuk silaturahmi dengan penyair di kota yang saya kunjungi. Dan biasanya saya diberikan buku puisi yang memuat puisi-puisi mereka. Dan biasanya saya akan baca ketika di bandara, stasun atau di perjalanan. Saya baru tahu ternyata banyak penyair-penyair daerah yang menulis puisi dengan begitu dahsyat. Salam kreatif. Majulah Sastra Indonesia.

Ilham Wahyudi
Perkara di Kepala

Ini perkara di kepala
yang melekat serupa kulit
yang mengusik di hari terik
yang mengganggu di hitam baju
yang diribut si orang banyak
ia tak sebesar si semut merah
namun terserak di banyak kepala
sungguh ia pula yang mencuri perhatian
sebabkan ia si perusak citra
bagi gadis, lajang, terlebih lagi duda dan janda

Ini perkara di kepala
yang belum bertandang duhai obatnya
yang tak terkira jumlah adanya
yang tak cukup puisi ini menceritakannya
ya, apalagi kalau bukan perkara yang di kepala
yang beta derita bertahun lamanya

Medan, 2010

Perkara di Wajah
bagi al bunc

Duh, merah nian
dikau yang serupa bolabola
akarmu tertanam
wahai di dasarnya
bagai merapi yang bunting larva
yang tak tumpah bila belum masanya

Ini perkara juga tak kalah hebohnya
membuat remaja dirundung durja
bila ia mekar melebih tiga
yang kadang pula subur di hidung dinda
duhai pelita pujaan kanda

Medan, 2010


Perkara di Tapak Kaki

Ini perkara lain sendiri
karena letaknya di tapak kaki
jika rajin pergi mencuci
tapi kaki tak tahan kena sabun cuci
maka alamat ia makin menjadi
sebab muasalnya konon dari kamar mandi
tempat ‘nak gadis biasa mencuci

Ini perkara di tapak kaki
yang ‘kan selalu berair bila digaruki
yang juga tak gampang ‘tuk diobati
baik masa ‘ni kira pun nanti

ini perkara, perkara kami
yang bisa pula tuan dan puan alami
maka janganlah bungkam menutup diri
bila kelak ia mendatangi tapak kaki
yang tak tahan kena sabun cuci
apalagi becek di pasar pagi

Medan, 2010


Dini Hari di Tugu

Dini hari di Tugu
Bulan hampir penuh
Juga lirih lagu pengamen:
Ada kamu di sana
Dan beberapa pertanyaan sepele

Sudah berapa kali kemari?
Tak berapa sering
Kamu tidak merasa dingin
Tak berapa dingin
Kemarin jadi menungguku di sini?
Mmm…

Dini hari di Tugu
Orang-orang semakin ramai saja
Dan pertanyaan itu, terus saja kuulangulang

Jogja-Medan, 2010

Problem Urban dalam Cerpen-cerpen Medan
DEMOGRAFI penduduk, terutama migrasi mereka dari desa ke kota, tentu menimbulkan sejumlah problem. Karakter yang dulunya komunal, oleh tuntutan sosial kota yang cenderung individualis, menyebabkan perubahan massa yang cukup radikal. Dinamika itu kemudian menciptakan persoalan-persoalan baru dan meluas menjadi problem global yang lebih komplit. Masalah-masalah itu antara lain; pengangguran, kemiskinan, determinasi yang semua itu cenderung kriminal. Pada masyarakat yang tinggal di inti kota, terutama kota-kota maju, semisal Jakarta, Medan dan Surabaya, perubahan itu bahkan sudah mencapai antiklimaks. Masyarakat kelompok ini justru mulai hidup dalam gaya postmodrenitas, yang tak lagi terselubung.

Problem urban justru lebih dirasakan oleh kelompok-kelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran kota. Sebagai kaum pinggiran, kelompok inilah yang sering menjadi korban kebijakan-kebijakan pemerintah kota. Misalnya kelompok masyarakat pinggiran rel, bantaran sungai atau tempat pembuangan akhir sampah. Problem urban menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Hal itu, tanpa disadari menjelma menjadi gaya hidup yang kemudian membentuk karakternya.

Tema-tema urban sebenarnya sejak tahun 80-an sudah didengungkan sastrawan kita, sebagai kritik terhadap kebijakan pemerintah yang sentralis dan berfokus pada pembangunan fisik semata. Menyebut beberapa nama; Motinggo Busye, Arief Budiman, WS Rendra, Putu Wijaya, Arifin C.

Noer, Mucthar Lubis. Menyusul kemudian generasi yang lebih baru seperti, Seno Gumira Aji Darma, Hudan Hidayat, Joni Ariadinata, Moammar Emka sampai Djenar Maesa Ayu. Meski begitu, inti yang diangkat juga tidak terlalu berubah. Manusia masih menjadi objek utama yang didasarkan atas pengalaman empiris pengarang. Sementara, hal pokok, semacam kebijakan-kebijakan pemerintah itu sendiri masih belum tercover. Hal ini juga merupakan masalah yang penting untuk didiskusikan.

Medan Dalam Cerpen
Pengarang-pengarang di Medan juga begitu. Jarang sekali karya, terutama cerpen yang diterbitkan di koran-koran Medan, mengangkat problem urban secara defenitif, baik setting, simbol maupun pengungkapan. Kesan itu terungkap lewat Omong-omong Sastra yang digelar di rumah Idris Siregar, 6 Februari 2011. Kelangkaan itu pula yang membuat Hidayat Banjar dan Intan Hasibuan, sebagai pemateri, kesulitan menghadirkan contoh cerpen sebagai bahan diskusi.

Hidayat Banjar mengaku, analogi urban dalam pemikirannya masih belum terungkap jelas dalam cerpen-cerpen yang ia suguhkan. Meski begitu, diakuinya tidak tertutup kemungkinan, ada perbedaan persefsi antar peserta diskusi. Cerpen-cerpen yang diketengahkan Hidayat Banjar berasal dari penulis muda, yang oleh YS. Rat disebut sebagai angkatan pasca reformasi di antaranya, “Tito” (T. Sandi Situmorang, Analisa, Rabu 24-11-2010) “Memeluk Angin” (Zuliana Ibrahim, Analisa, Rabu 24-11-2010) “Duka Telah Hilang” (Elpi Sinaga, Waspada, Minggu 28– 11-2010) “Afifah” (Intan HS, Analisa, Rabu 1-12-2010) “Ketika Fajar Beringsut” (Wahyu Wiji Astuti, MedanBinis, Minggu 12-12-2010) “Patung Lek” (Rifan Nahzif, Harian Global, 15-1-2011) “Topeng” (Venny Mandasari, Analisa, Minggu, 16-1-2011). Sayang Hidayat tidak melampirkan cerpen-cerpen itu secara utuh, sehingga cerpen-cerpen itu tak bisa dibahas secara lengkap. Terlepas itu, menurut Afrion, idealnya cerpen urban harus memunculkan problem-problem masyarakatnya, salah satunya yang timbul oleh kebijakan pemerintah kota. Contohnya dampak dari penataan tata kota yang amburadul. “Bisa jadi cerpen urban adalah kritisi terhadap kebijakan pemerintah kota yang mungkin dirasakan pengarang tidak berpihak pada masyarakat.

Apakah hal-hal semacam ini tersirat dalam cerpen-cerpen yang dipilih pembicara?” tanya Afrion.
Sedangkan penulis, di kesempatan itu menyatakan cerpen-cerpen urban tidak harus mengungkap tempat secara definitif, karena hal itu akan diketahui secara otomatis lewat problem-problem yang dirasakan masyarakatnya. Di Indonesia, problem ini mempunyai warna yang beragam sekaligus menarik, mengingat perbedaan karakter etnisitas masyarakatnya.

Problem urban bermula dari ketidaksiapan sekelompok masyarakat terutama ketika mereka berpindah, baik inisiatif sendiri maupun melalui program-program pemerintah semisal urbanisasi atau transmigrasi. Perubahan karakter itu sering berbenturan dengan gaya sosial di tempatnya yang baru. Dinamika ini menarik untuk diungkap dalam sebuah cerpen. Sayangnya cerpen-cerpen yang terbit di koran Medan, belum cukup menggambarkan kekhasan itu. Sehingga problem urban tidak begitu terasa. Menyempurnakan beragam pendapat itu, sastrawan Damiri Mahmud, menjelaskan, yang paling penting dari sebuah cerpen adalah pengungkapan, karena dari situlah terasa tema yang ia garap, entah itu urban atau tidak. Begitupun omong-omong sastra kali ini menghasilkan pemikiran-pemikiran yang penting.

Di antaranya menegaskan kembali pentingnya kritikus sastra yang memang langka di kota ini. Kesan ini diungkap Yulhasni, sekaligus mengkritis pembicara yang tak melengkapi bahannya, sehingga peserta kesulitan menganalisa cerpen-cerpen itu. “Kita memang kekurangan kritikus sastra, terbukti bahkan untuk diskusi seperti ini pun, pembicara tidak melengkapi data-data yang menjadi pembahasan,” ujarnya. Demikianlah omong-omong sastra kali ini memang tak menyimpulkan apa-apa, selain sebuah tradisi yang unik dan tetap harus dilestarikan.
(jones gultom)

Malam Beku dan Jemu
Sakinah Annisa Mariz
; Liandi Prassetiyadi
/1/

detik-detik jatuh, hari-hari terpeleset
minggu mengering, bulan menua di langit
rindu untukmu menancap pada gemerisik angin
yang hening, menyembul harap

satu-satu cahaya datang dan hilang
kupikir itu lentera yang menyala kecil dari perahu dari tengah laut
ah, syair tentang perahu belum tepat untuk kita bincangkan dalam puisi rindu
lebih baik kita isi saja gelas malam ini dengan sajak romantis
tapi aku tak pandai menjahit kata-kata
bagaimana ini?
kuntum-kuntum cinta terus saja bermekaran
/2/
kau yang menjenguk sunyi di kedalaman hati
desah daun-daun gugur di jendela dan titik embun dini hari
menusuk malam dalam mimpi-mimpi kosong dan berdebu
masih bolehkah terjaga?
aku tahu kau telah berusaha, sayang
untuk membuat gelap tak terlampau garang
menjelmakan sepi di puisi ini
padahal telah kutulisi berlembar-lembar fotomu di sketsa malam
tapi lagi-lagi jariku meleleh
serupa bayangan samar, dia kikis di kata-kata penghabisan
itu sebabnya jawabku hadir terlalu lambat
j" te aime
Karena Rindu Itu Anugrah, Maka Selamanya Aku Akan Bersyukur
Sakinah Annisa Mariz

bulan dan malam bukan perkakas dalam puisi mati
dentang jam dinding membujur di dada
meski hari dan tahun bukan untuk kau, juga aku
cengkraman rindu mengoyak-ngoyak kita
jadi kepingan kata
yang berkarat
dalam jarak

3 Desember 2010
; Sahabatku, Guntar
/1/

Orang-orang datang dan pergi
seperti kali pertama juga kali penghabisan
dan segala yang bernyawa benarlah kembali sujud padaNya

doa"-do"a mengalir untuk ruhnya yang suci
di pembaringan yang terakhir
maka dzikirkanlah munajat padaNya
dengan cucur rindu yang mengalir di tahajjud

/2/
jangan menyepi Guntar,
bapak tidak pernah beranjak darimu
dia ada dalam dagingmu
dia lesap dalam darahmu
dia hidup dalam nafasmu
dia hadir dalam waktu sholatmu
maka tunjukkanlah baktimu
agar malam tak bertumpangtindih dengan suny
Kepada Malam yang
Menyerupaimu
Sukma

Aku sembunyikan tubuhmu
Pada waktu yang dangkal
Ketika itu gerimis datang menitipkan
Malam lalu mengalirkannya ke tubuhmu

Kita sendiri lupa
Bagaimana mengubah kabut-kabut
Kemudian melahirkan seorang bayi dari langit
Karna aku masih mengerti
Nyaring suaramu yang lahir dari
Permukaan lagu meski malam
Selalu hadir padaku
Medan, Nopember 2010

Kedatanganmu
Sukma

Pada hari yang sama seorang gadis
Datang padaku. Rambutnya terurai
Menutupi langkahku
Siang itu dia kembali datang
Setelah memanjat tebing-tebing
Menyelami kedalaman sunyi

Aku menatap keningnya
Mirip dengan putriku yang tiga hari lalu
Tidak mengerti jalan pulang

Di tangan kanannya ada bekas luka
Aku tersenyum
Dia menceritakan siapa ibunya
Dan esok kembali menjumpaiku
Medan, Nopember 2010
Seharian
Sukma

