Cerpen Di Dalam Becak karya M. Raudah Jambaak
Lelaki itu terus mengayuh becaknya. Udara begitu terik. Peluh tak henti mengucur dari tubuhnya. Matanya tak lepas mengitari sepanjang pinggiran jalan. Berharap ada calon penumpang yang memanggilnya. Lelaki itu terus mengelilingi kota yang padat dengan kendaraan. Asap knalpot dan debu saling berebut hari. Ditingkahi dengan bunyi klakson tanpa henti. Polusi udara seolah tak terbendung lagi.
Ayah, hari ini Ani harus bayar uang sekolah,Yah, terngiang kembali kata-kata Ani, anak satu-satunya, yang masih duduk dikelas tiga SMP.
Ayah,kalau tidak dibayar Ani tidak boleh ikut ujian,Yah.
Pikiranya mengembara. Pandangan matanya berkaca-kaca. Walaupun becak bukan satu-satunya matapencaharian Bokor, lelaki tua itu, tapi untuk biaya sekolah dan sehari-hari masih terasa berat bagi Bokor. Selain mengayuh becak Bokor juga seorang guru SD . Menjadi seorang guru masih belum mencukupi untuk biaya sekolah anaknya. Ani harus menjadi sarjana itu tekad Bokor.
“Becak...!”
Sebuah suara mengejutkannya. Bokor tergagap terlebih ketika sebuah mobil sedan menyalipnya. Stangnya tersenggol, Bokor segera menginjak pedal becaknya. Ia segera turun, memeriksa. Sedan itupun berhenti, tak jauh di depannya.
Seorang lelaki tegap berkacamata gelap turun, memeriksa sedannya. Ada garis-garis kemarahan di wajahnya.
“Kau punya mata nggak ha!” sembari tergesa mendekati Bokor.
”Maaf, Pak. Saya tidak sengaja....”
”Maaf, maaf. Maaf gampang. Aku tidak mau tahu sekarang kau harus ganti rugi. Sedanku lecet terkena becakmu.”
Bokor terdiam. Pikirannya kalut. Satu persatu wajah orang-orang tercintanya hadir begitu saja.
“Ayah, apa yang sedang Ayah pikirkan? Ayah!” suara Siti, istrinya terdengar meninggi sembari mengguncang bahunya. Bokor tersenyum memandang Siti. Ia sangat beruntung punya istri yang baik dan sabar. Profesi guru yang ia jalani setiap pagi selalu ditekuni dengan baik. Walaupun masih kurang. Ia harus mengayuhkan kakinya yang mulai tua di atas pedal becaknya, itu tidak menjadi penghalang untuk tetap memberikan ilmunya pada anak didiknya.
“Ayah…” Ani membuka pembicaraan pada saat makan malam, “Ayah tidak perlu terlalu membanting tulang demi kami, Yah.”
“Ani, ayah tidak pernah merasa lelah, ayah selalu merasa kuat dan bahagia. Iyakan, Bu?”
Siti, istrinya tersenyum sambil mengelus punggungnya pertanda bahwa ia bangga bersuamikan Bokor. Suasana rumah yang sederhana itu menjelma menjadi surga berkat ketulusan dan keikhlasan penghuninya. Hari berganti hari, kehidupan keluarga Bokor semakin bahagia walaupun hidup sederhana tapi hati merasa tentram.
Setiap pagi, dengan pakaian serba rapi ia selalu bertugas mencerdaskan anak bangsa. Langkah kaki yang pasti terus menuju tempat ia bertugas.
“Assalamualaikum anak-anak.”
“Waalaikumusalam, Pak…!” jawab anak-anak serentak.
Pelajaranpun selalu dimulai tanpa ketegangan sampai akhirnya jam pelajaran usai. Tanpa lelah Bokor selalu menunjukan semangatnya.
Di rumah, Siti, istrinya tercinta sudah menunggu dengan senyum dibibirnya yang sudah mulai tampak berkeriput.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumusalam…”
“Oh ya, Bu, anak-anak belum pulang dari sekolah?”
“Belum, Yah,” sahut Siti sambil berlalu menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang yang sederhana tapi sangat membangkitkan selera.
“Assalamualaikum,” suara Ani selalu terdengar manja.
“Waalaikumusssalam,” sahut Bokor yang sedang sibuk mempersiapkan becak yang akan dikayuh selesai shalat zuhur nanti.
Ani duduk disamping Parmin sembari membuka sepatu sekolahnya,”Ayah, boleh nggak Yah, kalau ayah tidak menarik becak sekali ini?”
Bokor menatap wajah anaknya itu dalam-dalam tanpa berkata apapun. Bokor hanya tersenyum sambil mengelus lembut rambut hitam Ani.
“Ayah…” suara khas sibungsu Ani memanggil, “makan siang sudah tersedia.”
Selesai shalat zuhur Bokor, mulai mengayuh kakinya yang tampak mulai kurus dan mengecil di atas pedal becaknya. Sampai menjalang azan magrib ia baru tiba di rumahnya yang sangat sederhana tapi tetap memancarkan pesona. Azan magrib sudah berkumandang semua berkemas untuk melaksanakan perintah Allah.
Malam semakin larut peraduan empuk sudah menjadi tempat istirahat yang sangat menyenangkan. Bokor dan istrinya masih duduk berbincang-bincang.
“ Bu apakah uang tabungan kita masih cukup, Bu,”Tanya Bokor dengan lembut.
” Masih, Yah,” jawab Siti sambil tersenyum.
” Syukurlah, aku ingin cepat-cepat lihat Ani memakai toga dan diwisuda.”
”Ayah, ada-ada saja Ani kan masih SMP...” derai tawapun mengalir begitu saja.
Pembicaraan terus berlangsung, tanpa terasa malam semakin larut. Kantuk mulai menyarang kedua orangtua tersebut.
Esok hari. Raja siang telah keluar dari peraduannya aktifitas sehari-hari mulai dilaksanakan. Ibu melepas ayah dan ketiga anaknya dengan pancaran wajah bahagia, serta doa yang selalu mengiringi langkah kaki keluarganya.
“Hei, jangan pura-pura. Ganti!”
Bokor tersentak. Begitu jelas perbedaan perlakukan yang ia rasakan. Baik sebagai guru. Juga perlakuan yang ia rasakan saat ini. Ia jadi merasa kebanggaannya kepada ayahnya membuncah. Berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini.
Tanpa terasa bayangan itu kembali hadir ketika Bokor muda pulang membawa khabar gembira bahwa ia sudah menyelesaikan semua perkuliahannya dan akan segera diwisuda.
Kebahagiaan terpancar dari wajah kedua orangtuanya. Bahagia dan bangga terus menyelimuti hati Bokor muda.
“Ibu!!!” teriak Bokor muda dengan keras memanggil ibunya, “Ayah, Bu. Ayah pucat sekali. Tidak bisa bergerak!”
Bokor muda berlari mencari kedua abangnya yang sedang membantu H.Hafiz memperbaiki genting rumahnya yang bocor.
“Bang Adi, Bang Budi!” teriak Bokor muda .
H. Hafiz datang menghampiri, “Ada apa Bokor muda?”
“Tolong, Pak. Ayah saya. Ayah saya sakit, Pak.”
H. Hafiz memenggil Adi dan Budi dengan lembut agar tidak membuat mereka terkejut.
“Ayah kita berobat ya, Yah,” ajak Bokor muda membujuk ayahnya.
“Tidak usah ayah akan sembuh, iyakan, Bu? Kita ingin menyaksikan Bokor muda diwisuda ya, Bu.”
“Iya, Yah, makanya ayah cepat sembuh, ya?” ibu menghibur dengan senyum manisnya.
Hari yang ditunggupun tiba. Bokor muda sudah lengkap dengan toganya dan bersiap-siap akan menghadiri ruangan yang luas nan megah yang dihadiri beribu-ribu lelaki tampan dan wanita cantik dengan nuansa hitam. Ayahnya yang sudah bersiap akan berangkat merasa sangat lemah.
“Anakku, sepertinya ayah tidak bisa ikut. Kalian pergi saja. Ayah masih menunggu seseorang.”
Mereka terdiam sejenak kemudian mengangguk, mungkin H Hafiz ingin ikut menyaksikan kegembiraan ayah, pikir mereka.
Barisan para wisudawanpun berjalan dengan wajah bahagia. Bokor muda masih terus mencari dimana sosok lelaki yang ia banggakan. Batinnya terus bertanya. Sampai ruangan sepi sosok ayah belum juga tampak. Ucapan selamat dari kedua adiknya membuat Bokor muda semakin sedih.
“Bu kita pulang, yuk,” Bokor muda membuka pembicaraan, “mungkin ayah menyiapkan sesuatu untuk kita.”
Wajah bahagia masih menyelimuti ibu dan anak-anaknya sampai di rumah.
“Assalamualaikum, Assalamualaikum, Assalamualaikum!” tiga kali salam tidak ada jawaban.
“Ayah dimana , Bu? Ayah dimana?” Tanya Bokor muda. Bokor muda terus mencari sampai kebelakang, akhirnya mata Bokor muda tertuju pada sosok lelaki yang duduk membelakang menghadap jendela yang terbuka lebar menuju jalan raya.
“Ayah ini Bokor , Anak Ayah. Bokor sudah jadi sarjana, ini impian Ayah, lihat Ayah, jawab Ayah,” Bokor muda menangis sambil bersimpuh di kaki ayah.
Ibu memeluk tubuh Bokor muda sambil mengucapkan kata-kata yang sangat pahit di telinga Bokor muda . “Innalilahiwainailaihi rojiun.”
“Ayah, Ayah, Ayah!” Bokor muda berteriak histeris, “Ini impian Ayah. Lihat Ayah, anak Ayah sudah wujudkan, kenapa Ayah tidak mau menyaksikan impian Ayah, jawab Ayah...!” Tangis Bokor muda dan adiknya semakin menjadi.
”Anakku sudahlah, sudah terimalah dengan sabar…” meskipun pahit ibu menelan semua kenyataan bahwa ini sudah takdir yang maha kuasa. Tiada satupun yang dapat melawan takdir Allah Yang Maha Besar. AllahuAkbar.
***
“Sekarang, bagaimana?!”
Bokor masih bingung. Kebingungannya bertambah ketika sebuah suara ikut mencampuri. Seorang perempuan muda namun bersahaja, sudah berada di tengah-tengah mereka.
“Bapak mau ganti berapa?”
Lelaki tegap itu terdiam. Lama memerhatikan.
“Anda, siapa? Istri orangtua ini?”
“Bapak tidak usah banyak bertanya. Berapa?”
”Anda siapa?”
”Saya Kepala sekolah SD Bunga Bangsa. Nah, sekarang berapa?”
”Ooo, maaf, Bu. Tidak usah, Bu. Sebenarnya saya hendak menjeput anak saya di SD Bunga Bangsa.” lelaki itu menarik nafas panjang kemudian pergi.
”Terimakasih, Bu...”
Perempuan itu tersenyum. Memerhatikan.
”Bapak Pak Bokor, kan?”
Bokor mengangguk.
”Kalau begitu tidak usah panggil Ibu sama saya.”
”Kenapa?”
”Nggak kok. O, ya, Pak. Bisa antar saya ke Bank Syariah?’
Tanpa banyak bertanya lagi, Bokor segera mengayuh becaknya. Sepanjang perjalanan mereka bercerita. Bokor mengatakan bahwa perempuan itu adalah penumpang pertamanya.
”Bapak sudah lama menarik becak?”
”Sudah tiga puluh tahun.”
”Becak dayung?”
”Ya.”
”Tidak ada niat mengganti? Becak mesin, misalnya?”
Bokor tersenyum. Pertanyaan itu seolah menghantamkan ribuan debu di wajahnya. Memang pernah ada niatnya untuk mengganti becaknya dengan becak mesin, tetapi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anaknya yang tinggi mengurungkan niatnya itu.
”Saya tidak punya biaya. Harus bayar pakai apa? Sewa rumah saja masih nunggak, hehehe.... ”
Perempuan itu ikut tersenyum. Dia teringat betul dengan tawa itu. Ciri khas yang tidak pernah berobah sampai sekarang. Dan kerendahhatian yang masih tetap tersimpan. Itu pulalah yang menjadi motivasinya menjadi seorang pendidik. Sampai nasib memilihnya menjadi seorang Kepala sekolah. Tapi, lain halnya dengan Bokor yang tetap bertahan dengan kesahajaannya. Hm...
”Bapak pasti bangga jika melihat muridnya berhasil.”
”Ooo, jelas, Bu. Keberhasilan seorang murid menjadi tolok ukur keberhasilan seorang guru sebagai pendidik.”
”Maaf, Pak. Jangan panggil saya dengan sebutan ibu, saya risih. Panggil saja saya dengan sebutan Nak, atau panggil nama saja, Melati.”
”Melati?”
”Ya, Pak. Mengapa? Bapak mengingat sesuatu?”
”Tentu. Saya teringat dengan bunga melati pemberian murid saya, ketika hari guru beberapa tahun yang lalu. Tetapi, lucunya bunga itu diberikan anak saya kepada gurunya ketika hari guru setahun yang lalu.”
Perempuan itu menatap ke jalanan. Bank Syariah semakin dekat. Ada rasa kecewa yang tersirat di sana.
“Selain penarik becak, Bapak gurukan?”
Bokor terkejut. Ia tidak menyangka masih ada yang mengenalnya. Padahal, ia berusaha untuk tidak dikenal siapapun. Tetapi, harus rela menerima situasi ini.
“Ya.”
“Bapak tidak malu ketahuan murid-murid Bapak?”
“Sebenarnya saya merasa malu, tetapi apa boleh buat. Selain mengajar, pekerjaan inilah yang bisa saya lakukan agar segera dapat uang.”
“Kalau ada murid Bapak yang menumpang, apakah Bapak terima?”
“Saya akan menghindar.”
“Bapak kenal dengan semua murid-murid Bapak?”
“Tidak semuanya. Biasanya saya mengenal yang ‘paling’ dibandingkan dengan yang ‘biasa-biasa’ saja.”
“Menurut Bapak, saya termasuk yang mana?”
”Kalau menurut saya Nak Melati pasti ’paling’. Jika tidak, mana mungkin bisa menjadi Kepala sekolah. Muda lagi.”
”Menurut Bapak, jika saya bertemu guru saya. Apakah guru saya mengenal saya?”
”Tentu. Tentu. Saya yakin.”
”Ooo. Bapak masih tinggal di tempat yang lama?”
”Masih. Saya belum pernah pindah rumah.”
”Yah, sudah sampai, Pak? Ini ongkosnya. Ini untuk Ani, anak Bapak.”
Perempuan itu kemudian turun dari becak setelah menyerahkan segepok duapuluhan uang ratusan ribu. Bokor menolak, sempat terjadi tolak menolak antar keduanya, sampai akhirnya ia menerima pemberian perempuan itu dengan rasa yang penuh penasaran.
”Ah, maaf. Anak ini siapa? Kenapa bisa tahu nama saya. Lalu, tahu tempat tinggal saya?”
”Saya Melati, Pak?”
Udara tak lagi terik. Peluh tak lagi mengucur dari tubuhnya. Asap knalpot dan debu tak lagi saling berebut hari. Bunyi klakson terdengar sesekali. Perlahan sunyi...
Medan, 2011
Cerpen Kolam di Belakang Rumah karya M. Raudah Jambaak
Entah kenapa aku jadi lebih suka berada di belakang rumah. Sejak direnovasinya daerah di bagian belakang rumah, nyamuk – nyamuk pun sudah mulai berkurang. Kadang – kadang aku pun tertidur di atas kursi plastik yang juga baru aku beli kemarin sambil memandang bulan.
Di bagian belakang itu dipasang tegel marmar berwarna hitam. Aku juga meminta kepada tukang bangunan untuk membuat sebuah kolam di sana. Dan setelah jadi, kolam itu banyak memberikan inspirasi – inspirasi padaku tentang bulan, matahari, atau tentang apa saja.
Aku jadi lebih produktif menulis. Ide – ide selalu saja muncul mengalir bagaikan air.
Di bagian atas kolam, aku sudah memasang atap, agar cahaya matahari tidak jatuh sepenuhnya menyentuh kolam dan lantainya. Atau hujan tidak membasahi seluruh areal kolam. Di pinggir dari kolam aku menanam mawar, aster, melati, kacapiring, anggrek, dan bunga jenis rerumputan yang sengaja kutanam.
Di kolam, beberapa ekor ikan sudah mulai berenamg kesana kemari seperti ikan nila, dan beberapa ekor ikan gurami. Mereka kadang sering terlihat berkejaran. Apalagi jika giliran makan tiba, ikan – ikan itu seakan tahu apa yang akan aku lakukan. Dan aku sangat senang.
Di sekitar kolam aku begitu banyak mendapatkan kepuasan batin. Kepuasan yang belum tentu semua orang mendapatkannya. Demi mendapatkan kekuasaan, banyak orang yang tidak segan – segan mengeluarkan banyak biaya untuk itu.
Sambil memberikan makan kepada dua ekor kelinci putih yang baru dibeli kemarin. Di sini kenangan demi kenangan muncul. Kenangan masa lalu yang tidak pernah terlupakan. Terutama masa petualangan ketika muda. Dengan seorang wanita yang sempat singgah di hatiku. Gadis manis berambut panjang yang senang memelihara kelinci.
Ketika itu aku tidak begitu tertarik dengan kelinci. Tapi karena dia penyayang kelinci, maka aku berpura – pura ikut senang. Dan nyatanya sekarang aku tidak hanya pura – pura. Aku jadi menyenangi kelinci. Pembicaraan lantas jadi begitu mengalir karena seekor kelinci.
Banyak hal yang dapat kurasakan setelah adanya kulam ini. Pengembaraan batinku dapat kulalui melalui kegiatan – kegiatan di sini. Anak – anakku dapat bermain karena areal di pinggir kolam renang agak lapang.
Pernah aku bercerita dengan salah seorang temanku. Bercerita tentang kolam di belakang rumah. Tapi akhirnya berubah ceritanya, temanku itu lebih senang menceritakan istrinya. Istrinya yang egois. Semua keputusan harus istrinya yang menetapkan. Aku jadi lebih banyak diam. Padahal aku yang ingin bercerita panjang lebar tentang apa saja yang berhubungan dengan kolam itu.
"Isteriku…" katanya memulai. "Istriku orangnya penuh perhatian. Semua urusanku dan anak – anak tidak pernah luput dari perhatiannya. Cuma masalahnya dia tidak pernah menerima pendapatku tentang apa saja."
"Bagaimana dengan anak – anakmu?"
"Hampir sama kalau sulit aku untuk mengatakan berbeda."
"Kenapa? Kau lebih terkesan putus asa dibandingkan dengan kebanggaanmu kepada keluargamu?"
Dia bercerita panjang lebar. Sampai akhirnya ber5akhir dengan kebingunganku menatap kepergiannya karena hari yang mulai senja.
* * *
Embun turun. Udara berkabut. Terlihat masih samar – samar. Masih seperti biasanya. Burung terdengar menceracau. Ayam ribut, berkotek. Kelinci dan ikan masih dalam kegelisahannya. Bukan karena dingin, tapi Nuri yang tak bisa diajak kompromi. Di balik dedaunan cecak mengintip di balik dedaunan yang tumbuh di dinding. Saling berkejaran, berpagutan.
Kotek suara ayam membuat suasana semakin gaduh saja. Suaranya terdengar saling bersahutan. Melompat kesana kemari. Liar. Seolah – olah sedang melaksanakan aksi demonstrasi. Ada diantaranya hanya diam terduduk saja. Menunggu makanan.
Hujan lebat turun semalam. Dan sisa – sisa mendung masih menggumpal di langit. Matahari seakan enggan bersinar. Bunga – bunga mawar merah bermekaran menitik embun. Gemericik air jatuh satu – satu. Cecak yang tadinya saling berkejaran dan berpagutan tak terlihat lagi, tubuhnya telah menghilang dalam asbes.
Di kolam ikan gurami dan ikan mas gantian bekejaran. Saling mematuk. Lele kecil, sepat dan nila hanya bisa bersembunyi di balik bebatuan. Nuri masih menceracau. Ayam masih berkotek.
Biasanya setiap pagi tidak seperti itu. Suasana yang berlangsung secara terus – menerus berhari – hari sampai berbulan – bulan lamanya. Mulanya nuru lalu lele, kelinci dan sekarang ayam dan beberapa ekor ikan menambah suasana kolam.
Suasana riuh kembali muncul dan kali ini lebih luar biasa menyambutku membawa makanan. Untuk hewan – hewan peliharaan itu. Nuru terlihat melompat kesana – kemari. Kelinci itu mengibaskan ekornya yang putih. Ikan – ikan pun seperti tahu kedatanganku. Mereka muncul ke permukaan. Kutebarkan pelet di permukaan kolam. Mereka saling berebutan. Nuri berebut menikmati jagung – jagung muda. Ayam berebut cepat mematuk jagung dan beras. Kelinci lebih menikmati kangkungnya. Beberapa bagian dinding masih terlihat basah. Sepintas lalu penampilan terkesan sebagai pedagang daripada penulis, atau guru.
Sudah cukup lama kunikmati kegiatan ini. Terutama di saat – saat liburan kumanfaatkan untuk bersenang – senang sedikit dengan peliharaanku. Mulanya semua berlangsung biasa saja dan tulisan – tulisanku mengalir begitu saja. Tapi demi mencium bau yang tak sedap semuanya menjadi lain.
Kucari – cari sumber bau yang tercium. Kuperhatikan nuri tetap pada keributannya. Ayam tak mau kalah terutama si jago selalu berkokok. Kelinci biasa saja dengan kangkungnya, sesekali yang jantan menggoda si betina.
Matahari mulai meninggi. Awan yang menggumpal yang sempat menutup langit perlahan terbuka. Sinar matahari sudah mulai menembus menyentuh kulit bumi. Satu – persatu anggota keluarga yang lain mulai menjalankan aktivitas rutinnya. Ada yang menyapu. Ada yang mencabut rerumputan. Ada yang membersihkan setiap ruang dan lantai. Ada yang mencuci piring dari sisa sehabis makan semalam.
Demi mendengar kesibukan yang terkesan ribut itu, dua anakku yang masih kecil – kecil terbangun. Dengan langkah lucunya mereka mendekatiku. Setelah mengucek – ngucek matanya. Tidak lama setelahnya mereka sudah terlibat dalam permainannya sendiri. Tidak ada yang terlihat duduk dengan tenang.
Aku masih sibuk mencium sumber bau. Aromanya sudah mulai mengganggu anggota keluarga yang lain.
"Bau apa ini, Bang…?"
"Iih… auk…!"
semua telah gelisah. Semua heboh.
"Bau bangkai…!"
Aku hanya bisa diam. Terus mencium sumber bau yang sudah membusuk. Aku tak mau banyak bicara memang begitu kepribadian yang selalu menjadi ciri dan sifatku.
Semula aku menduga bau kandang ayam. Tapi setelah kuperiksa tidak ada tanda – tanda kematian. Ayam – ayam itu masih tetap bercengkarama sambil menikmati makanannya berupa dedak jagung dan beras. Kandang kelinci juga kuperiksa, sangkar burung juga. Semua yang kuperiksa tidak menunjukkan tanda – tanda adanya hawa kematian. Hanya bau kotoran hewan – hewan itu yang tercium.
Kuperiksa arah kolam, masih juga tidak terlihat. Dan kejenuhan mencari yang tak jelas mulai menggerogoti. Lantas aku lebih memilih menghirup baunya saja daripada mencari tak kunjung ada.
Kami sarapan beramai – ramai. Mulanya selera kami hampir hilang mencium aroma itu. Tapi karena perut sudah sangat lapar, maka rasa bau itu tidak kami gubris sama sekali. Hanya anak – anakku yang sedikit gelisah.
"Auk, Pa… auk…" si kecil Aini mendekat.
"Papa bauk kali…!"
Aku hanya menenangkan mereka sambil menyuruh supaya tetap terus makan. Kutunjuk ke arah tv agar bisa sambil nonton. Di TV terlihat seorang anak kecil yang berbentuk matahari sedang tersenyum kepada keempat boneka yang menjadi idola pada saat ini. Tingky Wingky, Dipsy, Lala dan Po. Boneka Teletubies yang saat ini sangat digemari anak – anak.
"Siap ini Tweenes, Pa." Rahmat, anak sulungku berujar.
"Hi… i… i…" suara Aini meniru bayi matahari yang sedang tertawa itu.
Udah cepat makannya sudah itu mandi, ya… !
Kedua anakku itu sudah larut dengan tontonannya sehingga begitu mendengar kata – kata istriku.
Matahari sudah mulai meninggi. Jaraknya sudah tepat di atas kepala. Semuanya kembali tenggelam dengan dirinya masing – masing. Si kecil lebih sibuk dengan pekerjaan dapurnya.
Aku sendiri masih terus merasa ragu dengan penciumanku. Dengan jaring penangkap ikan yang besar, aku memeriksa dasar kolam. Anggapanku mengatakan bahwa mungkin beberapa ekor ikan mati, dan lupa diangkat sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap. Mulanya aku tidak menemukan apa – apa di dasar kolam itu, tetapi begitu melihat ada sesuatu di dalam jaring penangkap ikan, aku mau muntah.
Aromanya ternyata berasal dari kolam. Ternyata ada hewan yang sudah mati membusuk di situ. Seekor kucing, kucing berbelang tiga. Kucing yang sempat aku merasa kehilangan untuk satu minggu ini. Terlihat bangkai kucing itu sudah menegang dan mengembung. Ssyup – sayup dari dalam kudengar ada yang muntah setelah kudengar dengan seksama ternyata istriku, dia tidak kuat mencium bau busuk apalagi demi melihat dari balik kaca nako ada bangkai kucing di dalam kolam.
Setelah kuangkat, tanpa pikir panjang lagi bangkai itu segera kubuang ke tanah kosong di belakang rumah.
"Kuras airnya, Bang" istriku berteriak dari dalam. "Ikan – ikannya buang juga. Sudah haram kita memakannya dia sudah makan bangkai. Iiiih… amit – amit jabang bayi."
Lagi – lagi aku diam. Ternyata kolam ini selain memberikan inspirasi juga menimbulkan masalah. Kolam yang sumber inspirasi jadi kolam penuh caci maki. Dan bagiku, cukuplah untuk ini.
Cerpen Tamu di Hari Kurban karya M. Raudah Jambaak
Dua tahun sudah aku berada di kota ini. Dua tahun pula aku tidak pernah mendengar kabar berita tentang teman-teman maupun saudaraku. Dan hal itu sedikit agak menegangkan hatiku. Hidup dengan suami dan dua orang anak membuat hatiku sedikit tentram. Berhari-hari kujalani kegiatan rutinku seperti biasa.
Anak-anakku yang masih kecil-kecil memang sedikit agak merepotkan aku, sekaligus calon bayi dalam kandunganku, membuat kegiatanku agak terbabani. Sementara suamiku masih juga belum mendapat lowongan kerja sampai hari ini.
Sudah lama aku ingin bekerja, jika saja suamiku mengizinkan. Dengan berbekal sarjana pendidikan, aku yakin dapat diterima sebagai guru. Tapi suamiku selalu melarang dengan alasan bahwa laki-lakilah yang harus mencari nafkah, sedangkan perempuan berada di rumah mengurus rumah tangga. Sebagai istri yang baik, aku berusaha untuk selalu patuh, walau kadang hati ingin merontak untuk membantu suami mencari nafkah. Lagi-lagi aku ragu.
Sebenarnya aku tahu kalau suamiku tidak keberatan kalau aku bekerja,tapi ada perasaan malu, dan aku memahami itu. Ijazah SMA yang selalu jadi andalannya sulit untuk menjadi dewa penolong baginya, dan aku selalu menenangkan agar ia tidak pernah putus asa. Dan keadaannya itulah yang selalu dipertentangkan oleh orang tuaku ketika, Amran, suamiku datang untuk melamar. Kerja dimana? Tamatan universitas mana? Dan sebagainya.
Karena perasaan cinta yang menggebu-gebu, akhirnya orang tuaku tidak bisa berbuat apa-apa setelah kukatakan aku tengah mengandung. Pesta pernikahanpun diadakan sesederhana mungkin. Akhirnya aku menyandang titel sebagai Nyonya Amran. Seminggu setelah acara pernikahan itu aku diboyong suamiku pindah ke kota ini.
Perasaan hancur dari kedua orang tuaku dapat kurasakan. Paling tidak untuk beberapa lama perasaan malunya, kami coba untuk menghilangkannya dengan cara pindah kekota ini.
Awalnya memang terasa berat, tapi akhirnya semua dapat kuatasi. Paling tidak untuk saat ini, walau sebenarnya dalam hati aku rindu dikunjungi dan mengunjungi.
"Sunyi ya, bang?" ujarku ketika kami duduk sehabis makan diruang tamu.
Suamiku Cuma diam. Dia mengerti perasaanku. Dia Cuma mengelus-elus rambutnya, sambil memandang kedua anak kami yang kejar-kejaran di depan kami. Kuarahkan tangannya menuju perutku yang tinggal menunggu waktu kelahiran anak ketiga kami tiba.
Tidak terasa sebentar lagi hari raya kurbanpun tiba. Itu berarti sebentar lagi aku akan ikut kurban yang kukumpulkan sebelum kami menikah. Dan aku akan segera bersiap-siap untuk menghadapi kelahiran bayiku yang ketiga. Daging kurban itu akan kusumbangkan ka panti asuhan yang kebetulan tidak jauh dari rumah kami.
"Sunyi, ya bang." Ujarku kembali memecahkan kesunyian. Dia memang agak pendiam, ditambah beban yang ditanggungnya. Keterdiamannya begitu terasa, dan aku selalu berusaha mengajaknya untuk sejenak melupakan segala beban yang tengah menimpa.
"Abang merasa kesunyian, nggak?" kembali aku berujar. Dan kali ini sambil mendekatkan wajahyku ke wajahnya. Sementara anak kami satu persatu sudah terbuai dengan mimpinya, akibat kelelahan berlarian kesana-kemari. Untungnya walaupun mereka tidak punya teman sebaya, tapi mereka terlihat akur satu sama lain.
Suamiku kemudian pelan-pelan bergerak, mengangkat satu persatu anak kami ketempat tidur. Dua anak laki-laki yang lucu-lucu dan baik hati. Penerus keturunan suamiku yang kebetulan anak satu-satunya di keluarganya. Dan untuk anak ketiga ini dia ingin sekali mendapatkan anak perempuan.
Sehabis memindahkan anak-anak kami ketempat tidur, suamiku bergerak pelan ke arahku. Disentuhnya ujung rambutku dengan tangannya nyang kekar. Lalu diciumnya dengan lembut. Begitu pula dengan dahiku, pipi, bibir dan berakhir di permukaan perutku yang menggembung. Aku menggeliat. Bukan lantaran ciuman lembut suamiku, tetapi bayiku yang tiba-tiba bergerak merespon ciuman lembut ayahnya. Suamiku lantas duduk disisiku sambil menyentuh lembut telingaku dengan hidung mancungnya.
"Dian….," bisiknya pelan, "Kamu takut kesepian? Takut tidak mendapatkan tamu? Kamu rindu ayah-ibumu?"
Aku tercenung mendengar pertanyaannya yang beruntun. Tapi demi melihat wajahnya yang sungguh-sungguh, aku mengangguk.
"Kamu masih sabarkan?" ujarnya lagi.
Aku mengangguk kembali.
"Kamu mau mengizinkan abang pergi tiga hari pergi mencari uang? Paling tidak untuk ongkos kita berangkat ke sana. Paling lama sebelum shalat idul adha, abang sudah kembali."
Kembali aku yang terdiam. Aku membayangkan, suasana selama ini sudah sangat sunyi, apalagi tanpa suami untuk beberapa hari? Bayang ketakutan sepertinya mencekikku. Kupandang wajah suamiku dalam-dalam, ada semacam perasaan menyesal terpancar disana. Menyesal telah mengatakan sesuatu yang selama ini ditahan-tahannya. Tapi rasa cinta yang mendalam membuat kekuatanku berangsur hilang. Aku mengangguk.
"Kalau kamu keberatan, aku tidak menyesal membatalkan semuanya."
Segera kututup bibir suamiku dengan jari-jariku. Aku menggeleng. Kucium pipinya dengan lembut. Lalu kusandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang.
"Kamu jangan merasa terpaksa." Tangannya membelai lembut ujung rambutku.
"Aku tidak merasa keberatan, bang," ujarku pelan, "Mungkin setelah ini terjadi perubahan pada hidup kita."
"Mudah-mudahan."
Jangkrik malam amelantunkan lagu tembang kenangan. Angin malam telah pula merangkaikan nadanya. Bulan bertindak sebagai komposernya.
* * *
Malam ini perutku terasa nyeri. Bayi dalam kandunganku mulai meronta. Suamiku belum juga pulang. Mataku sempat memandang jam di dinding tepat pukul 01.30 WIB. Anak-anakku masih tertidur pulas.kucoba untuk menahan sampai pagi tiba, tapi ternyata tidak bisa. Mataku tak mau diajak tidur. Begitu duduk rasa sakit semakin tak terkira. Kusebu-sebut nama suamiku agar ia pulang segera. Tapi masih juga tak membantu. Ingin rasanya membangunkan kedua anakku tapi tak tega rasanya memandang wajah yang tentram itu. Pergi minta pertolongan tetangga, aku takut terjadi apa-apa ditengah jalan. Terbayang wajah ibu. Teringat ayah. Terkenang teman-teman dan saudara. Rasa sakit masih juga tidak mebantu, malah semakin menjadi-jadi
Tok…tok…tok.
Aku terkesiap. Takutku menjadi. Segera aku naik ketempat tidur dan memeluk anak sulungku yang menggeliat sebentar kemudian kembali kelihatan tenang.
Tok…tok…tok.
Kali ini kekuatannya agak keras. Aku berharap yang mengetuk pintu suamiku, tapi jika orang lain. Syukur-syukur gadis remaja tetangga yang sering datang membantu, tapi jika tidak?
Tok…tok…tok.
Peluhku mencucur deras. Tubuhku basah dipenuhi keringat. Rasa sakit tidak kunjung hilang. Kurasakan ada sesuatu yang keluar dari selangkanganku. Ketakutanku menjadi-jadi setelah darah ketubanku mulai membasah. Tubuhku tiba-tiba lemas. Pandanganku terasa gelap. Dan selebihnya aku tidak tahu sama-sekali.
Sekejap saja, aku merasa berada di sebuah pesta. Begitu banyak orang disekelilingku. Anehnya, semua memberi selamat dan menyalamiku. Aku Cuma berdiri terpaku menerima salam dan ucapan selamat dari mereka. Tamu-tamu hadir, mengalir tidak henti-hentinya. Dan dari semua tamu yang kuperhatikan, ada satu yang berpakaian agak lain dri yang lain. Dan tingkahnya tidak pula seperti yang lain-lain yang begitu menikmati suasana pesta. Dengan jubah putihnya, dia hanya melemparkan senyum ke arahku. Dalam pandanganku aku seperti mengenalnya. Pemuda dewasa yang bersahaja.
"Kak, bangun. Kak, bangun kak. Kak."
Aku segera membuka mata. Segera kutebarkan pandanganku ke segala penjuru.
"Dimana aku? Dimana suami dan anak-anakku, dan…" tiba-tiba mataku tertuju ke arah perutku, "Mana kandunganku?"
Aminah diam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Walau akhirnya dia buka suara. Pelan, namun pasti, dia bercerita bagaimana menemukan aku tergeletak diatas tempat tidur dengan iringan jerit tangis kedua anakkusementara darah sudah memenuhi tempat tidur. Bagaimana aku dibawa ke Rumah Sakit masih dalam keadaan tidak sadar. Bagaimana anakku menangis sepanjang perjalanan. Bagaimana bayi perempuanku, menghembuskan nafas satu jam setelah persalinan. Dengan lugunya ia bercerita pelan, namun panjang lebar.
"Dan juga….," Aminah berhenti bercerita.
Air mataku mengalir deras. Aku mencoba bertahan, bersikap tegar. Suara takbir mengalun syahdu. Air mataku tak terbendung.
"Ke..ke..kenapa kamu berhenti. Aminah? Teruslah bicara. Kakak akan tabah mendengarnya. Apakah kurban kakak dibatalkan?"
Aminah menggeleng. Dia terlanjur menangis. Air matanya mengalir. Dia mungkin tidak sanggup mendengarkan dan menceritakan penderitaanku yang beruntun.
"Lantas apa, Minah…" aku memeluknya menangis bersama. Takbir tetap mengumandang.
"Abang, kak…." Aminah menahan tangisannya.
"Kenapa, Minah? Kenapa Abang? Abang sudah pulang? Mana Abang Minah? Mana?"
Aminah dengan terbata-bata menceritakan bagaimana Abang ditemukan telah menjadi mayat. Diduga dibunuh dan dirampok. Aku tidak bisa lagi menahan duka, jeritku seketika membahana dan tidak berhenti sebelum mendengar seorang pemuda tampak mengucapkan salam. Pakaiannya mengingatkan aku dengan dengan mimpiku semalam di sebuah pesta. Dan aku seperti mengenalnya dan sangat mengenalnya. Dia Amran, suamiku, dengan jubah putihnya ia melambaikan tangan pada ku, memanggilku. Penderitaanku seketika lenyap. Aku merasa sangat tenang, sangat damai. Dipelukannya seorang bayi perempuan menjulurkan kedua tangannya padaku, minta kugendong. Aku merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Dua orang tamu tercintaku datang memenuhi janji dihari kurban ini. Seketika kurasakan tubuhku terasa sangat ringan. Entah kekuatan dari mana, kami sudah berpelukan di angkasa. Sempat aku melirik Aminah yang tengah memeluk seonggok tubuh kaku, berurai air mata. Sempat aku melirik dua orang bocah laki-laki yang tengah tertidur lelap, persis seperti anakku. Sempat aku memanggil Aminah, tetapi dia tetap diam saja. Dia masih memeluk erat tubuh kaku di hadapannya sementara takbir terus berkumandang, mengantar sepanjang perjalanan. Aku, suami, dan anakku.
Darul Amin, 2000
Cerpen Pesta Pernikahan karya M. Raudah Jambaak
BESOK acara pesta pernikahaan Andi, anak Pak Kusumo, tetangga sebelahku.Kulihat mereka telah sibuk dengan keseriusan masing-masing.Tak seorang pun kulihat bermalas-malasan.Teratak telah dipasangkan.Hiasan disana sini telah pula dipersiapkan.Karangan bunga sebagai ucapan"Selamat berbahagia telah pula memenuhi sepanjang jalan.Untung saja tidak sampai menyulitkan arus lalu-lintas jalan.Beberapa orang dari organisasi pemuda dan bergabung dengan pemuda setempat, ikut pula berjaga-jaga. Aku cuman mengintip di balik jendela.Waktu terus berlalu, aku kelelahan menunggu di ruang tamu.
"Wah,meriah sekali Pak.Selamat ya!"
"Oh,terima kasih bapak bersedia datang.
Maaf,kemarin undangannya datang terlambat!"
"Ya,tidak apa-apa Pak. Sebenarnya saya yang salah,saya pikir saya tidak diundang. Padahal saya sangat ingin sekali mendapatkan undangan dari Bapak."
‘Bapak ada-ada saja. Oh,kalau begitu langsung saja, Pak, dicicipi makanannya."
Aku mengangguk. Suara keyboard yang mengiringi seorang penyanyi terdengar asyik bagiku. Ditambah lagi selain suara penyanyi yang lembut juga joged pinggulnya yang dahsyat ‘menghipnotisku’ untuk duduk di posisi agak ke depan. Posisiku agak menguntungkan karena beberapa sisi dari tempatku duduk dapat terlihat. Posisi penyanyi keyboard sudah pasti. Posisi pengantin juga mudah terlihat. Aku menikmati sepotong rendang sambil mendengar lantunan penyanyi keyboard yang ada di atas penta kecil, tepat beberapa meter di depanku. Para pengangkat piring pun telah serius dengan tugasnya. ‘Sekuntum Mawar Merah’terdengar melenakan.Seorang bocah pengangkat piring dengan beban piring yang cukup banyak melintas di depanku terburu-buru.
"Braaak!"
Aku terkejut.
‘Sekuntum Mawar Merah’masih melantun.
"Bapak kok tidur di ruang tamu,sih?"
Ani,istriku hati-hati membersihkan pecahan kaca yang berserakan,"Lihat nih. Pot bunga yang baru dibeli kemarin tak panjang umurnya. Makanya jangan begadang!Jam segini baru bangun!". Aku telah terkejut.
‘Sekuntum Mawar Merah’telah berganti’Anggur Merah’mengetuk-ketuk gendang telingaku. Aku ternyata masih di ruang tamu.Istriku masih mengomel. Kulirik ke arah jam dinding, Ya,Tuhan. Sudah pukul sepuluh. Segera kutebar pandanganku keluar.
Lantunan Megi Z di loudspeaker terdengar mengerang. Acara pesta sepertinya segera di mulai. Karangan bunga sepertinya sudah penuh sesak, agak mengganggu pemandanganku. Beberapa orang telah memenuhi tempat pesta itu. Wah!cepat sekali hadirnya. Aneh!mereka semuanya berpakaian seragam. Bukan seragam tentara atau polisi. Baju,celana,topi dan sepatu berwarna putih. Beberapa orang yang Cuma berT-Shirt di punggungnya berlambang merpati bermahkota.Aneh!
"Kita dapat undangan mereka?"aku melirik istriku,"Undangan pesta pernikahan anak Pak Kusumo?Ada?"
Istriku memandang tajam ke arahku. Dia tersenyum mengejek.
"Makanya jangan sok cuek!"
"Ada apa?Kok aku yang sok cuek?Ada apa?"
"Eh, Bang. Jangankan kita yang punya rumah saja tidak mereka undang.Bang ,Bang…"
"Lho, kok gitu ?
"Bapak-bapak, Ibu-ibu." Suara protokol acara memecah keramain. Aku hanya memperhatikan dari jauh. Istriku lebih memilih tak peduli. Dia sibuk dengan dirinya sendiri.
"Bapak-bapak, ibu-ibu. Hari ini adalah waktu yang tepat untuk menyusun kepengurusan yang baru," Protokol acara bicara panjang lebar. Aku cuam tidak habis pikir, sebuah acara pesta yang megah bisa berubah jadi acara pemilihan pengurus. Setelah kuperhatikan dengan seksama seluruh karangan bunga yang berjejer tak beraturan, seluruhnya berlambang merpati bermahkota. Wah.
"Diharapkan kita akan mendapatkan banyak suara dari daerah ini. Untuk mendukung kita seluruh penduduk kampung sudah diundang kepesta ini. Dan nama-nama yang diundang sudah kami bacakan seluruhnya. Jika sukses, maka kita akan mendapat paling sedikit tiga kursi. Hidup Merapati Hidup Mahkota !"
Nama penduduk kampung yang diundang sudah diumumkan, berarti Pak Kusumo mengundangku, batinku.
" Bu, nama kita diumumkan tidak?"
Istriku cuma tertawa cengengesan.
Kepalanya digeleng-gelengkan kekiri dan kekanan.
"Nama anak tetangga yang baru lahir seminggu diumumkan kok, Pak. Apalagi nama kita. Tapi itu sekedar ngomong, undangannya seratus tahun lagi baru ada.
He… ha…ha…"
"Saudara-saudara. Sambil menikmati suasana pesta, silahkan duduk dikelompoknya masing-masing untuk menentukan kepengurusan kedepan."
Menjelang siang, pesta semakin ramai. Para tamu semakin banyak hadir. Protokol acara semakin bersemangat mempersilahkan orang-orang tertentu untuk berpidato. Pidato yang berapi-api.
Sepanjang penglihatan, rumah-rumah disekitar pesta tertutup rapat. Dari balik jendela-jendela, mereka cuma bisa mengintip.
"Saudara-saudara. Kita dukung UUD 45 dan Pancasila. Kita dukung negara persatuan dan kesatuan. Setuju!"
"Setuju!"
"Program kita kedepan adalah meningkatkan keamanan!"
"Setuju!"
"Program kita kedepan adalah menghancurkan segala bentuk ketidak adilan!"
"Setuju!"
Entah sudah latihan atau memang sudah kesepakatan, apapun yang disampaikan disela-sela pidato kata "setuju" selalu peragam serempak. Aku tak tahu, pakah mereka tahu. Bagiku suasana nya sedikit ada kesamaan ketika aku mengikuti shalat maghrib atau shalat berjamaah. Diakhir fatihah, selalu saja kata yang terlontar bersamaan. Serentak mengucap "Amin". Dan aku tidak tahu, apakah mereka tahu? Bagiku juga berdoa . Di sela-sela doa dan penutupnya secara bersamaan selalu kata "amin" selalu diucapkan bersamaan. Aku tidak tahu, apakah mereka tahu? Maknanya? Bagimana penerapannya? Entahlah!
Menjelang petang, keyboard habis-habisan di dendangkan. Para biduan dan undangan joged sampai karatana acara pesta pernikahan Andi, anak Pak Kusumo, seperti tak nabis-habisnya.
"Tumbangkan!"
"Rubuhkan!"
"Hancurkan!"
"Bakar!"
Sekelompok pemuda dan aparat berpakaian hitam-hitam, secara brutal merubuhkan ratusan karangan bunga yang berjejer tak beraturan. Kedaan berubah total. Suasana ramai dari setiap alunan dan goyangan, kini berubah menjadi ramai karena teriakan saling mempertahankan dan merubuhkan. Aku hanya melihat hati-hati dari balik jendela. Begitu juga beberapa orang tetanggaku. Istriku semakin tidak perduli, dia hanya menonton teve.
"Hei, ini acara pesta pernikahan. Tolong jangan buat keributan!" Seseorang yang berpakaian putih-putih berlambang merpati bermahkotra berteriak. Kumisnya y6ang melintang menyebabkan dia sedikit disegani orang-orang. Dan terbukti aksi merubuhkan seketika terhenti sejenak. Seseorang laki-laki botak berpakaian hitam-hitam berlambang kalajengking bertaring, maju.
"Kalau ini memang pesta pernikahan, kami tidak akan mengganggu. Dan hanya orang bodoh yang menganggap ini pesta pernikahan. Kalian curang, melanggar kesepakatan!"
"Apanya yang curang? Siapa yang melanggar kesepakatan? Anda jangan memfitnah , Jangan sampai kami menyelesaikannya dengan jalur hukum!"
"Oh, dipersilahkan dengan hormat, kami tidak memfitnah. Pesta apa namanya, jika semua undangan memakai seragam dan berlambang merpati bermahkota? Kalian curang! Kalian telah melanggar kesepakatan!"
"Lantas apa kalian tidak curang? Apa kalian tidak melanggar kesepakatan? Kalau begitu, kalian datang kemari sebagai apa? Ha? Kalian sudah merusak ketentraman orang lain?"
"Tentram? Ha…ha…ha… Kalian ini lucu. Kalian sendiri apakah sudah menjaga ketentraman lingkungan sekitar kalian. Tidak kan? Ayo, apa lagi?"
"Kalian perusuh!"
"Kalain yang perusuh!"
"Kalian curang!"
"Kalian yang curang, melanggar kesepakatan!"
Terjadi adu mulut yang cukup sengit, antar kecurangan dan akal-akalan. Keduanya mengagungkan sebagai penjahat benaran.
"Setuju!"
Malam sudah mengelus atap rumah. Pintu dan jendela telah terkunci rapat. Pesta pernikahan berubah perdebatan. Di rumah, aku ciptakan pesta pernikahan sendiri. Kali ini istriku tidak lagi tidak perduli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar