Jumat, 04 Februari 2011

Manusia, Lingkungan dan Sastra*

dr Robert Valentino Tarigan SPd**



Kapasitas Bumi

Kita bangsa manusia di belahan bumi mana saja: barat, timur, selatan, utara dan lainnya, haruslah sama menyadari bahwa bumi yang kita tempati ini punya batas kesanggupan memikul beban. Bumi yang tabah dan tak pernah mengeluh adalah milik satu-satunya yang harus dijaga demi kehidupan yang berkelanjutan.

Jika kapasitas bumi terlampauai – tidak bisa tidak – bencanalah yang harus kita terima. Bencana itu, tidak saja menimpa orang-orang yang selama ini memperlakukan alam dengan semena-mena. Bencana – bila itu datang – akan menghantam siapa saja. Bencana tidak mengenal si ‘raja hutan’ yang dengan perkasa membabat pohon, tidak mengenal si pemilik pabrik yang tidak mengindahkan dampak lingkungan dari limbah pabriknya, tidak mengenal si pemilik pukat harimau yang menguras habis ikan laut sampai ke benur-benurnya. Bencana itu, juga harus dirasakan si Tongat dan keluarganya yang tinggal di kaki gunung atau pinggiran sungai sekalipun.

Jumlah penduduk bumi yang kini melampaui lima miliar lebih merupakan peringatan bagi kita bangsa manusia. Menurut para ahli – termasuk Steven Hawking sang fisikawan kondang itu – bumi kita hanya mampu menampung penduduk tidak lebih dari 10 miliar saja. Jadi, andaikata kita tidak mampu menekan laju pertumbuhan manusia, niscaya kesempatan hidup di planet bumi ini perlu jadi perhatian serius.

Peradaban bangsa manusia yang menuju 6 miliar menghadapi risiko bagi kehidupan yang berkelanjutan. Pasalnya, kita telah memaksa bumi sampai ke batas kemampuannya. Sejak revolusi industri, jumlah penduduk meningkat sampai delapan kali lipat. Sementara itu, produk kegiatan industri telah naik lebih dari 100 kali lipat dibanding 100 tahun lampau.

Peningkatan jumlah penduduk serta kegiatan yang tak terduga ini menimbulkan dampak yang luar biasa pada lingkungan. Kemampuan bumi untuk mendukung kehidupan manusia dan kehidupan lain berkurang sekali. Dalam waktu kurang dari 200 tahun planet ini telah kehilangan enam juta kilometer persegi hutan; beban sedimen dari erosi tanah telah meningkat tiga kali lipat di palung-palung sungai yang dimanfaatkan secara intensif; pemakaian air telah berkembang dari 100 menjadi 3600 kilometer kubik pertahun.

Sitem-sistem atmosfer juga telah terganggu, dan mengancam tata iklim yang sejak lama sekali diadaptasi oleh manusia dan bentuk-bentuk kehidupan lain. Sejak pertengahan abad kedelapan belas, kegiatan manusia menghasilkan lebih dari dua kalilipat metana di atmosfer; meningkatkan kosentrasi karbondiaksida sebanyak 27 persen dan nyata-nyata merusak lapisan ozon di stratosfer. (Lengkapnya baca “Bumi Wahana” Gramedia Pustaka Utama halaman 4, 1993).



Keseimbangan Terganggu

Majalah Jepang Bergambar Vol 13 No 2 Tahun 1990 mengatakan, keseimbangan yang diperlukan bagi pertukaran bahan-bahan kimia secara normal antara bumi dan atmosfer yang begitu vital bagi kehidupan bumi nampaknya telah terganggu dalam tahun-tahun belakangan ini. Salah satu sebabnya adalah penggundulan hutan-hutan yang menyediakan oksigen bagi kita. Bersamaan dengan itu, obat-obat semprot dan pupuk pertanian telah menyerap ke dalam air tanah, dengan demikian mengakibatkan pencemaran air dan rusaknya tanah.

Sementara itu, karbondioksida dan gas metana, produk bungan dari potreleum, batubara dan bahan bakar fosil lainnya telah meninggikan tempratur bumi. Sedangkan sulfurdioksida telah mengakibatkan hujan asam yang mengancam flora bumi. Kini produk baungan seperti gas-gas CFC (cloroflurocarbon) sedang merusak lapisan ozon yang melindungi kehidupan di bumi dari sinar-sinar ultraviolet yang membahayakan dipancarkan oleh matahari.

Kesadaran akan pentingnya hidup yang berkelanjutan adalah merupakan gagasan yang harus terus-menerus diaktualisasikan. Sebab, sumber daya yang ada di bumi sekarang ini sudah tidak memadai, dan tanpa bencana alam atau peperangan yang memakan banyak korban, penduduk dunia tidak dapat mencapai jumlah yang mantap, yaitu kurang dari 10 miliar jiwa. Tanpa adanya bencana, penduduk dunia sekarang ini mungkin telah mencapai 12 miliar yang tak mungkin ditampung oleh bumi, makanya dunia mencanangkan program keluarga berencana.

Sistem Pendukung

Sitem-sistem pendukung kehidupan adalah prses-proses ekologi yang membentuk iklim, membersihkan udara serta air, mengatur aliran air, mendaur ulang unsur-unsur esensial, menciptakan serta meregenerasi tanah dan menjaga agar planet tetap layak untuk kehidupan.

Sementara kegiatan manusia dewasa ini secara tidak tanggung-tanggung mengubah proses-proses ini melalui pencemaran global dan perusakan atau pengubahan ekosistem-ekosistem. Gas-gas rumah kaca, terutama yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, pembakaran hutan, dan pertanian serta peternakan, terkumpul di atmosfer dan menyebabkan terperangkapnya gas bumi. Jika kenderungan ini serta jika model iklim bumi yang sekarang ini benar, tempratur rata-rata planet kita diduga akan meningkat 1 derajat celcius antara tahun 1990 dan 2025 dan 5 derajat celscius sebelum akhir abad mendatang.

Sepintas ini tidak banyak, tetapi ini perubahan yang lebih cepat dibanding perubahan selama 10.000 tahun terakhir. Jika ini terus berlangsung, daerah-daerah iklim akan bergewer, pola-pola persipitasi akan berubah, permukaan air laut akan naik, dan taufan serta badai akan makin sering terjadi serta dahsyat.

Lapisan ozon yang berfungsi sebagai pelindung di stratosfer, terutama akibat CFC yang juga termasuk gas rumah kaca, dan hanya diproduksi oleh kegiatan manusia modern. Lapisan ozon bertugas menyaring sinar-sinar ultraviolet dari matahari yang bila dibiarkan lewat akan mengurangi produktivitas laut, menghilangkan kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit, serta menyebakan kerusakan pada mata dan menimbukan kanker kulit.



Kalpataru dan Chipko

Sebenarnya Indonesia pun sudah sadar akan bahaya dari rusaknya lingkungan. Ini dapat ditandai dengan pemberian hadiah kalpataru bagi penyelamat lingkungan hidup. Ini memperlihatkan suara dari pembela lingkungan hidup masih dihargai.

Di India, dengan semangat antikekerasannya, gerakan Chipko telah berhasil menyelamatkan hutan-hutan yang akan ditebang kontraktor. Dengan semangat antikekerasan penduduk Desa Kilari India, selalu memeluk pohon-pohon bila kontraktor datang akan menebangnya. Dengan demikian kontraktor gagal menebangi pohon karena bila memaksa, berarti orang-orang desa yang memeluk pohon itu akan tertebang. Akhirnya hutan itu selamat dan kontraktor meninggalkan niatnya.

Hadiah Kalpataru dan gerakan Chipko merupakan salah satu contoh dari penghargaan dan pembelaan tanpa kekerasan terhadap lingkungan hidup. Tetapi, semakin pesatnya kemajuan teknologi dan investasi, langkah kaum industrialis akan semakin gagah dan luas. Justru itu, hari ini dan ke depan, sangat diperlukan industri yang tidak merusak lingkungan. Ini memang menyangkut masalah kesadaran, mentalitas dari masyarakat luas, baik pemilik modal maupun pembela lingkungan hidup. Kalau tidak, bisa jadi pembangunan nantinya dapat menggiring bangsa manusia ke arah alienasi (keterasingan). Bahkan tidak mustahil pula pembangunan akan menggiring kepada proses pemusnahan bangsa manusia dari permukaan bumi. Suatu kondisi yang sangat paradoks.

Bila saja terjadi kaum pembela lingkungan hidup memusuhi industri, maka laju indistri akan terhambat. Bagaimana mungkin bangsa manusia akan maju? Demikian pula sebaliknya, jika sampai terjadi kaum industrialis menganggap sepi suara gerakan pembelaan terhadap lingkungan hidup, niscaya alam akan semakin compang-camping.



Lingkungan dan Sastra

Persoalan hidup yang berkelanjutan dikaitkan dengan sastra, saya pikir, bukanlah sesuatu yang dilekat-lekatkan begitu saja. Panitia memilih topik ini – masih menurut saya – adalah hal yang tepat. Mengapa tidak, sastra dapat menggarap persoalan apa pun menjadi menarik dan aktual dengan waktu yang panjang. Bahkan tidak menutup kemungkinan karya sastra yang baik dapat hidup di sepanjang zaman.

Masalah-masalah lingkungan hidup yang ditulis para wartawan, sungguh berbeda bila digarap oleh para sastrawan. Wartawan punya banyak sensor yang berkaitan dengan perbedaan kepentingan. Sensor pertama mungkin datang dari pemasang iklan yang perusahaannya terkena dalam pemberitaan dimaksud.

Sensor kedua mungkin datang dari redaktur yang berkecenderungan kepada sumber-sumber yang kapabel. Sensor ketiga juga mungkin datang dari bagian perusahaan yang berkaitan dengan tiras atau sirkulasi koran (majalah). Sensor keempat tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan pencabutan SIUP (Surat Izin Usaha Penerbitan) yang cenderung berlaku pada masa Orde Baru dulu. Dan sensor-senor lainnya.

Ini bukan berarti bahwa peran sastrawan jauh lebih hebat dari wartawan. Tidak, bukan itu maksudnya.

Perbedaan fungsi (tugas) masing-masing media itu tidak terletak kepada hebat atau tidaknya, melainkan kepada cara penyampaian. Bila media elektronik dapat menyampaikan berita yang sedang terjadi secara langsung, media cetak hanya akan dapat menyajikan setelah berlangsung atau akan berlangsung. Sementara sastrawan dapat mengabadikan kisah-kisah aktual itu menjadi bacaan yang mungkin untuk sepanjang zaman.

Bagaimana kisah orang tua dan laut (The Old Man and The Sea) yang digarap Ernest Hemingwey puluhan tahun yang lampau, masih enak dibaca sekarang. Bagaimana kisah perlawanan Nyi Onto Soroh dan Minke dalam menentang kapitalisme ortodoks yang digambarkan Pramudya Ananta Toer, juga puluhan tahun lampau, masih juga menarik kita baca saat ini.

Begitu pula kisah kawin paksa yang digambarkan Marah Rusli dalam Siti Nurbaya, juga tak kalah menariknya untuk dinikmati. Perjuangan Multatuli dalam membela kaum tertindas pun tak jauh beda.

Kisah-kisah yang pernah terjadi, akan terjadi dan mungkin terjadi adalah sesuatu yang dapat menjadi sumber ilham bagi pengarang (sastrawan). Sepanjang penggarapan tidak artifisial dan dapat menyentuh hal-hal yang substansi, karya itu berkemungkinan akan tetap menarik dibaca kapan dan di mana saja. Sesungguhnya karya sastra yang baik tak mengenal batas waktu dan wilayah.

Konsep Horace dulce dan utile merupakan landasan sikap bagi sastrawan. Para pembaca tidak saja dapat menarik manfaat (utile) dari karya sastra yang dibacanya, juga dapat merasakan nikmat (dulce) – yang menurut saya – tidak sekadar profan. Nikmat di dalam karya sastra dapat mencapai puncak imanen karena ia telah melalui proses katarsis.

Karena itulah, persoalan-persoalan lingkungan hidup dapat menjadi tema yang menarik bagi karya sastra. Misalnya proses pendangkalan danau, pelurusan sungai, tercemarnya sungai, laut dan udara merupakan hal yang menarik untuk disajikan dalam karya sastera (puisi, cerpen, maupun novel).

Tidak hanya masalah kerusakan, juga bagaimana akrabnya seorang anak nelayan dengan laut, akrabnya seroang anak desa dengan lingkungannya dan persolan-persoalan lainnya. Semua merupakan bahan yang dapat diramu ke dalam karya sastra.

Hal yang terpenting, karya sastra dapat menulis banyak soal tanpa harus menghujat. Karya sastra, meskipun bersifat sosial kontrol, tetap saja dengan pendekatan yang humanistis, sehingga memungkinkannya jadi universal. Sebab sesungguhnyalah esensi sastra untuk membawa pembacanya kepada proses katarsis (penyucian diri).

Nah, 14 sastrawan Sumatera Utara: Afrion, Aishah Basar, Ali Yusran, Antilan Pruba, Harta Pinem, Hidayat Banjar, Indris Pasaribu, Jones Gultom, M Raudah Jambak, M Yunus Rangkuti, Rida HR, Siti Aisyah, S Ratman Suras, dan Suyadi San sudah bicara lewat puisi-puisi ekologinya. Apakah kelak puisi-puisi itu bermakna atau tidak bagi kehidupan, waktu jualah yang akan menjawabnya. Yang pasti, Jelajah – nama kumpuluan puisi yang menghimpun 115 puisi itu – telah menorehkan jejak bahwa di negeri ini telah dan mungkin terjadi krisis lingkungan sebagaimana yang digambarkan. ***

*Disampaikan pada acara

Peluncuran Buku Kumpulan Puisi Ekologis

di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU)

Medan, 14 Agustus 2006



**Direktur LSM Pelindung Bumimu

dan Pimpinan BT/BS BIMA Medan

Selasa, 01 Februari 2011

Berhenti Bermain Luka

Cerpen Muram Batu

KAU tersenyum. Kau dapat peran baru. Kau pulang dengan ringan. Kau telah menerima kesempatan untuk mengubah karakter. Ya, sejak bergabung dengan kelompok sandiwara itu, kau selalu saja kebagian karakter yang sama; perempuan yang kehilangan kekasih. Peran yang cocok, sebenarnya. Setidaknya, penonton suka dengan peran yang kau mainkan. Namun, pergolakan dalam dirimu telah mengalahkan tepuk riuh penonton. Kau butuh yang lain. Kau butuh tantangan peran. Dan, kini semuanya telah di tangan.
LAYAR tutup. Panggung gelap kembali terang. Suara penonton perlahan menjauh, meninggalkan bangku-bangku yang sebelumnya penuh. Anggota pentas mulai mengangkati properti satu persatu. Pelan namun pasti, panggung kembali kosong. Kau duduk bersila di sudut panggung, menatap layar, tanpa gerak. Sama sekali tidak terpengaruh oleh suara ribut; ucapan selamat atau basa-basi penuh suka.

Ini ketiga kalinya kau duduk seperti itu sehabis pentas. Kali pertama memang sempat mencuri perhatian hingga sebagian besar orang berebut lempar kata untukmu. Kali kedua pun hampir sama, walau berkurang, tetap saja ada orang yang bertanya juga beri tanggapan.

“Nauli, ada apa?”
“Nauli, kau sakit?”
“Kau belum makan?”
“Sudah, lupakan saja, ini hanya sandiwara. Besok masih ada peran lain untukmu. Jangan terbawa karakter itu terus. Sudah sana, bersihkan tata riasmu!”

Kali ini tak ada yang bertanya. Mungkin mereka malas. Sekian kata yang mereka lontarkan, dalam dua kali kesempatan, tak mendapat respon.

Dan, kali ini kau malah menangis. Menatap layar hitam dengan linangan air mata. Sendiri. Kau pun semakin tenggelam. Sebuah tangis bukan untuk diperhatikan atau mencari perhatian, tangis untuk dirasakan. Sesuatu yang pribadi.

Ketika suara-suara semakin hilang dan ketika raga pergi satu-satu, kau baru mulai melihat sekeliling. Air mata telah kering dan kau pun siap berdiri.

Sayang, kau tak perhatikan, lelaki yang sejak mula memperhatikanmu tetap di situ. Tepatnya di atas kepalamu. Ya, gara-gara tangismu, lampu yang harus ia lepaskan belum juga terlaksana. Mungkin ia terenyuh, mungkin pula terhibur. Tangis pada sosokmu adalah sesuatu yang langka. Karena itu, ia berpegangan kuat pada besi, takut tak kuat menahan keterkejutan itu.
“Tunggu!” katanya begitu melihat kau berdiri.

Kau pun terkejut hingga sampai tak sadar berteriak. Lalu, kau mulai mencari asal suara. Kau mendongak. Dan, kau tertawa. “Ngapain kau di sana, Binsar?” tanyamu.

“Kau kenapa menangis?”
“Mencopot lampu?”
“Kau lagi ada masalah? Ceritalah...” Binsar dengan segera turun.
“Kau melihatku menangis, Binsar?” sambutmu ketika Binsar tiba tepat di depan.
“Tadi aku mau mencopot lampu, kulihat kau di bawah, sudah tiga kali. Tapi, baru kali ini kau menangis.”

“Aku lagi senang, Binsar.”
“Tangis senang beramai-ramai, sedang kau sendirian.”
“Aku senang sendirian.”
“Bukan, bukan itu. Kau pasti ada masalah.”
“Ya, sudah kalau kau sudah tahu. Aku pulang dulu.” Kau bergerak cepat.
“Tunggu dulu, Nauli!”

“Kau copot saja lampu itu. Nanti kau juga tahu...”
Kau keluar gedung. Sendirian. Kau naiki kendaraan pun tanpa teman. Setiba di rumah, kau hadapi kesunyian rumah tanpa orang lain. Dan, kau tersadar, tata rias belum terhapus. Di hadapan cermin kau tertawa keras. “Jadi, sepanjang perjalanan tadi aku tetap begini. Tetap menggunakan tata rias dan busana pentas? Dasar Nauli gila!”

Selagi melepas tata rias dan busana, kembali kau kenang pementasan terakhir. Cerita klasik. Cinta kasih yang berujung pada kematian. Tragedi cinta yang masih tetap diagungkan. Kisah tua yang tetap saja laku.

Kau menjadi perempuan itu. Perempuan yang menunggu. Di dermaga. Menanti kapal datang dari seberang membawa lelakimu. Sekian lama penungguan tak juga kau temukan yang diharapkan. Kau pun nyaris gila. Keluargamu menyarankan, malah memaksa, kau menerima pinangan lelaki lain. Lelaki yang sesungguhnya jauh dari bayangamu untuk menjadi suami. Kau berencana bunuh diri, kau kejar kapal yang belayar menuju seberang. Kau ingin tenggelam. Membawa cintamu yang telah karam. Saat itulah, lelakimu datang. Kau terkejut gembira. Kau kejar dia. Sayang, lelakimu membawa dua orang di sisinya. Seorang perempuan hamil tua dan seorang anak dengan ingus berwarna hijau. Kau terdiam. Lelakimu itu terdiam. Anak dengan ingus hijau menangis. Perempuan hamil tua curiga. Dan, cerita berakhir di sana. Di sebuah pertikaian yang berakhir dengan darah. Kau bunuh mereka; lelaki dengan istri dan anaknya. Kau pun gila. Dan, kau mati dalam kegilaan.

“Kenapa Nauli, kenapa kau selalu mendapat peran seperti itu? Kau tidak memerankan apa-apa, Nauli, kau hanya memindahkan hidupmu ke atas panggung. Kau bukan aktris, Nauli. Kau tidak bisa berakting!” kau muntahkan kalimat itu ke pembaringan. Kau suntuki dirimu hingga tertidur.
Kau bangun dengan mata bengkak. Suasana sudah condong melewati angka tiga di jam dinding. Tergesa kau ke kamar mandi. Terlalu banyak tidur selalu saja membuat perutmu tak enak. Semacam ada yang berontak. Dan ketika semuanya telah keluar, kau baru sadar, sebuah naskah baru harus kau terima sore itu juga.

Kau tiba di gedung pertunjukan yang menjadi markas kelompokmu tepat pukul lima. Sebagian besar orang telah datang. Telah menerima setumpuk kertas yang berisikan cerita. Namun, belum sempat kau dekati mereka, Binsar menghadang. “Sudah sehat kau, Nauli?”
“Memangnya aku sakit?”
“Tadi malam kau menangis.”
“Sekarang?”
“Ya, tidak lagi.”
“Ya sudah.”

Kau biarkan Binsar yang mengeluarkan tatapan bingung. Kau pun bergegas ke kumpulan orang-orang. “Aku mau peran yang lain. Aku bosan peran perempuan cengeng. Bertindak keras hanya karena hatinya sakit. Aku butuh peran yang menantang,” teriakmu begitu tiba di sana.
“Seperti apa?” balas salah satu dari kumpulan orang.
Kau terdiam. Bingung.

“Seperti seorang ibu yang begitu setia menunggu anaknya pulang dari merantau. Sekian tahun menunggu dan terus saja memasakkan makanan kesukaan anaknya walau sang anak tak pernah pulang?” sambung orang itu.

Kau masih terdiam. Masih bingung.
“Atau, seorang anak perempuan yang tak pernah pulang ke rumah ibunya karena tidak suka masakan ibunya?”

“Ya, yang kedua itu,” balasmu.
“Ya, sudah. Ambil ini,” ucap orang itu sambil melemparkan naskah. Dalam pikirannya, mungkin dengan peran barumu, kelompok sandiwaranya akan semakin laku.

Kau terima naskah itu dengan suka cita. Lalu, kau duduk tenang sambil menunggu perintah.
“Pelajari naskah, satu minggu lagi kita mulai latihan,” ucap orang itu.

Kau tersenyum. Kau dapat peran baru. Kau pulang dengan ringan. Kau telah menerima kesempatan untuk mengubah karakter. Ya, sejak bergabung dengan kelompok sandiwara itu, kau selalu saja kebagian karakter yang sama; perempuan yang kehilangan kekasih. Peran yang cocok, sebenarnya. Setidaknya, penonton suka dengan peran yang kau mainkan. Namun, pergolakan dalam dirimu telah mengalahkan tepuk riuh penonton. Kau butuh yang lain. Kau butuh tantangan peran. Dan, kini semuanya telah di tangan.

Namun, sebelum kau sampai bibir gedung, Binsar kembali menghadang. “Memang sudah sehat tampaknya. Ceria kali kau...,” katanya sambil terseyum lega. “Jangan menangis lagi, ya, Nauli,” sambungnya.

“Kau mau menjadi sapu tanganku setiap kali aku menangis?”
“Ya, kenapa tidak?”
“Kalau begitu, simpan jauh-jauh harapan itu, Binsar.”
“Bagaimana kalau aku jadi cermin tempat kau melihat senyum?”
“Untuk itu aku tak harus berpikir, cermin sudah kupecahkan.”
Lintas waktu. Kau perankan terus karakter seperti itu. Perempuan muda yang tak pernah sesuai dengan pilihan dan pandangan orang tua. Kau perempuan pemberontak. Individualis dan kurang peka.

Layar tutup. Panggung gelap kembali terang. Suara penonton perlahan menjauh, meninggalkan bangku-bangku yang sebelumnya penuh. Anggota pentas mulai mengangkati properti satu persatu. Pelan namun pasti, panggung kembali kosong. Kau duduk bersila di sudut panggung, menatap layar, tanpa gerak. Sama sekali tidak terpengaruh oleh suara ribut; ucapan selamat atau basa-basi penuh suka.

Tak ada yang mendekat. Tak ada yang memperhatikan. Kau sendiri menatap layar hitam. Kau melihat ke atas, tepat ke atas kepalamu, tak ada Binsar di sana. Kau pun mulai menangis.

Sayang, kau tak melihat Binsar di belakangmu. Jauh, di balik tumpukan properti yang telah dipinggirkan, siap disimpan dalam lemari atau belakang panggung. Ia lihat kau menangis. Segera saja ia datangi, “Kenapa kau masih menangis, Nauli?”
Kau terkejut dan langsung berlari. Kau pulang tanpa sempat menghapus tata rias maupun mengganti kostum.

Setiba di rumah kau tak tertawa. Kau semakin menangis di depan cermin. Dan kau pun berteriak. “Bodoh! Kau bodoh, Nauli! Kau tidak bisa berakting. Kau bukan aktris. Kau hanya memindahkan hidupmu ke atas panggung.”
Kau suntuki dirimu hingga tertidur.

Besoknya, tepat jam lima kau datangi kumpulan orang di gedung pertunjukan markas kelompok sandiwara itu. Binsar tak ada. Tak ada kata sambutan seperti biasa. Sepi. Binsar entah di mana.
“Aku berhenti.” Kau katakan itu pada kumpulan orang tanpa menunggu balasan mereka. Kau langkahkan kaki berbalik. Dan, kau sampai rumah, menatap cermin. “Kenapa kau Nauli, kenapa kau berhenti bermain luka. Bukankah dengan luka sesuatu yang indah akan semakin indah terasa? Kalau begini, kau memang bukan aktris! Kenapa kau pindahkan cerita panggung ke dalam hidupmu. Aktris yang terlena dengan perannya adalah bodoh. Dan, itu adalah kau!”
Kau suntuki dirimu. Namun, kali ini kau tak tertidur. Kau pandangi lagi cermin. “Belum kupecahkan, tapi kenapa Binsar tak ada? Aku ingin tersenyum...”

Medan April 2008

Minggu, 30 Januari 2011

Rumah Puisi Taufiq Ismail Antara Singgalang dan Merapi

A.Rahim Qahhar

Tiga sastrawan Medan masing-masing A. Rahim Qahhar, Damiri Mahmud dan Hasan Al Banna diundang sebagai Sastrawan Tamu ‘Rumah Puisi’ Taufiq Ismail di Jalan Raya Padang Panjang - Bukittinggi pada13 - 19 Januari 2011. Tanpa alasan yang jelas, Damiri Mahmud urung memenuhi undangan, meskipun pihak Taufiq Ismail berharap sangat atas kehadirannya.

Ada apa gerangan di Rumah Puisi yang dibina sejak 19 Desember 2008 ini? Pertanyaan ini segera terjawab ketika penulis tiba di lokasi yang letaknya di areal perbukitan, persisnya di Jalan Raya Padang Panjang - Bukittinggi km 6 Sumatera Barat. Di areal seluas sekitar 3.000 meter ini terdapat bangunan induk ‘Rumah Puisi’, berisi perpustakaan dan ruangan untuk pertemuan/diskusi.

Pada sisi lain, ramai dihiasi beragam jenis bunga, terdapat bangunan rumah untuk Sastrawan Tamu, bangunan surau dan lapau (kantin) yang dilengkapi dengan bermacam-macam materi suvenir. Bahkan semakin unik dan menarik, di sekeliling halaman terpajang puluhan poster puisi dari berbagai penyair nasional. Antara lain karya penyair Chairil Anwar, Asrul Sani, Ajip Rosidi, Sutan Takdir Alisyahbana, Sutardji Calzoum Bachri sampai kepada penyair yang telah pernah menjadi sastrawan tamu di Rumah Puisi.

Taufiq Ismail dan istrinya Ati Ismail dalam perbincangan dengan penulis menyebutkan, ide awal proyek megah ini sebenarnya amat sederhana. Suatu ketika di rumah mereka Jakarta, istri Taufiq berucap pada suaminya, begini: “Uda, buku nan banyak ini, nanti kalau Uda meninggal dunia akan diletakkan di mana?” Dari pertanyaan bersahaja inilah muncul ide-ide maupun rencana untuk membuat sebuah rumah atau bangunan yang dapat menghimpun buku-buku yang jumlahnya semakin bertumpuk itu.

Lokasi pun dipikirkan, dipertimbangkan, apakah di Jakarta atau tempat lain yang akhirnya terpilih di Nagari Aie Angek, persis di kaki Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Lokasi berudara dingin ini pun tak jauh dari kawasasn Pandai Sikek yakni kampung halaman Taufiq.

Nama Rumah Puisi tidak berarti kegiatannya semata-mata berhubungan hanya dengan puisi belaka. Rumah ini sebagai pusat aktivitas yang berkaitan dengan literatur, karya sastra, pembacaan dan latihan penulisan dengan landasan yang puitik. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir telah lahir sanggar sastra yang terdiri dari siswa-siswi di antaranya ada yang sudah mencoba untuk menulis novel.

Paling mendasar dari kegiatan Rumah Puisi ini, pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia, membaca dan berlatih menulis bagi siswa melalui Sanggar Sastra, apresiasi sastra Indonesia dan Minangkabau, akses buku-buku perpustakaan, menghadirkan sastrawan tamu dari daerah lain, sekaligus melakukan interaksi antarsastrawan dengan guru dan siswa.

Taufiq menegaskan, tujuan utama Rumah Puisi ini dibangun, demi peningkatan mutu anak bangsa dalam budaya membaca buku dan kemampuan menulis, sehingga menjadi manusia terpelajar dan bermartabat. Tak heran, buku yang tersedia sekarang jumlahnya sekitar 7.000 judul termasuk buku-buku nonsastra.

Pelajaran Sastra

Taufiq didampingi dua sastrawan tamu dari Medan sekaligus dipandu oleh moderator Muhammad Subhan di depan puluhan siswa Pesantren Al Hira dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumbar memaparkan, bagaimana ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara lain tentang pelajaran sastra. Taufiq menjelaskan tentang kewajiban membaca buku sastra di SMA di 13 negara antara lain Amerika Serikat, Belanda, Jepang yang siswanya mampu membaca buku sampai belasan dan puluhan judul, sementara Indonesia untuk periode 1950-1997 nol judul. Tragis memang!

Sebagai sastrawan tamu, A. Rahim Qahhar dan Hasan Al Banna diminta untuk menyampaikan proses kreatif maupun pengalamannya sebagai penulis. Sekaligus dalam kesempatan itu penulis juga menampilkan dua judul puisi dan Hasan Al Banna menyugukan fragmen monolognya Cublis. Sesi ini dilanjutkan dengan tanya jawab yang merupakan interaksi antarsastrawan dengan siswa, mahasiswa dan guru. Ada juga pertanyaan yang unik. Antara lain ada siswa setingkat SMP mempertanyakan bagaimana persiapan seseorang dalam membuat novel.

Taufiq yang tahun lalu menerima penghargaan dari Akademi Jakarta, memaparkan tujuh konsep tentang pengembangan dan peningkatan karya sastra. Antara lain beliau memberi sugesti kepada para siswa, menulis dan mengarang itu nikmat, asyik dan menyenangkan.

Orasi Budaya

Sejak dibangunnya Rumah Puisi, Taufiq dan Ati Ismail terpaksa bolak-balik Jakarta-Padang. Artinya, meski hari dan tanggalnya tidak pasti, tapi Taufiq tetap menyisihkan sekian hari untuk berada di Rumah Puisi. Bulan Januari misalnya Taufiq diundang oleh YPI Raudhatul Jannah Payakumbuh untuk menyampaikan orasi budaya.

Ratusan siswa-siswi sekolah dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA yang terpisah dalam tiga lokasi, menyambut kedatangan Taufiq bersama sastrawan tamu. Pentas dan teratak yang sengaja dipersiapkan oleh panitia tampak begitu meriah, apalagi tampak hadir walikota Payakumbuh dan pejabat tinggi setempat.

Acara pokok hari itu, Haflatul Quran murid SD perguruan itu. Taufiq tampil dalam orasi budaya sekaligus membacakan empat judul puisi, disambut cukup antusias hadirin. Dua sastrawan tamu A. Rahim Qahhar dan Hasan Al Banna juga didaulat untuk baca puisi pada acara sehari penuh itu.

Sosok seorang Taufiq sebagai budayawan memang sangat diperhitungkan di kampung halamannya ini. Beliau bersama tokoh lainnya, termasuk pimpinan YPI Raudhatul Jannah bapak Thamrin Manan, didaulat untuk ikut meletakkan batu pertama pembangunan masjid di sekolah SPM Raudhatul Jannah.

Hal menarik lainnya di lokasi Rumah Puisi ini, persis bersebelahan dengan Rumah Budaya Fadli Zon dan Aie Angek Cottage, cukup megah dan artistik. Meski baru soft opening, tempat ini diharapkan kelak sebagai melengkapi obyek wisata visual dan ritual yang bernuansa Minangkabau.

Sastrawan Tamu yang telah tampil di Rumah Puisi antara lain, D. Zawawi Imron (Madura), Ahmad Tohari (Purwokerto), Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya), Joni Ariadianata (Yogyakarta), Jamal D Rahman (Jakarta), Agus R Sarjono (Jakarta), Aspar Paturusi (Makassar), Iman Soleh (Bandung) dan secara terprogram Desember tahun 2010 lalu menghadirkan sekaligus tiga sastrawati, yakni Rayani Sriwidodo (Jakarta), Abidah el-Khalieqy (Yogya) dan Nenden Lilis A (Bandung).

Kamis, 27 Januari 2011

OMONG-OMONG SASTRA : MEMPERTAHANKAN TRADISI SILATURAHMI DAN BERKARYA

M. Raudah Jambak

Sastra tentu tak lepas dari ragam persoalan kehidupan manusia dengan segala tetek-bengeknya. Semua terpapar dengan filosofi dan citraannya. Kekayaan pengalaman referensial dan faktual yang dimiliki pengarang dapat mewarnai karya dengan ketajaman pena dan kedalaman makna yang dikandungnya.Sastra urban adalah kebangkitan sastrawan kebangsaan: sastra yang mampu memaknai kata dan menggetarkan kehidupan kemanusiaan. Sastra yang menyentuh dan bukan menyinggung: menghidupkan kembali ruh bangsa yang sekian lama belum terumuskan.Seperti yang pernah ditulis Irmansyah.
Berdasarkan persoalan itu kembali Omong-omong sastra (OOS) diaktifkan kembali. Mengingat usianya yang tidak bisa dikatakan muda lagi (beranjak 35 tahun), OOS merevitalisasi kembali persoalan-persoalan sastra yang memang tidak akan pernah selesai.
Saripuddin lubis pernah menyinggung bahwa Era sebelum tahun 1920-an, dunia sastra di Sumatera Utara dianggap sebagai tonggak dasar kesusastran di Tanah Air. Sebab, saat itu sastrawan Sumatera Utara bisa dikatakan sebagai barometer sastra di tanah air.
Pertama sekali dimulai dengan munculnya nama M. Kasim yang dianggap sebagai peletak dasar berdirinya cerita pendek di tanah air. Setelah itu muncullah nama Amir Hamzah, pemuda dari Langkat, yang dikenal sebagai motor puisi Angkatan Pujangga Baru.
Kemudian lahir pula Chairil Anwar yang merupakan orang yang paling populer namanya dalam wilayah sastra tahun 1945 hingga sekarang. Beliau bahkan masih dianggap sebagai ikon sastra di Indonesia bersama Amir Hamzah. Jika diadakan survei, tentunya nama merekalah yang menduduki peringkat pertama sastrawan di Tanah Air yang dikenal masyarakatnya.
Setelah itu, perhelatan sastra di Tanah Air mulai berpindah tangan kepada teman-teman sastrawan dari Pulau Jawa. Meskipun masih ada, namun nama-nama sastrawan dari Sumatera Utara mulai tenggelam ditelan zaman. Nama-nama yang masih bertahan hanyalah sebagian saja seperti Maulana Samsuri, A. Rahim Qahhar, Damiri Mahmud dan beberapa nama lain. Selebihnya banyak yang tak lagi dikenal di jagad sastra nasional. Dan akhirnya, Saripuddin lubis menuturkan bahwa duaribuan kebangkitan sastrawan terutama dari yang muda-muda, mulai merambah belantara sastra Indonesia.

35 Tahun Omong-Omong Sastra Sumatera Utara

Darwis Rifai Harahap ada menuliskan bahwa di abad serba digital ini, bahwa banyak penulis-penulis muda terus bermunculan dan tenggelam. Yang tenggelam karena tak mampu bersaing. A. Rahim Qahhar, Damiri Mahmud, Ali Sukardi, Maulana Samsuri, Aldian Arifin, masih terus bekarya walau usia mereka telah diatas enam puluh lima tahun.
Cerpenis Lahmuddin Mane telah tiada. Profesor sastra kita Ahmad Samin Siregar juga telah menghadap Khaliknya. Generasi sastra Sumatera Utara, dari angkatan Choking Susilo Sakeh, Sugeng Satya Darma, Jaya Arjuna, mulai berangkat tua. Kini muncul nama-nama sastrawan muda seperti Hasan Albana, Raudah Jambak, Idris Siregar, Muram Batu, Rizlan Effendi dan banyak lagi yang lainnya, adalah nama-nama yang tak asing lagi di Sumatera Utara, bila kita membuka lembaran budaya surat kabar yang ada di Sumatera Utara. Mampukah karya-karya mereka berbicara di khazanah sastra Indonesia?
Persis seperti yang diungkapkan Darwis Rifai Harahap, penulis menangkap sinyal-sinyal harapan. Bagaimana karya sastra sastrawan muda dapat bertahan menembus zaman. Tidak mudah berpuas diri dengan apa yang dihasilkan. Pun tidak langsung tinggi hati dengan satu dua karya yang dilahirkan.
Sastrawan harus terus menyimpan ‘kegelisahan’. Sastrawan harus melahirkan ‘kegelisahan’ itu. Oleh sebab itu, maka OOS yang beranjak 35 tahun ini harus dipertahankan. Ia hadir tidak hanya sebagai ‘rumah’ nostalgia masa lalu, tetapi juga tempat pembelajaran kualitas dan kuantitas karya, serta pengasahan mental. Hal ini penting, sebab seperti yang pernah tetulis bahwa karya menyatakan kita kita ada, rendah hati akan menjadikannya abadi, tetapi kesombongan akan menghancurkannya perlahan.
Terkadang ada yang berfikiran picik, mengatakan bahwa sastra bukan untuk diomongkan, dipertengkarkan, atau kesabaran menikmati segala hidangan nostalgia. Atau segelintir yang lain mengatakan bahwa belajar tidak harus di Komunitas OOS. Semua terserah kita. Kita adalah makhluk yang bebas. Tetapi, sebagai sebuah kekayaan OOS yang beranjak 35 tahun ini harus kita pertahankan, walaupun kekisruhan pernah terjadi beberapa kali kepemimpinan.
Jujur, bahwa sampai sekarang komunitas OOS Sumatera Utara yang masih bertahan sampai sekarang di Indonesia, bahkan dunia, mengingat usianya. Melahirkan banyak sastrawan kawakan, seperti yang pernah disinggung sebelumnya.
Sekarang, bagaimana kita menjadikan OOS adalah milik semua sastrawan, seniman, maupun budayawan Sumatera Utara, bukan milik segelintir orang yang memang kebetulan termasuk sebagai penggagas OOS ini sebelumnya.
Mengingat Herman Ks, NA. Hadian, Rusli A. Malem, Awaluddin Ahmad, Z. Pangaduan Lubis, dll, yang telah berjuang ikut mengharumkan kejayaan sastra Sumatera Utara, maka wajarlah kiranya kita sedikit rendah hati untuk sama-sama peduli sekaligus ikut andil dengan keberadaan OOS ini tanpa harus mengingat segelintir orang yang sempat ‘menodai’ OOS Sumatera Utara ini.
Dengan berbiaknya komunitas sastra saat ini, seperti KSI (komunitas sastra indonesia) medan, LABSAS, Komunitas Home Poetry, Komunitas Rumah Kata, KOMPAK, KONTAN, KOMISI, juga sebelumnya ada FKS, Kedai Sastra Kecil, dll, wajarlah kiranya yang kesemuanya itu saling berbagi ilmu, berbagi wawasan, termasuk saling bersilaturahmi di Omong-Omong Sastra Sumatera Utara.
Juga diakui, tidak ada yang baru di bawah matahari. Dan walaupun matahari mati berkali-kali ia akan tetap lahir esok pagi. Indah memang kalau kita saling berbagi. Seperti sebuah keluarga ada orangtua yang mengayomi, juga saudara-saudara saling berbagi kasihsayang, walau pertengkaran abang-adik, juga orang tua dan anak, maupun suami-istri, toh tetap tidak akan pernah berhenti, justru itu adalah kekayaan yang harus ada dalam setiap sisi kehidupan.

UNDANGAN OOS DI RUMAH IDRIS SIREGAR

Akhirnya, sebagai konsep pembelajaran, setelah ‘pertengkaran’ YS. Rat dan Wika, maka selanjutnya ‘perseteruan’ Hidayat Banjar dan Intan HS, juga ‘kecurigaan’ Yulhasni dengan Wahyu Wiji Astuti kita teruskan mungkin akan disusul oleh Rina mahfuzah dan Azhari untuk pertemuan OOS ke depan. Dan setelah di rumah Hasan Al Banna, maka ‘perseteruan’ Hidayat banjar dan Intan HS akan kita ‘rampungkan, di rumah Idris Siregar tanggal 6 Februari 2011, di tanjuung morawa. Sekaligus mengundang seluruh ninik-mamak, handai-taulan sastrawan, seniman, budayawan, mungkin juga wartawan sebagai saudara untuk ‘melerai’ segala ‘perseteruan’ itu.

Pementasan Pelestarian Seni Budaya

Agar Tak Lalai Menimbang Tradisi

Oleh: Hasan Al Banna

Di masa yang serba modern saat ini, apakah segala hal yang mengandung masa lalu (tradisi) masih diperlukan? Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan yang demikian. Di satu sisi, masyarakat harus menyesuaikan diri dengan kondisi zaman yang senantiasa, bahkan begitu pesat pergerakannya. Di lain sisi, masyarakat tidak lahir dari budaya yang kosong.

Sulit untuk dipungkiri bahwa kenyataannya masyarakat (manusia) memang membutuhkan pijakan budaya. Mau tidak mau, budaya yang pernah tumbuh di belakang masyarakat, yakni masa lampau, harus ditoleh oleh masyarakat itu sendiri. Ya, semacam cermin untuk menata diri dalam menyikapi masa depan (masa kini).

Namun, tidak dapat pula dibantah bahwa kearifan tradisi kerap pula diabaikan masyarakat modern. Segala hal yang sangkut-menyangkut dengan tradisi dianggap sekedipan mata. Padahal, ibarat pakaian, tentu budaya masa lampau tidak serta merta harus dikenakan secara terus-menerus. Dengan kata lain, masa lampau (tradisi) adalah harus tetap dilestarikan.

Menjadi gaun yang tetap tergantung di lemari kemodernan, yang dapat dipakai sekali waktu. Namun, andai tiba masa mengenakan baju budaya masa lalu, sudah barang tentu tidak sekadar bertengger di tubuh, tetapi ruhnya menyusup juga sampai ke jiwa pemakainya. Inilah sebenarnya hakikat pelestarian!

Hampir dipastikan, hakikat pelestarian demikian yang menjadi pijakan Badan Kesbang Pol. dan Linmas Provinsi Sumatera Utara dalam menggelar Pementasan Pelestarian Seni Budaya di Lapangan Simpang Tiga, Perbaungan (3 Juli 2010) dan di Alun-alun Tengku Amir Hamzah, Stabat (10 Juli 2010).

Pementasan kolosal berjudul “Cinta Tanah Air” karya/sutradara M. Raudah Jambak hadir dalam wujud seni perunjukan kolaborasi, yang digelar untuk mengajak masyarakat (penonton) sejenak mengenakan pakaian masa lalu (tradisi). Melalui pertunjukan “Cinta Tanah Air”, masyarakat memiliki peluang untuk berkaca pada kearifan masa lampau.

Pertunjukan “Cinta Tanah Air” membentangkan kenyataan bahwa para leluhur Indonesia sejak zaman perjuangan, masa kemerdekaan dan zaman sesudahnya senantiasa menjunjung nilai-nilai keindonesiaan yang satu meskipun berangkat dari keberagaman. Seperti yang terungkap dalam narasi pertunjukan, bangsa Indonesia (dalam konteks lokal adalah Sumatera Utara) ditumbuhi ‘tanaman’ yang penuh ragam warna.

Tentu, ragam warna tersebut tidak boleh hilang begitu saja. “Indonesia memiliki keragaman budaya yang luar biasa. Semuanya merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Kita sebagai warga negara wajib memelihara keragaman budaya tersebut sebagai rasa cinta kita kepada tanah air.

Dari sekian banyak keragaman budaya itu, Sumatera Utara termasuk salah satu di antaranya. Rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan dalam berbagai cara, salah satunya melalui seni tradisi. Dan Sumatera Utara sangat terkenal dengan seni tradisinya...”

Pertunjukan “Cinta Tanah Air” melibatkan tiga dimensi seni pertunjukan sekaligus; teater, musik dan tari. Tidak mengherankan pula, pertunjukan ini melibatkan tiga kelompok yang mewakili dimensi tersebut. Komunitas Home Poetry (M. Raudah Jambak, dkk) menyumbangkan hasil cipta seni yang mewakili dimensi teater. Semula kelompok ini tekun berproses di ranah sastra, tetapi dalam perjalanan prosesnya, terlibat juga dalam dunia pertunjukan (teater).

Pada unsur musik, “Cinta Tanah Air” didukung Sumatra Insidental Music. Di bawah kreator musik Hendri Parangin-angin, Sumatra Insidental Music dikenal meramu hasil karya musik dari dua sumber yang berbeda lagi kaya, yaitu musik tradisional dan instrumen modern. Kelompok musik ini tidak hanya unjuk instrumen di Medan, tetapi kota-kota lain di Indonesia, bahkan sampai ke negara-negara Asia Tenggara dan Eropa.

Sumatera Incidental Music menampilkan eksplosari musik yang kadang ditopang unsur seni lain, terutama teater. Tentu, Sumatra Incidental Music tidak kaku lagi bersanding dengan unsur seni lain, terutama teater, apalagi seni tari.

Lantas, tari merupakan unsur yang termasuk penting dalam pementasan “Cinta Tanah Air”. Untuk urusan ini, Citra Budaya Production ikut andil menyebarkan hasil ciptanya ke atas panggung. Citra Budaya Production yang merupakan kelompok tari yang eksis melestarikan unsur tradisi dalam setiap penampilan. Di bawah koreografer Rahma, kelompok ini mengisi kegiatan-kegiatan seni bertaraf lokal maupun nasional. Selain itu, paduan suara Solfeggio Universitas Negeri Medan turut menyemerbakkan pertunjukan.

Ketiga kelompok kesenian ini hadir di atas panggung dalam kesatuan yang utuh demi membentangkan keragaman seni leluhur bangsa, khususnya Sumatera Utara. Sejak awal pertunjukan, “Cinta Tanah Air” mencoba menggambarkan kekayaan yang dikandung Sumatera Utara. Kekayaan Sumatera Utara yang ditopang berbagai etnis seperti Melayu, Batak Toba, Batak Angkola, Batak Mandailing, Karo, Simalungun, Phak-phak dan Nias hadir susul-menyusul di atas panggung. Tentu, kehadiran unsur tradisi harus ‘disesuaikan’ dengan selera modern, karena mau tidak mau, ‘penyesuaian’ inilah yang menjembatani budaya masa lampau dengan budaya zaman modern.

Sesungguhnya, pengabaian terhadap ‘penyesuaian’ tersebutlah yang kerap menggagalkan unsur tradisi untuk tetap diterima masyarakat. Tidak dapat dihindari, pelestari budaya harus pandai-pandai menarik-ulur keteguhan unsur leluhur dan tuntutan kemodernan. Tarik-ulur ini harus terus dilakukan. Namun, risiko bahwa keaslian tradisi bakal terkikis harus tetap diperhitungkan. Yang pasti, penyesuain semacam ini harus dieksplorasi dalam produk-produk pelestarian jati diri bangsa, termasuk produk kesenian.

Nah, melalui produk kesenian, pertunjukan “Cinta Tanah Air” di bawah event organizer Tito Sinar Production yang juga dibantu Jitu Production dan CV. Ratu Mandiri Perdana sudah terlibat dalam peristiwa eksplorasi tarik ulur yang dimaksud, sehingga jurang antara tradisi dengan modern tidak menganga panjang lagi dalam.

Inilah muara dari Pementasan Pelestarian Seni Budaya kali ini, seperti yang turungkap dalam selebaran pertunjukan, “Kesenian merupakan fitrah yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Panggung merupakan jagad. Menjadi salah satu pilihan pemersatu, perekat elemen-elemen yang tumbuh dan berkembang pesat. Baik tradisional maupun kesenian yang bermotif modern.”

Lestari budaya Indonesia!

Penulis adalah sastrawan, staf Balai Bahasa Medan dan dosen luar biasa FBS Unimed.

Masih Bibir Umpama Buah Delima?

Hasan Al Banna

Kalau sekadar mempererat hubungan penyair ‘Melayu Serumpun’ antarnegara di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Kamboja dan Singapura), hajatan Pertemuan Penyair Nusantara IV (PPN IV) yang berlangsung di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, 16-18 Juli lalu boleh dikatakan berhasil menunaikannya.

Namun, adakah PPN IV berfaedah langsung bagi perkembangan estetika hasil sastra (puisi) negara-negara kawasan Asia Tenggara tersebut? Agaknya harus menempuh jalan yang berliku, licin dan curam. Lantas, harapan untuk memuliakan bahasa (Melayu) melalui sastra masih akan berpusar pada tataran wacana yang keruh.

Selama tiga hari kegiatan tersebut berlangsung di Bangunan Persatuan Guru-guru Melayu Brunei, Radio Televisyen Brunei (RTB) dan Kompleks Bangunan Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolqiah. PPN IV diikuti lebih dari 100 penyair dari kawasan Asia Tenggara. Indonesia mengirimkan penyair paling banyak, termasuk penulis dan A. Rahim Qahhar (Medan).

PPN IV dikawal oleh Asterwani Brunei Darussalam bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei Darussalam. Tidak banyak berubah dari kegiatan yang sebelumnya, PPN IV masih diisi dengan acara diskusi sastra, baca puisi dan temu ramah.

Kegiatan senapas ini bermula di Medan (Indonesia) dengan tajuk Pesta Penyair Nusantara I, 25-28 Mei 2007. Selanjutnya nyawa kegiatan ditiupkan ke Kediri (Indonesia) dengan membentangkan peristiwa Pesta Penyair Nusantara II, 29 Juni -3 Juli 2008. Lantas, tahun 2009 lalu, Pertemuan Penyair Nusantara III di Kuala Lumpur (Malaysia), 20-22 November.

Namun, sampai pada pelaksanaan PPN IV di Brunei, percakapan yang menukik kepada pendongkrakan kecemerlangan karya masih jauh dari jangkauan angan. Boleh jadi, forum PPN tidak lebih dari ritual reuni belaka.

Apa yang diungkapkan Ahmad Suyubbanuddin Alwi (penyair Indonesia) dalam forum diskusi patut direnungkan. Alwi menyarankan agar forum PPN menyediakan ruang yang lapang bagi keberlangsungan apresiasi karya, bukan semata berkutat pada wacana dangkal sekaligus pragmatis: mari mengangkat martabat sastra! Paling tidak, menurut Alwi, forum PPN harus berani mengusung karya-karya penyair yang dinilai mengundang, apalagi mengandung kemilau.

Namun bagaimana hendak meninggikan harkat karya, sementara kadar cita-rasa sastra mutakhir senantiasa luput dari sengit perbincangan. Memang, lazimnya, muara dari kegiatan ini tidak boleh membelot jauh dari kisaran: bagaimana caranya agar kualitas karya sastra makin berminyak. Apalagi PPN IV di Brunei mengelu-elukan nasihat, bahwa penyair tidak boleh mengasingkan diri, bahkan sebaliknya senantiasa bertemu, berbincang dan bertukar pandangan dalam meningkatkan mutu penulisan dan terus berusaha memberikan sumbangan kepada kemajuan bangsa dan negara. Nasihat ini menjadi begitu ‘megah’ jika merujuk kegiatan yang kering dari proses apresiasi hasil karya para penyair.

Mutu tulisan adalah kata kunci! Apalagi ketika kerumunan penyair di negara-negara Asia Tenggara sepaham untuk lebih mendekatkan sastra kepada khalayak, khususnya generasi muda. Namun, benturan budaya yang dialami generasi muda, mau tidak mau, telah menerbitkan keinginan-keinginan baru, yang kalau tidak disikapi dengan kedinamisan karya, tentu akan diterlantarkan.

Karya yang benderang adalah karya yang senantiasa bergerak, memantul dan bergumul dengan keberlangsungan zaman. Tentu, perjalanan estetika karya tidak boleh statis, atau bahkan merasa mapan pada letak duduk yang itu-itu juga.

Sebenarnya, apa yang dipaparkan Prof. Dr. Siti Zainon binti Ismail (Malaysia) dalam Tazkirah Puisi (semacam Orasi Puisi) layak disikapi dengan arif. Zainon mengungkapkan bahwa, “sastra menggerakkan manusia untuk berpikir dan seterusnya bertindak ke arah kesempurnaan.” Boleh jadi, pernyataan tersebut mengibaskan isyarat bahwa penyepuh karya (penyair) juga harus setia mengerek hasil ciptanya ke menara kesempurnaan.

Ya, kesempurnaan yang tentu menagih pergulatan tiada henti dari para penyair. Bukankah, seperti yang juga dinyatakan Zainon dalam Tazkirah-nya: “manusia diberi akal dan jiwa, ditambah lagi kemauan dan usaha”. Namun, ada hal yang ‘menarik’ pula di sela-sela Tazkirah Puisi Zainon. Beberapa baris pantun kerap dilontarkan Zainon sebagai penyela Tazkirah yang ‘anggun’, tetapi sarat pesan.

Bait-bait pantun, mesiu yang melimpah dalam sastra Melayu, mengalir lancar dari mulut Zainon. Namun, mengapa pantun masa ini adalah pantun yang tidak berani berganti gaun? Mengapa, misalnya, pantun yang melukiskan rekah bibir (seperti yang dipaparkan Zainon) masih juga menggunakan metafora “seperti buah delima”?

Tiadakkah metafora lain untuk bibir yang merekah sebagai wujud pergulatan dan usaha manusia (penyair) yang berpikir ke menara kesempurnaan. Dalam konteks yang lebih padat, kesempurnaan yang dimaksud adalah akumulasi dari proses penciptaan yang terus-menerus, juga dari kedinamisan zaman yang menggelinding begitu kencang.

Ini sekadar analogi liar atau cenderung dicocok-cocokkan, mungkin. Tentu boleh diabaikan siapapun, tetapi layak juga dibiarkan bernyawa dan hidup dalam pikiran yang kritis. Analogi demikian hanya untuk memudahkan penafsiran: betapa penting meninjau ulang geriak estetika karya yang hendak ditetaskan.

Bagaimana bahan baku (bahasa Melayu) diolah-dikupas secara tekun, hingga melahirkan karya yang segar dan menyusup diam-diam ke dunia modernlah yang seharusnya gencar dilakukan. Hasan Aspahani, penyair Indonesia, dapatlah didaulat sebagai contoh penyair yang mampu membangkitkan pendaman kekayaan bahasa Melayu dalam karya-karyanya. Aspahani dinilai banyak pengamat berhasil merevitalisasi pantun, gurindam, dan pernik bahasa Melayu lain ke dalam puisi-puisinya.

Jauh sebelumnya, Amir Hamzah dan Chairil Anwar juga dianggap berhasil ‘membiakkan’ bahasa Melayu dalam karya-karya keduanya. Abrar Yusra (editor) dalam Amir Hamzah sebagai Manusia dan Penyair (1996:18) mengutip pendapat Anthony H. Johns yang mengatakan bahwa Amir Hamzah adalah penyair yang paling berhasil (finest) yang muncul di dunia Melayu di tahun-tahun sebelum perang dunia, dan yang pertama yang sepenuhnya menggali potensi-potensi Bahasa Indonesia untuk menjadi medium bagi ekspresi puitika modern.

Semangat menggali tiada henti sekaligus keinginan melonjakkan derajat bahasa Melayu yang demikian yang seyogianya dianut oleh penyair-penyair kawasan Asia Tenggara (rumpun Melayu). Namun, kalau semangat ini hanya dibiarkan tergeletak pada lantai wacana pragmatis, maka impian agar generasi muda tetap ‘tergiur’ terhadap karya sastra hanya lambai angan-angan.

Bukankah salah satu maklumat forum PPN adalah menggiatkan puisi dalam konteks melahirkan generasi yang kreatif dan inovatif? Oleh sebab itu, generasi abad modern membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar “rekah bibir bak buah delima”.

Penulis adalah sastrawan, staf Balai Bahasa Medan dan dosen luar biasa di FBS (Unimed).

Pengarang Sumut, Pengabdi Sastra Indonesia

Sugeng Satya Dharma

Kerap berpeci, semasa hidupnya pria tua bertubuh kecil ini adalah figur lelaki dengan kesetiaan yang luar biasa. Bertahun-tahun menjadi guru bahasa di SMP Negeri IV Tebing Tinggi Sumatera Utara, lelaki ini adalah potret seorang pengabdi sejati sastra

Indonesia.

Murid, tetangga dan teman-temannya menaruh rasa hormat yang sangat

besar kepadanya. Tutur katanya lemah lembut, nyaris tak pernah bernada emosi. Ketaatannya sebagai hamba Allah pun ia wujudkan dalam khusyuk sholat yang nyaris tak pernah alpa.

Ristata Siradt, dialah salah seorang sastrawan besar Sumut yang sunyi dari publikasi. Sampai wafatnya pun, kecuali segelintir teman dekatnya sesama seniman, nyaris tak ada orang yang memberi penghargaan lebih pada apa yang dikerjakannya.

Bahkan pemerintah setempat (Pemkot Tebing Tinggi, Sumut), tak cukup peduli terhadap keberadaannya. Padahal, selain sebagai sastrawan yang produktif, Ristata Siradt adalah dokumentator sastra satu-satunya di kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Lahir di Laras, Simalungun, Sumut pada 9 Juli 1932 dalam lingkungan keluarga

buruh perkebunan tembakau, ayah dan ibunya berasal dari Jawa Timur. Saniman,

ayahnya, berasal dari Ponorogo sedang ibunya Giah, berasal dari Trenggalek.

Ayahnya adalah seorang yang gemar memainkan gamelan dan ibunya pandai pula

mengalunkan tembang-tembang Jawa.

Kekentalan darah seni kedua orangtua itulah yang kemudian mengaliri buluh-buluh nadi Ristata. Meski demikian, semasa kecil Ristata justru tidak tertarik pada seni gamelan dan tembang Jawa. Ia justru lebih menyukai sobekan-sobekan “Sumatera

Shimbun”, Koran lokal terbitan Pemerintah Pendudukan Jepang. “Saat itu saya masih duduk di kelas tiga sekolah rakyat,” tuturnya.

Bacaan-bacaan itulah yang kemudian mengasah kepekaannya pada sastra.

Sampai ia dewasa dan kemudian menjadi guru, kegemarannya pada sastra terus berlanjut. Tak sekadar menulis cerita pendek, novel ataupun drama, ia bahkan bergelut dengan

potongan-potongan guntingan koran yang dikumpulkannya dari hari ke hari.

Sampai wafatnya pun guntingan-guntingan koran dan majalah itu, yang berisi macam-macam esai, cerita pendek, cerita bersambung ataupun puisi, ia kumpulkan di lemari usang yang ada di sudut-sudut rumahnya yang tua.

“Cerpen kau yang pertama kali dipublikasi, juga ada tersimpan di sini, Geng. Lihat saja,” katanya suatu kali saat saya berkunjung ke rumahnya. Aku cuma tersenyum. Bangga. Sayang, hanya sedikit orang yang mau peduli dan menaruh penghormatan tinggi atas pengabdian yang dilakukannya itu.

Kini pak Ristata sudah tiada. Ia pergi dengan kesetiaan seorang pengabdi, bahkan sampai akhir usianya. Tapi apakah semangat dokumentasi karya sastra yang dilakukannya itu sudah mendapat apresiasi yang sepantasnya dari masyarakat dan pemerintah? Ataukah museum kecil sastra Indonesia di sebuah rumah sederhana di pojok kota Tebing Tinggi (kurang lebih 60 km sebelah Timur kota Medan) itu, pada akhirnya dilupakan begitu saja?

Harian Kompas edisi Rabu 18 September 2002 pernah menulis; Museum kecil sastra Indonesia itu memang tak sebesar Pusat Dokumentasi Sastra HB. Yassin. Museum itu hanyalah sebuah rumah milik seorang pria tua berusia 70-an tahun bernama Ristata Siradt.

Sebuah rumah yang setelah kematian isterinya, ditinggalinya bersama dua

cucunya. Bangunan tersebut begitu sederhana. Sebagian atapnya terbuat dari

anyaman daun kelapa, berdinding bata dan berlantai Semen. Perabotannya

juga amat sederhana. Tak ada kompor, hanya tungku batu dan beberapa potong kayu

bakar untuk memasak. Secara keseluruhan kehidupan pak Ristata adalah potret buram

seorang pensiunan guru di republik yang telah puluhan tahun merdeka ini.

Namun di balik kesederhanaan itu, rumah yang terletak di jalan Tengku Hasyim tersebut memiliki begitu banyak rak buku. Empat lemari ia gunakan untuk menyimpan bundelan kliping koran dan majalah yang berjumlah kira-kira 550 buah. Ada lagi tiga lemari pakaian berisi koran yang masih utuh. Memang, telah sejak tahun 1950-an pak Ristata mengumpulkan aneka buku sastra dan guntingan koran tentang sastra.

Selain itu, dia sendiri juga menulis aneka karya sastra seperti cerita pendek maupun novel, baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Jawa. Berbagai pojok

kota ia datangi untuk mendapatkan aneka kliping itu. Dengan masa pengumpulan

sekitar 50 tahun tanpa henti, bisa dibayangkan berapa banyak koleksi buku dan

data sastra yang dimilikinya.

Kliping karya sastra itu ia kumpulkan dari berbagai media seperti Kompas, Republika, Waspada, Analisa dan majalah seperti Horison. Termasuk di dalam koleksinya adalah karya-karya Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis sampai Danarto. Ia juga mengoleksi beberapa buku tua seperti karya Pramoedya Ananta Toer berjudul “Panggil Aku Kartini Sadja” cetakan pertama.

Sampai menjelang akhir hayatnya, perjalanan waktu tetap tak bisa menyurutkan semangatnya untuk terus mencipta karya sastra dan mengumpulkan karya tulis siapa saja. Kesibukan itu bahkan menjadi pekerjaan sekaligus hiburan bagi Ristata setelah tak lagi

mengajar. Dengan pisau silet merek Goal yang sudah tinggal separuh, sebuah penggaris, satu set spidol aneka warna, serta sebotol lem kanji dan sebuah kuas, pak Ristata terlihat khusyuk menekuni dunia klipingnya itu.

Apapun jenis tulisan, baik itu sastra, kritik seni, sejarah sampai politik, dikumpulkannya. Sedangkan koran, majalah dan kertas diusahakannya sendiri dari menyisakan sedikit gajinya sebagai guru. Setelah pensiun, koran dan majalah itu ia beli dengan sisa uang pensiunnya yang tak seberapa.

Beberapa koran bahkan hanya ia beli jika ada rubrik budaya dan sastranya. Selebihnya ia hanya menunggu seseorang datang ke rumahnya membawakannya koran-koran atau majalah bekas.

Tulisan-tulisan itu kemudian ia tempel pada sehelai kertas buram, lalu ia jilid sendiri. Jilidan yang amat sederhana namun rapi itu kemudian ia simpan dalam tujuh

lemari kayu yang sudah mulai keropos, bahkan beberapa di antara lemari itu ada pintunya

uang telah copot. Untuk memelihara agar jilidan dan bundelan itu tidak rusak, iapun mengikatnya dengan tali rafia.

Dibawa kabur harta tak ternilai berupa aneka buku dan kliping sastra itu sempat mengundang banyak peneliti dari luar negeri. Pada awal September 2002 misalnya, seorang peneliti Malaysia, Abdur Razzaq dari Asian Public Intellectuals bahkan membutuhkan waktu berjam­jam mempelajari aneka kliping milik Ristata sebelum memutuskan untuk menfoto copy ratusan lembar naskah yang ada.

Tak hanya Abdur Razzaq, hasil ketekunan pak Ristata itu juga berguna bagi banyak kalangan seperti mahasiswa dan peneliti. Dalam seminggu rata-rata tiga mahasiswa datang ke rumahnya mencari bahan untuk menulis skripsi. Namun sayang, di antara mereka yang mendapatkan manfaat dari museum kecil sastra Indonesia itu, terselip pula orang yang mementingkan diri sendiri.

Beberapa tahun yang lalu ada seseorang yang meminjam koleksi kliping Ristata, namun tak mengembalikannya. Lebih dari 20 kilogram kumpulan tulisan itu dibawa kabur. Katanya untuk penelitian. Namun hingga pak Ristata wafat kliping-kliping itu tak juga dikembalikan. Pak Ristata sendiri sempat mengaku kapok meminjamkan dokumentasinya. “Sejak kejadian itu tak seorang pun saya bolehkan membawa kliping keluar dari rumah saya. Lebih baik saya membuatkan fotokopi dan saya sendiri yang akan mengantarkannya,” papar Ristata kala itu.

Atas dedikasinya pada dunia sastra itu, semasa hidupnya Dewan Kesenian Medan pada tahun 1982, menganugerahinya gelar Sastrawan Terbaik Sumatera Utara. Lalu pada tahun l984 naskah dramanya berjudul “Neraca” juga mendapat kesempatan untuk dipentaskan secara kolosal pada penutupan MTQ Nasional XVII di Tebing Tinggi.

Hebatnya, meski kesastrawanannya diakui secara nasional, sampai akhir hayatnya pak Ristata tetaplah pribadi yang bersahaja dan murah hati. Bahkan pengabdiannya

pada sastra dan dokumentasi tetap tak berkurang seperti kebiasaannya lari pagi

yang juga tak pernah berhenti. “Saya akan terus menulis dan membuat kliping sebagaimana saya terus berlari,” paparnya suatu kali. Ah….! (*)

*Penulis adalah Penyair dan Koordinator Gerakan Relawan Medan Hijau (Gerilya-Mu)