Terlalu pagi bagi kita
Untuk menceritakan laut yang bergetar
Sejak kapan kau menangis
Bukanlah cerita yang akan kudapati
Aku selalu saja seharian menunggumu
Dalam kerinduan yang teramat dingin
Kuterjemahkan nama batu dan debu
Menjadi kristal bening
Aku teringat matamu
Medan, Nopember 2010

Berdiam Diri
Sukma

Kau buka sebuah pintu di hatiku
Kita masuk ke dalamnya berdua
Kau duduk di sudut paling gelap
Menyalakan lilin dan menyiapkan kopi hangat

Waktu seketika mengeras
Kita terkunci
Daun-daun berguguran dan semuanya berubah
Menjadi patung yang mengerikan
Aku lihat wajahmu memucat
Dan kita tidak berusaha keluar
Medan, Nopember 2010

Visualisasi Puisi KSI Medan
“Indonesiaku, Bencanaku;....” Terlalu Sadar Tampil
MELALUI pergelaran visualisasi sejumlah puisi berjudul “Indonesiaku, Bencanaku; ... Jadi Babu Ibuku,” Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan mengisi kegiatan Pergelaran Seni Sastra, program Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU)-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumut, Rabu (15/12/2010) sore.
Visualisasi puisi “Indonesiaku, Bencanaku; ... Jadi Babu Ibuku” dengan sutradara Idris Pasaribu itu, sekaligus jadi penutup tiga rangkaian program TBSU, berupa Pergelaran Seni Teater, Workshop Penulisan Naskah Drama, dan Pergelaran Seni Sastra.

Dalam kegiatan yang kepanitiaannya diketuai Drs Bangun Nasution itu, melalui visualisasi puisi “Indonesiaku, Bencanaku; ... Jadi Babu Ibuku,” KSI mengusung sejumlah puisi di antaranya “Perjanjian dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar, “Indonesiaku” karya Idris Pasaribu, “Indonesia, Aku Masih Tetap Mencintaimu” karya Ahmadun Yosi Herfanda, “Wasior Kesohor Waswas” karya Juhendri Chaniago, “Mentawai” karya Sakinah Annisa Mariz, “Asa Dalam Lahar Mentari” karya Sidrata Emha, serta karya Antilan Purba, Embar T Nugroho, dan Richa Ayu.

Pergelaran visualisasi puisi KSI Medan ini, yang didukung tataan musik Hendrik Peranginangin bersama Winarto, diawali masuknya 15 orang sambil mengibar-ngibarkan bendera macam-macam warna, satunya Bendera Merah Putih, berjalan mengitari area pentas hingga membentuk sebuah komposisi.

Selanjutnya salah satu pemain, Embar T Nugroho, mengambil posisi di area pentas terdepan dan dari belakang Juhendri Chaniago bergerak maju, membacakan puisi “Perjanjian dengan Bung Karno” karya Chairil Anwar.

Berikutnya diselingi olah gerak sejumlah pendukung dan beberapa tarian, bergantian dibaca puisi di antaranya karya Idris Pasaribu, Ahmadun Yosi Herfanda, Juhendri Chaniago, Antilan Purba, dan lain-lain.

Visualisasi puisi “Indonesiaku, Bencanaku; ... Jadi Babu Ibuku” berkisah tentang sejumlah kemelut yang dihadapi bangsa Indonesia sejak perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, zaman kemerdekaan, peristiwa 1966, Orde Baru, dan reformasi. Juga musibah alam yang melanda hingga yang terkini di Wasior, meletusnya Gunung Merapi, serta musibah gempa dan tsunami di Mentawai.

Pertunjukan yang dihadirkan Idris Pasaribu melalui sejumlah olah gerak pendukung dan tarian, sebenarnya memberikan daya pikat tersendiri. Hanya saja, pada beberapa bagian di antara pendukung terkesan terlalu menyadari sedang tampil untuk ditonton, sehingga permainannya lepas dari kontinuitas cerita. Meski demikian, bentuk pertunjukan itu sedikit berhasil menggiring penonton untuk masuk ke suasana yang bakal hadir pada bagian pertunjukan berikutnya.

Satu hal – dan ini dasar dalam membacakan puisi – agaknya perlu diberi perhatian khusus. Kemampuan olah vokal para pembaca di visualisasi puisi “Indonesiaku, Bencanaku; ... Jadi Babu Ibuku” itu masih minim dan seakan terjebak pada pola pengucapan dialog dalam lakon teater, juga terkadang tak bisa dicermati karena cacat di artikulasi. (ys rat)

Si Jonaha Persembahan PLOt
Opera Batak Empat Bahasa di TBSU
MedanBisnis – Medan. Opera Batak berjudul Si Jonaha persembahan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) kali ini, yang teksnya ditulis Thompson HS sekaligus juga sebagai sutradara, bisa dipastikan bernuansa lain. Operasi ini digelar Jumat dan Sabtu (11 dan 12/3) di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan Medan. Si Jonaha disuguhkan dalam empat bahasa yakni bahasa daerah Batak Toba, Simalungun, Karo, dan Bahasa Indonesia.
Thompson yang didampingi Direktur Produksi PLOt, M Swarsono, dan Pimpinan Produksi, Ojak Manalu, mengemukakan hal itu kepada wartawan di Ruang Pameran TBSU, Senin (7/3) sore.

“Garapan kali ini agak berbeda, kita coba gabungkan tiga bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Sedangkan selama ini kita khusus menggunakan bahasa Batak Toba,” jelasnya.

Menurut Thompson, pergelaran Si Jonaha di Medan ini merupakan yang ketiga setelah sebelumnya pernah ditampilkan pada acara Pesta Danau Toba dan di Batam tahun 2010. Berdasarkan pengalaman dua pergelaran terdahulu itulah, kata dia, muncul gagasan untuk menghadirkan opera Batak sebagai tontotan yang bisa dinikmati masyarakat semua etnis.

“Karena memang, dari pengalaman pementasan-pementasan sebelumnya terasa ada benang merah yang memungkinkan penonton dari berbagai latar etnis menikmatinya juga dan disadari ada sedikit kendala dalam hal bahasa yang digunakan. Itulah makanya, kali ini kami coba meminimalkan kendala itu dengan menggarapnya dalam empat bahasa meliputi bahasa Batak Toba, Simalungun, Karo, dan bahasa Indonesia,” papar Thompson.

Soal pemain, dia menjelaskan, pergelaran Si Jonaha akan didukung 16 pemain dari tiga generasi mulai generasi muda hingga generasi tua. Di antaranya, imbuh Thompson, maestro opera Batak yang sudah selama 36 tahun bergabung bersama kelompok Opera Batak Serindo pimpinan Tilhang Gultom dan sudah cukup ternama, yakni Zulkaidah Br Harahap dan Alister Nainggolan.

Ditambahkan Ojak Manalu, dari pengalaman pergelaran di Batam jumlah penonton mencapai antara 5.000 hingga 6.000 orang dari kapasitas gedung pertunjukan untuk 7.000 penonton dan pada Pesta Danau Toba lalu jumlah penonton bahkan membludak, pihaknya yakin di TBSU pun akan mendapat sambutan antusias dari masyarakat.

Untuk itu, lanjutnya, masih dibuka kesempatan bagi para calon penonton untuk memperoleh tanda masuk, di TBSU Jalan Perintis Kemerdekaan No 33 Medan, Galeri Payung Teduh Jalan Sei Bingei No 1, Kedai Kopi Tradisi Jalan Setia Budi No 12 F Pasar I Tanjung Sari, dan Rumah Buku Medan Jalan Jamin Ginting No 514 Padang Bulan. Si Jonaha dihadirkan empat kali pertunjukan dalam dua hari. Yakni, pukul 15.00-16.30 WIB khusus pelajar dan pukul 19.30-21.30 WIB untuk umum/mahasiswa. (ys rat)

Bersama D’lick Theater Team
Nonton Lagi “Fajar Sadik” Setelah 18 Tahun
SENIN, 13 Desember 2010 pukul 16.00 WIB, berada di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan No 33 Medan, ingatan kembali ke kenangan masa lalu. Kali ini, nonton lagi “Fajar Sadik” karya Emil Sanosa, yang 18 tahun lalu di tempat itu juga dipentaskan D’lick Theater Team, dengan sutradara yang sama, Yondik Tanto.
Jika 18 tahun lalu “Fajar Sadik” dipentaskan pada Festival Drama Epos Perjuangan 1945 Tingkat Sumut dan D’lick Theater Team berhasil meraih enam kategori pemenang sekaligus ditetapkan sebagai juara umum, kali ini mengisi Pergelaran Seni Teater Program UPT TBSU-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, yang kepanitiaannya diketuai Drs Bangun Nasution.

Adakah yang beda di pementasan “Fajar Sadik” kali ini dengan 18 tahun lalu? Kecuali sutradara, yang pasti perbedaan di para pemain. Kini, C Rizky (Maryoso), Jali Kendi (Ahmad), Ilham Wahyudi (Sersan), Andy Mulky (Kiai), dan Yusra Lubis (Julaiha/adik Ahmad). Sedangkan di pementasan 18 tahun lalu antara lain Eddy Siswanto (Maryoso), Monos Ra (alm/Ahmad), Sampir (Kiai) dan Susi Suhaimi (Julaiha).

Lantas, selebihnya? Ada kesamaan dan perbedaan. Kerja penyutradaraan Yondik kali ini masih sama dengan 18 tahun lalu, mampu menjadikan “Fajar Sadik” tetap mempunyai daya tarik ditonton sepanjang satu jam lebih hingga akhir pementasan. Bedanya, pemeran yang diandalkan masih kurang mampu menjiwai “ruh” sesungguhnya dari “Fajar Sadik” dibandingkan mereka yang memerankan lakon ini 18 tahun lalu.

Ahmad dan Maryoso
“Fajar Sadik” diawali pertentangan putra Kiai, Ahmad dengan Maryoso yang merupakan teman sekaligus murid kesayangan ayahnya. Atas petunjuk Ahmad kepada kaum kolonial, pesantren di mana Sang Kiai menempa para santri yang juga dijadikan markas para laskar pejuang di bawah pimpinan Maryoso, dibakar habis oleh penjajah sehingga banyak jatuh korban.

Mengesampingkan persoalan teman sekaligus putra Sang Kiai, Maryoso menjadikan Ahmad sebagai tawanan dan segera akan menjatuhkan hukuman mati dengan cara ditembak. Maryoso berpendirian, perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan tidak memandang seseorang sebagai teman dan putra Sang Kiai yang juga merupakan gurunya. Bagi Maryoso, Ahmad harus dihukum setimpal atas pengkhianatannya yang telah menelan banyak korban.

Sedangkan bagi Ahmad, tindakannya memberitahu pesantren milik sang ayah sebagai markas para pejuang sebagai aksi balas dendam atas kematian ibunya yang menurut dia disebabkan Maryoso. Itu terjadi karena di tengah situasi teramat gawat, istri kiai yang adalah ibu Ahmad berlari keluar dari persembunyiannya di dalam pesantren. Menghadapi hal itu, tak ada tindakan lain bisa dilakukan kecuali menembaknya demi menghindari pihak kolonial mengetahui markas para laskar pejuang di pesantren itu.

Rasa dendam itulah yang dibalaskan Ahmad dan itu dikemukakannya di hadapan Maryoso ketika dia ditawan. Sementara Maryoso, kalaulah Ahmad merasa perlu menuntut balas atas kematian ibunya, sehingga korbannya para laskar pejuang dan para santri, ditambah kedua orang tua Maryoso sendiri, kepada Ahmad dia mempertanyakan; tidakkah dia juga sesungguhnya perlu menuntut balas jika hanya mementingkan diri sendiri?

Di saat pertentangan antara Ahmad dengan Maryoso semakin memuncak, muncullah Kiai dan mengajukan tuntutan kepada Maryoso agar menghukum gantung Ahmad, karena menurutnya hukuman tembak terlalu ringan untuk seorang pengkhianat seperti dia. Kiai tak mau Maryoso menghukum tembak Ahmad dan bukan menjatuhkan hukuman gantung karena pertimbangan dia anak kandung beliau yang juga guru Maryoso sendiri.

Maryoso kukuh pendirian. Ahmad dihukum mati dengan cara ditembak. Cara itu dia lakukan dilandasi pertimbangan kemanusiaan, bukan lantaran Ahmad sebagai bekas teman dan anak Kiai yang juga gurunya. Ketegangan pun masih dipengaruhi lagi oleh kehadiran adik perempuan Ahmad, Julaiha, yang meminta ayahnya menggunakan pengaruhnya terhadap Maryoso untuk membatalkan hukuman mati Ahmad.

Tapi, perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan tetap di atas segalanya. Hukuman mati di hadapan regu tembak tak bisa diurungkan terhadap Ahmad atas pengkhianatan menunjukkan pesantren milik ayahnya yang dijadikan markas para laskar pejuang dan juga terdapat banyak santri, sehingga akhirnya dibumihanguskan oleh kaum kolonial.

Sekadar tambahan. Yondik Tanto sebagai sutradara pastilah memberikan arahan perihal penjiwaan peran kepada para pemain “Fajar Sadik” dan hal ini sudah terlihat membuahkan hasil. Hanya, kerapnya di beberapa adegan para pemain lepas dari kontinuitas penjiwaan perannya, sangat berpengaruh terhadap kestabilan komposisi dan penguasaan area pentas. Juga, kehadiran perangkat pendukung seperti tata rias, busana, pentas, dan lampu masih jauh dari totalitas yang semestinya.

Hanya perlu sedikit lagi upaya – tentunya bermodal keseriusan – sangat mungkin pementasan “Fajar Sadik” yang kali ini telah memiliki daya tarik, akan semakin menarik ditonton. Karenanya, Anda yang gemar nonton teater layak menunggu sekaligus bersiap untuk kembali menonton “Fajar Sadik” yang memang sedang dipersiapkan Yondik Tanto untuk program pergelaran D’lick Theater Team ke depan. (ys rat)

Perupa Muda Sahala Hadirkan 3 Puak di Opera Batak
Kelompok perupa Sahala akan menghadirkan nuansa puak Karo, Simalungun, dan Toba di atas panggung Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), 11-12 Maret 2011 mendatang, pada pementasan Opera Batak Si Jonaha. Di samping itu Sahala juga akan menggelar pameran lukisan dan karya rupa lain di pelataran parkir TBSU. Yanal Zendrato, salah satu anggota Sahala, mengatakan, keterlibatan mereka pada pementasan Si Jonaha yang digelar Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) merupakan pengalaman pertama Sahala sebagai tim artistik panggung. "Ini sebuah bentuk kepercayaan dari teman-teman di PLOt kepada kami selaku perupa-perupa muda," sebut Yanal.
Sahala sebagai sebuah kelompok perupa dibentuk oleh empat mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) pada medio 2008. Deppi Tarigan, Julister Sinurat, Ranjaya Siahaan, dan Yanal Zendrato mendirikan Sahala sebagai pengungkapan rasa kehilangan terhadap Galeri Tondi. Galeri Tondi, seperti diakui Yanal, ketika masih eksis, telah memberi ruang kreativitas bagi mereka. Di galeri yang didirikan perupa Grace Siregar ini, mereka pernah menggelar pameran. Di Galeri Tondi pula mereka berkesempatan berdiskusi dengan perupa-perupa nasional yang berpameran di sana.

Sebagai sebuah kelompok perupa Sahala menyadari pentingnya sebuah galeri. Pasca Galeri Tondi, mereka sempat berpindah-pindah tempat memamerkan karya-karya mereka. Namun, sejak Januari lalu mereka telah memiliki galeri permanen di Jalan Garuda Raya No 4 Perumnas Mandala.

"Di sana kami termotivasi membangun minat anak-anak muda Medan pada seni rupa. Mengisi pentas Opera Batak Si Jonaha bersama PLOt adalah salah satu kesempatan dan kebanggan buat kami untuk menunjukkan kreativitas kami," tegas Yanal optimis.

Sekedar informasi, pertunjukan Si Jonaha sendiri akan dilakukan dalam 4 pertunjukan selama 2 hari. Pertunjukan sore pukul 15.00-16.30 WIB dikhususkan bagi pelajar dan pertunjukan malam 19.30-21.30 WIB bagi umum dan mahasiswa.

Undangan pertunjukan ini dapat diperoleh di TBSU Jalan Perintis Kemerdekaan no 33, Medan, Galeri Payung Teduh Jalan Sei Bingei no 1, Kedai Kopi Tradisi Jalan Setia Budi No 12 F Pasar I Tanjung Sari, dan Rumah Buku Medan Jalan Jamin Ginting No 514 Padang Bulan.

"Kami juga akan bekerjasama dengan Sanggar Tinuang dalam membangun nuansa Karo di panggung pementasan itu," tutup Yanal mengakhiri. (Jones Gultom )