SENI, SASTRA DAN BUDAYA

Loading...

Sabtu, 09 Oktober 2010

Saiful Hidayat

Saiful Hidayat lahir di Aeknabara, Kabupaten Labuhanbatu, 22 Februari 1965. Di lingkungan Gerakan Pramuka dan Media Massa, dia memakai nama Syaiful Hidayat dan RS Martodimedjo. Akan tetapi, diploma pendidikan formalnya hanya mengunakan nama Saiful. Dia menyelesaikan pendidikan di SD Negeri N6 PNP III Aeknabara (1977), SMP Swasta Nusantara Aeknabara (1981), dan SMA Negeri 1 Rantauprapat (1984). Tahun 1993 menamatkan kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara (FS USU) Medan.

Putra pertama Mohamad Yasin dan Sarimpi ini merupakan generasi Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma) yang beragama Islam. Pada tanggal 6 September 1997, dia menikah dengan Rosliani yang lahir 6 Desember 1972 di Doloksinumbah, Kabupaten Simalungun. Mereka dikaruniai dua orang anak, yakni Farah Oktavia Hidayat yang lahir 29 Oktober 2000 dan Muhammad Farhan Hidayat yang lahir 7 Oktober 2004.

Syaiful Hidayat mulai menulis puisi dan prosa sejak SMP. Ketika duduk di bangku SMA, puisinya yang berjudul “Menuju ke Pelabuhan” terbit di Angkatan Bersenjata Medan (1984). Puisi-puisinya yang lain dibacakan dalam siaran puisi di RRI Medan dan RRI Stasiun Sibolga, sedangkan cerpen dan novelnya tidak pernah disiarkan hingga hilang dalam proses perpindahan tempat tinggal selama masa perkuliahan di Kampus Padang Bulan Medan.

Selain menulis, dia aktif dalam kegiatan pramuka. Sejak SMP, dia menjadi anggota pramuka Gudep 155-156 PTP 3 Aeknabara. Tahun 1980, dia mengukti Jambore Daerah di Sibolangit (Sumatera Utara). Tahun 1981, dia menjadi Wakil Pimpinan Pasukan Penggalang Labuhan Batu pada Jambore Nasional III dan Jambore Asia Pasifik VI di Cibubur (Jakarta) dan Cibodas (Jawa Barat). Di perkemahan pramuka, dia selalu membacakan puisi, baik karya sendiri maupun karya penyair-penyair Indonesia.

Tahun 1984, Syaiful Hidayat mulai menetap di Tanjungmulia, Medan untuk meneruskan pendidikannya di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, USU, Medan. Dia mulai bergabung dengan sesama mahasiswa yang gemar menulis sastra dan budaya di media massa. Tahun pertama kuliah sudah mengirimkan puisi-puisi ke Majalah Dinding FS USU yang kemudian memasukkan puisinya ke dalam antologi puisi Asa terbitan Senat Mahasiswa FS USU Medan (1984).

Tahun 1985, puisi-puisinya mulai muncul di kolom puisi “Abrakadabra” Harian Waspada Medan. Pemunculan puisi-puisi itu menjadi bagian dari penerbitan tulisan-tulisannya yang berbentuk artikel sastra, teater, film, budaya, dan politik di surat kabar terbitan Medan seperti Mimbar Umum, Analisa, Sinar Indonesia Baru (SIB), Demi Masa, dan Taruna Baru. Artikelnya tentang film atas nama RS Martodimedjo diterbitkan Harian SIB Medan dan Majalah Film Jakarta. Ketika dilaksanakan Pertemuan Penulis Muda di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) Medan, dia termasuk salah seorang pesertanya.

Aktivitas jurnalistik ternyata tidak dapat dielakkan dalam perkuliahan dan dunia kepenulisannya. Dia kemudian memperoleh kepercayaan menjadi Sekretaris Majalah Dinding FS USU (1986-1988) dan Redaksi/Pelaksana Pimpinan Umum Majalah Mahasiswa Wacana FS USU Medan (1991). Tahun 1988, dia bersama Husor Sitompul, Hidayat Banjar, dan Maz Mansyur membangkitkan penerbitan Majalah Sastra Anamatope KBSI FS USU. Bahkan, dia menjalani profesi kewartawanan selama tiga bulan di Harian Mimbar Umum Medan (1994) karena surat kabar tersebut tidak memberi “gaji yang cukup” untuk pekerjaan sebagai calon wartawan yang dijalaninya.

Sewaktu mengelola majalah dinding, dia memunculkan nama Aji Sukiman yang menimbulkan “Heboh Baca Majalah Dinding” karena setiap penerbitan memunculkan puisi-puisi cinta yang kontekstual. Dia bersama Maz Mansyur dan M. Yunus Rangkuti kemudian menghimpun puisi, cerpen, dan esai terbaik majalah dinding itu dalam Ramuan Sastra Katarsis yang diterbitkan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra USU Medan (1987). Kemudian, puisi-puisinya bersama puisi-puisi Yusrianto, Sahril, dan Thompson Hs menjadi sisipan Majalah Mahasiswa Wacana yang diterbitkan Senat Mahasiswa FS USU Medan (1991).

Syaiful Hidayat termasuk suka berorganisasi, baik organisasi sastra maupun organisasi kemasyarakatan. Dia menjadi Sekretaris Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa (IPEPMA) Labuhan Batu Perwakilan USU (1987-1988), Kepala Bidang Pengkaderan KBSI FS USU (1990-1993), Kelompok Mahasiswa Pendiri Teater “O” Senat Mahasiswa FS USU (1991), Kelompok Pendiri Forum Kreasi Sastra (FKS) Medan (1994), Koordinator FKS (1995-1996), Humas FKS (1997-1999), Sekretaris I Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) periode 1999-2004, Ketua Ikatan Sosial Kekeluargaan Budi Utomo (ISKBU) Medan (2000-2003).

Selama menjadi mahasiswa, dia mempersiapkan dasar-dasar pengorganisasian Teater “O” yang terbuka untuk mahasiswa dan masyarakat sejauh tidak ada mahasiswa FS USU yang mampu memerankannya. Aktivitas teater kampus ditinggalkannya karena ingin memasuki komunitas yang lebih luas. Di TBSU Medan, dia memasuki komunitas seniman yang sebenarnya dan memperoleh kepercayaan menjadi Sekretaris Panitia Temu Sastrawan Sumatera Utara (1997), Kemudian, dia menjadi Ketua Panitia Workshop Penulisan Cerita Pendek yang terselenggara atas kerjasama FKS dengan DKSU di Tapian Daya Medan (1998).

Tahun 1997, dia mulai memasuki organisasi kemasyarakatan sebagai Wakil Sekretaris Pemuda Muslimin Indonesia Wilayah Sumatera Utara (1997-2000). Semasa ini dia mengikuti Latihan Kepemimpinan Tingkat Nasional yang diadakan Pengurus Pusat Pemuda Muslimin Indonesia di Gedung Al-Mahdiyin, Jawa Barat. Tahun 1998-1999, dia bersama warga Pemuda Muslimin mendukung pemunculan kembali Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di mana dia menjadi salah seorang Wakil Ketua PSII Kota Medan.

Pilihannya untuk kuliah di Fakultas Sastra memberi konsekuensi padanya untuk menjadi pengamat dan kritikus sastra. Karena itu, dia mulai menjaga “jarak estetis” dengan proses kreatifnya sebagai penyair. Dia mengalihkan diri pada kegiatan pengamatan dan penilaian terhadap karya-karya sastra, khususnya sastra Medan dan Sumatera Utara pada umumnya.

Syaiful Hidayat termasuk salah seorang pemikir yang selalu menjadi pemakalah dan pembicara dalam berbagai pembicaran sastra. Dia menjadi pemakalah “Kepedulian Tokoh Terhadap Lingkungan Hidup dan Keluarga Berencana dalam Novel Indonesia Mutakhir” pada Seminar Nasional Mahasiswa Indonesia di FS USU (1990) dan pemakalah “Orientasi kebudayaan Nasional Indonesia” pada acara yang sama di Universitas Bung Hatta Padang (1991). Dia juga diundang sebagai pemakalah “Kecenderungan Baru Perpuisian Medan” pada Diskusi dan Baca Puisi di FBS IKIP Negeri Medan (1994), “Sastra Medan: Nasib dan Masa Depannya” pada Diskusi Sastra Renungan Seni di TBSU (1995), “Visi Novel Indonesia Masa Orde Baru” pada Diskusi Sastra dan Baca Puisi Lingkungan Hidup yang diselenggarakan Bina Sastra di TBSU (1998), “Peta Sastra Modern Medan” pada Dialog Utara X di Yala, Thailand Selatan (2003), “Sastra Jawa Perantauan di Sumatera Utara” pada Seminar Multikultur Sastra Indonesia di Unimed (2004), serta menjadi pembicara “Cerpen-cerpen Maroeli Simbolon” di TBSU (2002) dan “Kontroversi RUU Pornografi dan Pornoaksi” di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU Medan (2006). Pada Minggu, 17 Mei 2009, dia menjadi pembicara tunggal membedah buku Ensiklopedi Aceh: Adat, Hikayat dan Sastra karya L.K. Ara dan Medri di rumah Syaiful Hadi JL (Jalan Letda Sujono, Gang Ambon No. 2, Medan Tembung). Kemudian, Sabtu, 6 Juni 2009, dia menjadi pembicara “Lingkungan hidup dalam karya sastra Sumatera Utara” pada Kemah Sastra dan Lingkungan yang diselenggarakan Balai Bahasa Medan di Pantai Perjuangan, Batubara.

Ulasan sastranya berjudul “Kesadaran Berbau Melayu Muncul Kembali dalam Perpuisian Indonesia Modern” terdapat dalam buku Lantun: Kumpulan Tulisan Alumni yang diterbitkan USU Press (1995). Kemudian, makalahnya dalam “Omong-Omong Sastra” di rumah H. Maulana Syamsuri di Medan Johor, 11 April 2004, terdapat dalam buku 25 Tahun Omong-Omong Sastra: Makalah yang dibentang, bandingan, serta publikasinya yang diterbitkan Sastera Leo Medan (2002).

Di samping itu, ulasan puisinya menjadi pengantar buku Bumi: Antologi Puisi 18 Penyair Sumatera Utara yang diterbitkan Studio Seni Indonesia, Medan (1996) dan menjadi ulasan penutup buku Dalam Kecamuk Hujan: Kumpulan Puisi Sembilan Penyair Sumatera Utara yang diterbitkan Kedai Sastra Kecil (KSK) Deliserdang (1997). Kemudian, dia memperoleh kepercayaan sebagai kontributor ulasan puisi dalam buku Aldian Aripin: Penyair, Karya, Rentang Waktu, dan Lingkup Jelajahnya yang diterbitkan Sastera Leo Medan (2001). Bersama Damiri Mahmud dan Sahril, dia memperoleh kepercayaan dari Komite Sastra Dewan Kesenian Medan (DKM) untuk menyeleksi cerpen yang telah dimuat surat kabar Medan sehingga menghasilkan sebuah buku berjudul Denting: Kumpulan Cerpen Koran Medan yang diterbitkan sendiri oleh DKM (2007).

Hasil pengamatannya terhadap kesusastraan Indonesia dengan judul “Salah Kaprah dalam Memandang Sastra” memperoleh Juara 2 Lomba Penulisan Esai pada Bulan Bahasa KBSI FS USU Medan (1989). Kemudian, esai sastranya berjudul “Perjalanan Nasib Seniman Indonesia (Lewat Keajaiban di Pasar Senen Karya Misbach Jusa Biran)” menjadi salah satu dari 20 Pemenang Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Program Reguler untuk Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Tingkat SMA yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Manajemen Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional RI (2006).

Dia juga menghadiri kegiatan sastra di beberapa daerah, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dia mengikuti Sarasehan Teater Medan di FS USU (1987), Pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutanam, Sumatera Barat (1997), Temu Sastrawan Se-Sumatera di Banda Aceh (1999), Temu Penyair Nasional di Tasikmalaya (1999), Dialog Utara IX di Medan dan Sipirok (2001), Festival Kebudayaan Pattani di Thailand Selatan (2003), Festival Teater Alternatif di Gedung Kesenian Jakarta (2003), dan Kongres Bahasa Indonesia di Hotel Indonesia, Jakarta (2003).

Selain menjadi pengamat dan peneliti sastra Medan/Sumatera Utara, Syaiful Hidayat berprofesi sebagai Guru SMA Swasta Budi Utomo, Jalan Jurung No. 33, Medan Area. Untuk memperkuat metode pengajarannya, dia mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat) Guru Swasta Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di BPG Sumatera Utara, 9-24 April 2001. Dia bertempat tinggal di Jalan Sumber Bangun, Gang Langgar No. 92, Harjosari 2, Medan Amplas.

1 komentar:

  1. Bertukar Nama, IKA Fakultas Sastra USU Akan Gelar Kongres

    Medan-Menyikapi perubahan nama Fakultas Sastra USU menjadi Fakultas Ilmu Budaya USU, serta habisnya periodeisasi kepengurusan Ikatan Alumni Fakultas Sastra USU, maka pengurus berinisiatif menggelar kongres Alumni Fakultas Sastra USU, 16 Juli 2011 mendatang.

    Demikian dikatakan Azrai, Ketua Panitia Pelaksana Kongres Alumni Fakultas Sastra USU didampingi Budi Alimuddin, Sekretaris dan Syaiful Amri Sambas, Bendahara, di Medan, Senin (27/6).

    “Diharapkan seluruh alumni datang dalam kongres itu, sebab kongres kali ini sangat penting, demi keberlangsungan silaturahmi, regenerasi pengurus dan pemetaan persebaran alumni Fakultas Sastra selama ini, ucapnya.

    Rencananya kongres akan dilaksanakan di Ruang Serbaguna Fakultas Sastra USU, pada hari Sabtu 16 Juli 2011.

    “Kami akan mengundang seluruh alumni, dan sejumlah undangan lain seperti gubernur, walikota dan berbagai instansi baik swasta maupun pemerintahan,” tambahnya lagi.

    Adapaun kegiatan yang akan diselenggarakan dalam kongres tersebut, meliputi, diskusi terbuka dengan seluruh undangan saat prosesi pembukaan kongres. Usai itu, seluruh alumni yang datang dan mendaftar kepada panitia mengikuti kongres guna menentukan rekomendasi, dan tatatertib pemilihan ketua ikatan alumni yang baru.

    Budi Alimuddin, sekretaris panitia mengungkapkan, saat ini telah terbentuk panitia pelaksana kongres yang dapat dihubungi di grup jejaring social Facebook, dengan nama user panpel kongresalumnifsusu, maupun sejumlah nomor ponsel seperti 081370957722, atas nama Budi Alimuddin angkatan 1998, 081375436363 atas nama Syaiful Amri Sambas angkatan 2001, dan no ponsel 081375600600 atas nama Azrai angkatan 1993.

    Alumni yang mungkin tidak bisa datang namun ingin memberikan kontribusinya dapat mentransfer uang melalui Bank Mandiri dengan nomor rekening 1050010570921, atas nama bendahara panitia, Syauful Amri Sambas.

    “Bagi alumni yang berencana datang, dapat menghubungi nomor ponsel yang disediakan, atau menyatakan kehadiran melalui jejaring social,” ucap Budi Alimuddin.()

    BalasHapus