Cerpen Halomoan karya M. Raudah Jambak
”Sahur. Sahur...”
”Bang Lomo, Sahur....”
Beberapa orang remaja masjid sibuk menggedor pintu rumah Halomoan. Seorang duda yang ditinggal mati anak-istrinya bersebab Tsunami, beberapa waktu yang lalu di pantai Alue Naga, Banda Aceh. Lelaki yang sepanjang hidupnya senang hura-hura. Le laki yang kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi seminggu sebelum Rama dhan penduduk kampung dikejutkan dengan perubahan mendadak dari Halomoan. Ia ikut gotong-royong. Ikut membersihkan selokan dan parit-parit. Semua sapu bersih. Dan dia juga mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk keperluan segala perbaikan, dan kon sumsi naposo nauli bulung, perkumpulan muda-mudi di kampung itu.
”Abang mau marpangir di Bulan!” guraunya spotan.
Pagi-pagi sekali Halomoan sudah bangun. Udara masih begitu dinginnya. Hari itu adalah hari yang begitu penting. Sebegitu pentingnya membuat Halomoan tidak begitu menghiraukan udara yang dingin itu. Segera saja ia mengambil sapu dan alat-alat pembersih lainnya. Hari ini harus segera selesai, pikirnya.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, ia segera mulai dari bagian dapur. Membersihkan piring-piring kotor, kompor minyak, dan seluruh dapur tanpa kecuali. Setelah menyelesaikan bagian dapur, segera ia bersihkan bagian tengah, sampai berlanjut sampai ruang tamu. Semua ia bersihkan, misalnya alas lantai. Amak sebuah tikar yang terbuat dari anyaman bayuaon (tanaman air yang dipipihkan dan dikeringkan) yang dikombinasikan dengan pandan berduri (pandan pudak), diambil pelepahnya dipotong-potong dan dijemur hingga kering, tak luput dari perhatiannya untuk dibersihkan.
Pekerjaan yang dimulai setelah selesai shalat subuh itu berakhir juga pada pukul sem bilan pagi. Tidak hanya rumahnya, tetapi juga di lingkungan kampung itu. Halomoan ke mudian segera bergegas ke sungai. Hari ini Halomoan hendak marpangir. Segalanya juga sudah dia siapkan mulai dari limau atau jeruk purut, daun pandan, ampas kelapa, bunga mawar, bunga kenanga atau akar wangi yang dipergunakan untuk mandi.
”Bang, mau ke mana?”
”Ke Tanggal.”
”Pagi kali, Bang?”
Halomoan mengangguk. Dia berjalan terus. Sepanjang perjalanan, semua mata memandangnya dengan penafsiran yang berbeda. Ada yang mengangguk-angguk. Dan tak sedikit yang geleng-geleng kepala. Ada yang simpati, juga menahan geli.
Halomoan tidak perduli. Dia justru merasa sangat berbahagia. Inilah mungkin kesempatan satu-satunya. Memang, diakuinya selama ini tak pernah terpikirkan olehnya untuk melakukan hal-hal seperti ini. Sejak dari dulu, sampai istri dan anak-anaknya direngut Tsunami. Dan baru Ramadhan inilah ia membulatkan tekad untuk membersih kan dirinya luar dan dalam.
Menyambut Ramadhan Halomoan aktif membantu membersihkan lingkungan warga. Mulai dari membersihkan jalanan, langgar, surau, atau masjid. Membantu membersihkan areal pemakaman, bagi para penziarah yang datang. Membabat semakbelukar yang menu tupi kuburan. Termasuk selokan-selokan yang dipenuhi timbunan sampah-sampah.
Halomoan sudah bertekad usahanya kali ini membuahkan hasil. Ia ingin menghapus segala dosa-dosa yang sudah dilakukannya selama ini. Tidak perduli dengan lingkungan. Tidak peduli dengan keluarga dan saudara. Sehingga orang-orang yang paling mencintai nyapun akhirnya satu persatu menjauh meninggalkannya. Ada yang pergi begitu saja. Ada yang pergi dipanggil Yang Kuasa, termasuk anak dan istrinya.
Pernah satu kali ia melakukan tindakan bunuh diri, menusuk perutnya dengan sebilah pisau dapur. Orang-orang yang mengetahui segera membawanya ke rumah sakit. Begitu di rumah sakit, ia cabut selangnya berkali-kali. Orang-orang bosan. Orang-orang muak. Orang-orang satu persatu meninggalkannya. Sampai kini.
Sepanjang perjalanan Halomoan terus menerus berdo’a. Ia berharap dengan cara Marpangir ini, bersih segala dosa-dosanya. Ia juga berharap Ramadhan kali ini ibadahnya lancar dan mendapatkan Ridho Allah. Walaupun orang-orang masih tetap menjauhinya, ia terus berusaha. Dalam hatinya ia hanya berharap semoga Allah tak pernah pergi dari sisinya.
Setibanya di Tanggal, sebuah sungai di Padangmatinggi dekat kebun Batutippul, Sadabuan di utara, Halomoan turun. Bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dari rumah, dikeluarkan. Halomoan termenung beberapa saat. Melihat sungai, dia teringat anak-istrinya. Alue Naga terpampang lagi. Angannya melompat. Dulu, begitu sering Halomoan, Uli, dan anak-anaknya menikmati malam di beranda.
Mereka suka memandang rembulan. Terlebih jika ia purnama. Mereka ngobrol apa saja. Bahkan suka melantur kemana-mana. Termasuk membicarakan rembulan yang sedang menggantung di langit malam.
"Apakah warna rembulan?" Uli pernah bertanya.
"Kuning emas!" jawab anak mereka yakin dan mantap.
"Kuning agak jingga," sangkal Halomoan kalem.
"Menurutku, bulan berwarna merah jambu," ujar Uli disambut penolakan dari Halomoan dan anak-anak.
Bagaimana mungkin bulan berwarna merah jambu. Halomoan menunjuk pohon jambu di seberang jalan yang kebetulan sedang berbuah. Warnanya merah. Dan bulan tak sewarna dengan warna merah buah itu. Namun Uli justru bersenandung: bulan merah jambu, luruh di kotamu, kuayun sendiri langkah-langkah sepi, menikmati angin, menabuh daun-daun, mencari gambaranmu di waktu lalu, sisi ruang batinku hampa rindukan pagi, tercipta nelangsa, merengkuh sukma.*)
Selanjutnya, berkali-kali mereka di beranda. Dan tetap saja Uli katakan bahwa bulan berwarna merah jambu meski Halomoan dan anak-anak selalu menolaknya. Agh, Uli, anak-anakku. Sedang apa kalian malam ini? Apakah di sana juga sedang terlihat rembulan? Dan apakah akan kalian katakan pada orang-orang bahwa warnanya merah jambu? Bukan kuning emas atau kuning agak jingga? Sudah marpangirnya kalian di sana?
Selesai marpangir, Halomoan segera pulang kali ini agak tergesa. Dalam pikirannya, ia ingin marpangir di bulan. Bersama Uli. Bersama anak-anaknya.
”Dari mana, Bang?”
”Dari Tanggal.”
”Oihdah, marpangirnya, Abang?”
”Ya.” jawabnya tersenyum,”Abang juga mau marpangir di bulan. Ikut kalian?”
Demi mendengar itu, tak pelak ledak tawa merebak. Halomoan terdiam. Halomoan mempercepat langkah, menjauh. Sayup-sayup masih didengarnya sindiran-sindiran yang menyakitkan. Kalau sudah kotor, ya kotor. Air paret, ya paret ha ha ha. Halomoan terus melangkah mendekap diam.
***
”Sahur..”
”Bang Lomo, Sahur...”
Berkali-kali dipanggil tak juga ada sahutan. Beberapa orang remaja masjid penasar an. Berhati-hati mereka masuk ke dalam rumah Halomoan. Suasana di dalam rumah ma sih temaram. Mereka telusuri mulai dari ruang tamu, ruang tidur, sampai ruang belakang. Sejak ditinggal sendiri memang Halomoan jarang mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Sehingga membuat siapa saja bisa saja masuk. Dan seandainya ada yang berkeinginan malingpun sangat mudah dilakukan.
“Hei, Lihat. Bukankah itu Bang Lomo?”
Kampung geger. Kampung gempar. Tubuh Halomoan ditemukan sedang bersujud di atas sajadah. Tak bergerak. Tubuh itu kaku. Beberapa orang remaja masjid sebelumnya menggedor pintunya. Beberapakali teriakan sahur tidak disahuti. Lantas mereka membe ranikan diri masuk. Awalnya mereka tak menyangka, sebab ketika masuk mereka mene mukan Halomoan tengah bersujud di atas sajadah. Berkendara menuju semesta dan mendapatkannya tengah marpangir di bulan.
Ramadhan, 2014
*) Potongan lirik lagu Tak Bisa ke Lain Hati Kla Project.
Cerpen Perempuan Orok karya M. Raudah Jambak
Dan malam ini ia harus menghadapi kenyataan untuk yang ke sekian kali. Kenyataan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kenyataan yang sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari pekat malam. Baginya justru malam adalah sahabat. Ia lebih percaya pada malam daripada siang. Malam selalu menjaga kepercayaannya. Malam tidak pernah mengkhianatinya. Pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan dengan segala keterpaksaan. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.
Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut merupakan rumus perjalanan usia. Di awali dari sebuah kelahiran yang akhirnya sampai kepada pintu kematian. Di antara jeda kelahiran dan kematian itu, kita harus mampu menentukan sikap. Walau akhirnya tidak bersikap adalah sebuah sikap. Lantas semua itu bergantung kepada kita bagaimana harus melangkah. Dan ia sudah menentukan sebuah langkah yang memang terpaksa harus dijalani dengan segala cinta. Hanya itu yang ia punya dalam menjalani hidup sepanjang usia. Usia yang perlahan mengejar gerbang waktu ke waktu.
Bersama segudang cinta, ia harus tertatih mengunjungi rumah malam. Menimang-timang orok sambil menyanyikan tembang kasih dan sayang. Menari ke sana ke mari. Mengumpulkan orok yang berebut hendak ditimang. Lalu bermain kejar-kejaran. Sungguh! Begitu riang. Memendam segala perih, segala pedih. Dan, ia bahagia. Bahagia dengan segalanya. Bahagia dengan segala kenyataan.
Perih dan pedih baginya adalah kenangan. Perih yang akhirnya memompakan semangat hidup dengan energi yang justru sangat berlebihan. Tetapi, ia begitu menikmatinya. Semakin ia ingat segala kenangan pedih itu, semakin menggila semangat itu.
Perih itu seperti tombak yang menghunjam ke jantung berkali-kali. Membekap sesak di dada. Memporak-porandakan segala harapan. Lalu ketika segala kehampaan itu hampir sampai pada puncaknya, malam pun akhirnya memberikan segala ketentraman. Segala kedamaian. Pada aliran kedamaian itulah ia reguk tetes air kebahagiaan. Membasuh lara. Malamlah yang selalu menyalurkan kekuatan, yang membuatnya mampu untuk terus bertahan. Lalu malampun dijadikannya ibu tempat yang paling nyaman untuk menuangkan segala keluh kesahnya. Meraih kekuatan-kekuatan baru untuk menimang-timang orok mungilnya. Bermain-main. Mendendangkan tembang kasih dan sayang.
Satu persatu orok itu berebut hendak ditimang, lalu sesekali berteriak dibiarkan berenang. Bergantian setiap malam-malam bertandang. Menyelam sampai di kedalaman. Menelusuri sampai dikejauhan. Mencari muara. Tapi, apa daya sebelum sampai pada muara, siang menghempang, menyangkutkannya pada arus yang mengambang. Ia pun harus pasrah, ketika siang menitipkan orok itu pada setiap orang, yang kemudian memberikan rumah baru yang sepi di kedalaman bumi.
Siang, sepertinya memang sengaja memisahkannya dengan orok yang selalu ia timang. Diam-diam ia pun memusuhi siang yang terkadang membakarnya dengan terik yang garang.
Ia tak mau menyalahkan Tuhan. Bersebab tekanan ekonomi. Ia hanya perempuan yang lemah tak berdaya. Pikirannya hanya satu, ia ingin menggapai segala impian. Melanjutkan sekolah ke tempat yang lebih tinggi. Mengharap pembayaran uang sekolah yang mahal dari seorang ibu berstatus janda dan sakit-sakitan adalah sesuatu yang sungguh mustahil. Sebagai anak tunggal, impiannya hanya satu membahagiakan ibu yang telah melahirkan dan merawatnya hingga besar. Menjadi seorang gadis cantik yang pasti menggiurkan setiap hasrat setiap laki-laki.
Ia merasa kesadarannya mungkin terlambat. Bertahun ia terpaksa mengumpulkan lembar demi lembar uang yang kurang dari memungkinkan. Mengumpulkan segala keinginan sekeras logam, menawarkan segala pesona kepada setiap hidung belang yang berhasrat mencicipi setetes demi setetes maduranumnya. Demi kenikmatan sementara. Tak terhitung lagi peluh setiap lelaki membasahi tubuh moleknya. Tak terhitung lagi lelaki-lelaki itu mencangkuli sawahnya. Menebarkan benih pada hamparan rahimnya. Tak ter hitung lagi ia harus memanen orok sebelum waktunya, demi mengejar segala cita-cita nya. Mungkin saja jika orok itu ia biarkan sampai pada kelahirannya, sudah berapa bayi yang melahap ranum puting susunya. Meninggalkan irama tangisan yang memenuhi ruang telinganya. Tetapi, ia harus makan. Membelikan obat untuk ibunya yang sekarat. Membayarkan uang sekolah yang setiap bulan mencekik masa remajanya. Maka, ia tak ingin sebuah kehamilan memadamkan segalanya. Memadamkan keinginannya untuk men jadi seorang dokter. Merawat ibu yang tercinta sepanjang hidupnya.
Wajar jika ia memilih pelajaran IPA sebagai mata pelajaran paforitnya. Tetapi, ketika ia sampai pada pembahasan anatomi, hatinya perih. Perih membayangkan orok-orok itu belum sempurna tubuhnya. Perih membayangkan kesedihan janin dalam rahimnya diusir paksa cairan kimia. Perih membayangkan orok yang selalu ditimang itu menyalakan tatapan mata penuh kebencian. Menuduh ia sebagai perempuan jalang yang tidak mengerti kasih dan sayang. Lalu kebencian itu berubah menjadi sebuah tombak yang setiap saat menghunjam diam-diam dari belakang.
Sebenarnya, tak pernah sekalipun dalam setiap jengkal benaknya ada niat keji seperti itu. Ia hanya bisa berharap orok-orok itu mengerti, bagaimana himpitan hidup berkali-kali menderanya. Mendesaknya. Di usia yang seharusnya membawanya pada dunia kegembiraan. Pada dunia penuh bunga. Di usia yang mengajarkannya meraih presatasi demi prestasi. Ia harus menjual kehormatannya untuk membayar uang sekolah yang mahal. Ia harus membayar uang buku cetak yang setiap tahun selalu saja baru. Memenuhi kebutuhan sejengkal perut. Merawat ibunya yang janda. Walau toh, akhirnya ia selalu meraih juara umum. Mendapatkan beasiswa pengurangan uang sekolah. Tetapi, apa boleh buat tekanan ekonomi memaksanya berbuat seperti yang tidak seharusnya. Ia harus terus-menerus menjual kehormatannya.
Dan malam ini tak ada yang lebih bahagia, selain ia harus menimang oroknya. Menghadapi kenyataan seperti malam-malam sebelumnya. Kembali bermain melepaskan segala kepenatan siang. Walau terlalu cepat untuk menjadi seorang ibu, justru ia merasa bangga dan bahagia. Bahagia memeluk, menimang, dan mendendangkan tembang kasih sayang. Bahagia menyuguhkan pancuran susu. Bahagia menyuapkan mereka. Bahagia memandikan mereka. Dan bahagia memandang wajah lelap mereka, setelah menikmati senandung lagu kasih-sayang. Awalnya, memang ini kenyataan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kenyataan yang sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari pekat malam. Ternyata pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan dengan segala keterpaksaan. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.
Ia seperti kembali ke masa lalu. Masa kanak-kanakanya. Mengenangkan ibu yang tidak pernah jera menemaninya setiap saat. Membayangkan wajah tirus ibu yang gelisah ketika ia dalam keadaan sakit. Wajah ibu yang gembira ketika ia berlari-lari ke sana ke mari. Melihatnya menari-tari dengan lenggok mungilnya. Mendengarkannya menyanyikan lagu yang tak jelas artikulasinya. Betapa bahagianya ibu. Menggendongnya kemudi an. Dan tidak pernah lupa mendongengkannya kisah-kisah kepahlawanan. Sampai akhirnya, ia harus terlelap di pangkuan hangat ibu, dengan mulut mungil yang menjepit puting susu ibu.
Malam ini, persis seperti waktu itu. Ia merasakan kebahagiaan seorang ibu. Ia bernyanyi dan terus bernyanyi. Tak pernah henti sampai akhirnya orok yang menjadi bayi dalam benaknya itu pulas satu persatu. Bersamaan dengan itu, entah siapa yang menciptakan telaga menyebabkan harunya tak terhingga. Tetapi, begitu sadar siang kembali merampas oroknya satu persatu. Telaga itu berubah sungai yang mengalir deras dari kedua belah pipinya.
Sungai yang mengalir itu seolah pertanda kasih dan sayangnya membawa orok itu pada muara waktu tak tentu. Pertalian kasih dan sayang itu seolah terputus-putus. Ia begitu mencintai mereka. Mencintai orokorok yang belum sempurna benar fisiknya. Mencintai mereka walau tak jelas benar bibit, bebet, dan bobotnya. Mungkin bibit seorang pejabat. Bebetnya, mungkin dari seorang yang paling ’suci’. Atau mungkin saja bobotnya berasal dari orang-orang kebanyakan. Ia tidak peduli, sebab mereka adalah anak-anak surga. Anak-anaknya. Walau kelahirannya dilumuri lumpur-lumpur kenistaan, dan kawah- kawah kegelapan.
Bagaimanapun, ia akan tetap menggenggam harap. Ia tetap percaya rumus hidup. Tentang sebuah pernyataan, semua pasti akan berakhir. Sedih pasti akan berakhir, mengundang sebuah kegembiraan. Keyakinannya melebihi segalanya. Tinggal bagaimana, ia menyikapi hidup. Tinggal bagaimana memaknai usia. Membiarkannya mengalir seperti air. Mendapatkan muara kebahagiaan. Saat ini ia menimang orok. Setelahnya ia akan menimang sempurnanya orok. Seorang bayi mungil, seperti yang selalu diidamkannya.
Namun, ia merasa waktu merambat begitu lambat. Ia masih saja harus mengunjungi malam. Sebuah rumah dengan beranda seluas kelam. Lalu ruang tamu sehitam pekat bayang-bayang. Walau tanpa lirik baris-baris cahaya, baginya malam adalah sebuah taman yang penuh dengan aneka bunga. Beragam aroma segar dan lembut. Ia seolah terbang menuju gerbang langit, melewati beratus bahkan beribu anak tangga dengan kendaraan cintanya. Kemudian kembali menimang-timang oroknya. Seolah malaikat kecil dengan lingkaran aura penuh cahaya. Sempurna. Ah.............!
Hanya saja memang waktu merangkak terlalu perlahan. Keinginan-keinginan itu masih tertahan. Ada yang memang harus berakhir. Ia tidak perlu lagi berkelana dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Ia hampir mencapai titik penantian, setelah anak pemilik sekolah mengakhiri setengah penderitaan yang menghimpitnya. Seorang lelaki muda yang mencintainya apa adanya. Dan ia pun harus memasrahkan segalanya. Sampai pada suatu ketika mereka harus menyelami dalamnya samudera asmara sampai ke dasar-dasarnya. Membiarkan lelaki itu merekam permainan binal mereka. Merestui lelaki itu mengambil setiap inci gambar sensisitifitas kewanitaaannya. Sebuah catatan kebahagiaan abadi baginya
Ia memang mencintai lelaki itu, walau tidak melebihi cintanya kepada malam. Tidak melebihi cintanya kepada orok yang selalu ditimangnya pada bulan-bulan temaram. Paling tidak ibunya berangsur-angsur menjemput kesembuhan. Tidak perlu lagi pusing menghadapi tuntutan pangan. Lancar membayar uang buku pelajaran. Bahagia menjadi seorang anak, sekaligus ibu bagi bayi imajinasinya. Bahagia menjadi seorang gadis yang dicintai dan mencintai.
Malam ini, ia merasakan kegundahan teramat dalam. Entah siapa yang merekayasa wajah bulan begitu buram. Bintang-bintang bersembunyi di bilik kabut. Desau angin seperti beribu pisau mengiris galau. Orok dalam timangannya meronta. Di susul orok-orok lain yang berebut menggantunginya. Orok-orok yang selalu melumat puting susunya. Menjerit histeris. Berteriak-teriak memekak. Berlompatan ke sana kemari. Ia berusaha berlari mengejar. Semakin dikejar orok itu semakin menjauh, dan akhirnya menghilang. Ia terus berlari, mencari. Entah mengapa, ia merasa semua mulai menjauhinya. Semua mulai membecinya.
Malam tiba-tiba berganti dengan wajah siang. Menghempaskannya habis-habisan. Orok-orok itu satu persatu muncul dengan wajah yang sungguh jauh berbeda, wajah malaikat awalnya, lalu berobah menjadi iblis yang sebenarnya. Orok-orok itu menyeringai garang dengan darah yang berlelehan dari taring-taring mereka. Ia berlari ketakutan. Orok-orok itu mengejar, mengepung dan dengan mudah melumpuhkannya. Ia histeris, menjerit sekuat-kuatnya. Tetapi mulutnyapun dibekap. Tidak ada lagi yang mendengar suaranya. Justeru ia yang mendengar suara-suara.
”Kamu berhak didampingi pengacara!” ujar salah seorang lelaki berseragam sambil memasang gari di tangannya,”kami sudah mengumpulkan semua bukti-bukti video mesummu. Dan menghapus gambar mesummu yang ada di internet.”
Dan, ia semakin membenci siang. Membenci kilatan cahaya dari mulut-mulut tajam kamera pemburu berita. Membenci ceracau hujatan pertanyaan. Benarkah Anda menjebak anak Ketua Yayasan? Mengapa begitu besar tuntutan yang Anda minta? Bagaimana perasaan Anda setelah dipecat dengan tidak hormat dari sekolah? Lalu bagaimana dengan Ibu Anda? Bagaimana dengan janin-janin Anda? Bagaimana dengan..........
Ia bungkam. Tangisnya tertahan. Jiwanya terguncang. Dalam hatinya, ia berharap malam datang bertandang. Ia masih mencintai malam, tetap menggenggam segala harap. Pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan, yang ke mudian selalu ditimang-timang. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.
Medan, 2014
Cerpen Cerita dari Bukit Dua Belas karya M. Raudah Jambak
Segayo lari ke bukit, ia jatuh terjerembab. Tangannya menutupi perutnya yang koyak. Berlari menuju sesudungon, pondok dari bangunan kayu, berdinding kulit kayu. Dan beratap daun serdang benal. Matanya masih menatap sekitar hutan yang sepi. Sebagai keturunan langsung orang Maalau Sesat, Segayo harus bertahan.
Hutan inilah negeri kami. Berdinding belantara. Tempat kami dilahirkan. Hitungan ratusan tahun kami mendiami tempat ini. Menghirup segala. Hidupkan segala. Menyatu dengan segala. Bermain dengan angin, dengan akar pepohonan, dengan semak belukar. Anak-anak, kaum perempuan, dan para lelaki telah terbiasa melukis kelam. Berpeluk pengab raya. Sebab kami adalah orang-orang rimba.
Lingkaran api biasa kami sulam pada malam. Memetik kerdipan bintang. Menjaring bulan. Mengunyah pituah para tetua. Menebalkan tambalan sejarah pada jiwa kami. Sesekali menyemai tawa. Sesekali menuai duka ketika memamah sihir kata bak pujangga. Pada akhir sulaman cerita, gederap sukacita menuntun mimpi-mimpi kami menyambut ke pagi yang temaram.
Gubug-gubug kami adalah pepohonan yang bernyanyi. Seolah laut yang berpantai damai. Seperti dermaga sebagai tempat penumpah lelah sehabis memerah tubuh-tubuh basah. O, betapa hidup dari waktu ke waktu selalu mengelus berkah.
Kegelapan inilah selimut hangat yang gemerlap. Mata hati kami adalah sebilah pisau tajam yang selalu terasah. Kelam bukanlah jaring-jaring perangkap yang membekap, tapi ia tapak-tapak kaki kami yang selalu mengatur jarak. Menancapkan jejak. Kami tahu arah langkah kemana hendak berpijak. Pulang dan pergi tak selalu bergantung pada matahari. Tak pula menunggu tuntunan bulan. Bukan berarti kami menafikkan ciptaan Tuhan. Tapi, justru dengan gelap dan kelam anugerah itu didapatkan.
Berjalan dan berlari bagi kami seringan hembusan angin menembus belukar dan semak berduri. Segala telah tersedia dalam rentang waktu yang tak dapat dihitung dengan rumusan angka-angka. Segala telah terjaga dengan aturan adat yang paling beradab. Amboi, masa-masa gemilang itu perlahan di gebuk gelombang. Menusukkan amuk, remuk.
* * *
“Kami bukan anjing. Jangan sebut kami orang kubu. Kami benci sebutan itu.” Segayo berteriak-teriak saat dimasukkan ke dalam sebuah ruangan. Ia disekap di sebuah pabrik pemotong kayu yang ada di tengah hutan. Ia bisa mendengar suara mesin gergaji yang memotong balok-balok kayu dengan jelas. Suara truk-truk yang mengangkut gelondongan kayu juga bisa didengar dari dalam ruangan itu.
Tak ada gunanya lagi berteriak. Jika pun ada yang mendengar, mereka tak akan memperdulikannya. Mereka pun mungkin akan membunuhnya jika ia berusaha melarikan diri. Ia tidak boleh mati. Ia harus terus berjuang.
Dulu ia merasa sangat bebas hidup di hutan. Membangun sesudungon, sebagai tempat berlindung atau rumah tinggal di dalam hutan. Tapi sekarang, ia merasa tidak sebebas dulu. Segayo tak mengerti kenapa bisa begitu. Yang ia tahu, hutan itu bukanlah milik siapa-siapa. Dari dulu ia hidup melangundi seluruh pelosok hutan. Bebas berkelana di dalam hutan. Namun kini kebebasan itu tidak lagi dimiliki, sebab orang kota dan desa adalah orang terang yang merasa mulai berkuasa. Segayo tak tahu sejak kapan orang-orang itu memiliki hutan. Yang ia tahu hutan sebagai anak sulung dari alam semesta adalah milik Tuhan yang harus dimanfaatkan dan dipelihara oleh manusia.
Perlahan Segayo turun dari atas kursi. Tubuhnya terasa lelah, lebih baik menyimpan tenaga yang masih tersisa. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tikar. Rencananya sudah bulat.Untuk sementara biarlah beristirahat dulu, pikirnya.
* * *
Waktu berjalan meninggalkan petang. Segayo terbangun dari tidurnya. Pintu ruangan dibuka oleh seorang pria. Ia membawakan makanan.
“Ini makananmu. Ingat baik-baik! Jangan coba-coba melarikan diri. Diam saja disini! Kalau tidak tanggung sendiri akibatnya!” Segayo menatap pria itu dalam diam. Ia tidak sanggup lagi melawan. Ia harus mengumpulkan tenaga untuk terus berjuang.
Ditatapnya makanan itu. Sepiring nasi putih dan telur mata sapi. Perih hatinya. Seperti anjing saja, ia diperlakukan seperti itu. Ingin rasanya ia berontak tapi ia sudah tak kuasa. Tak ada yang mengerti perasaan orang rimba. Orang-orang di desa dan di kota menganggap mereka seperti binatang, tak beradab karena tinggal di hutan. Mereka menyebut orang rimba sebagai orang kubu. Padahal kubu itu bermakna terbelakang. Orang rimba tak suka dengan sebutan itu. Apakah hanya karena mereka tinggal di hutan lantas mereka disebut terbelakang? Apakah karena itu orang-orang desa dan kota merasa diri mereka lebih beradab daripada orang rimba?
Sama sekali tidak! Orang-orang rimba juga manusia seperti orang-orang desa dan kota. Hanya cara hidupnya yang berbeda. Orang rimba hidup bergantung pada alam. Mereka beranak pinak di dalam hutan, makan sirih, berburu dan meramu obat alam. Tapi bukan berarti mereka tidak memiliki peradaban. Memang sehari-harinya mereka tak memakai baju kecuali cawat penutup kemaluan. Rumahnya hanyalah beratap rumbia dan dindingnya dari kayu. Makan buah-buahan dan berburu kijang, ayam hutan dan rusa. Cara hidup seperti itu memang tidak modern. Tapi apakah salah jika orang rimba memilih cara hidup seperti itu?
Hatinya terus mendera sakit. Dia ingin marah tapi kepada siapa. Kepada orang-orang desa atau kota yang menganggap diri mereka lebih maju dari pada orang rimba? Huffhhh…! Segayo membuang nafas perlahan-lahan. Air matanya mengering karena ia terus membendung perih dalam hatinya.
Ia masih ingat dulu ketika masih kecil ia dibawa ayahnya pergi ke kota. Ayahnya hendak menukarkan rusa dan ayam yang didapatkan dari hutan dengan tembakau. Saat tiba di pasar, banyak orang yang mencemooh mereka. Bahkan ada orang tua yang memegang anaknya erat-erat karena mereka takut anak-anaknya kena guna-guna. Segayo merasa sakit hati sewaktu ia mendekati seorang anak kecil. Anak kecil itu berlari kepada orang tuanya dan mengatakan kalau ia takut diculik oleh orang kubu seperti dirinya. Padahal segayo hanya ingin bermain-main dengan anak itu.
Di pasar itu juga ia melihat ayahnya ditipu oleh pembeli. Ayam hutan dan rusa itu hanya dihargai dua kantung plastik tembakau. Bahkan ayahnya harus memberikan beberapa rupiah untuk membeli tembakau itu. Siapapun tahu, kalau itu tak pantas. Segayo marah, tapi ayahnya menahannya. Ia mengingatkan anaknya tentang seloka adat yang pernah diajarknannya. Tidak lapuk kareno hujan, tidak lekang kareno paneh. Biarlah mereka menipu, tapi kita harus bersabar. Harus kuat menahan cobaan.
Ayahnya banyak mengajarkan seloka adat dan hukum rimba yang harus dipatuhi oleh semua orang rimba. Kata ayahnya, orang rimba memiliki hukum sendiri. Hukum orang rimba tidak jauh berbeda dengan hukum Minang yang disebut Pucuk Undang Nang Delapan. Aturan rimba sendiri melarang adanya pembunuhan, pencurian dan pemerkosaan. Itulah larangan yang paling berat. Jika orang rimba melanggarnya maka akan dikenai hukuman lima ratus lembar kain. Jumlah kain sebanyak itu dinilai sangat berat dan sangat sulit disanggupi, karenanya orang rimba berusaha untuk mematuhi. Bagi mereka, mereka cukup bertubuh onggok//berpisang cangko//beratap tikai//berdinding baner//melemak buah betatal//minum air dari bonggol kayu// atau berkambing kijang//berkerbau tenu//bersapi ruso//.
Namun Segayo heran melihat orang-orang desa dan kota. Mereka memiliki hukum yang berbeda dengan orang rimba. Malah lebih lengkap daripada seloka adat. Tapi kenapa banyak dari mereka yang berani melanggar hukum yang dibuatnya sendiri? Mereka yang menganggap dirinya lebih beradab, suka merusak peradaban itu. Bagaimana bisa beradab jika hukumnya sendiri dilanggar?
Dulu pernah ada teman Segayo yang bernama Tebo, memutuskan untuk meninggalkan hutan dan memilih hidup bermasyarakat di desa. Ia memilih hidup sebagai petani. Namun setelah beberapa tahun ia tinggal di desa, sesuatu masalah menimpa dirinya. Ia ditangkap polisi dan dipenjara. Segayo berusaha mencari tahu apa masalahnya. Ternyata Tebo dipenjara karena ia dituduh merusak properti milik sebuah pabrik yang baru dibangun oleh sebuah perusahaan di desa itu. Pabrik itu terletak di dekat ladangnya dan mereka mencaplok sebagian dari ladang milik Tebo. Sebuah papan nama perusahaan itu didirikan di ladangnya. Ia marah lalu mencabut papan nama itu dan membakarnya. Ia pun langsung ditangkap oleh polisi karena perbuatannya itu.
Segayo heran. Padahal pengusaha pabrik itulah yang telah merampas ladang temannya itu. Tetapi kenapa ia tidak ditangkap. Malah temannya yang mengambil haknya kembali, ditangkap dan dipenjara oleh polisi. Ia bingung karena pengusaha itu tidak dihukum. Dimanakah hukum itu sebenarnya? Kenapa orang yang bersalah itu tidak ditangkap? Lagi-lagi Segayo menahan sakit hati karena ternyata orang-orang yang mengaku beradab bisa berbuat biadab.
Rasa sakit hatinya pun larut bersama malam. Gelap sudah menyelimuti hari. Suara-suara mesin gergaji sudah berhenti. Tak ada lagi truk yang mengangkut gelondongan kayu. Sebagian pekerja sudah pulang. Sedangkan yang lainnya menginap di penginapan sekitar pabrik pemotongan kayu. Segayo masih sendirian mengingat-ingat kejadian yang selama ini menimpanya.
* * *
Segayo terkejut saat sekumpulan orang bersenjata menyergap rumahnya. Ia hanya sendiri di rumahnya. Istri dan anak-anaknya sudah mengungsi ke Bukit Duabelas lebih dahulu. Begitu juga dengan tetangganya. Mereka sudah mengetahui bahwa sekelompok orang bersenjata akan datang ke lahan hutan yang baru mereka garap. Orang rimba sudah tahu kalau mereka hanya boleh mendiami hutan di Bukit Duabelas. Jika mereka menggarap hutan di luar kawasan itu, mereka akan disiksa oleh orang-orang bersenjata lalu dikembalikan lagi ke kawasan Bukit Duabelas.
Ia dan keluarganya serta beberapa tetangganya memilih pindah dari bukit itu karena ingin membuka ladang baru. Kebiasaan hidup seminomaden orang rimba itulah yang dianggap merusak hutan. Dengan membuka hutan, maka banyak pohon yang akan ditebang. Padahal orang rimba hanya membuka lahan beberapa hektar saja. Sedangkan orang kota yang sering disebut cukong bisa menebas hutan beribu-ribu hektar. Malah mereka dibiarkan bebas begitu saja.
Orang-orang kota berbuat tidak adil terhadap orang rimba. Mereka menangkapnya. Ia berontak. Tapi berkali-kali pukulan mendarat ditubuhnya. Segayo tak bisa lagi melawan. Dua orang pria mengikat tangannya. Ia akan dibawa ke salah satu pabrik pemotongan kayu. Di sana ada tempat untuk menyekap orang rimba yang keluar dari kawasan Bukit Duabelas.
“Dasar orang kubu! Dibilang berkali-kali supaya jangan pindah dari kawasan Bukit Duabelas itu, tetap saja membangkang. Tempat kalian sudah disediakan disana. Jangan pindah-pindah lagi!” Seorang pria bersenjata memarahinya.
“Tapi hutan itu adalah tempat kami. Tempat kalian itu di desa dan di kota. Kalian orang terang malah merusak tempat kami. Kami saja tak pernah merusak tempat kalian!” Teriak Segayo.
“Sudah! Diam! Ayo terus jalan!” Pria yang lain membentaknya.
Mereka berjalan menyusuri jalan tikus menuju pabrik. Mereka harus menyusuri lembah dan bukit. Jaraknya sekitar tujuh kilometer. Di tengah perjalanan mereka berhenti untuk beristirahat. Segayo meminta izin untuk buang air.
“Baiklah! Kau, Willy! Jaga dia! Jangan sampai dia kabur!” Seseorang yang tampaknya seperti pemimpin dalam kelompok itu memerintahkan anggotanya untuk menjaga Segayo buang air. Seorang anggota yang bernama Willy itu membawanya ke lembah bukit. Di situ ada sebuah telaga kecil. Di sekelilingnya terdapat rimbunan ilalang setinggi orang dewasa. Willy melepaskan ikatan Segayo. Ia berdiri tak jauh dari Sega-yo sambil memegang senjata.
“Sudah, disitu saja. Jangan coba-coba kabur!” Willy memperingatkannya. Namun Segayo melihat ada kesempatan untuk lari. Saat Willy lengah, disitulah diam-diam ia melarikan diri. Tak lama akhirnya Willy sadar kalau tawanannya sudah kabur.
“Kurang ajar! Awas nanti kalau ketemu!” Willy akhirnya kembali ke kelompoknya. Segayo hilang dalam rimbunan ilalang. Sebagai orang rimba ia sudah mengetahui seluk beluk hutan. Ia dapat mengecoh Willy yang menjaganya. Pimpinan kelompok itu pun memarahi anak buahnya. Mereka lalu mencari Segayo lagi.
Segayo mengendap-endap dalam rimbunan ilalang. Setelah posisinya agak jauh, ia berlari dalam rindangnya pohon-pohon di hutan. Ia bersembunyi di bawah pohon besar di balik bukit. Nafasnya terengah-engah. Ia melihat sekelilingnya untuk memastikan keadaan. Ia sudah tak sanggup berlari. Ia memutuskan untuk bersembunyi disitu dulu.
Sementara itu matahari sudah tergelincir ke arah barat. Kelompok orang bersenjata itu mengerahkan bantuan untuk mencari Segayo. Mereka menyusuri seluruh hutan. Menyisir setiap bukit dan lembah. Hari sudah semakin sore dan mereka harus bisa menangkap Segayo kembali.
Derap langkah orang berjalan semakin dekat. Segayo segera berlari.Mereka melihat segayo berlari, lalu segera mengejar.Segayo berlari ke arah bukit. Mereka terus mengejar Mereka akhirnya mengepungnya. Segayo terkepung. Dia mencoba berlari, pukulan hantaman, dan tikaman berkali-kali tak dirasakan lagi. Dia terus saja berlari. Hutan seperti memeluknya. Tangannya membekap perutnya yang sudah tak berasa.
Sepanjang perjalanan ia terus saja merenungkan hal-hal yang menimpa dirinya. Ia hanya ingin pindah dari Bukit Duabelas. Ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Bukankah orang-orang di desa atau di kota juga pernah pindah ke desa atau kota yang lain? Bahkan bisa ke seberang pulau. Tapi mengapa orang rimba tidak boleh pindah ke kawasan hutan yang lain. Segayo merasa orang rimba seperti dikurung dalam Bukit Duabelas. Ia merasa seperti binatang yang dilindungi dalam sebuah cagar alam. Semua orang benar-benar memperlakukan mereka seperti binatang.
Dari dulu memang orang rimba dan orang terang selalu saja bermusuhan. Ia pernah diceritakan ayahnya kalau dahulu sudah pernah terjadi perselisihan antara orang rimba dan orang terang. Pada saat itu nenek moyang orang rimba menderita kelaparan di hutan. Ia lalu mengambil padi di sawah milik penduduk desa. Terjadilah pertengkaran yang berujung pertempuran terbuka. Nenek moyang orang rimba lari ke bukit dan menggulingkan balok-balok kayu, hingga menewaskan penduduk desa. Beberapa penduduk desa yang selamat, membalaskan dendamnya pada suatu kesempatan. Mereka berhasil membunuh orang rimba itu. Sejak saat itu terbentanglah jarak antara orang rimba dan orang desa.
Hingga saat ini permusuhan itu sebenarnya masih terjadi. Orang desa ataupun orang kota merasa hutan itu adalah miliknya. Hingga akhirnya orang rimba disingkirkan. Hutan semakin banyak ditebang. Orang rimba hanya diberikan tempat yang disebut Taman Nasional Bukit Duabelas untuk tempat mereka menjalani kehidupan mereka sehari-hari.
Segayo tak suka diperlakukan tidak adil. Ia mengajak istri dan anak-anaknya serta tetangganya untuk meninggalkan Bukit Duabelas. Mencari kehidupan baru yang lebih baik. Namun ternyata usahanya tidak berhasil. Ia malah ditangkap dan akan dikembalikan ke Bukit itu.
* * *
Malam larut. Udara malam mendinginkan hatinya yang perih. Suara hewan malam memenuhi ruang kepalanya. Dihutanlah kehidupanku, pikirnya. Namun hutan semakin sedikit. Jikalau semua orang rimba dikumpulkan di Bukit Duabelas, pada akhirnya nanti hutan di kawasan itu akan habis juga. Semakin banyak jumlah orang rimba yang akan membuka lahan di kawasan itu. Tak akan ada lagi pohon-pohon rindang yang tumbuh di kawasan itu.
Sebagai orang rimba mereka harus menjaga dan melestarikan hutan. Mereka tidak meninggalkan lahan mereka yang lama begitu saja. Mereka akan menanami bibit-bibit pohon jika lahan itu tak bisa lagi digunakan. Pada akhirnya lahan itu akan rimbun kembali dipenuhi pepohonan.
Tidak seperti cukong kayu. Mereka menebang hutan beribu-ribu hektar. Tapi tak mau menanaminya lagi karena lahan hutan yang gundul membutuhkan begitu banyak bibit pohon dan biaya yang besar. Dasar orang! Segayo mengumpat dalam hatig tera. Hanya mau mengambil untung saja. Tak mau bertanggung jawab atas kerusakan yang dibuatnya.
Mereka tak mau peduli akan banyaknya kehidupan didalam hutan. Dengan rusaknya hutan, akan memusnahkan beragam jenis kehidupan. Entah berapa banyak lagi kehidupan yang akan dimusnahkan oleh mereka. Padahal mereka sudah berpinang gayur//berumah tango//berdusun beralaman//beternak angso//.
Segayo tak tahu sampai kapan keserakahan orang terang itu akan hilang. Ia tak mengerti kenapa seperti itu. Apakah kehidupan di desa atau di kota tidak bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi mereka. Padahal cara hidup mereka lebih maju dari pada orang rimba.
Ia bersyukur karena cara hidup orang rimba ternyata membuat mereka lebih menghargai alam. Cara hidup yang begitu sederhana membuat orang rimba tidak serakah. Mereka hidup dengan pemberian alam yang sudah tersedia di hutan. Dengan hidup seperti itu mereka sudah merasa bahagia.
* * *
Di dalam sesudungon di Bukit Duabelas, istri Segayo menangis terisak-isak. Ia mendapatkan kabar bahwa suaminya disekap di pabrik pemotongan kayu. Semuanya sudah hancur diterjang banjir. Tak ada gunanya mencari suaminya yang sudah tak jelas berimba di mana. Ia hanya bisa pasrah, bersama anak-anaknya kembali melangun.
Orang-orang itu, orang-orang terang. Menghalau tenang. Menyilaukan pandang. Meniupkan seruling kematian, menabuh genderang perang. Dengan rasa kikir mereka sisir semilir batin kami. Mereka koyak peradaban kami. Apakah ini memang garis hidup
Yang dipahat pada nasib kami? Ataukah nisan yang sedia ditanam pada makam kami?
Namun, entah siapa yang silap merangkai do’a. Bala bencana itu datang mengacungkan senjata. Satu persatu kami tenggelam dalam kawasan banjir air mata. Terjerambab pada wajah murka penuh sengsara. Teringat pituah para tetua akan tumbuhnya pohon derita berbuah gundah gulana di masa yang tak sempat tercatat tanggalnya. Pituah tentang sebuah kesetiaan pada keteguhan adat.
“Bacalah denting embun yang menitik dari ujung daun . Dengarlah lantunan angin yang mengalun di sela-sela pepohonan. Simaklah air yang mengalir yang menyibak cengkram-an akar yang tertanam . Atau dengung bebatuan pada geliat tanah di wajah bumi. Serta gema do’a rerumputan pada segala. Jika tidak, terang akan terasa mengahanguskan. Melumat segala peradaban yang telah lama terpelihara dari abad-abad yang telah ter-pahat,” demikian siraman penyejuk jiwa dari tetua di akhir kisah dalam sulaman kelam.
Dan apakah memang suratan badan atau memang kami yang berkhianat dari aturan garis adat yang telah ditancapkan. Orang-orang terang datang mengusung Tuhan pembaharuan. Melelang sejarah peradaban yang memabukkan. Kami terjebak dalam kotak-kotak tak berjejak. Terjerambab dalam lobang-lobang derita.
Hutan kami mulai dilumatkan. Pepohonan tempat kami bernaung direbahkan. Roh-roh yang bersemayam dan jiwa yang tertanam diluluhlantakkan.
“Kami adalah orang-orang dari negeri beribu cahaya yang mengusung peradaban. Dan kalian orang-orang gelap bersiap-siaplah menggali makam sebelum sampai pada zaman keemasan. Sebab, kami adalah penguasa setiap zaman.”
Entahlah itu karena ramalan atau memang nasib yang sudah digariskan, para tetua sudah berkali-kali mengabarkan peringatan. Tentang orang-orang terang yang mengusung matahari. Menghanguskan dan menyilaukan pandang.
“Tanamlah jiwa-jiwa kalian pada setiap pepohonan. Tanam pula jiwa-jiwa anak cucu dan seluruh garis keturunan kalian pada tanah dan air tempat berpijak. Pada akar rerumputan ataupun semak belukar, serta pasir dan bebatuan. Maka yakinlah hidup kalian akan selalu diselimuti ketentraman dan kedamaian. Jika tidak bersiap-siaplah kalian menghuni makam tak bertuan. Kalianlah yang paling mengerti dengan hutan ini, maka pertahankan sampai titik darah penghabisan…”
Dan nujum itu kini telah dimafhumkan. Ramalan itu kini telah ditafsirkan. Tak terbantahkan. Sejarah kami terjarah. Terbakar. Dihanguskan. Jiwa kami tercabik pada senandung gergaji, pada pepohonan yang ditumbangkan.. Buldozer-buldozer pembantai menyemai sangsai.
Lelaki kami satu persatu merapal ajal. Perempuan kami satu persatu dilucuti. Anak-anak dan orang-orang tua kami satu persatu dibutakan dengan terang yang paling menyilaukan. Dari kosong kembali ke kosong. Dari hampa kembali ke hampa. Kami berada dalam ada dan tiada.
Jika malam tiba kami kehilangan mutiara kata-kata. Hanya mampu merangkai lirih air mata tak berjiwa. Kami tangisi diri sendiri. Kami kutuk pengkhianatan kami pada nenek moyang. Kami ratapi jiwa kami yang melayang pada setiap pepohonan yang rebah ditum-bangkan. Tak lagi menyulam api pada kelam malam. Tak lagi memetik bintang dengan nyanyian riang. Tak lagi menjaring bulan lewat tari-tarian kemenangan. Tak lagi me-ngunyah pituah para tetua, sebab terlanjur dimuntahkan. Sejarah tercerabut sampai ke akar-akarnya. Sepanjang malam kami hanya bisa berpelukan, berdo’a agar tak lagi disi-laukan siang benderang, yang menghanguskan harapan. Segala telah dibungkam. Segala suka cita semakin samar. Segala duka lara semakin membara.
Sementara itu udara semakin dingin. Gemuruh langit melenyapkan suara-suara malam. Segayo diam kali ini. Namun tak seperti biasanya. Ia sangat mengenal alam di hutan. Kali ini ia tak mendengar sedikitpun suara-suara binatang malam saat gemuruh terhenti. Ada sesuatu yang sepertinya bakal terjadi. Ia tahu sabda alam akan datang malam ini. Menumpahkan segala kekesalannya yang lama terpendam.
Tak lama hujan lebat turun. Membasahi seluruh kawasan hutan. Ia diam membeku . Ia mengerti. Tak ada gunanya berteriak. Ia pasrah. Ia bisa merasakan getaran tanah. Ia pun dapat mendengar gemuruh yang bukan berasal dari langit. Ia bisa merasakan amarah alam yang sudah memuncak. Ya, perih hati ini telah menyatu dengan amarah semesta yang selama ini terbungkam, batinnya.
Dan malam ini Segayo bertekad bercerai dalam ketiadaan. Menjadi sebatang lara pada sejarah yang terus menerus dijarah. Segayo jatuh terjerembab. Tangannya terus menu-tupi perutnya yang koyak, terasa lelahnya selama berlari menuju sesudungon, pondok dari bangunan kayu, berdinding kulit kayu. Dan beratap daun serdang benal. Matanya terasa semakin samar menatap sekitar hutan yang perlahan menina-bobokkannya.
Komunitas Home Poetry,2014
sesudungon ) : pondok-pondok, rumah tempat tinggal Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang terbuat dari kayu, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal.melangun ) : pindah ke tempat lain karena ada warga yang meninggal, menghindari musuh, atau ingin membuka ladang baru. orang terang ) : orang-orang di luar rimba, orang-orang di desa dan di kota.seloka adat ) : aturan-aturan hidup ( hukum ) rimba yang dipakai Orang Rimba dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Cerpen Bulan karya M. Raudah Jambak
Bulan,
Di atas kuburan
(sitor situmorang)
Bulan malam ini memancarkan cahanya yang paling terang. Merayap, merambat, mengalir, dan menembus ruang-ruang yang paling sempit sekalipun. Bulan itu juga menari bersama senandung puji-pujian. Senandung itu membahana ke segala penjuru dan pelosok. Berkendara di atas iring-iringan beduk dan lonceng yang mengangguk-angguk. Bergema. Berganti-ganti.
Arus jalanan terampas dari cangkangnya, dicengkram oleh euphoria kegembiraan. Di langit kembang api telah pula melahirkan beribu sensasi bersamaan malam seribu bulan. Seluruh setasion radio dan televisi memberi suguhan dengan berbagai variasi. Bulan telah menjelma menjadi apa saja. Dan kini, ia adalah selebriti yang paling digandrungi.
Mulai dari anak-anak, sampai orang dewasa. Dari yang miskin sampai yang kaya. Tidak hanya wanita juga pria. Siapa dan apa saja berebut bulan. Ingin bercinta dengan bulan. Tidur dipelukan bulan. Mimpi di taman bersama bulan. Makan bulan. Minum bulan. Mengenakan bulan. Segalanya adalah bulan.
“Malam ini penuh bulan ya, Bu?”
“Ya, Sayang.”
“Cahayanya seperti pelangi.”
“Ya, Sayang.”
“ Ada di mana-mana. Ada di Mesjid. Ada di Gereja.”
“Ya, Sayang.”
“Lihat, Bu. Malam ini cahayanya juga ada di gedung-gedung yang menjulang itu. Berpijar juga pada sumbu-sumbu lilin.”
“Mmmh..ya,ya, Sayang.”
“Seandainya tiap malam seperti ini, indah juga ya, Bu.Wah, bulan itu bersenandung dan orang-orang itu membawanya. Aku mau satu.”
“Ssst..sudahlah, Sayang.”
Fitri meneteskan air mata. Pipinya yang cekung terasa begitu curamnya. Betapa tidak, lembar-lembar masa lalu terus memaksanya untuk dibaca. Pertanyaan-pertannyaan yang sama selalu berulang.
“Bu, aku suka bulan.” Pandangannya mengunyah wajah langit, menelan bulan yang menggantung.Tangannya yang mungil terlihat menggapai-gapai.
“Bu, mereka mempermainkan bulan!”
Bulan seorang bocah perempuan berusia enam tahun terduduk. Sejenak ia diam, menunggu sahutan, karena suram membayangi kedua matanya. Kesuraman pikirannya juga melanglang pada 1.700 kepala yang bersembunyi di tempat perlindungan bawah tanah yang pengap persis pada sebuah tempat parkir. Suara orang berebut, melempar dan meledakkan bulan di atas permukaan tanah terdengar sudah seperti sebuah nyanyian kepedihan.
“Bu, mereka saling meledakkan bulan!”
Ia kembali terdiam, menunggu sahutan. Fitri, ibunya, berusaha menahan kesedihan. Perempuan yang berusia 30 tahun itu terenyuh. Matanya terus berkaca-kaca. Ia sudah kehilangan suami dan anak lelakinya. Hanya dia dan Bulan, si bungsu, yang masih hidup.
******
Setahun yang lalu Bulan masih bermain bersama abang dan ayahnya pada temaram malam. Begitupun hari-hari setelahnya. Bulan merangkainya dengan derai tawa penuh manja dipelukan ayah. Bersembunyi dari kejaran abang yang berlari seolah layang-layang terbang. Fitri hibuk terus melinting do’a-do’a. Sungguh keluarga yang bahagia.
Menjelang maghrib seminggu setelahnya. Fitri seperti membaca firasat luka. Air matanya selalu mengalir tiba-tiba. Biasanya setiap selesai mengurai do’a di atas sajadah basah, air mata itu biasa mengalir bagai sir. Debur hatinya kini terasa berombak.
Senandung azan menggema. Suaranya membahana. Mengelus-elus perut bumi. Mem-belai wajah langit. Angin sepoi-sepoi mengayuh udara bersama sayap do’a. Bulan dengan wajah berseri berkejaran di antara kepungan awan. Selesai berbuka mereka salat maghrib berjama’ah. Ayah sebagai Imam. Biasa setelah salat berjema’ah ayah mengucurkan ceramah. Nasihat penyejuk jiwa mengalirkan bening-bening rasa. Lantas, sambil mengucap shalawat ,berpelukan adalah penanda siraman rohani telah usai dilakukan.
Fitri segera membereskan sisa-sisa berbuka. Lalu, ayah pergi bersama abang ke Mesjid untuk mengusung Isya dan Tarawih berjama’ah. Fitri membiarkan Bulan asyik bermain boneka kelinci kesayangannya, sebelum menyusul Ayah dan Abang ke Mesjid.
Berselang beberapa menit mangkuk kaca di tangan Fitri terlepas. Benturannya di lantai mengakibatkan pecahannya menebar kemana-mana. Bersamaan dengan itu pula terde-
ngar suara ledakan yang memekakkan telinga.
“Allah…,” Fitri menjerit pelan. Ledakan itu terdengar sekali saja dari arah Mesjid sebelah utara.
Dari arah ruang tamu Bulan berlari kea rah Fitri dengan tergesa.
“Bu, ada bulan jatuh. Cahayanya indah…”
Fitri terdiam. Air matanya mengalir.
“Tapi, Bu. Bulannya menjerit seperti kesakitan…”
Fitri hanya mengelus dada. Segera ia raih Bulan, berlari kea rah Mesjid. Langkah kaki terseok dalam erangan batin luka. Di Mesjid orang-orang sedang menjeritkan do’a.
“Bu, Ayah dan Abang mana?”
Fitri sesenggukan dengan pilu tertelan.
“Wah, Ayah pasti sedang mengobati bulan. Abang juga kan, Bu..?”
Fitri hanya mengangguk, menahan beribu cambuk yang menggebuk. Mencabut beribu duri yang menusuk.
Setelah itu Bulan selalu bertanya tentang Ayah dan Abangnya. Fitri hanya memberi jawaban tentang Ayah dan Abang sedang mengobati bulan di Surga dengan waktu yang tidak terhingga, sampai Bulan terbiasa dengan penantian yang maya.
“Bu, Bulan ingin membantu Ayah dan Abang di Surga…”
Fitri terdiam dari ribuan tanya tanpa koma.
***
Sudah 22 hari, ia berlindung di sana bersama keluarga yang lain, terutama sejak agresi militer yang kedua, yang meratakan sebahagian besar bangunan di pinggir jalan. Bungker dan Shelter tak lagi menjadi tempat perlindungan yang aman. Teror menyebar kemana-mana. Jet-jet bergemuruh di udara yang gaduh. Serta selebaran dengan tulisan yang keruh sebagai peringatan kepada warga sipil yang belum mati terbunuh.
Tak ada yang menduga bahwa tempat perlindungan itu menjadi tempat perlindungan yang aman sejak meletusnya perang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, kecuali sekuter yang diparkir di luar, dan debu-debu berseliweran di jalan. Sekuter itu selalu dipergunakan pasukan pejuang untuk mengawasi jalan di pinggir kota .
“Bu, mereka saling meledakkan bulan!.”
Bocah itu terus mengumbar gusar. Matanya terpaku pada bibir Fitri menunggu dengan tergugu. Sebuah gelengan kepala Fitri cukup membuat warna suram yang membayangi matanya, sedikit bercahaya.
Usia belianya tak mampu meredam duka. Bulan hanya menebar suka. Segera ia berlari menuju ke jalan gelap, melalui tangga semen dari lantai lima bawah tanah yang suram terpampang pada kanvas, pada goretan-goretan buram yang memperlihatkan lautan keluarga di seluruh ruang lengang yang sangat lapang di tempat parkir itu. Bulan berlari-lari kecil di antara keluarga yang berkumpul di suatu ruangan parkir mobil yang ditandai dengan garis lurus merah, yang dicat di lantai abu-abu yang berkilat. Meskipun ada penyejuk udara, kebanyakan orang yang berada di sana berkeringat karena kegerahan.
Samah datang menyapa Bulan. Dia tinggal di B3 sekarang. Sementara seorang remaja sedang berselancar melintasi Bulan menuju ke lorong panjang. Bocah lainnya dorong-dorongan gerobak tak jauh dari Bulan. Bersamaan dengan cekikikan bocah perempuan berkepang dua. Mereka merasa begitu terhibur.
Ali segera mendekati Bulan. Sekejap kemudian, Samah, Ali dan anak-anak yang lain sudah lebur bersama Bulan.
Tidak jauh dari tempat Bulan bermain, beberapa pria tanpa baju berbaring di lantai, sambil mendengarkan berita melalui radio kecil yang diletakkan di atas dada, dan sebelah tangan menyangga kepala, sebelah lagi berada di atas kedua mata mereka untuk menghindari neon yang menyilaukan mata.
“Awas, Bulan. Hati-hati..”
Seorang bocah perempuan bercadar berteriak mengingatkan. Ia duduk diantara perempuan bercadar lainnya, melingkar. Ada yang asyik bercerita. Ada yang baru menyelesaikan khatamnya. Ada pula yang sibuk berganti piyama dengan ditutupi kain berkeliling, oleh saudara-saudaranya untuk menghalangi pandangan ngeri kelopak mata para lelaki.
Ali dipanggil bersama Bulan. Seorang perempuan tua berteriak kepayahan, sesekali ia mengerang kesakitan pada tulang-tulang tubuhnya. Berbaring di tikar tipis di lantai.
*******
Hal ini memang selalu terulang. Sejak mereka hidup lima lantai di bawah tanah. Tidur di lantai, di tempat parkir umum. Tulang berasa sakit karena udara lembab. Siang hari pada saat bulan di langit terbakar. Mereka tidak bisa pulang ke rumah untuk mandi. Bahkan dengan kain basahpun, anak-anak mereka tidak bisa dibersihkan. Pada saat ingin menggunakan toilet di parkir umum itu, aksi saling rebut kerap terlihat.
Ali dan Bulan, memijit-pijit lengan perempun tua itu. Lalu mengambilkannya minum untuk sekali teguk. Setelah menunggu perempuan itu beberapa saat, mereka pergi dan perempuan itu kembali tertidur.
Di bawah tanda “Di larang Masuk” tempat biasa dirancang untuk mobil. Bulan dan teman-teman kembali lebur dengan anak-anak yang berteriak dengan gembira. Terutama pada saat mereka berlarian ke segala arah di seluruh lautan berwarna abu-abu itu. Tak ada suara suram yang tergambarkan. Mereka terus bermain sembunyi-sembunyian. Seorang gadis kecil dengan rambut diikat ekor kuda, tertawa terbahak-bahak.
********
“Dhuaaaar…!”
Sebuah ledakan besar kembali terjadi, sebelah utara dari tempat perlindungan. Suaranya terdengar menyentak. Ali, anak-anak yang lain dan Bulan terhenyak.
Suara ledakan seketika memburu, membabi-buta, menghantam apa saja. Debu-debu dan asap mengepul di mana-mana. Api terlihat mencakar. Gedung-gedung lebur. Sebahagiaan rata dengan tanah. Seorang ibu menahan luka, merangkak, mencari. Dengan sisa tenaga, ia singkirkan sampah bangunan yang ambruk. Darah bagai bah, mengalir dari kepala dan punggungnya tak lagi dihiraukan. Air mata membasah. Suara jerit tertahan.
Perempuan itu merayap di antara batu-batu. Darah kental meninggalkan tanda di mana-mana. Ada yang menggenang begitu saja pada tubuh renta yang asyik dengan tidur indah-nya. Ada yang bercampur debu diperut seorang lelaki berperut buncit yang sedang meng-genggam radio kecil dengan nyala lampu merah berkedip-kedip. Ada pula yang memba-sahi rambut gadis kecil berkepang dua, matanya terlihat redup dengan kepala yang telah terpisah dari badan. Ada pula yang tertumpuk di bawah gerobak dengan potongan tubuh tak karu-karuan. Selebihnya hanya debu berterbangan dan asap yang bekerjap-kerjap.
Segera perempuan itu memburu sosok tubuh yang terjepit dan menyingkirkan sisa reruntuhan yang menghimpit bocah perempuan itu. Di tangan bocah itu masih ter-
genggam boneka kelinci kesayangannya. Matanya masih terbuka memandang ke arah
langit. Begitu Damai. Perempuan itu segera menumpahkan kesakitan yang sedari tadi tertahan. Segera ia raih Bulan, bocah kecil dengan boneka kesayangan tergenggam di tangan. Dengan derai air mata yang membanjir, ia peluk Bulan.
Cerpen Cerita Yang Tak Selesai karya M. Raudah Jambak
Orang-orang telah berkumpul menyambut malam. Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Bagas Godang semakin sesak. Alaman Bolak terasa menyemak. Gordang mulai dipalu, Gordang Sambilan membahana. Sembilan buah gendang dengan ukuran berbeda-beda. Terbuat dari kayu dan kulit lembu. Dimainkan tujuh orang pemusik. Variasi pukulan dipadu sedemikian rupa, sehingga menghasilkan gelombang irama yang khas. Seperti suara alam. Tampak penabuh gordang paling ujung menari-nari. Sesekali matanya terpejam, larut dalam irama. Bagai digerakkan kekuatan misitis, ia melompat-lompat. Terkadang menunggangi gendang sambil memukul. Seperti kesurupan. Meski atraktif begitu, pukulannya tak pernah sumbang. Berbeda dengan Onang-onang.
Di Sopo Godang para petinggi kampung telah hadir. Juga Kepala Kuria. Aku ada diantara mereka. Duduk di atas tikar pandan berlapis dua , kedua ujungnya disatukan dengan menjahitkan kain warna merah pada keempat sisinya. Dalam bahasa adat , ini disebut amak lampisan.
“Ambilkan Pangupa!” perintah bayo datu. Seseorang datang menating nyiru. Kepala kerbau diletakkan di atasnya, beralas daun pisang. Di sampingnya, seseorang lagi menating piring besar bernama pinggan pasu, berisi bahan pangupa lainnya: nasi putih, tiga buah telur ayam, garam, ikan garing, udang, dan daun ubi. Juga ditutup dengan daun pisang. Paling atas ditutup dengan kain adat Tonunan Patani.
”Turupa-upa...turupa-upa...turupa-upa...” ratap bayo datu memulai acara mangupa.
Seseorang memutar-mutarkan nyiru di atas kepalaku. Begitu panjang kalimat pangupa tersebut. Juga dibacakan beberapa mantra. Kakiku kesemutan. Tentu saja kutahan. Menurut adat, seseorang yang berpergian jauh harus diupa-upa untuk memberi kekuatan dan keberanian.
Setelah itu aku disuapi dengan makanan yang berada di Pinggan Pasu. Dicicipi satu persatu. Bayo datu menjelaskan maksud dari setiap jenis makanan. Prosesi berlangsung alot. Juga sakral.
“Nanti malam kau ikut Umak manortor, Amang!” ujar Umak beberapa waktu yang lalu. Aku masih kelas lima esde. Dan Amang sudah lama meninggal, sebulan setelah aku dilahirkan.
“Manortor? Apa itu manortor’ Umak?” Umak tersenyum.
“Manortor itu yang begini, Amang’” Umak melakukan beberapa gerakan, yang masih asing bagiku.
“Oh, menari, Umak?” Umak kembali tersenyum. Dia menarikku, lalu menyuruhku duduk di kursi kayu yang dibuat Amang dari bamboo.
“Manortor, ya, manortor, Amang,” Umak membelai rambutku pelan.” Tapi kalau kau bilang menari boleh juga. Bedanya manortor tidak seperti menari biasa. Kalau menari hanya sebagai hiburan’ Manortor itu sudah termasuk dalam adat istiadat kita. Dan nanti semuanya harus menari, tanpa terkecuali.”
“Aku laki-laki’ Umak. Aku tak pandai menari.”
“Ingat ! Tanpa terkecuali.” Aku masih kebingungan, Umak hanya tersenyum mengambang.
“Nanti juga kau akan paham, Amang.” Gordang kian ramai dipalu. Hentakannya terdengar bertalu-talu. Jari-jemari terus digerakkan sesuai irama. Begitu juga dengan kaki dan tangan. Gerakan laki-laki dan perempuan ada sedikit perbedaan. Gerakan jari-jemari diluruskan seperti menjepit sesuatu secara serentak. Gerakkan perempuan terasa lebih gemulai. Sementara yang laki-laki terkesan lebih gagah.
“Manortor itu untuk apa, Umak?”
“Ya, untuk acara-acara tertentu, Menyambut tamu, mengantar bagi yang berpergian ke tempat yang jauh atau ajang mencari jodoh.” Suasana sore begitu kontras dengan hamparan sawah depan rumah. Umak berbicara padaku panjang lebar, bercerita tentang apa saja. Termasuk cerita tentang tanah leluhur ini. Selalu menarik dan memancing rasa ingin tahu. Angin yang berhembus selalu menghadirkan ketenangan dan rasa damai.
Cerita Umak semakin melebar kemana-mana. Tentang Amang yang jadi pengembala kerbau ketika kecilnya. Aku tersentuh membayangkan Amang kecil bersama rombongannya melintasi sore bersama kerbau mereka. Alangkah bahagianya, merasakan kegembiraan bersama matahari yang perlahan menuju peraduan di tengah-tengah hamparan sawah yang begitu luas.
Sambil mendengarkan cerita Umak, aku teringat kembali kisah Umak yang sempat ia beberkan padaku, beberapa waktu yang lalu. Aku berpikir apakah aku akan sampai pada kisah seperti ini.
***
Umak terduduk, memeluk kedua borunya. Suasana yang tenang dan damai itupun berubah menjadi lautan air mata, ketika Masniari mengingatkan kembali bagaimana awal mula rumah tangga yang damai itu dipertahankan. Suasana tegang sedikit mencair melihat si kecil halomoan yang bermain-main, mengoceh tak tentu arah.
Masniari tersadar. Masa lalu itu selalu menghantui pikirannya. Ia lalu duduk di atas sofa empuk sambil memandangi kedua buah hatinya yang juga sedang bermain-main. Dering telepon kembali menghantam lamunan Masniari. Hatinya berdebar. Tangannya tergetar. Suara di telepon yang begitu dirinduinya, lantang bersuara.
“Inang, dua poken nai anggimu giot marbagas,’’ terdengar suara umak bahagia. Masniari diharuskan dating menyaksikan acara yang dianggap sakral itu. Apalagi Masniari adalah kakak tertua dari dua bersaudara. Ayah mereka sudah lama tiada sewaktu Masnauli duduk dibangku SD. Tinggallah umak yang membesarkan mereka dengan berjualan toge (makanan khas panyabungan). Sambil membantu umak berjualan Masniari kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di Padangsidempuan. Disanalah ia mengenal seorang yang telah menjadi ayah dari anaknya kini.
Dua minggu kemudian Masniari dan keluarganya pulang ke kampung. Acara pernikahan dengan adat yang cukup sakral dilaksanakan, dengan petuah-petuah yang sakral pula (Markobar). Di tengah keramaian suasana itu yang dihadiri seluruh keluarga dan snak famili Masniari terhempas dalam gelombang yang meluluhlantakkan hatinya, diantara kegembiran yang tergambar diwajah semua orang Masniari teringat akan masa lalunya yang menghantam keras perasaannya. Pertemuan dengan Parlindungan yang ditentang keras oleh umak.sulit rasanya umak melupakan bagaimana perlakuan orangtua Parlindungan yang terkenal sitoke beras pada saat Masniari masih berumur satu tahun. Ayah Masniari yang waktu itu hanya sebagai buruh angkut di pabrik orangtua Parlindungan membutuhkan pertolongan pinjaman uang disaat keluarga terhimpit untuk biaya berobat Masniari yang sakit muntaber, ditolak oleh umak si Parlindungan dengan alasan beribu alasan.
Umak hanya memendam itu dalam hatinya tanpa diketahui oleh anak-anaknya agar tidak terbawa dendam oleh mereka, cukup hanya dia yang merasakannya. Bagai disambar petir umak mendengar pengakuan Masniari bahwa ia ingin menikah dengan parlindungan. “umak’ bang Parlindungan giot (mau) manyapai au mak (melamar aku mak) Masniari mengutarakan maksud mereka pada umak.lama umak terdiam hanya memendangi wajah cantik anaknya dan dengan bijak sambil menahan semua perasaan umak menyabarkan Masniari agar memikirkan lagi maksudnya. “inang(nak) nape do sidung sikolahmu (belum siap lagi sekolahmu),” itu alasan yang diberikan umak agar Masniari tidak memikirkan itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan Masniari tetap pada pendiriannya ingin menikah dengan Parlindungan karena mereka sudah siap berumahtangga apalagi kuliah mereka sudah selesai. Masniari kembali menyampai
kan maksud berdua pada umak. Tetapi masih sama dengan yang lalu-lalu beribu alasan yang dilontarkan umak.
Pada akhirnya Parlindungan memberanikan diri langsung datang menghadap umak Masniari. Suasana hening dan senyap saat Parlindungan membuka pembicaraan “umak madung leleng au mardongan dohot Masniari (mak sudah lama aku berteman dengan Masniari) jadi maksudku mau melamar boruni umak (anak perempuan umak).” Parlindungan langsung menyatakan maksud kepada umak. Umak hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Lama mereka menunggu jawaban olo (iya) dari mulut umak. Sambil bersimpuh dikaki umaknya sambil memohon tak ada satu katapun yang terlontar dari mulut umak. Hanya air mata yang jatuh membanjiri pipi tua umak.”mak bolehksn mak,” Masniari terus memohon ,” mak bolehkan umak jawablah mak,” Masniari terus memohon.
Sesak terasa hati Masniari berlinang air mata membanjiri kelopak matanya mendengar jawaban umak. “inda (tidak) tidak akan pernah kubolehkan anakku marbagas (berumahtangga) dengan anaknya si raja toke beras itu. Inda inang(tidak nak),” umak menangis sambil berteriak histeris. Masniari tertunduk air matanya berlinang tak terbendung lagi. Hancur sudah harapan mereka berdua untuk mendapatkan restu dari umak. Parlindungan pulang dengan hati yang hancur. Masniari terus menangis sambil bertanya ,”kenapa mak, kenapa? Pertanyaan yang tidak ada jawabannya hanya berkecamuk di dalam hati yang paling dalam. Mulai saat itu Masniari menjadi gadis yang pendiam dan tertutup.
Dua insan yang berlainan jenis itu tetap bertekad untuk mewujudkan cinta mereka, melanjutkan hubungan mereka meskipun tanpa restu dari orang yang sangat dicintai. Marlojong (kawin lari) itu salah satu pilihan yang mereka tempuh sebagai bukti kekuatan cinta mereka. Di antara galau hati umak memikirkan anak sulungnya yang membuat hancur hatinya, Masniari menikmati kebahagiaan bersama suaminya, walaupun bayangan umak selalu hadir di saat Masniari mulai merasakan adanya gerakan lembut buah cinta mereka dalam perutnya. Masniari selalu berkata pada suaminya.
“Bang alangkah enaknya kalau umak mau melihat keadaan kita ya, Bang?”
“Sudahlah, Niar. Tidak usah berpikir yang macam-macam,”suaminya menarik napas panjang,”Mudah-mudahan anak kita yang bakal lahir ini bisa membuat hati opungnya lembut dan mau menerima kita.”
“Mudah-mudahan, Bang.” Masniari menyambut lembut.
Masniari masih terduduk di atas sofa. Pandangannya menatap tajam ke arah telepon yang ada di hadapannya. Menunggu-merindu. Mak, ini cucu umak akan lahir. Datanglah, Mak. Aku rindu,gumamnya. Tangannya mengelus lembut perut yang semakin membesar saja.
Hari ini Parlindungan terlihat menikmati suasana santai di rumah dengan menonton acara televisi. Memang ini sudah kebiasaan rutinnya selama menunggu kelahiran si kecil, pada hari Minggu. Sementara Masniari masih disibuki dengan kegiatannya mengurusi popok bayi yang sudah disiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Tiba-tiba Masniari seperti menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
“Bang, aduh cepat. Sakit…”
Parlindungan, suaminya bergegas. Ada perasaan gembira sekaligus cemas. Dia merasa tanda-tanda kelahiran sudah mulai tiba. Merekapun bergegas ke rumah sakit“Bang, aku ingin menelepon Umak,”ujar Masniari seketika,”Tolong, Bang. Hubungi Umak. Aku ingin bicara sekaligus meminta maaf.”
Parlindungan segera memberikan HP. Masniari bicara tanpa jeda. Panjang lebar mengusung kata-kata. Umak diseberang sana hanya mendengar tanpa kehadiran sepotong suara, begitupun Masniari sudah merasa sangat puas..Detik berikutnya Parlindungan sudah berteriak kegirangan. Tepatnya setelah sejam pembicaraan Masniari dengan Umak berlangsung.
“Wah, laki-laki, Niar,” bisik Parlindungan girang ke telinga Masniari, Istri nya,”Namanya Halomoan. Ya, Halomoan.”
Parlindungan sengaja memberi nama anaknya dengan nama almarhum mertuanya. Ayah Masniari. Sosok lelaki yang kebapakan, yang sangat dicintai dan dikagumi Masniari sejak dari kecil. Memiliki tanggung jawab dan sayang pada keluarga. Sesuai dengan perjalanan waktu, Halaomoan kecilpun mulai sudah memahami pengaruh yang didapat. Masniari selalu mengirim foto Halomoan untuk Umak di kampung. Dengan harapan Umak mau melihat pahopu (cucunya).”
Bel berbunyi. Masniari bergegas. Di depan pintu tukang Pos berdiri di depan pintu sambil menyerahkan paket yang bertuliskan namanya Masniari.
“Umak…”tanpa sadar Masniari memekik menyambut gembira paket tersebut. Dengan rasa tidak sabar Masniari menggendong Halomoan dan membaringkannya di tempat tidur sambil membuka apa gerangan isi paket umak ini. Tanpa terasa pipi mulus Masniari basah oleh air mata yang mengalir. Parompa(kain gendong) yang bertuliskan nama Halomoan dan sepucuk surat yang bertuliskan “mulakma hamu inang”(pulanglah kamu nak). Masniari berteriak histeris terimakasih umak. Sambil menggendong Halomoan dengan kain parompa(kain gendong) kiriman umak Masniari berbisik di telinga mungil Halomoan,”ini parompa kiriman opung boru(nenek) nak.
Alangkah bahagia Masniari tanda restu dari umak yang sudah lama dinanti akhirnya jadi kenyataan. Mulai hari ini lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga mereka. “kak…kak Niar,”Tiba-tiba Masniari dikejutkan dengan suara halus ditelinganya. Masniari tersentak ternyata dihadapannya adiknya Masnauli memeluknya sambil berkata”maafkan aku ya,kak”. “maafkan aku … maafkan aku ya,kak,”Masnauli mengulang perkataannya. “iya anggi(adik) kakak juga minta maaf,” sahut Masniari sambil memeluk erat Masnauli. Umak yang duduk di sebelah Masniari memeluk kedua borunya(anak perempuannya) sambil berkata kepada Masnauli”inang”(nak) pandai-pandailah kau membawa diri di rumah boumu(mertua perempuan).Terimakasih mak… terimakasih tangis bahagia bercampur haru mengiringi langkah kaki Masnauli mengarungi bahtera hidupnya.
“Umak selalu diberi kesempatan untuk duduk dipunggung kerbau, menikmati sore yang indah,” Umak menarik nafas panjang,” Dan setelah dewasa Umak selempangkan ulos tenunan sendiri melingkari leher Amangmu di acara manortor waktu itu.” Juga di acara semeriah ini. Setelah pembicaraan tentang Umak yang manortor dengan Amang ,tanpa sadar Umak tertidur di kursi bamboo buatan Amang. Sejak itu aku tak tahu Umak berada dimana. Aku baru tahu Umak sudah meninggal dunia, ketika aku duduk dibangku SMA lalu tersadar mengapa Tulang memaksaku untuk tinggal bersamanya di Jakarta. Sebagai anak tunggal, aku inginmengunjungi pusara Amang dan Umak. Tulang selalu mengajakku jalan-jalan, setiap selasai dari pemakaman. Termasuk menikmati acara Manortor yang selalu diceritakan Umak. Dan malam ini, jelas aku berada disini.
Orang-orang segera mengenaliku, ketika Tulang mengajakku berkunjung ke tempat para handai taulan. Rasa kagum dan kasihan seperti melebur, membatu. Setelah leleh kami pun pulang ke rumah opung, tempat aku dan Tulang menginap untuk beberapa minggu. Amang bersaudara hanya bertiga. Dua laki-laki, dan satu perempuan. Kami selalu saja berkumpul-kumpul menyambut malam.
Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Gordang mulai dipalu. Dalam pikiran dan hatiku yang kian tak menentu.
Dan sebelum kembali ke kota akupun diupa-upa. Orang-orang telah berkumpul menyambut malam. Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Bagas Godang semakin sesak. Alaman Bolak terasa menyemak. Gordang mulai dipalu, Gordang Sambilan membahana. Sembilan buah gendang dengan ukuran berbeda-beda. Terbuat dari kayu dan kulit lembu. Dimainkan tujuh orang pemusik. Variasi pukulan dipadu sedemikian rupa, sehingga menghasilkan gelombang irama yang khas. Seperti suara alam. Tampak penabuh gendang paling ujung menari-nari. Sesekali matanya terpejam, larut dalam irama. Bagai digerakkan kekuatan misitis, ia melompat-lompat. Terkadang menunggangi gendang sambil memukul. Seperti kesurupan. Meski atraktif begitu, pukulannya tak pernah sumbang. Berbeda dengan Onang-onang.
Di Sopo Godang para petinggi kampung telah hadir. Juga Kepala Kuria. Aku ada diantara mereka. Duduk di atas tikar pandan berlapis dua , kedua ujungnya disatukan dengan menjahitkan kain warna merah pada keempat sisinya. Dalam bahasa adat , ini disebut amak lampisan.
“Ambilkan Pangupa!” perintah bayo datu. Seseorang datang menating nyiru. Kepala kerbau diletakkan di atasnya, beralas daun pisang. Di sampingnya, seseorang lagi menating piring besar bernama pinggan pasu, berisi bahan pangupa lainnya: nasi putih, tiga buah telur ayam, garam, ikan garing, udang, dan daun ubi. Juga ditutup dengan daun pisang. Paling atas ditutup dengan kain adat Tonunan Patani. ”Turupa-upa...turupa-upa...turupa-upa...” ratap bayo datu memulai acara mangupa. Seseorang memutar-mutarkan nyiru di atas kepalaku. Begitu panjang kalimat pangupa tersebut. Juga dibacakan beberapa mantra. Kakiku kesemutan. Tentu saja kutahan. Menurut adat, seseorang yang berpergian jauh harus diupa-upa untuk memberi kekuatan dan keberanian.
Setelah itu aku disuapi dengan makanan yang berada di Pinggan Pasu. Dicicipi satu persatu. Bayo datu menjelaskan maksud dari setiap jenis makanan. Prosesi berlangsung alot. Juga sakral.
Sebelum pulang seorang gadis misterius mengirimkan hodong, bulung nipau, mare-mare, sontang dan pining. Sebuah isyarat cinta melalui bahasa daun, pertanda kesetiaan, cinta yang tak terpadamkan. Sebuah markusip penuh misteri. Biasanya seorang lelaki mengendap di antara pohon kopi, di bawah sinar purnama. Lalu di dinding kamar perempuan dibisikkan beberapa bait pantun asmara.
Medan, 12
1. Bagas Godang, rumah adat suku batak mandailing
2. Alaman Bolak, alun-alun
3. Gordang Sambilan, alat musik bersjumlah sembilan gendang dengan
ukuran yang berbeda
4. Onang-onang, lagu bernada lirih tentang romantisme hidup dan
kemiskinan
5. Sopo Godang, gedung yang berada di depan Bagas Godang
6. Pangupa, semacam upacara keselamatan-doa selamat
7. Bayo datu, orang yang bertugas meminpin acara ”mangupa”
8. Turupa-upa..., kalimat pembuka dalam acara ”mangupa”
M. Raudah Jambak, S. Pd, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMK Panca Budi – 2 Medan. Dosen Ilmu Komunikasi Fislafat Universitas Panca Budi. Direktur Komunitas Home Poetry. Alamat Kampus/Sekolah: Jalan Jenderal Gatot Subroto km 4,5 Medan, Sumatera Utara. Alamat Rumah: Jalan Murai Batu Kompleks Rajawali Indah E-10 Medan, Sumatera Utara. Alamat kontak : Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan (Taman Budaya Sumatera Utara). Hp. 083194857157/06130106285
Tidak ada komentar:
Posting Komentar