Cerpen Mencari Tuhan karya Raudah Jambak
“Datuk sakit!’
“Wah, bisa juga Datuk sakit…?”
“Kenapa kau bicara begitu…?”
“Bah, kelen tak tahu? Dia kan Tuhan?”
o0o
Pada resah daun jendela.. Wajahmu bergambar duka.. Sedari pagi matamu menikam. langit Sampai matahari lari bersembunyi. Yang tertinggal hanya senyap. Yang tertinggal hanya gelap. Sekadar hanya menyisakan kenangan. Tertutup debu tertahan. Ada gairah yang tak kunjung nyala, rindu pada sebuah kerinduan yang nyata.
Selalu ada saja yang mengetuk-ketuk daun pintu. Tapi nyatanya hanya angin yang mengelus wajahmu perlahan. Dan malam sekadar meninggalkan rimah-rimah kalam
Dengan setengah butir bulan. Di sebelah rumah, anak tetangga mengaji. Merapal doa sepanjang magrib tiba menyusun isya. Selalu saja ada yang mengetuk-ketuk pintu. Kau-kah itu atau jantungku yang bertalu-talu. Menggemuruhkan irama rindu?
Datuk kembali terkesiap. Irama dadanya berdegap matanya menebar pandang ke undangan. Seorang anak muda sambil menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokok telah menggugah raganya. Alunan saluang mulai gagap. Pikirannya menguap.
“Ah, kaukah itu? Atau aku yang terlalu menggunung rindu?”
***
“Mari kita gugat Tuhan!” hentak geraham berdentam dari mulut Gambing yang sedikit sumbing. Malam satu menit lagi mencapai nol- nol-we-i-be. Hadirin yang hadir terhe-nyak pada pikiran yang semakin mengonak
“Sudah saatnya kita menggugat Tuhan!” teriak Gambing sekali lagi dengan kepalan mulut yang semakin meruncing,”Bagaimana Datuk?”
Datuk terkesiap. Dia belum siap mengatur napas. Sepuluh jam yang lalu Gambing meneleponnya dengan tanpa pretensi apa-apa.
Ketika itu ia sedang mengatur rasa di beranda. Sebuah saluang di tangan lengkap dengan baju hitam dan celana galembong.
Senandung laruik sanjo kerap dilantunkannya bersama saluang.
“Kalau tidak ada acara penutup malam saya undang Datuk bertandang ke rumah,” suara Gambing menggebu deru,” sebaskom kerang rebus dan ikan bakar sudah me-nunggu.
Angin menampar-tampar menusuk ke celah-calah pintu. Pikiran Datuk bermain-main di halaman masa lalu, ketika pertama kali menapakkan kaki di Medan.
Kebaradaannya di Medan pun bersebab, ia dianggap manusia tak ber-“Tuhan”, di kampungnya, Tamtaman, orang Tanjung Batang Damar di Minang Kabau, sebuah desa kecil di lereng bukit.
Ia kenangkan kembali peristiwa pemberontakan sarikat sekerja Sawah Lunto di akhir tahun 20-an itu.
Siapa yang tak mengenal? Di kampung itu dia adalah Parewa yang cukup disegani. Senang bergaul dan suka bergurau. Ahli bermain saluang, mahir berdendang, lincah berpencak apalagi berandai, dan jagonya bermain tonel.
Di beranda ini ia lisankan Kaba Magekmanandin, berlanjut dengan si untuang sudah, Malin Deman, Rancak di Labuah dan sebagainya.
“Mungkin ada sedikit renungan budaya!” kobar Gambing lagi sepedih api.
Ah, ia hanyalah seorang Parewa, manusia aneh yang kebiasaannya tidak sama dengan orang-orang disekitarnya. Sejak usia anak-anak dia sudah menguasai berbagai hal petatah-petitih adat, bertutur, berpantun, bersyair. Ia kuasai sejarah Bundo Kanduang, Cindua Mato, maupun Tuanku Nan Renceh yang membawa budaya Timur Tengah lalu diteruskan oleh Haji Rasul, Sheik Arasuli dan Jamil Jambek. Karena keserbatahuannya itu ia menjadi lebih “berani” dalam segala hal termasuk mempertanyakan keberadaan Tuhan.
Orang-orang pun yang selama ini mengaguminya mulai menjauhi, termasuk Sidi Jambak, sahabatnya. Ibarat pepatah di mana ada gula di situ ada semut. Begitulah mereka selalu bersama kemana dan dimana saja.
“Awaklah Tuhan nansabananyo!” ujar Datuk sehabis melantunkan si untuang sudah. Duduk bersila dengan Galembongnya yang kedodoran di depan Sidi Jambak.
“Di mana Tuhan ketika kita membutuhkan?” ujar Datuk melanjutkan,” Kata-Nya Ia Maha Pengasih dan Penyayang. Ayo, Sidi, kecek-an di ma Tuhan?”
Sidi Jambak hanya terdiam. Ia menyibuki dirinya dengan melinting rokok daun, di tempat mereka terduduk melepas gundah. Sebuah balai-balai beralaskan tikar pandan. Kemudian menghidupkan rokok daun dengan sebatang korek api, kemudian menghisap-nya dalam-dalam. Wajahnya mengabut dengan kening berkerut. Biji matanya-pun ikut mengerucut.
“Katanya Tuhan telah mengutus manusia sebagai perwakilan dirinya di dunia. Ah, densangko kitokolah Tuhan itu nan sabana-bananyo!”
Hari semakin melarut. Saluang Datuk mulai ditingkahi irama jangkrik dan juga acapella katak. Angin hanya bersiul perlahan mengiringi tarian pepohonan. Rancak dilabuah-pun terasa menggugah.
“Kenapa diam, Sidi? Padahal diammu itu tidak benar sama sekali…” ujar Datuk mengutip baris kalimat sebuah naskah drama.
Sidi Jambak menarik rokoknya dalam-dalam. Matanya yang tajam memandang dalam ke pusaran mata Datuk.Tersenyum sebentar. Ia lanjutkan baris kalimat Datuk.
“Adenko bisanya marah ka sia? Setiap manusia selalu memelihara kebinatangan pada dirinya masing-masing. Selalu saja kita sesalkan Tuhan dalam setiap kekalahan kita. Kita salahkan Tuhan dalam setiap kelemahan kita. Kita pojokkan Tuhan, disetiap kebodohan kita. Ah, aku bisanya marah sama siapa?”
Datuk terdiam. Dia hentikan senandung Malin Deman. Ada rasa enggan dalam anggukan.
“Selalu saja kita menanyakan dimana Tuhan disetiap kegagalan, tapi selalu juga kita melupakan Tuhan disetiap keberhasilan kita,” urai Sidi Jambak melanjutkan,” Terlalu tinggi bahasan kita menanyakan keberadaan Tuhan. Itu urusan iman dan keyakinan jangan dicampur adukkan. Datuk percaya bagus. Datuk tidak percaya itu juga hak Datuk. Tapi jangan ajak orang lain, jangan pengaruhi orang lain, jangan himpun orang lain untuk mengikuti jejak Datuk!”
“Ya, tetapi Tuhan itu terlalu sombong!”
“Wajar! Dan itu memang sudah pantas,” ujar Sidi securam tebing, “ Anak cantik wajar sombong karena cantik, orang kaya masih pantas sombong bersebab kaya, apalagi Sang pencipta bumi wajar sombong sebab Ia telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Termasuk kita dari setetes air hina.”
“Aku menolak!”
“Aku tidak melarang!”
“Mana bukti kalau memang Tuhan itu ada!”
Sidi Jambak hanya menarik naps. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hati sebenarnya ia sangat mengagumi kepintaran sahabatnya ini. Tidak hanya seni dan budaya, tetapi sahabatnya ini juga menguasai tafsir dan hadits. Juga filsafat. Tetapi ketinggian pemikiran menyebabkan ia lupa pada hakikat yang paling dasar.
“Datuk melihat Tuhan dengan apa?”
“Dengan mata tentu juga pikiran. Dan sampai sekarang aku tidak pernah melihatnya setitik pun!”
“Kalau begitu coba jelaskan dengan rinci, dengan, hati apakah Datuk pernah melihat mata, lubang hidung, telinga atau mungkin isi kepala Datuk dengan mata sendiri. Jangan-jangan awak tak memiliki semua itu, jika tidak melihat dengan alat Bantu. Atau jelaskan padaku, bagaimana bentuk lubang kotoranmu sendiri!”
Seperti sebuah cerita baru tentang Bulbul dan mawar merah. Datuk dan Sidi Jambak berbagi peran. Burung bulbul meminta mawar merah. Mawar menjawab, aku mawar putih seputih buih air laut dan lebih putih dari salju di puncak gunung. Aku mawar kuning, sekuning rambut putri duyung yang duduk di atas batu singgasana, dan lebih kuning dari bunga narsisi yang berbunga di padang rumput sebelum penyabit datang. Aku mawar merah, semerah kaki burung merpati, dan lebih merah dari karang besar yang bergelombang di goa laut. Tetapi di musim dingin menyejukkan pembuluh darahku, dan musim salju merontokkan kuntumku, dan angin ribut mematahkan rantingku. Dan kau harus menyanyikan suara musik di bawah sinar rembulan , dan menodainya dengan darah hatimu sendiri. Dadamu harus ditembus duriku sepanjang malam. Dan darahmu mengalir di pembuluh darahku, menjadi milikku.
Burung bulbul mati tertembus duri. Dan mawar merah tercampak ke selokan. Pecinta sejati pergi bersama kereta di kalahkan gaun indah, tali sepatu perak, dan permata yang sangat mahal harganya dari bunga!
Dan burung bulbul itu adalah aku. Lalu kau, kau adalah mawar itu. Betapa aku begitu kesakitan. Bisa kau bayangkan, sejauh mata memandang sejauh itu pula aku datang. Sejauh itu pula aku terbang. Kisah kita ini bukanlah kisah Fabel La Fortane-nya William Sommerset Maugham. Juga tidak kisah Animal Farm-nya George Orwell.
"Kau bukanlah si burung bulbul itu.....!" ujarmu
Aku terkejut. Aku tidak pernah akan menyangka kau mengatakan kata-kata itu lagi. Berkali-kali aku mengingatkan dan akhirnya kau mau menurutinya. Hal itu sudah berlangsung cukup lama. Tapi kali ini setelah sekian puluh waktu, kau mengatakannya lagi.
"Kau bukanlah si burung bulbul itu....!
"Mengapa?"
Kau hanya diam. Aku tidak mau memaksa. Kubiarkan saja kau mempermainkan ujung rambutmu dengan jarimu yang lentik itu. Kau pasti tahu, aku sudah berkali-kali memintamu jadi isteriku. Alasanmu selalu itu, itu saja. Kau selalu mengatakan, aku masih ingin melanjutkan studiku. Aku mengabdi dulu kepada kedua orangtuaku. Aku harus banyak berprestasi. Dan aku ingin mencapai semua keinginanku, cita-citaku. Tetapi, aku tetaplah wanita. Sesekali aku suka tergoda, sebab kerapuhan jiwa. Dan kau selalu menentramkan hatiku pada saat aku setengah beku. Kau rela berkorban apa saja untukku. Segala milikmu adalah milikku, katamu.
"Tapi, kau bukanlah si burung bulbul itu ....!
"Sudahlah katakan saja apa maksudmu!"
"Sebab," kau terdiam sesaat, "sebab aku tidak ingin menjadi si mawar merah!"
Sejak itu kau tidak pernah lagi menampakkan diri. Sementara aku masih dengan rasa setia mencari.
Akulah si burung bulbul yang terus berkelana, mencari si mawar merah. Sepanjang pagi selalu kumulai pencarian ini. Sang fajar selalu menampar-tampar wajahku yang kehilangan sadar.
"Kau bukanlah si burung bulbul.....!" selalu kata-kata itu terngiang.
Kau lupa, aku selalu terbang kemana-mana. Setiap taman selalu kudatangi. Begitu banyak bunga. Begitu ragam warna. Begitu banyak pesona. Sepanjang musim. Kau juga lupa tak satupun yang mampu membuatku tergoda. Selalu aku memintamu.
Bersama angin dan butiran waktu, kusapa bibirmu mencacah kalimat. Kau hanya mengatakan entah. Segala keindahan hujan dan renyai pelangipun telah kupersembahkan untukmu. Lalu senja yang semerah dadamu, mengarak awan beranjak pulang. Hasratku menggeliat, maka cairkanlah aku.
Bersama hijau daun kuarahkan tanganmu menyentuh pekat jiwa. Lalu waktu, katamu gugur di bundaran pipimu. Mengalir, menghanyutkan kisah dan lagu-lagu. Kau sempat menyanyikannya di sela cadas yang kerap mematahkan kita. Genggamanpun terhempas dalam rengkuhan cintaku padamu.
Di sini, terekam beribu arti rindu. Kutambatkan senyummu di gemerlap igauku. Sungguh satu kepasrahan yang menggoda meniti hari. Sulit memahami diri. Masa kanak-kanak telah membuat kita lupa tentang camar yang akan tetap pulang ke samudera. Rangkulkan kebebasan yang rindukan tepian bersama angin, aku renta dalam ingin.
Kuharap kau tidak melupakan harapku yang mulai menguning. Usai hari, usai musim. Seperti dongeng, esok dan nanti adalah harapan dan detak jam adalah penantian.
"Aku tak mau menanti....!" ujarmu lagi.
"Aku tidak memintamu menanti. Aku memintamu."
"Tapi kau bukanlah si burung bulbul itu.....!"
"Selalu itu saja yang kau persoalkan. Akulah si burung bulbul. Aku rela menyanyikan suara musik di bawah sinar rembulan. Aku rela menodainya dengan darah hatiku sendiri. Aku rela dadaku ditembus durimu sepanjang malam. Rela mengalirkan darahku ke pembuluh darahmu, menjadi milikmu!"
"Kau hanya bisa mengobral kata. Sepanjang musim, memang kau terbang kemana-mana. Selalu kau mendatangi taman-taman, memang, sebab kau hanya sekedar tebar pesona."
Aku hanya terdiam. Selalu aku perlu dan kau berlalu. Selalu saja kau perlakukan aku sebagai pesakitan. Kukatakan aku si burung bulbul, tetapi aku bukanlah Sisypus. Sudahlah mungkin saat ini belum berpihak musim pada angin. Kukenangkan engkau saat ini. Kukenangkan butiran-butiran air bergulir setelah hujan awan di matamu. Kau katakan suaraku seperti petir, yang mengundang guntur. Kukenangkan pula saat kau memahat senyum di bukit karang hatiku, yang telah lama membatu. Aku kenangkan pula saat kau terbang bersama awan, ketika kusentuh putik hatimu. Apakah kau kenangkan juga semua?
Sudah berapa ratus kali matahari meninggi. Sudah pula berapa bulan berganti malam. Dan kau tak juga berganti keputusan. Kelopakmu yang begitu segar pada mulanya, perlahan mulai ada perubahan. Perlahan pula menjadi layu, akhirnya.
Aku juga. Pandangan terasa samar. Pendengaran juga berbeda. Padahal setiap fajar, selalu kukunjungi matahari yang perlahan meninggi. Dan setiap senja, aku selalu merasa lebih senja dari bulan. Langkahku mulai tertahan, pelan. Aku yakin, kau juga begitu. Kita sekarang sudah beranjak senja. Aku, si burung bulbul tua, tetap menantimu, si mawar merah yang juga mulai senja.
"Tapi, kau bukan si burung bulbul....!" ujarmu terbata, ketika kukunjungi kau yang rebah pasrah di ranjang pesakitan.
"Sudahlah. Aku tidak mau lagi berdebat denganmu, apakah aku si burung bulbul atau bukan. Kau si mawar merah atau bukan," aku menarik nafas panjang,"sekarang jawablah, untuk yang kesekian ratus kali, apakah kau mau menjadi isteriku?"
Kau terdiam. Kau tidak bisa lagi melontar kata. Tak bisa berkata tentang keinginan mengabdi kepada orangtua, sebab mereka telah tiada, dan kita telah menempati posisi ketuaan mereka. Bersamaan ketika kita mulai menjenguk senja. Begitu juga, kau tidak bisa bicara tentang masa depan, yang kau sendiri sudah berada di ujung jarumnya. Atau tentang cita-cita yang kau sendiri mungkin telah melewatinya. Itupun jika kau bicara tentang karir. Dan jika cita-citamu tentang bahtera rumahtangga, maka inilah saatnya.
Matamu mulai berkaca. Kau masih tetap keras kepala. Tak bisa bicara apa-apa. Pandangankupun mulai berawan. Aku sadari, walau durimu telah rontok satu-satu, kau tetap berusaha berdiri di karang hatimu. Kau si mawar merah yang tak lagi semerah kaki merpati, apalagi semerah karang besar yang bergelombang di goa laut. Di musim dingin mulai membekukan pembuluh darahmu, dan di musim salju tidak hanya merontokkan kuntummu, tetapi juga duri-durimu. Angin ribut selalu mengintip bersama jubah kematian, bersamaan dengan patahnya satu persatu ranting dan daunmu. Sementara, aku sudah terlalu tua untuk menyanyikan suara musik di bawah sinar rembulan. Darah hatiku telah lama mengering. Tak ada tempat di dadaku untuk ditembus durimu sepanjang malam, sebab semuanya telah hancur bersama durimu yang melebur. Darahku tidak lagi mengalir di pembuluh darahmu, sebab semuanya telah menjadi milikmu.
Dan waktu juga yang akhirnya angkat bicara. Kau telah membangun pusara dengan nisan sebagai gapura, dan aku mengalirkan sungai tangis mencari tempat muara. Rinduku yang melaut mulai direnangi maut. Seketika aku seperti mengurai lembaran mimpi-mimpi. Kulihat kau berubah bidadari. Merentangkan tangan, tersenyuim memanggilku.
"Kemarilah, Bulbul. Aku si mawar merah kini telah siap menghias taman hatimu....!
Aku segera meraihmu. Dalam hati, aku merangkai puisi. Dan jika ini memang mimpi, aku tidak rela bangun lagi.
***
Datuk terdiam. Sidi Jambak berdiri. Ia perlahan pergi. Ketika pagi mulai mengintip hari. Sejak itu Datuk tak jua menjaring sua. Kabar terakhir ia dengar Sidi Jambak merajut dakwah ke daerah-daerah. Lalu membangun jamaah di Medan. Sedangkan Datuk gerilya dengan nuansa pikirannya. Ia sulam kekuatan dengan pemikiran bersama referensi yang tajam, sampai terdampar di Medan.
Selama di Medan Datuk menjadi penarik becak sekadar berbagi kalam. Hingga suatu ketika akhirnya berjumpa dengan Gambing yang punya cita-cita masih berbanding.
“Mari kita gugat Tuhan” hentak geraham berdentam dari mulut Gambing yang sedikit sumbing,” Sudah satnya kita menggugat, Tuhan!”
Datuk terkesiap. Ia alunkan saluang. Senandung laruik sanjo terlantun kembali. Kali ini lebih menyayat mengiris hati.
Malam hampir mencapai titik nol we-i-be ketika salah seorang undangan menjawab dengan sangat biasa diwarnai aura memesona.
“Jelaskan dulu padaku bentuk lubang kotoranmu, sebelum kita menggugat Tuhan!”
Datuk kembali terkesiap. Irama dadanya berdegap matanya menebar pandang ke undangan. Seorang anak muda sambil menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokok telah menggugah raganya. Alunan saluang mulai gagap. Pikirannya menguap.
Dalam pikiran yang gersang. Pepohonan apa yang hendak ditanam. Tak ada bunga. Apalagi buah. Bertebar bibit di bulan sabit. Bertabur harap dalam makrifat. Jerit hati yang sakit. Berharap menjaring semangat. Wahai, apakah Tuhan ada dalam ada dan tiada?
Bayangan Sidi Jambak melintas-pintas. Dengan lintingan tasbihnyanya, di tempat mereka biasa terduduk melepas gundah. Sebuah balai-balai beralaskan tikar pandan. Me-rapalkan zikir, lalu mengurai do’a-do’a. Wajahnya membening dengan dahi semakin bersih. Bola matanya-pun kini seperti membiaskan cahaya.
***
“KAU siapa?"
"Itulah, kau selalu berpura-pura. Padahal sejak dulu kita selalu bersama. Susah senang, pahit getir, manis-asin kita reguk bersama".
"Betul. Aku tidak main-main. Aku memang tak kenal sama kau. Sumpah. Kau masih asing bagiku".
"Jangan mudah bersumpah, kawan. Nanti kau termakan sumpahmu. Lidah itu berbisa dan tidak bertulang. Lidah itu biasanya melebihi binatang".
"Apa kau menuduhku binatang?!.
"Ha…ha…ha….! Kau sudah tuli rupanya, siapa yang menuduhmu binatang. He, ingat tuhan memberimu dua telinga, itu berarti kau harus lebih satu kaliuntuk mendengarkan hal-hal apa yang terjadi dilingkunganmu."
"He, bangsat ! jangan membawa-bawa nama tuhan. Siapakau sebenarnya? Jangan sok alim,sok jago, sok ustad. Belum tentu tabiatmu lebih buruk dari aku. Kau bukan kiai,sok alim, jangan khotbah disini. Tutup mulutmu dan cepat tinggalkan tempat ini. Sebelum kemarahanku muntah!".
"Sabar-sabar dulu teman. Jaga mulutmu,mata, telinga,tangan, kaki. Masih juga kau langgar. Mulutmu masih sering menghamburkan busa, memfitnah orang lain. Bicarangalor ngidul tak tak tahu arah. Kau anggap orang lain bisu.begitu juga dengan matamu. Kau masih memandang secara harfiah. Keindahan dunia. Semua wanita cantik, mulus, sintal, kilauan permata, sutera.dari sinilah kau jadi mencintai dunia".
"Cukup. Tutup mulutmu dan enyahlah dari sini. Aku muak ! ".
"Tunggu . aku aku belum selesai ngomong. Ini demi kebaikan kita bersama".
"Kita? Ha? Apa kau tak salah dengar?"
"Ya, dan aku tak tuli,kan?"
"Aku sering menjerit menasehatimu setiap saat. Ketika kau melenceng dari kebenaran yang telah kita sepakati bersama, ketika tangis pertamamu pecah. Waktu itu tanganmu masih mungil".
"Kau makin sinting saja".
"Dengar dulu, tangan dan kakimu mungil dan berwarna merah itu. Kini telah kau lumuri dengan lumpur. Bukan sembarang lumpur lagi. Namanya lumpur dunia. Dosa. Saat kau telah mampu menggenggam dan mengepal jemarimu. Kau meraup apa saja. Kau menonjok siapa saja. Kau merasa sok jago. Kepada yang lebih kecil kau menindas. Kepada yang lebih tinggi kau tak segan-segan untuk menjilat. Kau tak ragu-ragumeraup kerikil yang bertebaran di sungai tercemar yang kau anggap sungai madu. Apakah kau tak pernah berpikir? Siapa dirimu?dari mana asalmu? Dan hendak kemana kamu? Mengapa kau masih sering keluyuran di jalan-jalan hitamberlumpur dan berdebu? Apakah kau tak melihat? Semut-semut yang merangkak menuju keabadian? Apakah kau tak mendengar? Simponi-simponi keindahan yang mengalahkan lagu seluruh ciptaan manusia? Mengapa kau tak pernah menyisakan sedikit waktu untuk merenungkan kata-kataku ini barang sejenak? ".
"Sudah-sudah. Bising sekali suaramu!.
"Jangan kau gunakan telinga nafsumu. Pasang mata,telinga batinmu. Buang seluruh kenikmatan dunia".
"Tapi….?".
"Bangkitlah. Jangan kau tunda-tunda lagi mumpung ada kesempatan.kereta api terakhir masih jauh. Matahari masih mau bangkit. Bangkitlah. Cepat".
"Kau,kau, pasti keliruya, aku bukan orang yang kau maksud. Karena aku merasa berjalan pada rel yang benar. Aku orang baik-baik. Aku bukan pencuri. Aku bukan koruptor. Sebagai meslim aku cukup taat. Sholat lima waktu tak pernah tinggal. Aku sering sedekah, untuk fakir, miskin, jangan tnya lagi. Apa kau selama ini taqk tahu, aku sedang mempersiapkan biaya. Tahun depan insya allah aku akan anik haji. Apalagi?".
"Jangan mencoba menyulam angin. Tong kosong nyaring bunyinya.; air beriak tanda tak dalam. Kamu egois. Kau tak perlu melambung-lambungkan pribadimu. ]itu tak baik. Berpura-pura menjadi orang baik-baik ketika ada di mesjid.tapi giliran di jalan, di pasar, di pub, kau munafik".
"Makin bodoh saja kau".
"Apa? Aku bodoh, dungu? Ha…ha…ha…! Aku justru pada saat sekaraqng ini berada pada puncak kebenaran. Aku sudah menjadi manusia sempurna. Telah bertahun-tahun, aku mencari kebenaran yang sejatii.itu semua telah membawa hasil. Aku bisa meniti keberan itu sebagaimana kau menitinya. Akulah aku. Akulah hallaj".
"Jangan ngawur kau. Tahu apa kau tentang Al-hallaj. Kaji kaji alif saja belum becus. Sudah membawa –bawa nama besar itu".
"Barang kali kau lupa.bukankah pada minggu ini aku sedang belajar kaji diri. Dimana ada empat unsur alam yang ada pada manusia. Air,tanah,udara, dan api.kelak manusia akan kembalimenjadi empat unsur tadi. Dari air kembali ke air,tanah kembali ke tanah, angin kembali ke angin, begitu juga dengan api".
"Coba terangkan lebih rinci?".
"Kau justru lebuh tahu".
"Kau mulai melunak? Syukurlah. Hati-hati kau. Kalau kau tak mampu mengendalikan empatunsur tadi. Kau bisa celaka. Atau kau paling tidak akan jadi sinting".
"Oh tidak mungkin. Aku sekarang angin,aku sekarang api, aku sekarang bumi, dan aku sekarang air. Aku mengapung di lautan luas. Aku berjalan disungai syariat menuju samudera ma’rifat, melalui udara tarekat. Aku menuju bukit hakekat".
"Gila kau ".
"Kau yang sinting".
"Hentikan ocehanmu".
"Tidak, ini sudah menjadi kewajibanku. Aku harus selalu bersamamu".
"Apa maumu sebenarnya? Aku kalah sekarang. Cepat sampaikan maksudmu?".
"Hiduplah!".
"Hanya itu".
"Ya".
"Gampang".
"Tunggu dulu. Itu berarti kau belum ikhlas. Kau belu siap. Kau masih ragu-ragu terhadapku. Kau penuh curiga. Cintamu hanya separo-separo terhadapku . Kau terlalu menggampangkan masalah cinta. "
"Cinta? Kita bercinta rupanya?"
"Kau belum ketemu juga. Susah ngomong sama kau".
"Oke-oke aku sudah siap".
"Endapkan seluruh pikiranmu ke dalam kalbumu paling dalam".
"Kau raba debaran jantungmu. Pejamkan mata, tutup semua panca indra. Lenyapkan rasa dan karsa dunia. Rasakan. Kau dan aku begitu dekat. Begitu erat. Kita satu. Kau adalah aku dan aku adalah kau. Jangan mengembara terlalu jauh. Aku sedih bila kau selalu melupakanku. Kau sering berpaling dari suaraku. Kau kadang membuat aku stress. Apa yang kau lakukan sering melenceng dari perjanjian semula . Sekarang kau sudah tahu di mana aku bersemayam.? Ya, disitulah aku bersemayam".
"Aku jadi takut".
"Terlalu dini kau buat kesimpulan. Itu namanya kau masih kuat mengendarai nafsumu. Ingat kau jangan mau dikendalikan nafsumu.Seharusnya kau yang mengendalikannya. Pelan-pelan kau berjalan. Lihat di depanmu itu kebun apa?"
"Kebun anggur?"
"Bukan itu bukan kebun anggur. Itu hutan lebat yang masih perawan. Banyak binatang buas. Hati-hati. Gunakan mata, telinga, tangan, kaki batinmu. Sering-seringlah memberikan semua itu kepada sesama mu. Masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan. Berikan tongkat kepada orang yang berjalan dijalan licin. Berikan obor kepada orang yang kegelapan. Dengan demikian kau akan menjadi manusia yang hidup. Hidup itu indah. Tapi ingat, kau sedang belanja di pasar sore. Sebentar saja waktumu. Matahari di dadamupun akan redup sinarnya. Ingat, pasar sore. Belilah seperlumu. Cinta, ya hanya dengan itulah kau akan bahagia. "
"Cinta dunia ya itu aku suka".
"Bukan itu hanya sarana. Alat. Untuk ke sana".
"Aku belum mau mati".
"Kau masih takut mati rupanya. Siapa bilang kau akan mati. Aku sendiri tak tahu kapan matimu. Itu rahasia-Nya".
"Aku bukan takut mati. Cuma belum siap. Aku harus mengantar anak-anakku ke masa depan yang lebih gemilang. Aku belum punya ini. Aku masih mau itu. Pokoknya aku belum siap
mati. "
"Siap tidak siap kalau sudah saatnya, kau harus berangkat".
"Ya, itu aku sadari betul, bahwa setiap yang bernafas pasti akan mati".
"Syukurlah, kau sudah sadar".
"Aku dari dulu sadar, waras, aku tidak gila".
"Mau kucabut nyawamu sekarang?’
"Tidak….!Siapa kau?"
"Kau siapa?"
"Kau?"
"Aku…?"
"Kita satu kawan".
"Kau adalah aku dan Aku adalah Kau".
***
Selalu ada saja yang mengetuk-ketuk daun pintu. Tapi nyatanya hanya angin yang mengelus wajahmu perlahan. Dan malam sekadar meninggalkan rimah-rimah kalam
“Ah, kaukah itu? Atau aku yang terlalu menggunung rindu?”
Cerpen Di Penghujung Ramadhan karya Raudah Jambak
Dua tahun sudah aku berada di kota ini. Dua tahun pula aku tidak pernah mendengar kabar berita tentang teman-teman maupun saudaraku. Dan hal itu sedikit agak menegangkan hatiku. Hidup dengan suami dan dua orang anak membuat hatiku sedikit tentram. Berhari-hari kujalani kegiatan rutinku seperti biasa.
Anak-anakku yang masih kecil-kecil memang sedikit agak merepotkan aku, sekaligus calon bayi dalam kandunganku, membuat kegiatanku agak terbabani. Sementara suamiku masih juga belum mendapat lowongan kerja sampai hari ini.
Sudah lama aku ingin bekerja, jika saja suamiku mengizinkan. Dengan berbekal sarjana pendidikan, aku yakin dapat diterima sebagai guru. Tapi suamiku selalu melarang dengan alasan bahwa laki-lakilah yang harus mencari nafkah, sedangkan perempuan berada di rumah mengurus rumah tangga. Sebagai istri yang baik, aku berusaha untuk selalu patuh, walau kadang hati ingin merontak untuk membantu suami mencari nafkah. Lagi-lagi aku ragu.
Sebenarnya aku tahu kalau suamiku tidak keberatan kalau aku bekerja,tapi ada perasaan malu, dan aku memahami itu. Ijazah SMA yang selalu jadi andalannya sulit untuk menjadi dewa penolong baginya, dan aku selalu menenangkan agar ia tidak pernah putus asa. Dan keadaannya itulah yang selalu dipertentangkan oleh orang tuaku ketika, Amran, suamiku datang untuk melamar. Kerja dimana? Tamatan universitas mana? Dan sebagainya.
Karena perasaan cinta yang menggebu-gebu, akhirnya orang tuaku tidak bisa berbuat apa-apa setelah kukatakan aku tengah mengandung. Pesta pernikahanpun diadakan sesederhana mungkin. Akhirnya aku menyandang titel sebagai Nyonya Amran. Seminggu setelah acara pernikahan itu aku diboyong suamiku pindah ke kota ini.
Perasaan hancur dari kedua orang tuaku dapat kurasakan. Paling tidak untuk beberapa lama perasaan malunya, kami coba untuk menghilangkannya dengan cara pindah kekota ini.
Awalnya memang terasa berat, tapi akhirnya semua dapat kuatasi. Paling tidak untuk saat ini, walau sebenarnya dalam hati aku rindu dikunjungi dan mengunjungi.
"Sunyi ya, bang?" ujarku ketika kami duduk sehabis makan diruang tamu.
Suamiku hanya diam. Dia mengerti perasaanku. Dia cuma mengelus-elus rambutku, sambil memandang kedua anak kami yang kejar-kejaran di depan kami. Kuarahkan tangannya menuju perutku yang tinggal menunggu waktu kelahiran anak ketiga kami tiba.
Tidak terasa sebentar lagi hari raya Idulfitri tiba. Itu berarti sebentar lagi aku akan ikut menerima jula-jula yang dikumpulkan Bu Aini, tetangga kami, sebelum puasa. Aku penerima nomor pertama. Dan aku akan segera bersiap-siap untuk menghadapi kelahiran bayiku yang ketiga. Uang jula-jula itu akan kusumbangkan sebahagian ke panti asuhan yang kebetulan tidak jauh dari rumah kami.
"Sunyi, ya bang." Ujarku kembali memecahkan kesunyian. Dia memang agak pendiam, ditambah beban yang ditanggungnya. Keterdiamannya begitu terasa, dan aku selalu berusaha mengajaknya untuk sejenak melupakan segala beban yang tengah menimpa.
"Abang merasa kesunyian, nggak?" kembali aku berujar. Dan kali ini sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya. Sementara anak kami satu persatu sudah terbuai dengan mimpinya, akibat kelelahan berlarian kesana-kemari. Untungnya walaupun mereka tidak punya teman sebaya, tapi mereka terlihat akur satu sama lain.
Suamiku kemudian pelan-pelan bergerak, mengangkat satu persatu anak kami ketempat tidur. Dua anak laki-laki yang lucu-lucu dan baik hati. Penerus keturunan suamiku yang kebetulan anak satu-satunya di keluarganya. Dan untuk anak ketiga ini dia ingin sekali mendapatkan anak perempuan.
Sehabis memindahkan anak-anak kami ketempat tidur, suamiku bergerak pelan ke arahku. Disentuhnya ujung rambutku dengan tangannya yang kekar. Lalu diciumnya dengan lembut. Begitu pula dengan dahiku, pipi, bibir dan berakhir di permukaan perutku yang menggembung. Aku menggeliat. Bukan lantaran ciuman lembut suamiku, tetapi bayiku yang tiba-tiba bergerak merespon ciuman lembut ayahnya. Suamiku lantas duduk disisiku sambil menyentuh lembut telingaku dengan hidung mancungnya.
"Dian….," bisiknya pelan, "Kamu takut kesepian? Takut tidak mendapatkan tamu? Kamu rindu ayah-ibumu?"
Aku tercenung mendengar pertanyaannya yang beruntun. Tapi demi melihat wajahnya yang sungguh-sungguh, aku mengangguk.
"Kamu masih sabarkan?" ujarnya lagi.
Aku mengangguk kembali.
"Kamu mau mengizinkan abang pergi tiga hari pergi mencari uang? Paling tidak untuk ongkos kita berangkat ke sana. Paling lama sebelum shalat idul fitri, abang sudah kembali."
Kembali aku yang terdiam. Aku membayangkan, suasana selama ini sudah sangat sunyi, apalagi tanpa suami untuk beberapa hari? Bayang ketakutan sepertinya mencekikku. Kupandang wajah suamiku dalam-dalam, ada semacam perasaan menyesal terpancar disana. Menyesal telah mengatakan sesuatu yang selama ini ditahan-tahannya. Tapi rasa cinta yang mendalam membuat kekuatanku berangsur hilang. Aku mengangguk.
"Kalau kamu keberatan, aku tidak menyesal membatalkan semuanya."
Segera kututup bibir suamiku dengan jari-jariku. Aku menggeleng. Kucium pipinya dengan lembut. Lalu kusandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang.
"Kamu jangan merasa terpaksa." Tangannya membelai lembut ujung rambutku.
"Aku tidak merasa keberatan, Bang," ujarku pelan, "Mungkin setelah ini terjadi perubahan pada hidup kita."
"Mudah-mudahan."
Jangkrik malam melantunkan lagu tembang kenangan. Angin malam telah pula merangkaikan nadanya. Bulan bertindak sebagai komposernya.
* * *
Malam ini perutku terasa nyeri. Bayi dalam kandunganku mulai meronta. Suamiku belum juga pulang. Mataku sempat memandang jam di dinding tepat pukul 01.30 WIB. Anak-anakku masih tertidur pulas.kucoba untuk menahan sampai pagi tiba, tapi ternyata tidak bisa. Mataku tak mau diajak tidur. Begitu duduk rasa sakit semakin tak terkira. Kusebu-sebut nama suamiku agar ia pulang segera. Tapi masih juga tak membantu. Ingin rasanya membangunkan kedua anakku tapi tak tega rasanya memandang wajah yang tentram itu. Pergi minta pertolongan tetangga, aku takut terjadi apa-apa ditengah jalan. Terbayang wajah ibu. Teringat ayah. Terkenang teman-teman dan saudara. Rasa sakit masih juga tidak mebantu, malah semakin menjadi-jadi
Tok…tok…tok.
Aku terkesiap. Takutku menjadi. Segera aku naik ketempat tidur dan memeluk anak sulungku yang menggeliat sebentar kemudian kembali kelihatan tenang.
Tok…tok…tok.
Kali ini kekuatannya agak keras. Aku berharap yang mengetuk pintu suamiku, tapi jika orang lain. Syukur-syukur gadis remaja tetangga yang sering datang membantu, tapi jika tidak?
Tok…tok…tok.
Peluhku mencucur deras. Tubuhku basah dipenuhi keringat. Rasa sakit tidak kunjung hilang. Kurasakan ada sesuatu yang keluar dari selangkanganku. Ketakutanku menjadi-jadi setelah darah ketubanku mulai membasah. Tubuhku tiba-tiba lemas. Pandanganku terasa gelap. Dan selebihnya aku tidak tahu sama-sekali.
Sekejap saja, aku merasa berada di sebuah pesta. Begitu banyak orang disekelilingku. Anehnya, semua memberi selamat dan menyalamiku. Aku Cuma berdiri terpaku menerima salam dan ucapan selamat dari mereka. Tamu-tamu hadir, mengalir tidak henti-hentinya. Dan dari semua tamu yang kuperhatikan, ada satu yang berpakaian agak lain dari yang lain. Dan tingkahnya tidak pula seperti yang lain-lain yang begitu menikmati suasana pesta. Dengan jubah putihnya, dia hanya melemparkan senyum ke arahku. Dalam pandanganku aku seperti mengenalnya. Pemuda dewasa yang bersahaja.
"Kak, bangun. Kak, bangun kak. Kak."
Aku segera membuka mata. Segera kutebarkan pandanganku ke segala penjuru.
"Dimana aku? Dimana suami dan anak-anakku, ….…" tiba-tiba mataku tertuju ke arah perutku, "Mana kandunganku…?"
Aminah diam. Dia tidak tahu harus bicara apa. Walau akhirnya dia buka suara. Pelan, namun pasti, dia bercerita bagaimana menemukan aku tergeletak diatas tempat tidur dengan iringan jerit tangis kedua anakku sementara darah sudah memenuhi tempat tidur. Bagaimana aku dibawa ke Rumah Sakit masih dalam keadaan tidak sadar. Bagaimana anakku menangis sepanjang perjalanan. Bagaimana bayi perempuanku, menghembuskan nafas satu jam setelah persalinan. Dengan lugunya ia bercerita pelan, namun panjang lebar.
"Dan juga….," Aminah berhenti bercerita.
Air mataku mengalir deras. Aku mencoba bertahan, bersikap tegar. Suara takbir mengalun syahdu. Air mataku tak terbendung.
"Ke..ke..kenapa kamu berhenti. Aminah? Teruslah bicara. Kakak akan tabah mendengarnya. Apakah kakak nomor jula-jula kakak yang pertama dibatalkan?"
Aminah menggeleng. Dia terlanjur menangis. Air matanya mengalir. Dia mungkin tidak sanggup mendengarkan dan menceritakan penderitaanku yang beruntun.
"Lantas apa, Minah…" aku memeluknya menangis bersama. Takbir tetap mengumandang.
"Abang, kak…." Aminah menahan tangisannya.
"Kenapa, Minah? Kenapa Abang? Abang sudah pulang? Mana Abang Minah? Mana?"
Aminah dengan terbata-bata menceritakan bagaimana Abang ditemukan telah menjadi mayat. Diduga dibunuh dan dirampok. Aku tidak bisa lagi menahan duka, jeritku seketika membahana dan tidak berhenti sebelum mendengar seorang pemuda tampak mengucapkan salam. Pakaiannya mengingatkan aku dengan dengan mimpiku semalam di sebuah pesta. Dan aku seperti mengenalnya dan sangat mengenalnya. Dia persis Amran, suamiku, dengan jubah putihnya ia melambaikan tangan pada ku, memanggilku. Penderitaanku seketika lenyap. Aku merasa sangat tenang, sangat damai.
Dipelukannya seorang bayi perempuan menjulurkan kedua tangannya padaku, minta kugendong. Aku merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Dua orang tamu tercintaku datang memenuhi janji di malam takbir ini. Seketika kurasakan tubuhku terasa sangat ringan. Entah kekuatan dari mana, kami sudah berpelukan di angkasa. Sempat aku melirik Aminah yang tengah memeluk seonggok tubuh kaku, berurai air mata. Sempat aku melirik dua orang bocah laki-laki yang tengah tertidur lelap, bersebab kelelahan menangis, persis seperti anakku. Sempat aku memanggil Aminah, tetapi dia tetap diam saja. Dia masih memeluk erat tubuh kaku di hadapannya sementara takbir terus berkumandang, mengantar sepanjang perjalanan. Aku, suami, dan anakku.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar……..
Cerpen Sahur Hari Pertama karya Raudah Jambak
Petang ini suasana begitu terasa syahdu. Betapa tidak dengan suasana temaram, lampu yang mati dan sebatang lilin yang menyala di tengah hidangan untuk berbuka puasa. Lampu belum juga hidup seperti perjanjian sebelum datangnya bulan Ramadhan. Beberapa kelompok aktivis masyarakat mendatangi kantor pusat PLN menyerukan agar selama pelaksanaan puasa PLN jangan memadamkan listrik. Dan ternyata janji masih sekedar janji, hal-hal politis lebih dominan menghancurkan nurani.
Sambil menunggu kumandang azan aku kembali membuka halaman-halaman masa lalu yang belum sempat terbaca. Lampu yang temaram dari sepotong lilin kecil.Aliran listrik yang masih belum menyala. Dan kesendirianku ditinggal orang yang paling kusayangi. Kecintaanku melebihi segalanya, sehingga aku memutuskan untuk tetap sendiri. Tapi, Nurhasanah? Ah, sudahlah. Aku menganggapnya sebagai adik saja, karena memang dia adalah adik iparku, satu-satunya, karena memang mereka hanya dua bersaudara. Dan perhatiannya selama ini, aku anggap sebagai luapan kerinduannya kepada kakak yang paling disayanginya.
*****
Beberapa hari belakangan ini jalanan mulai kelihatan sibuk. Sering terjadi kemacetan. Terutama di persimpangan-persimpangan jalan. Apalagi ketika jam-jam sibuk. Pagi, misalnya persis ketika anak-anak sekolah berangkat ke sekolah. Atau para pedagang maupun pegawai yang pergi menuju ke tempat tugasnya.
Selain itu, jam-jam sibuk ketika para pedagang, pegawai maupun anak-anak sekolah kembali dari tempat tugas atau tempat belajarnya. Pemandangan seperti itu acap sekali terlihat. Terkadang ada peristiwa-peristiwa yang sebenarnya cukup membuat kita terharu, tetapi karena peristiwa yang berlangsung itu sudah beberapa kali kita lihat, maka jadi terkesan biasa.
Suasana seperti itu lebih menarik perhatianku untuk terus berkarya daripada meli-hat atau mendengar berita dari TV maupun radio. Berita para pejabat yang bagiku hanya cara untuk menutup-tutupi kebohongan mereka atau upaya untuk membodoh-bodohi rakyat. Terlebih lagi berita-berita di media massa yang sanggup membuat bulu kuduk kita berdiri.
Ada yang sok pahlawan, merasa pintar sendiri, cari untung sendiri dan masih banyak hal lain yang bagiku justru bukan untuk meredam suasana, tetapi untuk mem-bakar suasana secara tidak langsung. Provokator terselubung. Provokator yang ber-sembunyi dibalik topeng media. Provokator yang kita sendiri tidak tahu apa maunya.
Aku yang sudah terbiasa dengan berita-berita seperti itu, sudah terbiasa dengan suasana kemacetan di jalan raya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Mengelus dada. Aku lebih baik mengurusi kepentingan perutku yang sejengkal ini, di kios yang kubuat sendiri yang ukurannya tidak selebar kios-kios yang lain.
Sengaja aku memilih tempat di sekitar dan tidak jauh dari lampu lalu lintas perempatan jalan. Dengan peralatan yang sederhana dan seadanya, maka sebuah kios kecil persis di bawah halte akhirnya terbangun. Aku hanya menjual beberapa kebutuhan anak-anak sekolah yang kebetulan tidak berapa jauh dari halte. Setelahnya beberapa teman juga mendirikan kios-kios dengan usaha yang berbeda.
Sudah lebih satu tahun aku berdagang kecil-kecilan di situ. Kalau dibilang untuk mencari duit, memang betul. Jika dibilang untuk mencari kesibukan juga ada benarnya. Pasalnya, aku lebih suka merenung dan melahirkan karya-karyaku di tempat itu. Di tambah lagi bebrapa minggu belakangan ini jalanan tidak seramai bia-sanya. Justru lebih dari sekedar ramai. Beberapa minggu belakangan ini terutama ibu-ibu dan remaja putri rajin mendatangi pusat-pusat perbelanjaan untuk persiapan puasa sekaligus lebaran. Selain itu untuk bulan ini ada juga suasana natal dan tahun baru.
Isteriku yang biasanya menemaniku menjaga dagangan juga mulai sibuk menda-tangi pusat-pusat perbelanjaan. Aku hanya bisa diam memandang kesibukannya yang baru. Dan justru aku merasa sedikit tenang dan leluasa merenung dan melahirkan kar-ya-karyaku. Tema-tema yang kulahirkan pun tidak jauh dari lingkungan sekitar tem-pat aku berdagang.
Tentang kecelakaan dan tabrak lari. Tentang tawuran antar pelajar dari sekolah yang tak jauh dari tempat usahaku. Tentang pencopetan atau perampokan. Tentang badan lalulintas jalan yang selalu dibongkar dengan alasan perbaikan aliran air yang rusak. Dan masih banyak lagi. Kutulis dalam bentuk puisi, cerpen, maupun artikel.
"Bang, rokok!"
Aku yang sedang menulis puisi segera bergerak melayani pembeli. Aku sedikit terkejut, walaupun akhirnya aku hanya bisa tersenyum. Aku hanya perlu maklum. Kadang persoalan seperti inilah yang selalu menantangku untuk menimbang-timbang kebenaran karya-karyaku. Atau misi suci yang diembannya. Seorang anak laki-laki yang diapit seorang anak perempuan berseragam abu-abu.
"Rokok, Bang!" anak lelaki itu menyodorkan selembar uang lima ribuan,"tiga batang."
Dan ternyata kenyataan telah memenangkan pertempurannya dengan nuraniku. Dua pelajar itu meluncur dengan kemesraan yang luar biasa di atas sepeda motornya. Hal itu berlangsung secara terus menerus. Bermain-main dipuncak kepala.
* * *
"Bang ,tidak ke kios?’
Aku hanya menggeleng.
"Lho, kenapa?"
Aku tetap menggeleng.
"Kenapa sih?" Istriku mendekatiku,"Abang sakit?"
Aku tetap diam. Sebenarnya aku tidak apa-apa, hanya malas. Suasana hatiku memang tidak menentu. Besok permulaan puasa dan nanti malam tarawih pertama. Semua perlengkapan sudah dipersiapkan istriku untuk seminggu penuh. Rendang, ayam gulai, ikan bakar juga sudah dipersiapkan istriku untuk sahur hari pertama puasa. Dia sempat berpesan supayaaku tidak lupa membangunkannya untuk memanaskan makanan yang sudah disiapkan.
"Sengaja aku memasaknya dulu, supaya ketika sahur tidak perlu masak yang macam-macam. Cukup menanak nasi dan memanaskan semua teman nasi," pelan ia mencium pipiku yang masih malas-malasan,"Jangan lupa ya, Bang. Bangunkan!"
Sayup-sayup kudengar pintu depan terbuka lalu ditutup kembali. Istriku yang keluar. Aku tidak tahu kemana. Hari ini sengaja aku tidak ke kios. Padahal hari ini, hari terakhir anak-anak sekolah, belajar. Biasanya mereka selalu jajan banyak sebelum berpuasa besok harinya. Dan sengaja tidak kubuka. Aku sudah terlanjur muak dan bosan. Muak terhadap diriku yang akhirnya putus sekolah. Bosan aku melihat para pelajar itu yang tidak pernah mau serius belajar.
Mudah-mudahan saja mereka tidak mengalami nasib seperti aku, drop out dari sekolah. Bukan karena nakal, tapi karena tidak sanggup membayar uang sekolah. Pelan-pelan aku bergerak menuju ke arah meja. Aku ingin menulis puisi. Mencari se-carik kertas yang sebelumnya telah tertulis beberapa ungkapan puisi dan aku ingin menyempurnakannya sebelum menulis puisi baru.
Berulangkali aku membongkar isi laci dan yang kucari tak kudapat. Aku mengingat-ingat secarik kertas yang telah kutulis puisi. Ungkapan batinku. Dan aku berpikir kemungkinan puisi yang sudah kutulis tertinggal di kiosku. Aku berbalik dan bergerak ke arah pintu bersamaan dengan suara ketukan yang terburu-buru dari arah pintu. Mungkin itu istriku.
"Bang. Bang. Bang! Buka pintu!"
Aku terpaku. Itu bukan suara istriku.
"Bang, buka !" suara itu berteriak keras,"Istri Abang, Bang!"
Aku terkesiap. Ada perasaan yang tidak enak. Segera kuraih kunci lalu membuka pintu.
"Istri abang kecelakaan!"
"Apa?! Dimana?!" aku segera mengajaknya bergegas.
"Di depan kios Abang . Di jalan besar itu. Mungkin sedang menyeberang menuju kios?" lelaki remaja itu menjelaskan dengan terburu-buru, "Kakak ditabrak sudaco. Sekarang di rumah sakit!"
Aku merasa geram. Aku merasa benci. Kesal. Menyesal. Aku hanya bisa berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada istriku. Kami segera beranjak menuju ke rumah sakit. Dan tidak berpikiran apa-apa lagi tentang puisi-puisiku. Apalagi kiosku. Ternyata kenyataan kembali menggedor-gedor nuraniku. Kenyataan kembali tampil sebagai pemenang.
"Di mana ruangannya, Din?"
Udin, anak lajang tetangga sebelah hanya menunjuk pos perawat. Sambil menarik tanganku, kami bergegas masuk ke ruangan rumah sakit. Bergegas menuju perawat yang sedang piket.
"Pasien perempuan yang baru saja dibawa kemari, di ruangan mana, Mbak?"
"Oh, pasien yang jadi korban kecelakaan tadi?" kami serentak mengangguk, "Ruangan 33. Lantai dua, persis di depan tangga naik."
"Terimakasih, Mbak."
Aku segera menarik tangan Udin menuju tempat yang dimaksudkan perawat. Di kiri-kanan penuh dengan ruangan-ruangan yang berisi pasien yang sedang dikun-jungi sanak-familinya. Warna putih-putih yang dominan memenuhi seluruh ruangan menjadi warna ketakutanku. Warna kecemasan. Begitu sampai, kami melihat seorang wanita yang berpakaian dokter dengan beberapa perawat.
"Bagaimana, Dok?" aku memberanikan diri bertanya.
"Anda siapa?"
"Saya suami pasien yang ada di kamar pasien itu. Suaminya!"
"Oh, syukurlah. Anda sudah datang. Kami kuatir pasien ini tidak ada keluarganya yang datang menjenguk."
"Lantas, bagaimana, Dok?"
Hening sejenak.
"Maaf, Pak," dokter itu terdiam sesaat,"Kami sudah berusaha. Istri Bapak..."
"Kenapa dengan istri saya? Kenapa, Dok?!"
"Maaf, Pak." Dokter dan para perawat berlalu.
Aku segera memasuki ruangan. Di dalam kudapati isteriku yang sedang ter bujur kaku. Di wajahnya masih tertinggal seulas senyuman. Aku tidak bisa melukiskan perasaanku. Air mataku mengalir deras. Tangisku tertahan. Aku takut menjerit. Aku takut histeris. Aku takut arwah istriku tidak mendapat ridho Allah.
Isakku tak terkendali. Sayup-sayup mengumandang suara azan. Sayup-sayup terdengar suara binatang malam. Sayup-sayup suara langit meneteskan kesedihan. Sayup-sayup terdengar kentongan, terbayang sahurku di tengah makam Sayup-sayup terdengar suara istriku diangan-angan,
"Jangan lupa ya, Bang. Bangunkan!"
*****
"Assalamualaikum."
Aku tersentak dari lamunan, bersama aliran listrik yang menyala. Suara azan sepertinya baru saja berkumandang.Suara salam dari seorang perempuan yang sangat kukenal. Ah, aku takut. Apakah aku tidak mampu lagi menahan kesetiaan setelah lima tahun dalam kesendirian?
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh..."
Segera kubuka pintu. Untung saja aliran listrik menyala. Paling tidak terhindar dari fitnah dan satwasangka. Nurhasanah, ah, betapa miripnya kalian, batinku. Ups, bersama Nurhasanah mertuaku datang juga. Astaga!
"Mari,mari, Pak. Mari, Bu."
Aku sedikit panik. Segera saja kuajak berbuka bersama. Makanan ala kadarnya ternyata begitu nikmat jika dinikmati secara berjama'ah.Ditambah lagi kehadiran Nurhasanah bersama mertua membawa suasana yang berbeda. Panjang lebar kami bicara. Di pembicaraan paling akhir kurasakan aliran listrik di tubuhku terasa padam. Kata-kata tegas dari mertuaku, dan anggukan Nurhasanah cukup membuat aliran diseluruh tubuhku tak sanggup menyala.
"Pokoknya Bapak dan Ibu berharap kamu mau menerima Nurhasanah menggantikan posisi kakaknya..."
Cerpen Aku Adalah Malam karya Raudah Jambak
Aku adalah malam. Malam yang yang tak akan pernah menjadi pagi. Disinari oleh mentari yang hangat yang memberikan kehidupan. Aku akan tetap menjadi malam. Menjadi malam yang pekat yang dibalut kabut pekat hingga hilang ditelan kepekatan yang tak tertembus. Tangan-tangan yang meraih dan merangkulku hanya menggelitiki tubuhku yang kaku. Ku tak pernah merasakan belaian tangan yang menyusup ke pusat nadi kecintaanku.
“Aku tidak akan pernah menjadi Amang yang baik”
Kalimat itu mengalir teratur dari mulutnya yang kaku dan bibirnya yang hitam pekat. Tangannya tinggal tulang dibalut kulit hitam legam bergerak mengusap air mata yang mengelambui bola matanya yang cekung dan berwarna kuning.
“Janganlah engkau berkata begitu Ito Miduk. Kau akan tetap menjadi Amang yang baik bagi mereka” nasehat Mak Lambas kakak semata wayangnya itu dengan air matanya yang sedetik lagi akan jatuh, akan tetapi dia pura-pura mengusap air matanya seperti orang kelilipan.
“Bagaimana mungkin aku bisa menjadi Amang bagi mereka, sedangkan diriku sendiri larut dalam penyakit yang menggerogoti tubuhku yang tak berguna ini. Tubuhku onggokan daging yang akan dicicipi belatung. Tak ada guna aku hidup” ungkap Miduk dengan nada dan nafas berat.
“Sudahlah. Jangan terlalu banyak kau berpikir. Semakin banyak kau memikirkan mereka, maka penyakitmu akan semakin susah disembuhkan. Jika kau sudah sembuh, kau akan menjadi Miduk yang dahulu lagi. Miduk yang suka kerja keras dan tantangan. Akan kembali menjadi Miduk yang disanjung-sanjung keluarga dan seluruh warga kampung” kata Mak Lambas dan berlalu dari hadapan Miduk yang berbaring di tempat tidurnya.
“Ito, aku ini suami yang tidak baik. Istriku saja tidak perduli padaku. Aku terbaring disini, tapi dia tidak perduli kepadaku. Dia malah berbagi hati dengan lelaki lain di Pekanbaru. Anak-anakku terlantar. Tercerai berai. Aku ini tidak berguna Ito. Baiklah dunia raibkan tubuhku ini.” Teriak Miduk menghentikan langkah kakaknya itu.
“Dari mana kau tau itu semua?” Tanya kakaknya dengan kekhawatiran yang luar biasa. Pantasan akhir-akhir ini kesehatan Itonya itu menurun drastis. Semua usaha yang dilakukannya untuk menyembuhkan Itonya itu seketika sia-sia.
“Aku telah membaca surat yang dikirim Lae Ranto dari Pekanbaru itu. Aku telah tau apa yang kalian rahasiakan selama ini kepadaku” ungkapnya dengan air mata berlinang dan batuk kecil menahan sesak di dada.
Mak Lambas tidak melanjutkan percakapan mereka karena suaminya memanggil dia untuk membuatkan kopi pahit untuknya. Suaminya baru pulang dari sawah. Semalaman suaminya tidak pulang ke rumah karena menjaga air di sawah mereka yang ada di Tobing. Kalau tidak di jaga, maka besok harinya sawah mereka akan kering dan padi yang baru di tanam itu akan mati. Masyarakat beradu nasib untuk mengairi sawah masing-masing.
Maka dalam hal ini, kompetisi untuk mendapatkan air dari tali air yang dibangun pemerintah akan terjadi. Karena tali air yang di bangun pemerintah tidak mencukupi kebutuhan air untuk ladang sawah masyarakat. Untuk dapat mengairi sawah masing-masing, terkadang terjadi kecurangan. Ada masyarakat yang sengaja melubangi pematang sawah orang lain untuk mendapatkan air ke sawahnya. Maka tidak jarang terjadi keributan dan perkelahian.
Setelah selesai membuat kopi untuk suaminya dan juga serapan paginya, Mak Lambas langsung mengemasi barang-barangnya untuk marrengge-rengge di pasar. Sejenak dia lupa dengan percakapannya dengan Si Miduk tadi. Dia memasukkan semua perlengkapannya ke karung goni. Kemudia dia menjinjingnya dan berangkat ke pasar dengan jalan kaki. Jarak yang di tempuh untuk sampai ke pasar sekitar sepuluh kilometer .
Jarak itu tidak asing lagi baginya. Setiap minggu dia akan berangkat dengan jalan kaki ke pasar walau mobil angkutan yang mengantar masyarakat setempat ke pasar sudah ada, akan tetapi dia ingin menghemat uang untuk mengobati Si Miduk.
Sudah hampir lima tahun dia merawat Si Miduk, akan tetapi suaminya tidak pernah cemburu atau marah kepada Mak Lambas apabila dia lebih banyak mencurahkan perhatiannya untuk merawat Itonya itu daripada suaminya. Semuanya itu karena kebaikan si Miduk waktu mudanya. Ketika Pak Lambas sakit TBC, Miduklah yang membiayai semua biaya pengobatannya hingga sembuh total. Kala itu, Miduk masih memiliki uang dan pekerjaan yang baik di perkebunan Pekanbaru. Malahan Pak Lambas sangat ibah melihat nasib laenya itu karena status keluarganya yang tidak jelas. Istrinya meninggalkan dia dan anak-anaknya yang lima orang, tercerai-berai entah dimana-mana.
Kabar yang paling buruk lagi adalah cerita tentang istrinya yang selingkuh dengan laki-laki lain di Pekanbaru. Mereka tidak mampu melakukan apa-apa karena mereka tidak memiliki uang untuk mencari anak-anaknya. Mereka hanya bisa berdoa. Karena mereka menganggap doa adalah kekuatan bagi orang miskin untuk tetap semangat mejejaki deret hidup ini.
Sesampai di pasar tempat masyarakat berjualan, Mak Lambas langsung menggelar dagangannya. Sebagian dagangannya hari ini adalah hasil panen dari ladangnya dan sebagian lagi adalah hasil ladang para tetangganya. Mak Lambas begitu heran. Hampir satu jam dia berjualan, akan tetapi tak satu orang pun yang membeli barang dagangannya. Walau yang manawar harga cukup banyak. Dia sangat bingung sekali. Karena dia harus mengumpulkan uang hari ini untuk membeli obat untuk si Miduk.
Syamsi mulai memancarkan sengatnya. Kekhawatiran Mak Lambas akhirnya lenyap. Satu per satu para pelanggannya sudah berdatangan dan membeli jualannya. Dan alangkah beruntungnya dia hari ini karena ada toke yang memborong semua jualannya dengan harga yang cukup lumayan untungnya.
Sebelum syamsi benar-benar beristirahat menggelinding dan tercacak di antara bukit-bukit barisan, semua dagangannya sudah laku. Dia berbenah dan langsung bergegas ke apotek untuk membeli obat untuk si Miduk. Hampir semua keuntungannya hari ini terkuras hanya untuk membeli obat. Uang mak Marolop tinggal lima puluh ribu rupiah untuk belanja mereka satu minggu ini. Padahal uang sekolah si Lambas anak semata wayangnya itu belum di bayar. Uang sekolahnya sudah menunggak dua bulan. Dia menyisihkan uang untuk membayar uang sekolah si Lambas satu bulan. Jadi dia hanya membayar uang sekolah untuk bulan yang lalu. Sisa uangnya dipergunakan untuk membeli ikan asin yang paling murah dan martabak kesukaan suaminya.
Siap berbelanja, dia menjinjing goni itu lagi. Dia berjalan kaki dengan senyum renyah karena hari ini dia bisa membeli obat untuk si Miduk. Sudah satu minggu ini si Miduk tidak minum obat.
Mak Lambas berjalan dan pikirannya bermain menerawang membelah dunianya hingga dia dibangunkan dari hayalannya. Jari kakinya terantuk, terjungkal oleh batu yang menyapa kakinya. Berdarah dan hampir kuku jari kakinya itu terlepas. Dia meringis. Akhirnya dia menurunkan goni yang dijinjingnya itu dan tergesa-gesa mengambil pucuk daun paet-paet. Dengan ligat, dia mengairi daun itu dengan air ludahnya dan meremas daun itu dengan kedua telapak tangannya.
Setelah daun paet-paet itu tercampur dengan air ludah dan mengelurkan getahnya, barulah Mak Lambas merekatkannya ke jari kakinya yang terluka itu dan mengikatnya dengan kain yang di sobeknya dari saong-saong yang dikenakannya. Pertama-tama rasanya sangat pedih dan perih, akan tetapi khasiatnya sangat luar biasa. Darah yang memuncrat tadi seketika terhenti dan selain itu daun paet-paet ini berkhasiat untuk mencegah infeksi pada luka.
Mak Lambas melanjutkan perjalanannya dan berjalan tertatih-tatih. Dia sudah hampir sampai di rumahnya. Dari kejauhan, dia melihat orang-orang berkerumun di depan rumahnya. Heran dan penasaran baradu di hati dan pikirnya. Dia sangka ada tamu yang datang. Dia mempercepat langkahnya. Suaminya berdiri di luar rumah menunggu ke datangannya. Tidak seperti biasa. Semua mata tertuju kepadanya. Sebelum sampai di depan rumah, suaminya langsung menemui langkahnya dan membantunya untuk mengangkat barang yang dijinjingnya itu. Suaminya tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya diam. Mak Lambas sangat heran dengan tingkah suaminya itu. Tidak seperti biasanya.
Dia menembus keramaian orang-orang satu kampung. Pak Lambas hanya bisa menahan air mata. Sejenak Mak Lambas terdiam melihat tubuh yang terbaring kaku dihadapannya itu. Tiba-tiba Mak Lambas berteriak sekuat tenaganya melampiaskan segala kesedihan dan kepedihan hatinya. Akhirnya dia terpuruk dihadapan mayat yang terbujur di hadapannya itu.
Dia mangandungi mayat Itonya yang sudah tiada itu. Dia mengambil obat yang baru di belinya dari apotek itu dan meletakkannya di samping mayat yang terbujur itu. Mak Marolop bersenandung sambil mangandungi mengingat kisah itonya itu sewaktu hidup dan usahanya yang sia-sia selama lima tahun ini untuk menyembuhkannya. Semua orang mengeluarkan air mata. Tak terkecuali para laki-laki. Semua orang sudah mengenal si Miduk. Semua orang satu kampung sudah tahu kebaikannya sewaktu muda dulu. Dia adalah salah satu orang yang mendanai proyek untuk memperbaiki jalan ke kampung mereka. Begitu banyak hal lain yang telah dilakukannya untuk kampung itu.
Besok harinya sebelum jenazah dikebumikan. Kira-kira pukul lima pagi. Dari kejauhan terdengar suara orang yang mangandungi. Semua orang di kampung terbangun. Ternyata orang tersebut adalah istri si Miduk beserta anak-anaknya yang datang dari Pekanbaru. Wajah dan penampilan mereka sangat berbeda ketika terakhir kali mereka pulang kampung untuk liburan. Wajah dan penampilan serta warna kulit mereka seperti orang yang tidak terurus. Tidak seperti orang yang tinggal di kota. Ada apa gerangan?
Sesampai di rumah Mak Lambas, istrinya itu menangis sejadi-jadinya. Akan tetapi orang-orang satu kampung malah memarahinya dan mencibir kedatangannya itu. Orang-orang satu kampung memarahinya karena dia menelantarkan suaminya selama lima tahun dan yang paling parah lagi, kabar tentang kedekatannya dengan lelaki lain di Pekanbaru. Anak-anaknya berhamburan memeluk tubuh yang kaku itu. Akan tetapi putri bungsunya yang berusia lima tahun hanya duduk di samping jenazah itu. Dan memandangi wajah itu. Dia tidak mengenal tubuh yang kaku itu. Ketika dia lahir, si Miduk sudah pulang kampung untuk di rawat.
Mak Lambas tidak tau harus mengatakan apa ketika edanya itu datang. Dia ingin mencaci-maki dan meluapkan segala sakit hatinya, akan tetapi dia tidak ingin membuat keributan. Dia ingin mengantarkan itonya itu dengan damai. Dia memendam segala sakit hatinya sampai acara pemakaman selesai.
Pukul sepuluh pagi setelah acara agama dan acara adat dilaksanakan, jenazah dikebumikan di kuburan ganjang dan diiringi oleh seluruh warga kampung. Masyarakat setempat menamai pemakaman itu kuburan ganjang karena letak pemakaman itu seperti bukit kecil dan memanjang. Jenazah-jenazah yang dimakamkan disana khusus jenazah anak-anak dan mereka yang masih muda (masyarakat yang sudah berumah tangga akan tetapi belum ada satu orang pun anaknya yang menikah).
Satu per satu orang kampung pamit pulang. Kini tinggal keluarga Mak Lambas, kerabat dekat, dan istri Miduk beserta anak-anaknya. Semua terbawa arus kebisuan. Hati tetap mengamuk. Seorang dari mereka membuka jendela kebisuan itu.
“Langsung saja ke pokok pembicaraan kita. Mengapa engkau tidak pernah pulang untuk melihat dan mengurus suamimu si Miduk ketika dia sedang sakit? Apalah gunanya kau datang ketika suamimu telah tiada?” Tanya salah satu kerabat dekat mereka kepada istri si Miduk. Hanya diam yang berkuasa. Kepala tertunduk. Istri Miduk terdiam dan merangkul anak-anaknya sepertinya dia takut kehilangan mereka.
“Untuk apa kau datang setelah dia meninggal? Atau Eda datang kesini untuk merayakan kematiannya karena kau akan bebas berhubungan dengan lelaki lain untuk memuaskan nafsumu?” bentak Mak Lambas meluapkan sesak hatinya sambil berdiri.
“Kemana kau ketika itoku itu sakit. Engkau menelantarkan dia selama lima tahun. Mengapa kau melakukan itu eda? Apa karena hartanya sudah habis hingga kau beralih ke laki-laki lain? Istri macam apa kau ini, hah….!” Luap Mak Lambas dengan rentetan air mata mengasami luka di pipinya yang keras.
“Cukup! Aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain. Aku hanya cinta kepada si Miduk.” Teriak istri Miduk dan merangkk ada disisiku. Selama lima tahun, aku bersusah payah bekerja mengumpulkan uang untuk biaya pengobatannya. Akan tetapi, anak-anakku juga butuh biaya.” Urai Istri Miduk.
“Banyak sekali alasanmu!” Bentak Mak Lambas.
“Eda percaya kepadaku atau kepada orang lain? Kalian jangan termakan oleh omongan ito Ranto itu. Apa kalian tidak tau kalau dia telah di tangkap polisi karena merampok di Pekanbaru. Kalian jangan mudah dihasut olehnya hingga keluarga kita terpecah belah karena laporannya yang tidak benar. Dia itu seorang pembual di Pekanbaru.” Ucap Istri Miduk dengan suara yang sudah mulai melemah. Semua yang berkumpul itu terdiam sepi. Mendekap dalam kebingungan.
***
Seminggu telah berlalu sejak kematin si Miduk. Akhirnya Mak Lambas bisa memaafkan istri Miduk. Mak Lambas berhati murah seperti nama anaknya Lambas. Dia begitu sayang kepada anakk-anak itonya itu. Apalagi wajah-wajah mereka melekat karakter wajah Miduk. Setidaknya ketika melihat wajah mereka, kerinduan kepada si Miduk bisa terobati. Hanya wajah si bungsu yang tidak mirip dengan si Miduk. Dia mirip wajah ibunya.
Malam berganti malam. Purnama pun menyatakan diri pada malam. Seorang lelaki berperawakan tinggi, hitam manis menghampiri Lambas yang hendak ke kedai tuak untuk membelikan beberapa cangkir tuak untuk Pak Lambas. Lelaki itu menyuruh Lambas untuk memberikan amplop yang tertutup rapi kepada Istri Miduk. Lambas heran dan ragu-ragu untuk melaksanakan perintah tersebut karena dia tidak mengenal siapa lelaki itu. Akan tetapi ketika lelaki itu menyodorkan selembar uang kepada Lambas, hatinyapun luluh. Belum pernah dia memegang uang sebanyak itu. Tapi dengan satu syarat, Lambas tidak boleh memberitahukan hal ini kepada kedua orang tuanya. Akhirnya Lambas menyanggupinya.
Lambas kembali lagi ke rumahnya. Dia menyelinap dari pintu belakang supaya tidak ketahuan. Dia menyerahkan amplop itu kepada istri Miduk. Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya untuk membelikan tuak.
Semua larut dalam mimpi. Hanya suara jangkrik dan burung hantu yang tetap memberi nuansa malam. Pukul dua belas malam seorang perempuan dengan kepala ditutupi kerudung hitam keluar dari sebuah rumah dengan mengendap-endap.menenteng tas besar. Ditengah halaman rumah itu, dia berhenti dan melihat kebelakang.
Dia mengusap air matanya. Setelah itu dia berlari meninggalkan rumah itu. Di pintu gerbang kampung, tepat di bawah pohon beringin besar. Seorang lelaki telah duduk berpeluk tangan menunggunya. Lelaki itu menggigil karena suhu malam itu dingin sekali. Perempuan itu menghampirinya dan menghamburkan diri dalam pelukan lelaki itu. Kemudian mereka berlari meninggalkan kesunian kampung.
Syamsi pun memegahkan diri. Dia menyelinap ke rumah-rumah lewat dinding-dinding dan atap-atap yang bocor. Mak Lambas telah siap memasak dan mengangkat beberapa ember air dari sumur di belakang rumah. Dia heran. Sudah pukul tujuh pagi, tetapi Istri Miduk belum keluar dari kamarnya. Dia pun bergegas untuk membangunkan mereka semua untuk serapan pagi. Di atas tempat tidur, dia melihat anak Miduk yang bungsu merengek dan mengusap-usap matanya. Dia memanggil-manggil ibunya sedangkan yang lain masih pulas dalam tidurnya.
Mak Lambas heran. Kemana gerangan Istri Miduk. Di kamar pun tidak ada. Dia belum melihat dia keluar dari kamar. Mak Lambas mendekati si bungsu dan membelainya dengan kasih sayang dan menenangkannya. Ketika hendak meninggalkan kamar, tiga lembar surat tergantung di dinding pintu keluar. Mak Lambas mencabutnya. Dan membacanya. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca dan akhirnya memuncrat.
Kertas itu menyatakan kebenaran yang sesungguhnya. Istri Miduk memang telah berhubungan dengan lelaki lain. Akan tetapi, itu semua karena ulah Miduk. Kala itu, Miduk menelantarkan mereka dan berselingkuh dengan perempuan lain. Setiap hari Miduk pulang ke rumah larut malam dan mabuk-mabukan. Karena tidak tahan dengan perilaku Miduk, Istrinyapun membalas itu semua.
Mak Lambas terhenyak di dinding kamar itu. Tak sanggup berkata-kata lagi. Anak-anak Miduk bangun dan heran melihat Namborunya itu. Mak Lambas berdiri dan merangkul mereka semua. Dia menangis sejadi-jadinya.
“Dasar ibu kurang ajar. Apa kau tidak sayang kepada anak-anakmu ini? Apa kau tidak cukup bahagia melihat anak-anakmu tumbuh dewasa dan sehat? Oh…Tuhan. Miduk memang telah bersalah, akan tetapi lebih terkutuklah engkau. Hanya karena lelaki lain, kau rela meninggalkan anak-anakmu. Dimana hati nuranimu sebagai seorang ibu?” Andung Mak Lambas dengan suara keras dan merangkul anak-anak Miduk.
Suaranya membangunkan suaminya dan tetangga-tetangganya. Mereka berkumpul semua. Mereka mencaci maki istri Miduk, tetapi mereka begitu kasihan melihat Mak Lambas. Setelah lima tahun mengurus Miduk, kini diapun harus mengurus kelima anak Miduk. Entah darimana uang mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup kelima anak Miduk tersebut. Sedangkan untuk makan sehari-hari saja, mereka susah. Biarlah waktu yang menjawab.
Medan, 2015
Cerpen Gang Baru karya Raudah Jambak
Subuh baru saja jatuh. Senandung ayat suci mengaduk-aduk malasku. Suara azan setelah itu, membimbing aku mengambil wudhu,. Setelah itu, aku bersiap-siap ke Masjid. Biasanya, aku masih sempat melaksanakan tahajjud. Tapi, entah mengapa lelahku menghipnotis nyalang mataku. Aku hanya bisa bersyukur masih sempat menunaikan subuh. Biasanya istri dan anakku turut serta, tapi kali ini tidak. Dia sedang marah.
“Papa telah mempermalukan aku, dengan menolak penjualan rumah yang sudah kusetujui. Juga orang-orang di Gang ini. Brengsek!”
“Papa bukannya menentang, tapi kepentingannya apa?”
“Ah, sudahlah tak perlu beralasan. Aku pergi. Anak-anak kubawa ke rumah Ibu!”
Ah, isteriku. Aku hanya berdo’a semoga Allah menyadarkan segala kekeliruannya. Dia tidak sadar, kalau dia sudah diperalat. Ah, semoga ada hikmah yang dapat diambil, pikirku.
Segera kulangkahkan kaki. Biasanya di Masjid tak banyak orang. Kalau tidak Pak Abu, si nazir Masjid yang sudah renta itu. Paling juga Amin, anak yatim yang diizinkan menempati sebuah ruangan Mesjid, sebagai tempat tinggal sementara.
Gelap masih terasa. Dingin menusuk tulang. Kulangkahkan kaki setapak demi setapak. Listrik satu setengah jam yang lalu mengulah. Lampu jalan hanya satu yang menyala, tepat tiga rumah dari rumahku. Gang kami masih begitu sepi. Orang-orang mungkin sedang menggelar sajadah di rumahnya masing-masing. Sebab, rumah-rumah masih terlihat menutup diri. Hanya aku sendiri terlihat di gang ini.
Gang kami bernama gang baru. Aku sendiri heran, mengapa disebut dengan nama seperti itu. Padahal menurutku tidak pantas disebut begitu. Sepanjang jalan aku hanya menemukan jalan yang becek dan berlumpur yang tidak surut dari sisa-sisa hujan.
Gang ini pun panjangnya tidak lebih dari lima ratus meter. Hanya dihuni tidak lebih dari sepuluh rumah yang saling merapat. Istimewanya, gang ini tembus ke sebuah perumahan elit. Tepat di depan maupun di belakang gang. Serta sebuah Masjid tua yang hampir dirubuhkan karena dianggap mengganggu areal perumahan. Syukurnya niat merubuhkan Masjid itu tidak kesampaian sampai sekarang, sebab masyarakat yang tinggal di gang itu mempertahankannya dengan ancaman akan merusuhi kompleks yang didirikan di dekat gang mereka.
”Assalamu`alaikum, Bang.”
Aku terkejut lamunanku buyar. Seorang lelaki melintas dengan cepat. Lelaki itu berpakaian hitam, kepalanyapun dibungkus kain hitam yang diikat. Aku tak sempat mengamatinya dengan seksama, sebab secepat itu pula tubuhnya ditelan temaram di tikungan gang.
Belum sempat tuntas keherananku, sebuah suara terdengar berteriak. Di ujung gang belakang. Beberapa orang terlihat menuju arah lelaki yang baru saja melintasiku.
”Maaf, Bang., Orang yang melintas dari gang ini berbelok ke arah mana?”
Aku terpaku, hanya tanganku saja yang bergerak menuju arah kiri tempat lelaki itu berbelok. Udara semakin menusuk tulang. Bersamaan hembusan angin orang-orang itu telah menghilang menuju kelokan.
Ah, entah apa yang terjadi aku tidak tahu pasti. Segera saja aku menuju ke Masjid tanpa menoleh ke mana-mana lagi. Di Masjid, seperti biasa Pak Abu, Aku dan Amin melaksanakan subuh dengan suasana yang aduh.
*****
”Permisi, Pak, Assalamu`alaikum.”
Seorang perempuan tua, menggendong bayi dalam pengkuannya, bediri di depan pagar rumahku. Aku memperhatikannya dengan seksama dari tirai jendela. Dengan mengenakan penutup kepala yang diikat seadanya dan warna yang sangat buram. Begitu pula dengan baju dan rok yang dikenakannya. Beralaskan sendal jepit dan wajah yang memelas, perempuan tua itu memanggil-manggil. Di gendongannya, bayi itu menangis-nangis. Perih.
”Pak, Bu, Assalamu`alaikum.”
Ini sudah kesepuluh kali untuk hari ini. Ada yang menjual buku-buku agama. Ada yang minta sumbangan. Ada yang kehabisan ongkos hendak pulang ke kampung. Ada yang mengaku belum makan lima hari. Ada yang mengatasnamakan keamanan. Ada yang, ah, banyak lagi. Semuanya kuberikan dengan seikhlas hati. Mungkin melalui aku, rezeki mereka di titipkan Allah, pikirku. Segera kubukakan pintu.
”Pak, Assalamu`alaikum. Kasihan...”perempuan tua itu lebih terisak dari sebelumnya, ”Anak saya sakit, Pak. Ingin ke dokter uangnya kurang.”
”Kurang berapa, Nek. Eh, Bu ?”
”Klinik bilang tiga ratus lagi, tapi terserah Bapak mau kasih saya berapa saja.”
Ah, pikirku. Kalau dengan logika, maka banyak sekali hal-hal yang tidak logika yang kurasakan saat ini. Tapi, Allah selalu hadir dalam hal yang tidak hanya logika tapi juga dengan hal-hal diluar logika berpikir kita juga. Sedahlah. Bagiku ikhlas saja. Rezeki hanya Allah yang mengaturnya. Terlalu banyak perhitungan bisa-bisa jadi kikir. Segera kurogoh sejumlah uang dari sakuku. Jumlahnya pun aku tidak tahu berapa. Lalu kuserahkan kepada perempuan tua itu.
”Nih, Bu. Sekedarnya saja. Maaf.”
Entahlah, sejak isteriku dengan si kecil yang masih berusia lima tahun ke rumah mertuaku sejak seminggu yang lalu, selalu saja rumahku di datangi orang yang tidak dikenal. Melintas begitu saja di sepanjang gang kami.
”Om !” teriak seorang gadis kecil, tetangga sebelah rumah kami, ”Nenek itu sudah pergi ya?”
“Iya. Ada apa rupanya, Susi ?”
“Iya, Om. Semalam nenek itu datang ke rumah Susi.”
“Oh iya?”
“Katanya semalam dia nggak punya ongkos pulang ke Stabat.”
“Terus dikasih?”
“Nggak, Om. Kata mamak, itu penipu,” Lalu dia berteriak, “Om kasih nenek itu?”
Aku menganguk. Gadis kecil itu ternganga, dengan perasaan kecewa dia lalu masuk ke dalam rumah.
Akupun segera masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang entah. Berbagai peristiwa begitu saja hilir mudik. Ah, ya waktu zuhur telah tiba, tapi azan belum berkumandang. Belum sempat aku menyelesaikan wudhu, sayup-sayup kudengar orang-orang berteriak dan tidak berapa lama setelahnya terdengar ledakan.
Dhuaaar !
“Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran! Selamatkan anak-anak dan keluarga. Ayo. Cepat!”
Aku tersentak. Suara itu jelas terdengar dari arah Masjid. Orang-orang menyahut berteriak-teriak. Suasana panik memenuhi gang kami.
”Om! Om! Cepat! Apinya mulai membakar rumah Om!”
Suara itu. Ah, bukan hanya suara Susi. Aku segera keluar dari kamar anakku. Terlambat. Asap sudah memenuhi ruangan. Aku terjebak. Pandanganku mengabur, asap terhirup. Aku terjatuh. Tidak bisa bergerak. Seseorang sepertinya menyeretku. Ah, nenek..
Bayanganku, perempuan tua itu meraihku. Menjauhkan aku dari api yang mulai menjilati dapur rumahku. Kurasakan tenaganya begitu kuat. Bayinya masih dalam gendongan. Begitu nyaman.
Betapa peristiwa demi peristiwa mengalir dalam gang pikiranku. Jelas terlintas. Lelaki tak dikenal dikejar kelompok orang juga tidak dikenal. Masjid yang selalu senyap dalam setiap gelaran shalat. Para peminta-minta yang datangnya entah dari mana. Sampai istriku yang pergi ke rumah mertuaku membawa anak kami.
Persoalannya sebenarnya sangat sederhana, aku tidak setuju istriku menjual rumah kami tanpa persetujuanku. Nah, ketika si pembeli datang membawa sejumlah uang yang sudah disepakati dengan isteriku, aku menolak. Mungkin karena malu atau apa, aku tidak tahu pasti. Jelasnya rumah itu tidak jadi di jual.
Belakangan, ternyata tidak hanya aku yang menolak menjual rumah. Rumah-rumah di sepanjang gang kami juga menolak. Aku menolak, alasannya sangat jelas. Rumah itu adalah satu-satunya warisan orangtuaku untukku, anaknya satu-satunya. Kurasa penolakan yang kulakukan sangat wajar dan beralasan.
”Om, Bangun!”
Ah, itu suara Susi. Suaranya sangat jelas terdengar di telingaku. Kali ini suaranya serak bercampur tangis. Perlahan mataku kubuka. Sudah malam. Aku tersentak, teringat belum salat.
”Om, Bangun !”
”Susi ? Ada apa ?” belum sempat ia menjawab, air matanya sudah berderai. Aku pun terkejut setelah melihat sepanjang gang kami, “Masyaallah. Rumah-rumah kita ? Ibumu ? Ayahmu ?”
Gang kami rata. Tidak hanya kehilangan harta juga nyawa. Beberapa orang tidak berhasil diselamatkan, termasuk ayah dan ibu Susi. Sedangkan aku mereka temukan sedang tertelungkup di atas sajadah. Orang-orang hanya bisa menangis pasrah. Susi telah tertidur lelah menahan isak di pahaku.
Betul-betul tidak ada lagi yang tersisa. Selain suara sirene dan blitz lampu kamera, serta orang-orang kompleks yang ingin menyaksikan kebakaran dari dekat. Di Masjid pengumuman orang-orang yang nyawa tidak terselamatkan.
”Maaf, Pak.” seseorang yang pernah aku kenal bertanya. ”Bapak rumahnya yang ikut terbakar?”
Aku mengangguk
”Eh, begini, Pak. Kami bermaksud mendata warga yang rumahnya ikut terbakar. Maaf, Pak. Jangan tersinggung. Besok Bapak bisa datng ke kantor Kepala Desa. Pukul sepuluh. Di sana kami akan memberikan sumbangan ala kadarnya kepada warga yang ikut terkena musibah. Ya, kami hanya bisa membantu ala kadarnya saja.” Aku terdiam, lelaki itu segera beranjak. “Oh,ya, Pak. Nama Bapak Abdullah kan ? jangan lupa besok bawa juga KTP dan Kartu Keluarga serta surat keterangan dari kepolisian semacam SKBB-lah. Ah, hanya formalitas, kok. Mencegah adanya penipuan dari oknum yang tidak bertangung jawab. Sudah ya, Pak.”
“Astagfirullah. Ah, orang itukan. Duh, istriku.”
Subuh baru saja jatuh. Senandung ayat suci terlantun dari mulut Susi. Sebentar lagi aku akan menyuarakan azan, setelah puas menunaikan tahajjud. Do`a ku hanya satu ketika itu. Alhamdulillah, ya Allah, masih engkau berikan kesempatan padaku mengagungkan nama-Mu. Amin.
Cerpen Ayah karya Raudah Jambak
Becak tua terus dikayuh mengelilingi kota yang padat dengan kendaraan sehingga menyebabkan polusi udara. Parmin nama yang akrab untuk sapaan lelaki paruh baya yang selalu mengayuh becak demi keluarganya.
“Ayah, hari ini Ani harus bayar uang sekolah,Yah.” Ani anak bungsu dari tiga orang
anaknya menyampaikan maksudnya pada Parmin. Ani duduk dikelas tiga SMP, Budi kelas dua SMA, Adi anak sulungnya sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya.
“Ayah,kalau tidak dibayar Ani tidak boleh ikut ujian,Yah.”
Walaupun becak bukan Satu-satunya matapencaharian Parmin, tapi untuk biaya sekolah dan sehari-hari masih terasa berat bagi Parmin. Selain mengayuh becak Parmin juga seorang guru SD di kampungnya.Menjadi seorang guru masih belum mencukupi untuk biaya sekolah anak-anaknya. Apalagi anak sulungnya. Adi harus menjadi sarjana itu tekad Parmin.
Ditengah lamunan Parmin, Siti, istrinya tercinta menyapa “Ayah, apa yang sedang Ayah pikirkan? Ayah!” suara Siti meninggi sembari mengguncang bahu suaminya. Parmin tersentak sembari tersenyum memandang istrinya. Ia sangat beruntung punya istri yang baik dan sabar. Profesi guru yang ia jalani setiap pagi selalu ditekuni dengan baik. Walaupun masih kurang sampai ia harus mengayuhkan kakinya yang mulai tua di atas pedal becaknya, itu tidak menjadi penghalang untuk tetap memberikan ilmunya pada anak didiknya.
“Ayah…” Adi membuka pembicaraan pada saat makan malam, “Ayah tidak perlu terlalu membanting tulang demi kami, Yah.”
“Di, ayah tidak pernah merasa lelah, ayah selalu merasa kuat dan bahagia. Iyakan, Bu?”
Siti istrinya tersenyum sambil mengelus punggung ayah pertanda bahwa ibu bangga bersuamikan ayah. Suasana rumah yang sederhana itu menjelma menjadi surga berkat ketulusan dan keikhlasan penghuninya. Hari berganti hari, kehidupan keluarga Parmin semakin bahagia walaupun hidup sederhana tapi hati merasa tentram.
Setiap pagi, dengan pakaian serba rapi Pak guru yang baik hati itu akan bertugas mencerdaskan anak bangsa. Langkah kaki yang pasti terus menuju tempat ia bertugas.
“Assalamualaikum anak-anak.”
“Waalaikumusalam, Pak…!” jawab anak-anak serentak.
Pelajaranpun selalu dimulai tanpa ketegangan sampai akhirnya jam pelajaran usai. Tanpa lelah Parmin selalu menunjukan semangatnya.
Di rumah, Siti, istrinya tercinta sudah menunggu dengan senyum dibibirnya yang sudah mulai tampak berkeriput.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumusalam…”
“Oh ya, Bu, anak-anak belum pulang dari sekolah?”
“Belum, Yah,” sahut Siti sambil berlalu menuju dapur untuk mempersiapkan makan siang yang sederhana tapi sangat membangkitkan selera.
“Assalamualaikum,” suara sibungsu Ani terdengar manja diiringi suara bas Budi.
“Waalaikumusssalam,” sahut Parmin yang sedang sibuk mempersiapkan becak yang akan dikayuh selesai shalat zuhur nanti.
Budi duduk disamping Parmin sembari membuka sepatu sekolahnya,”Ayah, boleh nggak Yah, kalau Budi menggantikan ayah menarik becak sepulang sekolah?”
Parmin menatap wajah anaknya itu dalam-dalam tanpa berkata apapun. Parmin hanya tersenyum sambil mengelus lembut rambut hitam Budi.
“Ayah, Bang Budi…” suara khas sibungsu Ani memanggil, “makan siang sudah tersedia.”
Selesai shalat zuhur Parmin sosok ayah yang tegar dan bijaksana mulai mengayuh kakinya yang tampak mulai kurus dan mengecil di atas pedal becaknya. Sampai menjalang azan magrib ia baru tiba di rumahnya yang sangat sederhana tapi meman-carkan pesona. Adi anak sulungnya juga baru tiba lima menit setelah ayahnya sampai dirumah. Azan magrib sudah berkumandang semua berkemas untuk melaksanakan perintah Allah.
Malam semakin larut peraduan empuk sudah menjadi tempat istirahat yang sangat menyenangkan. Parmin dan istrinya masih duduk berbincang-bincang.
“ Bu apakah uang tabungan kita masih cukup, Bu,”Tanya Parmin dengan lembut.
” Masih, Yah,” jawab Siti sambil tersenyum.
” Syukurlah, aku ingin cepat-cepat lihat Adi memakai toga dan diwisuda.”
Pembicaraan terus berlangsung, tanpa terasa malam semakin larut. Kantuk mulai menyarang kedua orangtua tersebut.
Esok hari. Raja siang telah keluar dari peraduannya aktifitas sehari-hari mulai dilaksanakan. Ibu melepas ayah dan ketiga anaknya dengan pancaran wajah bahagia, serta doa yang selalu mengiringi langkah kaki keluarganya.
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tanpa terasa Adi pulang membawa khabar gembira bahwa ia sudah menyelesaikan semua perkuliahannya dan akan segera diwisuda.
Kebahagiaan terpancar dari wajah kedua orangtua tersebut. Bahagia dan bangga terus menyelimuti hati Parmin.
“ Ibu!!!” teriak Ani dengan keras memanggil ibunya, “Ayah, Bu. Ayah pucat sekali. Tidak bisa bergerak!”
Ani berlari mencari kedua abangnya yang sedang membantu H.Hafiz memperbaiki genting rumahnya yang bocor.
“Bang Adi, Bang Budi!” teriak Ani.
H. Hafiz datang menghampiri, “Ada apa Ani?”
“Tolong, Pak. Ayah saya. Ayah saya sakit, Pak.”
H. Hafiz memenggil Adi dan Budi dengan lembut agar tidak membuat mereka terkejut.
“Ayah kita berobat ya, Yah,” ajak Adi membujuk ayahnya.
“ Tidak usah ayah akan sembuh, iyakan, Bu? Kita ingin menyaksikan Adi diwisuda ya, Bu.”
“Iya, Yah, makanya ayah cepat sembuh, ya?” ibu menghibur dengan senyum manisnya.
Hari yang ditunggupun tiba. Adi, anak sulungnya yang gagah sudah lengkap dengan toganya dan bersiap-siap akan menghadiri ruangan yang luas nan megah yang dihadiri beribu-ribu lelaki tampan dan wanita cantik dengan nuansa hitam. Parmin yang sudah bersiap akan berangkat merasa sangat lemah.
“Adi, sepertinya ayah tidak bisa ikut. Kalian pergi saja. Ayah masih menunggu seseorang.”
Mereka terdiam sejenak kemudian mengangguk, mungkin H Hafiz ingin ikut menyaksikan kegembiraan ayah, pikir mereka.
Barisan para wisudawanpun berjalan dengan wajah bahagia. Adi masih terus mencari dimana sosok lelaki yang ia banggakan. Batinnya terus bertanya. Sampai ruangan sepi sosok ayah belum juga tampak. Ucapan selamat dari kedua adiknya membuat Adi semakin sedih.
“Bu kita pulang, yuk,” Adi membuka pembicaraan, “mungkin ayah menyiapkan sesuatu untuk kita.”
Wajah bahagia masih menyelimuti ibu dan anak-anaknya sampai di rumah.
“Assalamualaikum, Assalamualaikum, Assalamualaikum!” tiga kali salam tidak ada jawaban.
“Ayah dimana , Bu? Ayah dimana?” Tanya Ani. Ani terus mencari sampai kebelakang, akhirnya mata Ani tertuju pada sosok lelaki yang duduk membelakang menghadap jendela yang terbuka lebar menuju jalan raya.
“Ayah ini Adi ,Yah. Adi sudah jadi sarjana, ini impian Ayah, lihat Ayah, jawab Ayah,” Adi menangis sambil bersimpuh dikaki ayah.
Ibu memeluk tubuh anaknya sambil mengucapkan kata-kata yang sangat pahit di telinga Adi. “Innalilahiwainailaihi rojiun.”
“Ayah, Ayah, Ayah!” Adi berteriak histeris, “ini impian Ayah. Lihat Ayah Adi sudah wujudkan, kenapa Ayah tidak mau menyaksikan impian Ayah, jawab Ayah...!” Tangis Adi dan adiknya semakin menjadi.
”Anakku sudahlah, sudah terimalah dengan sabar…” meskipun pahit ibu menelan semua kenyataan bahwa ini sudah takdir yang maha kuasa. Tiada satupun yang dapat melawan takdir Allah Yang Maha Besar. AllahuAkbar.
Medan, 2007
Cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya Raudah Jambak
Lama mataku tidak mau terpejam. Dan memang aku tidak mau memejamkannya sedetikpun. Padahal, aku sudah mengantuk berat. Istri dan anak-anakku sudah lama terlelap. Sebelumnya mereka berusaha bercengkrama, sambil berjaga. Betapa tidak sudah hampir seminggu daerah tempat tinggal kami di guyur hujan. Awan terlihat buram. Langit terus menerus muram. Seolah menebar kesedihan yang mendalam. Bukan hanya disebabkan jalan raya yang basah. Atau air yang menggenang sampai ke lutut orang dewasa, di beberapa tempat. Sebilah saluang seolah bersenandung di pikiranku, mengikuti irama rembesan air hujan dari langit-langit rumah kami yang rapuh itulah, yang paling mengganggu.
Untung saja, aku dan anak-istriku sempat menyelamatkan lantai dari basah yang lebih parah atau kertas-kertas yang berserakan di lantai. Kertas koran yang tak sempat terlipat atau buku – buku yang tak sempat tersusun, ku naikkan begitu saja ke atas kursi dan meja kayu. Untung saja sebuah cerpen sempat aku rampungkan. Sehingga aku sedikit tenang membereskan lantai rumah dari rembesan air yang semakin deras.
Semua segera terselesaikan bersamaan dengan curah hujan yang mulai mereda. Dan beberapa saat aku, anak dan istriku bercengkrama sampai akhirnya merekapun terlelap kelelahan. Tinggal aku sendiri. Aku masih bertahan, takut kalau hujan kembali menderas. Persis seperti dua hari yang lalu, setelah hujan mereda aku beranjak tidur, tetapi begitu bangun pagi hendak mandi dan berangkat kerja ternyata hujan tanpa sepengetahuan kami tiba-tiba menderas.
Pakaian kerja yang sengaja di sangkutkan di dinding kuyup oleh airnya yang merembes dari langit-langit. Tidak hanya itu saja sebenarnya, aku juga kuatir. Aku tidak mau mengalami peristiwa yang dialami oleh kawan kerjaku menimpaku juga. Ketika itu juga hujan berhenti, tetapi bukan karena air yang setinggi lutut orang dewasa, tetapi lebih menyedihkan dari itu. Rumahnya habis terbakar. Masih untung anak dan istrinya bisa diselamatkan. Dan aku selalu berdoa kepada Tuhan semoga hal itu tidak pernah terjadi pada kami. Sehingga kutahankan untuk tidak memejamkan mataku sedetikpun.
Selain menikmati kepulan asap rokok, aku tetap meneruskan tulisanku yang berikutnya. Mungkin tulisanku yang kedua ini hanya sekadar melepaskan unek-unekku yang membuncit di kepala. Aku merenung, kenapa selalu saja musibah yang menimpa? Kalau tidak banjir, ya kebakaran. Dua hal itulah yang paling sering terjadi di tempat tinggalku yang sekarang ini. Di sini, aku tinggal sudah hampir lima tahun. Sebelumnya, aku menetap di Banda. Setelah tsunami meluluhlantakkan Banda, aku trauma. Aku tidak mau lagi tinggal di sana. Di sini, aku tinggal tidak jauh dari rumah mertuaku.
Sengaja memang. Paling tidak kalau aku kerja, anakku bisa tingal sementara di rumah mertua sambil menunggu aku pulang dari tempat mengajar. Begitu juga istriku yang bekerja sebagai guru di tempat yang sama. Paling tidak kalaupun mertuaku kebetulan tidak berada di rumah, anak-anakku sudah tidak canggung lagi di sana. Dari segi kenyamanan dan kemanan, rumah mertua jauh lebih nyaman. Jauh lebih aman. Dan kami tidak merasa was-was, walaupun rumah itu ditinggalkan penghuninya sampai berhari-hari. Termasuk ketika aku dan istriku sudah pulang dari tempat mengajar, lalu memboyong anak-anak kami pulang ke rumah. Walaupun rumah mertua kosong karena di tinggal ke kampung, pariaman, rumah itu aman.
Dan malam ini setelah sampai di rumah tiba-tiba hujan mengucur deras. Seperti seolah sudah biasa kami tidak panik. Anak-anakku seperti sudah faham apa yang harus dilakukan. Istriku ikut mengajak, sambil mengawasi mereka diam-diam. Malam ini juga kami membereskan segalanya dengan keriangan yang luarbiasa. Lalu, tidak berapa lama mereka terlelap membawa kelelahan yang menyenangkan diselimut mimpi indah mereka.
Aku masih tetap berusaha untuk tidak membiarkan kelopak mataku terkatup sejenak. Dan persis seperti dugaanku, begitu aku melirik ke arah jam di dinding yang tengah kedinginan, hujan mencurah dengan derasnya. Aku sedikit panik. Aku berniat membangunkan istriku, tetapi kuurungkan niatku demi melihat lelap tidurnya. Anakku agak menggeliat, tetapi kembali tenang. Hujan seolah berlari-lari di atas seng rumah kami. Aku berlari dengan kecemasanku. Memeriksa setiap sudut dan tempat. Memeriksa barang-barang yang mungkin masih ada yang berserakan di lantai.
Mataku terus mengawasi sisi langit-langit yang merembeskan hujan. Aman, pikirku. Tetapi telingaku sayup-sayup mendengar sayup sirene yang melesat di antara deru irama hujan menembus gendang telingaku. Suara sirene itu seolah sudah sangat akrab di telingaku. Dan aku hanya bisa menelan ludah. Rumah siapa lagi, pikirku kembali.
Ah, banjir dan kebakaran seolah sahabat yang sudah sulit untuk dilepaskan. Dan, anehnya di setiap bulan-bulan Ramadhan hal itu acap sekali diberitakan. Tetapi semuanya tentu maklum, ada penyebabnya, petasan. Sementara, kalau hujan seperti ini selalu penyebabnya adalah lilin. Itupun kalau mati lampu yang juga sering sekali padam. Lalu, kalau arus listrik hidup seperti ini, selalu penyebabnya adalah akibat terjadinya gesekan arus pendek.
Demi mengingat itu, aku merasa cemas. Bukan karena langit-langit rumahku yang semakin deras rembesannya. Aku cemas dengan rumah mertua. Aku cemas bukan karena rumah itu bisa terndam air hujan yang semakin meninggi, tetapi arus pendek yang tidak pernah diduga akan terjadi.
Hayalanku mengawang. Wajah mertua dan rumahnya silih berganti mengisi ruang kecemasanku. Wajah kedua mertuaku seolah memberi sinyal kepadku untuk melihat rumah mereka. Tetapi, aku bingung. Tidak mungkin kutinggalkan rumahku begitu saja. Tidak mungkin kutinggalkan istriku yang tengah terlelap bersama anak-anak kami. Untuk membangunkannya aku tidak tega. Hanya saja wajah kedua mertuaku seolah menderas seperti hujan yang mengetuk-ketuk atap seng rumah kami. Serta bunyi guntur yang silih berganti seperti berpindah ke gemuruh dadaku.
Dhuaaar...!
Aku terkejut. Bukan karena suara guntur. Tetapi suara teriakan yang memekakkan, yang berasal dari arah kamar tidur. Dari kamar anak dan istriku yang tengah terlelap. Aku baru segera beranjak melihat ke arah kamar setelah teriakan dari arah kamar itu disertai dengan jeritan tangis yang begitu menyayat.
”Mak....! Mak...! Mak....!”
Aku yakin itu suara istriku.
”Mak...!Mak...!Mak...!”
Aku segera menuju ke kamar. Kudengar raungan istriku semakin menjadi. Aku semakin cemas. Begitu sampai di kamar, kulihat istriku dan anak-anak kami masih tertidur. Hanya saja istriku tidur dalam kondisi meraung-raung. Menghentakkan-hentakkan badannya. Menjambak-jambak rambuntya. Aku cemas. Segera kubangunkan. Mungkin istriku sedang bermimpi buruk.
”Han, Hani. Bangun...”kuguncang-guncang tubuhnya,”bangun. Kenapa, Mama?”
Istriku sontak terbangun. Dia terduduk. Wajahnya masih terlihat sesenggukan. Aku segera memeluknya. Mengelus rambutnya.
”Kenapa, Sayang...”
Dia terdiam.
”Sudahlah. Mungkin itu mimpi buruk.”
”Mamak, Bang. Mamak....!”
Dia kembali menangis.
”Sudahlah Mimi sedang mimpi buruk. Sudah. Tidurlah.”
”Mamak sama Bapak terkubur dinding rumah Andung di kampung, Bang!”
”Mimpi itu sudahlah. Doakan saja semoga mereka sehat selalu. Lahir dan batin.”
Dia masih sesenggukan.
”Sekarang begini saja, Mimi jaga rumah, ya. Abang mau memeriksa rumah mamak dulu.”
Lama dia menatap wajahku. Dia masih sesenggukan, sampai memberi sinyal setuju. Dia mengangguk.
Tanpa menunggu aba-aba lagi segera aku memakai mantel dan membawa payung, beserta senter. Istriku hanya diam sambil memberikan kunci rumah.
Segera aku berangkat menembus rapatnya baris-baris hujan. Sepanjang jalan, wajah kedua mertuakupun tak kalah menderasnya singgah di pikiranku. Terus-menerus aku berdoa, semoga semuanya baik-baik saja.
Begitu sampai, aku segera membuka gerbang. Memeriksa rumah bagian depan. Lalu, memeriksa bagian sisi kiri dan kanan. Bagian langit-langit dan teras. Setelah merasa aman, aku membuka pintu dan masuk ke dalam. Kuperiksa ruangan keseluruhan. Tidak ada yang luput dari perhatianku. Termasuk memeriksa setiap kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Juga memeriksa bagian belakang rumah. Aman, pikirku.
Segera aku keluar rumah. Tetapi sepanjang perjalanan masih juga wajah mertuaku silih berganti singgah di benakku. Dan kali ini wajah itu begitu miris. Perasaanku semakin cemas saja ketika wajah istriku juga ikut hadir memenuhi ruang gundahku.
Kupercepat langkah. Jalanan yang menggenang dan berlumpur tidak kuhiraukan. Termasuk ketika sebuah sepeda motor hampir menabrakku. Tak kuhiraukan makian pengendaranya. Aku berjalan terus.
Di depan pintu rumahku, dadaku bergemuruh kencang. Guntur seolah menyambar-sambar di atas kepala. Dari dalam rumah kudengar jeritan tangis anak-anakku. Begitu menyayat.
”Mimi.....! Bangun....! Mimi...! Bangun....!”
Aku tidak menunggu lagi. Kubuka pintu. Di depanku kulihat istriku tergeletak. Di sisinya, anak-anankku menghunjam tangis.
”Mimi....! Bangun...! Mimi....! Bangun....!”
Kudekati istriku.
”Papa....Mimi, Pa...!”
Menurut cerita anak-anakku, istriku menjerit-jerit histeris. Lalu, anak-anakku terbangun. Begitu mereka melihat istriku yang histeris, anak-anakku segera mendekat. Dan istriku pingsan.
Kuguncang kembali tubuh istriku yang lemah tak berdaya. Dia belum juga siuman. Di tangannya sebuah HP masih terlihat tergenggam dengan erat. Istriku baru sadar dari pingsannya, setelah kubalur dengan minyak kayu putih dan memijit-pijit tubuhnya sambil membaca doa-doa. Syukur setelah itu dia sadar. Dia lalu memelukku. Tangisnya kembali pecah.
”Mamak, Bang! Mamak......!”
Kupeluk istriku. Kudekap ia agar lebih tenang, tetapi kembali ia tak sadarkan diri. Aku tersentak. Dadaku berdetak. Anak-anakku menangis. Tangis mereka meledak-ledak.
Akupun berusaha untuk tenang. Setelah menenangkan anak-anakku, kupindahkan tubuh istriku yang tak sadarkan diri ke atas tempat tidur. HP yang tergenggam ditangannya terlepas. Anak-anaku segera mengutipnya. Setelah semuanya terkendali, kuambil HP yang tadi sempat diambil dari genggaman istriku yang terlepas. Perlahan kulihat isi pesan yang sempat dibuka istriku. Isinya singkat saja, Kak, Pariaman gempa. 7, 6 SR. Rumah Andung hancur. Mamak..... SMS terputus.
Setelah membaca pesan itu. Guntur dan kilat seolah saling bersahutan. Senandung saluang di kepalaku menderas. Hujan menderas. Suara sirene semakin meraung-raung, memekakkan telinga. Persis di sini. Disesak dadaku. Kembali kupeluk istriku. Erat. Erat sekali......
Pariaman, awal oktober 2009
Cerpen Lelaki, Tumini dan Belati karya Raudah Jambak
Hujan masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Lelaki itu melangkah berkendara engah. Lelaki itu berjalan mengikis pongah. Hujan seperti bersimpati padanya. Tak henti membasuh luka sekujur tubuh yang mulai ringkih itu. Lelaki itu sesekali menggigit bibirnya. Bukan. Bukan karena perih tubuhnya. Bukan lantaran guyur hujan dan deru angin. Tetapi, ada yang lebih pedih dari itu, hatinya.
Hatinya gulana. Semacam beliung yang tak henti-henti menderes batang nadi. Mengoyak bilah-bilah dada. Lelaki itu hanya tak menyangka. Mungkin karena lupa. Atau ruang pikirnya yang terlalu sesak menggudang segala makna. Sehingga ia tak lagi sanggup mengunyah defenisi-defenisi setia. Tak sanggup meneguk tuak-tuak nisbi, Tumini, istrinya.
Pagi-pagi sekali, setelah menyusun botol jamu, Tumini menitip pamit padanya. Setelah melabuhkan bakul jamu di punggungnya, Tumini segera menapak langkah. Lelaki itu pelan-pelan mengutip kembali jejak yang ditinggalkan.
Biasanya Tumini selalu mengusung pulang sebelum magrib menjelang. Pulang dengan senyum penuh bintang, meski jamu hanya sedikit yang berkurang.
“Hati-hati di jalan, ya...”
“Ya, Kang Mas...”
Selalu saja seperti pengantin baru. Kecupan sayang tak pernah dilupakan. Meski usia perkawinan beranjak dewasa, dan momongan tak pernah singgah digendongan, tak pernah ada kata luka dalam diksi puisi cinta mereka.
Kalau dihitung mungkin hanya sekali pertanyaan mengejutkan terlontar. Pertanyaan itu langsung terasa begitu mengganggu. Mencemari kisah hari-hari mereka.
“ Tadi siang aku melihatmu di terminal...”
“Ya, tadi aku sempat singgah...”
“Siapa laki-laki yang kerap memelukmu dari belakang itu?”
“Hanya pelanggan.”
“Pelanggan?”
“Ya, pelanggan.”
“Hanya demi segelas jamu kau biarkan laki-laki itu berbuat sesukanya?”
“Itu diluar kendaliku...”
“Kebetulan hanya satu itu yang sempat terlihat...”
“Maksudmu?”
“Mungkin yang tidak terlihat lebih dari itu...”
“Ooo, berarti kau sudah berpikiran, bahwa aku perempuan murahan begitu!?”
“Aku tidak berpikiran seperti itu.”
“Tetapi kata-katamu menuduhku seolah-olah aku bukan perempuan baik-baik,” Tumini menarik napas, “Mas, dengar. Seburuk apapun aku dipikiranmu, aku tidak akan menodai perkawinan kita.”
“Aku percaya.”
“Kalau kau percaya mengapa kau menuduhku seburuk itu.”
“Aku hanya kuatir.”
“Percayalah, Mas. Kalau kau percaya itu lebih cukup bagiku untuk tetap setia.”
“Aku percaya.”
“Ya, aku juga percaya padamu. Aku percaya kau tidak akan pernah berkhianat padaku...”
Setelah pembicaraan itu memang tak ada lagi kata-kata. Kata-kata sepertinya hanya pengantar ke puncak gairah. Kata-kata berganti irama desah. Berganti lumatan, pagutan, dan rangsang gelinjang. Hujan pun seperti telah ditakdirkan mengambil perannya sendiri. Menghadirkan orkestra romantik yang begitu puitik.
***
Sebagai seorang pengangguran, lelaki itu selalu menimbun malu. Harga dirinya sebagai seorang lelaki sering terusik. Ia ingin mendapatkan pekerjaan tetap, tetapi hanya pekerjaan semrawutan yang bisa ia dapat.
Ada rasa sedih, marah, kecewa, bercampuraduk dalam benaknya. Ingin rasanya ia menjadi suami seutuhnya. Kepala keluarga yang sebenarnya. Suami yang mencari nafkah, istri yang menjadi ratu di rumah. Tetapi, hal itu belum mampu diwujudkannya. Istrinya yang mencari nafkah, ia sebagai suami hanya melukis sesal di rumah.
“Kita belum punya anak...” Lelaki itu mulai mengeja cerita, suatu kali di beranda.
“Mas, jangan mulai lagi...” Tumini menyeka air mata.
“Maksudku, sebagai seorang lelaki, aku ingin kau menjadi istri seutuhnya,” lelaki itu menyalakan sebatang rokok di tangannya,”aku hanya tidak sampai hati melihatmu yang harus luntang-lantung mencari nafkah. Sementara aku hanya penjaga rumah yang tidak memiliki daya.”
“Mas, aku ikhlas menjalani ini semua. Aku hanya ingin membantumu..”
“Dan aku tidak sampai hati melihat semua itu...”
“Mas, dengarkan aku. Tidak ada setitikpun dalam pikiranku merendahkanmu. Kau adalah pahlawanku. Sebagai seorang pahlawan aku ingin berbuat sesuatu untukmu. Dan aku hanya bisa melakukan itu. Aku hanya bisa sebagai penjual jamu. Aku tidak bisa lebih dari itu. Percayalah.”
Kembali lelaki itu tersengat tak berdaya. Di matanya Tumini adalah sosok perempuan yang betul-betul sempurna. Selalu saja siraman-siraman sejuk yang terlontar dari bibir mungil Tumini. Keyakinannya semakin cadas. Rasa percayanya kepada Tumini sepadat logam. Lelaki itu semakin pasti. Pasti akan kesetiaan Tumini.
***
Pagi-pagi sekali lelaki itu pergi, setelah merapikan botol jamu Tumini. Tumini berselubung sakit. Menitip maaf padanya. Setelah melabuhkan kecup di dahi Tumini, lelaki itu segera menapak langkah. Lelaki itu diam-diam merangkai kejutan, mencatat pada jejak yang ditinggalkan.
Kali ini lelaki itu seolah mendapatkan kesempatan mengusung pulang sebelum magrib menjelang. Pulang dengan senyum penuh bintang, menabalkan niat kejutan cinta yang lama terpendam walau hanya sekadar setangkai kembang.
“Hati-hati di rumah, ya...”
“Ya, Kang Mas...”
Selalu saja seperti pengantin baru. Kecupan sayang tak pernah dilupakan. Meski usia perkawinan beranjak dewasa, dan momongan tak pernah singgah digendongan. Dan kesempatan ini tidak akan begitu saja dilupakan sebagai pengerat diksi puisi cinta mereka.
Sampai beranjak malam setangkai melati baru didapatkan. Tapi hujan yang mencurah tak kunjung henti. Lelaki itu sempat menunggu beberapa saat, angin yang mendesau seolah tak memberi ruang untuk sekadar lewat. Hujan masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Lelaki itu membulatkan tekad menapakkan langkah. Lelaki itu menelusuri ruang-ruang basah. Lelaki itu sesekali menggigit bibirnya. Bersebab guyur hujan dan deru angin, demi mengabulkan ingin. Seputih hatinya.
Hatinya membunga. Semacam taman yang tak henti-hentinya menebarkan semerbak aroma surga. Menyusup pada bilah-bilah dada. Sesampainya di rumah, lelaki itu menggelupurkan sesak dada. Mungkin karena lupa. Atau ruang pikirnya yang terlalu sesak menggudang segala bahagia. Sehingga ia tak paham lagi mengunyah defenisi-defenisi setia.
Entah apa yang merasuk di kepalanya. Ada amuk yang mengelora. Ranjangnya membanjir gairah. Ranjangnya ditenggelamkan irama desah. Bukan gairah miliknya. Bukan irama desah miliknya. Setangkai melati di tanganya ikut merasakan deru amarah. Seketika tenggelam bermandikan darah.
Belati di tanganya memerah.
Komunitas Home Poetry, 2009-2010
Cerpen Ibu Mertua karya Raudah Jambak
Seperti malam yang lain, ada ketakutan yang tak mampu kujelaskan. Malam tak lebih kejam dari masalah yang kurasakan saat ini. Ia tidak hanya sekadar menggurita, tetapi ia justru melilit dan mencengkram lebih dalam. Detak semakin lamban. Seperti malam kemarin juga. Serupa sebelum-sebelumnya jua. Pukul dua belas tengah malam. Angin menusuk gigil. Mencucuk sumsum dan tulang. Aku mempererat hangat dan beranjak menuju rumah. Menuju tempat mula segala duka, sekaligus berharap malam menelanku bulat-bulat. Berjalan melintasi tanah-tanah berlumpur yang menenggelamkanku diam-diam ke ruang-ruang lengang melenakan.
Terngiang serapah Ibu mertuaku pagi tadi. Di beranda tempat ia biasa minum teh seraya menyaksikan kelopak-kelopak mawar. Bercerita dan bersenda sambil menunggu senja tiba. Namun, pagi kali ini menjadi lain. Setelah aku membersihkan seisi rumah, seketika Ibu mertua mengumpatku seolah- olah ia sedang dipatuk ular berbisa.
“Dasar anak kurang ajar. Gara-gara kau rusak keluarga ini,” perempuan paruh baya itu berteriak-teriak, “perlu kau tahu, ya. Dulu sebelum kau menjadi bagian dari keluarga ini, keluarga ini tidak pernah ada masalah. Setelah ada kau, hancur. Semuanya hancur!”
Aku menatap bola mata Ibu mertuaku dalam-dalam. Sebuah laut penuh ombak. Gelombang yang tidak pernah henti menampar karang. Semenjak kami menikah, sejak Ayah mertuaku meninggal karena penyakit yang dideritanya, sejak saat itu pulalah Ibu mertuaku terus menyusun bangunan kebencian terhadapku. Menantu satu-satunya. Ibu mertua yang kemudiannya melanjutkan fungsi Ibu sekaligus Ayah bagi suamiku, Pranata, anak tunggalnya. Mulai kami menikah. Mulai kami mengontrak rumah. Sampai kami terpaksa harus pindah rumah dengan alasan Ibu mertua tinggal sendirian dan rumah besar yang begitu lengang.
Ah, bola mata itu seolah semakin beriak. Bola mata tempat biasanya aku berharap teduh. Tempat menimba kebahagiaan yang tak pernah kering. Tetapi, bagaimanapun aku harus memberi penjelasan.
“Ibu aku hanya ingin permisi. Aku minta izin berangkat ke kampus. Aku.....”
“Diam kau. Asal kau tahu saja, berjalan dengan kau saja aku malu. Malu! Semua orang menatapku jijik. Semua orang ingin menelanku bulat-bulat!”
Mataku tersengat panas mendengar maki Ibu mertua yang amat pedas. Air mataku seolah ingin tumpah. Namun, kubulatkan tekad membangun bendungan kesabaran, agar air mataku tidak meruah.
“Bu, aku perempuan. Aku terbawa perasaan. Aku terlalu mencintai Bang Pranata. Tidak ada maksud lain. Aku mohon Ibu mau mengerti.”
“Aku juga perempuan!”
“Bukan itu maksudku, Bu. Aku tidak berdaya dengan segala kelemahanku itu. Bang Pranata sosok laki-laki yang paling aku cintai saat ini. Aku begitu mengenalnya luar dan dalam. Aku tidak menyesal bila Bang Pranata melakukannya padaku. Aku rela. Bahkan aku merasa gembira telah berhasil membuktikan rasa cintaku kepada Bang Pranata.”
“Ooo, jadi maksudmu kau menyalahkan anakku? Kalau tidak kau bentangkan selangkangmu itu, tidak akan bunting kau. Tidak rusak anakku!” teriak Ibu mertua berapi-api, “Anakku itu baik. Tampan. Anakku satu-satunya. Hanya aku ibu sekaligus ayahnya. Kalau saja kuperintahkan ia menceraikanmu, maka ia akan segera menceraikanmu. Itulah anakku. Didikanku. Tidak seperti dirimu. Apa begini hasil didikan orangtuamu?”
“Anak lacur!”
“Kemana lakik diikuti!”
“Tidak perdulian!”
“Gara-gara kau rusak keluarga ini!”
Serapah itu bak air terjun tak henti tumpah. Berdegap. Melumatkan bunyi gemerisik dedaunan. Menghempas ke dada. Menderes kalbu. Aku berdarah.
Bias-bias kelam itu membawaku perlahan telah sampai di beranda rumah. Aku berdiri lama di batang tiang, pagar masuk. Aku menarik napas panjang. Segar hawanya mencemaskan. Desau angin terdengar menyisir dedaunan. Bunyi denting piring yang ditingkahi dendang repetan. Berantai. Menebas suara telenovela dinyalang televisi, dalam rumah itu. Menembus jendela dan daun pintu yang terkunci rapat. Pada redup lampu beranda yang belum sempat diganti. Serta dengung nyamuk yang tak henti memecah sunyi.
Suara repetan itu. Suara repetan ibu mertuaku yang tak henti bernyanyi. Suara yang sudah teramat kukenal. Akrab. Lekat di kedua belah anak telingaku. Suara yang tiap menit kini mulai menggerayangi kegelisahan. Menghantam. Pedih. Meledak. Seolah derit pintu kehilangan baut. Menghantam pikiran yang sulit mengundang tenang.
Aku jadi teringat Ibuku. Aku ingin pulang. Aku sudah hampir tidak tahan, membendung terjangan kemarahan yang bertubi-tubi. Seolah ribuan jarum yang menembus ulu hati. Aku ingin mati, agar terlepas beban ini. Jika diminta memilih. Dan tuhan mengizinkan. Aku lebih memilih mati. Kematian yang indah.kusukai. Terlepas bebas. Seolah terbang jauh menembus cakrawala. Berdendang-dendang. Menari. Terus dan menerus.
”Jangan kau kira mentang-mentang aku janda, aku lantas akan seburuk dirimu? Aku perempuan terhormat. Memang, aku istri kedua dari suamiku. Tetapi, aku tidak seburuk dirimu yang merusak keluarga ini. Kau. Kaulah penyebab keluarga ini dicibir orang. Kau yang menjadikan keluarga ini tidak dihormati lagi oleh para tetangga di kampung ini.”
Ingin cerai, rasanya tak mungkin. Aku terlalu mencintai suamiku. Apalagi lagi anakku, cantika, tidak mengerti apa-apa. Aku tak ingin buah hati kami harus mengalami beban yang tak pantas ia dapatkan. Apalagi beban itu disebabkan oleh gelora nafsu jiwa muda kami.
Aku ikhlas. Aku rela meski selalu dipersalahkan. Termasuk ketika Bang Pranata tidak berbuat apa-apa ketika aku kuyub oleh hujan serapah ibunya. Atau ketika ia ikut serta mencuri-curi waktu di kamar ibunya menyudutkan aku. Serta ketika ia membawa sesuatu ke rumah dan tak secuilpun memberikannya padaku.
Apa karena aku terlalu berharap? Atau karena aku yang terlalu cemburu? Terutama di saat aku mendapatkan puisi-puisi yang terlahir selalu menyebut nama perempuan lain. Imajinasi? Mungkin. Atau aku yang terlalu manja ingin selalu di sisinya, sehingga akal sehatkupun tak mampu kukendalikan. Aku tidak perduli apakah ia sedang kuliah. Aku tidak perduli apakah ia sedang bekerja. Aku akui aku salah. Tetapi, mengapa aku diperlakukan sekejam ini? Jauh dari orangtua atau karena aku yang terlalu bergantung hidup pada Bang Pranata. Mungkin akan banyak mungkin yang lain. Atau akan berlimpah atau yang lain. Ah, entahlah.
Dan akhir-akhir ini, Bang Pranata yang selalu lebih banyak diam semarah apapun, sekarang mulai berkata kasar. Membentak.
”Sakit kau!”
”Adek kok nggak Abang jemput?”
”Kau yang pergi. Kok, aku yang menjemput? Kau pergi tanpa setahuku, seharusnya kau sendiri yang pulang tanpa harus kujemput. Itukan kemauanmu!?”
”Adek butuh perhatian Abang...”
”Aku sudah muak padamu!”
”Bang. Adek ingin Abang mengerti perasaan Adek...”
”Untuk apa lagi aku harus mengerti perasaanmu. Kau selalu saja melawan orangtuaku. Kau selalu saja menjelek-jelekkan aku di depan orangtuamu!”
”Bang. Adek berani sumpah. Adek tidak pernah menjelek-jelekkan Abang?”
”Tidak usah kau bersumpah. Bagiku tidak ada gunanya. ”
Dan persis seperti malam ini, hentakan umpatan tak juga berhenti. Kaki berat melangkah. Terlebih ketika bilah daun pintu masuk terbelah. Serapah pun memecah. Angin malam yang berhembus sejuk semakin menambah gerah.
***
Pagi ini, kicau birung terdengar begitu kejam. Udara seperti menghentak. Aku hanya mampu menahan perih hati. Menahan pedih air mata. Sesabar mungkin kukecup gadis kecilku, membangunkannya dari desing peluru yang meluncur dari mulut ibu mertuaku. Ia bangun dari tidurnya dengan senyum yang justru menambah pedihku semakin parah. Tak lupa melempar senyum pada ibu mertuaku yang tetap pada pendiriannya yang membakar.
“Detik ini juga kau pergi!” matanya menebar api,”Aku tidak mau memlihara sundal di rumah ini. Aku malu!”
Serapah itu terus meruah. Seirama dengan porak benda-benda yang dilayangkan ibu mertuaku. Benda-benda itu seliweran kemana-mana. Aku tidak perduli. Tetapi, aku tidak bisa tidak perduli ketika benda itu salah satunya mengenai gadis kecilku. Ia menangis. Ibu mertuaku tidak perduli. Aku mengerang.
“Ibu, aku akan pergi. Aku sadar. Aku tahu diri. Tetapi, aku mohon jangan sakiti anakku...”
“Ya, bawa anakmu itu. Anak pembawa sial!”
“Bu, sekali lagi aku mohon. Anak ini tidak tahu apa-apa.”
“Ya, anakmu itu memang tidak tahu apa-apa. Anakmu tidak mengerti, tetapi kelahirannya juga ikut andil terhadap hancurnya keluarga ini. Anakmu, anak pembawa sial!”
“Bu!”
“Apa?! Mau melawanku?!”
“Tidak, Bu. Aku tidak akan pernah melawan Ibu. Aku hanya ingin mengingatkan ibu, jangan menyalahkan anak ini, anakku, cucu Ibu...”
“Apa?! Apa aku tidak salah dengar? Cucuku?”
“Ya, cucu Ibu. Darah daging Bang Pranata.”
“Dasar perempuan lacur. Berani-beraninya kau mengatakan itu cucuku, anaknya Pranata!” ibu mertuaku mengamuk laiknya banteng ketaton, menyeruduk ke sana ke mari,”dasar perempuan tak tahu diri. Kau telah menjebak anakku. Kau menjebak anakku agar dia mau mengawinimu. He, jujur saja kau. Sudah berapa laki-laki yang turut andil menanam bibit di perutmu itu, ha!”
“Cukup, Bu!”
“Ooo, Kau sudah berani membentakku. Kau sudah berani menghardikku. Bajingan!”
Seperti tidak puas-puasnya ibu mertuaku menjambak. Tak henti-hentinya menampar, memaki, serta menunjang tubuhku.
Aku berusaha bertahan. Pukulan dan makian ibu mertuaku yang bertubi-tubi tidak kuhiraukan. Aku segera mengemasi pakaianku. Secepat mungkin menggendong gadis kecilku yang sudah kehilangan suara di serak tangisnya.
Waktu masih menyimpan rahasianya. Aku terus mencari maknanya. Angin yang bertiup sedikit berpihak padaku. Hembusannya yang lembut, cukup melenakan anakku. Anakku sedang asyik bermain dengan mimpi-mimpinya. Sampai sekarang memang aku belum paham, apa ini yang disebut karma. Aku pernah teringat selentingan tentang penkhianatan ibuku terhadap bapakku. Bapakku terlalu mencintai ibu, karena ibu mampu meyakinkan bapakku agar tidak terlalu kuatir.
Peristiwa nya terasa menyakitkan. Ketika itu ibu mengaku sakit, sehingga tidak bisa menjajakan jamunya. Pagi-pagi sekali Bapak pergi, setelah merapikan botol jamu Ibu. Ibu berselubung sakit. Menitip maaf padanya. Setelah melabuhkan kecup di dahi Ibu, Bapak segera menapak langkah. Bapak diam-diam merangkai kejutan, mencatat pada jejak yang ditinggalkan.
Kali ini Bapak seolah mendapatkan kesempatan mengusung pulang sebelum magrib menjelang. Pulang dengan senyum penuh bintang, menabalkan niat kejutan cinta yang lama terpendam walau hanya sekadar setangkai kembang.
“Hati-hati di rumah, ya...”
“Ya, Kang Mas...”
Selalu saja seperti pengantin baru. Kecupan sayang tak pernah dilupakan. Meski usia perkawinan mereka beranjak dewasa, dan momongan mereka hanya aku seorang. Dan kesempatan ini tidak akan begitu saja dilupakan sebagai pengerat diksi puisi cinta mereka.
Sampai beranjak malam setangkai melati baru didapatkan. Tapi hujan yang mencurah tak kunjung henti. Bapak sempat menunggu beberapa saat, angin yang mendesau seolah tak memberi ruang untuk sekadar lewat. Hujan masih belum jengah menitikkan derai tangisnya. Butir-butir airnya menguyupkan daun-daun. Jalanan basah. Parit-parit muntah. Bapak membulatkan tekad menapakkan langkah. Bapak menelusuri ruang-ruang basah. Bapak sesekali menggigit bibirnya. Bersebab guyur hujan dan deru angin, demi mengabulkan ingin. Seputih hatinya.
Hatinya membunga. Semacam taman yang tak henti-hentinya menebarkan semerbak aroma surga. Menyusup pada bilah-bilah dada. Sesampainya di rumah, Bapak menggelupurkan sesak dada. Mungkin karena lupa. Atau ruang pikirnya yang terlalu sesak menggudang segala bahagia. Sehingga ia tak paham lagi mengunyah defenisi-defenisi setia.
Entah apa yang merasuk di kepalanya. Ada amuk yang mengelora. Ranjangnya membanjir gairah. Ranjangnya ditenggelamkan irama desah. Bukan gairah miliknya. Bukan irama desah miliknya. Setangkai melati di tanganya ikut merasakan deru amarah. Seketika tenggelam bermandikan darah.
Belati di tangan Bapak memerah. Ketika itu aku mendapatkan Bapak sudah digelandang Polisi. Tangannya digari. Ibu sibuk mengutip derai tangisnya di atas ranjang yang penuh dengan simbah darah.
“Jangan pernah kau injakkan kakimu di rumah ini lagi!”
Aku tersentak. Suara ibu mertuaku membuyarkan segala kenangan pahit. Aku kembali ke alam nyata yang lebih kejam. Tetapi, begitu melangkah ke luar rumah, aku seperti menemukan kesegaran lebih ringan dari udara pagi. Melesat begitu saja. Melintasi segerombolan orang-orang luka. Diantaranya terlihat bang Pranata dengan wajah seputih kapas, digiring paksa. Tepat di sebelahnya, seorang perempuan yang tengah hamil tua. Serentak mereka menuju rumah ibu mertuaku. Aku tak ingin menoleh lagi. Aku merasa bebas. Bebas. Mungkin ada sisa titik iba, ketika kudengar petir sepagi ini pecah dari rumah ibu mertuaku. Suara sepenuh duka.
Komunitas Home Poetry, 2009-2010
Cerpen Resep karya Raudah Jambak
Sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi
Ibu bersumpah untuk membangun keluarganya di atas meja makan. Ia terobsesi mewujudkan keluarga yang bahagia melalui media makan bersama. Maka, ia menghabiskan hidupnya di dapur, memasak beribu-ribu bahkan berjuta-juta menu makanan hanya untuk menghidangkan menu masakan yang berbeda-beda setiap harinya. Ia memiliki jutaan daftar menu makan malam di lemari dapurnya. Daftar itu tersusun rapi di dalam sebuah buku folio usang setebal dua kali lipat kamus besar Bahasa Indonesia, berurut dari menu masakan berawal dengan huruf A hingga Z. Ia menyusun sendiri kamus itu sejak usia perkawinannya satu hari hingga kini menginjak usia 25 tahun. Di sebelah kamus resep masakan itu, bertumpuk-tumpuk pula resep masakan dari daerah Jawa, Madura, Padang, bahkan masakan China. Belum lagi kliping resep masakan dari tabloid-tabloid wanita yang setebal kamus Oxford Advanced Learner.
Isi kepala Ibu memang berbeda dengan ibu lain. Dalam kepalanya seolah hanya ada tiga kata, menu makan malam. Setiap detik, setiap helaan napasnya, pikirannya adalah menu-menu masakan untuk makan malam saja. Makan malam itulah ritual resmi yang secara tersirat dibikinnya dan dibuatnya tetap lestari hingga saat ini. Meskipun, ketiga anaknya telah beranjak dewasa, ia tak pernah surut mempersiapkan makan malam sedemikian rupa sama seperti ketika ia melakukannya pertama, sejak usia pernikahannya masih satu hari.
Keluarga ini tumbuh bersama di meja makan. Mereka telah akrab dengan kebiasaan bercerita di meja makan sambil menikmati menu-menu masakan Ibu. Mereka berbicara tentang apa saja di meja makan. Mereka duduk bersama dan saling mendengarkan cerita masing-masing. Tak peduli apakah peristiwa-peristiwa itu nyambung atau tidak, penting bagi yang lain atau tidak, pokoknya bercerita. Yang lain boleh menanggapi, memberi komentar atau menyuruh diam kalau tak menarik. Muka-muka kusut, tertekan, banyak masalah, stres, depresi, marah, kecewa, terpukul, putus asa, cemas, dan sebagainya, bisa ditangkap dari suasana di atas meja makan. Sebaliknya muka-muka ceria, riang, berseri, berbunga-bunga, jatuh cinta, juga bisa diprediksi dari ritual makan bersama ini. Ibu yang paling tahu semuanya.
Ia memang punya kepentingan terhadap keajegan tradisi makan bersama ini. Satu kepentingan saja dalam hidupnya, memastikan semua anggota keluarganya dalam keadaan yang ia harapkan. Bagi Ibu, sehari saja ritual ini dilewatkan, ia akan kehilangan momen untuk mengetahui masalah keluarganya. Tak ada yang bisa disembunyikan dari momen kebersamaan ini. Dan kehilangan momen itu ia rasakan seperti kegagalan hidup yang menakutkan. Ia tak mau itu terjadi dan ia berusaha keras untuk membuat itu tak terjadi.
Ia tak berani membayangkan kehilangan momen itu. Sungguh pun tahu, ia pasti menghadapinya suatu saat nanti, ia merasa takkan pernah benar-benar siap untuk itu. Yang agak melegakan, semua anggota keluarganya telah terbiasa dengan tradisi itu dan mereka seolah menyadari bahwa Ibu mereka memerlukan sebuah suasana untuk menjadikannya "ada". Semua orang tahu dan memakluminya. Maka semua orang berusaha membuatnya merasa "ada" dengan mengikuti ritual itu. Namun, kadang beberapa dari mereka menganggap tradisi ini membosankan.
***
Jam empat pagi. Ibu telah memasak di dapur. Ia menyiapkan sarapan dengan sangat serius. Ibu tak pernah menganggap memasak adalah kegiatan remeh. Ia tak pernah percaya bahwa seorang istri yang tak pernah memasak untuk keluarganya adalah seorang Ibu yang baik. Jika ada yang meremehkan pekerjaan memasak, Ibu akan menangkisnya dengan satu argumen: masakan yang diberkahi Tuhan adalah masakan yang lahir dari tangan seorang Ibu yang menghadirkan cinta dan kasih sayangnya pada setiap zat rasa masakan yang dibikinnya. Ibu meyakini bahwa makanan adalah bahasa cinta seorang Ibu kepada keluarganya, seperti jembatan yang menghubungkan batin antarmanusia. Sampai di sini, anak-anaknya akan berhenti mendengar penjelasan yang sudah mereka hapal di luar kepala. Ibu takkan berhenti bicara kalau kedamaiannya diusik. Dan yang bisa menghentikannya hanya dirinya sendiri.
Sarapan tiba. Ibu menyiapkan sarapan di dapur. Ia menyiapkan menu sesuai dengan yang tertera di daftar menu di lemari makanan. Telur dadar, sayur hijau dan sambal kecap. Ada lima orang di keluarganya. Semua orang memiliki selera berbeda-beda. Suaminya suka telur yang tak matang benar, agak asin, tanpa cabe. Aries suka telur yang benar-benar tergoreng kering, dan harus pedas. Pisca, suka makanan serba manis. Telur dadarnya harus setengah matang dengan kecap manis dan sedikit vitsin. Sedangkan Canestra, tak suka pada kuning telur. Sebelum didadar, kuning telur harus dipisahkan dulu dari putihnya. Jika tidak dibuatkan yang sesuai dengan pesanannya, ia bisa mogok makan. Berhari-hari.
Bagaimana dengan Ibu? Ibu bahkan tak pernah macam-macam. Telur dadarnya adalah yang standar, tidak ada perlakuan khusus. Ia boleh makan apa saja, yang penting makan, jadilah.
Pukul 07.05. Telur dadar setengah matang asin, telur dadar pedas, telur manis dengan vitsin, dan telur tanpa kuning, berikut sayur hijau dan sambal kecap telah terhidang. Semua telah menghadapi hidangan masing-masing sesuai pesanan. Makan pagi biasanya tak ada yang terlalu banyak bicara. Semua sibuk dengan rencana masing-masing di kepalanya. Kelihatannya, tak ada yang ingin berbagi. Aries kini sudah bekerja di sebuah kantor pemerintah, menjadi tenaga honor daerah. Ia harus tiba di kantor setidaknya pada tujuh dua lima, karena ada apel setiap tujuh tigapuluh. Pisca harus ke kampus. Ia duduk di semester tujuh kini. Tampaknya sedang tak bisa diganggu oleh siapa pun. Wajahnya menunjukkan demikian. Mungkin akan bertemu dengan dosen pembimbing atau entah apa, tapi mukanya keruh. Mungkin banyak persoalan, tapi Ibu cuma bisa memandang saja. Sedang Canestra masih di SMA. Ia tampak paling santai. Tangannya memegang komik. Komik Jepang. Makan sambil membaca adalah kebiasaannya. Sang Bapak, duduk diam sambil mengunyah makanan tanpa bersuara dan tanpa menoleh pada yang lain. Pria yang berhenti bekerja beberapa tahun lalu itu tampak lambat menyelesaikan makannya. Ia menikmati masakan itu, atau tidak peduli? Tak ada yang tahu.
Satu per satu mereka meninggalkan ruang makan. Hanya piring-piring kotor yang tersisa di meja makan. Ibu membawanya ke dapur, mencuci piring-piring itu sampai bersih dan mengelap meja makan. Ritual berikutnya adalah menyerahkan anggaran belanja ke pasar hari itu kepada suaminya. Saat-saat inilah yang paling ia benci seumur hidupnya. Ia benci menerima uang dari suaminya yang selalu tampak tak rela dan tak percaya.
Akhirnya, memang bahan-bahan menu itu dipangkas seenak udelnya, ia tak mau tahu apa pun. Ujung-ujungnya ia cuma memberi sepuluh ribu saja untuk semua itu. Tentu saja kurang dari anggaran yang seharusnya, dua puluh ribu. Untuk itu semua, maka otomatis menu berubah; tak ada ayam bumbu rujak, tak ada capcay, yang ada tinggal perkedel jagung dan tempe. Sayur hijau, katanya, bolehlah. Yang penting sayur, dan murah. Ah…
Ibu berjalan ke pasar dengan gontai. Hari itu Jumat. Hari pendek. Anak-anak akan pulang lebih cepat dari biasa. Ia mempercepat langkahnya. Tak mudah membagi waktu, kadang pekerjaan teramat banyaknya sampai-sampai tak ada waktu untuk melakukan hal lain selain urusan dapur. Kadang ia berpikir ada sesuatu yang memang penting untuk dilakukan tapi itu akan mengabaikan urusan dapur dan itu berarti pula mengabaikan selera anak-anaknya. Itu tidak mungkin. Tak ada yang mengerti selera anak-anaknya kecuali dia.
Tapi kadang ia bosan berurusan dengan menu-menu. Ia telah mencoba semua menu yang ada di buku-buku masakan, ia telah mencoba semua resep masakan di teve, dan ia kehabisan ide suatu ketika. Ia mencatat menu-menu yang sudah pernah dibikinnya. Serba-serbi sambal: sambal goreng krecek, sambal goreng hati, sambal godog, sambal kentang, sambal bawang, sambal kecicang, sambal serai, dll. Aneka ca, semacam: ca sawi, ca kangkung, ca bayam, ca tauge, ca bunga kol, dll. Semua jenis perkedel dan gorengan kering: perkedel ketimun, perkedel kentang, perkedel jagung, pastel kentang, kroket kentang, dan seterusnya. Sampai makanan golongan menengah dilihat dari mahalnya bahan pokok semacam: babi kecap, gulai kare ayam, gulai udang, sate bumbu rujak, opor ayam, sup kaki ayam dengan jamur tiongkok, dendeng sapi, kepiting goreng. Juga serba-serbi makanan China semacam: shiobak, koloke, fuyung hai, ang sio hie, hao mie, tao mie, dan seterusnya. Daftar ini masih akan bertambah panjang kalau disebutkan serba-serbi pepes, serba-serbi urap, atau serba-serbi ikan.
Semua menu sudah dicobanya habis tak bersisa, tapi sepertinya masih saja ada sesuatu yang kurang. Ia pun lebih kerap berkreasi, satu menu masakan kadang-kadang dipadu dengan menu masakan lain, misalnya pepes tempe, gulai pakis, sate tahu, dan sebagainya. Tapi masih saja menu-menu itu terasa tak cukup untuk membuat variasi menu yang berbeda setiap harinya. Karena itulah yang akan membuat keluarganya betah dan merindukan makan malam.
Ia pernah merasa ingin berhenti saja memikirkan menu-menu itu, tapi suaminya akan berkata, "Kau telah memilih menjadi perempuan biasa-biasa saja, tidak bekerja dan melayani keluarga. Bahkan kau bersumpah akan membangun keluarga di atas meja makan, kenapa tidak kau pikirkan sebelumnya?"
Ibu merenungkan kata-kata suaminya. Ada yang salah terhadap penilaian-penilaian. Ada yang tak adil di dalamnya. Hampir selalu, yang menjadi korban adalah mereka yang dinilai, mereka yang tertuduh, mereka yang melakukan sesuatu tapi dinilai salah dan dianggap biasa-biasa saja. Tapi apa sesungguhnya yang terjadi dengan biasa dan tak biasa? Apa yang menentukan yang biasa dan yang tak biasa? Menjadi Ibu adalah sangat luar luar luar biasa. Apakah seorang ibu rumah tangga yang mencurahkan seluruh hidupnya untuk keluarga lebih biasa daripada seorang ibu yang tak pernah sekalipun berpikir tentang keluarganya, meski ia punya tujuh perusahaan dan kaya raya? Lagipula, itu cuma perasaan, bukan angka-angka dalam matematika, namanya juga perasaan. Tercium bau hangus. Ibu tersentak dari lamunannya. Tempenya gosong.
Ia menyudahi goreng-menggoreng tempe itu. Lalu dengan bergegas ia menyambar sekeranjang cucian kotor, mulai mencuci. Anaknya datang satu per satu. Ibu belum selesai mencuci. Ia agak tergesa karena harus menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya. Setelah menyiapkan makan siang, ia kembali bekerja, menyelesaikan cucian.
Makan siang Ibu adalah jam 3 sore. Setelah itu, ia tidur dua jam. Sehabis jam 5 sore, sehabis tidur siangnya, ia harus menyiapkan makan malam. Sehabis makan malam, jangan kira ia selesai. Ada Bapak yang setiap hari minta dipijit, tapi setiap hari mengeluh pijitan Ibu tak pernah mengalami kemajuan. Ah…
Dia melakukannya selama sisa hidupnya. Ia berkutat dengan semua itu selama puluhan tahun, tak pernah ada yang memujinya, dan ia pun tak ingin dipuji, tapi itukah yang disebut perempuan biasa?
Suatu ketika, sebuah peristiwa datang mengusik keluarga itu.
Hari itu Selasa, ketika sebuah perubahan memperkenalkan dirinya kepada keluarga itu. Aries menolak makan bersama. Ia tentu punya alasan di balik aksi mogoknya. Tapi tak ada yang tahu apa alasan Aries.
Ibu kecewa. Menu makan malamnya tak dicicipi selama tiga hari berturut-turut. Ini adalah beban mental bagi seorang Ibu. Ia bukanlah orang yang suka memaksa, tapi selalu membaca dari tanda-tanda dan suka juga menebak-nebak. Sialnya, Aries tak pernah memiliki cukup waktu untuk menjelaskan semua itu. Ia tampak begitu sibuk. Kadang ia bahkan terlihat menyibukkan diri, menghindar dari Ibu. Ia menomorduakan ritual makan malam mereka. Ibu menangis, ia merasa segala usahanya untuk membangun tradisi makan malam ini sia-sia saja. Salahkah jika ia berusaha membikin sesuatu yang kelak retak menjadi abadi? Mungkin memang salah, tapi dulu tak seorang pun cukup berani menunjukkan di mana letak salahnya, tak seorang pun tega mengecewakan Ibu. Tapi Aries, kini telah membuatnya kecewa secara nyata.
Suasana menjadi semakin keruh ketika di hari kelima, keenam dan ketujuh, Aries juga absen makan malam.
Ibu bertindak. Ia masuk ke kamar si sulung, lalu, mungkin, bicara di sana. Pisca dan Canestra duduk di depan tivi, tidak mendengar apa-apa.
Satu jam kemudian, Ibu keluar dengan wajah murung, tapi dibikin agar kelihatan berseri. Ia tampak aneh.
"Aku tahu selama ini kita tak pernah jujur dengan makan malam itu. Satu-satunya yang jujur hanya dia. Kita semua sudah bosan, ya kan? Ibu juga. Dan mulai saat ini, tidak ada lagi kebohongan apa pun. Tinggalkan saja jika kalian memang tak setuju. Ibu juga sudah lelah memikirkan menu-menu makan malam untuk kalian. Ibu ingin merasa tidak perlu menyiapkannya untuk kalian. Ibu akan mencoba. Selamat bersenang-senang!"
Ibu terlihat enteng menyelesaikan persoalannya. Bapak menyusul Ibu ke kamar. Mudah-mudahan mereka bercinta. Ah ya mereka sepertinya tak pernah bercinta lagi sejak beberapa tahun ini. Padahal itu perlu, terutama bagi Ibu yang lelah luar biasa. Fisik dan jiwa.
Pisca menyelinap masuk ke kamar Aries, meninggalkan Canestra yang masih asyik nonton tivi. Ia sungguh ingin tahu, apa yang dibicarakan Ibu dan Aries, sehingga Ibu keluar dengan wajah aneh, murung tapi dipaksakan berseri. Pisca bertanya, "Ada apa?" Aries tak menjawab, namun tiba-tiba menangis dan menenggelamkan wajahnya di bawah bantal. Dengan sesenggukan, ia berkata, "Untuk apa lagi mempertahankan sebuah kepalsuan di depan Ibu? Salah satu dari kita semua telah mengkhianati Ibu, untuk apa lagi semua ini dipertahankan?"
Pisca menangkap ucapan kakaknya dengan jelas, namun ia tak mengerti, dan tak ingin mengerti, karena semua itu terlalu menyedihkan baginya. Apalagi yang lebih menyedihkan ketika tahu seseorang telah berkhianat kepada Ibu? Siapa pun dia, Pisca tak ingin tahu. Ia tak ingin mendendam, apalagi terhadap keluarganya sendiri. Tapi, bukankah Ibu selalu tahu apa yang terjadi? Semua pertanyaan bertumpuk-tumpuk di kepalanya.
Sesuatu yang kelak retak, yang Ibu pernah berusaha membikinnya abadi, kini sudah benar-benar retak berkeping-keping dan tak mungkin disatukan lagi. Sejak saat itu, makan malam bersama tidak rutin lagi bagi mereka. Hanya Ibu yang masih betah di sana. Sesekali Pisca atau Canestra mendampinginya. Mungkin tiba saat ketika ia benar-benar rindu makan malam bersama.
Sialnya, Bapak benar-benar tak memahami persoalan dengan baik. Ia sok bijak dan pandai. Kata-katanya sungguh tak tepat untuk menggambarkan seluruh keadaan ini.
"Benar kan, Ibumu memang perempuan biasa-biasa saja. Ia bahkan menganggap hal remeh ini sebagai kiamat dalam hidupnya!"
Pisca meradang. Ia merasa Bapak yang sombong itu harus dihentikan.
"Apa yang biasa? Apa yang tak biasa? Bapak juga laki-laki biasa, yang tak bisa seperti Ibu. Bapak jauh lebih biasa dari Ibu. Ibu, setidaknya berusaha membikin tradisi agar kita tahu arti kebersamaan sekalipun di atas meja makan. Tapi lihatlah Bapak yang hanya suka mengejek tapi tak pernah melakukan apa pun, bahkan tak pernah berusaha melakukan apa pun!"
Bapak diam. Dia kelihatan tersinggung. Tapi Pisca suka dan puas membuatnya tersinggung. Pisca memutuskan untuk menemui Ibu. Ibu menyambutnya dengan senyum. Ia tahu Pisca akan berbicara soal Bapak, soal biasa dan tak biasa. Ibu mencegahnya bicara lebih dulu, "Begini. Bapak benar soal Ibu yang biasa-biasa saja. Ini sudah seharusnya. Ibu menerima semua itu, bukan karena Ibu pasrah tapi Ibu mengerti betul kalian semua dan juga persoalan ini. Ibu memang perempuan biasa, tak ingin menjadi yang tak biasa. Ibu mencintai Bapak, kalian semua. Ibu tak bisa memberi uang, maka Ibu cuma memberi kemampuan Ibu memasak, itu pun jika kalian mau menikmatinya."
"Tapi Bu, ini penghinaan. Masalah makan malam itu bukan masalah sekadar, bukan masalah remeh temeh. Sebesar itu usaha Ibu membangun tradisi kebersamaan di keluarga kita, tapi Bapak bahkan menganggapnya tak ada. Kita belajar satu sama lain di meja makan itu, kita memutuskan hidup kita di atas meja makan itu, dan ingat, ketika Bapak berhenti bekerja di kantor karena penyelewengan dana yang sangat memalukan itu, yang menolong Bapak adalah kita, juga di atas meja makan itu."
"Bapak kini sedang merasa kesepian, ia kehilangan saat-saat terbaiknya, itu hal tersulit yang pernah ditemuinya. Kita harus memahami itu."
Dari beranda, Bapak mendengar semua percakapan itu. Ia berpikir bahwa istrinya memang baik, pengertian dan sabar, tapi sungguh ia sangat biasa, dan yang terpenting, tak menggairahkan. ***
M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Beberapa karyanya masuk dalam beberapa antologi , seperti Tanah Pilih (antologi puisi Temu Sastrawan Indonesia I) dan Jalan Menikung ke Bukit Timah (antologi cerpen Temu Sastrawan Indonesia II). Saat ini sibuk membidani Komunitas Home Poetry. Alamat kontak : (Taman Budaya Sumatera Utara) Jalan Perintis Kemerdekaan no. 33 Medan. Nomor kontak : 081223212875. e-mail : mraudahjambak@yahoo.com. Taman Sastra Raudah jambak : mraudahjambak.blogspot.com. Sehari-harinya bekerja sebagai guru Sastra dan dosen Filsafat Panca Budi Medan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar