SENI, SASTRA DAN BUDAYA

Loading...

Selasa, 08 November 2011

Potensi budaya dan sastra di Sumut

Prof. H. Ahmad Samin Siregar

Provinsi Sumatera utara sangat kaya dengan budaya berupa tradisi dan adat istiadat. Kekayaan itu muncul karena adanya berbagai etnik yang berasal dari dan berdomisili di Sumatera Utara.

Ada etnik asli dan ada pula etnik pendatang. Oleh sebab itu, Provinsi Sumut adalah daerah yang dihuni oleh etnik yang sangat heterogen dan beraneka ragam. Bahkan karena itu, ada yang menggambarkan hal ini dengan ungkapan yang sangat populer yaitu, “Sumatera Utara adalah miniatur Indonesia”.

Dengan kata lain, hampir semua etnik yang ada di Indonesia dapat ditemukan di Provinsi Sumatera Utara. Suatu hal yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menggalang dan membina persatuan dan kesatuan sehingga terjalin rasa kebersamaan seba gai dambaan dari bangsa Indonesia. Hal inilah yang sekarang ini sangat mendasar dan sangat diperlukan bangsa Indonesia dalam mengharungi era reformasi yang penuh dengan tantangan.

Menurut sejarah dan asal-usulnya, etnik asli yang menghuni daerah Provinsi Sumatera Utara ini ada sebelas. Kesebelas etnik asli itu adalah Batak Toba, Karo, Sumalungun, Angkola, Mandailing, Pakpak/Dairi, Melayu, Nias, Pesisir-Sibolga/Tapanuli Tengah, Lubu; dan Ulu. Kesebelas etnik asli ini mempunyai ciri, penanda, kebiasaan, dan kebudayaannya masing-masing. Adat istiadat, sistem kepercayaan, bahasa, sistem kekerabatan, tata cara perkawinan, dan sistem kemasyarakatan, umpamanya di antara satu etnik dengan etnik yang lain pada kesebelas etnik ini, terkadang mempunyai perbedaan yang mendasar.

Potensi Budaya dan Bahasa
Masyarakat Batak Toba mempunyai bahasa yang ter sendiri yang disebut dengan bahasa Batak Toba. Di samping itu, masyarakat Batak Toba me ngenal pula huruf/tulisan tersendiri yang disebut dengan surat pustaka. Pada masyarakat Batak Toba ada budaya mengandung yang maksudnya menangisi jenazah orang yang meninggal dunia. Hal ini sesuai dengan pesan leluhur orang Batak Toba. “Dakdanak do sitatangisan, natuatua siandungan”.

Maksudnya, ‘Anak-anaklah yang harus ditangisi, orang-orang tualah (yang sudah berumah tangga) yang diratapi (kalau sudah tiada lagi). Budaya mengandung ini bagian adat suku Batak Toba sangat penting. Masyarakat Simalungun pun mempunyai bahasa tersendiri yang disebut dengan bahasa Simalungun. Mereka juga mempergunakan huruf/aksara tersendiri dulunya untuk berkomunikasi. Pada masyarakat Simalungun ada pandangan budaya tentang kesatuan hubungan kekeluargaan yang disebut dengan tolu sahundulan. Berdasarkan tolu sahundulan ini masyarakat Simalungun memandang bahwa ada tiga unsur hubungan kekeluargaan yaitu senina (teman semarga), tondoing (keluarga pihak isteri) dan boru (keluarga pihak menantu laki-laki). Setiap upacara adat pastinya akan menjadi lebih sempurna jika dihadiri oleh ketiga unsur dari tolu sahundulan.

Masyarakat Mandailing mempunyai bahasa sendiri yang disebut dengan bahasa Mandailing dan adat aksaranya pula yang disebut dengan surat tulak-tulak. Pada masyarakat Mandailing ada upacara budaya mangupa. Sasaran upacara ini adalah tondi (jiwa). Ketika seseorang kehilangan tondi; orang itu akan kehilangan semangat hidup, bahkan sampai sakit. Begitu juga saat lepas dari marabahaya atau mendapat keberuntungan, orang Mandailing biasanya melakukan upacara mangupa. Tujuan utama upacara budaya mangupa ini adalah untuk memperoleh berkah dari Tuhan Yang Maha Esa agar selalu selamat, sehat, dan rendah rezeki dalam kehidupan.

Bahasa Angkola dipakai masyarakat Angkola dalam kehidupannya dengan huruf tersendiri yaitu surat pustaha. Ada satu perumpamaan masyarakat Angkola yang menggambarkan budaya untuk hidup bergotong royong yaitu, “Songon siala sampagul, rap tu ginjang rap tu toru, muda madabu rap margulu, muda malamun saulak lalu.” Maksudnya adalah kehidupan ini harus dilalui dengan damai, kalau senang sama-sama menikmatinya, dan kalau susah sama-sama menderita. Perumpamaan ini memakai kata siala sampagul ‘kincung sampagul’ yang sifatnya sama-sama ke atas dan sama-sama ke bawah dan kalau jatuh sama-sama merasakannya.

Masyarakat Karo memakai bahasa Karo dan mengenal huruf tersendiri. Salah satu budaya masyarakat Karo ini adalah pesta (kerja) tahunan untuk menyampaikan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panenyang baik dan mendoakan agar hasil panen tahun berikutnya lebih baik lagi. Upacara ini di Kecamatan Barusjahe disebut dengan mahpah, di Kecamatan Kabanjahe dengan nimpa bunga benih,di Kecamatan Tigabinanga dengan merdang merdem, dan di Kampung Batukarang dengan ngerires. Pesta tahunan ini termasuk juga untuk mempererat rasa kekeluargaan dengan mempertemukan mudamudi untuk berkenalan dengan sesamanya.

Masyarakat Pakpak/Dairi memakai bahasa Pakpak dan juga huruf tersendiri. Masyarakat ini mengenal satu perumpamaan yang popular dan amat bermakna. Perumpamaan itu berbunyi, “gedangan kundul asal cender.” yang artinya ‘Lebih tinggi duduk daripada berdiri.’ Perumpamaan ini mengandung sikap budaya yang ditujukan pada seseorangyang banyak berbicara di luar, tetapi sesudah di tengah-tengah masyarakat diam seribu basa. Perumpamaan ini terasa menghina karena pengertian sebenarnya adalah untuk ‘anjing’ yang kalau duduk lebih tinggi daripada berdiri. Jadi, perumpamaan ini ditujukan pada seseorang yang dianggap seperti anjing saja.

Bahasa yang dipakai masyarakat Melayu adalah bahasa Melayu yang dulunya mengenal aksara sendiri yang disebut dengan aksara Arab-Melayu. Masyarakat Melayu mengenal budaya dan jati diri yang berbudi bahasa dan selalu menghormati setiap penegakan hukum. Semua ini dilakukan masyarakat Melayu untuk menciptakan keamanan, ketertiban dan kemakmuran. Pepatah Melayu yang mengandung pengertian ini adalah, “Bulat lengkungan menjadi lembaga, bulat lembaga menjadi undang-undang, bulat undang-undang menjadi keadilan.” Maksudnya, masyarakat Melayu selalu patuh pada hukum yang berlaku untuk membela kepentingan rakyat.

Masyarakat Pesisir-Sibolga/Tapanuli Tengah pula mempergunakan bahasa Pesisir-Sibolga yang merupakan campuran bahasa ogek-ogek. Budaya Pesisir-Sibolga/Tapanuli Tengah ini mengenal salah satu nyanyian berupa ratapan tentang kehidupan yang disebut dengan sikambang. Nyanyian ini disampaikan oleh kaum muda untuk menumpahkan perasaan hati yang resah mengenai kesulitan hidup dan juga tumpahan perasaan tentang kasih yang tidak kesampaian di antara seorang pemuda (yang melantunkan sikambang ini) dengan seorang perempuan kekasih hatinya.

Masyarakat Nias mempunyai bahasa tersendiri yang disebut dengan bahasa Nias. Kemudian masyarakat Nias mengenal pula satu perumpamaan yang berbunyi, “Gegearakho zomenawa, gegewukho zotambu, hafa’usa zisambua, oi fausu ziatu” yang artinya ‘Bagaikan kumpulan semut, satu mulai menggigit, semut yang lain mengikutinya’. Perumpamaan ini memakai semut yang walaupun makhluk kecil, tetapi ada rasa kebersamaan yang kuat dan sikap bergotong royong yang teguh. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pekerjaan bisa diselesaikan kalau ada kerja sama di antara orang yang mengerjakannya. Gambaran binatang kecil yang kuat di dalam menyelesaikan pekerjaan dengan bergotong royong merupakan contoh yang pantas ditiru.

Di Provinsi Sumatera Utara terdapat pula etnik pendatang yang boleh dikatakan berasal dari seluruh Indonesia. Ada yang berasal dari Aceh, Minangkabau, Jawa, Bugis, Sunda, Makasar, Minahasa, Papua, dan Banjar. Jadi di Sumatera Utara, misalnya, ada istilah Pujakesuma (Putera Jawa Kelahiran Sumatera (Utara) dan ‘Jadel’ (Jawa-Deli). Hal ini menunjukkan bahwa orang Jawa itu sudah merasakan bahwa Tanah Deli dan Sumatera Utara ini adalah tanah kelahiran dan tanah tumpah darah mereka.

Di sini mereka lahir dan berkeluarga sampai akhir hayat mereka. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau hubungan di antara satu etnik dengan etnik lainnya yang ada di Sumatera Utara, baik yang asli maupun yang pendatang, umumnya sangat toleran, saling membantu, saling menghormati dan juga saling menghargai. Tentu saja, situasi dan kondisi yang kondusif serta menyenangkan seperti yang ada sekarang ini di Provinsi Sumatera Utara perlu dijaga dan ditingkatkan sampai dengan masa-masa mendatang.

Penutup
Kondisi kebudayaan di Sumatera Utara sangat heterogen. Apabila kebudayaan setiap etnik itu tidak dapat saling dipahami oleh antaretnik di Sumatera Utara tentu dapat menimbulkan konflik yang kalau tidak diatasi akan menjadi membesar. Konflik di antara etnik di Sumut itu dapat saja terjadi melalui ungkapan-ungkapan yang menggambarkan streotipe berbagai etnik dengan nada yang mengejek dan terasa merendahkan. Ungkapan-ungkapan seperti ‘Mandailing Pelit’, ‘Melayu Pemalas’, ‘Batak Toba kasar’, ‘Nias bodoh’ dan ‘Pakpak rendah diri’ menggambarkan hal itu.

Untuk itu, perlu adanya kearifan dalam merevitalisasi tanda budaya etnik yang ada di Sumut. Tanda budaya etnik yang negative sebaiknya dihindarkan pemakaiannya lalu tanda budaya etnik yang positif perlu pula diperkuat sehingga timbul kepercayaan diri yang lebih kokoh pada masing-masing etnik di Sumatera Utara. Potensi budaya ini, termasuk potensi bahasa yang memperkuat jati diri setiap etnik di Sumatera Utara ini perlu terus dibina dan dilestarikan sehingga dapat menimbulkan rasa kesatuan dan persatuan yang kokoh.

Kekayaan budaya dan bahasa etnik di Sumatera Utara yang menggambarkan keanekaragaman ini perlu disadari setiap etnik. Untuk itu, Fakultas Sastra USU berperan sangat besar dan menjadi garda terdepan dalam hal ini. Sikap mengurus diri sendiri demi menjaga kekokohan persatuan bangsa amat diperlukan dari masyarakat etnik asli maupun masyarakat etnik pendatang di Sumut ini. Usaha mengurus diri sendiri seperti semboyan marsipature hutana be yang dicanangkan Raja Inal Siregar, saat menjadi Gubernur Sumut, perlu kiranya dilanjutkan dan ditingkatkan. Pernyataan positif ini pantas rasanya diberikan ‘acungan jempol’. Semoga hal itu dapat disadari oleh setiap anak bangsa yang berdomisili di Sumatera Utara ini.


Manusia, Lingkungan dan Sastra*

dr Robert Valentino Tarigan SPd**



Kapasitas Bumi

Kita bangsa manusia di belahan bumi mana saja: barat, timur, selatan, utara dan lainnya, haruslah sama menyadari bahwa bumi yang kita tempati ini punya batas kesanggupan memikul beban. Bumi yang tabah dan tak pernah mengeluh adalah milik satu-satunya yang harus dijaga demi kehidupan yang berkelanjutan.

Jika kapasitas bumi terlampauai – tidak bisa tidak – bencanalah yang harus kita terima. Bencana itu, tidak saja menimpa orang-orang yang selama ini memperlakukan alam dengan semena-mena. Bencana – bila itu datang – akan menghantam siapa saja. Bencana tidak mengenal si ‘raja hutan’ yang dengan perkasa membabat pohon, tidak mengenal si pemilik pabrik yang tidak mengindahkan dampak lingkungan dari limbah pabriknya, tidak mengenal si pemilik pukat harimau yang menguras habis ikan laut sampai ke benur-benurnya. Bencana itu, juga harus dirasakan si Tongat dan keluarganya yang tinggal di kaki gunung atau pinggiran sungai sekalipun.

Jumlah penduduk bumi yang kini melampaui lima miliar lebih merupakan peringatan bagi kita bangsa manusia. Menurut para ahli – termasuk Steven Hawking sang fisikawan kondang itu – bumi kita hanya mampu menampung penduduk tidak lebih dari 10 miliar saja. Jadi, andaikata kita tidak mampu menekan laju pertumbuhan manusia, niscaya kesempatan hidup di planet bumi ini perlu jadi perhatian serius.

Peradaban bangsa manusia yang menuju 6 miliar menghadapi risiko bagi kehidupan yang berkelanjutan. Pasalnya, kita telah memaksa bumi sampai ke batas kemampuannya. Sejak revolusi industri, jumlah penduduk meningkat sampai delapan kali lipat. Sementara itu, produk kegiatan industri telah naik lebih dari 100 kali lipat dibanding 100 tahun lampau.

Peningkatan jumlah penduduk serta kegiatan yang tak terduga ini menimbulkan dampak yang luar biasa pada lingkungan. Kemampuan bumi untuk mendukung kehidupan manusia dan kehidupan lain berkurang sekali. Dalam waktu kurang dari 200 tahun planet ini telah kehilangan enam juta kilometer persegi hutan; beban sedimen dari erosi tanah telah meningkat tiga kali lipat di palung-palung sungai yang dimanfaatkan secara intensif; pemakaian air telah berkembang dari 100 menjadi 3600 kilometer kubik pertahun.

Sitem-sistem atmosfer juga telah terganggu, dan mengancam tata iklim yang sejak lama sekali diadaptasi oleh manusia dan bentuk-bentuk kehidupan lain. Sejak pertengahan abad kedelapan belas, kegiatan manusia menghasilkan lebih dari dua kalilipat metana di atmosfer; meningkatkan kosentrasi karbondiaksida sebanyak 27 persen dan nyata-nyata merusak lapisan ozon di stratosfer. (Lengkapnya baca “Bumi Wahana” Gramedia Pustaka Utama halaman 4, 1993).



Keseimbangan Terganggu

Majalah Jepang Bergambar Vol 13 No 2 Tahun 1990 mengatakan, keseimbangan yang diperlukan bagi pertukaran bahan-bahan kimia secara normal antara bumi dan atmosfer yang begitu vital bagi kehidupan bumi nampaknya telah terganggu dalam tahun-tahun belakangan ini. Salah satu sebabnya adalah penggundulan hutan-hutan yang menyediakan oksigen bagi kita. Bersamaan dengan itu, obat-obat semprot dan pupuk pertanian telah menyerap ke dalam air tanah, dengan demikian mengakibatkan pencemaran air dan rusaknya tanah.

Sementara itu, karbondioksida dan gas metana, produk bungan dari potreleum, batubara dan bahan bakar fosil lainnya telah meninggikan tempratur bumi. Sedangkan sulfurdioksida telah mengakibatkan hujan asam yang mengancam flora bumi. Kini produk baungan seperti gas-gas CFC (cloroflurocarbon) sedang merusak lapisan ozon yang melindungi kehidupan di bumi dari sinar-sinar ultraviolet yang membahayakan dipancarkan oleh matahari.

Kesadaran akan pentingnya hidup yang berkelanjutan adalah merupakan gagasan yang harus terus-menerus diaktualisasikan. Sebab, sumber daya yang ada di bumi sekarang ini sudah tidak memadai, dan tanpa bencana alam atau peperangan yang memakan banyak korban, penduduk dunia tidak dapat mencapai jumlah yang mantap, yaitu kurang dari 10 miliar jiwa. Tanpa adanya bencana, penduduk dunia sekarang ini mungkin telah mencapai 12 miliar yang tak mungkin ditampung oleh bumi, makanya dunia mencanangkan program keluarga berencana.

Sistem Pendukung

Sitem-sistem pendukung kehidupan adalah prses-proses ekologi yang membentuk iklim, membersihkan udara serta air, mengatur aliran air, mendaur ulang unsur-unsur esensial, menciptakan serta meregenerasi tanah dan menjaga agar planet tetap layak untuk kehidupan.

Sementara kegiatan manusia dewasa ini secara tidak tanggung-tanggung mengubah proses-proses ini melalui pencemaran global dan perusakan atau pengubahan ekosistem-ekosistem. Gas-gas rumah kaca, terutama yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, pembakaran hutan, dan pertanian serta peternakan, terkumpul di atmosfer dan menyebabkan terperangkapnya gas bumi. Jika kenderungan ini serta jika model iklim bumi yang sekarang ini benar, tempratur rata-rata planet kita diduga akan meningkat 1 derajat celcius antara tahun 1990 dan 2025 dan 5 derajat celscius sebelum akhir abad mendatang.

Sepintas ini tidak banyak, tetapi ini perubahan yang lebih cepat dibanding perubahan selama 10.000 tahun terakhir. Jika ini terus berlangsung, daerah-daerah iklim akan bergewer, pola-pola persipitasi akan berubah, permukaan air laut akan naik, dan taufan serta badai akan makin sering terjadi serta dahsyat.

Lapisan ozon yang berfungsi sebagai pelindung di stratosfer, terutama akibat CFC yang juga termasuk gas rumah kaca, dan hanya diproduksi oleh kegiatan manusia modern. Lapisan ozon bertugas menyaring sinar-sinar ultraviolet dari matahari yang bila dibiarkan lewat akan mengurangi produktivitas laut, menghilangkan kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit, serta menyebakan kerusakan pada mata dan menimbukan kanker kulit.



Kalpataru dan Chipko

Sebenarnya Indonesia pun sudah sadar akan bahaya dari rusaknya lingkungan. Ini dapat ditandai dengan pemberian hadiah kalpataru bagi penyelamat lingkungan hidup. Ini memperlihatkan suara dari pembela lingkungan hidup masih dihargai.

Di India, dengan semangat antikekerasannya, gerakan Chipko telah berhasil menyelamatkan hutan-hutan yang akan ditebang kontraktor. Dengan semangat antikekerasan penduduk Desa Kilari India, selalu memeluk pohon-pohon bila kontraktor datang akan menebangnya. Dengan demikian kontraktor gagal menebangi pohon karena bila memaksa, berarti orang-orang desa yang memeluk pohon itu akan tertebang. Akhirnya hutan itu selamat dan kontraktor meninggalkan niatnya.

Hadiah Kalpataru dan gerakan Chipko merupakan salah satu contoh dari penghargaan dan pembelaan tanpa kekerasan terhadap lingkungan hidup. Tetapi, semakin pesatnya kemajuan teknologi dan investasi, langkah kaum industrialis akan semakin gagah dan luas. Justru itu, hari ini dan ke depan, sangat diperlukan industri yang tidak merusak lingkungan. Ini memang menyangkut masalah kesadaran, mentalitas dari masyarakat luas, baik pemilik modal maupun pembela lingkungan hidup. Kalau tidak, bisa jadi pembangunan nantinya dapat menggiring bangsa manusia ke arah alienasi (keterasingan). Bahkan tidak mustahil pula pembangunan akan menggiring kepada proses pemusnahan bangsa manusia dari permukaan bumi. Suatu kondisi yang sangat paradoks.

Bila saja terjadi kaum pembela lingkungan hidup memusuhi industri, maka laju indistri akan terhambat. Bagaimana mungkin bangsa manusia akan maju? Demikian pula sebaliknya, jika sampai terjadi kaum industrialis menganggap sepi suara gerakan pembelaan terhadap lingkungan hidup, niscaya alam akan semakin compang-camping.



Lingkungan dan Sastra

Persoalan hidup yang berkelanjutan dikaitkan dengan sastra, saya pikir, bukanlah sesuatu yang dilekat-lekatkan begitu saja. Panitia memilih topik ini – masih menurut saya – adalah hal yang tepat. Mengapa tidak, sastra dapat menggarap persoalan apa pun menjadi menarik dan aktual dengan waktu yang panjang. Bahkan tidak menutup kemungkinan karya sastra yang baik dapat hidup di sepanjang zaman.

Masalah-masalah lingkungan hidup yang ditulis para wartawan, sungguh berbeda bila digarap oleh para sastrawan. Wartawan punya banyak sensor yang berkaitan dengan perbedaan kepentingan. Sensor pertama mungkin datang dari pemasang iklan yang perusahaannya terkena dalam pemberitaan dimaksud.

Sensor kedua mungkin datang dari redaktur yang berkecenderungan kepada sumber-sumber yang kapabel. Sensor ketiga juga mungkin datang dari bagian perusahaan yang berkaitan dengan tiras atau sirkulasi koran (majalah). Sensor keempat tidak menutup kemungkinan berkaitan dengan pencabutan SIUP (Surat Izin Usaha Penerbitan) yang cenderung berlaku pada masa Orde Baru dulu. Dan sensor-senor lainnya.

Ini bukan berarti bahwa peran sastrawan jauh lebih hebat dari wartawan. Tidak, bukan itu maksudnya.

Perbedaan fungsi (tugas) masing-masing media itu tidak terletak kepada hebat atau tidaknya, melainkan kepada cara penyampaian. Bila media elektronik dapat menyampaikan berita yang sedang terjadi secara langsung, media cetak hanya akan dapat menyajikan setelah berlangsung atau akan berlangsung. Sementara sastrawan dapat mengabadikan kisah-kisah aktual itu menjadi bacaan yang mungkin untuk sepanjang zaman.

Bagaimana kisah orang tua dan laut (The Old Man and The Sea) yang digarap Ernest Hemingwey puluhan tahun yang lampau, masih enak dibaca sekarang. Bagaimana kisah perlawanan Nyi Onto Soroh dan Minke dalam menentang kapitalisme ortodoks yang digambarkan Pramudya Ananta Toer, juga puluhan tahun lampau, masih juga menarik kita baca saat ini.

Begitu pula kisah kawin paksa yang digambarkan Marah Rusli dalam Siti Nurbaya, juga tak kalah menariknya untuk dinikmati. Perjuangan Multatuli dalam membela kaum tertindas pun tak jauh beda.

Kisah-kisah yang pernah terjadi, akan terjadi dan mungkin terjadi adalah sesuatu yang dapat menjadi sumber ilham bagi pengarang (sastrawan). Sepanjang penggarapan tidak artifisial dan dapat menyentuh hal-hal yang substansi, karya itu berkemungkinan akan tetap menarik dibaca kapan dan di mana saja. Sesungguhnya karya sastra yang baik tak mengenal batas waktu dan wilayah.

Konsep Horace dulce dan utile merupakan landasan sikap bagi sastrawan. Para pembaca tidak saja dapat menarik manfaat (utile) dari karya sastra yang dibacanya, juga dapat merasakan nikmat (dulce) – yang menurut saya – tidak sekadar profan. Nikmat di dalam karya sastra dapat mencapai puncak imanen karena ia telah melalui proses katarsis.

Karena itulah, persoalan-persoalan lingkungan hidup dapat menjadi tema yang menarik bagi karya sastra. Misalnya proses pendangkalan danau, pelurusan sungai, tercemarnya sungai, laut dan udara merupakan hal yang menarik untuk disajikan dalam karya sastera (puisi, cerpen, maupun novel).

Tidak hanya masalah kerusakan, juga bagaimana akrabnya seorang anak nelayan dengan laut, akrabnya seroang anak desa dengan lingkungannya dan persolan-persoalan lainnya. Semua merupakan bahan yang dapat diramu ke dalam karya sastra.

Hal yang terpenting, karya sastra dapat menulis banyak soal tanpa harus menghujat. Karya sastra, meskipun bersifat sosial kontrol, tetap saja dengan pendekatan yang humanistis, sehingga memungkinkannya jadi universal. Sebab sesungguhnyalah esensi sastra untuk membawa pembacanya kepada proses katarsis (penyucian diri).

Nah, 14 sastrawan Sumatera Utara: Afrion, Aishah Basar, Ali Yusran, Antilan Pruba, Harta Pinem, Hidayat Banjar, Indris Pasaribu, Jones Gultom, M Raudah Jambak, M Yunus Rangkuti, Rida HR, Siti Aisyah, S Ratman Suras, dan Suyadi San sudah bicara lewat puisi-puisi ekologinya. Apakah kelak puisi-puisi itu bermakna atau tidak bagi kehidupan, waktu jualah yang akan menjawabnya. Yang pasti, Jelajah – nama kumpuluan puisi yang menghimpun 115 puisi itu – telah menorehkan jejak bahwa di negeri ini telah dan mungkin terjadi krisis lingkungan sebagaimana yang digambarkan. ***

*Disampaikan pada acara

Peluncuran Buku Kumpulan Puisi Ekologis

di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU)

Medan, 14 Agustus 2006



**Direktur LSM Pelindung Bumimu

dan Pimpinan BT/BS BIMA Medan


Pendidikan, Penataan Permukiman dan Lingkungan Hidup bagi Komunitas Sastra

M. Raudah Jambak, SPd.

Sumatera Utara cukup dikenal apresiatif terhadap dunia sastra. Hanya saja perhatian secara sungguh-sungguh terhadap sastra dan seni masih penuh dengan tandatanya besar. Artinya, kita telah melahirkan cukup banyak sastrawan dan seniman yang beberapa di antaranya tentu dikenal di seantero Nusantara. Begitu juga Komunitas Sastra di dalamnya.
Untuk Komunitas Sastra, misalnya. Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Medan telah melahirkan begitu banyak penulis dan karya yang cukup melegakan hati. Setuju atau tidak setuju. Pun, untuk komunitas sastra yang lain yang menghasilkan calon militansi sastra yang mulai terasah kemampuannya.

Seperti yang pernah kita baca, seiring dengan perkembangan zaman, sastra pun terus berkembang mengikuti derap peradaban. Bentuk sastra dengan berbagai "wajah" terus bermunculan, baik yang berbentuk prosa maupun puisi. Dengan sifatnya yang khas dan unik, sastra terus mewartakan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan, hingga mampu menumbuhkan kepekaan nurani pembacanya. Semakin sering membaca karya sastra, batin pembaca akan semakin terisi oleh pengalaman-pengalaman baru dan unik yang belum tentu didapatkan dalam kehidupan nyata. Itu artinya, sastra telah memberikan "asupan" gizi batin yang lezat dan bermakna bagi pembaca.

Di dalam karya sastra, kita akan menemukan nilai hedonik (nilai yang dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada pembaca), nilai artistik (nilai yang dapat memanifestasikan seni atau keterampilan dalam melakukan suatu pekerjaan), nilai kultural (nilai yang memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan masyarakat, peradaban atau kebudayaan), nilai etis, moral, agama (nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika, moral, atau agama), dan nilai praktis (nilai yang mengandung hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari).

Karena banyaknya kandungan nilai yang terdapat dalam teks sastra, sangat beralasan apabila sastra dijadikan sebagai media yang tepat untuk membangun karakter bangsa. Sastra menawarkan ruang apresiasi, ekspresi dan kreasi dengan berbagai kemungkinan penafsiran, perenungan, dan pemaknaan. Dengan mengakrabi sastra, kita terlatih menjadi manusia yang berbudaya, yakni manusia yang memiliki kepekaan nurani dan empati, tidak suka bermusuhan, tidak suka kekerasan, tidak suka dendam dan kebencian. Sastra mendorong dan melatih kita untuk: (1) cinta Tuhan dan kebenaran; (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) amanah; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; (6) percaya diri kreatif, dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, (8) baik dan rendah hati; dan (9) toleransi dan cinta damai. Karenanya, upaya mengakrabi sastra perlu dilakukan sejak dini, agar kelak menjadi sosok yang memiliki karakter dan kepribadian yang kuat, sehingga mampu mengatasi berbagai persoalan hidup dan kehidupan dengan cara yang arif, matang, dan dewasa.

* * *

Persoalannya sekarang, aktivitas apa saja yang perlu dilakukan untuk mengakrabi sastra agar kita mampu menjadi manusia yang berbudaya? Paling tidak, ada tiga aktivitas bersastra yang bisa dilakukan.

Misalnya saja aktivitas apresiasi. Aktivitas ini bisa dilakukan dengan memperbanyak membaca karya sastra, baik prosa maupun puisi. Dengan banyak membaca karya sastra dalam berbagai genre (bentuk), pengalaman batin dan rohaniah kita akan terasupi oleh berbagai macam nilai yang mampu menyuburkan nurani kita. Ini artinya, secara tidak langsung, karya sastra akan mampu membangun basis karakter dan kepribadian yang kuat, sehingga tidak gampang terpengaruh untuk melakukan tindakan-tindakan negatif yang bisa merusak citra kemanusiaan dan keluhuran budi. Inti kegiatan apresiasi sastra adalah memahami dan menghargai karya sastra melalui proses pendalaman, penafsiran, perenungan dan pemaknaan nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya.

Karya sastra bisa menjadi saksi dan mata zaman yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Dia (karya sastra) mampu mendedahkan berbagai peristiwa masa silam, menyuguhkan peristiwa pada konteks kekinian, sekaligus bisa meneropong berbagai kemungkinan peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang. Ini artinya, semakin banyak membaca dan mengapresiasi sastra, semakin banyak menerima asupan gizi batin, sehingga kita terangsang untuk menjadi manusia berbudaya yang responsif terhadap berbagai persoalan hidup dan kehidupan.

Kemudian aktivitas berekspresi. Kegiatan berekspresi termasuk salah satu kegiatan mengakrabi sastra yang bisa dilakukan dengan mengekspresikan atau mengungkapkan teks sastra ke dalam bentuk pembacaan dan permainan peran. Membacakan puisi, mendongeng, bercerita, atau bermain drama termasuk kegiatan berekspresi. Kegiatan semacam ini melatih kita untuk menumbuhkan kepekaan dalam menangkap nilai keindahan yang terkandung dalam karya sastra secara lisan. Puisi akan terasa lebih indah jika dibacakan dengan penghayatan dan eskpresi yang tepat. Demikian juga halnya dengan mendongeng, bercerita, atau bermain drama. Nilai-nilai dan pengalaman hidup yang terkandung dalam karya sastra jadi terkesan lebih indah dan menyentuh kepekaan estetik kita.

Pada hakikatnya setiap manusia memiliki potensi dasar dalam berkreasi di bidang sastra. Perbedaanya terletak pada tingkat kepekaan pribadi masing-masing. Yang paling besar pengaruhnya adalah faktor minat dan kesungguhan berlatih. Semakin besar minatnya dan semakin serius pula dalam berlatih menulis karya sastra, maka semakin besar pula tantangan-tantangan kreatif yang bisa dilaluinya. Para sastrawan besar pada umumnya lahir karena dukungan dua faktor tersebut. Dengan kata lain, kreativitas atau daya cipta seseorang dapat lahir setelah melalui berbagai tantangan yang dihadapinya, sehingga mampu melahirkan karya sastra yang memiliki nilai lebih. Secara khusus, kreativitas dalam mengakrabi sastra adalah kemampuan menemukan, membuat, merancang ulang, dan memadukan pengalaman masa silam dengan gagasan baru hingga berwujud sesuatu yang lebih baru.

Kreativitas penciptaan karya sastra sangat erat kaitannya dengan kemampuan mendayagunakan imajinasi dan bahasa. Melalui kekuatan imajinasi, seorang pengarang mampu menjelajahi berbagai pengalaman batin manusia. Ia bisa mengungkapkan berbagai kenyataan dan pengalaman hidup secara imajinatif meskipun pengarang yang bersangkutan tidak harus mengalami secara langsung apa yang dia tulis.

Imajinasi, konon identik dengan mata sang jiwa yang dimiliki oleh setiap orang. Ini artinya, siapa pun orangnya memiliki kemampuan berimajinasi. Yang mungkin berbeda adalah ketajaman seseorang dalam melihat dan menafsirkan berbagai kenyataan hidup yang terjadi di sekelilingnya. Bagi seorang sastrawan, imajinasi merupakan modal kreativitas utama yang terus diasah melalui proses perenungan dan pengendapan. Hal ini menjadi penting, sebab dunia sastra selalu melewati pintu imajinasi ketika seorang sastrawan hendak melahirkan karya sastra. Sastrawan tidak melihat kenyataan hidup dengan menggunakan mata fisik, tetapi menggunakan mata jiwa, sehingga bisa menyajikan kenyataan hidup yang berbeda di dalam karya sastra. Bisa saja apa yang tertuang di dalam karya sastra mencerminkan berbagai kenyataan hidup yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan lingkungannya.

Kenyataan hidup yang diungkapkan sudah dipadukan dengan kekuatan imajinasi, pengetahuan, keyakinan, dan pengalaman batin sang pengarang, sehingga karya yang dihasilkan memiliki daya tarik dan daya pikat bagi pembaca. Perpaduan antara kenyataan dan imajinasi itulah yang telah melahirkan karya-karya besar yang tidak pernah bosan dibaca dan diapresiasi dari zaman ke zaman.

Berdasarkan hal ini ada yang menuliskan, kesuksesan komunitas juga tidak ditentukan oleh figur tokohnya, nama besar organisasinya, terlebih kekuatan dananya. Sehingga pandangan tentang pentingnya faktor sastrawan seniornya, penyandang dana, campur tangan pemerintah, kemampuan lobi untuk menyukseskan acara seremonial, dalam sebuah komunitas hanyalah pemikiran sempit (juga picik). Dalam publik sastra yang menjadi ukuran keberhasilan adalah kualitas karya yang dihasilkan anggota komunitasnya.

Di sini yang sering dilupakan, keberhasilan aktivitas kesastraan tergantung bagaimana masing-masing pribadi berproses kreatif untuk menghasilkan karya. Keberadaan komunitas hanya faktor pendukung dan penyemangat untuk terus berkarya. Percuma saja menempel di depan kebesaran nama komunitas kalau tidak berbuat apa-apa, tidak menghasilkan karya. Hanya pesta dan hura-hura. Sebab nama besar komunitas bukan menjadi jaminan kualitas karya anggotanya. Dalam beberapa kali diskusi, kadang saya heran terhadap sikap beberapa pegiat komunitas -terutama pemula.

Baru satu atau dua kali menulis sudah bisa mengukur kualitas karyanya -tentunya dari sudut pandang pribadi dengan memakai jubah besar nama komunitas. Menggugat redaktur sastra koran atau majalah, kenapa tidak memuat karya-karyanya. Penilaian-penilaian individu seperti ini sebenarnya sah-sah saja, sepanjang untuk evaluasi terhadap karya yang telah dibuat. Bukan justru menjustifikasi bahwa karya yang telah dihasilkan sudah "luar biasa" sehingga wajib disiarkan kepada publik. Gugatan-gugatan narsisme seperti ini sebenarnya tidak perlu muncul seandainya penulis mau berkaca dengan membaca karya-karya penulis yang benar-benar luar biasa, lalu mengevaluasi karya sendiri. Bukan malah "buruk muka cermin dibelah".

Masalah lain yang kadang timbul dalam komunitas sastra adalah munculnya virus epigon pada penulis pemula. Kecenderungan "mendewakan" sang senior atau sang guru menyebabkan keseragaman gaya penulisan. Dalam jangka pendek wajar bila murid menirukan gurunya, namun bila berkesinambungan dan menjadi indoktrinasi saya kira membawa masalah. Calon penulis tidak memiliki kebebasan menampilkan gaya atau tidak berani memunculkan karakter kepenulisannya. Inilah bila komunitas menjadi tempurung bagi katak kreativitas, bukan menjadi sungai yang mengalirkan kreativitas. Komunitas hanya akan kontraproduktif dan memandulkan proses kreatif anggotanya.

Esensi penting dalam berkomunitas, bagaimana individu-individu yang akan berkelompok membawa idealisme dan semangat masing-masing. Sebab komunitas hanya wahana untuk berkreasi, berinteraksi dan berekspresi. Dengan semangat dan idealisme, para pemula tidak terjebak pada bayang-bayang kebesaran komunitas, jumlah anggota komunitas, indoktrinasi komunitas, nama besar figur atau batas-batas kreativitas, sehingga bisa memilih, menjadi idealis atau elitis. Pegiat komunitas sastra, berlomba-lombalah menghasilkan karya, bukan sekadar mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya.

Mungkin ini hanya sebuah wacana yang mungkin tidak perlu kita persoalkan tetapi ke depan adalah bagaimana kita mampu dan mau mengasah tidak hanya karya tetapi mental positif (rendah hati) yang kita punya sebagai bagian dari pendidikan, penataan permukiman, dan lingkungan hidup sastra bagi komunitas sastra yang pernah dilakukan oleh teman-teman sastrawan di daerah lain, seperti M. Badri, Sawali, Irmansyah, dan lain-lain, sebagai bahan perbandingan kita. Terimakasih.

Penulis: Direktur Komunitas Home Poetry


MENYINGKAP PETA SASTRAWAN SUMATERA

Suyadi San

[Staf Teknis Balai Bahasa Medan]

Pulau Sumatera tidak hanya penghasil rempah. Tak sebatas kawah candradimuka politik nasional. Sejarah membuktikan, swarnadwipa ini merupakan sokoguru budaya. Melayu, Minangkabau, Batak, Gayo-Alas-Singkil, Aceh, merupakan puak terbesar di samping kaum pendatang dari Jawa. Dua kerajaan besar pra Indonesia bermukim di sini: Samudera Pasai dan Sriwijaya. Gugusan pegunungan membentang dan menjulang dari utara hingga selatan: Bukit Barisan. Toba, Singkarak, dan Maninjau adalah danau yang menjadi ikon semenanjung Sumatera. Banyak lagi patut dibanggakan di wilayah ini. Tak ayal, pengarang-pengarang Indonesia kerap memotret Sumatera dalam figura budayanya. Ini terlihat jelas pada masa Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Deretan pengarang besar Indonesia lahir di sini dan membesarkan Indonesia Raya. Persemaian wilayah sastra ini menjadi satu bagian penting dalam geosastra dan geopolitik kebudayaan Indonesia. Di arena Temu Sastrawan Sumatera dan Temu Sastrawan Sumatera Utara 2007, yang digelar Dewan Kesenian Sumatera Utara 28-30 Desember barusan, menggambarkan pemetaan semangat bersastra di kalangan sastrawan antarprovinsi di Pulau Andalas. Pengembaraan kreativitas bersastra para sastrawan itu tertuang dalam satu medan, yakni sastra. Pertemuan antarsastrawan di Pulau Sumatera itulah yang melahirkan diterbitkannya buku Medan Sastra. Buku kumpulan karya sastra ini dimaksudkan sebagai satu penanda bahwa pulau ini tidak pernah kering melahirkan generasi sastra. Tak heran, sebelum acara temu sastrawan ini berlangsung, sebelum buku tersebut diterbitkan, saya selaku editor dibantu rekan S. Ratman Suras, M. Raudah Jambak, dan Hasan Al Banna menerima ratusan karya. Karena keterbatasan waktu – juga dana – pula, kami hanya bisa meloloskan 85 judul karya sastra dari 57 orang penulis, terdiri atas 55 judul puisi dari 33 penulis, 20 cerita pendek (20 penulis), 2 naskah drama (2 penulis), dan 8 esai (8 penulis). Nama-nama pengarang yang karyanya termuat di dalam buku ini, merupakan keterwakilan dari bejibunnya jumlah penulis karya sastra pada masing-masing provinsi dan daerah. Tak hayal, buku ini juga diisi sejumlah nama baru. Karya-karya mereka – untuk sementara ini – disandingkan dengan sastrawan generasi sebelumnya. Alam dan waktu yang akan menguji mereka: apakah mereka pantas menyandang ‘gelar’ sastrawan di kemudian hari. Para penulis baru yang muncul pada buku ini, di antaranya Agus Mulia, Ahmad Badren Siregar, Antonius Silalahi, Djamal, Elidawani Lubis, Herni Fauziah, Januari Sihotang, Lia Anggia Nasution, Pria Ismar, Pusriza, Embar T Nugroho, Indra Dinata SC. Ada pula nama Indra YT, Irwan Effendi, Richad Yanato, Rina Mahfuzah Nasution, Sumiaty KSM, Variati Husni, dan Yunita Sari. Itu semua dari Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Barat mengutus sastrawan mudanya, seperti Anda S, Chairan Hafzan Yurma, Edo Virama Putra, Esha Tegar Putra, Pinto Anugrah, Yetti A.KA . Yang jelas, generasi baru sastrawan Sumatera nyatanya terus berdenyut. Ia menjadi satu fenomena bahwa Sumatera tidak akan kehabisan penerus cita-cita sastrawan terdahulu. Buku ini barangkali akan jadi saksi sejarah tentang perjalanan sastra Sumatera. Sumatera Utara selaku tuan rumah, tentu saja jadi penyumbang terbanyak pengisi buku. Selain sastrawan pemula di atas, sastrawan terkemuka daerah ini yang tampil meramaikan buku Medan Sastra ini, di antaranya, Afrion, Amin Setiamin, Damiri Mahmud, D. Ilyas Rawi, Harta Pinem, Herman KS, Idris Siregar, M. Yunus Rangkuti. Lalu, Shafwan Hadi Umry, S. Ratman Suras, Zainal Arifin AKA, A. Yusran, Dini Usman, Hasan Al Banna, Hidayat Banjar, Malubi, M. Raudah Jambak, Nasib TS, Saripuddin Lubis, Sulaiman Sambas, Teja Purnama, Tengku Agus Khaidir, Yulhasni, Suyadi San, dan Syaiful Hidayat. Selain melalui karya, peta sastrawan Sumatera secara jelas dapat dibaca melalui esai-esai yang terdapat di dalam Medan Sastra. Perkembangan dan jejaring sastra masing-masing provinsi diungkap Syaiful Hidayat (Sumatera Utara),. D. Kemalawati (Nanggroe Aceh Darussalam), Ira Esmiralda (Bangka Belitung), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Muhammad Husyairi (Jambi) dan Tarmizi (Kepulauan Riau). Lalu, sastrawan Damiri Mahmud dan akademisi Dr. Ikhwanuddin Nasution M.Si menyoroti serta mengkritisi karya-karya dan perjalanan sastra Sumatera tersebut. Syaiful Hidayat pada esai yang terdapat di dalam buku ini menyatakan, sastra Indonesia menempatkan sastra dan sastrawan dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebagai pelopor sastra modern Indonesia. Konstelasi sastra itu menumbuhkan Kota Medan dan Kota Padang sebagai pusat sastra Indonesia yang utama di luar Pulau Jawa. Sastrawan dari kedua wilayah ini kemudian saling memberi warna sehingga muncullah Chairil Anwar dan Hamka sebagai orang Minang yang secara bersamaan melekat sebagai orang Medan. Sebaliknya, Sutan Takdir Alisjahbana dan Mochtar Lubis sebagai orang Medan yang merasakan atmosfer sastra Minang. Mereka merupakan bagian dari kelas menengah Hindia Belanda yang memperoleh pendidikan, sehingga terampil dalam mengekspresikan gagasannya, pandangan hidup sebagai subjek kolektif. Menurut penilaian Damiri Mahmud, saat ini geliat kepengarangan Sumatera makin ramai, terutama puisi dan Cerpen. Para penulis Sumatera ini tampak berusaha melepaskan diri dari “cengkeraman” Jakarta yang selama ini dianggap sebagai sentralisasi sastra. Kata Damiri lagi, kantong-kantong sastra di beberapa tempat di Sumatera diusahakan seintensif mungkin. Kegiatan-kegiatan pertemuan, diskusi, sayembara, penerbitan buku begitu marak dilakukan. Damiri memperkirakan, Riau paling depan dalam geliat bersastra. Pada dekade 60-an dan 70-an daerah ini masih terasa sepi dari kegiatan dan para sastrawan. Tapi sekarang begitu banyak kegiatan dan muncul tokoh-tokoh kenamaan. Mereka pun sangat giat menggali akar tradisi sastranya. Karya-karya Raja Ali Haji misalnya, kembali ditransliterasi dan diterbitkan. Sedangkan Sumatera Utara, sebagaimana halnya Riau, tampaknya punya kedekatan sejarah dengan Semenanjung Malaysia. Karya-karya para sastrawan banyak yang terbit di sana. Setidaknya 12 novel telah dibukukan dan beberapa antologi puisi dan Cerpen. Ada pula even “Dialog Utara” yang dilaksanakan sejak awal 1980-an yang pada mulanya diisi oleh para sastrawan dari Medan dan Pulau Pinang yang dianggap sebagai kota kembar karena kemiripannya yang sama-sama memiliki tradisi sebagai kota pantai. Tampaknya di antara genre sastra yang banyak ditulis adalah puisi dan kemudian cerita pendek. Kurang diimbangi oleh penulisan novel. Barangkali penulisan novel memerlukan waktu yang lama dan dukungan dana yang besar sementara para penulis sekarang pada umumnya punya kegiatan rangkap. Tradisi sebagai “pujangga istana” di zaman kerajaan dulu telah hilang. Sebagaimana diketahui Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji, sedikit banyaknya merupakan “pujangga istana” sehingga di samping dukungan dana, misi yang mereka tulis bisa dengan cepat dapat terlaksana. Deknong Kemalawati dalam esai nya memaparkan sejumlah generasi sastra Aceh. Generasi sastra Aceh ini dimulai dari Angkatan Sufi. didominasi oleh tema agama terutama mengenai tasawuf (mazhab; aliran), hal ini menandakan perkembangan (pengkajian) masalah agama di Aceh berada dalam priode emas. Salah satu faktor penyebabnya adalah Sultan (raja) memberikan akses yang seluas-luasnya kepada penyair untuk berkarya. Di samping itu, penyair (dinominasi kaum ulama) sangat dihargai kerajaan, sehingga mereka menjadi mufti. Pada zaman itu, politik telah memainkan peranan yang besar dalam perkembangan kesusastraan di Aceh. Terutama, persengketaan mazhab Hamzah Fansuri dengan Nuruddin ar-Raniri—mengenai faham wujudiyah. Dalam catatan sejarah banyak karya Hamzah Fansuri dan ikutannya dimusnahkan oleh kerajaan atas saran dari Nuruddin ar-Raniri. Angkatan Pujangga Baru didominasi tema ketuhanan dan keindahan alam. Selain itu, bentuk karya masih dipengaruhi terutama oleh bentuk pantun dan syair Melayu. Selanjutnya angkatan pertengahan corak (bentuk) dan tema karya sudah mulai kaya—tidak terpaku dalam bentuk syair dan pantun Melayu. Selain masih didomonasi tema-tema di atas, tema pada angkatan ini sudah diperkaya dengan tema-tema heroik kepahlawanan. Seiring perkembangan politik yang terjadi khususnya di Aceh maka karya sastra pun mengalami corak dan temanya sesuai dengan kondisi zaman tersebut. Tema-tema kepahlawanan pasca Pujangga Baru, menurut Kemalawati, bermula dari “pemberontakan” DI/TI dipimpin Daud Beureueh pada 1953. Kemudian dilanjutkan dengan “perlawanan” GAM sejak 1976 dipimpin Hasan Tiro. Sejak saat itu Aceh terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah, apa lagi setelah diterapkannya DOM (Daerah Operasi Militer) pada 1989 oleh pemerintah Orde Baru. Setelah kejatuhan Soeharto 1998 dilanjutkan dengan Darurat Militer, yang berakhir pascatsunami dengan perjanjian damai (MOU) antara RI dengan GAM. Kondisi ini telah memunculkan sastrawan (penyair) angkatan konflik. Tema-tema yang mendominasi angkatan ini adalah tentang perlawanan (mencari keadilan) dan tragedi kemanusiaan. Bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 membawa banyak perubahan dalam segala bidang kehidupan masyarakat Aceh. Bermunculanlah karya-karya sastra, baik yang ditulis oleh penyair-penyair yang sudah konsisten maupun muka-muka baru. Orang-orang “berlomba-lomba” menulis, menerbitkan, pelatihan-pelatihan serta menampilkan karya sastra menjadi seni pertunjukan. Dalam catatan Kemalawati, ada beberapa perkumpulan (swasta) yang eksis sampai sekarang terutama dalam hal pelatihan dan penerbitan karya sastra, di antaranya, Bangkit Aceh, Lapena, Aliansi Sastrawan Aceh (ASA), Do Karim, Tikar Pandan, AMuK Community, Aneuk Muling Publishing, Aceh Culture Institute dan lain-lain. Bagaimana dengan Bangka Belitung? Bangka Belitung merupakan provinsi baru. Kelahirannya tak berjauhan dengan kelahiran Provinsi Banten, Gorontalo dan Kepulauan Riau. Konstelasi sastra provinsi ini dikupas dalam esai Ira Esmiralda (hal. 262-265). Dari esai Ira ini, kita mengetahui peta perjalanan sastra di Bangka Belitung. Menurut Ira, kaum terpelajar menggeluti sastra lebih memilih keluar Bangka Belitung (Jawa) dan berkarya di sana. Pada tahun 1930-an muncul nama Fatimah Hasan Delais dengan karyanya Kehilangan Mustika. Setelah itu dunia sastra (tulis) di Bangka Belitung mengalami stagnasi panjang. Hingga tahun 1980-an, muncul nama Ian Sanchin (Belitung) dan Willi Siswanto (Bangka) yang memublikasikan Cerpen remajanya di beberapa majalah remaja dan keluarga. Drama sangat diminati oleh remaja atau pelajar Bangka. Pada masa ini, kelompok-kelompok teater remaja dan pelajar bermunculan dan pementasan teater cukup sering diadakan. Namun pada pertengahan 1990-an, seiring keluarnya remaja-remaja tersebut ke kota lain untuk melanjutkan studi, kehidupan teater di Bangka meredup lalu vakum. Pada 1990-an akhir, muncul koran daerah pertama di Bangka, Bangka Pos (group Kompas). Lembar budaya minggu pada koran tersebut telah meletakkan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra di Bangkabelitung. Willi Siswanto, Nurhayat Arif Permana sebagai redaktur budaya Bangka Pos mengajak penyumbang tulisan sastra di lembar budaya Bangka Pos untuk membentuk sebuah komunitas sastra. Hingga terbentuklah Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB) pada 2000. Ira juga menyebutkan, kantong-kantong sastra di Bangka Belitung terpusat di Pangkal Pinang (ibukota Bangka Belitung) dan Sungailiat (ibukota Kabupaten Bangka). Pegiat sastra di Pangkal Pinang terdiri dari latarbelakang profesi. Mulai pensiunan guru, pegawai KUA, sampai yang betul-betul hanya mengandalkan tulisannya sebagai jalan hidup. Di Sungailiat, para pegiat sastranya umumnya memiliki latarbelakang profesi yang lebih homogen. Semuanya rata-rata pegawai negeri sipil. Dari guru, pejabat Pemda, sampai reporter. Lampung menyumbang Isbedy Stiawan ZS. Di dalam esainya (hal. 266-272),, Isbedy gambling menyebut peta sastra Indonesia tidak lengkap tanpa Lampung. Itu, dimulai dari kiprah Assaroeddin Malik Zulqornain Ch alias Amzuch. Perkembangan berikut, “pulangnya” para perantau: Iwan Nurdaya-Djafar, Sugandhi Putra, Hendra Z., Djuhardi Basri, dan Naim Emel Prahana. Bersamaan itu, dinamika sastra di Lampung kian bergolak dengan munculnya Syaiful Irba Tanpaka, Achmad Rich, serta yang berkiprah kemudian yaitu Panji Utama, A.J. Erwin, Iswadi Pratama, Ivan Sumantri Bonang, D.Pramudia Muchtar, Eddy Samudra Kertagama dan lain-lain—untuk sekadar menyebut beberapa nama. Isbedy tidak menafikan peran kampus yang cukup besar. Sumbangsih terbesar adalah Universitas Lampung. Muncullah nama Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, Diah Indra Mertawirana (kini Diah Merta), Lupita Lukman dan Elya Harda. Jambi melalui esai Muhammad Husyairi (hal. 273-276) membuat peta sastrawan Jambi dalam tiga generasi. Sebagian besar dari tiga generasi tersebut didominasi oleh para penyair. Generasi pertama Ghazali Burhan Riodja (Alm) dan Yusuf Asni. Di lapis kedua ada Dimas Arika Mihardja, Acef Syahril (sekarang berdomisili di Indramayu), Iif Ranupane, Dimas Agus Pelaz, Iriani R. Tandi, Budi Veteranto, Ari Setya Ardhi, EM. Yogiswara, Nanang Sunarya, Suardiman Malay, Firdaus, Asro Al-Murthawy, Amri Suwarta dan Indriatno. Secara kekaryaan, generasi lapis kedua ini muncul pada paruh tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan. Sedangkan generasi ketiga yang muncul setelah tahun sembilan puluhan, sebut saja Muhammad Husyairi (Ary MHS Ce’gu), Yupnical Saketi, Ide Bagus Putra, Ramayani, Oton Marton, Alpakihi, Putra Edison, Emen Sling, Muhammad Muslih, Berry Hermawati, Yohana, Titas, Gita Romadhona, Chori Marbawy, Pendra Darmawan, Anshori Bharata, Monas Junior dan Fahrizal Eka. Begitulah. Konstelasi sastra pulau Sumatera tersingkap di dalam buku Medansastra. Kita berharap, buku tersebut menjadi sumbangan bagi sejarah sastra di Sumatera, kelak! Amiin.

[Tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Waspada (Medan) dan sastraminangkabau.blogspot.com]


Prospek Sarjana Sastra China

DR.Tengku Thyrhaya Zein Sinar,MA.

Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sumatera Utara mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing dalam era pasar bebas. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang yang harus diantisipasi secara cepat dan tepat. Selain pasar Indonesia terbuka untuk negara lain, kita juga mempunyai kesempatan untuk memasuki dunia kerja di pasar negara-negara tetangga ataupun yang lebih jauh, seperti Eropa dan Amerika Serikat.
Sumatera Utara merupakan salah satu pintu gerbang yang akan berhadapan langsung dengan era pasar bebas. Posisi strategis ini akan berimplikasi terhadap kecenderungan Sumatera Utara menjadi salah satu pusat pengembangan industri dan dunia usaha dan pada gilirannya akan mempengaruhi dan menarik minat para penanam modal tidak saja dari dalam negeri, tetapi juga mancanegara. Dalam konteks ini, hubungan komunikasi yang berjangkauan luas akan menjadi salah satu prasyarat untuk mendukung pemanfaatan kecenderungan tersebut.

University for Industry

Bahasa, dengan fungsi utamanya sebagai sarana komunikasi manusia, juga menjadi salah satu persyaratan yang harus dikuasai dengan baik untuk dapat berhasil memasuki dunia usaha dan bahkan menjadi persyaratan utama yang harus dipenuhi untuk dapat diterima di dunia usaha. Dengan kata lain, bahasa secara positif dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi dan sekaligus sebagai sarana negosiasi dalam konteks-konteks tertentu. Kemampuan bahasa merupakan salah satu persyaratan yang diperlukan untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia.

USU memposisikan sebagai universitas unggulan dapat berperan penting. USU yang memiliki visi menjadi University for Industry (UfI), memiliki pengalaman, sumber daya, sarana dan prasarana untuk mendidik, dan meningkatkan kemampuan penguasaan bahasa. Menyiapkan SDM yang unggul dan sesuai dengan tuntutan pasar merupakan kewajiban dan tanggung jawab USU. Kemampuan bahasa merupakan salah satu persyaratan yang diperlukan untuk mengembangkan potensi SDM, maka USU melalui Program Studi Sastra China dapat menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan penguasaan bahasa, dalam hal ini penguasaan bahasa China.

Pada tahun ajaran 2007/2008 USU membuka Program Sarjana (S-1) Sastra China di Fakultas Ilmu Budaya. Fakultas Sastra sejak tahun 2011 ganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Kecenderungan bahwa kemampuan berbahasa China akan menjadi salah satu faktor penentu bagi beberapa dunia usaha. Beberapa negara tetangga dan Republik Rakyat China (RRC) merupakan pasar. Negara mitra potensial di bidang ekonomi dan perdagangan, maka Universitas Sumatera Utara mempersiapkan diri dalam membekali mahasiswa Program Studi Sastra China dan para alumni yang lahir serta warga negara Indonesia lainnya untuk bersaing dalam memasuki pasar kerja dengan pembekalan ilmu dan ketrampilan dalam bidang Bahasa dan Sastra China.

Jinan University

USU patut berbangga hati karena Jinan University, mendukung pembukaan Program Sarjana (S-1) Sastra China melalui nota kesepakatan antara USU dan Jinan University di Guangzhou pada 27 September 2001. Hal-hal yang mendukung program pendidikan ini telah lama dilakukan, diantaranya kurikulum, sarana dan prasarana perkuliahan, sumber daya manusia.

Pelaksanaan pendidikan ini sepenuhnya dibantu tenaga dosen dari College of Chinese Language and Culture, Jinan University. Hingga tahun 2010/2011, delapan dosen dari Jinan University diperbantukan yaitu Kuang Xiaorong, M.A., Ph.D, Liao Jianqi, M.A., Ph.D, Chen Yihua, M.A., Ph.D, Zhu Xiaohong, M.A., Ph.D, Yang Runzheng, M.A, Shao Changchao, M.A, Yu Xin M.A, Wu Qiaoping M.A, dan Liu Jinfeng, M.A. Selain itu, staf pengajar FIB maupun dosen lokal, juga mengajar dalam program studi ini.

Tanggal 29 Juli 2011 Rektor USU didampingi Dekan FIB Dr.Syahron Lubis,MA mewisuda 26 lulusan Program Studi Sastra China. Lulusan perdana ini, adalah mahasiswa angkatan pertama (stambuk 2007) menyelesaikan studi rata-rata tiga tahun 9 bulan. Tiga diantaranya memperoleh IP 3,90. Yaitu Anita Hasjem, Veronika Anggeriani Br. Sembiring dan Juliani. Saat ini 60 persen lulusan itu telah bekerja dan umumnya berkecimpung di dunia pendidikan, bisnis dan pariwisata.

Tentang objek penelitian skripsi para lulusan sangat bervariasi. Selain mengkaji tentang bahasa, sastra, budaya Ciina, khususnya budaya China pada masyarakat Tionghoa di Medan.

Prospek

Program Studi ini akan menciptakan tenaga kerja yang handal. Bukan hanya memenuhi tuntutan dunia kerja, tetapi juga memiliki daya saing yang tinggi di pasar kerja dalam era persaingan ekonomi global. Dengan mengevaluasi tuntutan pasar dan adanya jalinan kerjasama dengan instansi pemerintah dan swasta, seperti perusahaan yang bertaraf nasional dan internasional, lulusan Sastra China diharapkan dapat bekerja sebagai penerjemah dalam perundingan politik, budaya dan ekonomi serta sebagai manager, tenaga pemasaran, staf administrasi, dan lain-lain.

Lulusan Sastra China yang memperoleh gelar Sarjana Sastra (SS) disiapkan untuk menjadi penerjemah, ilmuwan, wartawan, dan budayawan. Juga memiliki kompetensi untuk menjadi pendidik, sehingga mereka siap untuk menjadi guru atau dosen. Tentunya Program Studi Sastra China ini akan banyak diminati.

Dengan kehadiran Program Studi Sastra China, FIB USU yang merupakan institusi negeri di wilayah Sumatera saat ini, Sastra China memiliki peluang yang cukup besar ke depannya. Dilihat secara non-materi, Program Studi Sastra China sudah menjadi salah satu kolektivitas khasanah budaya Indonesia. Sedangkan dilihat dari situasi sekarang ini, dalam masalah perdagangan bebas dan global, bahasa China merupakan salah satu bahasa yang mendominasi. Sesuai dengan misi University for Industry tersebut, lulusan Sastra China akan dibutuhkan untuk stakeholders USU. Hal ini memang sudah menjadi tuntutan pasar.

* Penulis, Ketua Prodi Sastra China, FIB USU.


BIODATA SASTRAWAN INDONESIA

Sayyid Fahmi Alathas

AMIR HAMZAH. Dilahirkan di Tanjungpura, Langkat (Sumatera Utara), 28 Februari 1911. Meninggal dalam peristiwa revolusi sosial di Sumatera Utara pada 20 Maret 1946. Pendidikannya: tamat HIS, melanjutkan ke MULO di Medan, kemudian AMS-A Solo, dan Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta (hingga tingkat kandidat). Bersama Sutan Takdir Alisyahbana dan Armijn Pane, Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru pada tahun 1933. Kumpulan puisinya: Nyanyi Sunyi (1937), Buah Rindu (1941) dan Padamu Jua (2000).

CHAIRIL ANWAR. Dilahirkan di Medan pada 26 Juli 1922. Meninggal pada 28 April 1949 di Jakarta. Berpendidikan HIS dan MULO (tidak tamat). Bersama Asrul Sani, Rivai Apin dan lain-lain ikut mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946), kemudian ia menjadi redaktur “Gelanggang” (ruang budaya Siasat, 1948-1949) dan redaktur Gema Suasana (1949). Kumpulan puisinya: Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, 1950), Aku Ini Binatang Jalang (1986), dan Derai Derai Cemara.

SUBAGIO SASTROWARDOYO. Dilahirkan di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924, meninggal di Jakarta 18 Juli 1995. Berpendidikan HIS (di Bandung dan Jakarta), HBS, SMP dan SMA (di Yogyakarta), Fakultas Sastra UGM (tamat 1958) dan meraih M.A. dari Department of Comporative Literature, Universitas Yale, AS (1963). Kumpulan puisinya: Simphoni (1957), Daerah Perbatasan (1970), Keroncong Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Hari dan Hara (1982), dan Kematian Makin Akrab (1995).

RENDRA. Dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Mengikuti pendidikan di Jurusan Sastra Barat Fakultas Sastra UGM (tidak tamat), kemudian memperdalam pengetahuan mengenai drama dan teater di American Academy of Dramatical Arts, Amerika Serikat (1964-1967). Sepulang dari Amerika, ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta dan sekaligus menjadi pemimpinnya. Tahun 1971 dan 1979 ia membacakan sajak-sajaknya pada Festival Penyair International di Rotterdam, pada tahun 1985 ia mengikuti Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman. Kumpulan puisinya; Ballada Orang-orang Tercinta (1956), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues Untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1980), Disebabkan Oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Aminah (1997).

TAUFIQ ISMAIL. Dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1937. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan UI, Bogor (1966), kini menjadi redaktur majalah Horison. Kumpulan puisinya: Benteng (1966), Tirani (1966), Buku Tamu Musium Perjuangan (1969), Puisi Puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Sajak Ladang Jagung (1973), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998).

GOENAWAN MOHAMAD. Dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Mengikuti pendidikan di Fakultas Psikologi UI (1960-1964), kemudian memperdalam pengetahuan di College d’Europe, Brugge, Belgia (1965/1966), Universitas Oslo, Norwegia (1966), dan Universitas Harvard (1989-1990). Pernah menjadi wartawan Harian Kami (1966-1970), anggota Dewan Kesenian Jakarta (1968-1971), pemimpin redaksi majalah Express (1970-1971), Anggota Badan Sensor Film (1969-1970), redaktur Horison (1969-1972), Pemimpin redaksi majalah Tempo (1971-1994) dan pemimpin redaksi majalah Zaman (1979-1985). Kumpulan puisinya: Parikesit (1971), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998).

ABDUL HADI W.M. Dilahirkan di Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Pernah kuliah di Fakultas Sastra UGM, hingga sarjana muda (1965-1967), kemudian studi filsafat barat di Fakultas Sastra UGM hingga tingkat doktoral (1968-1971), studi antropologi di Fakultas Sastra Universitas Pajajaran (tidak tamat, 1971-1973), dan terakhir meraih Doktor dari Universitas Sains Malaysia (1996). Kumpulan puisinya: Meditasi (1976), Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Tergantung Pada Angin (1977) dan Anak Laut Anak Angin (1983).

SAPARDI DJOKO DAMONO. Dilahirkan di Solo, 20 Maret 1940. Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra UGM (1964), kemudian memperdalam pengetahuan di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat (1970-1971) dan meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia (1989). Sejak tahun 1975 mengajar di Fakultas Sastra UI. Kumpulan puisinya: DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau dan Akuarium (1974) , Sihir Hujan (1984), Perahu Kertas (1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1999), Ayat-ayat Api (2000).

SUTARDJI CALZOUM BACHRI. Dilahirkan di Rengat, Riau, 24 Juni 1941. Pendidikan terakhir: Jurusan Adminstrasi Negara Fakultas Sosial dan Politik Universitas Padjajaran (sampai tingkat doktoral). Pernah mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1974/1975) dan Festival Penyair International di Rotterdam, Belanda (1975), sejak 1979 menjadi redaktur Horison. Kumpulan puisinya: Amuk (1977), O (1973), Amuk (1979) dan O Amuk Kapak (1981).

AFRIZAL MALNA. Lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Pendidikan akhir Sekolah Tinggi Filsafat Dri-yarkara (tidak selesai). Buku yang pernah terbit: Abad Yang Berlari, 1984 (mendapat penghargaan Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta, 1984), Yang Berdiam Dalam Mikropon, 1990; Arsitektur Hujan, 1995 (mendapat penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebu-dayaan RI, 1996). Biography of Reading, 1995. Kalung dari Teman Karya yang terbit dalam antologi bersama: Perdebatan Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto, 1986); Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (Linus Suryadi, 1987); Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan, Kuala Lumpur, 1991); Dinamika Budaya dan Politik (Fauzie Ridjal, 1991); Traum der Freiheit Indonesien 50 jahre nach der Unabhangigkeit (Hendra Pasuhuk & Edith Koesoemawiria, Köln, 1995). Ketika Warna Ketika Kata (Taufiq Ismail, et.all, 1995); Pistol Perdamaian Cerpen Pilihan Kompas 1996; dalam Frontiers of World Literature (Iwanami Shoten, Publishers, Tokyo, 1997) dalam bahasa Jepang; jurnal Cornell University (Indonesia, Ithaca, Oktober, 1996); dan Anjing-anjing Memburu Kuburan, Cerpen Pilihan Kompas 1997. Penghargaan lain yang pernah diperoleh: Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Neder-land Wereldomroep, 1981. Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika harian Republika, 1994. Dan esei majalah Sastra Horison, 1997. Pengalaman : Sejak 1983 hingga 1993 banyak menulis teks pertunjukan Teater Sae. Tahun 1995 membuat pertunjukan seni instalasi (Hormat dan Sampah) bersama Beeri Berhard Batschelet dan Joseph Praba di Solo. Dan tahun 1996 kolaborasi pertunjukan seni instalasi Kesibukan Mengamati Batu-Batu, dengan berbagai seniman dari berbagai disiplin di TIM Jakarta; Ruwatan Bumi – Tolak Bala dalam jaringan seniman dan NGO “Aliansi Indonesia untuk Bumi dan Kehidupan Bersama”, 1997; dan Kolaborasi Kesaksian Rakyat “Kompor Mledug”, 1997 bersama UPC, NGO dan beberapa seniman Jakarta. Pernah mengunjungi beberapa kota di Swiss dan Hamburg, memberikan diskusi teater dan sastra di beberapa universitas dalam rangka pertunjukan Teater Sae (Mei-Juni 1993) yang mementaskan naskahnya. Baca dan workshop puisi di Den Haag, 1995, dalam forum penyair Indonesia-Belanda. Memberikan diskusi dan baca puisi di beberapa universitas di Köln, Bonn dan Hamburg, 1995. Mengikuti Poetry International Rotterdam, 1996. Mengikuti Persidangan Kesusasteraan Asia Pasifik, Kuala Lumpur, November 1997.

JOKO PINURBO. Dilahirkan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, pada 11 Mei 1962. Pendidikan terakhir di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma, Yogya (tamat 1987). Kumpulan puisinya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2000), Pacar Kecilku (2002).

NANANG SURYADI, lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973. Staff pengajar FE Unibraw yang menyukai seni budaya ini berinteraksi kreatif dengan rekan-rekan yang memiliki minat pada seni, antara lain dalam: Yayasan Multimedia Sastra (YMS) serta di Cybersastra.net (sebagai redaktur puisi), Teater Kunci SMA Negeri Cilegon (sebagai pendiri dan ketua 1989-1990), Teater Ego FE Unibraw (sebagai salah seorang pendiri dan ketua 1992-1994), Unit Aktivitas Teater Mahasiswa Unibraw (sebagai ketua 1993-1994), HP3N (Himpunan Pengarang, Penulis, Penyair Nusantara), Forum Pekerja Seni Malang, Komunitas Sastra Indonesia (KSI), LSMI (Lembaga Seni Mahasiswa Islam), Komunitas Belajar Sastra Malang (KBSM), Masyarakat Sastra Internet (MSI),. Puisi-puisinya dimuat berbagai media massa di dalam dan luar negeri, antara lain: Jurnal Puisi, Bahana (Brunei) dan Perisa (Malaysia), Horison, Suara Pembaruan, Kompas, Republika, Pikiran Rakyat, Korantempo, Lampung Post, Jawa Pos, Harian Banten, Sijori Mandiri (Batam), Mimbar Umum (Medan), Majalah Menjemaat (Medan), Majalah Media Pembinaan, Majalah Indikator (FE Unibraw), Tabloid Mimbar (Unibraw), Buletin Kreatif (HP3N Malang), Jurnal Revitalisasi Sastra Pedalaman, Mingguan Pelajar, Buletin Jendela Seni, Buletin Independent (HMI), serta disiarkan melalui Radio Jerman Deutsche Welle, situs cybersastra.net, bumimanusia.or.id dan detikplus.com. Buku-buku puisi yang menyimpan puisinya, antara lain: Sketsa (HP3N, 1993), Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendiri Membaca Diri (SIF, 1997), Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002) sebagai kumpulan puisi pribadi. Sedangkan antologi puisi bersama rekan-rekan penyair, antara lain: Cermin Retak (Ego, 1993), Tanda (Ego- Indikator, 1995), Kebangkitan Nusantara I (HP3N, 1994), Kebangkitan Nusantara II (HP3N, 1995), Bangkit (HP3N, 1996), Getar (HP3N, 1995 ), Batu Beramal II (HP3N, 1995), Sempalan (FPSM, 1994), Pelataran (FPSM, 1995), Interupsi (1994), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Graffiti Gratitude (Angkasa-YMS, 2001), Ini Sirkus Senyum (Komunitas Bumi Manusia, 2002), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002).. Email: nanangs@cybersastra.net Alamat: Jalan Raya Anyer No. 8, RT 01/I Kampung Gardu Iman Kelurahan : Warnasari – Cilegon 42443

HASAN ASPAHANI, Lahir di Sei Raden (Kaltim) 9 Maret 1971 pada sebuah keluarga sederhana petani kelapa. Tak ingin mengingat sejak kapan ia menyukai dan memulai menulis puisi. “Mestinya bacaan yang pertama kali diajarkan adalah puisi.” Ia pernah mengakrabi kota Balikpapan (waktu SMA), dan Bogor (saat diundang IPB). Dia bukan orang yang istimewa. Sekarang bekerja sebagai Redaktur Pelaksana di POSMETRO BATAM. Di kota ini menjalani hidup bersama Dhiana (yang disapanya Na’) dan Shiela (yang memanggilnya Abah) dan menunggu kelahiran anak yang kedua (kalau lelaki namanya Ieqra).

Panitia penyelenggara PPN V di Palembang, 16-19 Juli 2011 menargetkan 200 peserta yang diundang sebagai peserta PPN V, sbb :

INDONESIA (149):

1. AA. Ajang
2. Ganjar Sudibyo
3. A. Rahim Qahhar
4. Abdul Latif Apriaman
5. Abdul Salam. Hs
6. Abduhrrahman El Husaini
7. Abidah El Khaleqi
8. Acep Syahril
9. Acep Zamam Noor
10. Afrion
11. Agit Yogi Subandi
12. Ahmad Kekal Hamdani
13. Ahmmad Wayang
14. Ahmadun Yosi Herfanda
15. Akaha Taufan Aminuddin
16. Akidah Gauzillah
17. Alex R Nainggolan
18. Ali Syamsudin Arsi
19. Alizar Tanjung
20. Alya Salaisha Shinta
21. Amien Wangsatalaja
22. Anisa Afzal
23. Anjungbuana
24. Anwar Putra Bayu
25. Arafat Nur
26. Arie Mp Tamba
27. Arief Rahman Heriansyah
28. Arieyoko KSMB
29. Arsyad Indradi
30. Asrizal Nur
31. Azzura Dayana
32. Badrul Munir Chair
33. Bambang Widiatmoko
34. Benny Arnas
35. Bode Riswandi
36. Budhi Setyawan
37. Budi Saputra
38. Bustan Maras
39. C.H. Yurma
40. D. Kemalawati
41. Dad Murniah
42. Dg. Kumarsana
43. Dharmadi
44. Dheni Kurnia
45. Dhenok Kristianti
46. Diah Hadaning
47. Dian hartati
48. Dimas Arika Miharja
49. Dody Kristianto
50. Doel Cp Alisyah
51. Dony p. Herwanto
52. Dwi S Wibowo
53. Dyah Setyawati
54. Eddy Pranata Pnp
55. Efendi Danata
56. Eko Putra
57. Eko Triono
58. Endang Supriadi
59. Esha Tegar Putra
60. Evi Idawati
61. Eza Thabary Husano
62. Faisal Syahreza
63. Fakhrunas Ma Jabar
64. Fatin Hamama
65. Fikar. W. Eda
66. Firman Venayaksa
67. Fitri Yani
68. Frans Ekodhanto
69. Gampang Prawoto
70. Gunoto Saparie
71. Hafney Maulana
72. Hasan Al Bana
73. Hasan Bisri Bfc
74. Heri Maja
75. Heru Emka
76. Hudan Nur
77. Husen Arifin
78. Husnu Abadi
79. Husnul Khuluqi
80. Ian Sanchin
81. Idris Siregar
82. Inggit Putria Marga
83. Irvan Mulyadie
84. Irwan Sofwan
85. Isbedy Stiawan Zs
86. Iverdixon Tinungki
87. Jamal. T. Suryana
88. J.J. Polong
89. Jumardi Putra
90. Jumari. Hs
91. Kijoen
92. Kiki Sulistyo
93. Kurnia Effendi
94. Lanang Setiawan
95. L. K Ara
96. M. Enthieh Mudakir
97. M. Iqbal J. Permana
98. M. Raudah jambak
99. Mahmud Jauhari Ali
100. Maualana Satrya Sinaga
10 1. Muda Wijaya
102. Muhammad Ibrahim Ilyas
103. Mulyadi J. Malik
104. Nana Riskhi Susanti
105. Nanang Suryadi
106. Nandang Darana
107. Nugraha Umur Kayu
108. Nurochman Sudibyo. YS
109. Pringadi Abdi Surya
110. R. Griyadi
111. Rama Prabu
112. Ramayani Riance
113. Rara Gendis
114. Remy Novaris
115. Rifan Nazhip
116. Rini F Hauri
117. Rio Fitra. SY.
118. Rozi Kembara
119. Salman. S. Yoga
120. Sandi Firly
121. Satmoko Budi Santoso
122. Shohifur Ridho Ilahi
123. Sides Sudyarto. DS.
124. Sihar Ramses Simatupang
125. Shobir Peor
126. Sulaiman Tripa
127. Suyadi San
128. Syahdaka Musyfiq Abadaka
129. Syaifudin Gani
130. Syamsu Indra Usman
131. Syarif Hidayatullah
132. T. Wijaya
133. Tarmizi Rumahitam
134. Tjahjono Widarmanto
135. Tjahjono Widijanto
136. Toton Dai Permana
137. Viddy Ad Daeri
138. Wahyu Din Talo
139. Wayan Sunarta
140. Yopi Setia Umbara
141. Yoyon Amilin
142. Yusri Fajar
143. Zulhamdi. AS
144. Prof.Dr. Budi Darma
145. Dr. Taufik Ismail
146. Chapcay
147. Tarech Rasyid
148. Dr. Ganjar Hwia
149. Sutardji Calzoum Bachri

MALAYSIA (18)
1. Arisel Ba
2. Wan A. Rafar
3. Dato Kemala
4. SM. Zakir
5. Khalid Salleh
6. Shapiai Mohd Ramly
7. Shamsudin Othman
8. Rosmiaty Shaari
9. Nimois. T.Y
10. Naapie Mat1
11. N. Faisal Ghazali
12. Mohd. Amran daud
13. Prof. Irwan Abubakar
14. Prof. Muhammad Haji Salleh
15. Rahimidin Zahari
16. Tan Sri Dato’ Dr Ismail Hussein
17. Dr. Ibrahim Ghaffar
18. Mualim Ghazalie

SINGAPORE (8)
1. Ahmad Md Tahir
2. Sk. Cinta Zeni
3. Johar Buang
4. Rasiah Halil
5. Noor Hasnah Adam
6. Muhammad Jailani Bin Abu Talib
7. Herman Mutiara
8. Djamal Tukimin

BRUNEI DARUSSALAM (8)
1. Addy
2. Selmi Mesra
3. Rahimi A.B
4. Kamar D51
5. Zefri Ariff
6. Mohd. Khairol Nazwan
7. Mohd. Shahrin bin Haji Metussin (Adi Swara)
8. Suip bin Hj. Abd. Wahab (nurfik).

THAILAND (8)
1. Hamra Hasan (Dr. Nik Abdullah)
2. Phaosan Jehwae
3. Mr. Set Al-Jufri
4. Mr. Asmarn Tohmeena
5. Mrs. Che Faridah Tohmeena
6. Ustaz Ridwan Hassan
7. Mr. Sawawee Pakda Amin
8. Miss Charidja NikWan

Link : http://pertemuanpenyairnusantara.blogspot.com


124 SASTRAWAN PESERTA TSI 4 – TERNATE [MALUT]
Ditulis pada September 21, 2011


INILAH 124 Sastrawan Indonesia yangi dipilih/diseleksi oleh Dewan Kurator
untuk mengikutI Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 4 di Ternate, 25-29 Oktober 2011
====================================================

I. 32 SASTRAWAN YANG DIUNDANG
PILIHAN TSI-4 SESUAI HASIL SIDANG KEDUA
DEWAN KURATORTSI-4
TANGGAL 10-11 SEPT 2011 DI JAKARTA

1. Arafat Nur — Aceh (Cerpen)
2. Raisya Kamila — Aceh (Puisi)
3. Hasan Al Banna — Sumatera Utara (Cerpen)
4. Heru Joni Putra — Sumatera Barat (Puisi)
5. Jumardi Putra — Jambi (Puisi)
6. Sulaiman Djaya — Banten (Puisi)
7. Anis Sayidah — Jawa Barat (Puisi)
8. Nana Riskhi Susanti — Jawa Tengah (Puisi)
9. Mahwi Air Tawar — DI Yogyakarta (Cerpen)
10. A. Muttaqin — Jawa Timur (Puisi)
11. M. Faizi — Jawa Timur (Puisi)
12. Ni Made Purnamasari — Bali (Puisi)
13. Morika Tetelepta — Maluku (Puisi)
14. M. Irfan Ramly — Maluku (Puisi)
15. Nersalya Renata — Jakarta (Puisi)
16. Irianto Ibrahim — Sulawesi Tenggara (Puisi)
17. Benny Arnas — Sumatera Selatan (Cerpen)
18. Bernard Batubara — Kalimantan Barat (Cerpen)
19. Pringadi Abdi Surya — Nusa Ternggara Barat (Cerpen)
20. Fitri Yani — Lampung (Puisi)
21. Agit Yogi Subandi — Lampung (Puisi)
22. Sunlie Thomas Alexander — Bangka Belitung (Cerpen)
23. Arman AZ — Lampung (Cerpen)
24. Eko Putra — Sumatera Selatan (Puisi)
25. Ahmad Faisal Imron — Jawa Barat (Puisi)
26. Dhenny Jatmiko — Jawa Timur (Puisi)
27. Fina Sato — Jawa Barat (Puisi)
28. Husnul Khuluqi — Banten (Puisi)
29. Pranita Dewi — Bali (Puisi)
30. Sofyan Daud — Maluku Utara (Puisi)
31. Indrian Koto — D I Yogyakarta (Puisi)
32. Gunawan Triatmojo — Jawa Tengah (Cerpen)

II. Cerpenis:

1. Eko Triono/ Penggiring Tikus / DI. Yogyakarta
2. Bamby Cahyadi/ Malaikat yang Mencintai Senja/ DKI Jakarta
3. Ria Ristiana Dewi/ Borugo/ Sumatera Utara
4. Tjak S. Parlan/ Rumah Ayah dan Kisah Lainnya/ NTB
5. Miftah Fadhli/ Tertawa, Meja Kesayangan/ Depok
6. Andika Sahara/ Bukit Patah Sembilan/ Sumatera Barat
7. Neneng Nurjanah/ Warung Kupat Tahu/ Jawa Barat
8. Muhammad Nasir Age/ Si Budog Anjing Nek Akob/ Aceh
9. Syarif Hidayatullah/ Orang Gila Dari Gang Delima/ DKI Jakarta
10. Rahmat Heldy HS/ Jebah/ Banten
11. Norman Erikson/ Kondektur/ Bekasi

II. Penyair:

1. Abdul Salam HS — Banten
2. Achmad Faqih Mahfudz — Yogyakarta
3. Adin — Jawa Tengah
4. Adri Sandra — Sumatera Barat
5. AF Kurniawan — Jawa Tengah
6. A. Faruqi Munif Jawa Timur
7. Ahmad David Kholilurrahman — Jambi
8. Ahmad Syahid — Jawa Barat
9. Alek Subairi — Jawa Timur
10. Alex R Nainggolan — Jakarta
11. Alizal Tanjung — Sumatera Barat
12. Alya Salaisha-Sinta — Bekasi
13. Amin Basiri — Jawa Timur
14. Arther Panther Olii — Sulawesi Utara
15. Bambang Widiatmoko — Jakarta
16. Boedi Ismanto SA — Yogyakarya
17. Damiri Mahmud — Sumatera Utara
18. Dedi Supendra — Sumatera Barat
19. Dedi Triadi — Malang
20. Dian Hartati — Jawa Barat
21. Dino Umahuk — Ternate
22. Doddy Kristianto — Jawa Timur
23. Doel CP Allisah — Aceh
24. Dwi Setyo Wibowo — Jawa Tengah
25. Edi Firmansyah — Jawa Timur
26. Effendi Danata — NTB
27. Esha Tegar Putra — Sumatera Barat
28. Fajar Martha — Riau
29. Fatkurrahman Karim — Jawa Barat
30. Fatih Kudus Jaelani — NTB
31. Febrie Hastiyanto — Jawa Tengah
32. Frans Ekodhanto — Jakarta
33. Galah Denawa Jawa Barat
34. Hanna Fransisca — Jakarta
35. Herdoni Syafriansyah — Sumatera Selatan
36. Herman RN — Aceh
37. Herton Maridi — Jawa Barat
38. Husen Arifin — Jawa Timur
39. Husnu Abadi — Riau
40. Idrus F Shahab — Jakarta
41. Idris Siregar — Sumatera Utara
42. I Putu Gede Pradipta — Bali
43. Ishack Sonlay — NTT
44. Jun Nizami — Jawa Barat
45. Kiki Sulistyo — NTB
46. Lailatul Kiptiyah — Jakarta
47. Lina Kelana — Jawa Timur
48. Mahmud Jauhari Ali — Kalimantan Selatan
49. Mahendra — Jawa Timur
50. Maulana Satrya Sinaga — Sumatera Utara
51. Muhammad Ibrahim Ilyas — Sumatera Barat
52. Muhammad Ridwan — Jawa Timur
53. Mario F Lawi — NTT
54. Matdon — Jawa Barat
55. Nanang Suryadi — Jawa Timur
56. Nurhayat Arief Permana — Sumatera Selatan
57. Pungkit Wijaya — Jawa Barat
58. Qizink La Aziva — Banten
59. Restu A Putra — Jawa Barat
60. Rozi Kembara — Jakarta
61. Rudi Ramdani — Jawa Barat
62. Salman Yoga S — Aceh
63. Shohifur Ridho Ilahi — Yogyakarya
64. Sindu Putra — NTB
65. Sulaiman Juned — Sumatera Barat
66. Sulaiman Tripa — Aceh
67. Sutan Iwan Soekri Munaf — Bekasi
68. Setiyo Bardono — Depok
69. Syaifuddin Gani — Sulawesi Tenggara
70. Syaiful Rahman — Jawa Timur
71. Sekar Arum –
72. Teja Purnama — Sumatera Utara
73. Tulus Wijanarko — Jakarta
74. Tina Aprida Marpaung — Sumatera Utara
75. Toni Lesmana — Jawa Barat
76. Tjahjono Widijanto — Jawa Timur
77. Umar Fauzi Ballah — Jawa Timur
78. Wachyu Prastianto — Jakarta
79. Vidy AD Daery — Jawa Timur
80. Yan Zavin Auddjand –
81. Yori Kayama — Sumatera Barat

KOMUNITAS, PUISI, DAN PUBLIKASI: MENIMBANG ANTOLOGI PUISI EMPAT AMANAT HUJAN

Jamal D. Rahman

Pertumbuhan sastra Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peran penting yang dimainkan oleh komunitas, baik dalam pengertian formal maupun informal. Barangkali tak ada seorang sastrawan pun yang tumbuh tanpa pernah mendapat keuntungan dari kegiatan suatu komunitas. Karena sifat komunitas biasanya longgar dan terbuka, seorang sastrawan bahkan bisa memetik keuntungan dari kegiatan beberapa komunitas sekaligus. Demikianlah seorang sastrawan lahir dan tumbuh, untuk sebagiannya, bahkan mungkin sebagian besarnya, atas sokongan beberapa komunitas tempat sang sastrawan mula-mula bersosialisasi dan menempa diri. Seorang sastrawan bergiat di suatu komunitas, bergiat pula di komunitas-komunitas lain guna bersosialisasi dan menempa diri secara lebih intensif. Persinggungan antarkomunitas secara positif dan konstruktif tentulah memainkan peran lebih penting lagi bagi kehidupan sastra.

Bagi para sastrawan atau calon sastrawan, kebutuhan akan komunitas barangkali sama besarnya dengan kebutuhan akan berekspresi. Sastrawan tidak cukup membaca buku, menggeluti hidup, dan bergulat dengan bahasa sebagai aktivitas pribadi di ruang-ruang batinnya yang sunyi. Mereka juga membutuhkan wahana tempat menemukan lawan-tanding, berbagi pengalaman dan pemikiran, berdiskusi, mengasah karya, dan memompa semangat untuk melahirkan karya-karya yang bermutu. Sampai batas tertentu hal itu merupakan konsekuensi dari kuatnya watak komunal dalam masyarakat Indonesia, sekaligus merupakan konsekuensi dari kuatnya tradisi lisan dalam masyarakat Indonesia itu sendiri. Sebagaimana seseorang akan relatif mudah mencapai “sukses” berkat kebersamaan dan dukungan masyarakat komunalnya, demikianlah seorang sastrawan akan relatif mudah berhasil berkat sokongan komunitasnya. Dalam konteks itulah, komunitas mengiur sumbangan penting pada perkembangan sastra Indonesia.

Komunitas sastra merupakan fenomena yang cukup tua dalam sejarah sastra Melayu-Indonesia, bahkan dalam bentuknya yang formal. Dalam penelusuran saya, komunitas sastra formal pertama dalam sejarah sastra Melayu-Indonesia adalah Rusydiyah Kelab. Berdiri di Pulau Penyengat pada tahun 1885, komunitas itu merupakan perkumpulan para intelektual dan pujangga Kerajaan Liau-Lingga, Kepulauan Riau sekarang. Inilah tempat para intelektual, yang hampir semuanya menulis syair, mendiskusikan topik-topik penting tentang sejarah, agama, politik, ekonomi, dan lain-lain. Tentu juga tentang sastra. Dari komunitas inilah lahir syair-syair yang menyebar luas di kalangan pembaca Nusantara, khususnya di kawasan Melayu. Para pujangganya yang terkenal antara lain Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Sayid Syekh Al-Hadi. Mereka adalah pengarang-pengarang penerus Raja Ali Haji, pujangga yang lahir lebih awal di Penyengat, yang terkenal dengan gurindam dan ikat-ikatannya itu.

Di samping mengadakan diskusi dan kajian, Rusydiyah Kelab juga menangani penerbitan sebagai media publikasi. Di samping menerbitkan karya para penggiatnya, mereka juga menerbitkan sebuah majalah, Al Imam, tempat mereka menulis isu-isu penting dan aktual. Hal itu disokong pula oleh adanya 3 percetakan (penerbit), yaitu Rumah Cap Kerajaan di Lingga, Mathba’at Al Riauwiyah di Penyengat, dan Al-Ahmadiyah Press di Singapura. Melalui tiga penerbit inilah, karya-karya para pujangga Kerajaan Liau-Lingga di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 tersebar luas ke seluruh Nusantara. Dengan adanya penerbitan itulah kehidupan sastra di Riau-Lingga jadi semarak, yang memantapkan kedudukan para pujangga gelombang pertama kerajaan yang nanti dibekukan oleh kolonial Belanda itu. Yaitu para pujaggga dari Raja Ahmad bin Raja Haji Fi Sabilillah di awal abad ke-19 hingga pujangga Aisyah binti Sulaiman di awal abad ke-20.

Pengalaman Rusydiyah Kelab menunjukkan dengan jelas, bahwa kehidupan sastra disokong dengan baik oleh segitiga kekuatan yang saling menunjang. Yaitu para pujangga (sastrawan), komunitas, dan media publikasi. Patut dicatat pula peran komunitas informal, yang sayangnya tidak banyak dicatat. Raja Ali Haji, misalnya, pujangga yang hidup sebelum lahirnya Rusydiyah Kelab, adalah seorang pujangga yang banyak melakukann diskusi dengan Herman von de Wall, asisten residen Belanda di Tanjungpinang, terutama dalam menyusun Kitab Pengetahuan Bahasa, kamus pertama ekabahasa Melayu. Bisa diduga bahwa dalam menyiapkan karya-karyanya, Raja Ali Haji melakukan diskusi-diskusi informal dengan sesama intelektual dan pujangga seangkatannya, yang secara longgar menjadi komunitas intelektual sang pujangga. Dengan demikian, bersama media publikasi dan para pujangga sendiri, keberadaan komunitas telah memainkan peran penting dalam proses kreatif para pujangga (sastrawan) dan kehidupan sastra secara umum.

Pada dasawarsa-dasawarsa selanjutnya, perkembangan sastra Indonesia modern, paling tidak untuksebagiannya, dibentuk dan ditentukan oleh segitiga kekuatan yang saling menunjang itu: pengarang, komunitas, dan publikasi. Hanya saja, karena perhatian lebih banyak diarahkan pada pengarang dan media publikasi, maka banyak pengarang lebih dinisbahkan pada penerbit atau media tempat para pengarang itu mengumumkan karya mereka. Demikianlah misalnya kita mengenal Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Generasi Kisah, Generasi Horison, dll. Sedikit sekali para sastrawan dinisbahkan pada komunitasnya, seperti misalnya Generasi Gelanggang. Namun demikian, fakta tersebut barangkali juga menunjukkan bahwa, paling tidak sampai batas tertentu, penerbit dan media publikasi pada awal hingga pertengahan abad ke-20 berfungsi juga sebagai pembentuk komunitas. Hal tersebut demikian, karena dunia penerbitan dan para sastrawan pada saat itu relatif homogen dan komunal. Kantor majalah Kisahdan Sastra, misalnya, adalah juga tempat para sastrawan nongkrong, bertegur sapa sesama sastrawan, dan berdiskusi —sebentuk kegiatan komunitas informal.

Namun demikian, kemungkinan tersebut bagaimanapun menafikan keberadaan komunitas di luar komunitas penerbitan. Pada awal abad ke-20, komunitas sastra di luar komunitas penerbitan tentu sudah muncul, dan pada tingkatnya masing-masing turut mengiur perananterhadap perkembangan sastra Melayu-Indonesia modern. Jong Sumatranen Bond, misalnya, pastilah merupakan komunitas tempat Muhammad Yahim melakukan kegiatan sastra, di samping kegiatan politik. Semasa bergiat di perserikatan pemuda inilah dia menulis puisinya yang terkenal, Indonesia Tumpah Darahku (1908). Tapi bagaimanapun, hingga tahun-tahun sesudahnya komunitas sastra dianggap non-faktor dalam sastra Indonesia. Komunitas bahkan tetap dianggap non-faktor ketika dalam perkembangannya kemudian melahirkan sastrawan-sastrawan penting. Demikianlah, misalnya, meskipun komunitas Seniman Senendi Jakarta telah melahirkan Chairil Anwar —untuk sekadar menyebut contoh— dan Persada Studi Klub di Yogyakarta telah melahirkan Emha Ainun Nadjib —sekali lagi, untuk sekadar menyebut contoh— dua komunitas itu tidak mendapat perhatian sewajarnya sebagai salah satu faktor dalam sastra Indonesia. Dirumuskan dengan cara lain, meskipun beberapa komunitas telah melahirkan sastrawan-sastrawanpenting, hingga paro kedua abad ke-20 kedudukan komunitas tetap dianggap kurang penting dalam sastra Indonesia modern.

Akhir abad ke-20 memperlihatkan fenomena menarik pertumbuhan komunitas sastra di Indonesia. Komunitas-komunitas sastra tumbuh di berbagai daerah, termasuk di daerah-daerah yang sebelumnya tak terdengar ramai dengan kegiatan sastra, dari beberapa ibukota provinsi hingga banyak ibukota kabupaten di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan lain-lain. Kebanyakan komunitas itu lahir atas inisiatif beberapa orang secara mandiri, yang kemudian menggerakkan dan menggalakkan kegiatan-kegiatan sastra di daerah masing-masing. Di samping itu, mereka mengusahakan penerbitan-penerbitan terbatas, sebagian besar atas biaya sendiri. Begitulah maka kegiatan-kegiatan sastra tidak hanya marak di Jakarta dan beberapa ibukota provinsi seperti Bandung dan Yogyakarta; buku dan buletin sastra tidak hanya diterbitkan oleh penerbit-penerbit profesional. Kegiatan sastra marak hingga daerah-daerah ibukota kabupaten; buku dan buletin sastra diterbitkan pula oleh penerbit-penerbit amatir namun dengan semangat atau bahkan “militansi” yang tak bisa dianggap enteng.

Seiring dengan itu, menggelinding pula isu “politik sastra”yang menyuarakan perlunya budaya tanding atas pusat-pusat legitimasi sastra —baik penerbitan maupun pusat kesenian— terutama di Jakarta. Isu tersebut mendapat sambutan dari banyak sastrawan muda, yang menyadari tidak sehatnya monopoli legitimasi sastra di tangan segelintir lembaga sastra dan tidak memadainya ruang-ruang kreativiatas dan media publikasi sastra yang ada, yang sendirinya dipandang memonopoli nilai dan selera sastra. Dalam situasi itu semua, maraknya komunitas baik di Jakarta dan sekitarnya maupun di daerah-daerah lain mendapatkan momentum historisnya. Sumber daya mereka sesungguhnya relatif terbatas, namun gerakan mereka disokong oleh semangat “politik” dan intelektual yang “militan”. Sebagian komunitas itu sesungguhnya tidak berusia lama, termasuk publikasi yang mereka usahakan. Namun semangat “politik” mereka terus hidup dan menjalar ke mana-mana, yang langsung atau tidak mengilhami lahirnya komunitas-komunitas baru —dengan semangat “politik” yang lebih lunak, atau barangkali tanpa semangat “politik” sama sekali.

Gerakan “politik” komunitas ini rupanya membuahkan hasil. Sejak akhir abad ke-20, keberadaan komunitas sastra mulai menarik perhatian para peminat dan pengamat sastra. Meskipun secara diam-diam mereka tetap menjadikan pusat-pusat lama legitimasi sastra sebagai orientasi aktivitas mereka, komunitas-komunitas sastra bagaimanapun telah menunjukkan kehadiran mereka sebagai elemen penting kehidupansastra. Berbagai kegiatan sastra, buletin, jurnal, buku, antologi, jaringan antarkomunitas, dan lain-lain yang mereka usahakan selama ini, seakan membangun sebuah kekuatan baru dalam bazar persaingan antarkekuatandi tubuh sastra Indonesia. Dengan seluruh kegiatan, penerbitan, dan nama-nama yang mulai diakui kedudukannya sebagai sastrawan, kehadiran komunitas kini tak bisa diabaikan lagi. Mereka telah menegaskan keberadaan mereka sendiri. Sebagaimana pengalaman Rusydiyah Kelab di abad ke-19, komunitas sastra di akhir abad ke-20 menunjukkan, bahwa kehidupan sastra Indonesia kini telah disokong juga oleh segitiga kekuatan yang saling menunjang. Yaitu para sastrawan(-aktivis komunitas), komunitas, dan publikasi yang mereka terbitkan, baik berupa buletin maupun buku. Dengan itu semua mereka telah melunakkan dan menjinakkan —jika bukan menundukkan— otoritas pusat-pusat lama legitimasi sastra.

Sejak itu muncul kesadaranbaru bahwa komunitas sastra merupakan salah satu faktor penting kehidupan sastra, bahkan merupakan pembentuk dan produsen sastra(wan) Indonesia.Dengan segala aktivitas, isu, perdebatan, publikasi, dan karya sastra berikut tokoh-tokohnya,komunitas adalah satu faktor yang turut menentukan dan mewarnai perkembangan sastra Indonesia. Maka itu, terutama dalam konteks bazar sastra-budaya, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas dipandang sama pentingnya dengan kegiatanyang dielenggarakan oleh pusat-pusat lama legitimasi sastra. Publikasi yang diterbitkan oleh komunitas —yang umumnya sangat sederhana dan relatif terbatas— bagi mereka sama pentingnya dengan buku atau majalah sastra yang diterbitkan oleh penerbit profesional.

Perkembangan ini mulai menarik perhatian pengamat dan peneliti sastra, seperti Melani Budianta dan Daniel Dhakidae. Pada tahun 1998, bersama Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Daniel Dhakidae dari Litbang Kompas memprakarsai pemetaan komunitas sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek), dengan Melani Budianta sebagai “konsultan”. Hasil pemetaan itu menunjukkan, dengan sekitar 50 komunitas sastra di Jabotabek, kehidupan komunitas sastra pada tahun 1990-an demikian maraknya, meliputi kegiatan-kegiatan sastra seperti diskusi, baca puisi, dan musikalisasi puisi, serta penerbitan. Komunitas-komunitas sastra yang tumbuh menjamursejak tahun 1990 merupakan respon para penggiatnya terhadap situasi dan perkembangan “budaya politik” sastra yang tidak menguntungkan guna menciptakan kantong-kantong baru kebudayaan. Meskipun kelangsungan komunitas-komunitas itu tidak pasti [dan sekarang sebagiannya sudah tidak aktif lagi], hingga tingkat tertentu keberadaan dan peranan komunitas tersebut bagi sastra Indonesia jelas tak bisa dianggap kecil.

Memang, beberapa komunitas yang dulu giat mengadakan kegiatan sastra sekarang tidak aktif lagi, atau bahkan mati sama sekali. Namun komunitas-komunitas baru terus bermunculan, tidak hanya di Jabotabek, melainkan juga di daerah-daerah lain. Tidak hanya di dunia nyata, melainkan juga di dunia maya. Tentu saja fenomena tersebut meneguhkan kesadaran baru tentang kedudukan dan peran komunitas dalam kehidupan sastra Indonesia.

Dalam arti tertentu, kesadaran baru itu mengoreksi pandangan lama, yaitu pandangan yang cenderung mengabaikan peranan komunitas, pandangan yang menganggap enteng sumbangan komunitas bagi sastra Indonesia modern atau bahkan meniadakannya sama sekali.Ia meluruskan pandangan lama bahwa sastra Indonesia ditentukan oleh sastrawan dan penerbitnya sebagaimana terlihat pada Angkatan Balai Pustaka dan Angkatan Pujangga Baru, atau oleh sastrawan dan (relevansi karyanya dengan) peristiwa sosial-politik seperti terlihat pada Angkatan ’45 dan Angkatan ‘66. Kesadaran baru itu mengingatkan kita tentang pentingnya menimbang kembali kedudukan komunitas-komunitas sastra, baik formal maupun informal, yang sudah muncul sejak abad ke-19 dalam sejarah sastra Melayu-Indonesia.

Dengan kesadaran baru itu, muncul pula pandangan bahwa sastra Indonesia tidak lagi terkonsentrasi pada pusat-pusat otoritas sastra sebagaimana diasumsikan sebelumnya. Karya sastra telah menyebar di dan ke berbagai penjuru, mulai buku-buku yang diterbitkan secara profesional sampai buku-buku yang diterbitkan secara “amatiran”; mulai majalah sastra yang terbit secara teratur dengan tiras cukup tinggi hingga buletin yang terbit sekala-sekali dalam tiras terbatas; mulai lembaran sastra di koran-koran Minggu hingga selebaran yang didistribusikan secara cuma-cuma.Sastra Indonesia kini adalah sesuatu yang “retak”, sulit dilihat dan diikuti dalam kebulatannya yang utuh. Keberadaan komunitas telah memecahkan asumsi tentang kebulatan dan keutuhan sastra Indonesia. Meskipun diam-diam mereka tetap mengakui sumber-sumber lama otoritas, bagaimanapun mereka telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru bagi sastra Indonesia.

Kalau komunitas sastra telah berhasil meneguhkan keberadaannya, bahkan berhasil membangun kesadaran baru tentang peran dan kedudukannya, apa yang telah dihasilkan komunitas itu sendiri? Apakah ia telah melahirkan suatu kecenderungan sebagai corak khas sastra yang dilahirkan suatu komunitas, yang dapat dipandang sebagai sastra komunitas? Inilah titik penting yang perlu direnungkan oleh komunitas-komunitas sastra dewasa ini. Pada hemat saya, sudah waktunya komunitas sastra tidak hanya berkutat dengan eksistensi dirinya, betapapun hal itu saja tidak mudah di tengah sumberdaya yang serba terbatas. Sudah saatnya komunitas sastra menimbang-nimbang peran-lanjutan yang bisa dan mungkin dimainkan, yaitu memberikan corak baru dan khas komunitas. Inilah yang, pada hemat saya, masih absen dalam gerakan komunitas yang telah mencapai keberhasilan sebagaimana dijelaskan di atas. Sejauh amatan saya, jika ada sastra komunitas, dengan corak dan kecenderungan yang dapat menandai warna khas karya komunitas itu sendiri, tak lain tak bukan adalah sastra komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) —lepas dari kita setuju atau tidak, suka atau tidak, dengan corak karya sastra mereka, yang kebanyakan berupa prosa-fiksi; lepas juga dari mutu karya mereka yang relatif sifatnya.

Dengan seluruh perkembangan itu, jika kepada saya disodorkan antologi puisi Empat Amanat Hujan (Jakarta: KPG dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010) yang menghimpun karya 62 penyair dari berbagai komunitas, apa yang dapat saya katakan? Dengan memberikan apresiasi kepada seluruh penyair dalam antologi ini, pertama-tama ingin saya katakan: sebagaimana saya duga, komunitas mungkin berhasil mendorong mereka bersosialisasi dan menulis puisi, namun dari karya mereka tampak bahwa komunitas tidak memberikan orientasi yang dapat menandai komunitas tempat mereka menempa diri. Hal itu demikian, setidaknya karena dua kemungkinan. Pertama, komunitas memang tidak digerakkan oleh suatu ide atau semacam obsesi intelektual yang ingin dicapai bersama sesama anggota komunitas lewat karya sastra mereka. Yakni obsesi untuk memberikan corak dan ciri sastra komunitas dalam sastra Indonesia. Kedua, komunitas memang menjaga individualitas anggotanya dalam hal capaian estetik dan obsesi intelektual. Dalam arti itu, komunitas lebih merupakan kendaraan bagi anggota-anggotanya untuk mencapai individualitasnya masing-masing di dunia sastra.

Dengan dua kemungkinan itu, maka perbedaan corak, gaya, dan tema —betapapun tipisnya— antara satu penyair dan penyair lain merupakan usaha individual masing-masing penyair. Demikianlah perbedaan gaya, corak, dan tema misalnya antara puisi Sihar Ramses Simatupang dan Syarif Hidayatullah, atau antara Husnul Khuluqi dan Nugraha Umur Kayu, misalnya lagi antara Rukmi Wisnu Wardani dan Sofyan R.H. Zaid, atau antara Ardy Kresna dan Setiyo Bardono, bukanlah ciri yang digerakkan oleh keinginan untuk memenuhi warna sastra suatu komunitas. Ia merupakan usaha penyair untuk menemukan dirinya sendiri, individualitasnya sendiri, capaian estetiknya sendiri. Dengan demikian, di sini komunitas menjalankan fungsinya sebatas sebagai pendorong, penggairah, dan perangsang kreativitas anggota-anggotanya.

Lalu, apa arti komunitas bagi anggotanya? Atau lebih tepat, bagaimana sebaiknya kita melihat hubungan komunitas dan anggotanya? Atau secara lebih tajam, bagaimana sebaiknya anggota komunitas menyikapi komunitasnya, dan sebaliknya? Di sini saya akan menggunakan metafor yang digunakan penyair Agus R. Sarjono tentang sastrawan sebagai perenang dan pelaut. Komunitas adalah kolam renang tempat seseorang menempa diri dalam berenang. Di sini seorang (calon) perenang belajar segala jenis dan gaya berenang, melompat, menyelam, melenturkan tubuh, menjaga stamina, dan lain sebagainya, hingga dia mahir sebagai perenang. Atau bahkan jadi perenang profesional, dengan gerakan yang cepat, lincah, dan indah.

Tapi sastrawan lebih dari sekadar perenang, bahkan lebih dari perenang profesional sekalipun. Sastrawan adalah pelaut sejati: ia tidak hanya berenang di kolam renang yang bersih,dengan kedalaman hanya sekitar 10 meter, tanpa ombak dan batu karang pula. Pelaut sejati berenang di kedalaman laut hingga dasarnya yang paling keruh, mereguk asin airnya, menghadapi hempasan angin dan gelombang, mengatasi bahaya batu karang di dasar laut, melawan terik matahari dan hujan deras di tengah lautan, bahkan badai. Dan, dengan kulitnya yang kokoh legam, pelaut sejati akan kembali ke darat membawa seluruh aroma dan guncangan laut yang telah dia hadapidengan jiwanya yang matang.

Dalam komunitas sastra, seorang penyair mungkin berhasil jadi perenang. Tapi bagaimanapun dia seharusnya melangkah lebih jauh untuk menjadi pelaut sejati. Salam.

Pondok Cabe, 14 Desember 2010

Tulisan ini pernah disampaikan pada Panggung Sastra Komunitas yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 15 Desember 2010, lalu dipublikasikan di jamaldrahman.wordpress.com, 14 Februari 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar