Dahi editor novel "Pelangi Rimba", Nasib Ts, terlihat mengerut sebagai pertanda sedang berpikir ekstra keras. Begitu juga dengan T Agoes Khaidir, salah seorang penulis cerpen dalam "Kumpulan Cerpen Medan", dan Teja Purnama Lubis, Ketua Komunitas Seni Medan (KSM), yang duduk di baris terdepan. Bisik-bisik dari puluhan pelajar segera memenuhi ruang perpustakaan Perguruan Panca Budi Medan, awal pekan lalu, saat digelar "Bincang Buku Kumpulan Cerpen Medan" dan "Pelangi Rimba" yang diterbitkan KSM.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama, karena moderator acara, Dewi Chairani, dari Klub Baca Perpustakaan Panca Budi segera mencairkan kebekuan melalui sejumlah joke segar. "Saya tidak menduga bakal mendapat pertanyaan yang kritis seperti ini dari para pelajar," ungkap Nasib, sebelum memulai penjelasannya.
Dari bibir warga Delitua ini meluncur kalimat seputar proses editing dari novel "Pelangi Rimba", termasuk menjelaskan persoalan ayat-ayat Al'Qur'an yang nyaris tidak ditemukan dalam novel keagamaan tersebut. "Penulis Novel Pelangi Rimba tergolong pemula di dunia tulis-menulis. Ia juga mencoba meminimalisir ayat-ayat Al-Qur'an agar pembaca tidak merasa jenuh membacanya," papar Nasib yang dalam kesempatan itu hadir mewakili penulis.
Jawaban Teja lebih lugas lagi atas pertanyaan seorang pelajar tentang cara memulai penulisan cerpen. "Cara memulai penulisan cerpen atau pun tulisan lain sederhana, ya segera dimulai menulis, jangan ditunda-tunda," tegasnya yang disambut dengan aplaus para peserta.
Sementara, Agoes Khaidir mempersilakan para pelajar untuk membiarkan alur cerita melebar dalam proses kreatif penulisan. Pasalnya, tidak jarang alur cerita yang melebar justru menjadi suatu kekuatan dan membuatnya menjadi menarik. Meski para peserta dan pemateri hanya duduk di karpet (lesehan -red), namun sejumlah pertanyaan silih berganti "menyerang" tiga pemateri hingga jadwal acara yang seharusnya berakhir tepat pukul 12.00 WIB, molor menjadi 12.20 WIB. Mengenai setting santai tersebut, Wahyudi, pimpinan event organizer Blue Sky Management Medan, yang dipercaya menangani kegiatan ini, memiliki alasan sendiri. "Kita ingin mengubah imej bedah buku yang selama ini serius menjadi santai dengan hanya berbincang saja. Tentunya, tanpa mengurangi kualitas kegiatan ini," tegasnya di awal kegiatan.
Pihak Perguruan Panca Budi Medan, diwakili Abdi Setiawan, menyambut positif kegiatan ini. Apalagi, setting santai yang diciptakan pihak Blue Sky Management Medan, bakal menghilangkan imej serius dan membosankan dari kegiatan bedah buku.
Omong-Omong Sastra Sumatera Utara adalah wadah tempat berdiskusinya para sastrawan Sumatera Utara Khususnya. Usiannya yang hampir mencapai 40 tahun menjadikannya sebagai wadah bersilaturahmi, berdiskusi dan berkarya para sastrawan dari berbagai usia, aliran, dan agama, menyebabkan Forum Omong-Omong Sastra ini sebagai Forum yang tertua di Sumatera Utara. Forum ini diprakarsai oleh Damiri Mahmud, dkk. Sekarang di koordinir oleh M. Raudah Jambak. Semoga tetap berjaya.
Selasa, 12 Oktober 2010
Sampan Zulaiha
Hasan Al Banna
Ia mengekori bapaknya yang berjalan beriring dengan Nurdin. Tangan kiri bapaknya menenteng sejumlah bubu bambu perangkap ikan, juga beberapa bubu nilon penjerat kepiting. Tangan kanannya menggenggam sepasang dayung. Nurdin, meski usianya kurang sepuluh tahun, enteng saja menggendong segulung jala dan menjinjing bekal. Maklum, sejak usia tujuh tahun, adik laki-lakinya itu sudah melaut bersama bapaknya. Zulaiha iri. Ia juga kepingin melaut. Tapi keinginan itu ibarat ikan hendak berenang di genangan langit! Angannya sering berkelana; menunggang sampan, menghirup wangi laut, dan membiarkan pias laut menyerpih di wajahnya. Nikmat!
Sampan masih tertambat, tapi terkulai-kulai diayun putik ombak. Bapaknya menyulut rokok, dan Nurdin begitu sigap menguras air dari lengkung sampan. Diam-diam Zulaiha menggeliat ke sisi Nurdin. Sampan berguncang! Lalu terdengar dengus yang rakus, disusul suara gedebab, semacam pelepah kelapa menimpa sesuatu. Zulaiha terjerembab! Di punggungnya, bukan tanggung rasa panas yang menjalar. Kepala dayung yang dihantamkan bapaknya ke tubuh Zulaiha. ”Berapa kali Bapak katakan, kau tu tak boleh melaut. Anak jadah!”
Zulaiha bangkit ditopang derit sakit. Tapi ia tidak meringis, apalagi menangis. Sudah berulang kali ia mengalami kejadian semacam itu. Benar, sesaat matanya nanar, merah, dan pedih. Kepalanya sempat tersungkur ke dangkal laut. Hidung dan mulutnya berlumpur. Tapi dengan napas tertahan, ia remas bajunya yang terbasuh laut. Ia kibaskan lumut yang bergayut di lutut. Dan kemudian, sorot matanya tak berkedip, begitu saksama melepas sampan membawa Nurdin dan Bapaknya berarung ke jantung laut. Nasib belum mujur.
Tempo hari, sebenarnya Zulaiha lihai memasang akal. Ia terlebih dulu menuju sampan. Lalu, ia benamkan tubuhnya di setumpuk jala bekas yang tertinggal di sampan. Tentu buah dari harapan Zulaiha, bapaknya luput mengetahui keberadaannya. Maka, ia akan turut melaut. Tapi kandas. Sebelum sampan beranjak ke lenguh ombak, bapaknya menyuruh Nurdin mengembalikan jala koyak itu ke rumah. Dan ketahuan. Maka tak ada keraguan, setelah Zulaiha dijinjing, sebuah tendangan membikin Zulaiha terlentang, berlalu pulang. Nun, di dadanya membuncah cita-cita—atau kesumat sejati yang mengilat?
Suatu hari nanti, aku akan melaut. Sendiri! Mesti sendiri!
Zulaiha betapa mencintai laut. Lumrah itu. Bukankah ia tumbuh di lingkungan laut? Bahkan, konon, kata kerabatnya, Zulaiha lahir saat laut pasang menyeruduk rumah mereka. Maklum, rumah rapuh mereka teronggok dekat paloh, rendam rawa di sekitar bengkalai bakau. Nek Sakdiah, dukun beranak Mak-nya saat itu, malah sempat memandikan Zulaiha dengan air asin. ”Baru lahir saja sudah minum laut,” seloroh mereka. Memang, sejak kecil, tabiat Zulaiha memperlakukan laut sering dianggap tak lazim. Iya pula, ketika beranjak tidur, Zulaiha mesti mendekap botol bir berisi air laut. ”Mm, ada-ada saja,” geleng tetangga berbalut geli.
Selain itu, setiap kali hatinya dicengkram kuku taring kepiluan, atau sedang bertabur kembang sukacita, Zulaiha pun bersegera ke tepian laut. Tak siang tak malam. Adalah bangkai dermaga kayu, tak jauh dari rumah mereka, lapak kegemarannya. Sering ia kedapatan duduk sebatang diri di situ. Betapa lapang Zulaiha melempar pandang ke hampar laut. Sorot matanya menyeruakkan tangan, hendak merangkul kaki langit yang sembunyi di balik punggung laut? Sambil lalu, ia biarkan julur ombak menggeli-geli kakinya. Baginya, lidah laut seperti belaian beludru.
Lautkah gemulai rahim yang mendamparkanku ke dunia?
Pada lain waktu, Zulaiha sebenarnya tekun tegak dengan tubuh yang oleng. Ia songsong geriap laut, ia hirup napas ombak, lalu rentanglah tangannya, semacam mendekap angin beraroma garam. Erat. Rambutnya yang sebahu—berwarna senja, kusam, dan camping—tak pernah terikat. Tergerai, berkibar diangguk-geleng angin. Mungkin bagi Zulaiha, laut adalah pangkuan kaki yang tak pernah menendang tangkai hidungnya. Atau laut taklah tangan yang berkali-kali mengempaskan kepal ke dagunya yang rompal.
Lautku, lautku, ayunanku!
Zulaiha, dua belas tahun! Mengharapkan percik wajahnya mengisyaratkan suasana hatinya adalah pekerjaan petaka. Tawanya langka, air mata tiada. Paling, untuk menandai debar perasaan Zulaiha, tataplah lekat-lekat bundar matanya. Andai ia sedang berbuai ria, saksikan, ada kerlip sinar di antara kedipan. Sepasang bola matanya adalah kebeningan laut kecil yang menggelinjangkan sekawanan ikan. Dan sebaliknya, dua matanya bak laut menanggal cahaya, berkabut pekat, jika ia sedang diombang-ambing buih luka. Begitulah, lain kadang, matanya menyaru mata hiu. Mata yang mati. Namun, di ngarai dadanya, dendam senantiasa sepitam arang, bergulung, dan bersipompa.
Bernama dendam apa? Ke alamat mana?
Entahlah, Zulaiha pun lalai ingatannya, bila ia terakhir kali mengulum senyum atau menyedak durja? Serupa dengan ketakpahamannya, mengapa sejak lahir ia terpental dari rimbun peluk-cium orangtua, terutama bapaknya? Ia anak sulung. Tapi itu bukan penghalang bapaknya untuk tidak menyeru Zulaiha: anak pembawa sial! ”Sudahlah perempuan, cacat pulak!” Tidak iqamat, tapi umpatan yang menyayat telinga Zulaiha selepas lahir. Bapaknya kepingin anak laki-laki. ”Biar bisalah kubawa melaut,” begitu alasannya. Ah, Zulaiha, lahir sebagai anak perempuan yang ranum, kecuali kaki kanannya yang lebih pipih dari kaki kiri. Pun telapaknya mendongak. Maka kaki kanannya cuma bertumpu pada tumit. Cecah langkahnya pun tak sempurna.
Namun sumpah, Zulaiha tumbuh sebagai anak yang percaya diri, cekatan. Lincah ia kian kemari meski kadang terjungkal-terbanting. Tapi bersebab perlakuan bapaknya yang terlampau, ia berubah menjadi pendiam. Hobi bersendiri! Gemar berendam di paloh. Pernah pun, saat berusia lima tahun, Zulaiha nyaris tertanam perdani, pasang besar yang rutin melanda dua tahun sekali. Hendak memetik tunas piye ia saat itu. Piye banyak tumbuh di sekitar paloh. Anak-anak perempuan sering memetiknya untuk main masak-masakan.
Beruntung ada Dempol. Lajang sebelah rumah Zulaiha itu kebetulan sedang membubu kepiting. Lelaki pengangguran (juga lemah mental) itulah yang susah-upaya merebut Zulaiha dari rahang perdani. Ia juga yang membopong tubuh Zulaiha—yang pingsan—ke rumah bidan Rasidah. Tapi jerih payah berbuah serapah. Bukan ucapan terima kasih upah jasanya, melainkan terjang makian. ”Hah, mengapa tak kau biarkan saja anak sialan ini hanyut, Dempol! Biar mati sekalian!” Hardikan berkarat itu membikin Dempol terpelongo. Lajang malang itu menunduk, tak bernyali menantang dua biji saga yang bertengger di bawah dahi bapak Zulaiha. Tajam sekaligus mengerikan.
Tapi kengerian itu tidak lagi menggetarkan nyali Zulaiha. Ia sudah terbiasa. Meski juga dendam tak penat-penat menggeliat, menghasut gedebar lahar yang siap meletus. Iya, tidak sekali dua kali kelebat tangan bapaknya menggempur pipi, dada, dan kepala Zulaiha. Hidungnya pernah meluruhkan darah usai dibentur dengan palang pintu. Bahkan seayun tinju pernah pula menghantam rusuknya, membiru, dan sekian senti lagi menggapai ulu hati. Bermacam-macamlah pasalnya.
Maka siapa yang kelak menuai badai dendam?
Suatu kali, kepiting rajungan tangkapan bapaknya terlepas seekor ketika Zulaiha hendak merebusnya untuk makan malam. Asli, jangankan kebagian makan malam, Zulaiha hanya merasakan pedas tamparan. Dan seperti biasa, demi menghalau kepedasan, Zulaiha menggegaskan langkah pincangnya ke dermaga. Ia tinggalkan rumah dengan mimik dingin. Lalu, begitu lekat ia menghadap raut laut. Mengadu tanpa sedak sendu. ”Kak Zula! Dipanggil Mak! Lekas pulang!” Mungkin, kalau bukan karena mendengar kuyup teriakan Mukhlis—adiknya yang nomor tiga, tentu ia tahan berselimut angin laut hingga malam larut.
Laut, o, laut, pelipurku!
Ampun, punah segala kesakitan yang bersarang di tubuh Zulaiha. Bayangkan, gara-gara salah beli rokok saja, Zulaiha harus menebus hukuman. Bapaknya menyulut rokok, lalu memuntungkannya ke daun telinga Zulaiha. ”Bodoh kali kau ni, Zula! Heh, anak jin laut!” Zulaiha terpuruk, menanggungkan hujat begitu saja, dan tidak melawan sama sekali. Mak Zulaiha pun demikian sifatnya. Memilih diam atau menangis kalau sedang menahankan perilaku kasar bapaknya. Ia istri penurut, tak ada keberanian menunjukkan hati yang berkemelut. Tentu ia menyimpan rasa iba buat Zulaiha. Tapi apa daya, tenaga dan nyali menjelma hampa.
Sempurna derita, takdir Zulaiha? Lalu di garis laut, lalu pada laut, Zulaiha memulangkan kesumat hati. Tidak, ketiga adik laki-lakinya bukan muara dari kecamuk dendamnya. Meski sejak kelahiran Nurdin, Mukhlis, dan Husen, keberingasan bapaknya kian mengganas. Dan Zulaiha selalu menjadi sasaran. Perlakuan bapaknya kepada Zulaiha berbanding senjang dengan ketiga adiknya. Zulaiha tak pernah merasakan bagaimana bersekolah, seperti halnya Nurdin dan Mukhlis. Meskipun kedua adiknya itu berhenti juga di pangkal jalan, tak sempat naik-naikan kelas. ”Mengapa pulak kau hendak sekolah, Zula! Tak ada otak kau!” Ah, bapaknya, adakah seperti berhadapan dengan binatang?
Begitulah, bersebab adik-adiknya, Zulaiha sering pula dipaksa menelan hardik dan tebasan kaki bapaknya. Pernah pada sebuah pagi, hari Minggu, Zulaiha mengajak Husen ke halaman pasar. Itu pun karena Mak-nya menyuruh Zulaiha menjaga adik bungsunya itu. Berusia tiga tahun lebih Husen saat itu. Nah, biasanya, hari itu orang-orang kota datang bergerombol menyandang ransel berisi alat-alat pancing. Mereka hobi memancing. Lumayan, selain untuk menghanyutkan kejenuhan bekerja selama sepekan, untung-untung mereka pulang menggandeng ikan.
Sebelum pergi, Zulaiha berhasil menanggok sebaskom udang binje—seukuran kelingking—di paloh. Hasil tanggok-an itulah yang dijajakan Zulaiha kepada gerombolan pemancing. Udang-udang itu untuk umpan ikan. Kalau masih segar dan hidup, harganya tinggi. Penjaja yang lain juga ramai. Mereka menggelar udang, sibuk mengail minat orang-orang yang hilir mudik.
Namun, belum seorang pun yang menawar udang, mendadak bapaknya berdiri berkacak pinggang, tepat di depan Zulaiha. Wajah bapaknya bagai laut keruh, disepuh api, dan menggelegak! ”Anak binatang! Kau bawa rupanya si Husen, ya. Mengapa pulak kau di sini, hah! Petentengan!”
Lalu, berduyun tempeleng mengena wajah Zulaiha, menerbitkan lemak luka. Tapi ekspresi Zulaiha tetap setenang cuaca. Sebuah tendangan memelantingkan baskom buram. Udang-udang berserak, menggeleparkan sisa nyawa. Ada kelengangan yang melintas sejenak, lantas riuh kembali kelebat cerca. Bapaknya menyeret Zulaiha pulang, tak peduli dengan Husen yang berpekik-pekik tangis di bahunya. Orang-orang terkesima. Lipatan dahi menghimpun, menjuntaikan tanya. Entahlah, cuaca masih cerah, tapi terasa sedang menanak amarah.
O, Dendam pun bersiasat. Tak berhenti merajut jerat?
Hmm, Zulaiha adalah kepalan baja, atau pualam siksa? Pada sebuah malam, bapaknya sedang menyirat jala dengan cuban, alat penyulam jala. Ia biarkan Husen tertidur pulas di pangkuannya. Ada cahaya liar menyusup dari samar lampu teplok. Di luar, angin menderas. Nurdin dan Mukhlis asyik bergelut, sesekali terdengar rengekan mereka. Zulaiha tergoda, turut pula menghampirkan canda. Tapi canda tak berderai tawa, melainkan mendentangkan suara kaca. Kaki Zulaiha menyenggol gelas kopi bapaknya. Maka tumpah, kopi pun tersisa sepertiga. Padahal baru dihidang. Masih panas dan mengepul. Pun belum sempat diteguk.
Sudah terduga, bapaknya kalap luar biasa. Bangkit bapaknya, lalu dengan ringan mengayunkan runcing cuban ke pelipis Zulaiha. Saat itu darah adalah air mancur yang melimpah. Sambil memaki, bapaknya masih sempat melemparkan gelas kopi ke kaki kanan Zulaiha. Kaki yang menanggung lara sejak lama. Zulaiha bermimik tugu beringsut ke pintu. Lalu, ke mana lagi berlari, selain ke beranda dermaga? ”Zula, jangan kau ke dermaga, Nak. Angin kencang, badai!” Suara Mak-nya hanya bunyian yang tumpul. Zulaiha berwajah darah, terus menatihkan langkah.
Laut, laut, izinkan aku tidur di bilikmu malam ini.
Angin berontak. Ombak berderak. Dermaga usang berguncang. Tapi Zulaiha, sejak lampau tak pernah menabung takut. Langit pekat. Cuaca sekarat. Udara bertumbangan. Aroma garam bercampur anyir darah bertebar di atas kepala Zulaiha. Bunyi petir macam suara nenek sihir. Menakutkan. Tapi Zulaiha tak kecut. Ia tegak menghadap laut. Kilat melesatkan cahaya, seperti cambuk api yang melecut tengkuk laut. Angin mendaki-menghempas. Rambut Zulaiha mengibas, seperti melambai apa, atau menyahut siapa?
Laut meninggi ribuan senti. Tempiasnya mencipta hujan air garam, menguyupkan tubuh Zulaiha yang timpang. Lalu ia tadahkan lekuk tangan ke arah laut. Aha, Zulaiha, hendak mendekap siapa?
Tidak mendekap siapa-siapa. Malam itu, bukan dendam-kesumat yang Zulaiha tunaikan, melainkan cita-cita: melaut sendiri, sendiri! O, tengoklah, sampan Zulaiha adalah tubuh Zulaiha sendiri!
Medan, 05/08
Ia mengekori bapaknya yang berjalan beriring dengan Nurdin. Tangan kiri bapaknya menenteng sejumlah bubu bambu perangkap ikan, juga beberapa bubu nilon penjerat kepiting. Tangan kanannya menggenggam sepasang dayung. Nurdin, meski usianya kurang sepuluh tahun, enteng saja menggendong segulung jala dan menjinjing bekal. Maklum, sejak usia tujuh tahun, adik laki-lakinya itu sudah melaut bersama bapaknya. Zulaiha iri. Ia juga kepingin melaut. Tapi keinginan itu ibarat ikan hendak berenang di genangan langit! Angannya sering berkelana; menunggang sampan, menghirup wangi laut, dan membiarkan pias laut menyerpih di wajahnya. Nikmat!
Sampan masih tertambat, tapi terkulai-kulai diayun putik ombak. Bapaknya menyulut rokok, dan Nurdin begitu sigap menguras air dari lengkung sampan. Diam-diam Zulaiha menggeliat ke sisi Nurdin. Sampan berguncang! Lalu terdengar dengus yang rakus, disusul suara gedebab, semacam pelepah kelapa menimpa sesuatu. Zulaiha terjerembab! Di punggungnya, bukan tanggung rasa panas yang menjalar. Kepala dayung yang dihantamkan bapaknya ke tubuh Zulaiha. ”Berapa kali Bapak katakan, kau tu tak boleh melaut. Anak jadah!”
Zulaiha bangkit ditopang derit sakit. Tapi ia tidak meringis, apalagi menangis. Sudah berulang kali ia mengalami kejadian semacam itu. Benar, sesaat matanya nanar, merah, dan pedih. Kepalanya sempat tersungkur ke dangkal laut. Hidung dan mulutnya berlumpur. Tapi dengan napas tertahan, ia remas bajunya yang terbasuh laut. Ia kibaskan lumut yang bergayut di lutut. Dan kemudian, sorot matanya tak berkedip, begitu saksama melepas sampan membawa Nurdin dan Bapaknya berarung ke jantung laut. Nasib belum mujur.
Tempo hari, sebenarnya Zulaiha lihai memasang akal. Ia terlebih dulu menuju sampan. Lalu, ia benamkan tubuhnya di setumpuk jala bekas yang tertinggal di sampan. Tentu buah dari harapan Zulaiha, bapaknya luput mengetahui keberadaannya. Maka, ia akan turut melaut. Tapi kandas. Sebelum sampan beranjak ke lenguh ombak, bapaknya menyuruh Nurdin mengembalikan jala koyak itu ke rumah. Dan ketahuan. Maka tak ada keraguan, setelah Zulaiha dijinjing, sebuah tendangan membikin Zulaiha terlentang, berlalu pulang. Nun, di dadanya membuncah cita-cita—atau kesumat sejati yang mengilat?
Suatu hari nanti, aku akan melaut. Sendiri! Mesti sendiri!
Zulaiha betapa mencintai laut. Lumrah itu. Bukankah ia tumbuh di lingkungan laut? Bahkan, konon, kata kerabatnya, Zulaiha lahir saat laut pasang menyeruduk rumah mereka. Maklum, rumah rapuh mereka teronggok dekat paloh, rendam rawa di sekitar bengkalai bakau. Nek Sakdiah, dukun beranak Mak-nya saat itu, malah sempat memandikan Zulaiha dengan air asin. ”Baru lahir saja sudah minum laut,” seloroh mereka. Memang, sejak kecil, tabiat Zulaiha memperlakukan laut sering dianggap tak lazim. Iya pula, ketika beranjak tidur, Zulaiha mesti mendekap botol bir berisi air laut. ”Mm, ada-ada saja,” geleng tetangga berbalut geli.
Selain itu, setiap kali hatinya dicengkram kuku taring kepiluan, atau sedang bertabur kembang sukacita, Zulaiha pun bersegera ke tepian laut. Tak siang tak malam. Adalah bangkai dermaga kayu, tak jauh dari rumah mereka, lapak kegemarannya. Sering ia kedapatan duduk sebatang diri di situ. Betapa lapang Zulaiha melempar pandang ke hampar laut. Sorot matanya menyeruakkan tangan, hendak merangkul kaki langit yang sembunyi di balik punggung laut? Sambil lalu, ia biarkan julur ombak menggeli-geli kakinya. Baginya, lidah laut seperti belaian beludru.
Lautkah gemulai rahim yang mendamparkanku ke dunia?
Pada lain waktu, Zulaiha sebenarnya tekun tegak dengan tubuh yang oleng. Ia songsong geriap laut, ia hirup napas ombak, lalu rentanglah tangannya, semacam mendekap angin beraroma garam. Erat. Rambutnya yang sebahu—berwarna senja, kusam, dan camping—tak pernah terikat. Tergerai, berkibar diangguk-geleng angin. Mungkin bagi Zulaiha, laut adalah pangkuan kaki yang tak pernah menendang tangkai hidungnya. Atau laut taklah tangan yang berkali-kali mengempaskan kepal ke dagunya yang rompal.
Lautku, lautku, ayunanku!
Zulaiha, dua belas tahun! Mengharapkan percik wajahnya mengisyaratkan suasana hatinya adalah pekerjaan petaka. Tawanya langka, air mata tiada. Paling, untuk menandai debar perasaan Zulaiha, tataplah lekat-lekat bundar matanya. Andai ia sedang berbuai ria, saksikan, ada kerlip sinar di antara kedipan. Sepasang bola matanya adalah kebeningan laut kecil yang menggelinjangkan sekawanan ikan. Dan sebaliknya, dua matanya bak laut menanggal cahaya, berkabut pekat, jika ia sedang diombang-ambing buih luka. Begitulah, lain kadang, matanya menyaru mata hiu. Mata yang mati. Namun, di ngarai dadanya, dendam senantiasa sepitam arang, bergulung, dan bersipompa.
Bernama dendam apa? Ke alamat mana?
Entahlah, Zulaiha pun lalai ingatannya, bila ia terakhir kali mengulum senyum atau menyedak durja? Serupa dengan ketakpahamannya, mengapa sejak lahir ia terpental dari rimbun peluk-cium orangtua, terutama bapaknya? Ia anak sulung. Tapi itu bukan penghalang bapaknya untuk tidak menyeru Zulaiha: anak pembawa sial! ”Sudahlah perempuan, cacat pulak!” Tidak iqamat, tapi umpatan yang menyayat telinga Zulaiha selepas lahir. Bapaknya kepingin anak laki-laki. ”Biar bisalah kubawa melaut,” begitu alasannya. Ah, Zulaiha, lahir sebagai anak perempuan yang ranum, kecuali kaki kanannya yang lebih pipih dari kaki kiri. Pun telapaknya mendongak. Maka kaki kanannya cuma bertumpu pada tumit. Cecah langkahnya pun tak sempurna.
Namun sumpah, Zulaiha tumbuh sebagai anak yang percaya diri, cekatan. Lincah ia kian kemari meski kadang terjungkal-terbanting. Tapi bersebab perlakuan bapaknya yang terlampau, ia berubah menjadi pendiam. Hobi bersendiri! Gemar berendam di paloh. Pernah pun, saat berusia lima tahun, Zulaiha nyaris tertanam perdani, pasang besar yang rutin melanda dua tahun sekali. Hendak memetik tunas piye ia saat itu. Piye banyak tumbuh di sekitar paloh. Anak-anak perempuan sering memetiknya untuk main masak-masakan.
Beruntung ada Dempol. Lajang sebelah rumah Zulaiha itu kebetulan sedang membubu kepiting. Lelaki pengangguran (juga lemah mental) itulah yang susah-upaya merebut Zulaiha dari rahang perdani. Ia juga yang membopong tubuh Zulaiha—yang pingsan—ke rumah bidan Rasidah. Tapi jerih payah berbuah serapah. Bukan ucapan terima kasih upah jasanya, melainkan terjang makian. ”Hah, mengapa tak kau biarkan saja anak sialan ini hanyut, Dempol! Biar mati sekalian!” Hardikan berkarat itu membikin Dempol terpelongo. Lajang malang itu menunduk, tak bernyali menantang dua biji saga yang bertengger di bawah dahi bapak Zulaiha. Tajam sekaligus mengerikan.
Tapi kengerian itu tidak lagi menggetarkan nyali Zulaiha. Ia sudah terbiasa. Meski juga dendam tak penat-penat menggeliat, menghasut gedebar lahar yang siap meletus. Iya, tidak sekali dua kali kelebat tangan bapaknya menggempur pipi, dada, dan kepala Zulaiha. Hidungnya pernah meluruhkan darah usai dibentur dengan palang pintu. Bahkan seayun tinju pernah pula menghantam rusuknya, membiru, dan sekian senti lagi menggapai ulu hati. Bermacam-macamlah pasalnya.
Maka siapa yang kelak menuai badai dendam?
Suatu kali, kepiting rajungan tangkapan bapaknya terlepas seekor ketika Zulaiha hendak merebusnya untuk makan malam. Asli, jangankan kebagian makan malam, Zulaiha hanya merasakan pedas tamparan. Dan seperti biasa, demi menghalau kepedasan, Zulaiha menggegaskan langkah pincangnya ke dermaga. Ia tinggalkan rumah dengan mimik dingin. Lalu, begitu lekat ia menghadap raut laut. Mengadu tanpa sedak sendu. ”Kak Zula! Dipanggil Mak! Lekas pulang!” Mungkin, kalau bukan karena mendengar kuyup teriakan Mukhlis—adiknya yang nomor tiga, tentu ia tahan berselimut angin laut hingga malam larut.
Laut, o, laut, pelipurku!
Ampun, punah segala kesakitan yang bersarang di tubuh Zulaiha. Bayangkan, gara-gara salah beli rokok saja, Zulaiha harus menebus hukuman. Bapaknya menyulut rokok, lalu memuntungkannya ke daun telinga Zulaiha. ”Bodoh kali kau ni, Zula! Heh, anak jin laut!” Zulaiha terpuruk, menanggungkan hujat begitu saja, dan tidak melawan sama sekali. Mak Zulaiha pun demikian sifatnya. Memilih diam atau menangis kalau sedang menahankan perilaku kasar bapaknya. Ia istri penurut, tak ada keberanian menunjukkan hati yang berkemelut. Tentu ia menyimpan rasa iba buat Zulaiha. Tapi apa daya, tenaga dan nyali menjelma hampa.
Sempurna derita, takdir Zulaiha? Lalu di garis laut, lalu pada laut, Zulaiha memulangkan kesumat hati. Tidak, ketiga adik laki-lakinya bukan muara dari kecamuk dendamnya. Meski sejak kelahiran Nurdin, Mukhlis, dan Husen, keberingasan bapaknya kian mengganas. Dan Zulaiha selalu menjadi sasaran. Perlakuan bapaknya kepada Zulaiha berbanding senjang dengan ketiga adiknya. Zulaiha tak pernah merasakan bagaimana bersekolah, seperti halnya Nurdin dan Mukhlis. Meskipun kedua adiknya itu berhenti juga di pangkal jalan, tak sempat naik-naikan kelas. ”Mengapa pulak kau hendak sekolah, Zula! Tak ada otak kau!” Ah, bapaknya, adakah seperti berhadapan dengan binatang?
Begitulah, bersebab adik-adiknya, Zulaiha sering pula dipaksa menelan hardik dan tebasan kaki bapaknya. Pernah pada sebuah pagi, hari Minggu, Zulaiha mengajak Husen ke halaman pasar. Itu pun karena Mak-nya menyuruh Zulaiha menjaga adik bungsunya itu. Berusia tiga tahun lebih Husen saat itu. Nah, biasanya, hari itu orang-orang kota datang bergerombol menyandang ransel berisi alat-alat pancing. Mereka hobi memancing. Lumayan, selain untuk menghanyutkan kejenuhan bekerja selama sepekan, untung-untung mereka pulang menggandeng ikan.
Sebelum pergi, Zulaiha berhasil menanggok sebaskom udang binje—seukuran kelingking—di paloh. Hasil tanggok-an itulah yang dijajakan Zulaiha kepada gerombolan pemancing. Udang-udang itu untuk umpan ikan. Kalau masih segar dan hidup, harganya tinggi. Penjaja yang lain juga ramai. Mereka menggelar udang, sibuk mengail minat orang-orang yang hilir mudik.
Namun, belum seorang pun yang menawar udang, mendadak bapaknya berdiri berkacak pinggang, tepat di depan Zulaiha. Wajah bapaknya bagai laut keruh, disepuh api, dan menggelegak! ”Anak binatang! Kau bawa rupanya si Husen, ya. Mengapa pulak kau di sini, hah! Petentengan!”
Lalu, berduyun tempeleng mengena wajah Zulaiha, menerbitkan lemak luka. Tapi ekspresi Zulaiha tetap setenang cuaca. Sebuah tendangan memelantingkan baskom buram. Udang-udang berserak, menggeleparkan sisa nyawa. Ada kelengangan yang melintas sejenak, lantas riuh kembali kelebat cerca. Bapaknya menyeret Zulaiha pulang, tak peduli dengan Husen yang berpekik-pekik tangis di bahunya. Orang-orang terkesima. Lipatan dahi menghimpun, menjuntaikan tanya. Entahlah, cuaca masih cerah, tapi terasa sedang menanak amarah.
O, Dendam pun bersiasat. Tak berhenti merajut jerat?
Hmm, Zulaiha adalah kepalan baja, atau pualam siksa? Pada sebuah malam, bapaknya sedang menyirat jala dengan cuban, alat penyulam jala. Ia biarkan Husen tertidur pulas di pangkuannya. Ada cahaya liar menyusup dari samar lampu teplok. Di luar, angin menderas. Nurdin dan Mukhlis asyik bergelut, sesekali terdengar rengekan mereka. Zulaiha tergoda, turut pula menghampirkan canda. Tapi canda tak berderai tawa, melainkan mendentangkan suara kaca. Kaki Zulaiha menyenggol gelas kopi bapaknya. Maka tumpah, kopi pun tersisa sepertiga. Padahal baru dihidang. Masih panas dan mengepul. Pun belum sempat diteguk.
Sudah terduga, bapaknya kalap luar biasa. Bangkit bapaknya, lalu dengan ringan mengayunkan runcing cuban ke pelipis Zulaiha. Saat itu darah adalah air mancur yang melimpah. Sambil memaki, bapaknya masih sempat melemparkan gelas kopi ke kaki kanan Zulaiha. Kaki yang menanggung lara sejak lama. Zulaiha bermimik tugu beringsut ke pintu. Lalu, ke mana lagi berlari, selain ke beranda dermaga? ”Zula, jangan kau ke dermaga, Nak. Angin kencang, badai!” Suara Mak-nya hanya bunyian yang tumpul. Zulaiha berwajah darah, terus menatihkan langkah.
Laut, laut, izinkan aku tidur di bilikmu malam ini.
Angin berontak. Ombak berderak. Dermaga usang berguncang. Tapi Zulaiha, sejak lampau tak pernah menabung takut. Langit pekat. Cuaca sekarat. Udara bertumbangan. Aroma garam bercampur anyir darah bertebar di atas kepala Zulaiha. Bunyi petir macam suara nenek sihir. Menakutkan. Tapi Zulaiha tak kecut. Ia tegak menghadap laut. Kilat melesatkan cahaya, seperti cambuk api yang melecut tengkuk laut. Angin mendaki-menghempas. Rambut Zulaiha mengibas, seperti melambai apa, atau menyahut siapa?
Laut meninggi ribuan senti. Tempiasnya mencipta hujan air garam, menguyupkan tubuh Zulaiha yang timpang. Lalu ia tadahkan lekuk tangan ke arah laut. Aha, Zulaiha, hendak mendekap siapa?
Tidak mendekap siapa-siapa. Malam itu, bukan dendam-kesumat yang Zulaiha tunaikan, melainkan cita-cita: melaut sendiri, sendiri! O, tengoklah, sampan Zulaiha adalah tubuh Zulaiha sendiri!
Medan, 05/08
Puaka Tiga Datuk
Cerpen Khas Ranesi
M. Raudah Jambak
"Belandalah sebenarnya yang mengajarkan kita apa itu nasionalisme. Belanda sebenarnya yang mengajarkan arti kepahlawanan dan pengkhianatan. Kita ternyata bangsa terbelakang yang selalu kesulitan memberi tafsiran," demikian ujaran Pak Sutan berapi-api. Lalu kukaitkan dengan perjuangan yang berlangsung pada masa pendudukan Belanda dan situasi kekinian, termasuk tentang Aceh, Jogja, Poso, Ambon, Papua dan sebagainya. Dan Pak Sutan dengan bangga memberikan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan. Sehingga kalau seandainya kami terlihat di sudut kedai kopi Taman Budaya Sumatera Utara, maka persoalan kenegaraan, politik, sosial, dsb, selalu kami kunyah-kunyah. Jika belum selesai, maka esok hari pembicaraan itu akan dilanjutkan. Selalu begitu.
***
Lama aku terpaku mendengar cerita Pak Sutan. Pertemuan kami sebenarnya bukan pertemuan yang disengaja. Di sebuah kedai kopi. Waktu itu aku sedang asyiknya membaca berita tentang pergolakan yang terjadi di Aceh. Tentang berita GAM. Beritanya sudah sangat memuncak. Berita-berita seperti itu yang selalu kubaca. Memang banyak berita yang lebih dahsyat tentang negara ini. Tentang Gus Dur maupun lawan-lawan politiknya. Tapi, hal itu justru berita biasa. Berita basi. Tentang oknum-oknum yang sedang bermain presiden-presidenan. Belajar jadi menteri-menterian, atau berlagak jadi pejabat - pejabatan.
"Ah, basi..." desisku.
"Apa yang basi?" ujar Pak Sutan tiba - tiba. Rupanya Pak Sutan sudah sedari tadi duduk tepat di depanku, tanpa kusadari.
"Oh, Pak Sutan. Sudah lama, Pak?"
"Dari tadi. Kau saja yang tidak kontrol," Pak Sutan tersenyum. "Apanya yang basi?"
Kembali aku terdiam. Kupandangi kembali koran yang baru saja kubaca. Memandang judul berita di halaman satu yang ditulis huruf tebal besar - besaran.
"Lho, ditanya apa yang basi malah diam..."
Aku tak berani menjawab. Aku kenal betul dengan Pak Sutan. Karakternya agak keras. Orangnya sangat berani. Terlalu berani malah, kalau boleh kukatakan. Pak Sutan sangat bersemangat jika diajak berbicara masalah apa saja, terutama masalah politik. Dan hampir semua masalah dikuasainya. Mungkin sesuai dengan umurnya yang sekitar lima puluhan.
Dan ketakutan ketika berbicara tentang masalah politik dengan Pak Sutan, yaitu keberanian mengungkapkan pokok persoalan dengan panjang lebar dan detail.
Tidak perduli orang akan melakukan "sesuatu" padanya. Walau kita ketahui era kepresidenan sekarang tidak seperti sebelumnya, tetapi sisa-sisa kekhawatiran itu kan masih ada. Era sekarang era berani buka suara selebar-lebarnya, akhirnya kebablasan. Sedangkan era sebelumnya, era mengunci mulut serapat-rapatnya. Alias berbisikpun dilarang. Era serba keterlaluan.
Bagiku pribadi Pak Sutan adalah tokoh yang cukup kukagumi. Aku banyak belajar dari caranya mengungkapkan pandangan-pandangan tentang apa saja. Mudah memunculkan pokok pembicaraan, dan mudah pula menyimpulkan jalan keluarnya. Satu dari sekian orang hebat di mataku.
Bagi kami yang sudah cukup mengenalnya, Pak Sutan ini adalah sosok yang familiar dan kebapakan. Tapi bagi yang baru saja mengenalnya, Pak Sutan sosok yang misterius dan angker. Terkesan kejam.
"Hei, apanya yang basi!"
Suara Pak Sutan mulai terdengar keras. Aku ragu, sebenarnya hal ini tak perlu kusampaikan kepada Pak Sutan. Takut Pak Sutan akan melebarkannya.
"Ini, ini Pak. Berita basi..." kusodorkan koran yang kubaca dengan judul yang besar dan tebal. Penuh keraguan.
Pak Sutan mengambil koran yang kuberikan. Dilihatnya sebentar. Hanya sebentar dia melihat. Selebihnya membolak-balik kertas koran itu.
"Betul. Berita basi...!"
Aku terkejut. Biasanya Pak Sutan selalu merespon setiap pokok persoalan. Apalagi ini, persoalan politik. Wah, aku terheran-heran. Perubahan besar bagi Pak Sutan. Aku jadi penasaran. Aku ingin memancing, apakah Pak Sutan sudah benar-benar tidak berminat lagi dengan masalah politik.
"Ini, ini basi tidak, Pak?!" tanyaku menyelidik sambil menunjukkan berita yang lain.
"Hampir sama."
"Apanya yang hampir sama, Pak?"
Pak Sutan agaknya mulai terpancing. Pembicaraannya melebar. Tapi aku senang. Mulai dari Ambon, Sampit, sampai Aceh. Bagiku uraian Pak Sutan ini sangat berguna dan penuh wawasan. Bagi Pak Sutan, Indonesia sedang sakit. Perawatan intensif yang harus dilakukan. Bukan pengeksploitasian yang berlebihan. Indonesia menurut Pak Sutan sedang digerogoti virus-virus dan bibit-bibit penyakit yang berusaha menyerang nadi maupun jantung kekuasaan.
"Kita tidak seperti perjuangan para pahlawan dulu." Pak Sutan mulai bercerita.
"Pahlawan kita tidak pernah pamrih dan meminta balas jasa. Kita sebenarnya harus memperluas wawasan dan cakrawala berpikir kita. Dengan cara mendidik generasi - generasi penerus bangsa. Ini tidak, sesama kita berkelahi, berbenuhan lagi."
"Menurut Bapak, pergolakan Aceh bagaimana?"
"Ini satu persoalan juga. Tapi sebaiknya kita jangan kebablasan membawa nama rakyat. Tetapi di lapangan rakyat justru dijadikan tumbal. Makanya, saya pribadi tidak begitu simpati dengan aksi-aksi yang dilakukan para revolusioner sekarang." Pak Sutan menarik nafas. "Dulu di Sumatera ini. Di tanah Deli ini. Ada tiga orang Datuj yang berjuang tanpa pamrih. Datuk Sunggak, Datuk kecik, dan Datuk Sulung."
Aku terkejut. Sampai menjadi guru seperti ini, aku justru tidak mengenal tiga datuk yang disebutkan Pak Sutan. Menurut Pak Sutan, dalam mempertahankan Tanah Deli ini dari Belanda, ketiga datuk ini mempertahankannya selama lebih kurang dua puluh lima tahun. Tidak sebanding dengan Aceh yang lebih kurang hanya lima tahun.
Perjuangan datuk ini dimulai oleh Datuk Sunggal. Lalu diteruskan oleh Datuk Kecik dan selanjutnya Datuk Sulung. Berjuang turun-temurun. Dan ketiganya sampai di buang ke Cilacap.
"Nah, ketiga datuk ini berjuang tanpa pamrih." Pak sutan meneruskan. "Mereka berjuang demi mempertahankan harga diri tanpa pamrih."
"Tapi Pak, kenapa tidak masuk ke dalam sejarah...?
"Itu satu hal yang membuat saya lebih bangga. Dan mereka selalu dikenang oleh orang - orang yang betul-betul mengenal sejarah. Yang paling akhir berjuang yaitu keturunan mereka yang sempat bergabung di PETA dengan pangkat Mayor."
"Kalau Kesultanan Deli yang sekarang bagaimana, Pak?"
"Saran saya, pelajarilah! Biar kau tahu sajarah..."
Pembicaraan selesai. Pak Sutan akhirnya meninggalkan aku dalam keadaan termenung. Pembicaraan dengan Pak Sutan membuat aku terpikir. Begitu konflik persoalan yang dialami negeri ini. Seperti yang diistilahkan Pak Sutan. Negeri ini sedang sakit.
Pernah aku membaca tentang Hang Tuah dan Hang Jebat. Persoalannya lain lagi. Kita dibingungkan dengan persoalan mana yang pahlawan dan mana yang pengkhianat.
Persoalan seperti ini semakin membuatku ngeri. Aku yang seorang guru justru tidak pernah mendengar cerita dan sejarah seperti ini dari guru - guruku sebelumnya. Atau dari bacaan - bacaan yang pernah kubaca.
Kepalaku mendadak pening. Berpikir mengenai Malin Kundang atau Sampuraga. Berpikir tentang Siti Nurbaya atau Sabai Nan Aluih. Berpikir tentang Tan Malaka atau Soekarno. Ahmad Yani Atau Soeharto. Amien Rais atau Gus Dur. Persoalan kebohongan yang selalu disuapi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab kepada masyarakat awam, sebagai anak-anak bangsa.
Aku mau muntah. Dan kurasakan sepertinya aku sudah berada di tempat tidur. Samar- samar kulihat orang sedang mengerumuni aku. Samar-samar kulihat orang-orang sedang kasak-kusuk melihatku. Dan tiba-tiba suasana gelap.
"Bangun! Mau mati apa?" Kurasakan ada seseorang yang memaksaku bangun. Pelan-pelan kubuka mataku. Samar-samar kulihat orang-orang sedang memandangiku. Kurasakan tubuhku dalam keadaan basah kuyup.
"Kau mata-mata, ya!"
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba beberapa orang di antara mereka mengangkatku dan mendorongku untuk berjalan. Aku melangkah gontai. Kurasakan tubuhku sangat lemah. Persendianku seakan-akan mau lepas. Mataku ditutup senapan. Banyak suara orang-orang dengan sayup-sayup dentuman bom. Tembakan-tembakan senapan. Banyak suara orang- orang yang berteriak. Aku hanya berpikir mungkin sudah pecah perang dalam upaya perebutan kekuasaan. Akhirnya masing-masing pihak tidak ada yangt mau mengalah, batinku.
"Dudukkan dia!" suara orang kudengar memberi perintah," Jangan lupa, buka ikatan matanya!"
"Baik, Datuk..."
Ikatan penutup mataku perlahan-lahan dibuka setelah sebelumnya aku didudukkan pada sebuah temtat duduk yang cukup aneh bagiku. Kupandangi sekitarku. Di hadapanku terlihat duduk dengan gagah seorang laki-laki yang sudah cukup tua. Penampilannya persis seperti datuk-datuk. Di kiri kanannya yang sedikit lebih muda dari laki-laki yang sedang terduduk. Penampilannya juga seperti datuk-datuk.
"Kau ingin memata-matai kami, Anak muda?" Datuk yang pertama bertanya.
"Kau mau jadi penjilat rupanya, ya?" Datuk kedua juga ikut bicara.
"Bilang sama majikanmu mereka tidak akan mungkin menang..." Datuk ketiga tidak tinggal diam.
Aku tertunduk. Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka tanyakan. Aku jadi merasa asing. Aku tidak mengenal orang-orang yang mengelilingiku saat ini. Aku tidak mengenal tiga lelaki tua yang berlomba menanyaiku ini.
"Jawab...!" teriak mereka serentak.
"Aku...aku... tidak tahu!"
"Tidak tahu apa?"
"Tidak tahu apa yang harus kujawab?"
"Katakan saja, bahwa kau mata-mata!"
"Mata mata? Mata-mata siapa? Aku tidak pernah ikut partai politik. Aku hanya guru. Aku cuma tahu, aku ini mengajar. Jadi, aku bukan mata-mata.
Semua terdiam. Ada sedikit keraguan di benak mereka. Terutama yang paling tua.
"Benarkah kau ini guru, Tuan Guru?"
"Benar. Aku guru bahasa Indonesia. Bukan mata-mata seperti yang kalian tuduhkan!"
"Eh, Indonesia? Dusun daerah manapula itu?"
"Anu..." Aku bingung, sepertinya telah terjadi kesalahpahaman. Aku merasakan aku tidak berada di lingkungan yang semestinya. "Indonesia itu negara kita sekarang."
"Maaf, Tuan Guru. Kami sangat patuh dengan semua tuan-tuan guru. Tapi tolong, jangan coba-coba mengelabui kami. Saat ini kita sedang sibuk melawan penjajah Belanda. Jadi, janganlah menipu kami."
"Melawan Belanda?"
"Ya..."
"Kalian serius?"
"Tuan Guru jangan membingungkan kami!"
"Kalian serius?"
"Tuan Guru yang harus serius!"
Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita tentang Pak Sutan. Tentang negara Indonesia yang sedang dilanda krisis moneter. Tentang Aceh, Ambon Sampit, dan sebagainya. Dan mungkin juga tentang peristiwa yang menimpaku saat ini.
"Kami tidak mengerti yang Tuan Guru ceritakan. Kami kenal Samudra Pasai, Pagaruyung, atau juga Mataram."
"Lalu bagaimana dengan kalian? Aku tidak kenal siapa kalian?"
"Wah, seluruh negeri ini sangat mengenal kami. Terutama bangsa Belanda. Kami adalah tiga Datuk. Datuk Sunggal, Datuk Kecik, dan Datuk Sulung."
"Kalian jangan coba-coba mengelabui aku. Kalian serius?"
Datuk Sunggal segera bercerita. Aku hanya mendengar heran dan takjub. Dua Datuk juga bernasib sama dengan aku. Terbawa arus waktu. Bercerita tentang perlawanan mereka dengan Belanda.
"Tapi mengapa di generasi kami kalian tidak dikenal?"
"Secara pribadi kami sangat menyayangkan. Tapi kami lebih memikirkan perjuangan kami. Biarlah kami tidak dikenal asal perjuangan kami berhasil."
Pembicaraan akhirnya melebar. Tiga datuk itu lebih tertarik mendengar perkembangan zaman setelahnya. Bahwa Belanda akhirnya berhasil di usir dari bumi Deli. Bahwa perjuangan yang mereka lakukan tidak sia-sia. Dan ternyata itu memicu mereka untuk lebih semangat berjuang. Singkatnya aku jadi penasehat mereka dalam beberapa pertempuran.
Kemenangan demi kemenangan mereka capai. Untungnya aku pernah juga membaca buku strategi perang Cina. Perjuangan pahlawan-pahlawan terdahulu yang berhasil mengalahkan lawan-lawan mereka. Dan itu membuat penasaran para jenderal Belanda. Setiap gempuran-gempuran yang mereka lakukan selalu gagal.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... serbu...!
"Akhirnya kemenangan demi kemenangan kita peroleh. Tapi kita belum berhasil mengusir Belanda dari sini."
"Menurut sejarah yang kubaca. Dan informasi Pak Sutan, kalian hanya bisa mengalahkan Belanda. Dan itu hanya sementara saja. Karena di antara kalian sendiri ada pengkhianat dan aku tak tahu siapa. Kalian pun akan diungsikan oleh Belanda suatu ketika ke Cilacap."
"Ini adalah tanah kami. Bukan milik Belanda. Silahkan tanah kami dijual kepada siapa saja, tapi jangan kepada Belanda."
Aku terdiam. Aku berpikir ini adalah kesempatan untuk meluruskan sejarah. Hatiku sempat panas mendengar cerita Pak Sutan. Panas mendengar bahwa perjuangan Datuk Sunggal, Datuk Kecik, dan Datuk Sulung tidak tercatat dalam sejarah. Sejarah perjuangan bangsa. Dan ketiga datuk inipun tidak terdaftar sebagai pahlawan bangsa, padahal mereka berjuang lebih lama dalam mempertahankan tanah negerinya dan harga diri.
Pak Sutan juga pernah mengatakan bahwa perjuangan mereka, merupakan perjuangan yang seharusnya sebagai contoh teladan bagi generasi-generasi sesudahnya. Jangan sampai terjadi kesimpangsiuran informasi sejarah.
"Bom...!"
Tiba-tiba Belanda menyerang pertahanan ketiga datuk dengan gencar. Tidak lama kemudian terjadi pertempuran. Aku berusaha mencari perlindungan. Pihak Belanda menyerang dengan gencar. Aku masih tetap mencari perlindungan. Aku tidak ingin mati di masa lampau. Lagipula, aku masih ingin memusatkan perhatian untuk membimbing siswa- siswaku agar mereka mau mempelajari sejarah mereka. Mau mengambil nilai-nilai positif dari sejarah-sejarah perjuangan para pahlawan.
Dari pihak datuk, korban sudah banyak berjatuhan. Aku masih terus berlari. Tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu. Aku jatuh terjerembab. Kepalaku tepat mendarat di batang sebuah pohon. Sayup-sayup ketiga datuk itu memanggil namaku."
"Tuan Guru..."
Aku tidak bisa bergerak.
"Tuan Guru. Sampaikan perjuangan kami..."
Aku tidak bisa bergerak.
"Pak..." sebuah tangan menyentuh pundakku.
"Pak..." Kudengar suara itu tidak begitu asing. "Bapak ngantuk, ya?"
"Terimakasih, Din." Anak itu segera berlari. Aku segera membaca pesan dari Pak Sutan.
Awalnya mungkin aku berpikir ada sesuatu yang cukup serius yang perlu disampaikan. Walaupun perutku terasa janggal. Kenapa dia tidak membangunkan aku. Justru dia malah pergi. Ada empat lipatan di kertas itu. Satu persatu kubaca. Hatiku merasa tidak enak juga.
Mungkin pesan ini cukup panjang, pikirku. Pesan tentang perjuangan. Pesan tentang pengajaran. Pesan tentang pengendalian diri. Dan masih banyak pesan-pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan. Pesan pengulangan dan sebagainya. Tapi, setelah kubaca, aku cuma bisa tertawa. Pak Sutan hanya menuliskan satu kata saja, diketahui oleh tiga Datuk. Di sana tertulis kata : "M E R D E K A !" dari Datuk nan bertiga.
M. Raudah Jambak
"Belandalah sebenarnya yang mengajarkan kita apa itu nasionalisme. Belanda sebenarnya yang mengajarkan arti kepahlawanan dan pengkhianatan. Kita ternyata bangsa terbelakang yang selalu kesulitan memberi tafsiran," demikian ujaran Pak Sutan berapi-api. Lalu kukaitkan dengan perjuangan yang berlangsung pada masa pendudukan Belanda dan situasi kekinian, termasuk tentang Aceh, Jogja, Poso, Ambon, Papua dan sebagainya. Dan Pak Sutan dengan bangga memberikan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan. Sehingga kalau seandainya kami terlihat di sudut kedai kopi Taman Budaya Sumatera Utara, maka persoalan kenegaraan, politik, sosial, dsb, selalu kami kunyah-kunyah. Jika belum selesai, maka esok hari pembicaraan itu akan dilanjutkan. Selalu begitu.
***
Lama aku terpaku mendengar cerita Pak Sutan. Pertemuan kami sebenarnya bukan pertemuan yang disengaja. Di sebuah kedai kopi. Waktu itu aku sedang asyiknya membaca berita tentang pergolakan yang terjadi di Aceh. Tentang berita GAM. Beritanya sudah sangat memuncak. Berita-berita seperti itu yang selalu kubaca. Memang banyak berita yang lebih dahsyat tentang negara ini. Tentang Gus Dur maupun lawan-lawan politiknya. Tapi, hal itu justru berita biasa. Berita basi. Tentang oknum-oknum yang sedang bermain presiden-presidenan. Belajar jadi menteri-menterian, atau berlagak jadi pejabat - pejabatan.
"Ah, basi..." desisku.
"Apa yang basi?" ujar Pak Sutan tiba - tiba. Rupanya Pak Sutan sudah sedari tadi duduk tepat di depanku, tanpa kusadari.
"Oh, Pak Sutan. Sudah lama, Pak?"
"Dari tadi. Kau saja yang tidak kontrol," Pak Sutan tersenyum. "Apanya yang basi?"
Kembali aku terdiam. Kupandangi kembali koran yang baru saja kubaca. Memandang judul berita di halaman satu yang ditulis huruf tebal besar - besaran.
"Lho, ditanya apa yang basi malah diam..."
Aku tak berani menjawab. Aku kenal betul dengan Pak Sutan. Karakternya agak keras. Orangnya sangat berani. Terlalu berani malah, kalau boleh kukatakan. Pak Sutan sangat bersemangat jika diajak berbicara masalah apa saja, terutama masalah politik. Dan hampir semua masalah dikuasainya. Mungkin sesuai dengan umurnya yang sekitar lima puluhan.
Dan ketakutan ketika berbicara tentang masalah politik dengan Pak Sutan, yaitu keberanian mengungkapkan pokok persoalan dengan panjang lebar dan detail.
Tidak perduli orang akan melakukan "sesuatu" padanya. Walau kita ketahui era kepresidenan sekarang tidak seperti sebelumnya, tetapi sisa-sisa kekhawatiran itu kan masih ada. Era sekarang era berani buka suara selebar-lebarnya, akhirnya kebablasan. Sedangkan era sebelumnya, era mengunci mulut serapat-rapatnya. Alias berbisikpun dilarang. Era serba keterlaluan.
Bagiku pribadi Pak Sutan adalah tokoh yang cukup kukagumi. Aku banyak belajar dari caranya mengungkapkan pandangan-pandangan tentang apa saja. Mudah memunculkan pokok pembicaraan, dan mudah pula menyimpulkan jalan keluarnya. Satu dari sekian orang hebat di mataku.
Bagi kami yang sudah cukup mengenalnya, Pak Sutan ini adalah sosok yang familiar dan kebapakan. Tapi bagi yang baru saja mengenalnya, Pak Sutan sosok yang misterius dan angker. Terkesan kejam.
"Hei, apanya yang basi!"
Suara Pak Sutan mulai terdengar keras. Aku ragu, sebenarnya hal ini tak perlu kusampaikan kepada Pak Sutan. Takut Pak Sutan akan melebarkannya.
"Ini, ini Pak. Berita basi..." kusodorkan koran yang kubaca dengan judul yang besar dan tebal. Penuh keraguan.
Pak Sutan mengambil koran yang kuberikan. Dilihatnya sebentar. Hanya sebentar dia melihat. Selebihnya membolak-balik kertas koran itu.
"Betul. Berita basi...!"
Aku terkejut. Biasanya Pak Sutan selalu merespon setiap pokok persoalan. Apalagi ini, persoalan politik. Wah, aku terheran-heran. Perubahan besar bagi Pak Sutan. Aku jadi penasaran. Aku ingin memancing, apakah Pak Sutan sudah benar-benar tidak berminat lagi dengan masalah politik.
"Ini, ini basi tidak, Pak?!" tanyaku menyelidik sambil menunjukkan berita yang lain.
"Hampir sama."
"Apanya yang hampir sama, Pak?"
Pak Sutan agaknya mulai terpancing. Pembicaraannya melebar. Tapi aku senang. Mulai dari Ambon, Sampit, sampai Aceh. Bagiku uraian Pak Sutan ini sangat berguna dan penuh wawasan. Bagi Pak Sutan, Indonesia sedang sakit. Perawatan intensif yang harus dilakukan. Bukan pengeksploitasian yang berlebihan. Indonesia menurut Pak Sutan sedang digerogoti virus-virus dan bibit-bibit penyakit yang berusaha menyerang nadi maupun jantung kekuasaan.
"Kita tidak seperti perjuangan para pahlawan dulu." Pak Sutan mulai bercerita.
"Pahlawan kita tidak pernah pamrih dan meminta balas jasa. Kita sebenarnya harus memperluas wawasan dan cakrawala berpikir kita. Dengan cara mendidik generasi - generasi penerus bangsa. Ini tidak, sesama kita berkelahi, berbenuhan lagi."
"Menurut Bapak, pergolakan Aceh bagaimana?"
"Ini satu persoalan juga. Tapi sebaiknya kita jangan kebablasan membawa nama rakyat. Tetapi di lapangan rakyat justru dijadikan tumbal. Makanya, saya pribadi tidak begitu simpati dengan aksi-aksi yang dilakukan para revolusioner sekarang." Pak Sutan menarik nafas. "Dulu di Sumatera ini. Di tanah Deli ini. Ada tiga orang Datuj yang berjuang tanpa pamrih. Datuk Sunggak, Datuk kecik, dan Datuk Sulung."
Aku terkejut. Sampai menjadi guru seperti ini, aku justru tidak mengenal tiga datuk yang disebutkan Pak Sutan. Menurut Pak Sutan, dalam mempertahankan Tanah Deli ini dari Belanda, ketiga datuk ini mempertahankannya selama lebih kurang dua puluh lima tahun. Tidak sebanding dengan Aceh yang lebih kurang hanya lima tahun.
Perjuangan datuk ini dimulai oleh Datuk Sunggal. Lalu diteruskan oleh Datuk Kecik dan selanjutnya Datuk Sulung. Berjuang turun-temurun. Dan ketiganya sampai di buang ke Cilacap.
"Nah, ketiga datuk ini berjuang tanpa pamrih." Pak sutan meneruskan. "Mereka berjuang demi mempertahankan harga diri tanpa pamrih."
"Tapi Pak, kenapa tidak masuk ke dalam sejarah...?
"Itu satu hal yang membuat saya lebih bangga. Dan mereka selalu dikenang oleh orang - orang yang betul-betul mengenal sejarah. Yang paling akhir berjuang yaitu keturunan mereka yang sempat bergabung di PETA dengan pangkat Mayor."
"Kalau Kesultanan Deli yang sekarang bagaimana, Pak?"
"Saran saya, pelajarilah! Biar kau tahu sajarah..."
Pembicaraan selesai. Pak Sutan akhirnya meninggalkan aku dalam keadaan termenung. Pembicaraan dengan Pak Sutan membuat aku terpikir. Begitu konflik persoalan yang dialami negeri ini. Seperti yang diistilahkan Pak Sutan. Negeri ini sedang sakit.
Pernah aku membaca tentang Hang Tuah dan Hang Jebat. Persoalannya lain lagi. Kita dibingungkan dengan persoalan mana yang pahlawan dan mana yang pengkhianat.
Persoalan seperti ini semakin membuatku ngeri. Aku yang seorang guru justru tidak pernah mendengar cerita dan sejarah seperti ini dari guru - guruku sebelumnya. Atau dari bacaan - bacaan yang pernah kubaca.
Kepalaku mendadak pening. Berpikir mengenai Malin Kundang atau Sampuraga. Berpikir tentang Siti Nurbaya atau Sabai Nan Aluih. Berpikir tentang Tan Malaka atau Soekarno. Ahmad Yani Atau Soeharto. Amien Rais atau Gus Dur. Persoalan kebohongan yang selalu disuapi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab kepada masyarakat awam, sebagai anak-anak bangsa.
Aku mau muntah. Dan kurasakan sepertinya aku sudah berada di tempat tidur. Samar- samar kulihat orang sedang mengerumuni aku. Samar-samar kulihat orang-orang sedang kasak-kusuk melihatku. Dan tiba-tiba suasana gelap.
"Bangun! Mau mati apa?" Kurasakan ada seseorang yang memaksaku bangun. Pelan-pelan kubuka mataku. Samar-samar kulihat orang-orang sedang memandangiku. Kurasakan tubuhku dalam keadaan basah kuyup.
"Kau mata-mata, ya!"
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba beberapa orang di antara mereka mengangkatku dan mendorongku untuk berjalan. Aku melangkah gontai. Kurasakan tubuhku sangat lemah. Persendianku seakan-akan mau lepas. Mataku ditutup senapan. Banyak suara orang-orang dengan sayup-sayup dentuman bom. Tembakan-tembakan senapan. Banyak suara orang- orang yang berteriak. Aku hanya berpikir mungkin sudah pecah perang dalam upaya perebutan kekuasaan. Akhirnya masing-masing pihak tidak ada yangt mau mengalah, batinku.
"Dudukkan dia!" suara orang kudengar memberi perintah," Jangan lupa, buka ikatan matanya!"
"Baik, Datuk..."
Ikatan penutup mataku perlahan-lahan dibuka setelah sebelumnya aku didudukkan pada sebuah temtat duduk yang cukup aneh bagiku. Kupandangi sekitarku. Di hadapanku terlihat duduk dengan gagah seorang laki-laki yang sudah cukup tua. Penampilannya persis seperti datuk-datuk. Di kiri kanannya yang sedikit lebih muda dari laki-laki yang sedang terduduk. Penampilannya juga seperti datuk-datuk.
"Kau ingin memata-matai kami, Anak muda?" Datuk yang pertama bertanya.
"Kau mau jadi penjilat rupanya, ya?" Datuk kedua juga ikut bicara.
"Bilang sama majikanmu mereka tidak akan mungkin menang..." Datuk ketiga tidak tinggal diam.
Aku tertunduk. Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka tanyakan. Aku jadi merasa asing. Aku tidak mengenal orang-orang yang mengelilingiku saat ini. Aku tidak mengenal tiga lelaki tua yang berlomba menanyaiku ini.
"Jawab...!" teriak mereka serentak.
"Aku...aku... tidak tahu!"
"Tidak tahu apa?"
"Tidak tahu apa yang harus kujawab?"
"Katakan saja, bahwa kau mata-mata!"
"Mata mata? Mata-mata siapa? Aku tidak pernah ikut partai politik. Aku hanya guru. Aku cuma tahu, aku ini mengajar. Jadi, aku bukan mata-mata.
Semua terdiam. Ada sedikit keraguan di benak mereka. Terutama yang paling tua.
"Benarkah kau ini guru, Tuan Guru?"
"Benar. Aku guru bahasa Indonesia. Bukan mata-mata seperti yang kalian tuduhkan!"
"Eh, Indonesia? Dusun daerah manapula itu?"
"Anu..." Aku bingung, sepertinya telah terjadi kesalahpahaman. Aku merasakan aku tidak berada di lingkungan yang semestinya. "Indonesia itu negara kita sekarang."
"Maaf, Tuan Guru. Kami sangat patuh dengan semua tuan-tuan guru. Tapi tolong, jangan coba-coba mengelabui kami. Saat ini kita sedang sibuk melawan penjajah Belanda. Jadi, janganlah menipu kami."
"Melawan Belanda?"
"Ya..."
"Kalian serius?"
"Tuan Guru jangan membingungkan kami!"
"Kalian serius?"
"Tuan Guru yang harus serius!"
Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita tentang Pak Sutan. Tentang negara Indonesia yang sedang dilanda krisis moneter. Tentang Aceh, Ambon Sampit, dan sebagainya. Dan mungkin juga tentang peristiwa yang menimpaku saat ini.
"Kami tidak mengerti yang Tuan Guru ceritakan. Kami kenal Samudra Pasai, Pagaruyung, atau juga Mataram."
"Lalu bagaimana dengan kalian? Aku tidak kenal siapa kalian?"
"Wah, seluruh negeri ini sangat mengenal kami. Terutama bangsa Belanda. Kami adalah tiga Datuk. Datuk Sunggal, Datuk Kecik, dan Datuk Sulung."
"Kalian jangan coba-coba mengelabui aku. Kalian serius?"
Datuk Sunggal segera bercerita. Aku hanya mendengar heran dan takjub. Dua Datuk juga bernasib sama dengan aku. Terbawa arus waktu. Bercerita tentang perlawanan mereka dengan Belanda.
"Tapi mengapa di generasi kami kalian tidak dikenal?"
"Secara pribadi kami sangat menyayangkan. Tapi kami lebih memikirkan perjuangan kami. Biarlah kami tidak dikenal asal perjuangan kami berhasil."
Pembicaraan akhirnya melebar. Tiga datuk itu lebih tertarik mendengar perkembangan zaman setelahnya. Bahwa Belanda akhirnya berhasil di usir dari bumi Deli. Bahwa perjuangan yang mereka lakukan tidak sia-sia. Dan ternyata itu memicu mereka untuk lebih semangat berjuang. Singkatnya aku jadi penasehat mereka dalam beberapa pertempuran.
Kemenangan demi kemenangan mereka capai. Untungnya aku pernah juga membaca buku strategi perang Cina. Perjuangan pahlawan-pahlawan terdahulu yang berhasil mengalahkan lawan-lawan mereka. Dan itu membuat penasaran para jenderal Belanda. Setiap gempuran-gempuran yang mereka lakukan selalu gagal.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... serbu...!
"Akhirnya kemenangan demi kemenangan kita peroleh. Tapi kita belum berhasil mengusir Belanda dari sini."
"Menurut sejarah yang kubaca. Dan informasi Pak Sutan, kalian hanya bisa mengalahkan Belanda. Dan itu hanya sementara saja. Karena di antara kalian sendiri ada pengkhianat dan aku tak tahu siapa. Kalian pun akan diungsikan oleh Belanda suatu ketika ke Cilacap."
"Ini adalah tanah kami. Bukan milik Belanda. Silahkan tanah kami dijual kepada siapa saja, tapi jangan kepada Belanda."
Aku terdiam. Aku berpikir ini adalah kesempatan untuk meluruskan sejarah. Hatiku sempat panas mendengar cerita Pak Sutan. Panas mendengar bahwa perjuangan Datuk Sunggal, Datuk Kecik, dan Datuk Sulung tidak tercatat dalam sejarah. Sejarah perjuangan bangsa. Dan ketiga datuk inipun tidak terdaftar sebagai pahlawan bangsa, padahal mereka berjuang lebih lama dalam mempertahankan tanah negerinya dan harga diri.
Pak Sutan juga pernah mengatakan bahwa perjuangan mereka, merupakan perjuangan yang seharusnya sebagai contoh teladan bagi generasi-generasi sesudahnya. Jangan sampai terjadi kesimpangsiuran informasi sejarah.
"Bom...!"
Tiba-tiba Belanda menyerang pertahanan ketiga datuk dengan gencar. Tidak lama kemudian terjadi pertempuran. Aku berusaha mencari perlindungan. Pihak Belanda menyerang dengan gencar. Aku masih tetap mencari perlindungan. Aku tidak ingin mati di masa lampau. Lagipula, aku masih ingin memusatkan perhatian untuk membimbing siswa- siswaku agar mereka mau mempelajari sejarah mereka. Mau mengambil nilai-nilai positif dari sejarah-sejarah perjuangan para pahlawan.
Dari pihak datuk, korban sudah banyak berjatuhan. Aku masih terus berlari. Tiba-tiba kakiku tersandung sesuatu. Aku jatuh terjerembab. Kepalaku tepat mendarat di batang sebuah pohon. Sayup-sayup ketiga datuk itu memanggil namaku."
"Tuan Guru..."
Aku tidak bisa bergerak.
"Tuan Guru. Sampaikan perjuangan kami..."
Aku tidak bisa bergerak.
"Pak..." sebuah tangan menyentuh pundakku.
"Pak..." Kudengar suara itu tidak begitu asing. "Bapak ngantuk, ya?"
"Terimakasih, Din." Anak itu segera berlari. Aku segera membaca pesan dari Pak Sutan.
Awalnya mungkin aku berpikir ada sesuatu yang cukup serius yang perlu disampaikan. Walaupun perutku terasa janggal. Kenapa dia tidak membangunkan aku. Justru dia malah pergi. Ada empat lipatan di kertas itu. Satu persatu kubaca. Hatiku merasa tidak enak juga.
Mungkin pesan ini cukup panjang, pikirku. Pesan tentang perjuangan. Pesan tentang pengajaran. Pesan tentang pengendalian diri. Dan masih banyak pesan-pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan. Pesan pengulangan dan sebagainya. Tapi, setelah kubaca, aku cuma bisa tertawa. Pak Sutan hanya menuliskan satu kata saja, diketahui oleh tiga Datuk. Di sana tertulis kata : "M E R D E K A !" dari Datuk nan bertiga.
Zahra
Cerpen Rina Mahfuzah Nst
DI LUAR, gerimis turun mewarnai pagi. Gerimis pertama yang kurasakan sejak tiba di kota ini, dua hari yang lalu. Sejak semula sudah kusiapkan hatiku menerima kenyataan bahwa aku harus bertemu ayah mertuaku dalam keadaan yang berbeda dari apa yang diharapkan seorang menantu kepada mertuanya. Kematiannya.
Namun, ada hal yang lebih menggelitik batinku setelah aku berada di rumah ini. Perempuan itu. Dia bernama Zahra, kakak paling tua suamiku. Dia masih terlelap. Padahal, di luar, orang-orang sudah sibuk mempersiapkan kedatangan jenazah dari rumah sakit. Ada yang memasang teratak dan menyusun kursi. Ada yang menggelar ambal dan tikar.
Perlahan, aku mendekati tempat tidur dan menepuk-nepuk bahu perempuan itu sambil menyampaikan sebuah kabar.
“Kak Zahra, bangun. Amangboru meninggal. Amangboru sudah tidak ada lagi, Kak.”
Dia membuka mata. Rasa mengantuk masih terlihat jelas di rongga matanya.
“Sekarang, kakak bersiap-siap. Sebentar lagi rumah ini akan ramai.”
Perempuan itu hanya hening dari kata-kata. Matanya tak mengisyaratkan tangis atau kesedihan.
Ketika namboru sudah sampai di rumah duka dan jenazah amangboru telah dibaringkan dengan posisi menghadap kiblat, barulah Zahra mau mandi dan berganti pakaian. Tapi, tak lama kemudian, dia sudah ingin membuka paksa jilbabnya. Dia juga ingin membuka gamisnya. Suamiku yang menyaksikan itu hampir hilang kesabarannya.
“Sudahlah, Mak. Kalau dia tidak mau, biarkan saja dia terus di dalam kamar. Mungkin, kamar adalah tempat paling cocok untuknya.”
“Azmi, jaga kata-katamu. Dia kakakmu. Lagi pula, dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya,” tatapan lekat namboru memaku mulut Azmi.
Namboru kemudian memberikan sepiring nasi dengan sepotong ikan goreng di hadapan Zahra, cepat-cepat dia melahapnya. Seperti anak kecil yang acap kali menumpahkan remah-remah nasi ke luar dari piring makanannya, begitu juga Zahra. Beberapa butir nasi menempel di pipi, dagu, dan hidungnya. Bahkan, ada pula yang jatuh di bajunya.
“Zahra tidak pernah menolak makanan apa pun, Nabila. Dari ikan teri sampai ikan kakap. Dari gulai daun ubi sampai sop daging, semua dilahapnya. Tapi, jangan tanya pendapatnya tentang makanan itu. Apakah manis, asin, atau pahit karena dia tidak akan mengerti,” ucap namboru perlahan.
Sekilas, aku menatapnya. Mungkin, usianya berkisar empat puluh tahun atau lebih. Beberapa bintik hitam sudah terlihat di beberapa bagian wajahnya. Tubuhnya lebih tinggi dari aku, mungkin sekitar seratus enam puluh lima senti, tapi beratnya pasti lebih dari delapan puluh lima kilogram. Kelopak matanya menebal. Begitu juga dengan wajah, tangan, perut, dan pahanya. Persis seperti perempuan hamil lima bulan.
“Apa yang terjadi padanya?” pikirku dalam hati. Dia seperti anak balita yang masih diurus ibunya. Bangun, mandi, makan, tidur, dan seterusnya. Dan, mengapa dia hanya menyimpan keheningan dalam dirinya? Tak ada kata-kata atau reaksi yang muncul mewakili apa yang ada dalam hatinya.
“Kau heran melihat kakak iparmu itu, Bila? Dia memang begitu sejak bertahun-tahun lalu. Keempat adik laki-lakinya bahkan sudah menikah semua dan memiliki anak. Sebaliknya, dia melewati hari demi hari tanpa irama dan warna dalam hidupnya.”
Aku tercenung. Azmi memang pernah bercerita mengenai kakaknya sebelum kami menikah, tapi baru kali inilah aku mengenalnya dari dekat. Ada rasa iba menjalari hatiku melihat kenyataan yang dialami perempuan itu.
Para pelayat mulai memenuhi ruangan. Mereka mendekati jenazah amangboru dan memanjatkan doa. Namboru mengenalkan aku sebagai menantu dari anak ketiganya yang selama ini tinggal di Jawa. Mereka mengajakku bicara dan sesekali memuji kecantikanku. Tapi begitu melihat Zahra, mereka seperti melihat monster. Selanjutnya, mereka menjauh dan mulai berbisik-bisik satu dengan yang lainnya.
Saatnya berziarah. Suamiku memberi salam terakhir kepada almarhum ayahnya. Sejak delapan tahun lalu, dia tidak pernah pulang ke rumah dan bertemu ayahnya. Azmi tak kuasa menahan tangisnya. Bahunya berguncang dan air matanya mengucur deras dari sudut matanya. Aku bersama kedua anak kami tak luput merasakan keharuan ini. Tapi, Zahra hanya bergeming. Tak ada air mata mengaliri pipinya.
***
DI SUDUT ruangan di lantai dua, ada sebuah kursi berukiran Jepara yang berdampingan dengan sebuah meja dan lemari berukiran sama. Ada sebuah lukisan kaligrafi bertuliskan ayat kursi tergantung di dinding. Sebenarnya, rumah ini masih tampak bagus seandainya diberi sentuhan lebih modern pada pewarnaan dinding rumah ataupun susunan perabot di dalam rumah. Sayangnya, kesan tak terawat lebih menonjol.
“Setiap selesai shalat Ashar, ayah selalu duduk di situ. Menikmati segelas kopi sambil menggenggam tasbih di tangannya. Dia seorang pebisnis mebel kayu berukiran Jepara. Dari lemari, tempat tidur, bufet, kursi tamu, sofa santai, kursi goyang, dan sebagainya. Ayah juga penyuka barang-barang antik dari dalam dan luar negeri. Entah dari mana ayah belajar bisnis ini. Sebab, saat itu belum berkembang di Kota Medan.” Tiba-tiba, Azmi sudah berada di belakangku.
“Dia memang bukan seorang ayah yang komunikatif dan penuh ekspresi. Dia lebih sering mengurusi bisnisnya di dalam dan luar negeri. Tapi, kalau dia sudah berada di rumah, tepatnya di atas kursi Jeparanya, dia akan memanggil kami satu per satu.”
“Ayah akan bertanya, siapa di antara kami yang tidak pergi mengaji? Kalau tahu ada yang membolos, ayah sudah menyiapkan semacam kayu rotan kecil sebagai hukuman kami. Sama halnya kalau ada di antara kami yang merokok, mencuri uang di laci, berkelahi di sekolah, lalai dalam shalat, keluyuran, ketahuan berpacaran, dan mendapatkan nilai buruk di kelas.”
“Kekerasan yang diperlihatkan ayah di rumah bertambah sering terjadi, sehubungan musibah yang menimpa bisnisnya. Seorang pelanggan tetap yang selalu menyuplai barang dari toko ayah membuka hubungan langsung dengan perajin kayu dari Jepara. Dia juga sampai hati merebut beberapa pelanggan ayah. Ayah marah besar karena merasa telah dicurangi orang yang selama ini justru banyak belajar tentang bisnis mebel Jepara darinya.”
“Kami tumbuh dari sifat keras yang dimiliki ayah, tapi kami dapat berhasil melewatinya dengan baik. Pendidikan dan karier kami lumayan baik di masyarakat. Itu karena emak selalu menghujani kami dengan seluruh kasih sayang dan cinta yang dia miliki. Entah mengapa, justru Kak Zahra yang tertekan perasaannya sehingga mengalami gangguan kejiwaan yang tak juga sembuh.”
Aku melihat ujung mata Azmi berair. Aku mengusap lembut bahunya, lalu kubilang, “Kita hanya dapat mendoakan almarhum amangboru agar tenang dan lapang di sisi Allah, Bang. Yang tak kalah penting, bagaimana kita mengurus Kak Zahra supaya penyakitnya sembuh dan dia dapat hidup normal seperti perempuan yang lainnya.”
***
SELEPAS tahlilan malam ketiga, namboru sakit. Tubuhnya mendadak lemah, tenaganya seperti terkuras oleh sesuatu dari dalam tubuhnya. Walau begitu, namboru tetap tersenyum di hadapan anak-anak, menantu, dan cucucucunya. Namboru mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
“Mak, itu tandanya emak butuh istirahat total. Sudah lama emak berkonsentrasi mengurus ayah sejak terserang stroke. Emak juga mengurus Kak Zahra tanpa mengeluh. Setelah kepergian ayah, biarkan Kak Zahra diurus oleh seorang pembantu khusus di rumah ini,” ujar Azmi mengemukakan pendapatnya.
“Azmi betul, Mak. Kami ingin emak sehat dan tidak mempunyai beban apa pun dalam hidup ini,” tambah Bang Dahlan, abang tertua Azmi. Kulihat namboru ingin menampik ucapan kedua anaknya, tapi langsung kucegah dengan ucapanku pula.
“Selama kami masih berada di rumah ini, biarkan semua keperluan Kak Zahra, Nabila yang urus, Namboru,” kataku.
Akhirnya, perempuan berusia lebih enam puluh tahun itu menganggukkan kepalanya.
“Ini foto Kak Zahra sedang bersama amangboru di halaman Istana Maimun Medan. Wah, kakak cantik sekali dengan gaun warna pink ini,” kataku kepada Zahra. Aku memperlihatkan foto masa kecilnya bersama ayah di ruang keluarga.
“Amangboru sering mengajak kakak jalan-jalan ke Istana Maimun, Bandara Polonia, Masjid Raya, dan Kebun Bunga. Banyak foto kakak dan amangboru di beberapa tempat itu. Kak Zahra paling diistimewakan amangboru, ya? Itu karena kakak anak sulung dan satu-satunya perempuan,” tambahku sambil membolak-balik album foto.
“Dulu, setiap amangboru akan pergi ke luar kota ataupun ke luar negeri, dia akan mencium ubun-ubun kakak. Katanya, supaya kakak enggak rindu dan jatuh sakit. Kakak masih ingat?” kataku sambil menatapnya, tapi tak kutemukan mentari di bola matanya. Tak juga sinar bulan. Apalagi, pelangi. Hanya ada awan yang kelabu.
Tapi, aku tidak menyerah. Aku selalu berusaha mengajak Kak Zahra berbicara. Baik di saat membangunkannya, menyiapkan sarapannya, menonton televisi, maupun memasak. Bahkan, saat memasak, kusuruh Kak Zahra ikut menyiangi sayuran, mengupas kentang atau wortel, memetik cabe, dan sebagainya. Tapi, aku seperti berbicara dengan batu, tak ada satu reaksi yang kudapatkan.
“Halo, Kak Zahra. Selamat pagi. Apa kabar kakak hari ini? Ayo, bangun dan mandi. Supaya kakak kelihatan lebih cantik hari ini. Kan malu kalau diejek sama matahari? Di luar, semuanya sudah bangun,” kataku pada suatu pagi.
Zahra bangkit. Tatapan matanya sangat aneh. Tiba-tiba, tangannya menarik rambutku dan menjambaknya dengan kuat. Aku merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Aku menjerit sambil menangis, memintanya melepaskan rambutku. Suamiku datang, melepaskan cengkeraman tangan Zahra di rambutku. Zahra, perempuan bertubuh gempal itu, terjengkang ke tengah-tengah tempat tidur.
“Zahra tidak bisa dibiarkan. Dia sudah mulai meresahkan kita,” kata Azmi pada namboru dan keempat abangnya. Rumah namboru menjadi tidak tenang. Namboru sulit untuk beristirahat. Pada suatu hari, sesuai keputusan bersama, adik-adik Zahra membawanya pergi dari rumah.
***
Setahun kemudian, di sebuah rumah sakit jiwa, seorang perempuan duduk termenung di sebuah bangku panjang. Senja sudah menampakkan hadirnya, sesekali terdengar suara cericit burung di atas pohon.
“Kak, apa yang kakak pikirkan tentang figur seorang ayah? Seorang ayah adalah pemimpin sebuah keluarga, menjadi tiang yang menopang kehidupan rumah tangga. Apa bedanya hati seorang ayah dengan sepotong hati yang dimiliki ibu? Keduanya sangat berjasa, mengiringi kehadiran kita di dunia ini,” kataku layaknya seorang guru di hadapan muridnya. Kini, aku mengerti, persoalannya bersumber dari cinta yang tidak direstui orang tua. Dari situlah kebencian Zahra bermuara pada ayahnya.
“Seorang ayah juga manusia biasa, Kak. Siapa pun ayah kita tidak bisa kita samakan dengan ayah-ayah yang lain di penjuru dunia ini. Dia juga memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti sifat yang dimiliki manusia yang lain,” tambahku lagi.
“Cepatlah sembuh, Kak. Masih banyak cinta yang ada di muka bumi ini.”
Dia menoleh. Aku merasa dia akan semakin membaik. (*)
DI LUAR, gerimis turun mewarnai pagi. Gerimis pertama yang kurasakan sejak tiba di kota ini, dua hari yang lalu. Sejak semula sudah kusiapkan hatiku menerima kenyataan bahwa aku harus bertemu ayah mertuaku dalam keadaan yang berbeda dari apa yang diharapkan seorang menantu kepada mertuanya. Kematiannya.
Namun, ada hal yang lebih menggelitik batinku setelah aku berada di rumah ini. Perempuan itu. Dia bernama Zahra, kakak paling tua suamiku. Dia masih terlelap. Padahal, di luar, orang-orang sudah sibuk mempersiapkan kedatangan jenazah dari rumah sakit. Ada yang memasang teratak dan menyusun kursi. Ada yang menggelar ambal dan tikar.
Perlahan, aku mendekati tempat tidur dan menepuk-nepuk bahu perempuan itu sambil menyampaikan sebuah kabar.
“Kak Zahra, bangun. Amangboru meninggal. Amangboru sudah tidak ada lagi, Kak.”
Dia membuka mata. Rasa mengantuk masih terlihat jelas di rongga matanya.
“Sekarang, kakak bersiap-siap. Sebentar lagi rumah ini akan ramai.”
Perempuan itu hanya hening dari kata-kata. Matanya tak mengisyaratkan tangis atau kesedihan.
Ketika namboru sudah sampai di rumah duka dan jenazah amangboru telah dibaringkan dengan posisi menghadap kiblat, barulah Zahra mau mandi dan berganti pakaian. Tapi, tak lama kemudian, dia sudah ingin membuka paksa jilbabnya. Dia juga ingin membuka gamisnya. Suamiku yang menyaksikan itu hampir hilang kesabarannya.
“Sudahlah, Mak. Kalau dia tidak mau, biarkan saja dia terus di dalam kamar. Mungkin, kamar adalah tempat paling cocok untuknya.”
“Azmi, jaga kata-katamu. Dia kakakmu. Lagi pula, dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya,” tatapan lekat namboru memaku mulut Azmi.
Namboru kemudian memberikan sepiring nasi dengan sepotong ikan goreng di hadapan Zahra, cepat-cepat dia melahapnya. Seperti anak kecil yang acap kali menumpahkan remah-remah nasi ke luar dari piring makanannya, begitu juga Zahra. Beberapa butir nasi menempel di pipi, dagu, dan hidungnya. Bahkan, ada pula yang jatuh di bajunya.
“Zahra tidak pernah menolak makanan apa pun, Nabila. Dari ikan teri sampai ikan kakap. Dari gulai daun ubi sampai sop daging, semua dilahapnya. Tapi, jangan tanya pendapatnya tentang makanan itu. Apakah manis, asin, atau pahit karena dia tidak akan mengerti,” ucap namboru perlahan.
Sekilas, aku menatapnya. Mungkin, usianya berkisar empat puluh tahun atau lebih. Beberapa bintik hitam sudah terlihat di beberapa bagian wajahnya. Tubuhnya lebih tinggi dari aku, mungkin sekitar seratus enam puluh lima senti, tapi beratnya pasti lebih dari delapan puluh lima kilogram. Kelopak matanya menebal. Begitu juga dengan wajah, tangan, perut, dan pahanya. Persis seperti perempuan hamil lima bulan.
“Apa yang terjadi padanya?” pikirku dalam hati. Dia seperti anak balita yang masih diurus ibunya. Bangun, mandi, makan, tidur, dan seterusnya. Dan, mengapa dia hanya menyimpan keheningan dalam dirinya? Tak ada kata-kata atau reaksi yang muncul mewakili apa yang ada dalam hatinya.
“Kau heran melihat kakak iparmu itu, Bila? Dia memang begitu sejak bertahun-tahun lalu. Keempat adik laki-lakinya bahkan sudah menikah semua dan memiliki anak. Sebaliknya, dia melewati hari demi hari tanpa irama dan warna dalam hidupnya.”
Aku tercenung. Azmi memang pernah bercerita mengenai kakaknya sebelum kami menikah, tapi baru kali inilah aku mengenalnya dari dekat. Ada rasa iba menjalari hatiku melihat kenyataan yang dialami perempuan itu.
Para pelayat mulai memenuhi ruangan. Mereka mendekati jenazah amangboru dan memanjatkan doa. Namboru mengenalkan aku sebagai menantu dari anak ketiganya yang selama ini tinggal di Jawa. Mereka mengajakku bicara dan sesekali memuji kecantikanku. Tapi begitu melihat Zahra, mereka seperti melihat monster. Selanjutnya, mereka menjauh dan mulai berbisik-bisik satu dengan yang lainnya.
Saatnya berziarah. Suamiku memberi salam terakhir kepada almarhum ayahnya. Sejak delapan tahun lalu, dia tidak pernah pulang ke rumah dan bertemu ayahnya. Azmi tak kuasa menahan tangisnya. Bahunya berguncang dan air matanya mengucur deras dari sudut matanya. Aku bersama kedua anak kami tak luput merasakan keharuan ini. Tapi, Zahra hanya bergeming. Tak ada air mata mengaliri pipinya.
***
DI SUDUT ruangan di lantai dua, ada sebuah kursi berukiran Jepara yang berdampingan dengan sebuah meja dan lemari berukiran sama. Ada sebuah lukisan kaligrafi bertuliskan ayat kursi tergantung di dinding. Sebenarnya, rumah ini masih tampak bagus seandainya diberi sentuhan lebih modern pada pewarnaan dinding rumah ataupun susunan perabot di dalam rumah. Sayangnya, kesan tak terawat lebih menonjol.
“Setiap selesai shalat Ashar, ayah selalu duduk di situ. Menikmati segelas kopi sambil menggenggam tasbih di tangannya. Dia seorang pebisnis mebel kayu berukiran Jepara. Dari lemari, tempat tidur, bufet, kursi tamu, sofa santai, kursi goyang, dan sebagainya. Ayah juga penyuka barang-barang antik dari dalam dan luar negeri. Entah dari mana ayah belajar bisnis ini. Sebab, saat itu belum berkembang di Kota Medan.” Tiba-tiba, Azmi sudah berada di belakangku.
“Dia memang bukan seorang ayah yang komunikatif dan penuh ekspresi. Dia lebih sering mengurusi bisnisnya di dalam dan luar negeri. Tapi, kalau dia sudah berada di rumah, tepatnya di atas kursi Jeparanya, dia akan memanggil kami satu per satu.”
“Ayah akan bertanya, siapa di antara kami yang tidak pergi mengaji? Kalau tahu ada yang membolos, ayah sudah menyiapkan semacam kayu rotan kecil sebagai hukuman kami. Sama halnya kalau ada di antara kami yang merokok, mencuri uang di laci, berkelahi di sekolah, lalai dalam shalat, keluyuran, ketahuan berpacaran, dan mendapatkan nilai buruk di kelas.”
“Kekerasan yang diperlihatkan ayah di rumah bertambah sering terjadi, sehubungan musibah yang menimpa bisnisnya. Seorang pelanggan tetap yang selalu menyuplai barang dari toko ayah membuka hubungan langsung dengan perajin kayu dari Jepara. Dia juga sampai hati merebut beberapa pelanggan ayah. Ayah marah besar karena merasa telah dicurangi orang yang selama ini justru banyak belajar tentang bisnis mebel Jepara darinya.”
“Kami tumbuh dari sifat keras yang dimiliki ayah, tapi kami dapat berhasil melewatinya dengan baik. Pendidikan dan karier kami lumayan baik di masyarakat. Itu karena emak selalu menghujani kami dengan seluruh kasih sayang dan cinta yang dia miliki. Entah mengapa, justru Kak Zahra yang tertekan perasaannya sehingga mengalami gangguan kejiwaan yang tak juga sembuh.”
Aku melihat ujung mata Azmi berair. Aku mengusap lembut bahunya, lalu kubilang, “Kita hanya dapat mendoakan almarhum amangboru agar tenang dan lapang di sisi Allah, Bang. Yang tak kalah penting, bagaimana kita mengurus Kak Zahra supaya penyakitnya sembuh dan dia dapat hidup normal seperti perempuan yang lainnya.”
***
SELEPAS tahlilan malam ketiga, namboru sakit. Tubuhnya mendadak lemah, tenaganya seperti terkuras oleh sesuatu dari dalam tubuhnya. Walau begitu, namboru tetap tersenyum di hadapan anak-anak, menantu, dan cucucucunya. Namboru mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
“Mak, itu tandanya emak butuh istirahat total. Sudah lama emak berkonsentrasi mengurus ayah sejak terserang stroke. Emak juga mengurus Kak Zahra tanpa mengeluh. Setelah kepergian ayah, biarkan Kak Zahra diurus oleh seorang pembantu khusus di rumah ini,” ujar Azmi mengemukakan pendapatnya.
“Azmi betul, Mak. Kami ingin emak sehat dan tidak mempunyai beban apa pun dalam hidup ini,” tambah Bang Dahlan, abang tertua Azmi. Kulihat namboru ingin menampik ucapan kedua anaknya, tapi langsung kucegah dengan ucapanku pula.
“Selama kami masih berada di rumah ini, biarkan semua keperluan Kak Zahra, Nabila yang urus, Namboru,” kataku.
Akhirnya, perempuan berusia lebih enam puluh tahun itu menganggukkan kepalanya.
“Ini foto Kak Zahra sedang bersama amangboru di halaman Istana Maimun Medan. Wah, kakak cantik sekali dengan gaun warna pink ini,” kataku kepada Zahra. Aku memperlihatkan foto masa kecilnya bersama ayah di ruang keluarga.
“Amangboru sering mengajak kakak jalan-jalan ke Istana Maimun, Bandara Polonia, Masjid Raya, dan Kebun Bunga. Banyak foto kakak dan amangboru di beberapa tempat itu. Kak Zahra paling diistimewakan amangboru, ya? Itu karena kakak anak sulung dan satu-satunya perempuan,” tambahku sambil membolak-balik album foto.
“Dulu, setiap amangboru akan pergi ke luar kota ataupun ke luar negeri, dia akan mencium ubun-ubun kakak. Katanya, supaya kakak enggak rindu dan jatuh sakit. Kakak masih ingat?” kataku sambil menatapnya, tapi tak kutemukan mentari di bola matanya. Tak juga sinar bulan. Apalagi, pelangi. Hanya ada awan yang kelabu.
Tapi, aku tidak menyerah. Aku selalu berusaha mengajak Kak Zahra berbicara. Baik di saat membangunkannya, menyiapkan sarapannya, menonton televisi, maupun memasak. Bahkan, saat memasak, kusuruh Kak Zahra ikut menyiangi sayuran, mengupas kentang atau wortel, memetik cabe, dan sebagainya. Tapi, aku seperti berbicara dengan batu, tak ada satu reaksi yang kudapatkan.
“Halo, Kak Zahra. Selamat pagi. Apa kabar kakak hari ini? Ayo, bangun dan mandi. Supaya kakak kelihatan lebih cantik hari ini. Kan malu kalau diejek sama matahari? Di luar, semuanya sudah bangun,” kataku pada suatu pagi.
Zahra bangkit. Tatapan matanya sangat aneh. Tiba-tiba, tangannya menarik rambutku dan menjambaknya dengan kuat. Aku merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Aku menjerit sambil menangis, memintanya melepaskan rambutku. Suamiku datang, melepaskan cengkeraman tangan Zahra di rambutku. Zahra, perempuan bertubuh gempal itu, terjengkang ke tengah-tengah tempat tidur.
“Zahra tidak bisa dibiarkan. Dia sudah mulai meresahkan kita,” kata Azmi pada namboru dan keempat abangnya. Rumah namboru menjadi tidak tenang. Namboru sulit untuk beristirahat. Pada suatu hari, sesuai keputusan bersama, adik-adik Zahra membawanya pergi dari rumah.
***
Setahun kemudian, di sebuah rumah sakit jiwa, seorang perempuan duduk termenung di sebuah bangku panjang. Senja sudah menampakkan hadirnya, sesekali terdengar suara cericit burung di atas pohon.
“Kak, apa yang kakak pikirkan tentang figur seorang ayah? Seorang ayah adalah pemimpin sebuah keluarga, menjadi tiang yang menopang kehidupan rumah tangga. Apa bedanya hati seorang ayah dengan sepotong hati yang dimiliki ibu? Keduanya sangat berjasa, mengiringi kehadiran kita di dunia ini,” kataku layaknya seorang guru di hadapan muridnya. Kini, aku mengerti, persoalannya bersumber dari cinta yang tidak direstui orang tua. Dari situlah kebencian Zahra bermuara pada ayahnya.
“Seorang ayah juga manusia biasa, Kak. Siapa pun ayah kita tidak bisa kita samakan dengan ayah-ayah yang lain di penjuru dunia ini. Dia juga memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti sifat yang dimiliki manusia yang lain,” tambahku lagi.
“Cepatlah sembuh, Kak. Masih banyak cinta yang ada di muka bumi ini.”
Dia menoleh. Aku merasa dia akan semakin membaik. (*)
Sajak-Sajak Ilham Wahyudi
Kepada Lelaki yang Mengucapkan Da
bagi Hasan Al Banna
secarik fotomu ingin kubasuh
air kenangan yang mengenang
sajakku terbang menyunting bulan
sepanjang musim yang terus berulang
ini rindu ‘dah macam hantu
melintang panjang di jalan pulang
lutut bergetar tercemar kabar
tentang pujaan seberang angan
wahai kau pejalan sunyi
sudikah mengulang pora
selamat datang?
Medan, 2009
Suatu Malam
Di puncak kecemasan kutemui wajahmu yang basah. Yang mengajakku berlari menyusuri ceruk sepi. Angin sepoi yang menyamar kemudian menyusup di dinding-dinding batinku yang berkarat setelah terbenam sekian ribu tahun adalah bau tubuhmu, perempuanku. Bau yang terus memaksaku menerjemahkanmu ke dalam sebentuk sajak yang ganjil deretannya. Tapi sajak, sayangku, sungguh telah lama meninabobokkanku kepada persoalan-persoalan yang terus-menerus semakin tak menentu. Dan kembali hanya kecemasanlah yang setia menyelimuti tidurku malam ini. Seperti liur yang berkarat di kasur. Seperti senyummu yang memanu di bibirku.
Medan, 2009
Bola
Mungkin aku adalah bola kulit yang licin. Aku menggelinding menuju
cerukmu. Meraba kemungkinan-kemungkinan seraya bermunajat,
“Semoga hujan hanya numpang lewat.” Tapi jendelamu terlalu lebar terbuka
dan angin terlalu polos menyampaikan rahasia malam. Sebenarnya
aku ingin lebih lama lagi di sana. Tapi tidak untuk tertidur atau menelurkan
cemas ini sekejap. Tidak untuk mabuk atau mandi bunga mawar. Aku hanya
ingin berkunjung. Ya, berkunjung saja. Esok bila aku menggelinding kembali
maukah kau menari untukku dan menepikan biji pasir ini?
Medan, 2009
Sepanjang Jalan
“bersumpahlah untuk tetap menungguku kembali!” katamu
sedikit serak saat bus antarkota itu memisahkan bau mulutmu
dengan hidungku.
dan sejak itu, ya sejak itu! tak ada lagi yang menggodaku
bergelut dirapatnya gigi putihmu atau sekadar menumpahkan
kopi di kaos kutangku yang menguning.
mungkin kita terlalu buru-buru bertemu sehingga semua
menjadi terlalu lama mengendap. atau mungkin kau memang
sengaja meminangku dengan rindu tetapi kau lupa kapan
mempersetubuh hatiku.
dadaku terasa makin dingin. suara-suara ganjil memenuhi
lambungku; asam sekaligus pahit. kaukah yang mencangkulnya?
kemudian mencungkilnya pula?
seperti pemabuk, tak ada lagi yang bisa aku tuangkan
dalam kecemasan ini. “o, anggurku yang diteguk bulan,”
teriak rohku sepanjang jalan yang malam, sumpah!
Medan, 2009
Suatu Sore yang Setelahnya Gerimis Berhamburan
Aku teringat kau, perempuanku:
suatu sore yang setelahnya gerimis berhamburan
serupa serbuk sari yang di terbangkan angin: hidungku
pucat kau todongkan segelas kopi; baunya memenuhi selasar,
seketika huruf-huruf dalam kolom olahraga menjelma
baris-baris sajak yang aneh.
“Bagaimana jika aku tak kembali?” Bisikmu mengejutkanku;
buru-buru kubersihkan tumpahan kopi di koran; pelan-pelan
kuhapus juga sesuatu; kubuang jauh jauh.
“Apakah kau tetap akan menungguku?” tanyamu curiga;
aku meraba-raba nomor telepon biro perjalanan; diam-diam aku
hafal angka-angka ganjil yang berenang di mataku.
Ahk, aku megap menghabiskan kopi ini sendirian, perempuanku;
mabuk menelan huruf-huruf yang berbisik-bisik menggoda;
merayuku untuk menuliskan sesuatu untukmu yang jauh.
Aku teringat kau, perempuanku.
Berulang kali kutelepon nomor biro perjalanan itu;
Maaf, nomor yang anda tuju belum terpasang!
entahlah, apakah aku yang salah menghafal
atau aku yang keliru memencetnya?
Aku teringat kau, perempuanku:
suatu sore yang setelahnya gerimis berhamburan.
Sungguh!
Medan, 2009
——–
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Alumnus FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Saat ini bergiat di Komunitas Hape (Home Poetry) dan Komunitas Kun. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di beberapa media. Puisinya termaktup dalam antologi Penyair Muda Malaysia-Indonesia(2009).
bagi Hasan Al Banna
secarik fotomu ingin kubasuh
air kenangan yang mengenang
sajakku terbang menyunting bulan
sepanjang musim yang terus berulang
ini rindu ‘dah macam hantu
melintang panjang di jalan pulang
lutut bergetar tercemar kabar
tentang pujaan seberang angan
wahai kau pejalan sunyi
sudikah mengulang pora
selamat datang?
Medan, 2009
Suatu Malam
Di puncak kecemasan kutemui wajahmu yang basah. Yang mengajakku berlari menyusuri ceruk sepi. Angin sepoi yang menyamar kemudian menyusup di dinding-dinding batinku yang berkarat setelah terbenam sekian ribu tahun adalah bau tubuhmu, perempuanku. Bau yang terus memaksaku menerjemahkanmu ke dalam sebentuk sajak yang ganjil deretannya. Tapi sajak, sayangku, sungguh telah lama meninabobokkanku kepada persoalan-persoalan yang terus-menerus semakin tak menentu. Dan kembali hanya kecemasanlah yang setia menyelimuti tidurku malam ini. Seperti liur yang berkarat di kasur. Seperti senyummu yang memanu di bibirku.
Medan, 2009
Bola
Mungkin aku adalah bola kulit yang licin. Aku menggelinding menuju
cerukmu. Meraba kemungkinan-kemungkinan seraya bermunajat,
“Semoga hujan hanya numpang lewat.” Tapi jendelamu terlalu lebar terbuka
dan angin terlalu polos menyampaikan rahasia malam. Sebenarnya
aku ingin lebih lama lagi di sana. Tapi tidak untuk tertidur atau menelurkan
cemas ini sekejap. Tidak untuk mabuk atau mandi bunga mawar. Aku hanya
ingin berkunjung. Ya, berkunjung saja. Esok bila aku menggelinding kembali
maukah kau menari untukku dan menepikan biji pasir ini?
Medan, 2009
Sepanjang Jalan
“bersumpahlah untuk tetap menungguku kembali!” katamu
sedikit serak saat bus antarkota itu memisahkan bau mulutmu
dengan hidungku.
dan sejak itu, ya sejak itu! tak ada lagi yang menggodaku
bergelut dirapatnya gigi putihmu atau sekadar menumpahkan
kopi di kaos kutangku yang menguning.
mungkin kita terlalu buru-buru bertemu sehingga semua
menjadi terlalu lama mengendap. atau mungkin kau memang
sengaja meminangku dengan rindu tetapi kau lupa kapan
mempersetubuh hatiku.
dadaku terasa makin dingin. suara-suara ganjil memenuhi
lambungku; asam sekaligus pahit. kaukah yang mencangkulnya?
kemudian mencungkilnya pula?
seperti pemabuk, tak ada lagi yang bisa aku tuangkan
dalam kecemasan ini. “o, anggurku yang diteguk bulan,”
teriak rohku sepanjang jalan yang malam, sumpah!
Medan, 2009
Suatu Sore yang Setelahnya Gerimis Berhamburan
Aku teringat kau, perempuanku:
suatu sore yang setelahnya gerimis berhamburan
serupa serbuk sari yang di terbangkan angin: hidungku
pucat kau todongkan segelas kopi; baunya memenuhi selasar,
seketika huruf-huruf dalam kolom olahraga menjelma
baris-baris sajak yang aneh.
“Bagaimana jika aku tak kembali?” Bisikmu mengejutkanku;
buru-buru kubersihkan tumpahan kopi di koran; pelan-pelan
kuhapus juga sesuatu; kubuang jauh jauh.
“Apakah kau tetap akan menungguku?” tanyamu curiga;
aku meraba-raba nomor telepon biro perjalanan; diam-diam aku
hafal angka-angka ganjil yang berenang di mataku.
Ahk, aku megap menghabiskan kopi ini sendirian, perempuanku;
mabuk menelan huruf-huruf yang berbisik-bisik menggoda;
merayuku untuk menuliskan sesuatu untukmu yang jauh.
Aku teringat kau, perempuanku.
Berulang kali kutelepon nomor biro perjalanan itu;
Maaf, nomor yang anda tuju belum terpasang!
entahlah, apakah aku yang salah menghafal
atau aku yang keliru memencetnya?
Aku teringat kau, perempuanku:
suatu sore yang setelahnya gerimis berhamburan.
Sungguh!
Medan, 2009
——–
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Alumnus FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Saat ini bergiat di Komunitas Hape (Home Poetry) dan Komunitas Kun. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di beberapa media. Puisinya termaktup dalam antologi Penyair Muda Malaysia-Indonesia(2009).
Ys. Rat
Kelahiran Medan, 8 Agustus 1962. Aktif berkesenian terutama di bidang sastra sejak awal 1980, melalui puisi-puisinya yang kerap dimuat di sejumlah surat kabar Medan. Setelah bergabung di teater Kartupat sejak 1982 hingga 1989, pada tahun 1991 mendirikan Teater Merdeka dan telah berulangkali mementaskan sandiwara karyanya di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU).
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, menengah dan atas pada Madrasah Ibtidaiyah, Pendidikan Guru Agama dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN), tahun 1987 meraih gelar sarjana hukum bidang keperdataan pada Fakultas Hukum Universitas Amir Hamzah Medan.
Hingga kini, selain melalui surat kabar terbitan Medan, karya-karyanya terutama puisi pernah dimuat di surat kabar Aceh dan Jakarta, serta pada sejumlah antologi. Di samping itu, sesekali juga menulis cerpen, naskah sandiwara dan skenario sinetron.
Tahun 1986 ikut mewakili Sumut pada Pekan Teater Nasional dan tahun 1989 pada Pergelaran Sastra Nasional, di TIM Jakarta. Tahun 2000 diutus TBSU membacakan puisinya pada Temu Budaya Nasional, di Taman Budaya Makassar, Sulawesi Selatan, dan 18 Desember 2004 menggelar pembacaan puisi “Catatan dari Perkutut Urakan”, di Gedung Utama TBSU, Jalan Perintis Kemerdekaan Medan.
Suami dari Irma Idayuli Nasution dan ayah dari Muhammad Yui Cahyo serta si kembar Muhammad Eko Setio dan Muhammad Dwi Setio ini, juga kerap diberi kepercayaan menjadi juri pada perlombaan baca puisi. Saat ini sehari-hari bekerja di bidang jurnalistik.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, menengah dan atas pada Madrasah Ibtidaiyah, Pendidikan Guru Agama dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN), tahun 1987 meraih gelar sarjana hukum bidang keperdataan pada Fakultas Hukum Universitas Amir Hamzah Medan.
Hingga kini, selain melalui surat kabar terbitan Medan, karya-karyanya terutama puisi pernah dimuat di surat kabar Aceh dan Jakarta, serta pada sejumlah antologi. Di samping itu, sesekali juga menulis cerpen, naskah sandiwara dan skenario sinetron.
Tahun 1986 ikut mewakili Sumut pada Pekan Teater Nasional dan tahun 1989 pada Pergelaran Sastra Nasional, di TIM Jakarta. Tahun 2000 diutus TBSU membacakan puisinya pada Temu Budaya Nasional, di Taman Budaya Makassar, Sulawesi Selatan, dan 18 Desember 2004 menggelar pembacaan puisi “Catatan dari Perkutut Urakan”, di Gedung Utama TBSU, Jalan Perintis Kemerdekaan Medan.
Suami dari Irma Idayuli Nasution dan ayah dari Muhammad Yui Cahyo serta si kembar Muhammad Eko Setio dan Muhammad Dwi Setio ini, juga kerap diberi kepercayaan menjadi juri pada perlombaan baca puisi. Saat ini sehari-hari bekerja di bidang jurnalistik.
Damiri Mahmud
Putra Melayu ini lahir di Hamparan Perak, Medan, 1945, menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di Medan, dan beberapa tahun di Jakarta. Mulai menulis pada 1972 di koran terbitan Medan, menyusul di majalah Basis (Yogyakarta), Horison (Jakarta), Dewan Sastera (Malaysia) serta di berbagai surat kabar terbitan Jakarta.
Bunga rampai puisi-puisinya bertabur dalam: Kuala, Rantau, Puisi 77, Ilham, Titian laut I,II,III (DBP Malaysia), Tonggak-3 Antologi Puisi Indonesia Modern, Bosnis Kita, Perisa-Jurnal Puisi Melayu (Malaysia). Puisi solo “Damai di Bumi” diterbitkan oleh Kanwil Depparsenibud Sumut dan Hotel Garuda Plaza (2000).
Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan sejumlah esai yang telah diterbitkan. Buku “Amir Hamzah Penyair Sepanjang Zaman” (Penafsiran Lain tentang Nyanyi Sunyi) terbitan DKSU 1994 merupakan karya monumental karena dianggap kontroversial dan menebas mitos terdahulu, sempat menarik sejumlah pakar sastra di dalam maupun luar negeri.
Penceramah yang aktif dalam membahas karya-karya sastra ini pernah pula diundang dalam acara Temu Kritikus di Taman Ismail Marzuki Jakarta, dan diberi kepercayaan memilih sejumlah tokoh sastra dan budaya di Tanah Air sebagai kontributor untuk Eksiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu yang diterbitkan di Malaysia.
Beberapa kali pernah memenangkan lomba menulis esai, baik tingkat lokal maupun nasional, karenanya, menurut HB Jassin, Damiri diperhitungkan sebagai kritikus sastra yang ikut menentukan arah kehidupan kesusasteraan Indonesia. Salah satu diskusinya dengan HB Jassin tentang penulisan Al Quran yang menghebohkan itu, dibukukan dalam “Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi”
Bunga rampai puisi-puisinya bertabur dalam: Kuala, Rantau, Puisi 77, Ilham, Titian laut I,II,III (DBP Malaysia), Tonggak-3 Antologi Puisi Indonesia Modern, Bosnis Kita, Perisa-Jurnal Puisi Melayu (Malaysia). Puisi solo “Damai di Bumi” diterbitkan oleh Kanwil Depparsenibud Sumut dan Hotel Garuda Plaza (2000).
Selain menulis puisi, ia juga menulis cerpen dan sejumlah esai yang telah diterbitkan. Buku “Amir Hamzah Penyair Sepanjang Zaman” (Penafsiran Lain tentang Nyanyi Sunyi) terbitan DKSU 1994 merupakan karya monumental karena dianggap kontroversial dan menebas mitos terdahulu, sempat menarik sejumlah pakar sastra di dalam maupun luar negeri.
Penceramah yang aktif dalam membahas karya-karya sastra ini pernah pula diundang dalam acara Temu Kritikus di Taman Ismail Marzuki Jakarta, dan diberi kepercayaan memilih sejumlah tokoh sastra dan budaya di Tanah Air sebagai kontributor untuk Eksiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu yang diterbitkan di Malaysia.
Beberapa kali pernah memenangkan lomba menulis esai, baik tingkat lokal maupun nasional, karenanya, menurut HB Jassin, Damiri diperhitungkan sebagai kritikus sastra yang ikut menentukan arah kehidupan kesusasteraan Indonesia. Salah satu diskusinya dengan HB Jassin tentang penulisan Al Quran yang menghebohkan itu, dibukukan dalam “Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi”
Langganan:
Postingan (Atom)